• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengujian Asumsi Klasik

Dalam dokumen SEKOLAH PASCASARJANA (Halaman 94-102)

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.2 Penjelasan Responden

5.3.2 Pengujian Asumsi Klasik

Pengujian asumsi klasik dilakukan untuk menentukan model regresi dapat diterima secara ekonometrik dan untuk memastikan bahwa alat uji regresi linear berganda dapat digunakan atau tidak. Untuk menghasilkan suatu model regresi yang baik, analisis regresi memerlukan pengujian asumsi klasik sebelum

melakukan pengujian hipotesis. Apabila terjadi penyimpangan dalam pengujian asumsi klasik perlu dilakukan perbaikan terlebih dahulu. Pengujian asumsi klasik ini terdiri dari Uji Normalitas, Uji Multikolonearitas, Uji Heterokedastisitas, dan Uji Autokorelasi.

1. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk melihat apakah dalam model regresi variabel bebas dan variabel terikat memiliki data yang berdistribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah yang memiliki distribusi normal atau mendekati normal. Untuk mengetahui apakah suatu data berdistribusi normal atau tidak, maka digunakan uji grafik Histogram, grafik P-Plot, dan Kolmogorov-Smirnov.

Histogram

Pengujian distribusi normal dilakukan dengan cara melihat histogram yang membandingkan data observasi dengan distribusi yang mendekati normal.

Sumber : Hasil Penelitian 2015 (data diolah) Gambar 5.1 Histogram

Berdasarkan grafik histogram diatas dapat disimpulkan bahwa distribusi data normal karena grafik histogram menunjukkan distribusi data mengikuti garis diagonal yang tidak menceng (skewness) ke kiri maupun ke kanan.

Grafik P-plot

Sumber : Hasil Penelitian 2015 (data diolah) Gambar 5.2 Grafik P-Plot

Demikian pula dengan hasil uji normalitas dengan menggunakan grafik p-plot. Pada grafik normal plot, terlihat titik-titik menyebar di sekitar garis diagonal serta penyebarannya agak mendekati dengan garis diagonal sehingga dapat disimpulkan bahwa data dalam model regresi terdistribusi secara normal.

Uji Kolmogorov-Smirnov

Selain itu, pengujian normalitas data dalam penelitian ini juga mengunakan uji statistik non parametrik Kolmogorov-Smirnov (K-S). Dalam uji Kormogrov-Smirnov, pedoman yang digunakan dalam pengambilan keputusan yaitu:

1) jika nilai signifikansi < 0,05 maka distribusi data tidak normal, 2) jika nilai signifikansi > 0,05 maka distribusi data normal.

Tabel 5.14

Normal Parametersa,b Mean ,0000000

Std. Deviation 3,81329222

Most Extreme Differences Absolute ,075

Positive ,075

Negative -,058

Kolmogorov-Smirnov Z ,745

Asymp. Sig. (2-tailed) ,636

Sumber : Hasil Penelitian 2015 (data diolah)

Dari hasil pengolahan data tersebut, besarnya nilai Kolmogorov-Smirnov adalah 0,745 dan signifikansinya pada 0,636. Dapat disimpulkan data terdistribusi secara normal karena sig = 0,636 > 0,05.

2. Uji Multikolonearitas

Uji multikolonearitas bertujuan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan korelasi antara variabel independent. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen (Ghozali, 2005).

Jika terjadi korelasi maka terdapat masalah multikolonearitas sehingga model regresi tidak dapat digunakan.

Menurut Ghozali (2005), mendeteksi ada tidaknya gejala multikolinearitas adalah dengan melihat nilai tolerance dan variance inflation factor (VIF), serta menganalisis matrik korelasi variabel-variabel independen.

1. Nilai tolerance adalah besarnya tingkat kesalahan yang dibenarkan secara statistic.

2. Nilai variance inflation factor (VIF) adalah faktor inflasi penyimpangan baku kuadrat.

Tolerance mengukur variabilitas variabel independent yang terpilih yang

tidak dijelaskan variabel independen lainnya. Besarnya tingkat multikolinearitas yang masih dapat ditolerir, yaitu: Tolerance > 0.10, dan nilai Variance Inflation Factor (VIF) < 5. Dengan menggunakan SPSS versi 18, hasil pengolahan yang

diperoleh melalui kuisioner dapat dilihat pada tabel 5.15 berikut ini:

Tabel 4.15

Sumber : Hasil Penelitian 2015 (data diolah)

Berdasarkan pada tabel diatas, dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi gejala multikolonearitas antara variabel independen yang diindikasikan dari nilai tolerance setiap variabel lebih besar dari 0,1. Nilai tolerance variabel independen

X1 adalah 0,757, X2 adalah 0,771, variabel X3 adalah 0,618 dan variabel X4

adalah 0,772. Nilai VIF dari keempat variabel independen juga lebih kecil dari 5.

