• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEKOLAH PASCASARJANA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SEKOLAH PASCASARJANA"

Copied!
132
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PERANAN PEMERINTAH DESA DALAM PENGELOLAAN ALOKASI DANA DESA (ADD) TERHADAP

PENINGKATAN EKONOMI MASYARAKAT DI KECAMATAN TIGANDERKET KABUPATEN KARO

TESIS

Oleh

EDI SURANTA COSMES TARIGAN NIM : 137003006

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2015

(2)

PENGARUH PERANAN PEMERINTAH DESA DALAM PENGELOLAAN ALOKASI DANA DESA (ADD) TERHADAP

PENINGKATAN EKONOMI MASYARAKAT DI KECAMATAN TIGANDERKET KABUPATEN KARO

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

Oleh

EDI SURANTA COSMES TARIGAN NIM : 137003006

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2015

(3)

ABSTRAK

Dalam sejarah pengaturan desa, telah dtetapkan beberapa pengaturan tentang desa, Terjadinya revisi tersebut dikarenakan dalam pelaksanaannya undang-undang tersebut belum dapat mewadahi segala kepentingan dan kebutuhan masyarakat. Implementasi dari Undang-Undang desa yang ada yaitu pengelolaan keuangan daerah, salah satu pengelolaan keuangan tersebut yaitu Alokasi Dana Desa. Kapasitas Pemerintah Desa sebagai pelaksana pengelola Alokasi Dana Desa menjadi faktor penunjang keberhasilan program-program yang dibiayai oleh Alokasi Dana Desa.

Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui dan menganalisis pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) oleh Pemerintah Desa Terhadap Peningkatan Ekonomi Masyarakat di Kecamatan Tiganderket Kabupaten Karo.

Dari hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan, maka ditarik kesimpulan sebagai berikut;

Bahwa hanya variabel mekanisme pelaksanaan kegiatan dan variabel pelaporan,pertanggungjawaban alokasi dana desa yang berpengaruh signifikan positif terhadap peningkatan ekonomi masyarakat di Kecamatan Tiganderket sedangkan variabel perencanaan,penganggaran alokasi dana desa serta variabel mekanisme pencairan dan penyaluran secara individual kurang berpengaruh siginifikan terhadap peningkatan ekonomi masyarakat di Kecamatan Tiganderket Kabupaten Karo.

Kata Kunci: Alokasi Dana Desa (ADD), Peranan Pemerintah Desa, Pengelolaan Alokasi Dana Desa.

(4)

ABSTRACT

In the history of the village setting, has dtetapkan some arrangements about the village, because the occurrence of such revisions in implementation of the law has not been able to accommodate all the interests and needs of the community. Implementation of the Act villages namely financial management, financial management is one that Village Fund Allocation. The village government capacity as executive manager of the Village Fund Allocation to be a factor supporting the success of the programs financed by the Village Fund Allocation. The aim of this study was to determine and analyze the management of the Village Fund Allocation (ADD) by the village government Against Economic Improvement Society in District Tiganderket Karo. From the results of research and analysis has been done, then be deduced as follows; That the only variable mechanism for the implementation of activities and variable reporting, accountability allocation villages positive significant effect on improving the local economy in Sub Tiganderket while variable planning, budgeting village fund allocation and variable disbursement mechanisms and channeling individually less influential significantly toward improving the local economy in District Tiganderket Karo.

Keywords: Village Fund Allocation (ADD), Role of Government Village, the Village Fund Allocation Management

(5)

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis dengan Judul : Pengaruh Peranan Pemerintah Desa Dalam Pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) Terhadap Peningkatan Ekonomi Masyarakat di Kecamatan Tiganderket Kabupaten Karo.

Tesis ini dapat diwujudkan atas bantuan berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih yang setulusnya kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Erman Munir, M.Sc. selaku Direktur Sekolah Pascasarjana USU Medan.

2. Bapak Prof. Dr. lic.rer.reg. Sirojuzilam, SE selaku Ketua Program Studi PWD Sekolah Pascasarjana USU Medan.

3. Bapak Ir.Supriadi,MS selaku Sekretaris Program Studi PWD Sekolah Pascasarjana USU Medan.

4. Ibu Prof.Erlina,SE.M.Si,Ph.D.Ak.CA selaku Ketua Pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu dan tenaga dalam memberikan bimbingan dan arahan dalam penyelesaian tesis ini.

5. Bapak Drs. Rahmad Sumandjaya, M.Si selaku Anggota Pembimbing yang dengan sabar memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis dalam penyelesaian tesis ini.

6. Para Bapak Dosen Penguji yang telah banyak memberikan masukan yang berharga dalam penyelesaian tesis ini.

(6)

7. Almarhum Ayahanda Sulaiman Tarigan dan Ibunda Malam Br Sinulingga yang selalu mendukung dan mendoakan penulis dalam menyelesaikan perkuliahan penulis hingga sampai dengan saat ini.

8. Untuk Keluarga Besar Tarigan Mergana yaitu untuk kedua kakakku, Asti Anna br Tarigan beserta suami dan Nomita br Tarigan beserta suami, dan untuk kedua adikku, Tabita Br Tarigan dan Noma Gloria br Tarigan, S.Pd serta untuk keponakan penulis yaitu Marta Br Sitepu, Dian br Sitepu, Gabriel Sitepu dan Yehuda Sitepu yang selalu mendukung dan mendoakan penulis dalam menyelesaikan perkuliahan.

9. Untuk Yen Nena Fitri Br Ketaren yang tak henti-hentinya mendukung, mendoakan penulis dalam menyelesaikan tesis ini. Kiranya apa yang kita rencanakan direstui dan selalu diberkati oleh Tuhan Yesus Kristus.

10. Pemerintah Kabupaten Karo dalam hal ini Bupati Karo, Setda Kab. Karo yang memberikan rekomendasi Izin belajar, BPMPD Kab. Karo, Bagian Pemdes dan Kel Setda Kab. Karo, yang telah membantu penulis dalam memperoleh data penelitian sehingga tesis ini dapat diselesaikan dengan baik.

11. Bapak Camat Tiganderket Hendrik P. Tarigan,AP.M.Si serta Mantan Camat Tiganderket SB. Baron Kaban,SH,M.Hum yang selalu mendukung, memberikan waktu bagi penulis untuk kuliah , Sekretaris Desa Se- Kecamatan Tiganderket, beserta rekan sejawat lainnya dilingkungan Pemerintah Kabupaten Karo yang turut membantu proses penyelesaian studi ini.

(7)

12. Teman – teman PWD Angkatan 2013 yang telah menjadi sahabat dan rekan penulis dalam menyelesaikan proses perkuliahan serta admin-admin PWD USU yang selalu sabar menghadapi, membantu penulis dalam masa perkuliahan.

Dengan hormat penulis mengharapkan masukan dan saran dari berbagai pihak agar karya ilmiah ini dapat lebih disempurnakan kedepannya dan penulis dapat memberikan hasil yang bermanfaat bagi institusi dimana penulis bekerja di Pemerintah Kabupaten Karo.

Medan, Agustus 2015 Penulis

( Edi Suranta Cosmes Tarigan )

(8)

RIWAYAT HIDUP

Edi Suranta Cosmes Tarigan, Lahir di Tiga Lingga pada Tanggal 12 Mei 1984, anak ketiga dari lima bersaudara dari Bapak Sulaiman Tarigan (Alm.) dan Ibu Malam Br Sinulingga.

Pendidikan penulis dimulai dari Taman Kanak-Kanak GBKP Lingga tamat Tahun 1991, SDN 163083 Tebing Tinggi tamat Tahun 1997, SMPN 2 Tebing Tinggi tamat Tahun 2000, SMAN 1 Tebing Tinggi tamat Tahun 2003, dan kuliah S-1 Program Studi Ilmu Hukum di Universitas Sumatera Utara (USU) tamat Tahun 2008, dan pada Tahun 2013 melanjutkan kuliah S-2 pada Program Studi Perencanaan Wilayah dan Pedesaan Sekolah Pascarsarjana Universitas Sumatera Utara.

Penulis bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil pada Pemkab Karo sejak Juni 2009, yaitu staf pada Bagian Pemerintahan Umum dan Otda Setda Kab. Karo, Maret 2012 pindah ke Kantor Camat Tiganderket sebagai Kasubbag Umum dan Mei 2015 diangkat sebagai Kepala Seksi Pemberdayaan, Pembinaan Masyarakat dan Desa (PPMD) pada Kantor Camat Tiganderket sampai dengan sekarang.

