BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Penelitian Siklus I
Pada tahap pelaksanaan siklus I ini, peneliti membimbing kegiatan pembelajaran dengan menerapkan metode penemuan terbimbing pada setiap pertemuannya. Peneliti melaksanakan tindakan sebagaimana langkah-langkah pembelajaran dengan metode ini, yaitu: pemerolehan informasi, pengolahan informasi yang meliputi 3 tahap (enaktif, ikonik dan simbolik) serta pengecekan atau evaluasi. Sub pokok bahasan yang dipelajari siswa pada tindakan pembelajaran siklus I yaitu sifat operasi hitung komutatif pada penjumlahan, perkalian, dan sifat operasi hitung asosiatif pada penjumlahan. Uraian proses pembelajaran siklus I sebagai berikut:
a. Pelaksanaan Pembelajaran
1) Pertemuan Pertama (Jumat 08 Agustus 2014)
Pertemuan pertama siklus II ini berlangsung selama 2 x 40 menit (2 jam pelajaran), mulai pukul 10.10 s/d pukul 11.30 WIB. Sub pokok bahasannya adalah sifat operasi hitung komutatif pada penjumlahan. Sebagaimana biasanya kegiatan diawali dengan membuka pelajaran, yaitu memberi salam, mengucap basmalah, menginstruksikan ketua kelas untuk memimpin doa bersama, memeriksa absensi,
memimpin kegiatan ice breaking singkat, menulis tanggal, mereview kembali materi sifat operasi hitung yang pernah dipelajari, lalu menyampaikan materi yang akan dipelajari yaitu sifat komutatif pada penjumlahan serta tujuan pembelajarannya. Jumlah siswa yang hadir sebanyak 39 orang, dikarenakan 1 orang siswa izin yaitu S23, 2 siswa sakit yaitu S36 dan S43, dan 1 orang siswa lainnya tanpa keterangan yaitu S20.
Kegiatan pembelajaran selanjutnya masuk kedalam langkah-langkah metode penemuan terbimbing, yaitu sebagai berikut:
1. Tahap Pemerolehan Informasi
Pada tahap ini peneliti memberikan siswa informasi berupa permasalahan kontekstual. Permasalahan tersebut disusun ke dalam dua buah soal cerita yang saling terkait dimana dalam proses penyelesaian dan hasil jawaban soal tersebut dapat menutun siswa menemukan sifat komutatif pada penjumlahan. Peneliti mengawali kegiatan pada tahap ini dengan membacakan satu persatu soalsecara perlahan dihadapan siswa. Peneliti mulai membacakan, “Anak-anak, tolong simak baik-baik! Pak Yunus membeli 4 ekor ikan hias di pasar. Ikan-ikan itu ia masukkan ke dalam sebuah akuarium kosong miliknya. Kemudian, ia membeli lagi dua ekor ikan dan memasukkannya ke dalam akuarium yang sama. Jadi, ada berapa ekor ikan di akuariumnya sekarang?” Secara hampir serentak sebagian besar siswa menjawab, “Enam ekor, bu”. Kemudian peneliti bertanya lagi, “Apakah sudah tepat jawabannya?”Siswa segera menjawab bersamaan, “Sudah,
bu”. Peneliti menanggapi, “Baik kita simpan jawaban sementara ini (lalu menulis hasil jawaban di papan tulis).
Peneliti kemudian mulai membacakan soal kedua, “Bu Fatin membeli 2 ekor ikan hias di pasar. Ikan-ikan itu kemudian dimasukkanya ke dalam akuarium kosong miliknya. Lalu, ia membeli lagi 4 ekor ikan dan memasukkannya ke dalam akuarium yang sama. Jadi, ada berapa ekor ikan di akuarium Bu Fatin
sekarang?” Tak berapa lama kemudian secara hampir bersamaan sebagian besar
siswa menjawab, “Enam ekor juga bu”. Peneliti selanjutnya menanyakan jawaban apakah ada jawaban siswa yang lain, dan diketahui bahwa jawaban mereka sama. Jawaban siswa itu kemudian peneliti tulis di papan tulis.
