BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Analisis Data Siklus I dan II
Analisis data yang dilakukan dengan membandingkan hasil tes pemahaman sifat-sifat operasi hitung bilangan, lembar observasi aktivitas belajar siswa dan guru saat pembelajaran matematikan siklus I dan II, serta lembar wawancara guru dan siswa. Berikut ini merupakan analisis data interpretasinya:
1. Tes Pemahaman Sifat-Sifat Operasi Hitung Bilangan
Tes pemahaman sifat-sifat operasi hitung bilangan dilaksanakan pada setiap akhir siklusnya. Hasil tes siklus I dan II (rincian perhitungan terlampir pada lampiran 6.7,h. 286 dan 6.8, h. 289) dapat disajikan pada tabel berikut:
Tabel 4.12
Rekapitulasi Hasil Tes Pemahaman Sifat-sifat Operasi Hitung Bilangan Siklus I dan II
No. Statistik Nilai
Siklus I Siklus II
2 100 100 3 46 45 4 Mean 74,49 79,88 5 Median 77,86 78,21 6 Modus 82,59 95,17 7 Simpangan Baku 13,85 13,25
Secara visual histogram hasil perbandingan tes pemahaman sifat-sifat operasi hitung bilangan pada siklus I dan II disajikan sebagai berikut:
Diagram 4.5
Peningkatan Persentase Skor Pemahaman Sifat-Sifat Operasi Hitung Bilangan Siklus I dan II
Berdasarkan hasil data diagram 4.5 diketahui bahwa terjadi peningkatan nilai rata-rata pemahaman sifat-sifat operasi hitung bilangan dari siklusI ke siklus II, yaitu dari 74,49 meningkat menjadi 79,88. Pada tes siklus I hanya ada 25 siswa (60,98%) yang mencapai KKM (70), dan pada siklus II yang mencapai KKM sebanyak 31 siswa (75,61%). Jika dibandingkan dengan pada saat sebelum penelitian yang mencapai KKM paling banyak hanya ada 22 siswa (53,49%). Dengan demikian maka dapat dipahami bahwa penerapan metode penemuan
74.49
79.88
Siklus I Siklus II
Perbandingan Tes Akhir Siklus I dan
II
terbimbing dapat dikatakan berhasil menigkatkan kemampuan pemahaman sifat-sifat operasi hitung bilangan matematika siswa kelas IV SDN Pesanggrahan 01 Pagi.
Pada siklus I siswa yang memperoleh nilai < 60 sebanyak 8 siswa. Sedangkan pada siklus II, siswa yang memperoleh nilai < 60 berkurang menjadi hanya 2 siswa, yaitu S23 dan S28. Ini menunjukkan kemampuan pemahaman sifat-sifat operasi hitung bilangan siswa semakin baik.
Siswa yang termasuk kategori rendah dalam kemampuan pemahaman sifat-sifat operasi hitung bilangan adalah S38 dan S23 di mana keduanya tidak pernah mencapai nilai 60. Berdasarkan pengamatan terhadap absensi dan wawancara terhadap guru diketahui bahwa S23 memang kurang dalam pelajaran matematika, juga tidak hadir karena izin selama pembelajaran dan saat tes akhir siklus I, sedangkan pada siklus II ia hanya masuk 2 kali pertemuan pembelajaran untuk kemudian mengikuti tes akhir siklus. II. Adapun S38 menurut keterangan dari pihak guru diketahui bahwa ia memang kurang minat dengan pelajaran matematika sejak awal. Selain itu terdapat juga siswa yang tidak pernah hadir selama pembelajaran dan tes siklus I dan II sehingga peneliti tidak dapat mengetahui perkembangan tingkat pemahaman matematikanya, yaitu S20.
