BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
2. Penelitian Siklus II
a. Tahap Pelaksanaan dan Observasi
Sebagaimana pada siklus sebelumnya, pada tahap pelaksanaan siklus II ini peneliti membimbing kegiatan pembelajaran dengan menerapkan metode penemuan terbimbing pada setiap pertemuannya. Peneliti melaksanakan tindakan sebagaimana yang telah direncanakan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Dalam RPP yang telah disusun tercakup langkah-langkah pembelajaran dengan metode ini, yaitu: pemerolehan informasi, pengolahan informasi yang meliputi 3 tahap (enaktif, ikonik dan simbolik) serta pengecekan atau evaluasi. Sub pokok bahasan yang dipelajari siswa pada tindakan pembelajaran siklus I yaitu sifat operasi hitung asosiatif pada perkalian, dan sifat operasi hitung distributif perkalian terhadap penjumlahan dan pengurangan. Uraian proses pembelajaran siklus II sebagai berikut:
1) Pertemuan Kelima (Kamis, 14 Agustus 2014)
Kegiatan pembelajaran matematika pada pertemuan ini berlangsung selama 2 x 40 menit. Pada awal kegiatan seperti biasa peneliti membuka pelajaran dengan salam, membaca doa masuk kelas bersama siswa, serta mengecek absensi. Pada pertemuan ini siswa yang hadir hanya 39 anak, dikarenakan 2 siswa sakit yaitu S36 dan S43, 1 siswa izin yaitu S23 dan 1 siswa tidak hadir tanpa keterangan yaitu S20. Kemudian peneliti mereview kembali materi sifat operasi hitung asosiatif pada penjumlahan, menyampaikan pokok bahasan yang akan dipelajari yaitu sifat operasi hitung asosiatif (pengelompokkan) pada perkalian, serta menyampaikan tujuan dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan pembelajaran selanjutnya masuk kedalam langkah-langkah metode penemuan terbimbing, yaitu sebagai berikut:
1. Tahap Pemerolehan Informasi
Sebagaimana sebelumnya, pada tahap ini peneliti bertugas untuk memberikan sejumlah informasi awal yang dibutukan siswa untuk menunjang proses penemuan sifat. Informasi awal yang diberikan oleh peneliti ialah dua buah permasalahan berbentuk soal cerita yang harus dipecahkan. Peneliti dibantu observer II memulai tahap ini dengan membagikan LKS pada tiap-tiap kelompok. Pada LKS itu termuat 2 buah permasalahanberbentuk soal cerita, dimana hasil jawaban keduanya saling berkaitan satu sama lain dan akan menuntun siswa menemukan persamaan sifat asosiatif pada perkalian.
Setelah diketahui bahwa masing-masing kelompok siswa telah menerima LKS, barulah peneliti dibantu observer II membagikan media gambar jeruk pada tiap-tiap kelompok untuk dimanfaatkan dalam upaya pemecahan masalah soal pada LKS. Pada pertemuan ini, siswa dikelompokkan secara berpasangan bersama teman semeja mereka. Hal ini dilakukan sebagai upaya perbaikan hasil refleksi guna menciptakan pembelajaran yang lebih efektif dan kondusif.
2. Tahap Pengolahan Informasi
Selanjutnya, pada langkah kedua ini peneliti membimbing siswa melalui tiga tahapan dalam mengolah informasi yaitu tahap enaktif, ikonik dan simbolik. Sebagaimana pertemuan sebelumnya, pada pertemuan ini ketiga tahap penemuan tersebut dilalui siswa melalui proses pengerjaan LKS yang di dalamnya telah dilengkapi dengan instruksi langkah-langkah penemuan. Deskrispsi kegiatannya sebagai berikut:
a. Enaktif
Tahap enaktif adalah tahap dimana siswa diarahkan untuk memahami suatu informasi atau permasalahan melalui kegiatan nyata. Oleh karena itu, setelah seluruh kelompok menerima LKS, peneliti mulai menginstruksikan siswa untuk mulai mengerjakan LKS mereka. Pada tahap ini mereka bertugas untuk memahami maksud soal cerita dalam LKS dengan mempraktekkannya langsung.
Kegiatan praktek langsung tersebut dilakukan siswa dengan cara menempelkan gambar-gambar jeruk pada tempat yang tersedia sebagaimana pesan yang diminta soal. Dengan demikian dalam kegiatan ini dapat terlihat apakah siswa dapat memahami maksud soal melalui praktek menempel gambar yang dilakukannya dengan benar. Saat kegiatan ini berlangsung peneliti bertugas membimbing, mengarahkan, serta membantu kelompok siswa yang masih kesulitan dengan cara berkeliling menghampiri mereka.
