BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
5. Pendekatan Struktural Genetik
Pelaksanaan pembelajaran dalam pendidikan formal maupun non formal terkhusus dalam pembelajaran bahasa sangat dipengaruhi oleh pendekatan pembelajaran dan juga metode pembelajaran. Keduanya memiliki arti masing-masing dimana pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Sedangkan metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. (Sudrajat, Akhmad. http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/09/12/pendekatan-strategi-metode-teknik-dan-model-pembelajaran/).
Pendekatan struktural genetik mengacu pada metode pembelajaran struktural, yang mana metode struktural ini menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola-pola interaksi siswa dengan tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik dan keterampilan sosial.
(Asyirint, 2010: 63). Beberapa teknik dari metode struktural ini salah satunya teknik mencari pasangan dan team, teknik ini dimaksudkan agar siswa mencari pasangan atau team sambil belajar mengenai suatu konsep. Hal ini sejalan dengan pendekatan struktural genetik yang akan diterapkan kepada siswa. Siswa belajar sastra puisi dengan menelaah struktur fisik, batin dan faktor genetik suatu puisi melalui tahap pendekatan dan metode struktural.
Pendekatan struktural genetik dikembangkan pertama kali oleh seorang ahli sastra Perancis yang bernama Lucien Goldman. Goldman menamakan teorinya strukturalisme genetik yang artinya ia percaya bahwa karya sastra merupakan sebuah struktur. Akan tetapi, struktur ini merupakan produk dari proses sejarah yang terus berlangsung. Goldman adalah orang yang mengembangkan fenomena hubungan antara sastra dengan masyarakat dengan teorinya yang dikenal dengan dengan nama strukturalisme genetik. Dalam hal ini, Goldman mengemukakan bahwa fakta kemanusiaan merupakan struktur yang bermakna. Semua aktivitas manusia merupakan respons dari subjek kolektif atau individu dalam situasi tertentu yang merupakan kreasi untuk memodifikasi situasi yang ada agar cocok dengan aspirasinya.
Struktural genetik merupakan sebuah pernyataan yang dianggap sahih mengenai kenyataannya. Pernyataan itu dikatakan sahih apabila di dalamnya terkandung gambaran mengenai tata kehidupan yang bersistem dan terpadu, yang didasarkan pada sebuah landasan ontologis yang berupa kodrat keberadaan kenyataan itu dan pada landasan epistemologis yang berupa seperangkat gagasan yang sistematik mengenai cara memahami atau mengetahui kenyataan yang bersangkutan. Menurut Goldman dalam (Faruk, 2012: 56-80) konsep dasar yang membangun teori stukturalisme genetik yaitu fakta kemanusiaan, subjek kolektif, strukturasi, pandangan dunia, pemahaman dan penjelasan.
a) Fakta Kemanusiaan
Goldmann menganggap bahwa fakta kemanusiaan merupakan suatu struktur yang bermakna. Maksudnya adalah fakta-fakta itu sekaligus mempunyai struktur
tertentu dan maksud tertentu. Oleh karena itu, pemahaman mengenai fakta-fakta kemanusiaan harus mempertimbangkan struktur dan maknanya. Fakta kemanusiaan bermakna karena fakta tersebut merupakan respon-respon dari subjek kolektif ataupun individual, pembangunan suatu percobaan untuk memodifikasi situasi yang ada agar sesuai dengan aspirasi-aspirasi subjek itu.
Lebih jelasnya fakta-fakta itu merupakan hasil usaha manusia dalam mencapai keseimbangan yang lebih baik dalam hubungannya dengan dunia sekitarnya.
b) Fakta Kemanusiaan Bersifat Kolektif
fakta kemanusiaan bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja, melainkan merupakan hasil aktifitas manusia sebagai subjeknya. Dalam hal ini subjek fakta kemanusiaan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu subjek sebagai individu dan subjek kolektif. Subjek individual merupakan subjek fakta individual (libidinal), sedangkan subjek kolektif merupakan subjek fakta sosial (histories).