(9)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR... ii

RIWAYAT HIDUP ... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 4

1.3 Tujuan Penelitian ... 4

1.4 Manfaat Penelitian ... 4

BAB II LANDASAN TEORI ... 6

2.1 Desa dan Pemerintahan Desa ... 6

2.2 Hak dan Kewajiban Pemerintah Desa ... 11

2.3 Pengertian Alokasi Dana Desa ... 16

2.4 Tujuan dan Manfaat Alokasi Dana Desa ... 16

2.5 Pengelolaan Alokasi Dana Desa ... 18

2.6 Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Desa ... 24

2.7 Penelitian Terdahulu ... 27

2.8 Kerangka Berpikir ... 28

2.9 Hipotesis Penelitian ... 28

BAB III METODE PENELITIAN ... 30

(10)

3.1 Ruang Lingkup Penelitian ... 30

3.2 Populasi dan Sampel ... 30

3.3 Jenis dan Sumber Data ... 33

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 34

3.5 Analisis Data ... 36

BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN ... 42

4.1 Sejarah Singkat ... 42

4.2 Kondisi Geografis ... 43

4.3 Kondisi Demografi ... 46

4.4 Keadaan Ekonomi ... 50

4.5 Sarana dan Prasarana Di Kecamatan Tiganderket ... 52

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 61

5.1 Karateristik Responden ... 61

5.2 Penjelasan Responden ... 65

5.3 Analisis Data ... 76

5.3.1 Penggujian Validitas dan Reabilitas ... 76

5.3.2 Pengujian Asumsi Klasik ... 79

5.3.3 Persamaan Regresi ... 87

5.3.4 Analisis Koefisien Determinasi ... 88

5.3.5 Uji Parsial (Uji-t) ... 90

5.3.6 Uji Simultan (Uji F) ... 93 5.4 Peranan Aparatur Pemerintah Desa Dalam Mengelola

(11)

Alokasi Dana Desa (ADD) ... 94

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 102

6.1 Kesimpulan ... 102

6.2 Saran ... 103

DAFTAR PUSTAKA ... 104

LAMPIRAN 1 ... ix

LAMPIRAN 2 ... xvi

LAMPIRAN 3 ... xviii

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Jumlah Penduduk dan Kepala Keluarga 31

Tabel 3.2 Jumlah Sampel per Desa 33

Tabel 4.1 Luas Wilayah Menurut Desa di Kecamatan Tiganderket Tahun

2013 45

Tabel 4 .2 Luas Wilayah Menurut Jenis Penggunaan Tanah dan Desa

Tahun 2013 (Ha) 46

Tabel 4.3 Klasifikasi jumlah penduduk berdasarkan luas wilayah,

jumlah penduduk 47

Tabel 4.4 Banyaknya Penduduk Dirinci Menurut Jenis Kelamin dan

Kelompok Umur Tahun 2013 48

Tabel 4.5 Banyaknya Penduduk Menurut Desa dan Agama yang

Dianut Tahun 2013 49

Tabel 4.6 Banyaknya Penduduk Usia 15 Tahun Ke Atas Dirinci Menurut

Pekerjaan dan Desa Tahun 2013 50

Tabel 4.7 Banyaknya Tenaga Kerja Yang Bekerja Menurut Lapangan

Pekerjaan dan Desa Tahun 2013 51

Tabel 4.8 Banyaknya Sekolah, Murid, dan Guru Sekolah Dasar (SD) Menurut

Desa/Kelurahan, Tahun 2013 52

Tabel 4.9 Banyaknya Sekolah, Murid, dan Guru Sekolah Menengah

Pertama (SMP) Menurut Desa/Kelurahan, Tahun 2013 53 Tabel 4.10 Banyaknya Sekolah, Murid, dan Guru Sekolah Menengah Atas

(SMA) Menurut Desa/Kelurahan, Tahun 2013 54

Tabel 4.11 Persentase indikator pendidikan 55

(13)

Tabel 4.12 Banyaknya Sarana Kesehatan Dirinci Menurut Desa Tahun 2013 56

Tabel 4.13 Banyaknya Tenaga Kesehatan Dirinci Menurut Desa Tahun 2013 57

Tabel 4.14 Persentase indikator kesehatan 57

Tabel 4.15 Panjang Jalan di Kecamatan Tiganderket 58 Tabel 4.16 Jumlah Warnet di setiap Desa yang ada di Kecamatan Tiganderket 59 Tabel 4.17 Rincian Alokasi Dana Desa (ADD) Kec. Tiganderket Tahun 2011-2014 60

Tabel 5.1 Umur Responden 61

Tabel 5.2 Jenis Kelamin Responden 62

Tabel 5.3 Pekerjaan Responden 63

Tabel 5.4 Pendidikan Responden 63

Tabel 5.5 Jumlah Tanggungan Keluarga Responden 64

Tabel 5.6 Jumlah Pendapatan per Bulan Responden 65

Tabel 5.7 Penjelasan Responden Atas Variabel Perencanaan dan Penganggaran

Alokasi Dana Desa (X1) 66

Tabel 5.8 Penjelasan Responden Atas Variabel Mekanisme Pencairan

dan Penyaluran (X2) 68

Tabel 5.9 Penjelasan Responden Atas Variabel Mekanisme Pelaporan

Kegiatan (X3) 70

Tabel 5.10 Penjelasan Responden Atas Variabel Mekanisme Pelaporan dan

Pertanggungjawaban (X4) 71

Tabel 5.11 Penjelasan Responden Atas Variabel Peningkatan Ekonomi

Masyarakat (Y) 73

(14)

Tabel 5.12 Uji Validitas Data 77

Tabel 5.13 Uji Reliabilitas Data 79

Tabel 5.14 Uji Normalitas (Uji K-S) 82

Tabel 5.15 Pengujian Multikolonearitas 83

Tabel 5.16 Tabel Korelasi antar Variabel Independen 84

Tabel 5.17 Uji Gletser 85

Tabel 5.18 Hasil Analisis Regresi 87

Tabel 5.19 Hasil Uji Determinasi 89

Tabel 5.20 Hasil Uji t 91

Tabel 5.21 Hasil Uji F 94

(15)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam sejarah pengaturan desa, telah dtetapkan beberapa pengaturan tentang desa, yaitu Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Pokok Pemerintahan Daerah, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957 tentang Pokok- Pokok Pemerintahan Daerah, Undang- Undang Nomor 18 Tahun 1965 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1965 Tentang Desa Praja, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 Tentang Pokok- Pokok Pemerintahan Di Daerah, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 Tentang Pemerintahan Desa, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Desa, Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah serta yang terbaru disahkan yaitu Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa.

Terjadinya revisi tersebut dikarenakan dalam pelaksanaannya undang- undang tersebut belum dapat mewadahi segala kepentingan dan kebutuhan masyarakat. Selain itu pelaksanaan pengaturan tentang desa harus mengikuti perkembangan zaman, maka halangan dan rintangan akan semakin besar terutama antara lain menyangkut kedudukan masyarakat hukum adat, demokratisasi, keberagaman, partisipasi masyarakat, serta kemajuan dan pemerataan pembangunan sehingga menimbulkan kesenjangan antar wilayah, kemiskinan, ekonomi, serta sosial budaya.

(16)

Untuk menjalankan administasi desa, roda pemerintahan maka diperlukan pemerintahan desa. Pemerintahan desa yaitu penyelenggaraan urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat. Dalam pasal 1 ayat 3 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa disebutkan bahwa Pemerintah Desa adalah Kepala Desa yang disebut dengan nama lain dibantu perangkat desa sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Desa. Dengan adanya pemerintah desa ini, maka diharapkan pelayanan yang lebih baik, prima serta efisien dan dapat memberdayakan masyarakat sehingga masyarakat ikut berperan aktif untuk kemajuan ekonomi desa tersebut.

Implementasi dari Undang-Undang desa yang disebutkan diatas yaitu pengelolaan keuangan daerah, salah satu pengelolaan keuangan tersebut yaitu Alokasi Dana Desa. Alokasi Dana Desa bersumber dari dari Bagi Hasil Pajak, Retribusi Daerah serta Bagian Dana Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah, Kebijakan pengaturan dan pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) ini mengacu pada Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor: 140/640/SJ tanggal 22 Maret 2005 perihal pedoman Alokasi Dana Desa dari Pemerintah Kabupaten/ Kota kepada Pemerintah Desa.

Pelaksanaan Pengelolaan Alokasi Dana Desa di Kabupaten Karo dipioritaskan pada peningkatan pemberdayaan masyarakat, peningkatan ekonomi masyarakat, biaya operasional pemerintahan desa, honor aparat pemerintahan Desa dan pengurus Badan Permusyawaratan Desa (BPD).

