• Tidak ada hasil yang ditemukan

Potret SINas Indonesia

3.2. Analisis Ekosistem SINas

Kebijakan dan stabilitas Makro Ekonomi. Stabilitas makro ekonomi sangat penting bagi dunia bisnis, sehingga akan sangat menentukan tingkat daya saing (competitiveness) suatu negara. Walaupun tentu saja, produktivitas suatu negara

tidak hanya ditentukan oleh stabilitas makro ekonominya. Pemerintah tidak akan dapat melakukan pelayanan publik dengan baik, jika selalu terbelit hutang dan keharusan membayarnya dengan suku bunga tinggi atau dalam kondisi cenkeraman persoalan makro ekonomi yang tidak mampu dituntaskan. Perusahaan tidak dapat berbisnis secara efisien dan bergairah jika inflasi tidak dapat diprediksi. Dengan demikian perekonomian tidak dapat tumbuh secara berkesinambungan jika kondisi makro ekonomi tidak stabil.

Kondisi makro ekonomi Indonesia untuk periode 2008-2010 tergolong stabil. Berdasarkan survei World Economic Forum (WEF, 2010), skor untuk stabilitas makro ekonomi Indonesia pada tahun 2010 mencapai 5,2 dan menduduki peringkat 35 dari 139 negara yang disurvei. Jika persepsi masyarakat dunia terhadap stabilitas makro ekonomi ini dapat terus dipelihara dan jika mungkin terus ditingkatkan, maka akan semakin menarik bagi kalangan bisnis untuk berinvestasi dan menjalankan kegiatan usahanya di Indonesia.

25 Presiden Republik Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudoyono pada Seminar di Institut Teknologi 10 November Surabaya tanggal 14 Desember 2010 juga memberikan arahan agar pengembangan teknologi perlu lebih diprioritaskan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan pasar domestik.

Tumbuh kembang kegiatan bisnis akan membuka peluang untuk peningkatan daya beli masyarakat dan memperbesar kapasitas pasar domestik (market size).

Untuk periode 2008-2010, berdasarkan survei WEF peringkat ukuran pasar domestik Indonesia juga terus meningkat, berturut-turut dari peringkat 17 (2008), menjadi 16 (2009) dan 15 (2010).

Survei yang dilakukan oleh UNCTAD (2009) tentang prospek investasi dunia (World Investment Prospects Survey) menyimpulkan bahwa Indonesia menempati peringkat ke 9 dunia, setelah Cina, Amerika Serikat, India, Brazil, Rusia, Inggeris, Jerman, dan Australia (Gambar 3). Namun demikian, peringkat ini perlu dilihat secara cermat, karena daya tarik utama bagi para investor untuk menanamkam modalnya adalah ukuran pasar domestik dan laju pertumbuhan pasar domestik dari negara tujuan invenstasi tersebut. Dua faktor ini lebih dominan dalam pengambilan keputusan untuk berinvestasi dibandingkan dengan program insentif yang ditawarkan, ketersediaan dan kemurahan upah tenaga kerja, akses untuk pengelolaan sumberdaya alam, dan efektivitas peran pemerintah.

Indonesia dengan penduduknya yang lebih dari 237 juta jiwa dengan daya beli yang relatif baik merupakan pasar domestik yang sangat potensial bagi investor asing. Pasar domestik Indonesia akan menjadi sasaran empuk bagi investor asing jika Indonesia tidak mampu membangun SINas yang kuat untuk menopang pembangunan ekonomi nasional.

Makro ekonomi yang terpelihara stabilitasnya dan kapasitas pasar domestik yang terus membesar merupakan ekosistem yang positif untuk tumbuh-kembang SINas. Peningkatan kapasitas pasar bermakna peningkatan permintaan masyarakat akan barang dan jasa, baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Peningkatan permintaan barang dan jasa yang lebih banyak dan/atau lebih bermutu akan meningkatkan kebutuhan industri akan teknologi yang lebih sesuai. Dinamika ini membuka peluang dan tantangan bagi lembaga pengembang teknologi untuk melakukan riset yang relevan dengan kebutuhan industri.

Jika peningkatan kebutuhan teknologi yang relevan ini dikomunikasikan oleh industri ke pihak pengembang teknologi dan pihak pengembang teknologi mampu menyediakan paket teknologi yang tidak hanya relevan, tetapi juga handal dan sesuai kapasitas adopsi pelaku bisnis, maka SINas akan lebih dirasakan geliatnya. Pada kurun waktu yang sama (2008-2010), survei WEF juga memperlihatkan terjadinya peningkatan peringkat Indonesia dari 47 menjadi 36.

