• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

3. Pembelajaran membaca Puisi di SD

Dapat disimpulkan bahwa hakikat puisi terdapat empat buah unsur yang tidaklah berdiri sendiri-sendiri tanpa hubungan satu sama lain. Keempatnya merupakan kesatuan utuh yang saling terikat dan berhubungan satu sama lain yaitu tema, rasa, nada dan amanat(tujuan).

Secara teoretis telah begitu banyak batasan-batasan yang dirumuskan oleh para ahli tentang puisi. Batasan tentang puisi tersebut dirumuskan sebagai bentuk kesustraan yang bentuk pengucapan bahasa yang mengandung berbagai jenis gaya bahasa. Yang memperhitungkan adanya aspek bunyi-bunyi yang di dalamnya terkandung pengalaman imajinatif, emosional, dan intelektual penyair yang digali dari kehidupan individual dan sosial, diungkapkan dengan teknik dan unsur tertentu, sehingga puisi ini dapat membangkitkan pengalaman tertentu pula dalam diri pembaca dan pendengarnya.

Berdasarkan batasan yang dikemukakan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa puisi adalah sebuah dunia dalam kata. Berupa ungkapan pikiran, perasaan penyair yang dituangkan dalam suatu kata yang isinya merupakan cerminan pengalaman, pengetahuan, dan perasaan penyair yang membentuk sebuah dunia yang bernama puisi

manusia baik itu di masa lampau, masa kini, maupun masa yang akan dating, sastra sebagai media informasi yang luas. Dalam tulisan Tarigan (2011a:3) “sastra menerangi serta memperjelas kondisi insani dengan cara melukiskan wawasan kita.”

Sastra adalah pelukisan kehidupan dan pikiran imajinatif ke dalam bentuk dan struktur bahasa (Tarigan, 2011a). Wilayah sastra meliputi kondisi insani atau manusia yaitu kehidupan dengan segala perasaan, pikiran, dan wawasannya.

Secara sadar pengalaman sastra itu selalu berdimensi ganda, karena melibatkan pencerita dan penyimak dalam sastra lisan atau buku dan pembaca dalam sastra tulisan.

Pada hakikatnya sastra berkaitan dengan berbagai cabang ilmu seperti budaya, psikologi dan sosial. Karya sastra dapat kita jelaskan dari sudut pengarang, pembaca, atau dari sudut karya sastra itu sendiri. Suatu hasil karya sastra dapat dikatakan memiliki nilai sastra bila di dalamnya terdapat kesepadanan antara bentuk dan isinya. Bentuk bahasanya baik dan indah, dan susunannya beserta isinya dapat menimbulkan perasaan haru dan kagum di hati pembacanya.

Ini jelas bahwa seorang sastrawan yang akan menciptakan suatu karya sastra haruslah memiliki kompetensi bahasa yang baik. Tidak hanya sebatas kompetensi bahasa yaitu sistem yang baik namun juga kreatifitas yang menunjang di dalam diri seorang sastrawan penting digali, sehingga dalam menuangkan ide atau gagasannya menimbulkan suatu pesona atau daya tarik bagi pembacanya. Sampai pada terciptalah suatu karya yang berasal dari perasaan yang diungkapkan melalui kreativitas yang merupakan pengalaman batin sastrawan yang telah melalui proses

perlibatan berbagai pengetahuan yang dimilikinya dan menginginkan wawasan yang luas.

Atas dasar kenyataan sastra seperti itu, Sadikin (2011:6) mengungkapkan bentuk dan isi sastra harus saling mengisi, yaitu dapat menimbulkan kesan mendalam di hati para pembacanya sebagai perwujudan nilai-nilai karya seni.

Relevansi karya sastra dengan aspek penulisan dan pengungkapan bahasanya sangat berpengaruh satu sama lain. Begitu pula relevansi suatu karya sastra dengan berbagai aspek kemanusiaan dan sosial, memberikan peranan yang cukup penting sebagai suatu wadah atau lembaga instansi yang dapat dijadikan acuan dalam mengidentifikasi gejala sosial yang sedang berkembang pada suatu bangsa.