Adapun besaran Alokasi Dana Desa yang diberikan ke Kecamatan Tiganderket setiap tahunnya berkisar 1,4 M, dimana dana ini dibagikan secara proporsional ke 17 desa yang ada di Kecamatan Tiganderket. Adapun kisaran

(17)

dana yang didapat desa setiap tahunnya berkisar antara 80-100 juta. Apabila melihat jumlah anggaran yang diberikan kepada desa melalui Alokasi Dana Desa ini, maka akan timbul pertanyaan apakah desa mampu mengelola dana tersebut, apakah dengan anggaran yang diberikan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat.

Kapasitas Pemerintah Desa sebagai pelaksana pengelola Alokasi Dana Desa menjadi faktor penunjang keberhasilan program-program yang dibiayai oleh Alokasi Dana Desa. Kompetensi sumber daya manusia yang ada dalam Pemerintahan Desa akan berdampak terhadap kinerja, tugas serta hasil yang dicapai. Dengan adanya Alokasi Dana Desa, maka pemerintah desa dituntut untuk meningkatkan ekonomi masyarakat, meningkatkan kinerja penyelenggaraan pemerintahan desa serta memberikan pelayanan prima. Kebijakan Alokasi Dana yang disusun oleh pemerintah Kabupaten/kota untuk melindungi, meningkatkan perekonomian masyarakat desa, mendorong masyarakat agar berperan aktif dalam pembangunan desa sekaligus untuk memenuhi hak-hak yang dimiliki oleh desa.

Setiap desa memiliki kondisi dan potensi yang khas, berbeda dengan desa lainnya, demikian pula setiap aspirasi dan karakter masyarakatnya. Oleh karena itu, pembangunan di desa memang sepatutnya lebih banyak ditentukan oleh masyarakat desa serta pemerintah desa. Kedudukan pemerintah desa yang telah diberi kewenangan penuh untuk memberdayakan masyarakat sudah tentu harus mempunyai kemampuan untuk mengurus rumah tangganya sendiri sehingga akan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat.

Pemberian Alokasi Dana Desa (ADD) merupakan wujud dari pemenuhan hak desa untuk menyelenggarakan otonomi desa dalam rangka mempercepat

(18)

terwujudnya kesejahteraan masyarakat sesuai pertumbuhan kondisi perekonomian masyarakat. Untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi masyarakat harus mengikuti pertumbuhan dari desa itu yang didasarkan atas keberagaman, partisipasi masyarakat, otonomi asli, demokratisasi serta pemberdayaan masyarakat.

Maka berdasarkan latar belakang diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Peranan Pemerintah Desa dalam Pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) Terhadap Peningkatan Ekonomi Masyarakat di Kecamatan Tiganderket Kabupaten Karo”.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, penulis mengungkapkan permasalahan yang ada dalam penelitian ini, yaitu : bagaimana pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) oleh Pemerintah Desa Terhadap Peningkatan Ekonomi Masyarakat di Kecamatan Tiganderket Kabupaten Karo?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah yang ada di atas, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) oleh Pemerintah Desa Terhadap Peningkatan Ekonomi Masyarakat di Kecamatan Tiganderket Kabupaten Karo

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat:

1. Bagi Pemerintah Desa yang ada di Kecamatan Tiganderket Kabupaten Karo, sebagai rekomendasi terkait dengan pengelolaan Alokasi Dana Desa

(19)

2. Sebagai bahan referensi bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya bagi penelitian-penelitian yang berkaitan dengan ekonomi masyarakat desa, peningkatan peranan aparatur pemerintah desa dalam mengelola Alokasi Dana Desa.

(20)

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Desa dan Pemerintahan Desa

Istilah Desa berasal dari bahasa sanserketa, deshi, yang artinya tanah kelahiran atau tanah tumpah darah. Sekalipun nama desa ataupun daerah hokum yang setingkat desa di Indonesia bervariasi, akan tetapi asas atau landasan hukumnya hampir sama yaitu adat, kebiasaan dan hukum adat. Desa adalah suatu wilayah yang ditinggali oleh sejumlah orang yang saling mengenal, hidup bergotong royong, memiliki adat istiadatnya yang relatif sama, dan mempunyai tata cara sendiri dalam mengatur kehidupan kemasyarakatannya (Hanif Nurcholis, 2011:2). Dengan demikian, desa dihuni oleh masyarakat yang memiliki satu budaya yang relatif homogen yang memegang erat sistem persaudaraan antar individu. Sehingga, hampir semua orang yang ada di desa tersebut saling mengenal satu sama lainnya. Desa juga merupakan suatu bentuk kesatuan yang berada di luar kota. Pengertian desa pada umumnya dapat diartikan sebagai unit pemusatan penduduk yang bercorak agraris dan terletak relatif jauh dari kota.

Sedangkan menurut definisi universal desa adalah sebuah pengelompokan pemukiman di area perdesaan.

Menurut Bintarto (1983:11), Desa adalah suatu hasil perpaduan antara kegiatan sekelompok manusia dengan lingkungannya. Hasil dari perpaduan itu ialah suatu wujud atau kenampakan di muka bumi yang ditimbulkan oleh unsure- unsur fisiografi, sosial, ekonomi, politik dan kultural yang saling berinteraksi antar unsur tersebut dan juga hubungannnya dengan daerah-daerah lain.

(21)

Sedangkan dalam UU No. 6 Tahun 2014, disebutkan bahwa desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus Urusan Pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam lingkup pemerintahan di Indonesia, desa setingkat dengan kelurahan yang merupakan satuan pemerintahan terendah dengan status berbeda.

Terdapat beberapa perbedaan diantara keduanya. Kelurahan merupakan bawahan kecamatan sedangkan desa bukanlah bawahan kecamatan, karena kecamatan merupakan bagian dari perangkat daerah. Desa memiliki hak mengatur wilayahnya lebih luas atau diberi hak otonomi adat sehingga merupakan badan hokum, sedangkan kelurahan merupakan satuan pemerintahan administrasi yang hanya merupakan kepanjangan tangan dari pemerintah kota/kabupaten sebagai tempat beroperasinya pelayanan pemerintahan dari pemerintah kabupaten/kota.

Namun dalam perkembangannya, sebuah desa dapat diubah statusnya menjadi kelurahan.

Banyak pengertian dan teori tentang desa, namun secara umum suatu desa dan masyarakatny memiliki ciri-ciri khas. Pada umumnya desa dan masyarakatnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1) Letaknya relatif jauh dari kota dan bersifat rural

2) Lingkungan alam masih besar peranan dan pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat pedesaan

(22)

3) Mata pencaharian bercorak agraris dan relatif homogen (bertani, beternak, nelayan, dll)

4) Hubungan kekerabatan atau corak kehidupan sosialnya bersifat gemainsschaft (paguyuban dan memiliki sentiment komunitas yang

kuat)

5) Keadaan penduduk (asal-usul), tingkat ekonomi, pendidikan dan kebudayaannya relatif homogeny

6) Interaksi sosial antar arga desa lebih intim dan langgeng serta bersifat familistik

7) Memiliki keterikatan yang kuat terhadap tanah kelahirannya, adat istiadat, norma agama dan tradisi-tradisi warisan leluhurnya

8) Masyarakat desa sangat menjunjung tinggi prinsip-prinsip kebersamaan/gotong royong kekeluargaan, solidaritas, musyawarah, kerukunan dan keterlibatan sosial

9) Jumlah warganya relatif kecil dengan penguasaan IPTEK relatif rendah, sehingga produksi barang dan jasa relatif juga rendah

10) Pembagian kerja dan spesialisasi belum banyak dikenal, sehingga deferensiasi sosial masih sedikit

11) Kehidupan sosial budayanya bersifat statis, dn monoton dengan tingkat perkembangan yang lamban

12) Masyarakatnya kurang terbuka, kurang kritis,pasrah terhadap nasib, dan sulit menerima unsur-unsur baru

(23)

13) Memiliki sistem nilai budaya (aturan modal) yang mengikat dan dipedomani warganya dalam melakukan interaksi sosial. Aturan dan kontrol sosialnya umumnya tidak tertulis (hukum informal)

14) Penduduk desa bersifat konservatif, tetapi sangat loyal kepada pemimpinya dan menjunjung tinggi tata nilai dan norma-norma adat istiadat dan norma agama yang berlaku.

Desa memiliki 3 (tiga) unsur penting, yaitu:

1) Daerah, dalam arti tanah-tanah dalam hal geografis

2) Penduduk, adalah hal yang meliputi jumalah pertambahan, kepadatan, persebaran, dan mata pencaharian penduduk desa setempat

3) Tata kehidupan, dalam hal ini pola pergaulan dan ikatan-ikatan pergaulan antar warga desa.

