BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
6. Memahami Puisi dengan Pendekatan Struktural Genetik
Keberadaan pengarang dalam lingkungan sosial masyarakat tertentu, ikut mempengaruhi karya sastra yang dibuatnya. Dengan demikian suatu masyarakat tertentu yang ditempati pengarang akan dengan sendirinya mempengaruhi jenis sastra yang dihasilkan pengarang. Hakikat struktural pada pendekatan Goldman ini terletak pada cara penelitian karya sastra itu sendiri dan penghubungannya dengan sosiobudaya.
Dalam menghasilakan sebuah karya pengarang sangat ditentukan dan dipengaruhi oleh tata kemasyarakatan yang berlaku karena pendekatan structural genetik tetap berpijak pada pendekatan struktural dan objektif dan berkaitan erat dengan faktor genetik di dalam memahami sebuah karya sastra. Dengan demikian pandangan, nilai-nilai, dan sikap tentu saja sangat dipengaruhi oleh kemasyarakatan yang berlaku dan yang harus dipatuhi pula oleh pengarang. Hal inilah yang merupakan latar belakang penentu apa yang harus ditulis pengarang, untuk siapa karya sastra ditulis, dan apa tujuan serta maksud penulis.
Hal yang sangat jelas sebagai landasan bahwa selain menelaah struktur pembangunan karya (intrinsik) dari dalam, apresiator harus memasukkan faktor-faktor dari luar (ekstrinsik). Sehingga melalui pendekatan ini timbul sebuah pemahaman secara sadar bahwa karya sastra diciptakan oleh pengarang dengan memadukan antara kreativitas dan faktor imajinasi yang kuat dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial yang ada dan dalam masyarakat.
karya seni mengandung keindahan dan keindahan menimbulkan rasa senang.
Dengan demikian, puisi juga mengandung keindahan yang dapat menimbulkan rasa senang. Dengan kata lain, puisi dapat dinikmati. Namun, menikmati keindahan sebuah puisi tidak semudah menikmati seni musik, seni tari, atau seni lukis. Sebab, untuk bisa menikmati sebuah puisi lebih dahulu kita harus bisa memahami puisi yang dituliskan sang penyair.
Memahami puisi terkadang memang tidak mudah. Mengapa? Bahasa puisi berbeda dengan bahasa yang kita gunakan sehari-hari. Penyair sengaja memilih kata-kata yang indah, yang dapat menimbulkan kemerduan bunyi dan sekaligus dapat menggambarkan ide yang ingin disampaikan dengan tepat. Cara penyair menyampaikan ide pun tidak secara langsung, melainkan melalui simbol-simbol, perbandingan-perbandingan, dan kiasan-kiasan. Selain itu, kata-kata dalam puisi amat terbatas, karena penyair “membuang” kata-kata yang tidak terlalu penting.
Kata-kata yang digunakan hanya kata-kata terpilih untuk mewujudkan keindahan puisi. Meskipun jumlah katanya amat terbatas,sebenarnya puisi mengekspresikan pikiran penyair secara lengkap.
Untuk memamhami puisi biasanya diberikan ciri-ciri khas yang membedakan puisi dengan karya sastra lain melalui unsur-unsurnya. Salah satu cara untuk memahami puisi secara utuh dan menyeluruh adalah dengan menggunakan pendekatan struktural genetik. Pendekatan ini mengkaji puisi dengan menelaah unsur-unsur puisi, yaitu struktur fisik, struktur batin, dan faktor genetik. Untuk lebih jelasnya, berikut ini diuraikan ketiga hal tersebut.
a. Struktur Fisik
Menurut Sadikin (2011:23) “Struktur fisik adalah struktur yang bisa kita lihat melalui bahasanya yang tampak. Struktur fisik terdiri atas: diksi, pengimajian, kata konkret, bahasa figuriratif atau majas, verifikasi, dan tata wajah.”