Pada tahap ini terlihat sebagian besar siswa mulai terbiasa dengan kegiatan menempel gambar sehingga mereka dapat melakukannya dengan cepat. Selain itu, ketepatan dan kecepatan mereka dalam kegiatan tersebut juga dimotivasi guru melalui pemberian reward/hadiah bagi tiga kelompok siswa tercepat dan tepat dalam pengerjaan LKS. Mendengar informasi tersebut, siswa semakin terlihat antusias dalam pengerjaan LKS.
b. Ikonik
Tahap ikonik adalah tahap dimana siswa diarahkan untuk dapat memahami suatu informasi atau permasalahan yang diketahuinya dengan cara mengamati suatu obyek gambar. Oleh karena itu, setelah kegiatan menempel gambar, instruksi LKS selanjutnya adalah kegiatan memahami gambar yang telah ditempel. Pada tahap ini, peneliti membatu mereka memahaminya melalui proses tanya jawab.
Peneliti memulainya dengan sebuah instruksi dan pertanyaan, “Anak-anak, coba perhatikan susunan gambar yang telah kalian susun! Nah, sekarang coba
kalian hitung, ada berapa jeruk di keranjang Pak Wendi?”. Secara serempak setiap kelompok terlihat menghitung dan menjawab, “Ada 40 jeruk bu”. Peneliti kembali bertanya, “Kalau yang di keranjang Bu Yuli?”. Siswa kembali menghitung dan menjawab bersamaaan “40 jeruk juga bu”. Kemudian
penelitikembali menguji pemahaman mereka dalam kegiatan penyimpulan
sementara melalui pertanyaan, “Jadi, apa yang dapat kita pahami ya dari kedua gambar tersebut?”. Siswa mulai terdiam, lalu seorang siswa dengan suara lantang
tiba-tiba menjawab, “Eh, ini ya bu kedua soal ini jawabannya sama, walaupun
nempelin gambarnya caranya berbeda, kaya’ waktu nempel gambar kemarin”.
menyetujui pendapat temannya. Mengetahui jawabannya telah tepat, maka peneliti membenarkan jawaban mereka, dan memberikan hadiah kepada seorang siswa yang tepat mengajukan jawaban tersebut. Siswa lain juga mulai terlihat semakin atusias dalam belajar.
c. Simbolik
Tahap ikonik adalah tahap di mana siswa diarahkan untuk dapat mengungkapkan pemahamannya dari tahap sebelumnya ke dalam simbol-simbol. Oleh karena itu, instruksi LKS selanjutnya ialah siswa kegiatan menuliskan simbol-simbol angka dan huruf dari hasil jawaban yang ditemukan. Siswa terlihat mulai mengisi titik-titik yang ada dengan jawaban yang dipahami mereka. Pada saat ini peneliti bertugas dengan teliti memantau kebenaran hasil jawaban yang dituliskan tiap kelompok dan mengarahkan siswa yang kesulitan dalam memahami instruksi LKS. Sebagian besar siswa mulai terlihat terbiasa dengan instruksi-instruksi yang tertulis dalam soal, dan dalam tahap kegiatan penyimbolan ini. Oleh karenanya pada pembelajaran ini peneliti mulai mengurangi pemberian arahan melalui proses tanya jawab.
3. Tahap Pengecekan atau Evaluasi
Setelah seluruh kelompok siswa selesai mengerjakan LKS dan megumpulkannya, peneliti kembali membagikan LKS pada kelompok yang berbeda atau menukarnya. Kegiatan ini dilakukan untuk melatih tanggungjawab mereka dalam mengoreksi hasil jawaban kelompok lain. Pada tahap pengecekan atau evaluasi siswa dibimbing untuk mengecek hasil pemahaman mereka yang telah tercantum dalam LKS. Oleh karena itu peneliti kembali melakukan tanya jawab dalam kegiatan pengoreksian ini. Setelah seluruh hasil jawaban dikoreksi kebenarannya, dan persamaan sifat asosiatif pada perkalian berhasil ditemukan serta dipahami mereka, peneliti memberikan siswa sebuah contoh soal lain untuk dibahas bersama.Selanjutnya, peneliti menugaskan mereka mencatat dan mengerjakan soal evaluasi yang ada dalam lampiran poin terakhir pada LKS masing-masing. Soal yang tadinya berjumlah 5 butir kemudian dikurangi menjadi dua butir, ditambah 1 buah soal cerita untuk dikerjakan bersama kelompok. Setelah selesai mereka segera mengumpulkan hasilnya, dan guru memberikan hadiah pada tiga kelompok tercepat dan benar dalam pengerjaan.
