BAB II LANDASAN TEORI
2.9 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan diatas, dapat diajukan hipotesis penelitian: Pemerintah Desa dalam pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) berpengaruh terhadap peningkatan perekonomian masyarakat desa di Kecamatan Tiganderket Kabupaten Karo.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Ruang Lingkup Penelitian
Lokasi Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Tiganderket Kabupaten Karo. Pemilihan lokasi penelitian didasarkan karena penulis telah bekerja di Kecamatan Tiganderket kurang lebih 3 Tahun sehingga memudahkan penulis dalam melakukan penelitian dan penulis juga ingin memetakan hal-hal yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan desa di Kecamatan Tiganderket karena belum pernah dilakukan penelitian terkait hal tersebut.
3.2 Populasi dan Sampel
Menurut Erlina (2011;81), Populasi adalah sekelompok entitas yang lengkap yang lengkap yang dapat berupa orang, kejadian, atau benda yang mempunyai karateristik tertentu, yang berada dalam suatu wilayah dan memenuhi syarat-syarat tertentu yang berkaitan dengan masalah penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh rumah tangga yang ada di Kecamatan Tiganderket Kabupaten Karo. Menurut data Kecamatan Tiganderket Dalam Angka Tahun 2014 yang dikeluarkan BPS Kabupaten Karo, dimana luas Kecamatan Tiganderket kurang lebih sekitar 86,76 Km², dan berdasarkan data yang diperoleh dari Kecamatan Tiganderket Dalam Angka, jumlah penduduk Tahun 2013 berjumlah 13.659 jiwa atau sekitar 4.010 Kepala Keluarga atau dapat kita lihat di tabel 3.1
Tabel 3.1
Jumlah Penduduk dan Kepala Keluarga
NO NAMA DESA JUMLAH PENDUDUK JUMLAH KEPALA
KELUARGA
Sumber: Kecamatan Tiganderket Dalam Angka 2013
Karena populasi yang begitu besar maka dipilih sejumlah sample yang mewakili populasi. Banyaknya sampel dihitung dengan menggunakan rumus Slovin.
Dimana:
n : besaran sample N : besaran populasi
e : nilai kritis (batas ketelitian) yang diinginkan
Untuk menggunakan rumus ini, pertama ditentukan berapa batas toleransi kesalahan. Batas toleransi kesalahan ini dinyatakan dengan persentase. Semakin
kecil toleransi kesalahan, maka semakin akurat sampel menggambarkan populasi.
Dalam hal ini penulis mengambil nilai kritis (error tolerance) sebesar 10%.
Dengan rumus Slovin tersebuat maka jumlah sample penelitian ini adalah:
n = 4..010 1+ 4.010(0,1)² n = 4.010
1 + 40,1
n = 97,56 dibulatkan menjadi 98
Setelah jumlah sampel di kecamatan ditentukan, selanjutnya peneliti menentukan jumlah sampel untuk masing-masing desa, hal ini dilakukan agar sampel yang diperoleh lebih proporsional dan mewakili populasi yang ada.
Penghitungan sampel untuk tiap desa ditentukan dengan rumus:
Keterangan :
N1 : Jumlah populasi dari masing-masing kelompok N : Jumlah keseluruhan populasi
n : Jumlah sampel yang diambil
Dengan menggunakan rumus tersebut diperoleh jumlah sampel untuk tiap desa sebagai berikut:
Tabel 3.2
2. Tanjung Mbelang 297 297/4.010x98=7
3 Nari Gunung Dua 187 187/4.010x98=6
4. Jandi Meriah 402 402/4.010x98=9
5. Suka Tendel 324 324/4.010x98=8
6. Tanjung Merawa 344 344/4.010x98=8
7. Tiga Nderket 512 512/4.010x98=13
8. Perbaji 167 167/4.010x98=4
9. Temburun 102 102/4.010x98=2
10 Mardingdindg 243 243/4.010x98=6
11 Kuta Mbaru 188 188/4.010x98=5
12 Susuk 407 407/4.010x98=10
13 Gunung Merlawan 54 54/4,010x98=1
14 Nari Gunung Satu 159 159/4.010x98=4
15 Kuta Galuh 250 250/4.010x98=6 primer. Data sekunder diperoleh penulis melalui buku-buku, data yang didapat dari lembaga yang berkaitan dengan penelitian berupa data dari BPS, Instansi Pemerintahan yaitu Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa (BPMPD) Kab. Karo, Bappeda Kab. Karo serta dokumen-dokumen yang berkaitan dengan Pengelolaan Keuangan Alokasi Dana Desa (ADD). Penulis juga mengumpulkan data–data dari Desa-desa yang ada di Kecamatan Tiganderket.
