BAB I PENDAHULUAN
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat:
1. Bagi Pemerintah Desa yang ada di Kecamatan Tiganderket Kabupaten Karo, sebagai rekomendasi terkait dengan pengelolaan Alokasi Dana Desa
2. Sebagai bahan referensi bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya bagi penelitian-penelitian yang berkaitan dengan ekonomi masyarakat desa, peningkatan peranan aparatur pemerintah desa dalam mengelola Alokasi Dana Desa.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Desa dan Pemerintahan Desa
Istilah Desa berasal dari bahasa sanserketa, deshi, yang artinya tanah kelahiran atau tanah tumpah darah. Sekalipun nama desa ataupun daerah hokum yang setingkat desa di Indonesia bervariasi, akan tetapi asas atau landasan hukumnya hampir sama yaitu adat, kebiasaan dan hukum adat. Desa adalah suatu wilayah yang ditinggali oleh sejumlah orang yang saling mengenal, hidup bergotong royong, memiliki adat istiadatnya yang relatif sama, dan mempunyai tata cara sendiri dalam mengatur kehidupan kemasyarakatannya (Hanif Nurcholis, 2011:2). Dengan demikian, desa dihuni oleh masyarakat yang memiliki satu budaya yang relatif homogen yang memegang erat sistem persaudaraan antar individu. Sehingga, hampir semua orang yang ada di desa tersebut saling mengenal satu sama lainnya. Desa juga merupakan suatu bentuk kesatuan yang berada di luar kota. Pengertian desa pada umumnya dapat diartikan sebagai unit pemusatan penduduk yang bercorak agraris dan terletak relatif jauh dari kota.
Sedangkan menurut definisi universal desa adalah sebuah pengelompokan pemukiman di area perdesaan.
Menurut Bintarto (1983:11), Desa adalah suatu hasil perpaduan antara kegiatan sekelompok manusia dengan lingkungannya. Hasil dari perpaduan itu ialah suatu wujud atau kenampakan di muka bumi yang ditimbulkan oleh unsure-unsur fisiografi, sosial, ekonomi, politik dan kultural yang saling berinteraksi antar unsur tersebut dan juga hubungannnya dengan daerah-daerah lain.
Sedangkan dalam UU No. 6 Tahun 2014, disebutkan bahwa desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus Urusan Pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam lingkup pemerintahan di Indonesia, desa setingkat dengan kelurahan yang merupakan satuan pemerintahan terendah dengan status berbeda.
Terdapat beberapa perbedaan diantara keduanya. Kelurahan merupakan bawahan kecamatan sedangkan desa bukanlah bawahan kecamatan, karena kecamatan merupakan bagian dari perangkat daerah. Desa memiliki hak mengatur wilayahnya lebih luas atau diberi hak otonomi adat sehingga merupakan badan hokum, sedangkan kelurahan merupakan satuan pemerintahan administrasi yang hanya merupakan kepanjangan tangan dari pemerintah kota/kabupaten sebagai tempat beroperasinya pelayanan pemerintahan dari pemerintah kabupaten/kota.
Namun dalam perkembangannya, sebuah desa dapat diubah statusnya menjadi kelurahan.