Selanjutnya peneliti menuju kegiatan penutup yaitu melakukan kegiatan penyimpulan bersama siswa, merefleksikan pembelajaran berupa motivasi dan mengingatkan mereka untuk mempelajari pokok bahasan selanjutnya serta mengucapkan syukur atau hamdalah bersama.
2) Pertemuan Keenam(Senin, 18 Agustus 2014)
Kegiatan pembelajaran matematika pada ini berlangsung selama 2 x 40 menit. Pada awal kegiatan seperti biasa peneliti membuka pelajaran dengan salam, membaca doa masuk kelas bersama siswa, serta mengecek absensi. Pada pertemuan ini siswa yang hadir hanya 39 anak, dikarenakan 3 siswa sakit yaitu S18 dan S27 dan S40, 1 siswa kembali tidak hadir tanpa keterangan yaitu S20. Kemudian peneliti mereview kembali materi sifat operasi hitung asosiatif pada perkalian, serta menggali pemahaman dan ingatan siswa terhadap cara menghitung luas bangun datar persegi panjang. Pemahaman tersebut digali kembali dengan tujuan agar siswa dapat lebih mudah dalam upaya penemuan sifat pada pertemuan ini, dan konsep luas tersebut memang telah dipelajari siswa di kelas sebelumnya. Setelah itu barulah peneliti menyampaikan pokok bahasan yang akan dipelajari yaitu sifat operasi hitung distributif (penyebaran) perkalian terhadap penjumlahan, serta menyampaikan tujuan dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan pembelajaran selanjutnya masuk kedalam langkah-langkah metode penemuan terbimbing, yaitu sebagai berikut:
1. Tahap Pemerolehan Informasi
Sebagaimana sebelumnya, pada tahap ini peneliti bertugas untuk memberikan sejumlah informasi awal yang dibutukan siswa untuk menunjang proses penemuan sifat. Informasi awal yang diberikan oleh peneliti ialah sebuah permasalahan berbentuk soal cerita mengenai luas bagian tanah berbentuk persegi panjang yang tercantum dalam LKS. Dari cara pengerjaan dan hasil jawaban permasalahan tersebut siswa akan dapat menemukan sifat operasi hitung distributif perkalian terhadap penjumlahan. Peneliti dibantu observer II memulai tahap ini dengan membagikan LKS pada tiap-tiap kelompok. Pada LKS itu termuat soal cerita tersebut dan instruksi langkah-langkah kerja yang akan
menuntun siswa dalam proses penemuannya. Setelah itu, peneliti juga membagikan media kartu bidang bangun datar pada tiap kelompok untuk menunjang proses penemuan mereka serta mempersiapkan alat peraga serupa dalam ukuran yag lebih besar guna membantu proses pemahaman mereka saat kegiatan tanya jawab.
2. Tahap Pengolahan Informasi
Tahap ini adalah tahap di mana siswa akan diarahkan untuk mengolah segala informasi yang diperoleh guna mendapatkan suatu pemahaman yang diharapkan. Seperti halnya pertemuan sebelumnya, pada tahap ini siswa akan melalui tiga tahap pengolahan informasi, yaitu enaktif, ikonik dan simbolik. Peneliti membimbing proses penemuan dan pemahaman sifat distributif perkalian terhadap penjumlahan sesuai tahapan-tahapan berikut:
a. Enaktif
Tahap enaktif adalah tahap di mana siswa diarahkan untuk dapat memahami permasalahan yang ada melalui proses pengolahan informasi secara nyata ataupun percobaan. Oleh karena itu, pada tahap ini peneliti memulainya dengan proses demonstrasi interaktif berbantuan alat peraga dan media yang dipegang tiap-tiap kelompok dalam upaya pemahaman maksud soal. Peneliti mengajak siswa untuk membaca sebuah soal cerita pada LKSnya. Siswa bersama-sama
membacakan soal, “Pak Solah memiliki sebidang tanah berbentuk persegi panjang. Ia menanami sebagian tanah tersebut dengan padi dan sebagian lagi sayur-sayuran. Ia memberikan batas antara tanah yang di tanami padi dan sayur dengan pagar bambu. Berapakah luas tanah Pak Solah seluruhnya?” Setelah
siswa membacakan soal, peneliti menampilkan alat peraga miniatur bidang tanah milik Pak Solah yang terbuat dari steroform.