1) Diksi
Diksi adalah pemilihan kata untuk menyampaikan gagasan secara tepat.
Selain itu Sadikin (2011:27) menjelaskan bahwa diksi juga berarti:
a) kemampuan memilih kata dengan cermat sehingga dapat membedakan secara tepat nuansa makna (perbedaan makna yang halus) gagasan yang ingin disampaikan.
b) kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai dengan situasi dan nilai rasa.
Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka dalam pemilihan kata-katanya harus secara secermat mungkin. Kemampuan memilih dan menyusun kata amat penting bagi penyair. Sebab pilihan dan susunan kata tepat dapat menghasilkan rangkaian bunyi yang merdu, makna yang dapat menimbulkan rasa keindahan, kepadatan bayangan yang dapat menimbulkan kesan yang mendalam. Oleh sebab itu, disamping memilih kata yang tepat, penyair juga mempertimbangkan urutan katanya dan kekuatan atau daya magis dari kata-kata tersebut.
Pemilihan dan penyusunan kata seperti gelombang melambung tinggi, atau roda pedati berderak-derak atau hilang terbang atau meradang menerjang atau hilang rasa, selain menimbulkan kemerduan bunyi, juga menimbulkan rasa estetis dan kesan mendalam. Hal yang tak kalah penting dalam puisi adalah bunyi kata.
Pemilihan kata-kata mempertimbangkan berbagai aspek estetis, maka kata-kata
yang sudah dipilih oleh penyair dalam puisinya bersifat absolute dan tidak bisa diganti dengan padan katanya sekalipun maknanya tidak berbeda. Jika diganti maka akan mengganggu komposisi konstruksi keseluruhan puisi itu. Contoh dalam puisi “Aku”. Chairil Anwar menulis salah satu baris puisinya berbunyi:
Kalau sampai waktuku / kumau tak seorang kan merayu. Kata-kata dalam puisi tersebut tidak boleh dibolak-balik menjadi misalnya: kalau waktuku sampai / ku mau kan tak seorang merayu. Penggantian urutan kata akan merusak konstruksi puisi itu sehingga dapat berakibat kehilangan daya magis yang ada dalam puisi tersebut.
Seorang penyair memilih kata berdasarkan makna yang akan disampaikan dari unsure perasaan, suasana batin, dan latar belakang sosial budaya penyair. Ini jelas bahwa penyair yang satu berbeda dalam memilih kata dari penyair lain.
Sebagai contoh Amir Hamzah yang terkenal sebagai penyair religious, banyak memilih kata-kata yang ditunjukkan untuk mengungkapkan imannya kepada Tuhan.
Daya sugesti kata-kata perlu dipertimbangkan oleh penyair dalam memilih kata-kata. Sugesti itu ditimbulkan oleh makna kata yang dipandang sangat tepat mewakili perasaan penyair. Dengan cara seperti itu kata-kata itu akan mampu memberikan sugesti kepada pembaca untuk ikut sedih, terharu, bahagia, bersemangat, senang, dan sebagainya. Rasa berdosa Chairil Anwar dapat diekspresikan dengan baik lewat puisinya “Doa” ini karena kata-kata yang memiliki daya sugesti.
Tuhanku Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMU Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh CahayaMu panas suci
Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi Tuhanku
Aku hilang bentuk Remuk
Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing Tuhanku
Di pintuMu aku mengetuk Aku tidak bisa berpaling
(Dipetik dari Cerdas Berpantun dan Berpuisi Simanjuntak tanpa tahun:41) Kata-kata: cahayaMu panas suci tinggal kerdip lilin di dalam kelam sunyi / hilang bentuk / remuk/ mengembara di negara asing/ di pintuMu aku mengetuk / aku tidak bisa berpaling/ merupakan kata-kata yang mampu menyugesti pembaca.
Untuk menyatakan bahwa penyair sering ragu terhadap Tuhan, maka penyair cukup menyatakan “termangu”.