Pembelajaran sastra tidak lepas dari aktivitas pendidikan. Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi tercapainya tujuan pendidikan. Pembelajaran sastra memberikan manfaat untuk menunjukkan kebenaran hidup, memperkaya rohani, menjadikan manusia berbudaya, dapat memiliki santun berbahasa, dan melalui pembelajaran sastra seorang siswa yang bersekolah dapat menimbah ilmu melampaui batas bangsa dan zaman. Tujuan pembelajaran sastra itu sendiri untuk membina membaca sastra, siswa dapat lebih kreatif dalam kesanggupannya untuk memahami, menikmati dan menghargai suatu hasil karya sastra.

Dalam suatu proses belajar mengajar pentingnya membedakan makna pengajaran dan pembelajaran dalam sastra. Suatu proses yang dilakukan oleh guru

dalam membimbing peserta didik untuk memiliki pengalaman belajar, interaksi guru dan siswa. Sedangkan pembelajaran mengandung makna yang lebih luas.

Ditinjau dari aspek strategi, pendekatan dan metode pembelajaran memungkinkan siswa menuntut apa yang mereka inginkan, sehingga model strategi mengajar yang digunakan juga harus membuka peluang tumbuh dan berkembangnya kreativitas pada siswa.

Pembelajaran membaca puisi sebagai bagian dari pembelajaran membaca sastra dimana puisi adalah suatu karya sastra yang diajarkan disetiap jenjang pendidikan yang ada di Indonesia bahkan di seluruh dunia. Dimana tujuan dari pembelajaran membaca puisi agar siswa mampu memahami puisi yang dibacanya.

Untuk memahami itu dengan baik, diperlukan pembelajaran membaca puisi yang baik pula, yaitu pembelajaran yang memperhatikan konsep dasar pengajaran membaca sastra.

Pemaknaan suatu puisi sangat bervariasi, ada yang mudah, ada yang sedang dan ada pula yang sulit dipahami. Namun khusus puisi untuk anak haruslah menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, tetapi mengandung makna yang dalam. Inilah hakikat puisi, begitu banyak yang hendak dikatakan, tetapi hanya diungkapkan dalam sedikit mungkin kata-kata. Hal ini sering disebut kata-kata puitis. Puisi anak SD belum menggunakan kata-kata kias, tetapi bahasanya sederhana. Lugas, sesuai dengan kehidupan anak yang jujur, polos, dan lucu. Belum ada kebohongan di dalamnya. Karakter ini yang perlu dibina melalui sastra di sekolah dasar.

Melalui pembelajaran membaca sastra khususnya puisi di sekolah dasar akan memberikan hiburan, rasa senang, gembira, haru, dan kenikmatan kepada anak-anak. Dengan kegembiraan yang tumbuh dari sastra, maka akan memunculkan keinginan untuk menikmati karya sastra, yang dimulai dari kesenangan menyimak, lalu membaca, dan akhirnya meningkatkan minat baca dan mengidentifikasi latar belakang suatu karya sastra. Sastra dapat memberikan pengalaman seolah-olah si anak sendiri yang mengalami; seperti petualangan, perjuangan dalam menghadapi rintangan. Zulela (2012:62) menjelaskan bahwa sastra dapat mengembangkan wawasan sang anak menjadi perilaku insani.

Melalui karya sastra luas dapat membuat anak mengerti dunia. Nilai sastra bagi anak di sekolah dasar sebagia motivasi perkembangan bahasa anak, perkembangan kognitif siswa, perkembangan kepribadian, serta perkembangan sosial. Strick-land, dalam tulisan Zulela (2012:63) mengatakan Kognisi atau penalaran anak-anak yang dikembangkan melalui media sastra, antara lain;

mengamati, membandingkan mengklasifikasikan menghipotesiskan mengorganisasikan, merangkum, menerapkan dan mengkritik.