Selain terdapat siswa yang cukup rendah dalam pemahaman sifat-sifat operasi hitung bilangan matematika, terdapat pula siswa yang memiliki rata-rata
nilai ≥ 80 dengan kategori kemampuan pemahaman yang sangat baik sebanyak 19 siswa, yaitu S2, S3, S5, S9, S11, S13, S16, S19, S21, S22, S25, S27, S29, S32, S33, S37, S39, S41, dan S43. Rata-rata tertinggi sebesar 100 diperoleh S33 dan S16. Secara rinci, perolehan skor pada tiap-tiap dimensi pemahaman sifat-sifat operasi hitung bilangan siswa terdiri dari translasi, interpretasi dan ekstrapolasi terlampir pada lampiran 6.2, h. 280 dan 6.3, h. 281. Adapun ringkasannya sebagai berikut:
Tabel 4.13
Persentase Ketuntasan Tiap Dimensi Pamahaman Sifat-sifat Operasi Hitung Bilangan Siswa
No Dimensi Pemahaman Persentase ketuntasan Siklus I (%) Siklus II (%)
1. Translasi 89,63 93,29
2. Interpretasi 81,40 84,76
3. Ekstrapolasi 52,44 61,59
Rata-rata Pemahaman 74,49 79,88
Berdasarkan tabel 4.13 dapat disimpulkan bahwa persentase ketuntasan tiap-tiap dimensi pemahaman sifat-sifat operasi hitung bilangan matematika siswapada pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing yang dilaksanakan dalam dua siklus, juga terdapat peningkatan pada keseluruhan dimensinya, yaitu dari 74,49% pada siklus I, meningkat menjadi 79,88% pada siklus II.Berikut hasil interpretasi tiap-tiap dimensi pemahaman sifat-sifat operasi hitung bilangan:
a) Pemahaman sifat-sifat operasi hitung bilangan dimensi translasi di setiap siklus menduduki perolehan skor tertinggi. Siswa terlihat mampu dalam menyelesaikan soal-soal pokok bahasan sifat komutatif pada penjumlahan, perkalian dan sifat asosiatif penjumlahan dengan mampu menerjemahkan soal matematika tersebut ke dalam perhitungan rutin sesuai ketentuan sifat operasi hitung yang telah dipelajari. Pada saat menerjemahkan dua buah soal cerita dimensi translasi ini, sebagian besar siswa sudah sangat baik, namun tetap masih ada beberapa siswa yang tidak menerapkan sifat komutatif ataupun asosiatif yang termudah dalam melakukan perhitungan, sehingga perhitungan mereka menjadi kurang efektif dan efisien. Hal inilah yang menyebabkan berkurangnya skor mereka pada soal translasi di siklus I. Pada soal tes siklus II, pemahaman sifat-sifat operasi hitung bilangan siswa untuk dimensi translasi ini menjadi lebih baik, hampir seluruh siswa mampu menerjemahkan dan menyelesaikan perhitunganya dengan efektif sesuai ketentuan sifat-sifat operasi hitung penjumlahan dan perkalian yang dipelajari selama siklus II. Hal ini terlihat dari hasil tes pemahaman sifat-sifat operasi hitung bilangan siswa pada siklus II, hampir seluruh siswa mendapatkan skor 4. Pada dimensi translasi ini mengalami peningkatan sebesar 3,66%.
b) Pemahaman sifat-sifat operasi hitung bilangan dimensi interpretasi pada siklus I dan II menempati skor tertinggi kedua. Pada dimensi interpretasi ini rata-rata persentasenya mengalami peningkatan sebesar 3,36%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian siswa sudah mengalami peningkatan pada
kemampuan pemahaman soal-soal berdimensi interpretasi yang diberikan. Siswa mampu menafsirkan soal-soal matematika yang berkaitan dengan sifat operasi hitung penjumlahan dan perkalian ke dalam gambar dengan baik, guna mempermudah mereka dalam penyelesaian soal siklus II dimensi ini. c) Pemahaman sifat-sifat operasi hitung bilangan dimensi ekstrapolasi pada
setiap siklusnya selalu menempati urutan terakhir. Walaupun demikian, pemahaman sifat-sifat operasi hitung bilangan dimensi ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibanding dimensi lainnya, yaitu sebesar 9,15%. Hal ini dikarenakan pada siklus II, peneliti selalu memberikan soal-soal latihan dimensi ekstrapolasi pada setiap pertemuannya.Selain itu peneliti juga memperbaiki proses pembelajaran di setiap siklusnya guna memperbaiki kemampuan pemahaman sifat-sifat operasi hitung bilangan dimensi ekstrapolasi yang masih berkategori cukup baik pada siklus sebelumnya.