Ketiga unsur ini tidak bisa lepas antar satu sama lain, artinya tidak dapat berdiri sendiri melainkan merupakan satu kesatuan. Maju mundurnya suatu desa bergantung pada ketiga unsur desa tersebut. Oleh karena itu, jika unsur-unsur desa dapat dimanfaatkan dengan baik dan benar maka akan membuat desa semakin berkembang. Potensi desa dapat dibagi menjadi 2 (dua) macam yaitu:

1) Potensi fisik yang meliputi:

a) Tanah, meliputi berbagai sumber tambang dan mineral, lahan untuk tumbuhnya tanaman

b) Air, meliputi tata air untuk irigasi, pertanian dan kebutuhan kehidupan sehari-hari

c) Iklim dan cuaca, yang berperan penting bagi desa agraris

(24)

d) Flora dan fauna, seperti ternak dan hasil bumi sebagai sumber tenaga, bahan makanan dan pendapatan

e) Manusia, sebagai sumber tenaga kerja potensial baik sebagai pengolah tanah maupun produsen pertanian dan tenaga kerja industri di kota

2) Potensi non fisik yang meliputi:

a) Masyarakat desa, hidup berfalsafah gotong royong yang menjadi kekuatan berproduksi da membangun atas dasar kerja sama serta saling pengertian

b) Lembaga-lembaga sosial desa, yaitu lembaga-lembaga pendidikan atau organisasi-organisasi sosial yang dapat memberikan bantuan sosial dan bimbingan kepada masyarakatnya

c) Aparatur pemerintah desa, untuk menjaga ketertiban dan keamanan demi kelancaran jalannya pemerintahan desa.

Desa merupakan struktur pemerintahan terendah yang berada di dalam lingkup wilayah kerja pemerintahan daerah. Dengan demikin, desa harus dipahami sebagai kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kekuasaan dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya untuk mencapai kesejahteraan serta pengingkatan ekonomi masyarakat. Hak untuk mengatur dan mengatur mengurus kepentingan masyarakat inilah yang diselengggarakan oleh pemerintahan desa.

Pemerintahan desa adalah penyelenggara urusan pemerintahan dalam mengatur dan mengawasi kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara

(25)

Rpublik Indonesia. Pemerintahan desa merupakan lembaga perpanjangan pemerintahan pusat yang memiliki peran strategis dalam pengaturan dan penataan masyarakat desa demi tercapainya peningkatan ekonomi masyarakat.

Unsur penyelenggara dari pemerintahan desa ini tentu saja dilaksanakan oleh pemerintah desa. Pemerintah desa adalah kepala desa atau yang disebut dengan nama lain dibantu perangkat desa. Pemerintah desa mendapatkan penghasilan tetap setiap bulannya yang dianggarkan dari APBDesa yang berumer dari Alokasi Dana Desa (ADD). Besaran penghasilan tetap kepala desa dan perangkat desa ditetapkan dengan peraturan bupati dengan komposisi sekretaris desa paling sedikit 70% dari penghasilan tetap kepala desa per bulan. Kepala desa dan perangkat desa juga memperoleh tunjangan yang bersumber dari APBDesa serta menerima jaminan kesehatan.

Struktur Organisasi Pemerintahan Desa:

2.2 Hak dan Kewajiban Pemerintah Desa

Dalam pasal 24 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa, dalam melakukan penyelenggaraan pemerintahan desa harus berdasarkan asas:

a. Kepastian hukum:

KEPALA DESA

SEKRETARIS DESA

KAUR KEUANGAN KAUR

PEMERINTAHAN DAN UMUM KAUR

PEMBANGUNAN DAN KESRA

(26)

c. Tertib kepentingan umum;

d. Keterbukaan;

e. Proporsionalitas;

f. Profesionalisme g. Akuntabilitas;

h. Efektivitas dan efisiensi;

i. Kearifan lokal;

j. Keberagaman;

k. Partisipatif.

Kepala desa dibantu oleh perangkat desa dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan, dimana kepala desa mempunyai tugas dalam menyelenggarakan urusan-urusan sebagai berikut:

a. Urusan pemerintahan, antara lain pengaturan kehidupan masyarakat sesuai dengan kewenangan desa seperti pembuatan peraturan desa, pemebntukan lembaga kemasyarakatan, pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUMD), dan kerja sama antar desa

b. Uusan pembangunan, antara lain pemberdayaan masyarakat dalam penyediaan sarana dan prasarana fasilitas umum desa seperti jalan desa, jembatan desa, irigasi desa.

c. Urusan kemasyarakatan yang meliputi pemberdayaan masyarakat melalui pembinaan kehidupan sosial budaya masyarakat seperti bidang kesehatan, pendidikan serta adat istiadat.

Dalam melaksanakan tugas tersebut, Kepala desa mempunyai wewenang antara lain:

(27)

a) Memimpin penyelenggaraan pemerintahan desa;

b) Mengangkat dan memberhentikan perangkat desa;

c) Memegang kekuasaan pengelolaan keuangan dan serta aset daerah;

d) Menetapkan peraturan desa;

e) Menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa;

f) Membina kehidupan masyarakat desa;

g) Membina ketentraman dan ketertiban masyarakat desa;

h) Membina dan meningkatkan perekonomian desa serta mengintegrasikannya agar mencapai perekonomian skala produktif untuk sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat desa;

i) Mengembangkan sumber pendapatan desa;

j) Mengusulkan dan menerima pelimpahan sebagian kekayaan negar guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa;

k) Mengembangkan kehidupan sosial budaya masyarakat desa;

l) Memanfaatkan teknologi tepat guna;

m) Mengorinasikan pembangunan desa secara partisiptif;

n) Mewakili desa di dalam dan di luar pengadilan atau menunjuk kuasa hukum untuk mewakilinya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

o) Melaksanakan wewenang lain yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya kepala desa juga berkewajiban:

(28)

a. Memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta mempertahankan dan memelihara keutuhan negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinnka Tunggal Ika;

b. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa;

c. Memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat desa;

d. Menaati dan menegakkan peraturan perundang-undangan;

e. Melaksanakan khidupan demokrasi dan berkeadilan gender;

f. Melaksanakan prinsip tata pemerintahan desa yang akuntabel, transparan, professional, efektif dan efisien, bersih serta bebas dari kolusi, korupsi dan nepotisme;

g. Menjalin kerja sama dan koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan di desa;

h. Menyelenggarakan administrasi pemerintahan desa yang baik;

i. Mengelola keuangan dan aset daerah;

j. Melaksanakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan desa;

k. Menyelesaikan perselisihan masyarakat di desa;

l. Mengembangkan perekonomian masyarakat;

m. Membina dan melestarikan nilai sosial budaya masyarakat desa;

n. Memberdayakan masyarakat dan lembaga kemasyarakatan di desa;

o. Mengembangkan potensi sumber daya alam dan melestarikan lingkungan hidup; dan

p. Memberikan informasi kepada masyarakat setempat.

(29)

Perangkat desa yang terdiri dari sekretaris desa, pelaksana teknis lapangan dan unsur kewilayahan mempunyai tugas membantu kepala desa dan bertanggung jawab kepada kepala desa. Perangkat desa dilarang untuk:

a. Merugikan kepentingan umum;

b. Membuat keputusan yang menguntungkan diri sendiri, anggota keluarga, pihak lain, dan/atau golongan tertentu;

c. Menyalahgunakan wewenang, tugas, hak, dan/atau kewajibannya;

d. Melakukan tindakan diskriminatif terhadap warga dan/atau golongan masyarakat tertentu;

e. Melakukan tindakan meresahkan sekelompok masyarakat desa;

f. Melakukan kolusi, korupsi, dan nepotisme, menerima uang, barang, dan/atau jasa dari pihak lain yang dapat mempengaruhi keputusan atau tindakan yang akan dilakukannya;

g. Menjadi pengurus partai politik

h. Menjadi anggota dan/atau pengurus organisasi terlarang;

i. Merangkap jabatan sebagai ketua dan/atau anggota Badan Permusyawaratan Desa, anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan jabatan lain yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan;

j. Ikut serta dan/atau terlibat dalam kampanye pemilihan umum dan/atau pemilihan kepala daerah;

k. Melanggar sumpah/janji jabatan;

l. Meninggalkan tugas selama 60 (enam puluh) hari kerja berturut-turut tanpa alasan yang jelas dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.