Data Primer diperoleh penulis dengan observasi langsung dan wawancara dengan menggunakan kuesioner yang telah dipersiapkan guna memperoleh data yang yang sesuai dengan sasaran penelitian.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
3.4.1 Kuesioner
Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Menurut Sugiyono (2008) teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden. Kuesioner dilakukan terhadap masyarakat desa yang ada di Kecamatan Tiganderket Kabupaten Karo.
Dimana teknik penskalaan dalam kuesioner ini menggunkan skala likert, Erlina (2011;51) menyebutkan skala likert di design untuk menilai sejauh mana subyek setuju atau tidak setuju dengan pernyataan yang diajukan. Skala likert digunakan untuk mengukur respons subjek yang berupa sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau kelompok kejadian. Untuk keperluan analisis kuantitatif penelitian memberikan lima alternatif jawaban kepada responden dengan menggunakan skala 1 sampai 5.
Jawaban SB : Sangat Baik Skor : 5 Jawaban B : Baik Skor : 4 Jawaban CB : Cukup Baik Skor : 3 Jawaban KB : Kurang Baik Skor : 2 Jawaban TB : Tidak Baik Skor : 1
3.4.2 Observasi
Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang mempunyai ciri spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain, yaitu wawancara atau kuesioner, menurut Sugiyono (2008) digunakan bila penelitian berkenaan dengan prilaku manusai, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar. Observasi dilakukan penulis dengan pengamatan langsung ke lapangan untuk mengamati proses pelaksanaan Pengelolaan Keuangan Alokasi Dana Desa (ADD) yang sesuai dengan permasalahan yang ada serta bagaimana kondisi perekonomian masyarakat desa .
3.4.3 Dokumentasi
Dokumentasi adalah data yang diperoleh secara tertulis dari dokumen-dokumen yang ada dan informasi lainnya yang berhubungan dengan penelitian.
Teknik dokumentasi merupakan suatu cara mempelajari dan menelaah dokumen-dokumen yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Adapun data yang dikumpulkan oleh penulis yaitu sebagai berikut:
1. Undang-undang 2. Peraturan Pemerintah 3. Peraturan Menteri 4. Peraturan Daerah
5. Data dari BPS Kab. Karo 6. Data dari BPMPD Kab. Karo
7. Data dari Kantor Camat Tiganderket
8. Bacaan-bacaan lainnya yang dapat dijadikan literatur dalam menunjang penelitian ini.
3.5 Analisis Data
Analisis data yaitu proses yang berkaitan dengan pengujian data dengan menggunakan teknis statistik tertentu, dimana hasil dari pengujian tersebut digunakan sebagai bukti yng memadai untuk menarik kesimpulan (Erlina: 2011).
Dalam suatu penelitian diperlukan analisis data yang dapat mempermudah tujuan penelitian. Analisis data merupakan suatu proses pencarian sesuatu secara sistematis dalam waktu tertentu.
3.5.1.Pengujian Validitas dan Reliabilitas
Uji validitas dan reliabilitas dilakukan untuk memastikan instrumen penelitian sebagai alat ukur yang akurat dan dapat dipercaya. Validitas menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur, mengukur apa yang ingin di ukur.
Dengan perkataan lain, instrumen tersebut dapat mengukur construct sesuai dengan yang diharapkan peneliti.