Berdasarkan hasil uji korelasi diantara variabel independen dapat dilihat bahwa korelasi antara variabel tersebut relatif tidak tinggi. Korelasi antara

variabel dibawah 0,6. Hal ini menunjukkan tidak terjadi masalah multikolonearitas. Maka dapat disimpulkan bahwa analisis lebih lanjut dapat dilakukan dengan menggunakan model regresi berganda. Hasil pengujian korelasi dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 5.16.

Tabel Korelasi antar Variabel Independen

Coefficient Correlationsa

Model X4 X1 X2 X3

1 Correlations X4 1,000 -,091 -,225 -,252

X1 -,091 1,000 -,022 -,395

X2 -,225 -,022 1,000 -,292

X3 -,252 -,395 -,292 1,000

Covariances X4 ,037 -,003 -,009 -,011

X1 -,003 ,025 -,001 -,015

X2 -,009 -,001 ,042 -,014

X3 -,011 -,015 -,014 ,055

Sumber : Hasil Penelitian 2015 (data diolah) 3. Uji Heterokedastisitas

Uji heterokedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual suatu pengamatan ke pengamatan lainnya. Jika variance residual yang tidak random terhadap variabel bebas atau nilai variabel terikat atau jika varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain berbeda disebut heteroskedasitas. Jika varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lainnya tetap, maka disebut homokedastisitas. Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heterokedastisitas. Untuk menguji heterokedastisitas dalam penelitian ini digunakan dengan uji gletser dan grafik Scatterplot.

Uji Gletser

Hasil uji gletser dapat dilihat pada tabel 5.17 diperoleh bahwa tidak ada satu pun variabel independen yang signifikan secara statistik mempengaruhi nilai variabel dependen, yang dapat dilihat dari nilai Absolut residual (AbsUt). Hal ini terlihat dari probabilitas signifikansi diatas tingkat kepercayaan 0.05, yaitu 0,609 untuk perencanaan dan penganggaran alokasi dana desa, 0,870 untuk variable mekanisme pencairan dan penyaluran, 0,847 untuk mekanisme mekanisme pelaksanaan kegiatan, dan untuk variable pelaporan dan pertanggungjawaban sebesar 0,666. Jadi, secara statistik model regresi tidak mengandung adanya heterokedastisitas.

Sumber : Hasil Penelitian 2015 (data diolah ) Grafik Scatteplot

Pengujian ada tidaknya heteroskedasitas dalam Scatterplot adalah dengan cara melihat grafik plot antara nilai prediksi variabel terikat (ZPRED) dengan residualnya (SPRED). Dasar pengambilan keputusannya adalah:

1. Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas,

2. Jika tidak ada pola yang jelas, seperti titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas atau terjadi homoskedastisitas.

Berikut ini dilampirkan grafik scatterplot untuk menganalisis apakah terjadi heteroskedastisitas atau terjadi homoskedastisitas dengan mengamati penyebaran titik-titik pada gambar.

Sumber : Hasil Penelitian 2015 (data diolah) Gambar 5.3 Grafik Scatterplot

Dari grafik scatterplot terlihat bahwa titik-titik menyebar secara acak dan tidak membentuk suatu pola tertentu serta tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi, sehingga model regresi layak dipakai untuk memprediksi peningkatan ekonomi masyarakat berdasarkan masukan

variabel independen perencanaan dan penganggaran alokasi dana desa, mekanisme pencairan dan penyaluran, mekanisme pelaksanaan kegiatan, dan pelaporan dan pertanggungjawaban. Adanya titik-titik yang menyebar menjauh dari titik-titik yang lain dikarenakan adanya data observasi yang sangat berbeda dengan data observasi yang lain.

Dalam dokumen SEKOLAH PASCASARJANA (Halaman 94-102)

Dokumen terkait