Banyak pengertian dan teori tentang desa, namun secara umum suatu desa dan masyarakatny memiliki ciri-ciri khas. Pada umumnya desa dan masyarakatnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) Letaknya relatif jauh dari kota dan bersifat rural
2) Lingkungan alam masih besar peranan dan pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat pedesaan
3) Mata pencaharian bercorak agraris dan relatif homogen (bertani, beternak, nelayan, dll)
4) Hubungan kekerabatan atau corak kehidupan sosialnya bersifat gemainsschaft (paguyuban dan memiliki sentiment komunitas yang
kuat)
5) Keadaan penduduk (asal-usul), tingkat ekonomi, pendidikan dan kebudayaannya relatif homogeny
6) Interaksi sosial antar arga desa lebih intim dan langgeng serta bersifat familistik
7) Memiliki keterikatan yang kuat terhadap tanah kelahirannya, adat istiadat, norma agama dan tradisi-tradisi warisan leluhurnya
8) Masyarakat desa sangat menjunjung tinggi prinsip-prinsip kebersamaan/gotong royong kekeluargaan, solidaritas, musyawarah, kerukunan dan keterlibatan sosial
9) Jumlah warganya relatif kecil dengan penguasaan IPTEK relatif rendah, sehingga produksi barang dan jasa relatif juga rendah
10) Pembagian kerja dan spesialisasi belum banyak dikenal, sehingga deferensiasi sosial masih sedikit
11) Kehidupan sosial budayanya bersifat statis, dn monoton dengan tingkat perkembangan yang lamban
12) Masyarakatnya kurang terbuka, kurang kritis,pasrah terhadap nasib, dan sulit menerima unsur-unsur baru
13) Memiliki sistem nilai budaya (aturan modal) yang mengikat dan dipedomani warganya dalam melakukan interaksi sosial. Aturan dan kontrol sosialnya umumnya tidak tertulis (hukum informal)
14) Penduduk desa bersifat konservatif, tetapi sangat loyal kepada pemimpinya dan menjunjung tinggi tata nilai dan norma-norma adat istiadat dan norma agama yang berlaku.
Desa memiliki 3 (tiga) unsur penting, yaitu:
1) Daerah, dalam arti tanah-tanah dalam hal geografis
2) Penduduk, adalah hal yang meliputi jumalah pertambahan, kepadatan, persebaran, dan mata pencaharian penduduk desa setempat
3) Tata kehidupan, dalam hal ini pola pergaulan dan ikatan-ikatan pergaulan antar warga desa.
Ketiga unsur ini tidak bisa lepas antar satu sama lain, artinya tidak dapat berdiri sendiri melainkan merupakan satu kesatuan. Maju mundurnya suatu desa bergantung pada ketiga unsur desa tersebut. Oleh karena itu, jika unsur-unsur desa dapat dimanfaatkan dengan baik dan benar maka akan membuat desa semakin berkembang. Potensi desa dapat dibagi menjadi 2 (dua) macam yaitu:
1) Potensi fisik yang meliputi:
a) Tanah, meliputi berbagai sumber tambang dan mineral, lahan untuk tumbuhnya tanaman
b) Air, meliputi tata air untuk irigasi, pertanian dan kebutuhan kehidupan sehari-hari
c) Iklim dan cuaca, yang berperan penting bagi desa agraris
d) Flora dan fauna, seperti ternak dan hasil bumi sebagai sumber tenaga, bahan makanan dan pendapatan
e) Manusia, sebagai sumber tenaga kerja potensial baik sebagai pengolah tanah maupun produsen pertanian dan tenaga kerja industri di kota
2) Potensi non fisik yang meliputi:
a) Masyarakat desa, hidup berfalsafah gotong royong yang menjadi kekuatan berproduksi da membangun atas dasar kerja sama serta saling pengertian
b) Lembaga-lembaga sosial desa, yaitu lembaga-lembaga pendidikan atau organisasi-organisasi sosial yang dapat memberikan bantuan sosial dan bimbingan kepada masyarakatnya
c) Aparatur pemerintah desa, untuk menjaga ketertiban dan keamanan demi kelancaran jalannya pemerintahan desa.
Desa merupakan struktur pemerintahan terendah yang berada di dalam lingkup wilayah kerja pemerintahan daerah. Dengan demikin, desa harus dipahami sebagai kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kekuasaan dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya untuk mencapai kesejahteraan serta pengingkatan ekonomi masyarakat. Hak untuk mengatur dan mengatur mengurus kepentingan masyarakat inilah yang diselengggarakan oleh pemerintahan desa.
Pemerintahan desa adalah penyelenggara urusan pemerintahan dalam mengatur dan mengawasi kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara
Rpublik Indonesia. Pemerintahan desa merupakan lembaga perpanjangan pemerintahan pusat yang memiliki peran strategis dalam pengaturan dan penataan masyarakat desa demi tercapainya peningkatan ekonomi masyarakat.