Uji validitas instrumen dalam penelitian ini dilakukan dengan membandingkan nilai Correlated Item-Total Correlation pada setiap butir pertanyaan dengan nilai r tabel. Jika nilai Corelated Item-Total Corelation (r hitung) > nilai r tabel dan nilainya positif, maka butir pertanyaan pada setiap variabel penelitian dinyatakan valid (Ghozali, 2005 : 45). Untuk melakukan pengujian validitas dilakukan dengan menggunakan Software Statistical Package for Social Science (SPSS).
Sedangkan reliabilitas menunjukkan sejauh mana suatu hasil pengkuran relatif konsisten apabila pengukuran terhadap aspek yang sama atau disebut juga internal consistency reliability. Suatu kuisioner dikatakan reliabel atau handal
jika jawaban dari responden terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu.
Uji reliabilitas dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan program SPSS, yang akan memberikan fasilitas untuk mengukur reliabilitas dengan uji statistik Cronbach Alpha (α). Suatu konstruk atau variabel dikatakan reliabel (handal) jika memberikan nilai Cronbanch Alpha > 0,60 (Ghozali, 2005 : 42).
Pada uji ini dinilai reliabel jika lebih besar dari 0,6 dimana kriteria sebagai berikut :
α > 0,6 artinya instrumen reliabel α < 0,6 artinya instrumen tidak reliabel.
3.5.2. Uji Asumsi Klasik
Sebelum dilakukan analisis dan evaluasi selanjutnya, masih perlu dilakukan uji asumsi klasik yaitu uji normalitas, multikolinieritas dan heteroskedastisitas.
1. Pengujian Normalitas data
Pengujian ini digunakan untuk melihat dalam model regresi, variabel dependen dan independennya memiliki distribusi normal atau tidak. Jika terdapat normalitas, maka residual akan terdistribusi secara normal dan independen.
Model yang paling baik adalah distribusi data normal atau mendekati normal.
Pengujian normalitas data dilakukan dengan melihat grafik penyebaran data dan uji Kolmorov Smirnov (Uji K-S). Jika tingkat signifikansinya lebih besar dari 0,05, maka data tersebut terdistribusi normal.
2. Multikolinearitas
Multikolinearitas digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen dan variabel dependen.
Model regresi yang baik, tidak ditemukan masalah multikolinearitas antara variabel-variabel independen. Untuk mendeteksi adanya multikolinearitas dengan cara melihat angka collinerity statistics yang ditunjukkan oleh nilai Varians Inflation Factor (VIF) di model regresi adalah sebagai berikut :
1. Jika nilai Variance Inflation Factor (VIF) tidak lebih dari 1 dan nilai tolerance tidak kurang dari 0,1, maka model dapat dikatakan terbebas dari multikolinearitas.
2. Menganalisis matrik korelasi variabel-variabel independen. Jika antara variabel independen ada korelasi yang cukup tinggi (umumnya di atas 0,90), maka hal ini merupakan indikasi adanya multikolinearitas (Ghozali, 2005 : 91).
3. Uji Heteroskedastisitas
Uji ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari suatu residual pengamatan ke pengamatan yang lain.
Apabila varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lainnya tetap maka disebut homoskedastisitas dan jika varians berbeda maka disebut heterokedasitas.
Salah satu cara untuk mendekati heteroskedastisitas adalah dengan melihat grafik scatter plot antara nilai prediksi variabel terikat (ZPRED) dengan residualnya (SRESID). Jika ada titik-titik membentuk pola tertentu yang teratur seperti bergelombang, melebar, kemudian menyempit maka telah terjadi heteroskedastisitas. Jika titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada
sumbu Y tanpa membentuk pola tertentu maka tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2005: 105).
3.5.3. Teknik Analisis Data
Untuk menganalisis data yang diperoleh metode yang digunakan adalah : 1. Metode Deskriptif
Melalui metode ini, data yang diperoleh, dikumpulkan, disusun, diklasifikasikan, diinterprestasikan, dan dianalisis sehingga memberikan keterangan yang lengkap bagi permasalahan yang dihadapi.