Peneliti kemudian mengajukan pertanyaan, “Coba perhatikan miniatur dari luas tanah milik Pak Solah ini dan yang kalian pegang! Bagian manakah yang disebut dengan sisi panjang (p)?” Lalu siswa terlihat memperhatikan media yang dipegangnya dan beberapa siswa mulai dengan lantang menjawab, “Sisi yang bagian atas atau yang bawah, bu”. Kemudian peneliti menanggapi dan kembali
Pak Solah?” Kali ini sebagian besar siswa mejawab, “sisi yang kiri atau yang kanannya, bu”. Peneliti kembali menanggapi dan mengajak siswa, “Bagus, tepat sekali. Coba hitung, berapakah ukuran p dan l tanah Pak Solah pada model ini?”
Sejenak tiap kelompok terlihat memperhatikan dan menghitung ukuran panjang
dan lebar media bangun datar. Lalu beberapa kelompok mulai menjawab, “Ehm, p = 10 m dan l=8 m, bu. Soalnya lebarnya 5 meter ditambah 3 meter.” Kemudian peneliti menanyakan jawaban siswa yang lain, dan mereka menyetujui pendapat pertama. Kemudian peneliti kembali mengajak siswa membaca soal lagi, lalu
bertanya, “Nah, Kira-kira, garis tebal yang membelah bidang tanah Pak Solah ini untuk apa ya?” Siswa kembali berdiskusi besama pasangannya, dan antusias
mengajukan jawaban, “Itu garis pagar batas tanah Pak Solah yang ditanami padi dan yang ditanami sayur, bu”. Setelah siswa dirasa paham maksud soal yang ada,
barulah siswa diajak mulai mengerjakan LKS dan mengikuti langkah-langkah
instruksinya dengan pernyataan ajakan dari peneliti, “Nah, kita sudah tahu dan paham mana sisi p dan l, ukurannya p dan l serta makna garis tebal pada model ini”. Sekarang, tugas kalian adalah menempel model itu pada lembar LKS lalu menggambar kembali sesuai ukuran gambar yang ditempel.” Tiap-tiap kelompok siswa terlihat antusias menempel gambar dan menggambar bangun serupa. Pada saat kegiatan ini, peneliti bertugas berkeliling untuk membimbing dan memantau ketepatan kegiatan siswa. Aktivitas siswa tersebut terlihat pada dokumentasi gambar berikut:
Gambar 4.14
b. Ikonik
Tahap ikonik adalah tahap di mana siswa diarahkan untuk dapat memahami suatu informasi atau permasalahan serta cara pemecahannya melalui suatu kegiatan mengamati objek gambar. Oleh karena itu, setelah siswa berhasil menempel dan menggambar media yang dibagikan, peneliti membimbing mereka untuk memahami gambar yang ditempel dan dibuatnya melalui proses interaksi tanya jawab. Setelah tiap kelompok siswa dirasa paham maka kegiatan dilanjutkan ke tahap berikutnya yaitu penyimbolan.
c. Simbolik
Tahap simbolik adalah tahap di mana siswa diarahkan untuk dapat menyimbolkan atau menuliskan hasil pemahaman yang telah diperolehnya pada tahapan sebelumnya. Oleh karena itu, pada tahap ini siswa diarahkan untuk mengisi beberapa titi-titik pada LKS, yang intinya ialah cara pengerjaan dan hasil jawaban luas tanah Pak Solah seluruhnya. Dari kedua cara pengerjaan soal yang berbeda tersebut siswa diajak untuk menemukan hubungan keduanya guna memahami sifat distributif perkalian terhadap penjumlahan. Siswa sudah mulai terbiasa menyimbolkan pemahamannya dalam bentuk tulisan, sehingga waktu pengerjaan menjadi lebih cepat. Proses tahapan ini memberikan kesimpulan akhir yakni penemuan sifat operasi hitung distributif perkalian terhadap penjumlahan dengan melalui hasil jawaban: Luas tanah pak solah = 10 (5 + 3) = (10 x 5) + (10 x 3) untuk kemudian diubah ke dalam persamaan a x (b + c) = (a x b) + (a x c). 3. Tahap Pengecekan atau Evaluasi
Tahap pengecekan atau evaluasi adalah tahap di mana siswa diajak untuk mengecek atau mengevaluasi kebenaran hasil pemahaman yang diperolehnya melalui tahap pengolahan informasi. Oleh karena itu, pada tahap ini sebagaimana pertemuan sebelumnya peneliti bersama siswa melakukan proses pengoreksian hasil jawaban LKS bersama. Setelah pengoreksian selesai, peneliti kembali memberikan beberapa contoh soal lain baik dalam bentuk melengkapi ataupun soal cerita dan membahas bersama siswa. Dari kegiatan inilah siswa mulai merasakan manfaat mempelajari sifat ini, yakni dapat lebih mudah dan cepat dalam melakukan operasi perhitungan soal-soal kontekstual. Siswa kemudian diberi kesempatan untuk mengerjakan 2 soal evaluasi pada poin LKS bagian terakhir, lalu mengerjakan satu soal cerita bersama kelompoknya. Saat kegiatan
ini seperti biasanya peneliti melatih kecepatan dan ketepatan mereka dalam megerjakan soal melalui motivasi reward yang diberikan. Sebagian besar siswa semakin mengalami peningkatan dalam tingkat kecepatan dalam pengerjaan soal.