Cita-Citaku Ciptaan: Angelica Suara indah alat musik
Alunannya tenang mendayu Seakan selalu berbisik Aku selalu ada untukmu Aku suka alat musik itu
Karena itu aku ingin menjadi pemainnya Inilah cita-citaku
Menjadi pemain biola Langkah-langkah kujalani Semua cobaan kulewati
Untuk mendapatkan apa yang kuinginkan Semua akan kuperjuangkan
(Sumber: Buku Siswa SD/MI Kelas IV Tema 6 Cita-citaku 2017:15)
Dari uraian di atas, dapat kita tegaskan betapa pentingnya pemilihan kata atau diksi bagi suatu sajak. Menurut Tarigan (2011b:30) “pilihan kata yang tepat dapat mencerminkan ruang, waktu, falsafah, amanat, efek, dan nada suatu puisi dengan tepat.”
2) Pengimaji
Segala yang dirasa atau dialami secara imajinatif inilah yang biasa dikenal dengan istilah imaji. Semua penyair ingin menyuguhkan pengalaman batin yang pernah dialaminya kepada para penikmat karyanya. Dan salah satu langkahnya untuk memenuhi keinginan tersebut ialah dengan pemilihan serta penggunaan kata-kata yang tepat dalam karya mereka. Pemilihan kata yang tepat dapat memperkuat serta memperjelas imajinasi pikiran manusia. Dan melalui pengimajian tersebut menimbulkan energi yang mendorong imajinasi untuk menjelmakan gambaran yang nyata.
Dalam karyanya, penyair berusaha sekuat tenaga agar para penikmat dapat melihat, merasakan, mendengar, menyentuh, bahkan bila perlu mengalami segala sesuatu yang terdapat dalam sajaknya, sebab hanya dengan jalan itulah penyair dapat meyakinkan para penikmat terhadap realitas dari segala sesuatu yang sedang dibacanya itu. Dalam Shira Media (2011:86) menjelaskan bahwa “Imaji ialah susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti pengelihatan, pendengaran, dan perasaan.”
Pengimajian ditandai dengan penggunaan kata yang konkret dan khas. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji pengelihatan (visual), imaji raba atau sentuhan (taktil). Shira Media (2011:86) ketiganya digambarkan atas bayangan konkret yang dapat dihayati secara nyata.
Azis (2012:106) menjelaskan bahwa “imaji/citra pengelihatan ialah citra yang ditimbulkan dengan memanfaatkan pengalaman indra penglihatan manusia terutama berkaitan dengan dimensi ruang, warna dan kualitas cahaya. imaji visual dapat ditunjukkan pada baris-baris puisi ini:
Sawah tersusun di lereng gunung, Berpagar dengan bukit-barisan, Sayup-sayup ujung ke ujung, Padi mudanya hijau berdandan.
Kalau turun pipt berkawan, Merayap hingga dimayang padi, Terdengar teriak suara perawan, Menyeruh pipit menjauhkan diri.
A. Hasjmy (dalam Tarigan, 2011b:32)
Imaji auditif dapat dihayati dalam puisi Amir Hamzah di bawah ini:
Mengapa jejak selalu nyaring menjelang sampai Daun-daun kering risik di pohon ingin berdentuman Ke air selokan yang deras
Langkah datang dan pergi antara ketokan jam yang berat Amir Hamzah (dalam Azis: 2012:108)
Imaji taktil yang berkaitan dengan indra perabaan yang antara lain adalah:
basah, debu, kering, halus, kasar, keras, lunak, lembut dan sebagainya (Azis, 2012:111). Dalam puisi berikut menunjukkan imaji taktil:
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian Kenang-kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi
Chairil Anwar (dalam Sadikin, 2011:106) 3) Kata Konkret
Salah satu cara untuk membangkitkan daya bayang atau imajinasi para penikmat suatu sajak adalah dengan mempergunakan kata-kata yang tepat dan kongkret, yang dapat menyarankan suatu pengertian menyeluruh. Semakin tepat penyair menetapkan kata-katanya dalam karangannya maka semakin baik pula dia menjelmakan imaji, sehingga para penikmat menganggap bahwa mereka benar-benar melihat, mendengar, merasakan segala sesuatu yang dialami oleh sang penyair. Kata kongkret yang dimaksud disini adalah kata-kata yang berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misalnya kata kongkret salju melambangkan kebekuan, sedangkan kata kongkret rawa-rawa melambangkan tempat yang kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dll.