2. Analisis Regresi Linier Berganda
Dalam menjawab rumusan masalah dilakukan secara uji signifikansi dengan cara analisis regresi linier berganda. Metode regresi linier digunakan untuk mengetahui berapa besar pengaruh variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y). Adapun regresi linier berganda ini untuk mengetahui bagaimana pengaruh Peranan Pemerintah Desa dalam pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) Terhadap Peningkatan Ekonomi Masyarakat di Kecamatan Tiganderket Kabupaten Karo. Adapun rumusan masalah dengan menggunakan analisis statistik regresi berganda dengan bentuk fungsi model regresi:
Y=bo+b1x1+b2x2+b3x3+ b4x4 + ɛ Dimana
Y = Peningkatan ekonomi masyarakat bo = Konstanta (intercept)
b1,b2,b3,b4= koefisien regresi variabel bebas x1 = Perencanaan dan Penganggaran Alokasi Dana Desa x2 = Mekanisme Pencairan dan Penyaluran
x3 = Mekanisme Pelaksanaan Kegiatan
x4= Mekanisme Pelaporan dan Pertanggungjawaban
3. Pengujian Hipotesis
Selanjutnya dilakukan pengujian hipotesis berdasarkan uji statistik sebagai berikut :
1. Uji Signifikan Simultan (Uji-F)
Uji-F pada dasarnya menunjukkan semua variabel bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikat atau tidak.
Ho : b1 = b2 = 0, artinya secara serentak tidak terdapat pengaruh positif dan signifikan terhadap variabel bebas terhadap variabel terikat.
Ha : b1 ≠ b2 ≠ 0, artinya secara serentak terdapat pengaruh positif dan signifikan terhadap variabel bebas terhadap variabel terikat.
Kriteria pengambilan keputusan:
F hitung < F tabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak pada α = 5%
F hitung > F tabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak pada α = 5%
2. Uji Signifikan Parsial (Uji-t)
Uji-t bertujuan untuk melihat secara parsial apakah ada pengaruh yang signifikan dari variabel bebas terhadap variabel terikat. Bentuk pengujiannya adalah :
Ho : bi = 0, Artinya variabel bebas secara parsial tidak berpengaruh signifikan dan positif terhadap variabel terikat.
Ha : bi ≠ 0, Artinya variabel bebas secara parsial berpengaruh signifikan dan positif terhadap variabel terikat.
Nilai t hitung akan dibandingkan dengan t tabel dengan kriteria pengambilan keputusan yaitu::
t hitung < t tabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak pada α = 5%
t hitung > t tabel, maka Ho ditolak dan Ha ditterima pada α = 5%
3. Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien Determinasi (R2) mengukur seberapa jauh kemampuan model menerangkan variasi variabel independen (Ghozali, 2005 : 83). Nilai koefisien determinasi dapat dilihat pada R Square. Jika nilai R Square dikatakan baik jika di atas 0,5 karena nilai R Square berkisar antara 0 dan 1. Jika koefisien determinasi (R2) semakin besar atau mendekati satu menunjukkan semakin baik kemampuan variabel X menerangkan variabel Y dan 0 < R2 < 1. Sebaliknya, jika R2 semakin kecil atau mendekati nol, maka dapat dikatakan bahwa pengaruh variabel bebas adalah kecil terhadap variabel terikat. Hal ini berarti model yang digunakan tidak kuat untuk menerangkan pengaruh variabel bebas yang diteliti terhadap variabel terikat.
BAB IV
DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
4.1. Sejarah Singkat
Perkataan Tiganderket adalah nama salah satu desa yang dulunya dikenal dengan nama Luhak, Desa tersebut terbentuk ketika Marga Bangun dari wilayah Raja Urung batu Karang pindah kesuatu tempat karena tidak harmonisnya hubungan kekeluargaan. Di tempat yang baru Marga Bangun tersebut membuka perladangan baru (erabarung-barung). Akibat perpindahan Marga Bangun yang menyendiri di perladangan, maka menimbulkan tanda tanya bagi penduduk setempat dan mereka menyelidiki kena Marga Bangun itu jadi menyendiri.
Setelah jelas mengetahui apa penyebabnya maka penduduk mengatakan “Payonge ia miser” (Pantaslah ia pindah).