(30)

2.3 Pengertian Alokasi Dana Desa (ADD)

Dana desa adalah dana yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara yang diperuntukkan bagi desa yang ditransfer melalui anggaran pendapatan dan belanja daerah kabupaten/kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat.

Sedangkan Alokasi Dana Desa (ADD) adalah dana perimbangan yang diterima kabupaten/kota daalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah kabupaten/kota setelah dikurangi Dana Alokasi Khusus (DAK). Dimana besaran Alokasi Dana Desa yang diterima oleh Kabupaten/kota untuk Desa paling sedikit 10% (sepuluh persen).

2.4 Tujuan dan Manfaat Alokasi Dana Desa (ADD) Tujuan Alokasi Dana Desa (ADD) adalah :

1) Untuk menanggulangi kemiskinan dan mengurangi kesenjangan;

2) Untuk meningkatkan perencanaan dan penganggaran pembangunan di tingkat desa dan pemberdayaan masyarakat;

3) Untuk meningkatkan pembangunan infrastruktur desa;

4) Untuk meningkatkan pengamalan nilai-nilai keagamaan, sosial budaya dalam rangka mewujudkan peningkatan sosial;

5) Untuk meningkatkan ketentraman dan ketertiban masyarakat;

6) Untuk meningkatkan pelayanan pada masyarakat desa dalam rangka pengembangan kegiatan sosial dan peningkatan ekonomi masyarakat desa;

(31)

7) Untuk mendorong peningkatan keswadayaan dan gotong royong masyarakat desa;

8) Untuk Meningkatkan pendapatan desa dan masyarakat desa melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa).

Manfaat dari adanya Alokasi Dana Desa (ADD) sangat besar bagi desa dan masyarakat desa, adapun manfaat yang diperoleh antara lain:

a) Desa dapat menghemat biaya pembangunan, karena desa dapat mengelola sendiri proyek pembangunannya dan hasil-hasilnya dapat dipelihara secara baik demi keberlanjutannya;

b) Tiap-tiap desa memperoleh pemerataan pembangunan sehingga lebih mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat desa;

c) Desa memperoleh kepastian anggaran untuk belanja operasional pemerintah desa. Sebelum adanya Alokasi Dana Desa, belanja operasional pemerintahan desa besarnya tidak pasti;

d) Desa dapat menangani permasalahan desa secara cepat tanpa harus lama menunggu datangnya program dari Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota;

e) Desa tidak lagi hanya tergantung pada swadaya masyarkt dalam mengelola persoalan pemerintahan, pembangunan serta sosial kemasyarakatan desa;

f) Dapat mendorong terciptanya demokrasi di desa. Dimana Alokasi Dana Desa dapat melatih masyarakat dan pemerintah desa untuk bekerja sama, memunculkan kepercayaan antar pemerintah desa dengan masyarakt des dan mendorong adanya kesukarelaan masyaraat desa untuk membangun dan memelihara desa;

(32)

g) Dapat mendorong terciptanya pengawasan langsung dari masyarakat untuk menekan terjadinya penyimpangan;

h) Dengan partisipasi emua pihak, maka kesejahteraan kelompok perempuan, anak-anak, petani, orang miskin dan lain-lain dapat tercapai.

2.5 Pengelolaan Alokasi Dana Desa

2.5.1 Mekanisme Perencanaan dan Penganggaran Alokasi Dana Desa Pengelolaan Alokasi Dana Desa merupakan satu kesatuan dengan pengelolaan keuangan desa. Rumus yang dipergunakan dalam Alokasi. Dana Desa adalah:

a) Azas merata yaitu besarnya bagian Alokasi Dana Desa yang sama untuk setiap desa, yang selanjutnya disebut Alokasi Dana Desa Minimal (ADDM).

b) Azas adil, yaitu besarnya bagian Alokasi Dana Desa berdasarkan Nilai Bobot Desa (BDx) yang dihitung dengan rumus dan variabel tertentu, misalnya (kemiskinan, keterjangkauan, pendidikan dasar, kesehatan dan lain-lain) yang selanjutnya disebuat Alokasi Dana Desa Proporsional (ADDP).

Perhitungan Alokasi Dana Desa untuk setiap desa dilakukan dengan menggunakan rumus yang mempertimbangkan faktor pemerataan dan keadilan serta potensi desa dengan rumus sebagai berikut:

Rumus Alokasi Desa (x)

Keterangan:

ADDx = Alokasi Dana Desa untuk Desa x ADDx=ADDM + ADDPx

(33)

ADDM = Alokasi Dana Desa Minimal yang diterima Desa ADDPx = Alokasi Dana Desa Propoorsional untuk Desa x

X = Desa

Rumus untuk menentukan Pembagian Dana Proporsional

Keterangan:

ADDPx = Alokasi Dana Desa Proporsional untuk Desa x BDx = Nilai bobot desa untuk desa x

ADD = Total Alokasi Dana Desa

ADDM = Total Alokasi Dana Desa Minimal

x = Desa

Besarnya persentase perbandingan antara azas merata dan adil sebagaimana disebutkan diatas, adalah besarnya ADDM adalah 60% (enam puluh persen) dari jumlah ADD dan besarnya ADDP adalah 40% (empat puluh persen) dari jumlah ADD. Nilai bobot desa ditentukan berdasarkan beberapa variabel independen. Variabel independen ini dibedakan atas variabel utama dan variabel tambahan yang ditentukan oleh Kabupaten/kota berdasarkan karakter, budaya dan kesediaan data daerah.

Variabel independen utama adalah nilai variabel yang dinilai terpenting untuk menentukan nilai bobot desa. Variabel utama ditujukan untuk mengurangi kesenjangan kesejahteraan masyarakat dan pelayanan dasar umum antar desa secara bertahap dan mengatasi kemiskinan struktural masyarakat di desa. Adapun variabel independen utama antara lain:

ADDPx= BDx (ADD-ADDM)

(34)

a) Kemiskinan;

b) Pendidikan Dasar;

c) Kesehatan;

d) Keterjangkauan Desa.

Variabel independen tambahan merupakan variabel yang dapat ditambahkan oleh masing masing daerah. Variabel independen tambahan meliputi:

a) Jumlah Penduduk;

b) Luas Wilayah;

c) Potensi Ekonomi;

d) Partisipasi Masyarakat;

e) Jumlah Unit Konsumen di Desa;

f) Panjang Jalan Desa.

Dalam pengelolaannya harus menyatu di dalam pengelolaan APBDes, sehingga prinsip pengelolaan Alokasi Dana Desa harus memenuhi prinsip sebagai berikut:

a) Seluruh kegiatan yang didanai oleh Alokasi Dana Desa (ADD) direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi secara terbuka dengan prinsip dari, oleh dan untuk masyarakat;

b) Seluruh kegiatan harus dapat dipertnggungjawabkan secara administrative;

c) Alokasi Dana Desa (ADD) dilaksanakan dengan menggunakan prinsip hemat, terarah dan terkendali;

(35)

d) Jenis kegiatan yang akan dibiayai melalui Alokasi Dana Desa sangat terbuka untuk meningkatkan sarana pelayanan masyarakat berupa pemenuhan kebutuhan dasar, penguatan kelembagaan desa dan kegiatan lainnya yang dibutuhkan masyarakat desa yang diputuskan melalui masyarakat desa;

e) Alokasi Dana Desa harus dicatat dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) dan proses penganggarannya mengikuti mekanisme yang berlaku.

Untuk mendukung pelaksanaan kelancaran pengelolaan Alokasi Dana Desa maka perlu dibentuk Tim Pembina Tingkat Kabupaten, Tim fasilitasi Tingkat Kecamatan serta Tim Pelaksana Tingkat Desa.

a. Tim Pembina Tingkat Kabupaten ditetapkan dengan Keputusan Bupati. Dimana tim ini mempunyai tugas sebagai berikut:

1) Mendata, merumuskan serta menentukan besaran Alokasi Dana Desa yang diterima setiap desa;

2) Membina dan mensosialisasikan pengelolaan Alokasi Dana Desa;

3) Melakukan monitoring/ evaluasi kegiatan yang dilaksanakan oleh Desa;

b. Tim Fasilitasi Tingkat Kecamatan ditentukan oleh Camat, adapun tugas tim fasilitasi tingkat kecamatan yaitu;

1) Melaksanakan kegiatan pembinaan, pengawasan serta pemantauan kegiatan Alokasi Dana Desa;

2) Memverifikasi proposal dan persyaratan lainnya;

(36)

3) Mengadakan monitoring dan pengendalian kegiatan Alokasi Dana Desa;

4) Menyusun rekapitulasi laporan kemajuan kegiatan dan pelaporan keuangan;

5) Menyelesaikan permasalahan ditingkat desa dan melaporkan kepada Tim Pembina Tingkat Kabupaten.

c. Tim Pelaksana Tingkat Desa ditetapkan dengan Keputusan Kepala Desa, dimana tim pelaksana ini mempunyai tugas-tugas:

1) Menyelenggarakan musyawarah di desa mengenai rencana penggunaan Alokasi Dana Desa yang kemudian disusun dalam suatu dokumen/proposal kegiatan;

2) Mengkoordinasikan pelaksanaan tugas dari para pelaksana teknis di desa

3) Menyampaikan laporan realisasi perkembangan fisik, pertanggungjawaban keungan desa serta laporan swadaya masyarakat secara berjengang kepada Tim Fasilitasi Tingkat Kecamatan dan Tingkat Pembina Tingkat Kecamatan serta;

4) Mempertanggungjawabkan semua kegiatan yang dibiayai dari Alokasi Dana Desa.

