• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Analisis Deskriptif

Pendeskripsian data ini memuat gambaran umum mengenai hasil pretest sebelum pelaksanaan pembelajaran, gambaran pelaksanaan pendekatan struktural genetik, dan gambaran pelaksanaan pendekatan konvensional, serta hasil post test setelah perlakuan diberikan kepada kedua kelompok amatan yang disajikan pada uraian berikut.

1. Gambaran Pelaksanaan Pendekatan Struktural Genetik a. Data Pretest

Hasil pengamatan penulis terhadap hasil pembelajaran siswa dalam memahami puisi melalui pembelajaran daring masih sangat kurang, ini ditandai dengan hasil pretest siswa yang berada pada kategori gagal dan kurang. Juga tergambar dalam proses belajar mengajar dimana siswa tidak aktif dan antusias dalam menerima pelajaran yang diberikan oleh guru, siswa hanya ingin terus berulang-ulang membaca puisi tapi tidak mengetahui bagaimana penghayatan dan apa yang tergambar dalam isi puisi yang dibacanya. Sehingga pemahaman puisi yang dimiliki siswa hanya sebatas membaca puisi.

b. Data Post test

Hasil pengamatan penulis terhadap keefektifan pendekatan struktural genetik yang diberikan perlakuan kepada siswa kelas eksperimen menunjukkan bahwa pada umumnya siswa tertarik dan sangat antusias mengikuti proses pembelajaran setelah dijelaskan oleh guru secara struktur dan menyenangkan melalui pembelajaran daring. Siswa lebih mudah memahami puisi secara utuh dan menyeluruh. Pembelajaran puisi tidak lagi dianggap sebagai yang sulit dan membosankan melainkan sebagai kegiatan belajar yang menyenangkan karena siswa diajarkan apresiasi puisi yang sesuai dengan pendekatan struktural genetik yakni pendekatan dalam pembelajaran sastra yang mengkaji puisi dengan menelaah struktur fisik meliputi rima, imaji, kata konkret dan majas. Struktur batin meliputi tema, perasaan, amanat. Adapun faktor genetik dari puisi adalah penyair dan kenyataan sejarah yang turut menentukkan makna puisi. Pembahasan puisi ini lebih terarah pada sasaran yang tepat. Siswa lebih termotivasi untuk berpikir kritis dan kreatif dalam pembelajaran puisi, sebab teknik analisis puisi ini dapat memudahkan siswa dalam memahami puisi yang dibacanya secara utuh dan menyeluruh.

Untuk mengetahui keefektifan pendekatan struktural genetik dalam pembelajaran puisi dapat diungkapkan dengan membandingkan antara nilai pretest dan post test siswa yang diajar pada kelas eksperimen. Selanjutnya, untuk mengetahui keberartian keefektifannya, maka nilai yang diperoleh siswa pada kelas eksperimen dibandingkan dengan nilai siswa yang berada pada kelas kontrol, baik antara nilai pretest atau post test pada masing-masing kelompok amatan.

1) Struktur Fisik

Hasil analisis struktur fisik dari hasil belajar siswa dengan pembelajaran puisi “R.A Kartini” karya Final Melinda. Setelah diberi perlakuan, siswa tampak antusias mengerjakan tugas untuk mengidentifikasi rima, kata-kata konkret, imaji serta majas yang terdapat dalam puisi “R.A Kartini”

karya Final Melinda. Sebagian besar siswa menjawab dengan baik dan benar rima yaitu persamaan bunyi atau pengulangan bunyi pada puisi

“R.A Kartini” karya Final Melinda yaitu persamaan akhir bunyi disetiap akhir baris yang bersajak aa aa. Kata kongkret terdapat beberapa siswa yang menjawab suci melambangkan hati yang bersih, terdapat pula beberapa siswa yang menjawab tanah melambangkan sesuatu tempat tinggal. Ini tampak variasi jawaban dari masing-masing siswa yang menggambarkan antusias serta kreatifitas siswa dalam menganalisis puisi.

Sedangkan majas yang tepat dijawab siswa terdapat pada bait pertama dan ke dua puisi.