Peneliti mulai bertanya lagi kepada siswa, “Siapa yang tahu apa perbedaan soal pertama dan kedua?” Kemudian S12 mengangkat tangan dan menanggapi pertanyaan, “Bedanya, soal pertama yang ditanyakan jumlah ikan milik Pak
Yunus, kalau yang kedua nanya jumlah ikan milik Bu Fatin, bu.” Peneliti
menanggapi, “Bagus nak, tetapi belum tepat. Coba ada jawaban lain?Lalu S2 menanggapi, “Kaya’nya nggak ada bedanya deh bu, soalnya jawabanya
sama-sama 6 ekor.” Peneliti kemudian mengajak dan membimbing siswa menemukan jawaban tersebut melalui percobaan dengan mempersiapkan media yang dibutuhkan berupa 2 buah stoples bening berisi air dan ikan-ikan kecil.
2. Tahap Pengolahan Informasi
Selanjutnya, pada langkah kedua ini peneliti membimbing siswa melalui tiga tahapan dalam mengolah informasi yaitu tahap enaktif, ikonik dan simbolik. Peneliti mengarahkan siswa untuk menguji seluruh jawaban sementara yang diperoleh melalui praktek percobaan dan menemukan perbedaan jawaban soal nomor 1 dan 2 yang belum terjawab.
a) Enaktif
Pada tahap enaktif ini siswa diajak untuk memahami permasalahan dan memecahkan masalah melalui kegiatan nyata. Peneliti memulai dengan menjelaskan media yang dibawa, yaitu bahwa stoples pertama mewakili akuarium Pak Yunus, dan stoples kedua mewakili akuarium Bu Fatin. Kemudian menerangkan bahwa peneliti membutuhkan bantuan seorang siswa untuk menjawab soal nomor 1 dan seorang siswi untuk menjawab soal nomor 2.
Kemudian guru bertanya, “Siapa murid laki-laki yang bersedia membantu ibu melakukan uji coba? dilanjutkan dengan bertanya, “Untuk murid perempuan siapa yang bersedia?” Lalu siswa-siswi bersemangat menunjuk dan peneliti memilih S29 dari siswa laki-laki dan S2 dari yang perempuan berdasarkan kecepatan menunjuk. Kegiatan tersebut terekam dalam dokumentasi gambar berikut.
Gambar 4.1
Aktivitas Siswa Saat Menunjuk untuk Kegiatan Percobaan
Peneliti selanjutnya membimbing siswa melakukan uji coba dan menginstruksikan seluruh siswa untuk memperhatikan dan membatu uji coba yang dilakukan temannya. Sebagian besar siswa secara serempak membantu S2 dan S29 dalam menyelesaikan soal nomor 1 dengan cara menghitung bersama. Seluruh siswa juga terlihat fokus memperhatikan uji coba yang dilakukan. Hingga akhirnya jawaban 6 ekor ikan teruji sebagai jawaban yang benar atas soal nomor 1 dan 2. Seluruh siswa juga telah mampu memecahkan pertanyaan guru, dan menemukan jawaban bahwa ternyata perbedaan soal nomor 1 dan 2 adalah dari cara menjawabnya. Jawaban tersebut diperoleh melalui proses tanya jawab setelah berlangsungnya kegiatan praktek percobaan ikan. Beberapa aktivitas tersebut terekam dalam dokumentasi gambar berikut.
Gambar 4.2
b) Ikonik
Setelah siswa menemukan jawaban yang tepat melalui percobaan pada tahap enaktif, maka peneliti kemudian mengarahkan siswa pada tahap selanjutnya yaitu ikonik. Tahap ikonik adalah tahap di mana siswa dibimbing untuk mulai memahami suatu masalah dan memecahkannya tanpa melalui kegiatan nyata, akan tetapi melalui obyek gambar. Oleh karena itu pada tahap ini, peneliti menggambar akuarium dan ikan-ikan yang mewakili soal no 1 dan 2 di papan tulis. Kemudian, peneliti kembali mengecek pemahaman siswa terhadap gambar melalui beberapa pertanyaan yang diajukan. Berdasarkan kegiatan tanya jawab singkat tersebut, diketahui bahwa ternyata siswa telah memahami maksud gambar.
