HASIL DAN PEMBAHASAN
6.5 Analisis Efisiensi Tataniaga
Efisiensi tataniaga merupakan tujuan akhir yang ingin dicapai dalam suatu pemasaran suatu produk atau jasa. Efisiensi tataniaga dapat dilihat dari dua sudut pandang yaitu sudut pandang konsumen (pembeli) dan sudut pandang penjual. Perbedaan ini timbul karena adanya perbedaan kepentingan antara konsumen dan produsen. Penjual menganggap suatu sistem tataniaga efisien apabila dapat menghasilkan keuntungan tinggi baginya. Sebaliknya konsumen menganggap sistem tataniaga efisien apabila konsumen mudah mendapatkan barang yang diinginkan dengan harga yang rendah.
Sesuai dengan yang dikemukakan oleh Mubyarto (1994), bahwa efisiensi tataniaga dapat tejadi jika : (1) Mampu menyampaikan hasil-hasil dari petani produsen kepada konsumen dengan biaya semurah-murahnya dan, (2) Mampu mengadakan pembagian yang adil dari keseluruhan harga yang dibayar konseumen terakhir kepada semua pihak yang ikut serta di dalam kegiatan produksi dan tataniaga barang itu.
Efisiensi tataniaga wortel di Kecamatan Pacet dapat dilihat dengan membandingkan total biaya yang dikeluarkan, penerimaan petani berdasarkan harga yang dijual di lembaga terakhir, dan margin tataniaga. Berikut merupakan indikator efisiensi tataniaga wortel pada masing-masing saluran tataniaga di Kecamatan Pacet Kabupaten Bogor tahun 2012.
Tabel 21. Nilai Efisiensi Tataniaga pada Masing-masing Saluran Tataniaga Wortel di Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur (per kilogram) pada Tahun 2012 Saluran Pemasaran Keuntungan (Rp/Kg) Total Biaya (Rp/Kg) Margin (Rp) Farmer Share (%) Li/Ci I 1.175,82 1.124,18 2.300 23,33 1,05 II 2.609,85 1.040,15 3.650 18,89 2,51 III 2.168,59 898,47 1.700 51,43 2,41 IV 1.832,47 1.367,53 3.200 20,00 1,34
Saluran tataniaga wortel di Kecamatan Pacet yang paling efisien dapat dilihat dari beberapa langkah analisis diantaranya : (1) Mengetahui nilai margin yang terjadi di setiap saluran tataniaga yang terdiri dari lembaga tataniaga yang
terlibat pada saluran tersebut. Saluran III merupakan saluran tataniaga yang memiliki margin terkeci yaitu sebesar Rp 1.700. Nilai itu terjadi karena pendeknya saluran tataniaga atau sedikitnya lembaga tataniaga yang terlibat. Dari sisi margin margin tataniaga yang diperoleh, saluran tataniaga III dapat dikatakan lebih efisien dari saluran tataniaga lainnya. Namun hal ini belum dapat secara umum menentukan apakah saluran III lebih efisien dari saluran tataniaga lainnya. Untuk itu perlu dianalisis lebih lanjut. (2) Mengetahui nilai farmer’s share pada setiap saluran tataniaga, berdasarkan Tabel 21 farmer’s share tertinggi terdapat pada saluran III sebesar 51,43 persen. Tingginya farmer’s share pada saluran tataniaga III disebabkan oleh tingginya harga jual ditingkat petani yang disebabkan oleh petani mengambil peran PPK dan pedagang besar. Dari kedua indikator tersebut saluran tataniaga III dikatakan sebagai saluran tataniaga yang paling efisien dibandingkan dengan saluran tataniaga lainnya.