Unsur penyelenggara dari pemerintahan desa ini tentu saja dilaksanakan oleh pemerintah desa. Pemerintah desa adalah kepala desa atau yang disebut dengan nama lain dibantu perangkat desa. Pemerintah desa mendapatkan penghasilan tetap setiap bulannya yang dianggarkan dari APBDesa yang berumer dari Alokasi Dana Desa (ADD). Besaran penghasilan tetap kepala desa dan perangkat desa ditetapkan dengan peraturan bupati dengan komposisi sekretaris desa paling sedikit 70% dari penghasilan tetap kepala desa per bulan. Kepala desa dan perangkat desa juga memperoleh tunjangan yang bersumber dari APBDesa serta menerima jaminan kesehatan.
Struktur Organisasi Pemerintahan Desa:
2.2 Hak dan Kewajiban Pemerintah Desa
Dalam pasal 24 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa, dalam melakukan penyelenggaraan pemerintahan desa harus berdasarkan asas:
a. Kepastian hukum:
c. Tertib kepentingan umum;
d. Keterbukaan;
e. Proporsionalitas;
f. Profesionalisme g. Akuntabilitas;
h. Efektivitas dan efisiensi;
i. Kearifan lokal;
j. Keberagaman;
k. Partisipatif.
Kepala desa dibantu oleh perangkat desa dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan, dimana kepala desa mempunyai tugas dalam menyelenggarakan urusan-urusan sebagai berikut:
a. Urusan pemerintahan, antara lain pengaturan kehidupan masyarakat sesuai dengan kewenangan desa seperti pembuatan peraturan desa, pemebntukan lembaga kemasyarakatan, pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUMD), dan kerja sama antar desa
b. Uusan pembangunan, antara lain pemberdayaan masyarakat dalam penyediaan sarana dan prasarana fasilitas umum desa seperti jalan desa, jembatan desa, irigasi desa.
c. Urusan kemasyarakatan yang meliputi pemberdayaan masyarakat melalui pembinaan kehidupan sosial budaya masyarakat seperti bidang kesehatan, pendidikan serta adat istiadat.
Dalam melaksanakan tugas tersebut, Kepala desa mempunyai wewenang antara lain:
a) Memimpin penyelenggaraan pemerintahan desa;
b) Mengangkat dan memberhentikan perangkat desa;
c) Memegang kekuasaan pengelolaan keuangan dan serta aset daerah;
d) Menetapkan peraturan desa;
e) Menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa;
f) Membina kehidupan masyarakat desa;
g) Membina ketentraman dan ketertiban masyarakat desa;
h) Membina dan meningkatkan perekonomian desa serta mengintegrasikannya agar mencapai perekonomian skala produktif untuk sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat desa;
i) Mengembangkan sumber pendapatan desa;
j) Mengusulkan dan menerima pelimpahan sebagian kekayaan negar guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa;
k) Mengembangkan kehidupan sosial budaya masyarakat desa;
l) Memanfaatkan teknologi tepat guna;
m) Mengorinasikan pembangunan desa secara partisiptif;
n) Mewakili desa di dalam dan di luar pengadilan atau menunjuk kuasa hukum untuk mewakilinya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
o) Melaksanakan wewenang lain yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya kepala desa juga berkewajiban:
a. Memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta mempertahankan dan memelihara keutuhan negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinnka Tunggal Ika;
b. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa;
c. Memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat desa;
d. Menaati dan menegakkan peraturan perundang-undangan;
e. Melaksanakan khidupan demokrasi dan berkeadilan gender;
f. Melaksanakan prinsip tata pemerintahan desa yang akuntabel, transparan, professional, efektif dan efisien, bersih serta bebas dari kolusi, korupsi dan nepotisme;
g. Menjalin kerja sama dan koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan di desa;
h. Menyelenggarakan administrasi pemerintahan desa yang baik;
i. Mengelola keuangan dan aset daerah;
j. Melaksanakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan desa;
k. Menyelesaikan perselisihan masyarakat di desa;
l. Mengembangkan perekonomian masyarakat;
m. Membina dan melestarikan nilai sosial budaya masyarakat desa;
n. Memberdayakan masyarakat dan lembaga kemasyarakatan di desa;
o. Mengembangkan potensi sumber daya alam dan melestarikan lingkungan hidup; dan
p. Memberikan informasi kepada masyarakat setempat.