Berdasarkan pelaksanaan pembelajaran pada penelitian tindakan kelas yang dilakukan peneliti memperoleh kebenaran informasi yang didapat bahwa soal-soal berdimensi translasi lebih dikuasai oleh siswa dibandingkan dengan soal-soal pada dimensi interpretasi ataupun ekstrapolasi. Hal ini terjadi karena secara teoritis pemahaman transalasi itu merupakan suatu pemahaman yang paling rendah tingkatannya, jika dibandingkan dengan pemahaman interpretasi dan ekstrapolasi. Secara visual hasil perbandingan persentase perolehan skor tiap dimensi pemahaman sifat-sifat operasi hitung bilangan pada siklus I dan II disajikan sebagai berikut:
Diagram 4.6
Persentase Skor Dimensi Pemahaman Sifat-sifat Operasi Hitung Bilangan Matematika Siswa
2. Lembar Observasi dan Wawancara
Observasi terhadap siswa dilakukan setiap pertemuan siklus I dan II berlangsung. Sedangkan wawancara dilakukan terhadap guru dan siswa setiap akhir siklus. Berikut merupakan hasil observasi proses pembelajaran yang dilakukan siswa pada siklus I dan II:
Tabel 4.14
Rekapitulasi Persentase Aktivitas Belajar Siswa Pada Siklus I dan II
No. Aspek yang Diamati Siklus I (%) Siklus II (%)
1. Visual Activities 83,33 83,33 2. Oral Activities 62,50 79,17 3. Drawing Activities 100 100 4. Motor Activities 75 91,67 5. Mental Activities 70,83 95,83 89.63 81.4 52.44 93.29 84.76 61.59 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Translasi Interpretasi Ekstrapolasi
6. Emotional Activities 79,17 83,33
Jumlah 470,83 533,33
Skor Rata-Rata (%) 78,47% 88,89%
Kriteria Baik Sangat Baik
Dari tabel 4.14 mengenai hasil observasi aktivitas siswa pada siklus I dan II diperoleh informasi bahwa terjadi peningkatan aktivitas belajar siswa. Hasil observasi tersebut, menunjukkan bahwa siswa mengikuti dengan baik setiap proses pembelajaran matematika dengan metode penemuan terbimbing. Dari enam aspek aktivitas tersebut ada empat aspek yang mengalami peningkatan yaitu
oral activities, motor activities, mental activities, dan emotional activities.
Sedangkan 2 aspek lainnya persentasenya tetap, yaitu visual activities,dan
drawing activities(rincian terlampir pada lampiran 7.4, h. 296 dan 7.5, h. 297). Hasil wawancara dengan guru dan siswa menghasilkan respon yang positif dari guru dan siswa. Hal ini disebabkan mereka merasakan dampak positif dari pemberian tindakan, yaitu berupa adanya peningkatan pemahaman matematika khususnya pokok bahasan sifat-sifat operasi hitung bilangan, aktivitas belajar, antusias serta semangat siswa selama proses pembelajaran dengan metode ini.
Selain hasil observasi aktivitas siswa, terdapat juga hasil observasi aktivitas kegiatan peneliti saat membimbing proses pembelajaran matematika dengan metode penemuan terbimbing, yaitu dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 4.15
Rekapitulasi Persentase Keterlaksanaan Aktivitas Mengajar Peneliti Pada Siklus I dan II
No. Aspek yang Diamati Siklus I (%) Siklus II (%) 1. Pendahuluan 80,58 94,5 2. Inti 80 91,67 3. Penutup 70,83 75 Jumlah 231,41 231,41 Persentase 77,14% 87,05%
Dari tabel 4.15 mengenai hasil observasi aktivitas mengajar peneliti pada siklus I dan II diperoleh informasi bahwa terjadi peningkatan aktivitas mengajar peneliti (rinciannya terlampir pada lampiran 7.6, h. 298 dan 7.7, h. 299). Hasil observasi tersebut menunjukkan bahwa peneliti berhasil memperbaiki aktivitas mengajarnya khususnya dalam upaya menerapkan metode penemuan terbimbing.
Hasil wawancara dengan guru dan siswa menghasilkan respon yang positif dari mereka. Hal ini disebabkan mereka merasakan dampak positif dari pemberian tindakan yaitu aktivitas mengajar peneliti selama pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing. Siswa merasa lebih semangat dan antusias dalam belajar matematika, begitupula guru yang memandang peneliti sudah baik dalam pengajaran. Menurut hasil wawancara, yang perlu diperbaiki untuk kegiatan mengajar mendatang ialah aspek volume dan intonasi suara yang masih harus terus dilatih, serta pengaturan waktu pengelolaan pembelajaran.
Hal ini sesuai dengan penelitian Ropidatul Hijriyah dalam penelitiannya
tahun 2013 yang berjudul “Pembelajaran dengan Metode Penemuan Terbimbing untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Bangun Datar pada Siswa Kelas IV SDN Al-Fajar Kedaung”. Penelitian ini menunjukkan bahwa metode penemuan terbimbing dapat meningkatkan pemahaman konsep bangun data siswa.