Setiap penyair berusaha mengkongkretkan hal yang ingin dikemukakan agar pembaca membayangkan dengan lebih hidup apa yang dimaksudnya. Cara yang digunakan oleh penyair dalam pengkongkretan kata ini erat hubungannya dengan pengimajian, pelambanga, dan pengiasan. Jika penyair mahir mengkongkretkan kata-kata maka penyair mampu mensugeti pembaca seolah-olah melihat, mendengar atau merasakan apa yang dilukiskan pleh penyair.
Apabila upaya tersebut berhasil, dan lebih jauh lagi berhasillah sang penyair menyuguhkan nilai-nilai yang merupakan jiwa karyanya itu. Jika diperhatikan puisi berikut
Sawah
Sawah tersusun dilereng gunung Berpagar dengan bukit-barisan Sayup-sayup ujung ke ujung Padi mudanya hijau berdandan
Didangau perawan duduk menyulam Matanya memandang padi huma
Sekali- sesekali ia bernalam Dipetik dari hati mudanya Kalau turun pipit berkawan Merayap hinggap dimayang padi Terdengar teriak suara perawan Menyuruh pipit menjauh diri
A. Hasjmy (dalam Tarigan, 2011b:32)
Dari puisi „Sawah” pipit merupakan kata yang nyata atau kongkret. Begitu pula kata-kata dangau, perawan, huma adalah kata-kata yang nyata dituangkan penyair dalam sajanya. Dalam puisi Chairil Anwar menggunakan kata-kata: aku hilang bentuk/remuk untuk mengkongkretkan gambaran jiwanya yang penuh dosa.
4) Majas
Cara lain yang digunakan oleh para penyair untuk membangkitkan imajinasi itu adalah dengan memanfaatkan majas yang merupakan bahasa khias atau gaya bahasa. Sadikin (2011:32) menjelaskan bahwa “majas adalah gaya bahasa dalam bentuk tulisan maupun lisan yang dipakai dalam suatu karangan yang bertujuan mewakili perasaan dan pikiran pengarang.” Terkadang kala penyair ingin mengeluarkan pikiran dan pendapat dengan sejelas mungkin kepada orang lain.
Kadang-kadang dengan kata-kata belumlah begitu cukup jelas untuk menerangkan sesuatu. Oleh karena itu penyair kadang mempergunakan persamaan, perbandingan serta kata-kata kias lainnya.
Penyair menggunakan kata kiasan untuk menciptakan efek lebih kaya, lebih efektif dalam bahasa puisi. Kiasan yang dimaksud adalah: perbandingan, personifikasi, metafora dan kata-kata kias lainnya. Berikut contoh penggunaan majas atau bahasa kias:
Personifikasi
“Berdiri Aku”
Angin pulang menyejuk bumi Menepuk teluk mengempas emas Lari kegunung memuncak sunyi Berayun alun diatas alas
Amir Hamzah (dalam Tarigan, 2011b:33) Yang mempergunakan metafora, antara lain:
Engkaulah putri duyung Tawananku
Putri duyung dengan suara merdu Lembut bagai angin laut
Rendra (dalam Sadikin, 2011:117)
Metafora merupakan kiasan langsung, artinya benda yang dikiaskan itu tidak disebut. Jadi ungkapan itu langsung berupa kiasan. Seperti contoh puisi Rendra diatas mengiaskan diri kekasihnya sebagai putri duyung.