Perangkat desa yang terdiri dari sekretaris desa, pelaksana teknis lapangan dan unsur kewilayahan mempunyai tugas membantu kepala desa dan bertanggung jawab kepada kepala desa. Perangkat desa dilarang untuk:
a. Merugikan kepentingan umum;
b. Membuat keputusan yang menguntungkan diri sendiri, anggota keluarga, pihak lain, dan/atau golongan tertentu;
c. Menyalahgunakan wewenang, tugas, hak, dan/atau kewajibannya;
d. Melakukan tindakan diskriminatif terhadap warga dan/atau golongan masyarakat tertentu;
e. Melakukan tindakan meresahkan sekelompok masyarakat desa;
f. Melakukan kolusi, korupsi, dan nepotisme, menerima uang, barang, dan/atau jasa dari pihak lain yang dapat mempengaruhi keputusan atau tindakan yang akan dilakukannya;
g. Menjadi pengurus partai politik
h. Menjadi anggota dan/atau pengurus organisasi terlarang;
i. Merangkap jabatan sebagai ketua dan/atau anggota Badan Permusyawaratan Desa, anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan jabatan lain yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan;
j. Ikut serta dan/atau terlibat dalam kampanye pemilihan umum dan/atau pemilihan kepala daerah;
k. Melanggar sumpah/janji jabatan;
l. Meninggalkan tugas selama 60 (enam puluh) hari kerja berturut-turut tanpa alasan yang jelas dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.
2.3 Pengertian Alokasi Dana Desa (ADD)
Dana desa adalah dana yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara yang diperuntukkan bagi desa yang ditransfer melalui anggaran pendapatan dan belanja daerah kabupaten/kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat.
Sedangkan Alokasi Dana Desa (ADD) adalah dana perimbangan yang diterima kabupaten/kota daalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah kabupaten/kota setelah dikurangi Dana Alokasi Khusus (DAK). Dimana besaran Alokasi Dana Desa yang diterima oleh Kabupaten/kota untuk Desa paling sedikit 10% (sepuluh persen).
2.4 Tujuan dan Manfaat Alokasi Dana Desa (ADD) Tujuan Alokasi Dana Desa (ADD) adalah :
1) Untuk menanggulangi kemiskinan dan mengurangi kesenjangan;
2) Untuk meningkatkan perencanaan dan penganggaran pembangunan di tingkat desa dan pemberdayaan masyarakat;
3) Untuk meningkatkan pembangunan infrastruktur desa;
4) Untuk meningkatkan pengamalan nilai-nilai keagamaan, sosial budaya dalam rangka mewujudkan peningkatan sosial;
5) Untuk meningkatkan ketentraman dan ketertiban masyarakat;
6) Untuk meningkatkan pelayanan pada masyarakat desa dalam rangka pengembangan kegiatan sosial dan peningkatan ekonomi masyarakat desa;
7) Untuk mendorong peningkatan keswadayaan dan gotong royong masyarakat desa;
8) Untuk Meningkatkan pendapatan desa dan masyarakat desa melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa).