2) Struktur Batin

Hasil analisis struktur batin hasil belajar siswa dengan pembelajaran puisi

“R.A Kartini” karya Final Melinda kegiatan yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran struktur batin sama dengan struktur fisik dimana siswa setelah mencari struktur fisik maka selanjutnya siswa mencari struktur batin yaitu tema, perasaan, dan amanat puisi “R.A Kartini” karya Final Melinda. Secara mandiri siswa tampak masih antusias belajar walaupun

terdapat beberapa siswa yang masih sibuk sendiri tidak fokus pada kegiatan

pembelajaran tapi rata-rata siswa antusias untuk berpikir kreatif untuk memberikan hasil terbaik. Sebagian besar siswa menjawab tema puisi

“R.A Kartini” karya Final Melinda dengan benar yaitu patriotisme atau kepahlawanan. Begitupun dengan amanat setiap siswa memberikan amanat yang benar walaupun berbeda bahasa tetapi makna yang sama bahwa anak muda penerus bangsa harus menauladani semangat juang R.A Kartini dalam memperjuangkan perempuan dan bangsa.

3) Faktor Genetik

Hasil analisis belajar faktor genetik siswa dalam puisi “R.A Kartini”

karya Final Melinda siswa dituntut menjelaskan latar belakang sosial budaya penyair dalammembuat puisi “R.A Kartini” karya Final Melinda.

Disini siswa diajak mengenal siapa pengarang puisi. terlihat dari hasil jawaban siswa masing-masing sudah benar menjawab nama pengarang puisi tersebut. Serta penjelasan latar budaya sosial penyair terdapat variasi jawaban dari siswa yaitu beberapa siswa menjawab penyair berlatarkan dari zaman penjajahan, adapula yang menjawab penyair mempunyai rasa yang bangga dan rasa hormat terhadap R.A Kartini sehingga menciptakan puisi tersebut.

Setelah proses belajar dengan diberikan perlakuan siswa kelas eksperimen diberikan post test sebagai tes akhir untuk mengetahui kemampuan akhir siswa setelah diberi perlakuan apa terdapat peningkatan yang signifikan sebelum dan

setelah diberikan perlakuan. Dan hasil post test siswa kelas eksperimen nampak peningkatan dari pretest yang hanya pada kategori hasil belajar gagal dan kurang, meningkat dipost test pada kategori cukup sebanyak 5 siswa, baik 11 siswa, dan cukup baik 9 siswa, hanya terdapat 1 siswa yang berada pada kategori kurang dan 0 siswa pada kategori gagal. Serta dilihat dari hasil ketuntasan belajar kelas eksperimen terdapat pada pretest terdapat 0 siswa yang tuntas dan 26 siswa yang tidak tuntas. Setelah diberi perlakuan terdapat 20 siswa yang tuntas dan 6 siswa yang tidak tuntas. Secara umum pada pretest menunjukkan siswa belum memiliki pengetahuan yang memadai tentang puisi, sedangkan pada post test siswa telah memiliki seperangkat pemahaman tentang puisi yang sangat baik.

2. Gambaran Pelaksanaan Pembelajaran Puisi yang Tidak diberi Pendekatan Struktural Genetik (pendekatan konvensional)

1. Data Pretest

Hasil yang diperoleh dari data pretest siswa menunjukkan hasil pretest yang hampir sama dengan kelas eksperimen sebelum diberi perlakuan dimana nilai kelas kontrol pada pretest berdasarkan kategori hasil belajar siswa terdapat 8 siswa dalam kategori gagal, 15 siswa dalam kategori kurang dan 1 siswa dalam kategori cukup. Dengan distribusi ketuntasan sebanyak 0 siswa berada pada kategori tuntas dan 24 siswa berada pada kategori tidak tuntas.

