DAFTAR PUSTAKA
3.4 Analisis Data .1 Peta kendali p
Pengendalian kualitas ikan tenggiri di PPI Karangsong dianalisis dengan menggunakan peta kendali p. Peta kendali p digunakan untuk menghitung jumlah proporsi cacat dalam suatu proses. Sistem pengendalian dengan menggunakan peta kendali yaitu untuk mengetahui apakah suatu produk masih dalam batas kendali atau telah berada diluar batas kendali, sehingga memerlukan perbaikan-perbaikan yang sesuai dengan tipe cacat pada ikan. Keseluruhan tipe cacat akan dinyatakan dalam persentase. Ikan dikatakan cacat apabila nilai dari pengamatan organoleptiknya kurang dari 6. Standar ikan yang baik adalah warna ikan yang cemerlang, tubuh ikan kenyal, insang ikan berwarna merah. Tujuan pembuatan peta kendali adalah untuk menetapkan apakah setiap titik berada normal atau tidak normal pada sebuah grafik (Ishikawa,1989).
Menurut Nasution (2004), garis batas kendali atas (BKA) dan batas kendali bawah (BKB) dapat ditentukan besarnya dan letaknya dengan menggunakan teknik pengawasan kualitas diagram kontrol proporsi p untuk mengukur atribut. Jika diinginkan probabilitas produk dalam kontrol sebesar 99,73% misalnya, maka besarnya garis sentral (p) adalah sebagai berikut:
p =
BKA = p + 3
BKB = p – 3 Dimana: q = 1 – p
3.4.2 Pareto
Diagram pareto digunakan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi tipe-tipe yang tak sesuai. Diagram ini digunakan untuk menggambarkan tingkat kepentingan relatif antara berbagai faktor. Melalui diagram ini dapat diketahui faktor dominan. Masalah yang paling banyak terjadi ditunjukkan oleh grafik batang pertama yang tertinggi serta ditempatkan pada sisi paling kiri, dan seterusnya sampai masalah yang paling sedikit terjadi ditunjukkan oleh grafik batang terakhir yang terendah. Fungsi diagram ini untuk memusatkan perhatian nelayan pada faktor-faktor dominan penyebab mundurnya kualitas ikan, sehingga dapat melakukan perbaikan proses penanganan. Diagram pareto dapat digunakan sebagi alat interpretasi untuk:
1) Untuk menghitung persentase frekuensi untuk setiap kategori dan frekuensi kumulatif;
2) Memfokuskan perhatian pada berita kritis dan penting melalui pembuatan rangking terhadap masalah-masalah atau penyebab dalam bentuk yang signifikan;
3) Menentukan frekuensi relatif dan urutan penting masalah-masalah atau penyebab-penyebab dari masalah yang ada.
Menurut Crocker et al (2007) proses pembuatan diagram pareto dapat diuraikan sebagai berikut:
1) Penyebab yang mungkin suatu persoalan dicari menggunakan diagram tulang ikan;
2) Informasi untuk persoalan tertentu dikumpulkan dengan penyebab yang terlihat;
3) Beri nama sumbu X dan Y. Biasanya jumlah, persentase ditempatkan pada sumbu Y, kategori penyebab atau gejala ditempatkan pada sumbu X;
4) Penyebab atau gejala yang mempunyai frekuensi terbesar digambar pertama. 5) Proses ini terus dilakukan sampai semua penyebab digambarkan pada grafik
batang;
6) Frekuensi kumulatif ditentukan dengan menggunakan penyebab dalam urutan yang terdapat pada grafik dan garis yang menunjukkan ini dibuat.
Gambar 2 Ilustrasi diagram pareto
3.4.3 Diagram tulang ikan (fishbone)
Diagram tulang ikan atau fishbone diagram adalah salah satu metode di dalam meningkatkan kualitas. Sering juga diagram ini disebut dengan cause effect diagram. Diagram sebab-akibat dapat digunakan untuk mengetahui sebab dan akibat dalam bentuk yang nyata, dimana sebab=faktor, dan akibat= karakteristik mutu (Ishikawa 1989). Diagram sebab-akibat digunakan dipergunakan untuk menemukan penyebab timbulnya persoalan serta apa akibatnya. Diagram sebab-akibat digunakan untuk menemukan penyebab timbulnya persoalan serta apa akibatnya.