Manfaat dari adanya Alokasi Dana Desa (ADD) sangat besar bagi desa dan masyarakat desa, adapun manfaat yang diperoleh antara lain:
a) Desa dapat menghemat biaya pembangunan, karena desa dapat mengelola sendiri proyek pembangunannya dan hasil-hasilnya dapat dipelihara secara baik demi keberlanjutannya;
b) Tiap-tiap desa memperoleh pemerataan pembangunan sehingga lebih mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat desa;
c) Desa memperoleh kepastian anggaran untuk belanja operasional pemerintah desa. Sebelum adanya Alokasi Dana Desa, belanja operasional pemerintahan desa besarnya tidak pasti;
d) Desa dapat menangani permasalahan desa secara cepat tanpa harus lama menunggu datangnya program dari Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota;
e) Desa tidak lagi hanya tergantung pada swadaya masyarkt dalam mengelola persoalan pemerintahan, pembangunan serta sosial kemasyarakatan desa;
f) Dapat mendorong terciptanya demokrasi di desa. Dimana Alokasi Dana Desa dapat melatih masyarakat dan pemerintah desa untuk bekerja sama, memunculkan kepercayaan antar pemerintah desa dengan masyarakt des dan mendorong adanya kesukarelaan masyaraat desa untuk membangun dan memelihara desa;
g) Dapat mendorong terciptanya pengawasan langsung dari masyarakat untuk menekan terjadinya penyimpangan;
h) Dengan partisipasi emua pihak, maka kesejahteraan kelompok perempuan, anak-anak, petani, orang miskin dan lain-lain dapat tercapai.
2.5 Pengelolaan Alokasi Dana Desa
2.5.1 Mekanisme Perencanaan dan Penganggaran Alokasi Dana Desa Pengelolaan Alokasi Dana Desa merupakan satu kesatuan dengan pengelolaan keuangan desa. Rumus yang dipergunakan dalam Alokasi. Dana Desa adalah:
a) Azas merata yaitu besarnya bagian Alokasi Dana Desa yang sama untuk setiap desa, yang selanjutnya disebut Alokasi Dana Desa Minimal (ADDM).
b) Azas adil, yaitu besarnya bagian Alokasi Dana Desa berdasarkan Nilai Bobot Desa (BDx) yang dihitung dengan rumus dan variabel tertentu, misalnya (kemiskinan, keterjangkauan, pendidikan dasar, kesehatan dan lain-lain) yang selanjutnya disebuat Alokasi Dana Desa Proporsional (ADDP).
Perhitungan Alokasi Dana Desa untuk setiap desa dilakukan dengan menggunakan rumus yang mempertimbangkan faktor pemerataan dan keadilan serta potensi desa dengan rumus sebagai berikut:
Rumus Alokasi Desa (x)
Keterangan:
ADDx = Alokasi Dana Desa untuk Desa x ADDx=ADDM + ADDPx
ADDM = Alokasi Dana Desa Minimal yang diterima Desa ADDPx = Alokasi Dana Desa Propoorsional untuk Desa x
X = Desa
Rumus untuk menentukan Pembagian Dana Proporsional
Keterangan:
ADDPx = Alokasi Dana Desa Proporsional untuk Desa x BDx = Nilai bobot desa untuk desa x
ADD = Total Alokasi Dana Desa
ADDM = Total Alokasi Dana Desa Minimal
x = Desa
Besarnya persentase perbandingan antara azas merata dan adil sebagaimana disebutkan diatas, adalah besarnya ADDM adalah 60% (enam puluh persen) dari jumlah ADD dan besarnya ADDP adalah 40% (empat puluh persen) dari jumlah ADD. Nilai bobot desa ditentukan berdasarkan beberapa variabel independen. Variabel independen ini dibedakan atas variabel utama dan variabel tambahan yang ditentukan oleh Kabupaten/kota berdasarkan karakter, budaya dan kesediaan data daerah.
Variabel independen utama adalah nilai variabel yang dinilai terpenting untuk menentukan nilai bobot desa. Variabel utama ditujukan untuk mengurangi kesenjangan kesejahteraan masyarakat dan pelayanan dasar umum antar desa secara bertahap dan mengatasi kemiskinan struktural masyarakat di desa. Adapun variabel independen utama antara lain:
ADDPx= BDx (ADD-ADDM)
a) Kemiskinan;
b) Pendidikan Dasar;
c) Kesehatan;
d) Keterjangkauan Desa.