Gambar 3. Peringkat daya tarik Indonesia bagi investor asing

Kebijakan pembangunan perekonomian Indonesia yang baru diluncurkan yang dikemas dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembagunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang telah menetapkan enam koridor pembangunan ekonomi sesuai dengan potensi sumberdaya setempat perlu dibarengi dengan upaya membangun SINas yang berkesesuaian. Apalagi pengembangan sumberdaya manusia dan iptek telah dipilih sebagai salah satu dari tiga strategi utamanya. Kebijakan Perdagangan dan Industri. Kinerja dan perkembangan SINas akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan di berbagai sektor yang terkait, termasuk perdagangan dan industri. Harus ada dorongan agar produk barang dan jasa yang diperdagangkan, terutama untuk ekspor, diutamakan sudah merupakan produk-produk jadi yang dibutuhkan oleh konsumen akhir (consumer products). Kebijakan yang berorientasi untuk mendorong ekspor agar lebih

diprioritaskan pada produk jadi, merupakan bentuk kebijakan yang secara nyata akan mendorong adopsi teknologi pada industri-industri di dalam negeri,

sekaligus membuka lapangan kerja, dan meningkatkan nilai tambah produk yang diekspor.

Indonesia saat ini masih dominan mengekspor komoditas atau bahan mentah (raw materials) atau produk-produk setengah-jadi (intermediate products) yang

secara ekonomi merugikan dan secara ekologi kurang bersahabat, karena cenderung mengeksploitasi sumberdaya alam secara berlebihan, dan mempunyai nilai ekonomi yang rendah. Ungkapan yang dikemukakan Surapranata (2011) patut direnungkan, bahwa seharusnya Indonesia tidak mengekspor bahan baku dan keringat, tetapi lebih didorong untuk mengekspor produk yang dihasilkan dengan keringat anak bangsa di dalam negeri.26

Upaya meningkatkan nilai tambah komoditas atau produk ekspor sudah dilakukan, tetapi dirasakan masih belum optimal, misalnya produk sawit yang diekspor masih sangat dominan berbentuk minyak sawit kasar (crude palm oil,

disingkat CPO). Ekspor dalam bentuk produk dengan muatan teknologi tinggi sudah ada namun masih relatif rendah porsinya (Gambar 4). Sejak akhir tahun 1980-an sudah mulai ada produk dengan muatan teknologi tinggi, tetapi masih sangat rendah, yakni hanya sekitar 1 persen; kemudian secara berangsur naik dan mencapai puncaknya pada awal tahun 2000-an yang mencapai kisaran antara 14-16 persen; tetapi pada akhir tahun 2000-an kembali menurun menjadi sekitar 10 persen.

Saat ini Indonesia masih dihadapkan pada dua kendala yang menjadi tantangan utama, yakni: [1] keterbatasan kapasitas investasi nasional di sektor industri hilir untuk mengolah bahan mentah atau bahan setengah jadi menjadi produk jadi; sedangkan investor asing lebih banyak tertarik pada bidang usaha yang terkait dengan eksploitasi sumberdaya alam, baik di sektor pertanian (terutama perkebunan) maupun di sektor pertambangan; dan [2] belum siapnya teknologi nasional untuk menyokong tumbuh kembang industri hilir tersebut, yakni kapasitas untuk mengembangkan teknologi yang relevan, handal, dan secara ekonomi kompetitif dibanding produk teknologi serupa yang tersedia di pasar dunia. Indonesia tak akan mampu membangun kemandirian perekonomiannya jika tidak mampu mengatasi dua tantangan utama ini.

26 Disampaikan oleh Suharna Surapranata, Menteri Negara Riset dan Teknologi, pada Rapim Lengkap Kementerian Riset dan Teknologi, hari selasa 18 Januari 2011. Bermakna bahwa sebaiknya tidak mengekspor bahan mentah dan tenaga kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri, tetapi perlu didorong untuk mengekspor barang jadi yang diproduksi di dalam negeri dengan memanfaatkan tenaga kerja dan teknologi nasional.