Gambar 3 Diagram fishbone Cabang
Ranting
……… ………..
4.1 Keadaan Umum Kabupaten Indramayu
Kabupaten Indramayu secara geografis berada pada 107°52'-108°36' BT dan 6°15'-6°40' LS. Berdasarkan topografinya sebagian besar merupakan dataran atau daerah landai dengan kemiringan tanahnya rata-rata 0–2. Batas administratif Kabupaten Indramayu adalah:
1) Sebelah Utara, berbatasan dengan Laut Jawa;
2) Sebelah Selatan, berbatasan dengan Kabupaten Majalengka, Sumedang dan Cirebon;
3) Sebelah Barat, berbatasan dengan Kabupaten Subang;
4) Sebelah Timur, berbatasan dengan Laut Jawa dan Kabupaten Cirebon.
Luas total Kabupaten Indramayu yang tercatat seluas 204.011 Ha. Luas ini terbagi menjadi 31 kecamatan dan 310 desa, dari kecamatan yang ada terdapat 11 kecamatan yang merupakan pesisir, yaitu Kecamatan Krangkeng, Karangampel, Juntinyuat, Balongan, Indramayu, Sindang, Cantigi, Arahan, Losarang, Kandanghaur, dan Sukra. Luas seluruh kecamatan pesisir Kabupaten Indramayu adalah 68.703 km2 atau 35% luas kabupaten dengan garis pantai 114,1 km dan 37 desa pesisir.
4.2 Kondisi Umum PPI Karangsong
Secara geografis Kawasan PPI Karangsong terletak pada koordinat 06°18'45" dan 06°19'45" LS dan 108° 21'30" BB dan 108° 22'30" BT. Kawasan PPI Karangsong berada di Desa Karangsong Kecamatan Indramayu, yang berjarak kurang lebih 4,5 km dari pusat ibu kota Kabupaten Indramayu. Lokasi PPI Karangsong berada di sekitar pesisir Laut Jawa yang letaknya berada di bagian dalam dari bibir pantai. Keberadaan PPI Karangsong tidak lepas dari adanya peranan Sungai Prajagumiwang yang berfungsi sebagai alur pelayaran keluar masuk kapal atau perahu ke pelabuhan. Kondisi PPI Karangsong saat ini masih menjalankan peranannya sebagai tempat pelelangan ikan. Kondisi TPI saat penelitian sangat membutuhkan perbaikan dari pihak pelabuhan karena TPI kurang luas untuk melakukan aktivitas pelelangan dan untuk menampung hasil tangkapan. Hasil wawancara dengan nelayan, PPI Karangsong akan menjadi
pelabuhan nusantara karena ukuran kapal dan banyaknya hasil tangkapan menjadi salah satu faktor utamanya. Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Karangsong memiliki tempat pembuatan kapal dan perbaikan kapal. Pembuatan kapal di PPI Karangsong sebagian besar berukuran lebih dari 20 GT yang dilengkapi dengan freezer, tetapi masih didominasi kapal yang masih menggunakan es curah sebagai pengawet hasil tangkapan.
4.2.1 Demografi desa
Desa Karangsong terletak di Kabupaten Indramayu Propinsi Jawa Barat. Batas desa wilayah Karangsong adalah sebagai berikut:
Sebelah Utara : Desa Pabean Udik Sebelah Selatan : Desa Tambak Sebelah Timur : Laut Jawa
Sebelah Barat : Kelurahan Paoman
Desa Karangsong merupakan desa dengan tipologi desa pesisir atau pantai dengan wilayah yang langsung berbatasan dengan Laut Jawa. Desa Karangsong merupakan desa pantai atau pesisir yang letaknya berada di daratan rendah dengan ketinggian 0,5 meter sampai 2,0 meter di atas permukaan laut dengan curah hujan 2000 mm/tahun, dan bersuhu udara rata-rata 27°C.
4.2.2Kependudukan
Penduduk yang menetap di Desa Karangsong sebagian besar adalah penduduk asli. Jumlah penduduk Desa Karangsong sekitar 4.510 jiwa, dengan komposisi laki – laki 2.261 jiwa dan perempuan 2.249 jiwa. Tabel 3 menyajikan data luas wilayah, jumlah penduduk dan kepadatan penduduk.