Variabel independen tambahan merupakan variabel yang dapat ditambahkan oleh masing masing daerah. Variabel independen tambahan meliputi:
a) Jumlah Penduduk;
b) Luas Wilayah;
c) Potensi Ekonomi;
d) Partisipasi Masyarakat;
e) Jumlah Unit Konsumen di Desa;
f) Panjang Jalan Desa.
Dalam pengelolaannya harus menyatu di dalam pengelolaan APBDes, sehingga prinsip pengelolaan Alokasi Dana Desa harus memenuhi prinsip sebagai berikut:
a) Seluruh kegiatan yang didanai oleh Alokasi Dana Desa (ADD) direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi secara terbuka dengan prinsip dari, oleh dan untuk masyarakat;
b) Seluruh kegiatan harus dapat dipertnggungjawabkan secara administrative;
c) Alokasi Dana Desa (ADD) dilaksanakan dengan menggunakan prinsip hemat, terarah dan terkendali;
d) Jenis kegiatan yang akan dibiayai melalui Alokasi Dana Desa sangat terbuka untuk meningkatkan sarana pelayanan masyarakat berupa pemenuhan kebutuhan dasar, penguatan kelembagaan desa dan kegiatan lainnya yang dibutuhkan masyarakat desa yang diputuskan melalui masyarakat desa;
e) Alokasi Dana Desa harus dicatat dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) dan proses penganggarannya mengikuti mekanisme yang berlaku.
Untuk mendukung pelaksanaan kelancaran pengelolaan Alokasi Dana Desa maka perlu dibentuk Tim Pembina Tingkat Kabupaten, Tim fasilitasi Tingkat Kecamatan serta Tim Pelaksana Tingkat Desa.
a. Tim Pembina Tingkat Kabupaten ditetapkan dengan Keputusan Bupati. Dimana tim ini mempunyai tugas sebagai berikut:
1) Mendata, merumuskan serta menentukan besaran Alokasi Dana Desa yang diterima setiap desa;
2) Membina dan mensosialisasikan pengelolaan Alokasi Dana Desa;
3) Melakukan monitoring/ evaluasi kegiatan yang dilaksanakan oleh Desa;
b. Tim Fasilitasi Tingkat Kecamatan ditentukan oleh Camat, adapun tugas tim fasilitasi tingkat kecamatan yaitu;
1) Melaksanakan kegiatan pembinaan, pengawasan serta pemantauan kegiatan Alokasi Dana Desa;
2) Memverifikasi proposal dan persyaratan lainnya;
3) Mengadakan monitoring dan pengendalian kegiatan Alokasi Dana Desa;
4) Menyusun rekapitulasi laporan kemajuan kegiatan dan pelaporan keuangan;
5) Menyelesaikan permasalahan ditingkat desa dan melaporkan kepada Tim Pembina Tingkat Kabupaten.
c. Tim Pelaksana Tingkat Desa ditetapkan dengan Keputusan Kepala Desa, dimana tim pelaksana ini mempunyai tugas-tugas:
1) Menyelenggarakan musyawarah di desa mengenai rencana penggunaan Alokasi Dana Desa yang kemudian disusun dalam suatu dokumen/proposal kegiatan;
2) Mengkoordinasikan pelaksanaan tugas dari para pelaksana teknis di desa
3) Menyampaikan laporan realisasi perkembangan fisik, pertanggungjawaban keungan desa serta laporan swadaya masyarakat secara berjengang kepada Tim Fasilitasi Tingkat Kecamatan dan Tingkat Pembina Tingkat Kecamatan serta;
4) Mempertanggungjawabkan semua kegiatan yang dibiayai dari Alokasi Dana Desa.