Selanjutnya ada pula yang mempergunakan persamaan, contohnya Chairil Anwar dalam puisinya “Aku”, menggunakan majas persamaan pada sajak:
Aku ini binatang jalan Dari kumpulannya terbuang
Dan ada pula yang menggunakan Hiperbola adalah kiasan yang berlebih-lebihan.
Penyair merasa perlu mempergunakan kiasan metafora agar mendapat perhatian yang lebih dari pembaca. Chairil Anwar melukiskan sesuatu yang berlebih-lebihan dengan menyatakan; ku mau hidup seribu tahun lagi.
5) Ritme dan Rima
Ritme dan rima atau dengan bahasa lain versifikasi. Besar sekali pengaruhnya untuk memperjelas makna suatu puisi. Rima adalah persamaan atau pengulangan bunyi pada puisi. Dan bunyi tersebut tidak terbatas pada akhir baris, tapi untuk keseluruhan baris, bahkan juga bait. Persamaan bunyi yang dimaksud
disini adalah persamaan bunyi yang memberikan kesan merdu, indah, dan dapat mendorong suasana yang dikehendaki oleh penyair dalam puisi. Dalam rima terdapat onomatope, bentuk interm pada bunyi repatisi bunyi, dan persamaan bunyi.
Ritme adalah turun-naiknya suara secara teratur, ritme sangat menonjol dalam pembacaan puisi. Sadikin (2011:26) memberikan batasan bahwa ritme sebagai alunan yang terjadi karena pengulangan dan pergantian kesatuan bunyi dalam arus panjang pendek suatu buunyi yang memiliki keteraturan. Contohnya Tableau Menjelang Malam
Deretan bangunan. Abu-abu Langit hitam dan sten Menunggu lalu lintas sepi Semua menanti
Jendela bertutupan Apa akan terjadi Disini
Semua menanti
Taufiq Ismail (dalamTarigan, 2011b: 39) 6) Tata Wajah
Tata wajah atau tipografi merupakan bentuk puisi seperti seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kaya, tetapi kanan kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.
Cara sebuah teks ditulis sebagai larik-larik yang khas menciptakan makna tambahan. Makna tambahan into diperkuat dengan penyajian tipograf puisi.
Dalam puisi-puisi kontemporer seperti karya-karya Sutardji Calzoum Bachri, tipografi itu dipandang begitu penting, sehingga menggeser kedudukan makna
kata-kata. Aida Azis (2012:138) menjelaskan bahwa “kadang-kadang bentuk tipograf itu demikian dipentingkan sehingga menggeserkan arti kata dan kalimat.”
Contoh tipografi:
kawin
kawin kawin
kawin
kawin, dst
Tragedi Winka & Sihka Sutardji (dalam Aida Azis, 2012:138) b. Struktur Batin
I.A. Richards dalam (Tarigan, 2011b:9) menyebutkan bahwa hakikat suatu puisi mengandung suatu makna keseluruhan yang merupakan perpaduan dari tema, perasaan, nada, dan amanat.
1) Tema
Puisi pada hakikatnya adalah satu pernyataan perasaan dan pandangan hidup seorang penyair yang memandang sesuatu peristiwa alam dengan ketajaman perasaannya. Perasaan yang tajam inilah yang menggetar rasa hatinya, yang menimbulkan semacam gerak dalam daya rasanya. Lalu ketajaman tanggapan ini berpadu dengan sikap hidupnya mengalir melalui bahasa, menjadilah ia sebuah puisi, yang mewakili ucapan seorang penyair.
Media suatu puisi adalah bahasa, melalui puisi sang penyair ingin mengemukakan sesuatu kepada pembaca atau penikmatnya yang menggunakan media bahasa. Setiap puisi mengandung suatu gagasan pokok untuk dikemukakan
atau ditonjolkan. Hal ini tentu saja tergantung kepada gagasan pokok penyair.