Tabel 3 Luas wilayah, jumlah penduduk dan kepadatan penduduk Desa Karangsong
No Uraian Jumlah
1 Luas wilayah (km²) 3,91 km²
2 Jumlah penduduk (jiwa) 4.510 jiwa
a. Laki-laki 2.261 jiwa
b. Perempuan 2.249 jiwa
3 Jumlah kepala keluarga (KK) 1.080 KK
4 Kepadatan 1.153 per km²
4.2.3 Mata pencaharian masyarakat Desa Karangsong
Mata pencaharian masyarakat Desa Karangsong cukup bervariasi, sehingga memiliki kegiatan yang berbeda-beda dalam kehidupan sehari-harinya. Informasi lengkap terkait jenis mata pencaharian masyarakat di Desa Karangsong dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4 Jenis-jenis mata pencaharian masyarakat Desa Karangsong
No Jenis Pekerjaan Jumlah (orang) presentase (%)
1 Nelayan 769 53 2 Petani 89 6,08 3 Buruh tani 269 18,36 4 Jasa 32 2,18 5 Pertukangan 41 2,8 6 Wiraswasta/Pedagang 144 9,84
7 Pegawai Negeri Sipil 60 4,1
8 Swasta 25 1,7
9 ABRI 2 0,01
10 Pensiunan 5 0,03
Jumlah 100
Sumber: Buku potensi desa karangsong tahun 2007
Penduduk Desa Karangsong yang bergerak dibidang perikanan dan kelautan pada tahun 2008 tercatat 71.646 orang yang terdiri dari nelayan, pembudidaya air payau, pembudidaya kolam air tawar, pedagang dan pengolah hasil perikanan dan kelautan. Tingkat pendidikan pembudidaya ikan memiliki tingkat pendidikan SD (68,86%), SLTP (14,83%), SLTA (14,64%) dan perguruan tinggi (1,67%) sedangkan tingkat pendidikan nelayan (perikanan tangkap) memiliki tingkat pendidikan SD (61,98%), SLTP (26,91%), SLTA (11,03%) dan perguruan tinggi (0,08%). Kegigihan dan pengalaman dalam berusaha sudah tidak diragukan lagi, sebagai contoh nelayan mampu melaut sampai perairan diluar Kabupaten Indramayu. Produksi yang dihasilkan memberikan kontribusi lebih dari 51% terhadap total produksi tangkapan ikan di Jawa Barat.
Mata pencaharian penduduk Karangsong yang dominan adalah sebagai nelayan, hampir seluruh penduduk Desa Karangsong bekerja dibidang perikanan dan kelautan. Hal ini dapat disimpulkan bahwa pendapatan utama penduduk Karangsong berasal dari kegiatan melaut. Hasil laut memberikan kesejahteraan untuk nelayan Karangsong. Kegiatan yang dilakukan oleh istri nelayan yaitu
membantu penyortiran ikan berdasarkan ukuran, spesies, jenis dan mutu ikan di pelabuhan. Upah yang didapat oleh istri nelayan yaitu berupa ikan hasil tangkapan oleh kapal tempat dia bekerja sekitar 3-5 ekor per orang.
4.2.4 Kondisi sosial ekonomi
Kondisi sosial ekonomi masyarakat di Desa Karangsong sebagian besar bekerja pada sektor perikanan (perikanan tangkap, perikanan budidaya, pengelolaan ikan) yaitu 53%. Kegiatan perikanan tangkap mendapat perhatian pemerintah dengan dibangunnya pelabuhan perikanan seperti PPI Karangsong. Merosotnya populasi ikan di pesisir merupakan salah satu masalah yang dihadapi oleh nelayan sedangkan petani tambak menghadapi persoalan belum adanya irigasi tambak yang memadai dan belum adanya upaya pencegahan kualitas air tambak.
Jumlah nelayan di Kecamatan Indramayu sebesar 6.080 jiwa (885 pemilik dan 5.195 buruh nelayan). Produksi ikan segar pada tahun 2008 di Kecamatan Indramayu mencapai 49.937,6 ton ikan segar. Nelayan di Kecamatan Indramayu terbagi dalam 2 golongan yaitu nelayan perahu kecil (<8 GT) dan nelayan kapal besar (>20 GT). Penangkapan ikan dengan perahu kecil menghadapi kelangkaan ikan, hasil jauh dari memadai (over fishing) karena merosotnya kondisi lingkungan dan perairan di pesisir Indramayu. Penangkapan ikan dengan menggunakan kapal besar umumnya mempunyai modal utama keahlian sebagai pelaut serta menggunakan peralatan yang memadai dan menggunakan teknologi seperti GPS, Informasi Daerah Penangkapan Ikan (IDPI). Permasalahan yang dihadapi para nelayan antara lain sulitnya modal (membangun kapal, membeli mesin, membuat peralatan penangkapan ikan).