c) Simbolik
Setelah siswa memahami maksud gambar yang mewakili soal yang diajukan di awal, barulah siswa dibimbing untuk masuk ke tahap simbolik atau penyimbolan. Pada tahap ini peneliti membimbing siswa untuk menyimbolkan hasil jawaban dari dua permasalahan sebelumnya, lalu menuliskannya di papan tulis. Melalui kegiatan tanya jawab, siswa akhirnya dapat menemukan pemahamannya atas persamaan sifat komutatif pada penjumlahan. Sifat tersebut diperoleh setelah jawaban permasalahan didiskusikan bersama, hingga menghasilkan kesepahaman bahwa 4 + 2 = 2 + 4 dan sejalan dengan persamaan a + b = b + a sebagaimana yang ada di buku.
3. Tahap Pengecekan atau Evaluasi
Setelah siswa melalui tahapan-tahapan penemuan tersebut, barulah peneliti masuk ke langkah evaluasi atau pengecekan. Pada tahap ini siswa dievaluasi apakah telah benar-benar memahami sifat yang baru mereka pelajari melalui uraian jawaban LKS yang dituliskan. Peneliti dengan dibantu observer II membagi siswa menjadi 10 kelompok, membagikan LKS, serta media gambar burung pada masing-masing kelompok. Pada hari sebelumnya, peneliti telah menginformasikannama-nama kelompok ini kepada siswa, serta juga telah mengatur posisi duduk siswa yang sekelompok untuk duduk di baris yang
berdekatan (depan-belakang). Hal ini dilakukan untuk memudahkan siswa ketika memposisikan diri duduk bersama kelompok, sebab mereka telah berdekatan.
Pada saat pengerjaan LKS ini peneliti berkeliling untuk mengamati proses diskusi tiap-tiap kelompok serta memberikan bantuan bagi kelompok yang merasa kesulitan. Kesulitan sebagian besar kelompok adalah saat harus membuka lem atau doubletip dari gambar-gambar burung yang hendak di tempel pada LKS. Sehingga peneliti dan observer harus berkeliling dan membantu mereka. Kegiatan ini cukup menyita waktu siswa dalam pengerjaan LKS, sebab peneliti menempelkan doble tip seukuran dengan gambar, sehingga gambar sulit dilepas dari doubletipnya. Selain itu ternyata masih ada kelompok siswa yang kesulitan dalam memahami instruksi-instruksi LKS yang memerintahkan kelompok untuk menukar hasil jawabannya ke dalam simbol persamaan sifat.
Setelah siswa selesai mengerjakan LKS, peneliti bersama siswa mengoreksi dan membahas bersama hasil pengerjaan. Siswa menukar hasil jawaban LKS kelompoknya dengan kelompok lain. Karena keterbatasan waktu, akhirnya kegiatan pengoreksian ini hanya sampai setengahnya. Peneliti meminta siswa untuk segera mengumpulkan dan kegiatan pengoreksian dilanjutkan sendiri oleh guru.
Setelah beberapa langkah-langkah pembelajaran telah diaplikasikan, maka peneliti segera melakukan refleksi singkat dengan menuliskan persamaan sifat komutatif penjumlahan di papan tulis serta membahas 1 contoh soal bersama siswa. Kemudian, segera menutup pembelajaran dengan mengucap hamdalah
bersama. Tidak lupa peneliti berpesan kepada siswa agar mempelajari sifat komutatif pada perkalian untuk materi berikutnya.