Goldman (1970: 597) dalam (Faruk, 2012) menganggap bahwa tidak semua fakta kemanusiaan bersumber pada subjek individual misalnya, seperti revolusi sosial, politik, ekonomi, dan karya-karya cultural merupakan fakta sosial. Subjek kolektif yang demikian juga menjadi subjek dalam karya sastra, karna karya sastra seperti karya sastra merupakan hasil aktifitas yang objeknya sekaligus alam semesta dan kelompok manusia. Goldman menspesifikasikan fakta itu ke dalam kelas-kelas sscial dalam pengertian marxis.
c) Struktur Karya Sastra
Karya Sastra merupakan produk strukturasi dari subjek kolektif. Karya sastra, seperti karya sastra mempunyai struktur yang koheren dan terpadu. Dalam
“The Epistemology of Sociology” Goldman (1981:55-74) dalam (Faruk, 2012) mengemukakan dua pendapat mengenai karya sastra pada umumnya. Pertama karya sastra merupakan ekspresi pandangan dunia secara imajiner. Kedua dalam karya sastra diekspresikan pandangan dunia itu secara semesta, seperti tokoh-tokoh, objek-objek, dan relasi secara imajiner. Menurut Goldman (1977a: 1-2) dalam (Faruk, 2012) yang dimaksud dengan nilai-nilai otentik dalam karya sastra itu adalah totalitas yang secara tersirat muncul nilai-nilai yang mengorganisasikannya sesuai dengan metode dunia sebagai totalitas. Oleh karna itu, nilai-nilai itu hanya ada dalam kesadaran penulis (pengarang) karya sastra dengan bentuk konseptual dan abstrak.
d) Nilai-nilai Masyarakat dalam Karya Sastra
Goldman (1977:7 dalam Faruk, 2012) mengatakan bahwa bentuk karya sastra merupakan trans posisi kedataran sastra kehidupan sehari-hari dalam masyarakat individualistik yang diciptakan oleh produksi kehidupan nyata.
Selanjutnya ia menyatakan adanya kesejajaran yang kuat antara bentuk literer karya sastra dengan hubungan keseharian antara manusia dengan sesamanya dalam kehidupan masyarakat. Dalam kaitannya dengan kehidupannya itu Goldman merinci ada dua konsep penting yang berguna untuk pemahaman mengenai jenis-jenis hubungan itu, yaitu hubungan yang sehat dan hubungan yang tidak sehat antara manusia.
Pendekatan struktural genetik ini merupakan salah satu pendekatan di dalam penelitian sastra yang lahir sebagai reaksi dari pendekatan struktural murni.
Pendekatan structural ini adalah pendekatan dalam penelitian sastra yang memusatkan perhatian pada sastra sebagai suatu karya fiksi. Pendekatan ini juga menggunakan metode dialetik.
Melalui ke empat konsep dasar di atas yang membangun stukturalisme genetik jelas bahwa karya sastra yang besar merupakan produksi strukturasi dari subjek kolektif seperti yang dikemukakan di atas. Oleh karena itu, karya sastra mempunyai struktur yang koheren dan terpadu.
Goldman dalam (Faruk, 2012:58) menjelaskan bahwa manusia dan lingkungan sekitarnya selalu berada dalam proses strukturasi timbal balik yang selalu bertentangan tetapi sekaligus saling isi mengisi. Disatu pihak manusia selalu berusaha mengasimilasikan lingkungan sekitarnya ke dalam skema pikiran dan tindakannya
Bagi strukturalisme genetik karya sastra hidup dalam dan menjadi bagian dari proses asimilasi dan akomodasi yang terus menerus. Karya sastra yang pada dasarnya adalah aktivitas strukturasi yang dimotivasi oleh adanya keinginan dari subjek karya sastra untuk membangun keseimbangan dalam hubungan antara dirinya dan lingkungan di sekitarnya. Juhl dalam (Rapi Tang, 2007:28) menyatakan bahwa penafsiran terhadap karya sastra yang mengabaikan pengarang sebagai pemberi makna akan sangat berbahaya karena penafsiran tersebut akan mengorbankan ciri khas, kepribadian, cita-cita, dan juga norma-norma yang dipegang oleh pengarang tersebut dalam hubungan sosial tertentu. Apabila karya
sastra dipahami dari aspek intrinsiknya, maka karya sastra dapat dianggap lepas dari konteks sosialnya. Padahal hakikat karya sastra selalu berkaitan dengan masyarakat dan sejarah yang meliputi penciptaan sebuah karya sastra.
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa jika penafsiran itu meniadakan pengarang dengan segala eksistensinya di dalam signifikan penafsiran dan objektifikasi penafsiran dalam sebuah karya sastra akan diragunakn lagi karena memberi kemungkinan lebih besar terhadap campur tangan pembaca di dalam penafsiran karya sastra.