4.2.5 Kondisi lingkungan dan geofisik
Wilayah pesisir adalah daerah pertemuan antara laut dan darat. Wilayah pesisir meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut dan perembesan air asin. Wilayah pesisir mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran.
Desa Karangsong memiliki tipologi desa pesisir atau pantai dengan wilayah yang langsung berbatasan dengan Laut Jawa. Desa pantai letaknya berada di dataran rendah dengan ketinggian 0,5 meter sampai 1,0 meter di atas permukaan laut, dengan curah hujan rata-rata 2.000 mm/tahun dan bersuhu udara rata-rata 27°C. Penggunaan lahan Desa Karangsong memiliki luas sekitar 391,45 hektar dengan penggunaan lahan seperti pada Tabel 5.
Tabel 5 Penggunaan lahan desa Karangsong Kecamatan Indramayu
No Penggunaan Luas (ha)
1 Sertifikasi hak milik 158,18
2 Tanah Kas Desa
a. Tanah bengkok 16,66 b. Tanah titirasa 1,84 3 Jalan 0,03 4 Empang/Pertambakan 204,07 5 Permukiman/Perumahan 7,87 6 Perkantoran 0,02 7 Perkuburan 0,03
8 Sawah Irigasi tadah hujan 2,75
Jumlah 391,45
Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Indramayu
4.3 Keadaan Perikanan Tangkap PPI Karangsong
Kabupaten Indramayu memiliki sumberdaya yang cukup beragam. Sumberdaya digunakan sebagai modal dalam pembangunan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. PPI Karangsong merupakan pusat perekonomian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari para nelayan. Alat penangkapan yang ada PPI Karangsong didominasi alat tangkap gillnet millenium. Pada tahun 2008-2009 jumlah armada penangkapan untuk alat tangkap khusus gillnet mencapai 1.038 unit dengan ukuran kapal 10 GT–30 GT. Armada penangkapan di PPI Karangsong terdiri dari dua jenis yaitu kapal motor dan motor tempel. Armada penangkapan yang berukuran 29 GT-30 GT biasanya sudah dilengkapi dengan freezer untuk menjaga kesegaran dan kualitas ikan, hal ini dikarenakan lama operasi penangkapan yang berkisar 30 – 45 hari. Kapal yang berukuran kurang dari 20 GT masih menggunakan es curah. Jumlah armada penangkapan di PPI Karangsong dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6 Jumlah armada penangkapan di PPI Karangsong 2008-2009
Armada penangkapan (unit)
Kapal Motor Motor Tempel Perahu
Tanpa Motor Jumlah total 0-10 GT 11-30 GT > 30 GT 0-10 GT 11-30 GT > 30 GT - - 64 63 120 - - 247 - - 11 14 19 - - 44 - - 24 231 11 - - 266 - - 2 477 2 - - 481
Sumber : KPL Mina Sumitra
Nelayan di PPI Karangsong yang terdaftar sebagai anggota KPL Mina Sumitra pada tahun 2009 berjumlah 6.145 orang. Mereka melakukan aktivitas penangkapan, buruh pelabuhan dan aktivitas lainnya di PPI Karangsong. Secara umum, nelayan tersebut dibagi dua jenis yaitu atas dua jenis yaitu nelayan pemilik yaitu rumah tangga perikanan (RTP) dan nelayan buruh yaitu rumah tangga buruh perikanan (RTBP). Nelayan buruh yaitu orang yang secara langsung melakukan penangkapan ikan atau sering disebut dengan ABK, sedangkan untuk nelayan pemilik yaitu orang yang memiliki armada penangkapan dan membiayai seluruh biaya operasional penangkapan ikan serta membiayai perbaikan terhadap semua alat tangkap dan armada penangkapan.