Dimana gagasan pokok adalah merupakan tema yang terkandung dalam puisi.
Pikiran pokok itu begitu mendesaknya di dalam diri penyair, sehingga menjadi landasan utama pengucapannya. Jika landasan yang kuat itu berupa hubungan antara penyair dengan Tuhan maka puisi-puisi dengan tema religi biasanya akan menunjukkan pengalaman religi sang penyair. Jika desakan yang kuat itu berupa hubungan antara penyair dengan negara atau perjuangan maka puisi tersebut bertema perjuangan atau patriotisme.
Menurut Tarigan (2011b:11) memberikan batasan bahwa makna yang dikandung oleh subject matter, suatu puisi itulah yang kita maksudkan dengan istilah sense atau tema. Sebagai contoh perhatikan puisi Armyn Pane berikut ini:
Kembang Setengah Jalan Mejaku hendak dihiasi Kembang jauh dari gunung Kau petik sekarangan kembang Jauh jalan panas hati
Bunganlayu setengah jalan.
Armyn Pane (dalam Tarigan, 2011b:11)
Dari puisi diatas kita dapat menarik kesimpulan bahwa tema dari puisi tersebut adalah “sesuatu yang tak sampai”.
Adapun puisi yang bertemakan kemanusiaan dapat dilihat dalam puisi
“Gadis peminta-minta” karangan Toto Sudarto Bahtiar. Btema perjuangan atau patriotism dalam puisi „Karawang Bekasi” karya Chairil Anwar, dan tema religi atau hubungan dengan Tuhan dapat dilihat dalam puisi “Doa” karya Taufiq Ismail.
2) Rasa
Rasa (Feeling) dalam puisi merupakan perasaan yang disampaikan penyair melalui puisinya. Tarigan (2011b:12) menjelaskan bahwa “rasa adalah sikap sang penyair terhadap pokok permasalahan yang terkandung dalam puisinya”. Puisi mengungkapkan perasaan yang beraneka ragam. Bisa berupa perasaan sedih, galau, senang, gembira, benci, rindu, cinta, kagum, kecewa, marah, bahkan juga perasaan setia kawan.
Jika penyair hendak mengagungkan keindahan alam, maka sebagai sarana ekspresinya ia akan memanfaatkan imaji-imaji, majas, serta diksi yang mewakili dan memancarkan nuansa makna tentang keindahan alam yang digambarkannya itu. Jika ekspresinya merupakan kegelisahan dan kerinduan kepada YME, maka bahasa yang digunakan cenderung kontemplatif atau penyadaran akan eksistensinya dan hakikat keberadaan dirinya sebagai hamba-Nya.
Sikap memuja serta penyerahan diri sepenuhnya ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, jelas tersirat di dalam puisi karya-karya Chairil Anwar dan Amir Hamzah.
Doa Tuhanku, Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu Biar susah sungguh
Mengingat Kau penuh seluruh
Cahayamu panas sucitinggal kerdip lilin dikelam sunyi Tuhanku
Aku hilang bentuk Remuk
Tuhanku
Aku menggembara di negeri asing Tuhanku
dipintuMu aku mengetuk aku tidak bisa berpaling.
Chairil Anwar (dalam Tarigan, 2011b:13) Cinta ibu dan ayah
Karya: D. Maria. K Dalam malam yang pekat Aku terbangun dan menjerit
Bayangan ketakutan mengahntuiku Namun, semua ketakutan sirna Saat ayah dan ibu mendekat Lalu memeluk dengan penuh cinta Tak ada rasa khawatir lagi
Mereka adalah pahlawanku Tak peduli besarnya salahku Tak peduli besarnya ketakutanku Asal mereka ada dibelakangku Mendorongku untuk terus maju
Maka aku tidak takut dengan apapun lagi Terima kasih
Untuk cinta dan kasih sayang kalian Ayah dan ibu
Dari puisi Chairil Anwar diatas “Doa” dan juga puisi anak karya D. Maria. K tergambar jelas bagaimana seorang Chairil Anwar mengungkapkan perasaan cinta dan penghambaannya terhadap Tuhan yang sangat tinggi, Maria yang mengungkapkan perasaan cinta dan kasih sayang terhadap ayah dan ibunya.