2) Pertemuan Kedua(Senin, 11 Agustus 2014)
Kegiatan belajar matematika pada pertemuan kedua ini berlangsung selama 2 x 40 menit. Di awal kegiatan pembelajaran, seperti biasa peneliti membuka pelajaran dengan salam dilajutkan dengan pembacaan doa masuk kelas bersama-sama dengan dipimpin oleh ketua kelas, serta mengecek absensi. Pada pertemuan kedua jumlah siswa yang hadir sebanyak 38 orang, dikarenakan 2 siswa sakit yaitu S5 dan S15, 2 siswa izin yaitu S1 dan S23, dan 1 siswa tidak hadir tanpa
keterangan yaitu S20. Kemudian, peneliti memimpin kegiatan ice breaking
singkat dengan menyanyikan lagu bersama guna membangkitkan semangat belajar siswa yang terekam dalam dokumentasi Gambar 4.3 (a) dan (b) berikut:
(a) (b)
Gambar 4.3
Semangat dan Antusias Siswa Saat Melakukan Ice Breaking
Selanjutnya peneliti mereview kembali materi sifat komutatif pada penjumlahan. Setelah itu barulah guru menyamakan konsep awal bahwa perkalian adalah penjumlahan yang berulang melalui sebuah permasalahan kontekstual yakni aturan minum obat 3 x 1 sendok takar sehari.
Peneliti melakukan apersepsi ini dengan tujuan siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami aturan sifat komutatif pada perkalian. Peneliti
memulainya dengan mengajukan permasalah, “Anak-anak, ibu punya cerita, Tolong simak baik-baik! Pada suatu hari Beno adiknya Rara sakit demam. Melihat adiknya sakit, Rara dan ibunya bergegas mengantarnya ke dokter. Dokter pun memeriksa Rara, dan memberinya resep obat. Obat tersebut akhirnya dibeli dan dibawa mereka pulang. Sesampainya di rumah, Rara diminta ibunya untuk mengatur waktu minum obat adiknya. Ia segera saja melihat aturan yang tertulis pada bungkus obat syrup tersebut, yaitu 3 x 1 sendok takar sehari setelah makan. Nah sekarang pertanyaannya, apakah maksud dari aturan minum obat tersebut? Siapa yang tahu? Dengan sigap beberapa siswa menunjuk tangan dan penelti mempersilahkan S12 sebagai yang tercepat untuk menjawab. S12 menjawab,
hari sehabis makan dan 1 sendok takar di sore atau malam hari juga sehabis makan, bu”. Peneliti menanggapi, “Bagus, ada yang berbeda jawabannnya dengan Farhan?” S33 kemudian menanggapi, “Betul bu jawaban Farhan “. Lalu peneliti tersenyum dan kembali bertanya kepada siswa, “Anak-anak apakah jawaban Farhan tadi sudah tepat?” Dengan kompak siswa menjawab, “Sudah, bu”. Peneliti menyetujui jawaban siswa dan memuji kepintaran mereka, selanjutnya peneliti menulis resep 3 x 1 sendok sehari artinya diminum 1 sendok saat pagi + 1 sendok saat siang + 1 sendok saat sore/malam lalu dibawahnya dituliskan 3 x 1= ... + ... + .... = 3. Peneliti kemudian memulai tanya jawab sehingga siswa dapat mengisi titik-titik yang tertulis. Peneliti juga mencoba soal lain, diantaranya 4 x 2 = ... + ... + ... + ... = 8. Siswa kembali menemukan jawaban hingga siswa dapat memahami bahwa perkalian merupakan penjumlahan yang berulang.