Azis (2012:3) menjelaskan bahwa Membaca sastra adalah kegiatan untuk mengakrabi karya sastra dengan sungguh-sungguh. Didalam mengakrabi terjadi proses pengenalan, pemahaman, penghayatan, dan setelah itu penerapan.

Pembelajaran puisi dapat memperluas pengalaman, dan mengkomunikasikan pengalaman yang menarik bagi pikiran dan perasaan pembacanya. Pembelajaran puisi sungguh dapat memberikan warna bagi perkembangan mental siswa ke arah yang lebih positif. Di mana dalam proses pengenalan siswa mulai mengenal puisi

lebih dekat kepada ciri-ciri puisi tersebut seperti judul puisi, pengarang puisi, bahkan bentuk atau ciri-ciri suatu puisi. Lalu kemudian masuk kepada pemahaman dimana siswa diarahkan kepada proses mengidentifikasi kata-kata sulit hinggah membubuhkan tanda baca dan penghubung demi mendapatkan pemahaman akan puisi tersebut.

Selanjutnya proses penghayatan dimana siswa diajarkan membaca lalu merenung, sehingga timbul perasaan sedih, iba, senang, bahagia, seakan-akan diri siswalah yang berlakon dalam puisi tersebut, terakhir proses penerapan dimana melalui proses pengenalan, pemahaman dan penghayatan siswa mendapatkan banyak pengalaman serta ilmu baru yang dapat diterapkannya dalam pembelajarannya seperti membuat sebuah puisi sesuai dengan pengalaman siswa, sampai kepada memahami latar belakang suatu atau beberapa puisi. Hal ini memperjelas bahwa pembelajaran membaca sastra khususnya puisi memberikan dorongan kearah yang positif terhadap siswa dalam proses belajarnya. Serta proses pematangan diri siswa yang hasilnya akan diperoleh dalam sebuah proses yang panjang.

Dalam pembelajaran membaca puisi guru harus mampu menghadirkan proses pembelajaran yang menyenangkan. Ini sesuai dengan yang diamanatkan oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, seperti yang termaktub pada pasal 40 ayat 2 yang menyatakan, seorang pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan inovatif, kreatif, dinamis dan dialogis. Pembelajaran puisi juga harus diselaraskan antara

pembelajaran yang menghasilkan kemampuan siswa dalam menguasai ciri-ciri dasar puisi dengan kompetensi komunikatif siswa secara praktis tentang puisi.

Tarigan (2011a:62) menjelaskan bahwa pendidikan sastra memang suatu sarana penting bagi perkembangan moral anak-anak, terlebih pula bila didukung oleh bimbingan guru yang bijaksana sehingga dapat memahami dunia anak-anak.

Melalui membaca sastra siswa dapat mempertajam perasaan, daya khayal, serta kepekaan terhadap masyarakat, budaya, dan lingkungan hidup, kecerdasan intelektual (IQ) dapat dilatih dengan cara mencari unsur-unsur yang ada dalam karya sastra. Serta sastra dapat mengembangkan kecerdasan emosional (EQ) siswa tangguh dan berinisiatif serta optimis dalam menghadapi persoalan hidup.

Karya sastra adalah cerminan kehidupan masyarakat, maka siswa dapat mempelajari kehidupan yang ditampilkan dalam karya sastra, secara kreatif mengenal tokoh dalam karya sastra.

Pembelajaran sastra khususnya membaca puisi mengantar siswa cerdas IQ dan EQ, peka terhadap budaya, masyarakat, dan lingkungan hidup. Jelas bahwa sastra itu sangat berharga, sehingga diajarkan dalam pendidikan formal sedini mungkin karena sastra berguna bagi manusia dimanapun, dan kapanpun. Maka guru sebagai ujung tombak pembelajaran dan pendidikan harus menyadari manfaat dari sastra sekaligus dapat melaksanakan pembelajaran sebaik-baiknya kepada siswanya.

Dokumen terkait