Tiganderket berasal dari kat “Tiga” dan “Nderket”, tiga berarti pekan/pasar dan Nderket adalah sejenis pohon kayu besar. Pada waktu itu disebelah barat desa Tiganderket (sekarang lokasi pasar) terdapat sebuah pohon kayu Nderket yang besar dan dibawah kayu itu selalu dilakukan transaksi hasil pertanian rakyat sehingga lokasi tersebut lebih dikenal dengan “Tiganderket”
(Pasar dibawah pohon Nderket). Pada Tahun 2005 Bupati Karo menerbitkan Perda Nomor 4 tahun 2005 tentang pembentukan kecamatan baru dimana salah satu kecamatan yang mengalami pemekaran ialah Kecamatan Payung menjadi 2 Kecamatan. Kecamatan Payung, sedangkan Kecamatan Tiganderket (kecamatan pemekaran) ibukotanya di Tiganderket. Secara resmi Kecamatan Tiganderket disahkan oleh Bupati Karo pada Tanggal 29 Desember 2006.
4.2 Kondisi Geografis
Kecamatan Tiganderket merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Karo. Kecamatan Tiganderket memliki luas wilayah sebesar 86,76 Km² yang terletak antara Lintang Utara : 03° 08" dan Bujur Timur 98°37".
Kecamatan Tiganderket terletak di ketinggian berkisar dari 724-1.138 diatas permukaan laut (dpl) yang merupakan daerah perbukitan dan pegunungan.
Adapun batas-batas wilayah Kecamatan Tiganderket adalah sebagai berikut:
Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Langkat
Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Munte dan Payung Sebelah Barat berbatatasan dengan Kecamatan Kutabuluh
Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Naman Teran dan Payung Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada peta dibawah ini
Kecamatan Tiganderket terdiri dari 17 (Tujuh belas) desa. Adapun Ibukota Kecamatan Tiganderket adalah Tiganderket, Jarak dari ibukota kecamatan ke ibukota Kabupaten sekitar 23 Km . Untuk lebih jelasnya luas tanah dan penggunaannya dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut:
Tabel 4.1 Luas Wilayah Menurut Desa di Kecamatan Tiganderket Tahun 2013
No. Desa/Kelurahan Luas (Km2)
Sumber: Kepala Desa Kecamatan Tiganderket
Mayoritas penduduk KecamatanTiganderket bekerja pada bidang pertanian. Hal ini sesuai dengan kondisi geografis yang merupakan daerah perbukitan serta iklim yang mendukung pertanian.
Tabel 4.2 Luas Wilayah Menurut Jenis Penggunaan Tanah
Sumber : Ka. UPT Pertanian Kecamatan Tiganderket
4.3 Kondisi Demografi
Untuk menunjang keberhasilan pembangunan nasional, dalam masalah kependudukan, pemerintah tidak saja mengarahkan pada upaya pengendalian jumlah penduduk. Pemerintah juga harus menitikberatkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Jika jumlah penduduk yang besar dapat diberdayakan sesuai kodrat, keahlian dan bidang kerjanya masing-masing maka pembangunan akan dapat terlaksana dengan baik. Sebaliknya apabila jumlah penduduk yang besar tidak dapat diberdayakan dan dikendalikan secara bijak dan
terencana, maka akan menjadi beban pembangunan. Aspek kependudukan yang perlu mendapat perhatian mencakup jumlah, komposisi, dan distribusi penduduk.
Jumlah penduduk Kecamatan Tiganderket menurut data statistik Tahun 2013 berjumlah 4.010 Kepala Keluarga atau 13.659 jiwa yang terdiri dari 6.660 laki-laki serta 6.999 perempuan.
Adapun klasifikasi jumlah penduduk berdasarkan luas wilayah,jumlah penduduk dapat kita lihat pada tabel 4. 3 sebagai berikut:
No
Sumber : Kecamatan Tiganderket Dalam Angka Tahun 2013
Tabel 4.4 Banyaknya Penduduk Dirinci Menurut Jenis Kelamin dan
Sumber : Kecamatan Tiganderket Dalam Angka Tahun 2013
Dari tabel diatas dapat kita lihat bahwa komposisi penduduk di Kecamatan Tiganderket didominasi penduduk usia muda. Dimana usia 0-4 sebesar 11,64 %, usia 5-9 sebesar 10,7 % sedangkan usia 10-14 sebesar 9,5%. Sedangkan jumlah penduduk paling sedikit ada di usia 70-74 yaitu sebesar 1,37 %.