Setelah seluruh tahapan pembelejaran penemuan terbimbing dilalui, selannjutnya peneliti membimbing siswa pada kegiatan penutup. Pada kegiatan ini yang dilakukan ialah kegiatan penyimpulan bersama siswa, refleksi serta mengucapkan rasa syukur bersama atau hamdalah.
3) Pertemuan Ketujuh (Selasa, 19 Agustus 2014)
Kegiatan pembelajaran matematika pada pertemuan ini berlangsung selama 2 x 40 menit. Pada awal kegiatan seperti biasa peneliti membuka pelajaran dengan salam, membaca doa masuk kelas bersama siswa, serta mengecek absensi dan kegiatan ice breaking singkat. Pada pertemuan ini siswa yang hadir hanya 40 anak, dikarenakan 2 siswa sakit yaitu S36, 1 siswa izin yaitu S23 dan 1 siswa tidak hadir tanpa keterangan yaitu S20. Kemudian peneliti mereview kembali materi sifat operasi hitung distributif (penyebaran) perkalian terhadap penjumlahan, menyampaikan pokok bahasan yang akan dipelajari yaitu sifat operasi hitung distributif (penyebaran) perkalian terhadap pengurangan, serta menyampaikan tujuan dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan pembelajaran selanjutnya masuk kedalam langkah-langkah metode penemuan terbimbing, yaitu sebagai berikut:
1. Tahap Pemerolehan Informasi
Sebagaimana sebelumnya, pada tahap ini peneliti bertugas untuk memberikan sejumlah informasi awal yang dibuhtukan siswa untuk menunjang proses penemuan sifat. Informasi awal yang diberikan oleh peneliti ialah sebuah permasalahan berbentuk soal cerita mengenai luas bagian tanah berbentuk persegi panjang yang tercantum dalam LKS. Dari cara pengerjaan dan hasil jawaban permasalahan tersebut siswa akan dapat menemukan sifat operasi hitung distributif perkalian terhadap pengurangan. Peneliti dibantu observer II memulai tahap ini dengan membagikan LKS pada tiap-tiap kelompok. Pada LKS itu termuat soal cerita tersebut dan instruksi langkah-langkah kerja yang akan menuntun siswa dalam proses penemuannya. Setelah itu, peneliti juga
membagikan media kartu bidang bangun datar pada tiap kelompok untuk menunjang proses penemuan mereka serta mempersiapkan alat peraga serupa dalam ukuran yang lebih besar guna membantu proses pemahaman mereka saat kegiatan tanya jawab.
2. Tahap Pengolahan Informasi
Tahap ini adalah tahap di mana siswa akan diarahkan untuk mengolah segala informasi yang diperoleh guna mendapatkan suatu pemahaman yang diharapkan. Seperti halnya pertemuan sebelumnya, pada tahap ini siswa akan melalui tiga tahap pengolahan informasi, yaitu enaktif, ikonik dan simbolik. Peneliti membimbing proses peemuan dan pemahaman sifat distributif perkalian terhadap penjumlahan sesuai tahapan-tahapan berikut:
a. Enaktif
Tahap enaktif adalah tahap di mana siswa diarahkan untuk dapat memahami permasalahan yang ada melalui proses pengolahan informasi secara nyata ataupun percobaan. Oleh karena itu, pada tahap ini peneliti memulainya dengan proses demonstrasi interaktif berbantuan alat peraga dan media yang dipegang tiap-tiap kelompok dalam upaya pemahaman maksud soal. Peneliti mengajak siswa untuk membaca sebuah soal cerita pada LKSnya. Siswa bersama-sama
membacakan soal, “Pak Raden memiliki sebidang tanah berbentuk persegi panjang. Ia menanami sebagian tanah tersebut dengan padi dan sebagian lagi sayur-sayuran. Ia memberikan batas antara tanah yang di tanami padi dan sayur dengan pagar bambu. Berapakah luas tanah Pak Raden yang ditanami padi?”Setelah siswa membacakan soal, peneliti menampilkan alat peraga miniatur bidang tanah milik Pak Raden yang terbuat dari streoform.