Proses belajar siswa juga tidak jauh beda dengan siswa kelas eksperimen sebelum diberi perlakuan, minat siswa dalam belajar sangat kurang, siswa hanya mendengarkan guru membacakan puisi dan selanjutnya siswa bergilir membacakan puisi yang telah dibacakan oleh guru sebelumnya. Setelah semua siswa membacakan puisi siswa diberi tugas oleh guru menjawab soal yang

pertanyaannya berkaitan dengan puisi, yaitu menanyakan judul puisi, menceritakan puisi dengan bahasa anak sendiri, menjelaskan amanat puisi. Ini secara singkat hanya memberikan pemahaman terbatas kepada siswa tentang puisi serta membuat aktifitas belajar siswa menjadi tidak aktif dan kreatif dalam memahami puisi.

2. Data Post test

Hasil belajar siswa kelas kontrol yang tidak menggunakan pendekatan structural genetik (pendekatan konvensional) pada kegiatan awal pembelajaran guru membacakan puisi “R.A Kartini” karya Final Melinda selanjutnya secara bergilir siswa membacakan puisi. Setelah itu guru menjelaskan kepada siswa tentang tanda jeda puisi serta isi puisi dalam cerita, selanjutnya siswa diberikan tugas mencari jeda puisi “R.A Kartini” karya Final Melinda dan menceritakan puisi tersebut. Dari hasil kerja siswa tampak siswa menjawab dengan tanda jeda awal, jeda akhir dan intonasi naik serta turun tapi masih banyak siswa yang salah menempatkan tanda jeda tersebut. Selanjutnya menceritakan isi puisi terlihat beberapa siswa hanya menulis ulang puisi dalam bentuk paragraf namun terdapat pula siswa yang dapat menceritakan puisi dengan bahasanya sendiri dengan kalimat sederhana.

Selanjutnya pada pertemuan berikut siswa diberikan tugas menganalisis tema, amanat dan ciri-ciri puisi “R.A Kartini” karya Final Melinda yang sebelumnya telah dijelaskan oleh guru tentang tema, amanat, dan ciri-ciri puisi.

Dalam menjawab tugas ini tampak siswa ada kemajuan yaitu mampu menjawab tema dengan baik juga amanat mampu dijawab dengan benar, yaitu tema yang

dijawab siswa pahlawan, amanat juga bervariasi yang intinya berjuang dengan keras untuk mencapai cita-cita tinggi. Namun tidak semua siswa menjawab dengan benar. Masih Nampak beberapa siswa yang tidak antusias dalam mengerjakan tugas yang diberikan sehingga siswa sulit untuk memahami puisi secara menyeluruh.

Hasil akhir post test terlihat ketuntasan masing-masing siswa dimana terdapat 12 siswa yang berada pada kategori tuntas dan 12 siswa berada pada kategori tidak tuntas, ini berarti 50% siswa yang berada pada kategori tidak tuntas.

Hal ini masih jauh dari yang diharapkan dimana masih ada 50% siswa yang tidak tuntas. Ini menunjukkan bahwa secara umum pemahaman puisi siswa kelas kontrol masih kurang dibandingkan kelas eksperimen setelah diberi perlakuan.

3. Hasil Belajar Siswa yang Diajar dengan Pembelajaran Konvensional Pada Kelas Kontrol

Hasil belajar siswa pada kelas kontrol dideskripsikan berdasarkan analisis data tes awal (pree-test) dan tes akhir (post-test). Dari hasil pengolahan data hasil belajar pada kelas Kontrol diperoleh rekapitulasi data hasil belajar siswa seperti tampak pada tabel berikut.

Tabel 4.1. Rekapitulasi hasil belajar puisi siswa pada kelas Kontrol

Pree-test Post-test

Ukuran Sampel 24 24

Mean 42,50 65,62

Median 45,5 65,5

Mode 43,1 71,33

Std. Deviation 7,66 9,92

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

50 55 60 65 70 75 80

Frekuensi

Nilai

Pre Test

0 1 2 3 4 5 6 7

40 45 50 55 60 65 70 75 80 85 90 95 100

Frekuensi

Nilai

Post test

Variance 58,69 95,13

Minimum 30 45

Maximum 60 85

Berdasarkan data hasil belajar puisi siswa pada pree-test terlihat bahwa nilai mean 42,50, median 45,5 dan modus 43,1 menunjukan bahwa sekitar 50% siswa memperoleh nilai dibawah 45. sedangkan pada post-test terlihat bahwa nilai mean 65,62 median 65,5 dan modus 71,33 menunjukan bahwa sekitar 50% siswa memperoleh nilai dibawah 67,71. Simpangan baku pree-test adalah 7,66 lebih kecil dari pada simpangan baku post-test yaitu 9,92.Hal ini menunjukan bahwa variasi dari kemampuan siswa sebelum konvensional dan setelah diberikan pembelajaran secara konvensional hampir sama.