Saluran tataniaga III juga dapat dikatakan efisien jika merajuk pada konsep efisien pemasaran menurut Mubyarto (1994). Saluran tataniaga III Mampu menyampaikan hasil-hasil dari petani produsen kepada konsumen dengan biaya semurah-murahnya. Hal ini sesuai dengan total biaya dari masing-masing saluran tataniaga pada Tabel 21. Saluran tataniaga I, II, III, dan IV masing-masing mengeluarkan total biaya tataniaga sebesar Rp 1.124,18, Rp 1.040,15, Rp 898,47, dan Rp 1.367,53. Dari biaya tersebut, saluran tataniaga III mengeluarkan biaya yang paling kecil. Dari keempat saluran tataniaga tersebut juga saluran III merupakan salah satu saluran yang mampu mengadakan pembagian yang adil dari keseluruhan harga yang dibayar konsumen terakhir kepada semua pihak yang ikut serta di dalam kegiatan produksi dan tataniaga barang itu. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 20. Pada saluran I dapat dikatakan bahwa pembagian keuntungan yang cukup merata yang dapat dilihat dari Rasio Li/Ci. Pedagang pengecer umumnya mendapatkan rasio keuntungan yang lebih besar karena secara kuantitas yang dijual lebih sedikit dibanding dengan pedagang besar dan PPK. Rasio Li/Ci yang diperoleh oleh masing-masing lembaga tataniaga yang telibat (PPK, pedagang besar dan pedagang pengecer) pada saluran tataniaga I yaitu 0,61, 0,69 dan 1,63. Namun jika dilihat dari rasio Li/Ci secara keseluruhan, saluran tataniaga I
memberi keuntungan yang kecil yaitu sebesar Rp 1,05 dari setiap Rp 1,00 biaya yang dikeluarkan.
Saluran tataniaga II secara teknis lebih melibatkan sedikit lembaga tataniaga dibanding saluran tataniaga I. Saluran tataniaga II tidak mampu memberikan pembagian yang adil dari keseluruhan harga yang dibayar konsumen. Hal ini ditunjukkan pada kesenjangan dari Rasio Li/Ci antara pedagang besar dan pedagang pengecer yaitu masing-masing sebesar 0,80 dan 4,70 ,eskipun secara keseluruhan rasio Li/Ci yang dihasilkan pada saluran tataniaga ini paling besar yaitu sebesar 2,51.
Saluran tataniaga III melibatkan dua lembaga tataniaga yaitu petani dan pedang pengecer. Masing-masing memperoleh Li/Ci sebesar 4,14 dan 1,69. Hal ini dirasa cukup adil mengingat bahwa petani lebih banyak melakukan fungsi- fungsi tataniaga karena mengambil peran pedagang besar dan PPK. Selain itu, secara keseluruhan saluran tataniaga III memberikan Li/Ci cukup besar yaitu sebesar 2,41.
Saluran tataniaga IV kurang dapat memberikan kesejahteraan yang merata kepada setiap lembaga tataniaga yang terlibat. Rasio Li/Ci masing lembaga tataniaga yaitu PPK sebesar 2,33, STA sebesar 1,16 dan, pedagang pengecer sebesa 1,21. Tidak meratanya kesejahteraan pada saluran tataniaga IV dapat dilihat pada Li/Ci yang diterima PPK jauh lebih besar dibandingkan dengan saluran tataniaga lain padahal secara teknis, fungsi dan aktivitas yang dilakukan tidak banyak (dilihat dari Li yang kecil). Selain itu secara total Li/Ci yang diperoleh tidak begitu besar yaitu sebesar 1,34.
Berdasarkan perhitungan efisiensi tataniaga di Kecamatan Pacet untuk komoditas wortel dapat dikatakan bahwa saluran tataniaga yang paling efisisen yaitu saluran III dimana dari saluran tersebut mengeluarkan biaya terendah, pembagian kesejahteraan yang merata, margin yang paling kecil serta Farmer;s Share yang paling besar dibandingkan dengan saluran tataniaga lainnya.Secara keseluruha juga saluran tataniaga III mampu memberi keuntungan yang cukup besar sesuai dengan Li/ Ci (Tabel 21) sebesar 2,41 yang berarti bahwa setiap Rp 1,00 biaya yang dikeluarkan akan memperoleh keuntungan sebesar Rp 2,41.
Dengan demikian petani sebaiknya menggunakan saluran tataniaga III karena dapat memberikan keuntungan yang lebih besar untuk petani dan biaya yang dikeluarkannya lebih kecil. Akan tetapi untuk menjalankan sistem saluran tataniaga III petani harus mempunyai kekuatan dari sisi modal dan pasar, karena pada saluran ini dimana petani mengambil peran tataniaga lainnya sepeprti PPK dan pedagan besar. Oleh sebab itu sangat dibutukan adanya kombinasi modal, akses pasar dan akses informasi pasar.
BAB VII