Kegiatan pembelajaran kemudian dilanjutkan peneliti dengan menuliskan pokok bahasan yang akan dipelajari hari itu yakni sifat komutatif pada perkalian beserta tujuan pembelajarannya. Setelah siswa mengetahui pokok bahasan yang akan ditemukan dan dipelajari hari ini, peneliti kemudian membagi kelompok siswa berdasarkan posisi duduk mereka. Maksudnya, mereka akan berdiskusi secara berpasangan bersama teman satu meja selama proses tahapan pembelajaran matematika dengan metode penemuan terbimbing berlangsung. Pembagian kelompok siswa secara berpasangan ini sengaja dilakukan peneliti, sebab pada pengelompokkan pertemuan sebelumnya dirasa tidak cukup efektif dikarenakan beberapa siswa dalam kelompok terlihat tidak mengerjakan LKS dan berjalan-jalan. Hal ini telah didiskusikan sebelumnya oleh peneliti bersama dua observer lain, khususnya observer I. Proses pembelajaran sesuai tahapan penemuan terbimbing dideskripsikan sebagai berikut:
1. Tahap Pemerolehan Informasi
Pada tahap ini peneliti bertugas untuk memberikan sejumlah informasi awal yang dibutukan siswa untuk menunjang proses penemuan sifat. Informasi awal yang diberikan oleh peneliti ialah dua buah permasalahan berbentuk soal cerita yang harus dipecahkan. Peneliti dibantu observer II memulai tahap ini dengan
membagikan LKS pada masing kelompok. Pada LKS itu termuat 2 buah permasalahanberbentuk soal cerita, dimana hasil jawaban keduanya saling berkaitan satu sama lain dan akan menuntun siswa menemukan persamaan sifat komutatif pada perkalian.
Setelah diketahui bahwa masing-masing kelompok siswa telah menerima LKS, barulah peneliti dibantu observer II membagikan media gambar ayam pada tiap-tiap kelompok untuk dimanfaatkan dalam upaya pemecahan masalah soal pada LKS. Setelah pembagian siswa menjadi kelompok-kelompok kecil ini, barulah terlihat siswa lebih tertib dari hari sebelumnya, terutama ketika menanti pembagian LKS dan media.
2. Tahap Pengolahan Informasi
Selanjutnya, pada langkah kedua ini peneliti membimbing siswa melalui tiga tahapan dalam mengolah informasi yaitu tahap enaktif, ikonik dan simbolik. Berbeda dengan pertemuan pertama, pada pertemuan ini ketiga tahap penemuan tersebut dilalui siswa melalui proses pengerjaan LKS yang di dalamnya telah dilengkapi dengan langkah-langkah penemuan.
a) Enaktif
Setelah seluruh kelompok menerima LKS, peneliti segera membimbing
kegiatan dengan menginformasikan, “Anak-anak, untuk menemukan jawaban soal ini, kalian harus mengikuti langkah-langkah pengerjaan 1-5, yaitu yang bercetak tebal pada LKS Kalian!” peneliti melanjutkan “Coba, sekarang periksa! Ada tidak?” Sejenak seluruh kelompok memeriksa LKSnya masing-masing, kemudian
dengan kompak menjawab, “Ada, bu”. Kemudian S2 bertanya, “Bukannya langkahnya ada 6, bu?” Peneliti menanggapi,”Bagus, betul nak, tetapi langkah keenam itu adalah soal evaluasi. Soal ini akan dikerjakan setelah kita mengoreksi jawaban langkah 1-5”. Baik, Coba apa yang diperintahkan oleh langkah pertama?” Seluruh siswa dalam kelompok membacanya, kemudian mereka menjawab, “Baca dan pahami soal, bu terus disuruh berdiskusi sama teman kelompok.” Peneliti menaggapi, “Baik, sekarang kalian baca soal nomor 1 dan 2!” Siswa terlihat fokus membaca soal bersama teman kelompoknya, setelah
selesai membaca peneliti kembali bertanya, “Lalu apa perintah langkah kedua?”. Kelompok S32 dari kelompok 9 menjawab, “Tempel gambar ayam sesuai perintah soalnya, Bu”. Kemudian beberapa kelompok lain bertanya berbarengan, “Berarti gambar ini buat ditempel ya, bu?” Peneliti menanggapi, “Iya, Betul”, peneliti melanjutkan pembicaraan,Nah, pada pembelajaran kali ini kalian akan menemukan jawaban soal melalui kegiatan menempel, gambarnya bisa ditempel mulai sekarang!”
Setelah pemberian instruksi tersebut dari peneliti, seluruh kelompok siswa terlihat aktif bekerjasama dalam kegiatan menempel gambar. Kegiatan menempel ini dilakukan untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap perintah soal yang diberikan serta membangun aktivitas kerjasama dan interaksi antar siswa. Kegiatan tersebut terekam dalam dokumentasi gambar berikut.