2.5.2 Mekanisme Pencairan dan Penyaluran

Alokasi Dana Desa dalam APBD Kabupaten Karo dianggarkan pada pada Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPD). Pemerintah desa membuka rekening pada bank yang telah ditunjuak berdasarkan Keputusan

(37)

Kepala Desa. Kepala Desa mengajukan permohonan penyaluran Alokasi Dana Desa kepada Bupati Karo c/q Kepala Bagian Pemerintahan Desa melalui Camat setelah dilakukan verifikasi oleh Tim Fasilitasi Kecamatan.

Bagian Pemerintahan Desa pada Setda Kabupaten Karo akan memeriksa, meneliti serta memproses berkas permohonan berikut lampirannya kepada Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa (BPMPD), Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD). Setelah berkas-berkas sudah terpenuhi dengan baik maka Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah menyalurkan Alokasi Dana Desa langsung dari kas daerah ke rekening desa.

2.5.3 Mekanisme Pelaksanaan Kegiatan

Pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang pembiayaannya yang bersumber dari Alokasi Dana Desa dalam APBDes, sepenuhnya dilaksanakan oleh Tim Pelaksana Desa dengan mengacu pada Peraturan Bupati. Penggunaan Anggaran Alokasi Dana Desa adalah sebesar 30% (tiga puluh persen) untuk belanja aparatur dan operasional pemerintah desa, sedangkan 70% (tujuh puluh persen) untuk biaya pemberdayaan serta peningkatan ekonomi masyarakat.

2.5.4 Mekanisme Pelaporan dan Pertanggungjawaban

Pertanggungjawaban Alokasi Dana Desa terintegrasi dengan pertanggungjawaban APBDes, sehingga bentyk pertanggungjawabannya adalah pertanggungjawaban APBDes. Bentuk pelaporan atas kegiatan-kegiatan dalam APBDes yang dibiayai dari Alokasi Dana Desa, adalah sebagai berikut:

a) Laporan berkala yaitu laporan mengenai pelaksanaan penggunaan dana Alokasi Dana Desa dibuat secara rutin setiap bulannya. Adapun yang

(38)

dimuat dalam laporan ini adalah realisasi penerimaan Alokasi Dana Desa, dan realisasi belanja Alokasi Dana Desa.

b) Laporan akhir dari penggunaan Alokasi Dana Desa mencakup perkembangan pelaksanaan dan penyerapan dana, masalah yang dihadapi dan rekomendasi penyelesaian hasil akhir penggunaan Alokasi Dana Desa. Penyampaian laporan dilaksanakan secara bertahap yaitu dimulai dari Tim Pelaksana Tingkat Desa yang diteruskan ke Tim Fasilitasi Tingkat Kecamatan. Tim Fasilitasi tingkat Kecamatan akan membuat laporan/rekapan dari seluruh laporan tingkat desa. Hasil dari seluruh laporan ini akan dilaporkan ke Tim Pembina Tingkat Kabupaten.

2.6 Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Desa.

Menurut Robinson (2005;46): “Pertumbuhan ekonomi wilayah adalah pertambahan pendapatan masyarakat secara keseluruhan yang terjadi di wilayah tersebut, yaitu kenaikan seluruh nilai tambah (added value) yang terjadi.” Dimana pendapatan wilayah menggambarkan balas jasa bagi faktor-faktor produksi yang beroperasi di daerah tersebut (modal, tanah, tenaga kerja dan teknologi), yang berarti secara kasar dapat menggambarkan kemakmuran daerah. Kemakmuran suatu wilayah selain ditentukan oleh besarnya nilai tambah yang ada juga dipengaruhi oleh seberapa besar terjadi transfer payment, yaitu bagian pendapatan yang mengalir ke luar daerah atau mendapat aliran dana dari luar daerah. Dalam kondisi seperti ini, wajar suatu daerah terbelakang mendapat suntikn dana dalam proporsi yang lebih besar dibandingkan daerah lainnya, akan tetapi setelah jangka

(39)

waktu tertentu, daerah itu mesti tetap bisa bertumbuh walaupun tidak lagi mendapat alokasi yang berlebihan.

Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu gambaran mengenai kebijaksanaan pemerintah yang dilaksanakan khususnya dalam bidang ekonomi (Sirojuzilam:2008). Pertumbuhan ekonomi merupakan laju pertumbuhan yang dibentk dari berbagai macam sektor ekonomi yang seacar tidak langsung menggambarkan tingat pertumbuhan ekonomi yang terjadi di daerah tersebut.

Bagi daerah, indikator-indikator ini penting untuk mengetahui keberhasilan pembangunan serta peningkatan ekonomi di masa yang akan datang.

Kondisi pertumbuhan ekonomi masyakat di desa dapat dilihat dari aspek pemberdayaan perempuan, pelayanan pendidikan, pelayanan kesehatan.

a) Pemberdayaan Perempuan

Untuk menunjang kegiatan pemberdayaan perempuan di pedesaan dilaksanakan dengan kegiatan Pembinaan Kesejateraan Keluarga (PKK), Kesatuan Gerak PKK dan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K-PKK). Permasalahan pembangunan pemberdayaan perempuan dan anak yang terjadi selama ini adalah rendahnya partisipasi perempuan dan anak dalam pembangunan, disamping masih adanya berbagai bentuk praktek diskriminasi terhadap perempuan.

Permasalahan lainnya mencakup kesenjangan partisipasi politik kaum perempuan yang bersumber dari ketimpangan struktur sosial-kultural masyarakat. Peningkatan kualitas hidup dan peran perempuan serta kesejahteraan dan perlindungan anak merupakan bagian penting dalam upaya pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas.

(40)

Pembangunan nasional selayaknya memberikan akses yang memadai bagi perempuan dan anak untuk berpartisipasi dalam pembangunan, memanfaatkan hasil-hasil pembangunan, serta turut mempunyai andil dalam proses pengendalian (control) pembangunan. Selain itu, pembangunan nasional harus memegang prinsip pemenuhan hak asasi manusia, yang salah satunya tercermin dalam pencapaian kesetaraan dan keadilan gender serta hak-hak anak yang tidak terabaikan. Dalam rangka pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak diperlukan akses seluas-luasnya terhadap perempuan untuk berperan aktif di semua bidang kehidupan dalam rangka pemberdayaan untuk menuju kesetaraan gender.

b) Pendidikan

Pendidikan merupakan komponen penting dan vital terhadap pembangunan terutama dalam meningkatkan prtumbuhan ekonomi yang keduanya merupakan input bagi total produksi (Todaro;2003).

Agar pendidikan dapat dimiliki oleh seluruh lapisan masyarakat sesuai dengan kemampuan masing-masing individu, maka pendidikan adalah tanggung jawab keluarga, masyarakat serta pemerintah. Untuk mendapatkan pendidikan yang memadai harus ditunjang dengan kemampuan yang baik, dimana pemerintah harus dapat menyediakan sarana yang memadai dan juga ditunjang dengan kemampuan masyarakat. Masih rendahnya kemampuan pemerintah dan masyarakat selalu menjadi kendala dalam dunia pendidikan.

(41)

c) Pelayanan kesehatan

Pelayanan kesehatan masyarakat terutama pada penanganan gizi balita melalui POSYANDU. Pelaksanaannya diusahakan dengan meningkatkan partispasi masyarakat yang diarahkan terutama golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah. Faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat diantaranya adalah kurangnya sarana pelayanan kesehatan, keadaan sanitasi dan lingkungan yang tidak memadai, dan rendahnya konsumsi makanan bergizi. Arah dan Kebijaksanaan peningkatan pelayanan kesehatan di Kabupaten Karo secara garis besar adalah mengupayakan peningkatan mutu sumbr daya manusia dan lingkungan dengan pendekatan paradigma sehat, peningkatan mutu lembaga dan pelayanan kesehatan.