Sumber: The World Bank, diunduh dari tradingeconomics.com (18 Januari 2011)

Indonesia memang juga telah mengekspor produk teknologi tinggi. Produk dengan muatan teknologi tinggi mencakup produk-produk yang membutuhkan intensitas R&D tinggi, seperti produk kedirgantaraan (aerospace), komputer,

farmasi (pharmaceuticals), instrumen riset (scientific instruments), dan electrical machinery. Namun demikian, nilai ekspor produk-produk bermuatan teknologi

tinggi tersebut sejak tahun 2000 tidak mengalami kemajuan yang berarti dan relatif stagnan, yakni hanya berfluktuasi sekitar 4,4 sampai 6,5 milyar dolar Amerika (Tabel 2). Kontribusi produk teknologi tinggi ini masih sangat rendah dibandingkan dengan nilai total ekspor Indonesia pada periode tersebut.

Kebijakan Pendidikan. Dalam konteks SINas, jenjang pendidikan yang paling relevan adalah pada strata 2 dan 3 untuk dukungan kemampuan individual dan kapasitas pengembangan teknologi nasional; sedangkan pendidikan menengah kejuruan27, program diploma, dan strata 1 lebih dilihat relevansinya sebagai elemen pendukung penguatan kapasitas adopsi dari sisi pengguna teknologi, yakni sebagai tenaga kerja terampil untuk aplikasi teknologi di perusahaan industri, atau usaha mandiri skala kecil dan menengah.

Tabel 2. Persentase ekspor Indonesia dengan kandungan teknologi tinggi untuk periode 1989-2008

Sumber : The World Bank, diunduh dari tradingeconomics.com (18 Januari 2011)

27 Sesuai Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan kejuruan merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu. Lebih spesifik berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990 tentang pendidikan menengah, menjelaskan bahwa pendidikan kejuruan mengutamakan pengembangan kemampuan siswa untuk pelaksanaan jenis pekerjaan tertentu.

Tahun Nilai Ekspor

(juta USD) Tahun

Nilai Ekspor (juta USD) 1989 79 1999 2.672 1990 112 2000 5.698 1991 197 2001 4.403 1992 465 2002 5.070 1993 850 2003 4.580 1994 1.340 2004 5.808 1995 1.658 2005 6.571 1996 2.250 2006 5.900 1997 2.561 2007 5.225 1998 2.188 2008 5.625

Secara umum program pendidikan Indonesia belum dirancang agar dapat optimal mendukung tumbuh kembang SINas. Sebagai contoh, riset tugas akhir program strata 2 dan 3 (thesis dan disertasi) masih dominan diposisikan hanya sebagai indikator penguasaan bidang ilmu yang sesuai dengan program studi yang diikuti; sedangkan upaya untuk meningkatkan relevansinya dengan realita di bidang ilmu yang bersangkutan masih dirasakan minimal. Dengan kata lain, topik riset masih ditentukan oleh keinginan mahasiswa dan arahan pembimbing/ promotornya, belum didorong oleh kesadaran agar hasil riset tersebut dapat bermanfaat bagi masyarakat luas, industri, ataupun kebutuhan pemerintah. Beberapa pengecualian tentu ada, tetapi arus utamanya harus diakui masih murni berorientasi akademik.

Idealnya, kegiatan tugas akhir yang hanya berorientasi akademik hanya diimplementasikan sampai pada jenjang strata 1 atau program diploma, karena lulusan pada jenjang ini memang masih lebih diposisikan sebagai langkah penyiapan tenaga berpengetahuan dasar yang cukup dan/atau mempunyai ketrampilan di bidangnya masing-masing. Lulusan strata 1 kemudian dapat memilih alur karirnya untuk berkiprah: [1] memperkuat kapasitas adopsi teknologi lembaga pengguna; atau [2] meningkatkan kemampuannya sebagai pengembang teknologi. Pendidikan program diploma dan sekolah menengah kejuruan sejak awal dirancang untuk menyiapkan tenaga terdidik dan terampil yang siap bekerja.

Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan pada Pasal 3 butir b menyatakan bahwa: “Pengelolaan pendidikan ditujukan untuk menjamin mutu dan daya saing pendidikan serta relevansinya dengan kebutuhan dan/atau kondisi masyarakat”. Peraturan ini jelas mengenali peran penting relevansi, disamping mutu pendidikan. Namun dalam prakteknya, unsur relevansi ini masih belum secara kentara menjadi ruh orientasi pengelolaan pendidikan di Indonesia. Akibatnya banyak lulusan pendidikan tinggi yang masih belum mendapatkan pekerjaan tetap28 dan cukup banyak pula yang berkerja di sektor yang tidak secara langsung terkait dengan latar belakang pendidikan formalnya.