Gambar 4.4
Aktivitas Siswa dalam Kegiatan Menempel Gambar
Selama kegiatan tersebut berlangsung peneliti berkeliling untuk memantau proses diskusi kelompok, khususnya ketepatan dan kecepatan mereka dalam menempelkan gambar. Peneliti juga berkeliling membantu kelompok siswa yang mengalami kesulitan ataupun salah menempel gambar. Kesalahan menempel gambar ini dialami beberapa kelompok, sebab tidak membaca keterangan pada gambar kandang yang menerangkan pemiliknya. Hal ini cukup menyulitkan mereka, sebab harus melepas kembali gambar dari LKS, sehingga gambar pun
menjadi sobek. Untung saja peneliti memiliki kelebihan media gambar sebagai gantinya. Kegiatan peneliti berkeliling dan membimbing siswa sebagai berikut:
b) Ikonik
Setelah setiap kelompok selesai menempelkan gambar, peneliti segera membimbing ke tahap selanjutnya yaitu tahap ikonik. Pada tahap ini peneliti membimbing siswa untuk memahami makna dari susunan gambar-gambar yang telah mereka tempel. Peneliti memulainya dengan serangkaian kegiatan tanya jawab, hingga siswa memahami perbedaan makna gambar yang mewakili soal nomor 1 dan soal nomor 2. Perbedaannya ialah pada cara penempatan gambar tersebut. Dan diketahui pula bahwa perbedaan tersebut tetap menghasilkan hasil akhir yang sama.
c) Simbolik
Kegiatan pembelajaran berlanjut ke tahap selanjutnya yaitu simbolik. Pada tahap ini siswa terlihat lebih mandiri dalam menyimbolkan pemahamannya terhadap gambar yang telah mereka tempel sebelumnya. Dengan demikian, ketika peneliti berkeliling memantau ketepatan hasil jawaban mereka, dari 20 kelompok yang ada, hanya 2 kelompok yang kesulitan dan bertanya kepada peneliti. Kesulitan itu adalah pada langkah LKS kelima, yaitu untuk mengganti hasil
Gambar 4.5
jawaban ke dalam simbol lain yang nantinya akan menghasilkan persamaan sifat komutatif pada perkalian. Setelah peneliti beri arahan, akhirnya kedua kelompok ini dapat menyelesaikan LKS dan menemukan pemahamannya atas pengertian dan persamaan sifat tersebut.
3. Tahap Pegecekan atau Evaluasi
Setelah siswa melalui tahapan-tahapan penemuan tersebut, barulah peneliti masuk ke langkah evaluasi atau pengecekan. Pada tahap ini siswa dievaluasi apakah telah benar-benar memahami sifat yang baru mereka pelajari melalui jawaban LKS yang dituliskan. Kegiataan yang dilakukan pada tahap ini adalah membahas bersama hasil pengerjaan LKS tiap-tiap kelompok. Caranya ialah dengan menukar hasil jawaban LKS tiap kelompok kemudian dibahas bersama.
Dalam kegiatan pembahasan ini peneliti bersama siswa menyamakan pemahaman terhadap materi sifat komutatif pada perkalian. Peneliti juga memberikan beberapa contoh soal dan menyelesaikannya bersama siswa. Setelah siswa cukup memahami, maka guru meminta siswa mengembalikan LKS tersebut pada pemiliknya dan mulai mengerjakan soal evaluasi akhir yaitu perintah langkah ke enam. Soal evaluasi ini terdiri dari 5 butir soal.Untuk mempercepat waktu pengerjaan, peneliti membuang soal nomor 5 sehingga bersisa 4 butir soal. Kemudian, peneliti menginstruksikan bahwa setiap 1 orang anggota kelompok bertugas mengerjakan 2 soal, kemudian menuliskan nama di sampingnya. Setelah selesai dikerjakan, LKS tersebut kembali dikumpulkan kepada peneliti untuk dinilai.