2.7 Penelitian Terdahulu

Simanjuntak (2010), dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis Alokasi Dana Desa APBD Serdang Bedagai Terhadap Pengembangan Desa di Kecamatan Sei Rampah”. Bahwa terdapat perbedaan signifikan pendapatan rata-rata rumah tangga sebelum dan sesudah pelaksanaan alokasi dana desa di Kecamatan Sei Rampah.

Syaputra (2011), dalam penelitian yang berjudul “Analisis Dampak Program Alokasi Dana Kampung Terhadap Kesejahteraan Masyarakat Kampung di Kecamatan Blangkejeren Kabupaten Gayo Leus Provinsi Aceh”. Menunjukkan bahwa dari penelitian tersebut telah mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

(42)

2.8 Kerangka Berpikir

Alokasi Dana Desa merupakan salah satu alat dari Pemerintah untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Pemerintah Kabupaten Karo memberikan Pengelolaan Alokasi Dana Desa ke setiap desa sebagai wujud nyata dalam program pemerintah untuk mewujudkan peningkatan perekonomian masyarakat yang makmur.

Pemerintah Desa

Pengelolaan Alokas Dana Desa

Mekanisme Pelaksanaan Kegiatan (X3) Mekanisme

Pencairan dan Penyaluran (X2) Perencanaan dan

Penganggaran Alokasi Dana Desa (X1)

Meningkatnya perekonomian Masyarakat Desa (Y)

Mekanisme Pelaporan dan

Pertanggungjawaban (X4)

(43)

2.9 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan diatas, dapat diajukan hipotesis penelitian: Pemerintah Desa dalam pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) berpengaruh terhadap peningkatan perekonomian masyarakat desa di Kecamatan Tiganderket Kabupaten Karo.

(44)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Ruang Lingkup Penelitian

Lokasi Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Tiganderket Kabupaten Karo. Pemilihan lokasi penelitian didasarkan karena penulis telah bekerja di Kecamatan Tiganderket kurang lebih 3 Tahun sehingga memudahkan penulis dalam melakukan penelitian dan penulis juga ingin memetakan hal-hal yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan desa di Kecamatan Tiganderket karena belum pernah dilakukan penelitian terkait hal tersebut.

3.2 Populasi dan Sampel

Menurut Erlina (2011;81), Populasi adalah sekelompok entitas yang lengkap yang lengkap yang dapat berupa orang, kejadian, atau benda yang mempunyai karateristik tertentu, yang berada dalam suatu wilayah dan memenuhi syarat-syarat tertentu yang berkaitan dengan masalah penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh rumah tangga yang ada di Kecamatan Tiganderket Kabupaten Karo. Menurut data Kecamatan Tiganderket Dalam Angka Tahun 2014 yang dikeluarkan BPS Kabupaten Karo, dimana luas Kecamatan Tiganderket kurang lebih sekitar 86,76 Km², dan berdasarkan data yang diperoleh dari Kecamatan Tiganderket Dalam Angka, jumlah penduduk Tahun 2013 berjumlah 13.659 jiwa atau sekitar 4.010 Kepala Keluarga atau dapat kita lihat di tabel 3.1

(45)

Tabel 3.1

Jumlah Penduduk dan Kepala Keluarga

NO NAMA DESA JUMLAH PENDUDUK JUMLAH KEPALA

KELUARGA

1. Tanjung Pulo 396 107

2. Tanjung Mbelang 911 297

3 Nari Gunung Dua 702 187

4. Jandi Meriah 1.294 402

5. Suka Tendel 1.109 324

6. Tanjung Merawa 1.218 344

7. Tiga Nderket 1.806 512

8. Perbaji 543 167

9. Temburun 316 102

10 Mardingdindg 892 243

11 Kuta Mbaru 657 188

12 Susuk 1.493 407

13 Gunung Merlawan 200 54

14 Nari Gunung Satu 511 159

15 Kuta Galuh 793 250

16 Penampen 643 211

17 Kuta Kepar 184 56

TOTAL 13.659 4.010

Sumber: Kecamatan Tiganderket Dalam Angka 2013

Karena populasi yang begitu besar maka dipilih sejumlah sample yang mewakili populasi. Banyaknya sampel dihitung dengan menggunakan rumus Slovin.

Dimana:

n : besaran sample N : besaran populasi

e : nilai kritis (batas ketelitian) yang diinginkan

Untuk menggunakan rumus ini, pertama ditentukan berapa batas toleransi kesalahan. Batas toleransi kesalahan ini dinyatakan dengan persentase. Semakin

(46)

kecil toleransi kesalahan, maka semakin akurat sampel menggambarkan populasi.

Dalam hal ini penulis mengambil nilai kritis (error tolerance) sebesar 10%.

Dengan rumus Slovin tersebuat maka jumlah sample penelitian ini adalah:

n = 4..010 1+ 4.010(0,1)² n = 4.010

1 + 40,1

n = 97,56 dibulatkan menjadi 98

Setelah jumlah sampel di kecamatan ditentukan, selanjutnya peneliti menentukan jumlah sampel untuk masing-masing desa, hal ini dilakukan agar sampel yang diperoleh lebih proporsional dan mewakili populasi yang ada.

Penghitungan sampel untuk tiap desa ditentukan dengan rumus:

Keterangan :

N1 : Jumlah populasi dari masing-masing kelompok N : Jumlah keseluruhan populasi

n : Jumlah sampel yang diambil

Dengan menggunakan rumus tersebut diperoleh jumlah sampel untuk tiap desa sebagai berikut:

(47)

Tabel 3.2

Jumlah Sampel per Desa

NO NAMA DESA JUMLAH KEPALA

KELUARGA

SAMPEL

1. Tanjung Pulo 107 107/4.010x98=3

2. Tanjung Mbelang 297 297/4.010x98=7

3 Nari Gunung Dua 187 187/4.010x98=6

4. Jandi Meriah 402 402/4.010x98=9

5. Suka Tendel 324 324/4.010x98=8

6. Tanjung Merawa 344 344/4.010x98=8

7. Tiga Nderket 512 512/4.010x98=13

8. Perbaji 167 167/4.010x98=4

9. Temburun 102 102/4.010x98=2

10 Mardingdindg 243 243/4.010x98=6

11 Kuta Mbaru 188 188/4.010x98=5

12 Susuk 407 407/4.010x98=10

13 Gunung Merlawan 54 54/4,010x98=1

14 Nari Gunung Satu 159 159/4.010x98=4

15 Kuta Galuh 250 250/4.010x98=6

16 Penampen 211 211/4.010x98=5

17 Kuta Kepar 56 56/4.010x98=1

TOTAL 13.659 98

Sumber: Data yang diolah 3.3 Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dan data primer. Data sekunder diperoleh penulis melalui buku-buku, data yang didapat dari lembaga yang berkaitan dengan penelitian berupa data dari BPS, Instansi Pemerintahan yaitu Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa (BPMPD) Kab. Karo, Bappeda Kab. Karo serta dokumen-dokumen yang berkaitan dengan Pengelolaan Keuangan Alokasi Dana Desa (ADD). Penulis juga mengumpulkan data–data dari Desa-desa yang ada di Kecamatan Tiganderket.

Data Primer diperoleh penulis dengan observasi langsung dan wawancara dengan menggunakan kuesioner yang telah dipersiapkan guna memperoleh data yang yang sesuai dengan sasaran penelitian.

(48)

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

3.4.1 Kuesioner

Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Menurut Sugiyono (2008) teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden. Kuesioner dilakukan terhadap masyarakat desa yang ada di Kecamatan Tiganderket Kabupaten Karo.

Dimana teknik penskalaan dalam kuesioner ini menggunkan skala likert, Erlina (2011;51) menyebutkan skala likert di design untuk menilai sejauh mana subyek setuju atau tidak setuju dengan pernyataan yang diajukan. Skala likert digunakan untuk mengukur respons subjek yang berupa sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau kelompok kejadian. Untuk keperluan analisis kuantitatif penelitian memberikan lima alternatif jawaban kepada responden dengan menggunakan skala 1 sampai 5.