Tabel 4.5 Banyaknya Penduduk Menurut Desa dan Agama yang Dianut
Sumber: Kecamatan Tiganderket Dalam Angka Tahun 2013
Keadaan masyarakat Kecamatan Tiganderket berdasarkan agama yang dianut dapat kita lihat pada tabel diatas. Dari tabel tersebut menunjkkan adanya keanekaragaman agama yang dianut. Dimana Agama Islam sebnayak 4.672 orang (34,20%), sedangkan agama Agama Krsten Protestan sebanyak 7.742 atau sekitar 56,68% selanjutnya yang beragama Kristen Khatolik ada sebanyak 1.223 atau sekitar 8,84% dan yang beragama Hindu yaitu sebanyak 21 orang atau sekitar 0.15%.
4.4 Keadaan Ekonomi
Masyarakat Kecamatan Tiganderket pada umumnya kebanyakan sudah bekerja, hal ini dapat kita lihat pada tabel dibawah ini. Dari usia 15 Tahun keatas kita lihat bahwa yang bekerja sekitar 78,58 % sedangkan yang tidak bekerja sebesar 21,42
%. Antusiasnya masyarakat yang bekerja dikarenakan daerah yang subur serta merupakan daerah tujuan wisata.
Tabel 4.6 Banyaknya Penduduk Usia 15 Tahun Ke Atas Dirinci Menurut Pekerjaan dan Desa Tahun 2013
Sumber : Kecamatan Tiganderket Dalam Angka Tahun 2013
Sedangkan keadaan penduduk berdasarkan lapangan pekerjaan dapat kita lihat dari tabel dibawah ini
Tabel 4.7 Banyaknya Tenaga Kerja Yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan dan Desa Tahun 2013
Sumber : Kecamatan Tiganderket Dalam Angka Tahun 2013
Dari tabel diatas, dapat kita lihat bahwa masyarakat Kecamatan Tiganderket pada umumnya bekerja sebagai petani. Banyaknya masyarakat yang sebagai petani ada sebanyak 6.915 atau sekitar 94,63%. Masyarakat yang berkerja di bidang industri ada sejumlah 47 atau sekitar 0,64%. Sedangkan penduduk yang bermata pencaharian di bidang PNS/TNI/POLRI ada sebanyak 324 atau sekitar 4,43%. Sektor pertanian masih menjadi sebagai primadona bagi usia kerja di Kecamatan Tiganderket, meskipun situasi alam yang kurang bersahabat sejak erupsi Gunung Sinabung.
4.5 Sarana dan Prasarana di Kecamatan Tiganderket
Untuk menunjang keberhasilan pembangunan maka diperlukan sarana dan prasarana yang memadai.
4.5.1 Sarana Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu faktor penentu untuk menunjang keberhasilan pembangunan di suatu daerah. Keberhasilan di bidang pembangunan dari sektor pendidikan dapat dilihat dari output pendidikan, juga adapat dilihat dari jumlah sarana pendidikan yang ada. Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat pada Tabel 4.8 Banyaknya Sekolah, Murid, dan Guru Sekolah Dasar (SD) Menurut
Desa/Kelurahan, Tahun 2013
No. Desa/Kelurahan
Sekolah Murid Guru
Negeri Swasta Negeri Swast
a Negeri Swasta
Sumber: UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Tiganderket
Dari tabel diatas, dapat kita lihat bahwa ada desa yang belum mempunyai Fasilitas Sekolah Dasar yaitu Desa Tanjung Pulo, Desa Gunung Merlawan dan Desa Nari
Gunung Satu. Sedangkan Jumlah Murid pada Sekolah Menegah Pertama (SMP) dapat kita lihat pada tabel dibawah ini
Tabel 4.9
Banyaknya Sekolah, Murid, dan Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) Menurut Desa/Kelurahan, Tahun 2013
No. Desa/Kelurahan Sekolah Murid Guru
Negeri Swasta Negeri Swasta Negeri Swasta
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
Sumber: UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Tiganderket
Dari Tabel diatas dapat kita lihat bahwa terdapat 2 SMP di Kecamatan Tiganderket. 1 Negeri yang berkedudukan di Desa Tiganderket, dimana jumlah siswa SMP sebanyak 621 yang dibimbing 51 guru sedangkan 1 SMP Swasta berada di Desa Kuta Galuh yang mempunyai siswa sebanyak 30 orang, sedangkan tenaga pengajar di sekolah ini sebanyak 8 orang.