Peneliti kemudian mengajukan pertanyaan, “Coba perhatikan miniatur dari luas tanah milik Pak Raden ini dan yang kalian pegang! Bagian manakah yang disebut dengan sisi panjang (p)?” Lalu dengan cepat dan lantang sebagian besar siswa yang sudah mulai terbiasa bertanya jawab ini menanggapi, “Sisi yang bagian atas atau yang bawah, bu”. Kemudian peneliti menanggapi dan kembali bertanya, “Betul sekali. Lalu bagian manakah yang merupakan sisi lebar (l) tanah Pak Raden?” Mereka kembali menjawab, “Sisi yang kiri atau yang kanannya,
bu”. Peneliti kembali menaggapi dan kemudian meminta bantuan siswa untuk
menghitung “Bagus, tepat sekali. Coba siapa yang mau bantu ibu ke depan untuk membantu ibu menjelaskan model yang ibu pegang kepada teman-teman yang lain?” Lalu hampir seluruh siswa mengacungkan tangan, sebab peneliti kebingungan dalam memilih, maka peeliti mengubah instruksinya, “Iya, mulai sekarang ibu akan memperhatikan kerapihan dan ketertiban kalian. Siswa yang ibu perhatikan posisi duduknya selalu rapih, tidak berjalan-jalan, dan semangat belajar dan memperhatikan ketika ibu atau teman kalian maju menerangkan akan langsung ibu pilih untuk maju membantu ibu, serta ibu beri hadiah penghargaan. Baik, Sekarang kembali tertib!” Siswa pun berlomba-lomba untuk fokus memperhatikan peneliti dan duduk tertib. Peneliti kemudian memilih tiga siswa untuk maju membantu proses demonstrasi, dua anak berperan memegang model, dan seorang lainnya bertugas menerangkan. Peneliti kemudian memberikan arahan kepada siswa yang maju untuk mendemostrasikan ukuran panjang dan lebar model bangun datar yang ada. Aktivitas demosntrasi siswa terdokumentasikan dalam gambar berikut:
Gambar 4.15
Aktivitas Siswa Menjelaskan Model Matematika Di Hadapan Teman Lain
Kemudian peneliti mengarahkan praktikan melalui pertanyaan “Coba
hitung! berapa ukuran panjang dan lebarnya seluruh tanah Pak Raden?” lalu siswa praktikan menghitung dan menjelaskan jawabannya pada teman lain bahwa
miniatur model yang berwarna apakah yang menunjukkan tanah Pak Raden yang ditanami padi? lalu yang ditanami sayur?” Praktikan kemudian menunjukkan
bagian gambar yang berwarna hijau untuk lahan ditanami padi dan warna coklat untuk yang ditanami sayur, begitu juga teman-temannya yang lain yang turut menjawab dan membenarkan temuan praktikan.
Saat beberapa siswa menerangkan ukuran panjang, lebar dan bagian bidang luas tanah Pak Raden yang ditanami padi dan sayur, kefokusan, ketertiban, interaksi siswa lainnya mulai terlihat. Siswa semakin terbiasa menghargai temannya di bagian depan kelas. Hal ini terdokumentasikan pada gambar berikut:
Kemudian peneliti kembali mengajak siswa membaca soal lagi, lalu
bertanya, “Apa yang ditanyakan dari soal cerita pada LKS kalian?” Siswa kembali membaca soal,berdiskusi bersama pasangannya, dan antusias mengajukan
jawaban, “Luas tanah pak raden yang ditanami padi, bu”. Setelah siswa dirasa
paham maksud soal yang ada, barulah siswa diajak mulai mengerjakan LKS dan mengikuti langkah-langkah instruksinya dengan pernyataan ajakan dari peneliti,