Jumlah nelayan dalam satu armada penangkapan ikan di PPI Karangsong terdiri dari sepuluh sampai tiga belas orang dengan satu nahkoda kapal. Tugas dari nahkoda yaitu mengemudikan kapal, sedangkan ABK bertugas untuk melakukan setting dan hauling. Nelayan PPI Karangsong melakukan operasi penangkapan ikan di Lautan Natuna dan Kalimantan. Lama melaut nelayan PPI Karangsong yaitu 30 sampai 45 hari termasuk perjalanan melaut dan pulang untuk mendaratkan hasil tangkapan. Tabel 7 menjelaskan jumlah nelayan yang bekerja sebagai nelayan di PPI Karangsong berasal dari Desa Paoman, Margadadi, Karangsong dan Pabean Udik. Nelayan tersebut mendaratkan hasil tangkapan di TPI Karangsong yang diselanggarakan oleh KPL Mina Sumitra.
Tabel 7 Jumlah nelayan PPI Karangsong tahun 2009 Kecamatan Desa nelayan Pusat pendaratan ikan Penyelenggara pelelangan ikan Jumlah nelayan RTP (Orang) RTBP (Orang) Jumlah total Indramayu Paoman 157 2.240 2.397 Margadadi TPI Karangsong KPL Mina Sumitra 29 139 168 Karangsong 209 2.094 2.303 Pabean udik 411 866 1.277
Sumber : KPL Mina Sumitra
Data yang diperoleh dari KPL Mina Sumitra pada tahun 2009 khusus PPI Karangsong alat tangkap yang dioperasikan hanya dua yaitu gillnet dan pancing. Jumlah alat tangkap gillnet mencapai 1.031 unit sedangkan untuk alat tangkap pancing hanya mencapai 43 unit. Alat tangkap gillnet millenium dominan menangkap ikan tenggiri dan tongkol. Volume produksi hasil tangkapan yang didaratkan di PPI Karangsong mengalami peningkatan setiap tahunnya hal ini dapat dilihat pada Tabel 8, dimana data produksi lelang dan nilai produksi dihimpun dari data tahun 2006 sampai data 2011.
Tabel 8 Volume dan nilai produksi lelang tangkapan di PPI Karangsong
Tahun Produksi (ton) Nilai produksi (juta)
2006 7.103,515 14.025,361
2007 6.623,125 13.741,963
2008 12.568,814 23.992,164
2009 11.523,760 22.651,247
2010 13.884,757 31.237,184
Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan, Indramayu
Berdasarkan Tabel 8, nilai produksi tahun 2008 meningkat secara pesat dari nilai produksi tahun sebelumnya. Tahun 2007 produksi sebesar 6.623,125 ton sedangkan tahun 2008 meningkat menjadi 12.568,814 ton, kenaikan produksi hasil tangkapan yang didaratkan di PPI Karangsong mencapai 100% lebih, tetapi untuk tahun selanjutnya hanya mengalami sedikit peningkatan. Peningkatan atau penurunan hasil produksi tidak bisa dipastikan meningkat atau menurun setiap tahunnya hal tergantung dari teknologi, alat tangkap, daerah penangkapan ikan yang optimal atau cuaca yang bagus untuk melakukan operasi penangkapan ikan.
Seiring meningkatnya produksi hasil tangkapan maka nilai produksi juga meningkat selama 5 tahun terakhir.
Khusus untuk produksi ikan tenggiri pada tahun 2011, PPI Karangsong menghasilkan volume produksi sebesar 2.604,84 ton dengan nilai Rp 68.893,44 juta. Volume produksi tenggiri yang terbesar terjadi pada bulan Agustus yaitu sekitar 287,847 ton dengan nilai produksi Rp 7.105,45 juta sedangkan untuk produksi ikan tenggiri terkecil terjadi pada bulan September yaitu sekitar 116,02 ton dengan nilai sebesar Rp 4.104,88 juta (Tabel 9).