Jawaban SB : Sangat Baik Skor : 5 Jawaban B : Baik Skor : 4 Jawaban CB : Cukup Baik Skor : 3 Jawaban KB : Kurang Baik Skor : 2 Jawaban TB : Tidak Baik Skor : 1

(49)

3.4.2 Observasi

Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang mempunyai ciri spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain, yaitu wawancara atau kuesioner, menurut Sugiyono (2008) digunakan bila penelitian berkenaan dengan prilaku manusai, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar. Observasi dilakukan penulis dengan pengamatan langsung ke lapangan untuk mengamati proses pelaksanaan Pengelolaan Keuangan Alokasi Dana Desa (ADD) yang sesuai dengan permasalahan yang ada serta bagaimana kondisi perekonomian masyarakat desa .

3.4.3 Dokumentasi

Dokumentasi adalah data yang diperoleh secara tertulis dari dokumen- dokumen yang ada dan informasi lainnya yang berhubungan dengan penelitian.

Teknik dokumentasi merupakan suatu cara mempelajari dan menelaah dokumen- dokumen yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Adapun data yang dikumpulkan oleh penulis yaitu sebagai berikut:

1. Undang-undang 2. Peraturan Pemerintah 3. Peraturan Menteri 4. Peraturan Daerah

5. Data dari BPS Kab. Karo 6. Data dari BPMPD Kab. Karo

7. Data dari Kantor Camat Tiganderket

8. Bacaan-bacaan lainnya yang dapat dijadikan literatur dalam menunjang penelitian ini.

(50)

3.5 Analisis Data

Analisis data yaitu proses yang berkaitan dengan pengujian data dengan menggunakan teknis statistik tertentu, dimana hasil dari pengujian tersebut digunakan sebagai bukti yng memadai untuk menarik kesimpulan (Erlina: 2011).

Dalam suatu penelitian diperlukan analisis data yang dapat mempermudah tujuan penelitian. Analisis data merupakan suatu proses pencarian sesuatu secara sistematis dalam waktu tertentu.

3.5.1.Pengujian Validitas dan Reliabilitas

Uji validitas dan reliabilitas dilakukan untuk memastikan instrumen penelitian sebagai alat ukur yang akurat dan dapat dipercaya. Validitas menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur, mengukur apa yang ingin di ukur.

Dengan perkataan lain, instrumen tersebut dapat mengukur construct sesuai dengan yang diharapkan peneliti.

Uji validitas instrumen dalam penelitian ini dilakukan dengan membandingkan nilai Correlated Item-Total Correlation pada setiap butir pertanyaan dengan nilai r tabel. Jika nilai Corelated Item-Total Corelation (r hitung) > nilai r tabel dan nilainya positif, maka butir pertanyaan pada setiap variabel penelitian dinyatakan valid (Ghozali, 2005 : 45). Untuk melakukan pengujian validitas dilakukan dengan menggunakan Software Statistical Package for Social Science (SPSS).

Sedangkan reliabilitas menunjukkan sejauh mana suatu hasil pengkuran relatif konsisten apabila pengukuran terhadap aspek yang sama atau disebut juga internal consistency reliability. Suatu kuisioner dikatakan reliabel atau handal

(51)

jika jawaban dari responden terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu.

Uji reliabilitas dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan program SPSS, yang akan memberikan fasilitas untuk mengukur reliabilitas dengan uji statistik Cronbach Alpha (α). Suatu konstruk atau variabel dikatakan reliabel (handal) jika memberikan nilai Cronbanch Alpha > 0,60 (Ghozali, 2005 : 42).

Pada uji ini dinilai reliabel jika lebih besar dari 0,6 dimana kriteria sebagai berikut :

α > 0,6 artinya instrumen reliabel α < 0,6 artinya instrumen tidak reliabel.

3.5.2. Uji Asumsi Klasik

Sebelum dilakukan analisis dan evaluasi selanjutnya, masih perlu dilakukan uji asumsi klasik yaitu uji normalitas, multikolinieritas dan heteroskedastisitas.

1. Pengujian Normalitas data

Pengujian ini digunakan untuk melihat dalam model regresi, variabel dependen dan independennya memiliki distribusi normal atau tidak. Jika terdapat normalitas, maka residual akan terdistribusi secara normal dan independen.

Model yang paling baik adalah distribusi data normal atau mendekati normal.

Pengujian normalitas data dilakukan dengan melihat grafik penyebaran data dan uji Kolmorov Smirnov (Uji K-S). Jika tingkat signifikansinya lebih besar dari 0,05, maka data tersebut terdistribusi normal.

(52)

2. Multikolinearitas

Multikolinearitas digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen dan variabel dependen.

Model regresi yang baik, tidak ditemukan masalah multikolinearitas antara variabel-variabel independen. Untuk mendeteksi adanya multikolinearitas dengan cara melihat angka collinerity statistics yang ditunjukkan oleh nilai Varians Inflation Factor (VIF) di model regresi adalah sebagai berikut :

1. Jika nilai Variance Inflation Factor (VIF) tidak lebih dari 1 dan nilai tolerance tidak kurang dari 0,1, maka model dapat dikatakan terbebas dari multikolinearitas.

2. Menganalisis matrik korelasi variabel-variabel independen. Jika antara variabel independen ada korelasi yang cukup tinggi (umumnya di atas 0,90), maka hal ini merupakan indikasi adanya multikolinearitas (Ghozali, 2005 : 91).

3. Uji Heteroskedastisitas

Uji ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari suatu residual pengamatan ke pengamatan yang lain.

Apabila varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lainnya tetap maka disebut homoskedastisitas dan jika varians berbeda maka disebut heterokedasitas.

Salah satu cara untuk mendekati heteroskedastisitas adalah dengan melihat grafik scatter plot antara nilai prediksi variabel terikat (ZPRED) dengan residualnya (SRESID). Jika ada titik-titik membentuk pola tertentu yang teratur seperti bergelombang, melebar, kemudian menyempit maka telah terjadi heteroskedastisitas. Jika titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada

(53)

sumbu Y tanpa membentuk pola tertentu maka tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2005: 105).

3.5.3. Teknik Analisis Data

Untuk menganalisis data yang diperoleh metode yang digunakan adalah : 1. Metode Deskriptif

Melalui metode ini, data yang diperoleh, dikumpulkan, disusun, diklasifikasikan, diinterprestasikan, dan dianalisis sehingga memberikan keterangan yang lengkap bagi permasalahan yang dihadapi.

2. Analisis Regresi Linier Berganda

Dalam menjawab rumusan masalah dilakukan secara uji signifikansi dengan cara analisis regresi linier berganda. Metode regresi linier digunakan untuk mengetahui berapa besar pengaruh variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y). Adapun regresi linier berganda ini untuk mengetahui bagaimana pengaruh Peranan Pemerintah Desa dalam pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) Terhadap Peningkatan Ekonomi Masyarakat di Kecamatan Tiganderket Kabupaten Karo. Adapun rumusan masalah dengan menggunakan analisis statistik regresi berganda dengan bentuk fungsi model regresi:

Y=bo+b1x1+b2x2+b3x3+ b4x4 + ɛ Dimana

Y = Peningkatan ekonomi masyarakat bo = Konstanta (intercept)

b1,b2,b3,b4= koefisien regresi variabel bebas x1 = Perencanaan dan Penganggaran Alokasi Dana Desa x2 = Mekanisme Pencairan dan Penyaluran

x3 = Mekanisme Pelaksanaan Kegiatan

x4= Mekanisme Pelaporan dan Pertanggungjawaban

Referensi

Dokumen terkait

yang ada di lapangan, maka peneliti ingin membuktikan apakah lingkungan sosial maupun orientasi masa depan tersebut benar-benar berpengaruh terhadap minat sisiwa

Analisis peningkatan dilakukan untuk memberikan gambaran kepada keterampilan membaca permulaan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan mengambil data

Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi pupuk kandang dengan dosis 10 ton/ha mampu meningkatkan jumlah daun, kadar klorofil a, kadar klorofil total, serta produksi bahan kering

Usia terbanyak pasien yang mengalami aspirasi benda asing adalah kelompok usia anak-anak dengan rentang usia 6 bulan sampai 13 tahun sebanyak 18 orang dan 2 orang pasien berusia

(Jogiyanto, 1999) Menyatakan bahwa analisis sistem merupakan penguraian dari suatu sistem informasi yang utuh ke dalam bagian-bagian komponennya dengan maksud untuk

Analisis dilakukan untuk menentukan konsentrasi asam sitrat dan CMC (total padatan terlarut, pH, viskositas, total fenolik, total flavonoid, aktivitas antioksidan,

Namun, penelitian kali ini hanya membahas masalah pendidikan yang tidak memihak pada orang miskin serta monopoli dan eksploitasi kekayaaan alam Pulau Belitong

Gambar 4.8 Entrance yang sempit pada ground floor hotel Santika