Adapun histogram hasil belajar puisi siswa untuk data pree-test dan post-testpada kelas kontrol disajikan sebagai berikut.

Gambar 4.1 Histogram hasil belajar puisi siswa pada kelas Kontrol

0 0 1

15

8

0 0 4.16

62.5

33.33

1

11 7 5

4.16 0

45.83

29.16

20.83

0 0

10 20 30 40 50 60 70

Baik sekali Baik Cukup Kurang Gagal

Distribusi Hasil Pembelajaran Puisi Siswa pada Kelas Kontrol

Pre Test Frekuensi Pre Test Persentase Post test Frekuensi Post Test Presentase

Adapun kategori perolehan hasil belajar siswa pada kelas kontrol disajikan pada tabel berikut.

Tabel 4. 2. Kategori hasil pembelajaran puisi siswa untuk pretest dan post test pada kelas kontrol

NO Interval Nilai

Kategori Pree_Test Post_Test

Frekuensi Presentase (%)

Frekuensi Presentase (%) 1 80 – 100 Baik

Sekali

0 0 1 4.16

2 66 – 79 Baik 0 0 11 45.83

3 56 – 65 Cukup 1 4,16 7 29.16

4 40 -55 Kurang 15 62,5 5 20.83

5 0 39 Gagal 8 33,33 0 0

Jumlah 24 100 24 100

Jika data tersebut digambarkan dalam bentuk diagram batang, maka distribusi frekuensi akan sebagai berikut:

Gambar 4.2 Distribusi Hasil Pembelajaran Puisi Siswa pada Kelas Kontrol Data di atas menunjukkan bahwa hasil belajar kelas Kontrol sebelum diberi pembelajaran konvensional yaitu 0% berada pada kategori baik sekali dan baik, 4.16 % berada pada kategori cukup. 62.5 % berada pada kategori kurang, dan

33,33 % berada pada kategori gagal. Sedangkan hasil belajar siswa setelah diberi pembelajaran konvensional yaitu 4.16 % berada pada kategori baik sekali, 45.83

% berada pada kategori Baik, 29.16 % siswa berada pada kategori Cukup, 20.83

% berada pada ketegori kurang dan tidak ada siswa yang berada pada kategori gagal.

Ditinjau dari ketuntasan siswa, hasil belajar siswa disajikan pada tabel berikut.

Tabel 4.3. Distribusi ketuntasan siswa pada kelas kontrol Frekuensi Persentase Ketuntasan

klasikal (%)

Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tidak Tuntas

Pree-test 0 24 0 100

Post-test 12 12 50 50

Tabel di atas menunjukan bahwa secara umum pada pree-test siswa belum memiliki pengetahuan yang memadai tentang puisi, sedangkan pada post-test, siswa telah memiliki seperangkat pengetahuan tentang puisi, tetapi hanya 50 %.

Hal ini masih jauh dari yang diharapkan, dimana masih ada 50 % siswa yang belum tuntas.

4. Hasil Belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran Stuktural Genetik pada kelas Eksperimen

Hasil belajar siswa pada kelas eksperimen dideskripsikan berdasarkan analisis data tes awal (pree-test) dan tes akhir (post-test). Dari hasil pengolahan

data hasil belajar pada kelas eksperimen dengan pendekatan Struktural Genetik diperoleh rekapitulasi data hasil belajar puisi siswa seperti tampak pada tabel berikut:

Tabel 4.4. Rekapitulasi hasil belajar puisi siswa pada kelas eksperimen

Pree-test Post-test

Ukuran Sampel 26 26

Mean 38.46 75.19

Median 35.5 73

Mode 31 72.58

Std. Deviation 7.58 10.63

Variance 57.56 113

Minimum 25 50

Maximum 55 95

Berdasarkan data hasil belajar puisi siswa pada pree-test terlihat bahwa nilai mean 38,46, median 35,5 dan modus 31 menunjukan bahwa sekitar 50% siswa memperoleh nilai dibawah 40. sedangkan pada post-test terlihat bahwa nilai mean 75,19 median 73,00 dan modus 72,58 menunjukan bahwa sekitar 35% siswa memperoleh nilai dibawah 75,00. Simpangan baku pree-test adalah 7,58 lebih kecil dari pada simbangan baku post-test yaitu 10,63. Hal ini menunjukan kemampuan siswa setelah diberikan pembelajaran dengan pendekatan struktural genetik lebih bervariasi dari pada sebelum diberikan pembelajaran dengan pendekatan struktural genetik yaitu sebanyak 76,92 % tuntas dan 23,07 % tidak tuntas.

Adapun histogram hasil belajar puisi siswa untuk data pree-test dan post-test pada kelas eksperimen disajikan sebagai berikut.

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

45 50 55 60 65 70 75 80

Frekuensi

Nilai

Pre Test

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

45 50 55 60 65 70 75 80 85 90 95

Frekuensi

Nilai

Post Test

Gambar 4.3 Histogram hasil belajar puisi siswa pada kelas eksperimen Adapun kategori perolehan hasil belajar siswa pada kelas Eksperimen disajikan pada tabel berikut.

Tabel 4. 5. Kategori hasil pembelajaran puisi siswa pada kelas eksperimen N

O

Interval Nilai

Kategori hasil Pembelaja

ran

Pree_Test Post_Test Frekuensi Presentase

(%)

Frekuensi Presentase (%)

1 80 – 100 Baik Sekali 0 0 9 34.61

2 66 – 79 Baik 0 0 11 42.30

3 56 – 65 Cukup 0 0 5 19.23

4 40 – 55 Kurang 13 50 1 3.84

5 0 – 39 Gagal 13 50 0 0.00

Jumlah 26 100 26 100

Jika data tersebut digambarkan dalam bentuk diagram batang, maka distribusi frekuensi akan sebagai berikut.

0 0 0

13 13

0 0 0

50 50

9 11

5 1 0

34.61

42.3

19.23

3.84

0 0

10 20 30 40 50 60

Baik sekali Baik Cukup Kurang Gagal

Distribusi Hasil Pembelajaran Puisi Siswa pada Kelas Eksperimen

Pre Test Frekuensi Pre Test Persentase Post test Frekuensi Post Test Presentase

Gambar 4.4 Distribusi hasil pembelajaran puisi siswa pada kelas eksperimen Data di atas menunjukkan bahwa hasil belajar kelas Eksperimen sebelum diberi pembelajaran konvensional yaitu 0% berada pada kategori baik sekali, baik, dan cukup, 50 % berada pada kategori kurang, dan 50 % berada pada kategori gagal. Sedangkan hasil belajar siswa setelah diberi pembelajaran dengan pendekatan struktural genetik yaitu 34,61 % berada pada kategori baik sekali, 42.30 % berada pada kategori Baik, 19,23 % siswa berada pada kategori Cukup, 3,84 % berada pada ketegori kurang dan tidak ada siswa yang berada pada kategori gagal.

Ditinjau dari ketuntasan siswa, hasil belajar siswa disajikan pada tabel berikut.

Tabel 4.6. Distribusi ketuntasan siswa pada kelas eksperimen Frekuensi Persentase Ketuntasan

klasikal (%)

Tuntas Tidak Tuntas Tuntas Tidak Tuntas

Pree-test 0 26 0 100

Post-test 20 6 76,92 23,07

Tabel 4.6 menunjukan bahwa secara umum pada pree-test siswa belum memiliki pengetahuan yang memadai tentang puisi, sedangkan pada post-test, siswa telah memiliki seperangkat pengetahuan tentang puisi yang sangat baik, yakni 76,92 % siswa sudah memenuhi kriteria ketuntasan, dan hanya 23,07 % siswa yang belum tuntas.

Dokumen terkait