Sedangkan jumlah murid dan sarana pendidikan Tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dapat kita lihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 4.10
Banyaknya Sekolah, Murid, dan Guru Sekolah Menengah Atas (SMA) Menurut Desa/Kelurahan, Tahun 2013
No. Desa/Kelurahan Sekolah Murid Guru
Negeri Swasta Negeri Swasta Negeri Swasta
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
Sumber: UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Tiganderket
Dari Tabel diatas dapat kita lihat bahwa terdapat 2 SMA di Kecamatan Tiganderket. 1 Negeri yang berkedudukan di Desa Tiganderket, dimana jumlah siswa SMP sebanyak 421 yang dibimbing 52 guru sedangkan 1 SMP Swasta berada di Desa Kuta Galuh yang mempunyai siswa sebanyak 51 orang, sedangkan tenaga pengajar di sekolah ini sebanyak 8 orang.
Untuk lebih jelasnya persentase indikator pendidikan dapat kita lihat kita lihat pada tabel 4.11 dibawah ini
Uraian SD SMP SMA
Jumlah Sekolah 17 2 1
Jumlah Guru 177 59 60
Jumlah Murid 2.052 651 463
Ratio Murid-Sekolah 120,70 325,5 463
Ratio Murid-Guru 11,59 11,03 7,71
Sumber: data yang diolah 4.5.2 Sarana Kesehatan
Tingkat perekonomian masyarakat dapat dilihat dari aspek sarana kesehatan. Secara umum fasilitas kesehatan yang ada di Kecamatan Tiganderket masih belum memadai serta belum menyebar ke setiap desa. Dengan adanya Alokasi Dana Desa yang diberikan setiap tiap tahun, tentu kita berharap agar sarana kesehatan dapat menyebar ke seluruh desa, dimana honor-honor tim petugas posyandu sudah ditampung dalam Alokasi Dana Desa. Dengan adanya upaya tersebut diharapkan akan tercapai derajat kesehatan masyarakat yang lebih baik.
Banyaknya Sarana Kesehatan di Kecamatan Tiganderket dapat kita lihat pada tabel dibawah ini
Tabel 4.12 Banyaknya Sarana Kesehatan Dirinci Menurut Desa Tahun 2013 No
Dari tabel diatas dapat kita lihat bahwa hanya ada 1 (satu) Puskesmas yang terdapat di Kecamatan Tiganderket yang berkedudukan di Ibukota Kecamatan yaitu di Desa Tiganderket. Sedangkan Puskemas Paembantu juga masih belum tersebar secara merata namun Posyandu sudah dapat menjangkau seluruh desa di Kecamatan Tiganderket. Sedangkan tenaga kesehatan yang ada di Kecamatan Tiganderket dapat kita lihat pada tabel dibawah ini
Tabel 4.13 Banyaknya Tenaga Kesehatan Dirinci Menurut Desa Tahun 2013
Sumber: Puskesmas Kecamatan Tiganderket
Untuk lebih jelasnya persentase indikator kesehatan dapat kita lihat kita lihat pada tabel 4.14 dibawah ini
Uraian Jumlah
Fasilitas kesehatan 42
Tenaga kesehatan 40
Jumlah penduduk 13.659
Ratio Penduduk –fasilitas kesehatan 325
Ratio penduduk-tenaga kesehatan 341
Sumber; data yang diolah
Dari tabel diatas dapat kita lihat bahwa masih tingginya rasio penduduk
Dari tabel diatas dapat kita lihat bahwa masih tingginya rasio penduduk