3) Nada
Nada merupakan sikap sang penyair terhadap pembacanya. Di mana sikap yang dimaksud adalah sikap batin penyair yang akan diekspresikan kepada pembacanya. Nada dalam puisi berhubungan erat dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, mencemooh, berontak, sombong, sinis, menganggap bodoh dan rendah. Hubungan inilah yang
menimbulkan suasana terhadap pembacanya. Nada duka yang diungkapkan penyair dapat menimbulkan suasana iba hati pembaca. Nada sinis atau kritik yang diberikan penyair dapat menimbulkan suasana penuh pemberontakan bagi pembaca. Nada religius dapat memunculkan suasana khusuk. Dalam puisi Indonesia, nada-nada sinis dapat kita jumpai pada karya-karya Bung Usman dan Taufiq Ismail.
Jalan Segera
Disinilah penembakan Kepengecutan
Dilakukan
Ketika pawau bergerak Dalam panas matahari Dan pelopor pembayar pajak Negeri ini
Ditembuskan kepunggung Anak-anaknya sendiri.
Tarigan (2011b:20)
Kesinisan yang ditonjolkan dalam puisi diatas mudah menimbulkan kebencian yang mengakibatkan pemberontakan yang banyak kita dapati dalam kumpulan sajakTaufiq Ismail seperti “Tirani” dan “Benteng”.
Karangan bunga Tiga anak kecil
Dalam langkah malu – malu Datang ke Salemba sore itu
“ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati Siang tadi”
Pada puisi karangan bunga karya Taufiq Ismail diatas, menonjolkan nada sedih dan suasana duka yang dapat dirasakan.
4) Amanat
Manusia hidup memiliki tujuan. Manusia bekerja ada maksud. Tujuanlah yang mendorong manusia untuk melakukan sesuatu. Amanat atau tujuan dalam puisi sama halnya, merupakan hal yang memotivasi atau mendorong penyair untuk menciptakan puisi. Sang penyair yang menciptakan suatu karya puisi sadar atau tidak disadarinya, dia mempunyai tujuan dengan sajak-sajak ciptaannya itu.
Penafsiran tentang amanat masing-masing puisi dapat bermacam-macam, namun dengan memahami dasar pandangan, filosofi, dan aliran yang dianut oleh penyairnya, kita dapat memperkecil perbedaan tersebut. Inilah tujuan fungsi teori sastra yang berkaitan dengan pribadi pengarang. Bahkan sejarah sastra terciptanya karya sastra akan menolong dalam mendekati amanat penyair secara lebih tepat.
Cara pembaca menyimpulkan amanat puisi sangat berkaitan dengan pandangan pembaca tentang suatu hal. Pada puisi “PadaMu Jua” karya Amir Hamzah bertema ketuhanan. Jika tidak dipahami kedalaman rasa ketuhanan Amir Hamzah, maka ungkapan-ungkapan dengan mempersonifikasikan Tuhan dapat ditafsirkan sebagai pendangkalan iman penyair terhadap Tuhan. Namun, jika pembaca mengetahui cara pandang bahwa Amir Hamzah seorang religius, maka ungkapan-ungkapan itu justru dapat ditafsiran sebagai sikap penasaran penyair karena merasa tidak berdaya dalam usaha memahami rahasia Tuhan.
Dari beberapa uraian tentang amanat dapat kita simpulkan bahwa, amanat merupakan hal yang penting dipahami dalam puisi karena merupakan