Penelitian sastra seharusnya bertolak dari interprestasi dan analisis karya sastra itu sendiri. Pendekatan yang bertolak dari dalam karya sastra itu disebut pendekatan objektif. Analisis struktural adalah bagian yang terpenting dalam merebut makna di dalam karya sastra itu sendiri. Karya sastra mempunyai sebuah sistem yang terdiri atas unsur yang saling berhubungan. Untuk mengetahui kaitan antar unsur dalam karya sastra itu sangat tepat jika penelaahan teks sastra diawali dengan pendekatan struktural.
Strukturalisme sering digunakan oleh peneliti untuk menganalisis seluruh karya sastra dimana kita harus memperhatikan unsur-unsur yang terkandung dalam karya sastra tersebut. Analisis struktur dapat dilakukan dengan cara mengidentifikasi, mengkaji, mendeskripsikan fungsi dan hubungan antar unsur intrinsik yang bersangkutan (Nurgiyantoro, 2000: 37).
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan analisis struktural adalah penguraian karya sastra atas bagian-bagian atau norma-normanya, atau atas unsur-unsur yang membangunya. Dengan pendekatan tersebut karya sastra yang
komplek dan rumit dapat dipahami. Dengan demikian, dimungkinkan orang untuk memberikan penilaian terhadapnya.
Karya sastra mempunyai sebuah sistem yang terdiri atas berbagai unsur pembangunya. Untuk mengetahui unsur yang ada dalam karya sastra itu sangat tepat jika penelaahan teks sastra diawali dengan pendekatan struktural.
Strukturalisme sering digunakan oleh peneliti untuk menganalisis seluruh karya sastra dimana kita harus memperhatikan unsur-unsur yang terkandung dalam karya sastra tersebut.
Menurut Faruk (1988: 16) Teori struktural adalah suatu disiplin yang memandang karya sastra sebagai suatu struktur yang terdiri atas beberapa unsur yang saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya. Pendekatan struktural berusaha untuk objektif dan analisis bertujuan untuk melihat karya sastra sebagai sebuah sistem, dan nilai yang diberikan kepada sistem itu amat tergantung kepada nilai komponen-komponen yang ikut terlibat di dalamnya.
Analisis struktural bertujuan menelaah seteliti mungkin hubungan, jalinan dan keterkaitan semua unsur karya sastra yang menghasilkan suatu keseluruhan yang koheren. Pendekatan ini dianggap sebagai satu-satunya pendekatan yang mampu merekonstruksi pandangan dunia pengarang, mengoreksi pendekatan struktural otonom dengan memasukkan faktor genetik dalam memahami karya sastra. Genetik merupakan asal usul karya sastra yang meliputi pengarang dan realita sejarah yang turut mendukung penciptaan karya sastra tersebut. Budaya, latar belakang sejarah, perkembangan zaman, dan sosial masyarakat memiliki andil besar terhadap karya sastra baik dalam segi isi maupun bentuk.
Keberadaan pengarang dalam lingkungan sosial masyarakat tertentu, ikut mempengaruhi karya sastra yang dibuatnya. Dengan demikian suatu masyarakat tertentu yang ditempati pengarang akan dengan sendirinya mempengaruhi jenis sastra yang dihasilkan pengarang. Hakikat struktural pada pendekatan Goldman ini terletak pada cara penelitian karya sastra itu sendiri dan penghubungannya dengan sosiobudaya.
Dalam menghasilakan sebuah karya pengarang sangat ditentukan dan dipengaruhi oleh tata kemasyarakatan yang berlaku karena pendekatan structural genetik tetap berpijak pada pendekatan struktural dan objektif dan berkaitan erat dengan faktor genetik di dalam memahami sebuah karya sastra. Dengan demikian pandangan, nilai-nilai, dan sikap tentu saja sangat dipengaruhi oleh kemasyarakatan yang berlaku dan yang harus dipatuhi pula oleh pengarang. Hal inilah yang merupakan latar belakang penentu apa yang harus ditulis pengarang, untuk siapa karya sastra ditulis, dan apa tujuan serta maksud penulis.
Hal yang sangat jelas sebagai landasan bahwa selain menelaah struktur pembangunan karya (intrinsik) dari dalam, apresiator harus memasukkan faktor-faktor dari luar (ekstrinsik). Sehingga melalui pendekatan ini timbul sebuah pemahaman secara sadar bahwa karya sastra diciptakan oleh pengarang dengan memadukan antara kreativitas dan faktor imajinasi yang kuat dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial yang ada dan dalam masyarakat.