Tabel 9 Volume dan nilai hasil tangkapan ikan tenggiri di PPI Karangsong tahun 2011
Bulan Produksi/bulan (kg)
Volume (ton) Nilai (juta)
Januari 178,96 5.014,69 Februari 155,63 4.357,65 Maret 278,20 6.584,07 April 248,37 5.883,55 Mei 180,06 4.261,57 Juni 210,80 6.049,68 Juli 272,90 7.823,16 Agustus 287,84 7.105,45 September 116,02 4.104,88 Oktober 239,52 6.629,44 Nopember 214,30 4.783,49 Desember 222,20 6.295,78 Jumlah 2.604,84 68.893,44
Sumber: KPL Mina Sumitra, 2011
4.4 Unit penangkapan ikan
1) Alat tangkap
Alat tangkap yang digunakan oleh nelayan Karangsong untuk menangkap ikan tenggiri yaitu jaring millenium yang merupakan hasil modifikasi dari jaring insang (gillnet). Martasuganda (2008) menyebutkan jaring insang adalah salah satu jenis alat tangkap dari bahan monofilamen yang dibentuk menjadi empat persegi panjang, pada bagian atas dilengkapi beberapa pelampung dan pada bagian bawah dilengkapi pemberat. Jaring insang yang digunakan oleh nelayan Karangsong yaitu jaring insang hanyut dengan rata-rata ukuran panjang alat tangkap sampai 6 mil. Alat tangkap jaring insang atau gillnet millennium yang
dioperasikan di PPI Karangsong adalah jenis gillnet yang dioperasikan dengan cara dihanyutkan atau jaring insang hanyut. Jaring hanyut (Martasuganda, 2008) adalah jaring insang yang dioperasikan dengan cara dihanyutkan di permukaan perairan, kolom perairan atau dihanyutkan di dasar perairan. Alat tangkap gillnet di PPI Karangsong berbahan polyamide monofilament berwarna putih transparan, bagian umum dari gillnet millenium yaitu pelampung, badan jaring dan pemberat. Rahmdan (2008) menyebutkan badan jaring merupakan bagian yang berfungsi untuk menghadang ikan ikan secara vertikal.
2) Kapal
Kapal yang digunakan oleh nelayan Karangsong untuk melakukan operasi penangkapan ikan terdiri dari perahu motor tempel yang berukuran 5 GT, kapal motor dengan ukuran 15 GT, dan kapal motor 30 GT. Ukuran kapal 30 GT biasanya melakukan penangkapan ikan di perairan Kalimantan, Laut Natuna, perairan Sumatera dan perairan sekitar Laut Jawa. Alat bantu yang digunakan pada kapal gillnet yaitu gardan yang berfungsi proses penarikan jaring. Kapal yang digunakan untuk menangkap ikan tenggiri yaitu kapal-kapal besar yang berukuran sekitar 29 GT hal ini karena daerah operasi penangkapan ikan tenggiri yang cukup jauh dan memerlukan waktu melaut yang cukup lama.
3) Nelayan
Nelayan di PPI Karangsong terdiri dari nelayan pemilik dan nelayan buruh. Nelayan pemilik dikenal dengan istilah rumah tangga perikanan (RTP), sedangkan untuk nelayan buruh dikenal dengan istilah rumah tangga buruh perikanan (RTBP). Nelayan pemilik (juragan atau RTP) yaitu nelayan yang memiliki armada penangkapan dan membiayai seluruh kebutuhan melaut dan perbaikan kapal, sedangkan nelayan buruh (RTBP) yaitu nelayan yang berhubungan langsung dengan operasi penangkapan ikan. Selain itu ada juga nelayan sambilan yang didominasi ibu-ibu nelayan yang membantu pembongkaran ikan yang bertugas untuk menyortir ikan berdasarkan jenis, mutu dan ukurannya di pelabuhan atau di tempat pendaratan ikan.
5 HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Gambaran Umum mengenai Hasil Tangkapan yang di Daratkan di PPI Karangsong
Hasil tangkapan yang didaratkan di PPI Karangsong adalah ikan pelagis besar dan ikan pelagis kecil. Hasil tangkapan merupakan hasil dari perikanan laut. Hasil tangkapan yang paling banyak di daratkan yaitu tongkol, tenggiri, remang, kakap merah dan cucut. Hasil tangkapan didaratkan pagi hari untuk disortir dan dilelang. Sebelum melakukan pelelangan ikan, nelayan melakukan pembongkaran ikan dari palka untuk diseleksi berdasarkan jenis, ukuran dan kesegaran ikan. Aktivitas lelang terjadi setiap hari di PPI Karangsong karena hasil tangkapan yang di daratkan di TPI berlimpah dan beranekaragam.