Setelah beberapa langkah-langkah pembelajaran telah diaplikasikan, maka peneliti segera melakukan refleksi singkat dengan menuliskan ringkasan persamaan sifat komutatif perkalian di papan tulis serta membahas 1 contoh soal sebagai penguatan untuk dikerjakan bersama. Lalu segera menutup pembelajaran dengan mengucap hamdalah bersama. Tidak lupa peneliti berpesan kepada siswa agar mempelajari sifat asosiatif pada penjumlahan untuk materi berikutnya.
3) Pertemuan Ketiga(Selasa, 12 Agustus 2014)
Kegiatan belajar matematika pada pertemuan ketiga ini berlangsung selama 2 x 40 menit. Di awal kegiatan pembelajaran, seperti biasa peneliti membuka pelajaran dengan salam dilajutkan dengan pembacaan doa masuk kelas bersama-sama dengan dipimpin oleh ketua kelas, dan mengecek absensi. Pada pertemuan ketiga jumlah siswa yang hadir sebanyak 39 orang, dikarenakan 1 siswa sakit yaitu S24, 2 siswa izin yaitu S23 dan S30, dan 1 siswa kembali tidak hadir tanpa keterangan yaitu S20. Pada pembelajaran kali ini observer II yang berperan sebagai pengamat dan dokumentator aktivitas siswa datang terlambat, sehingga terdapat beberapa aktivitas pembelajaran yang tidak terdokumentasikan. Oleh karenanya, observer I yakni wali kelas IV berperan ganda pada penelitian ini yakni mengisi lembar observasi guru dan siswa, namun tidak sempat untuk mendokumentasikan kegiatan.
Seperti biasanya, kemudian peneliti memimpin kegiatan ice breaking
singkat dengan menyanyikan lagu bersama, dilanjutkan dengan mereview kembali materi sifat komutatif pada penjumlahan dan perkalian. Setelah itu barulah guru menulis pokok bahasan yaitu sifat asosiatif pada penjumlahan beserta tujuan pembelajaran yang akan diperoleh.
Kegiatan pembelajaran selanjutnya masuk kedalam langkah-langkah metode penemuan terbimbing, yaitu sebagai berikut:
1. Tahap Pemerolehan Informasi
Pada tahap ini peneliti bertugas untuk memberikan sejumlah informasi awal yang dibutukan siswa untuk menunjang proses penemuan sifat. Informasi awal yang diberikan oleh peneliti ialah dua buah permasalahan berbentuk soal cerita yang harus dipecahkan siswa. Dua buah soal tersebut akan ditemukan jawabannya oleh siswa melalui kegiatan demonstrasi percobaan dan tanya jawab.
Peneliti memulainya dengan menuliskan 2 butir soal tersebut dipapan tulis. Dua buah soal cerita tersebut yaitu: 1) Ibu menyajikan 4 buah apel dan 3 buah jeruk dalam satu piring, kemudian ibu menyajikan kembali 2 buah pisang pemberian tetangga dalam satu piring. Berapakah jumlah seluruh buah yang disajikan ibu? 2) Ibu menyajikan 4 buah apel dalam satu piring, kemudian ibu
menyajikan kembali 3 buah jeruk dan 2 buah pisang dalam satu piring. Berapakah jumlah seluruh buah yang disajikan ibu? Setelah penulisan soal itu selesai, guru kemudian mempersiapkan alat peraga yang dibutuhkan, yaitu 4 buah piring, 6 buah jeruk, 4 buah pisang, dan 8 buah apel sebagai alat peraga percobaan.
2. Tahap Pengolahan Informasi
Selanjutnya, pada langkah kedua ini peneliti membimbing siswa melalui tiga tahapan dalam mengolah informasi yaitu tahap enaktif, ikonik dan simbolik. Ketiga tahapan ini dilalui siswa melalui proses penemuan sifat asosiatif pada penjumlahan berbatuan langkah-langkah percobaan yang akan didemonstrasikan. a) Enaktif
Peneliti memulai tahap ini dengan mendemonstrasikan percobaan buah sebagaimana perintah soal. Seperti halnya pada pertemuan pertama, kegiatan