2.5.2 Mekanisme Pencairan dan Penyaluran
Alokasi Dana Desa dalam APBD Kabupaten Karo dianggarkan pada pada Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPD). Pemerintah desa membuka rekening pada bank yang telah ditunjuak berdasarkan Keputusan
Kepala Desa. Kepala Desa mengajukan permohonan penyaluran Alokasi Dana Desa kepada Bupati Karo c/q Kepala Bagian Pemerintahan Desa melalui Camat setelah dilakukan verifikasi oleh Tim Fasilitasi Kecamatan.
Bagian Pemerintahan Desa pada Setda Kabupaten Karo akan memeriksa, meneliti serta memproses berkas permohonan berikut lampirannya kepada Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa (BPMPD), Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD). Setelah berkas-berkas sudah terpenuhi dengan baik maka Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah menyalurkan Alokasi Dana Desa langsung dari kas daerah ke rekening desa.
2.5.3 Mekanisme Pelaksanaan Kegiatan
Pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang pembiayaannya yang bersumber dari Alokasi Dana Desa dalam APBDes, sepenuhnya dilaksanakan oleh Tim Pelaksana Desa dengan mengacu pada Peraturan Bupati. Penggunaan Anggaran Alokasi Dana Desa adalah sebesar 30% (tiga puluh persen) untuk belanja aparatur dan operasional pemerintah desa, sedangkan 70% (tujuh puluh persen) untuk biaya pemberdayaan serta peningkatan ekonomi masyarakat.
2.5.4 Mekanisme Pelaporan dan Pertanggungjawaban
Pertanggungjawaban Alokasi Dana Desa terintegrasi dengan pertanggungjawaban APBDes, sehingga bentyk pertanggungjawabannya adalah pertanggungjawaban APBDes. Bentuk pelaporan atas kegiatan-kegiatan dalam APBDes yang dibiayai dari Alokasi Dana Desa, adalah sebagai berikut:
a) Laporan berkala yaitu laporan mengenai pelaksanaan penggunaan dana Alokasi Dana Desa dibuat secara rutin setiap bulannya. Adapun yang
dimuat dalam laporan ini adalah realisasi penerimaan Alokasi Dana Desa, dan realisasi belanja Alokasi Dana Desa.
b) Laporan akhir dari penggunaan Alokasi Dana Desa mencakup perkembangan pelaksanaan dan penyerapan dana, masalah yang dihadapi dan rekomendasi penyelesaian hasil akhir penggunaan Alokasi Dana Desa. Penyampaian laporan dilaksanakan secara bertahap yaitu dimulai dari Tim Pelaksana Tingkat Desa yang diteruskan ke Tim Fasilitasi Tingkat Kecamatan. Tim Fasilitasi tingkat Kecamatan akan membuat laporan/rekapan dari seluruh laporan tingkat desa. Hasil dari seluruh laporan ini akan dilaporkan ke Tim Pembina Tingkat Kabupaten.
2.6 Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Desa.
Menurut Robinson (2005;46): “Pertumbuhan ekonomi wilayah adalah pertambahan pendapatan masyarakat secara keseluruhan yang terjadi di wilayah tersebut, yaitu kenaikan seluruh nilai tambah (added value) yang terjadi.” Dimana pendapatan wilayah menggambarkan balas jasa bagi faktor-faktor produksi yang beroperasi di daerah tersebut (modal, tanah, tenaga kerja dan teknologi), yang berarti secara kasar dapat menggambarkan kemakmuran daerah. Kemakmuran suatu wilayah selain ditentukan oleh besarnya nilai tambah yang ada juga dipengaruhi oleh seberapa besar terjadi transfer payment, yaitu bagian pendapatan yang mengalir ke luar daerah atau mendapat aliran dana dari luar daerah. Dalam kondisi seperti ini, wajar suatu daerah terbelakang mendapat suntikn dana dalam proporsi yang lebih besar dibandingkan daerah lainnya, akan tetapi setelah jangka
waktu tertentu, daerah itu mesti tetap bisa bertumbuh walaupun tidak lagi mendapat alokasi yang berlebihan.
Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu gambaran mengenai
Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu gambaran mengenai