Pendapatan tertinggi nelayan PPI Karangsong berasal dari hasil laut. Data yang diperoleh menunjukkan peningkatan nilai jual terhadap hasil tangkapan setiap tahunnya. Hasil perikanan yang berasal dari laut mengalami peningkatan 17,51% sedangkan untuk perikanan tambak meningkat 21,20%, kolam meningkat sebesar 23,13% (Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu, 2008). Sumber hasil tangkapan ikan laut tercatat di KPL Mina Sumitra melalui TPI PPI Karangsong.
Menurut Omat (2008), data dan informasi hasil produksi yang diperoleh dari KPL Mina Sumitra yang didaratkan di PPI Karangsong didominasi oleh ikan jenis tongkol. Pemasaran hasil produksinya berupa jenis ikan segar maupun ikan olahan yang dipasarkan oleh bakul ikan ke beberapa wilayah, yaitu 20% untuk wilayah Indramayu dan sekitarnya dan 80% untuk wilayah Jakarta, Bandung, Subang, Cirebon, Kuningan dan Majalengka.
5.2 Gambaran Umum Ikan Tenggiri di PPI Karangsong
Ikan tenggiri adalah ikan pelagis yang ditangkap menggunakan alat tangkap gillnet. Nelayan PPI Karangsong menyebutnya dengan istilah gillnet millenium. Tenggiri merupakan salah satu komoditas penting di PPI Karangsong, hal ini dapat dilihat dengan melimpahnya jumlah hasil tangkapan yang dilelang di TPI Karangsong. Ikan tenggiri dibeli oleh bakul yang berasal dari Jakarta. Ikan tersebut dijual lagi ke Pelabuhan Muara Angke Jakarta untuk didistribusikan ke
perusahaan-perusahaan ekspor ataupun ke restoran yang membutuhkan ikan tenggiri. Ikan tenggiri merupakan ikan yang memiliki nilai produksi yang tinggi dan relatif stabil di PPI Karangsong. Total produksi ikan tenggiri di PPI Karangsong dapat dilihat pada Tabel 10 yang dihimpun dari data tahun 2007 sampai tahun 2011.
Tabel 10 Total produksi ikan tenggiri yang didaratkan di PPI Karangsong dari tahun 2007-2011
Tahun Produksi (ton) Nilai Produksi (juta)
2007 926,80 15.981,18
2008 1.309,79 29.630,72
2009 1.305,52 34.121,41
2010 2.134,84 46.258,33
2011 2.604,84 68.893,44
Nilai produksi dan produksi ikan tenggiri selama lima tahun terakhir dari tahun 2007-2011 di PPI Karangsong mengalami peningkatan setiap tahun. Jumlah produksi tahun 2007 sekitar 926.80 kg merupakan produksi yang terendah selama lima tahun, sedangkan nilai produksi dan produksi tertinggi dari data lima tahun terjadi pada tahun 2011. Nilai produksi mencapai Rp 68.893,44 juta, sedangkan untuk produksinya pada tahun 2011 mencapai 2.604,84 ton (Tabel 10). Kondisi perikanan ini patut dan layak untuk ditingkatkan, dengan tujuan kesejahteraan nelayan Karangsong dan untuk pembangunan daerah Karangsong umumnya.
Peningkatan produksi ikan tenggiri yang di daratkan di PPI Karangsong disebabkan oleh daerah penangkapan dengan keberadaan sumberdaya yang melimpah, arus dan gelombang sesuai dengan lingkungan hidup ikan tenggiri atau teknologi yang digunakan untuk menangkap ikan tenggiri.
Produk perikanan merupakan produk yang cepat busuk, sehingga sangat dibutuhkan penanganan yang cepat untuk menjaga kesegaran ikan karena kesegaran merupakan faktor penentu untuk harga ikan. Menurut Nasution (2004), kualitas suatu produk merupakan salah satu daya saing produk selain biaya produksi. Harga ikan ditentukan oleh tingkat kesegaran ikan. Harga ikan tenggiri saat melakukan penelitian sekitar Rp 37000/kg - Rp 40000/kg. Harga ikan tergantung pada mutu ikan, semakin bagus mutu ikan maka nilai jual ikan akan semakin tinggi, karena mutu merupakan orientasi konsumen.
Ikan segar dihasilkan melalui penanganan ikan yang baik. Penanganan ikan