Konsepsi SINas yang sangat baik sekalipun hanya akan bisa diimplementasikan dengan baik jika didukung oleh sumberdaya manusia yang berkualitas dengan keahlian/keterampilan yang sesuai kebutuhan. Sumberdaya manusia yang dimaksud tentunya hanya akan dapat tersedia jika sistem pendidikan nasional juga dirancang selaras dengan konsepsi SINas.

Kebijakan Ketenagakerjaan. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menegaskan pengertian tentang tenaga kerja, yakni mencakup setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat (Pasal 1 butir 2).

Jika dikaitkan dengan tujuan pembangunan SINas sendiri, yakni untuk mewujudkan sistem pengelolaan ilmu pengetahuan dan teknologi agar lebih 28 Sekitar 1 juta orang lulusan perguruan tinggi yang saat ini masih menganggur.

efektif dan efisien dalam menghasilkan produk barang dan/atau jasa sesuai kebutuhan pengguna (masyarakat, industri, atau pemerintah), maka terlihat jelas benang merah keterkaitan antara kebijakan ketenagakerjaan dengan SINas.

Lebih lanjut dinyatakan pada Pasal 4 UU13/2003 bahwa pembangunan ketenagakerjaan bertujuan: [a] memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal dan manusiawi; [b] mewujudkan pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan daerah; [c] memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dalam mewujudkan kesejahteraan; dan [d] meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya. Butir b Pasal 4 di atas memberikan penegasan bahwa salah satu tujuan pembangunan ketenagakerjaan adalah untuk penyediaan tenaga kerja yang sesuai kebutuhan. Nuansa ini sangat sejalan dengan konsepsi SINas, dimana kebutuhan (demand) yang menentukan orientasi pembangunan dan

pengembangannya.

Pembangunan ketenagakerjaan sesuai dengan sifatnya akan lebih berada pada posisi sebagai pemasok kebutuhan tenaga kerja. Oleh sebab itu, hubungan yang sinergis dan serasi harus dimulai dengan mewujudkan SINas yang mantab, dengan tujuan dan kebutuhan yang jelas. SINas yang dibangun berbasis pada potensi dan kebutuhan nasional bermakna telah mempertimbangkan kondisi ketenagakerjaan Indonesia, sehingga dengan sendirinya diawali dengan kesenjangan (gap) yang minimal antara kebutuhan SINas dengan ketersediaan

tenaga kerja domestik. Selanjutnya, secara bertahap dilakukan upaya meningkatkan produktivitas SINas yang dalam prosesnya tentu mengharuskan adanya peningkatan mutu dan relevansi keahlian tenaga kerja.

Skenario untuk membangun keterpaduan antara pembangunan SINas dengan penyiapan tenaga kerja pendukungnya saat ini belum diformulasikan. Lebih jauh, penyiapan tenaga kerja juga tidak dapat dipisahkan dari sistem pendidikan nasional. Dengan demikian, sangat jelas bahwa upaya mewujudkan SINas yang produktif dan efektif dalam memajukan perekonomian nasional membutuhkan keterpaduan dengan kebijakan ketenagakerjaan dan sekaligus juga dengan kebijakan pendidikan nasional (Gambar 5).

Gambar 5. Penyerasian Sistem Pendidikan, ketenagakerjaan, SINas, dan perekonomian nasional Kinerja Perekonomian Nasional Kesejahteraan rakyat dan kemandirian bangsa Produktivitas Sistem Inovasi Nasional Kontribusi teknologi terhadap perekonomian nasional Kebijakan ketenagakerjaan SDM pengembang, pengguna & intermediasi Sistem Pendidikan Nasional Lulusan bermutu dan relevan kebutuhan lapangan kerja

Tenaga kerja berperan sekaligus sebagai subjek dan objek pembangunan. Kemajuan suatu bangsa dan negara sangat tergantung dari peran mana yang lebih besar porsinya yang diperankan oleh tenaga kerja secara kolektif. Jika lebih besar perannya sebagai subjek pembangunan yang secara aktif berkontribusi sesuai dengan kapasitasnya masing-masing, maka bangsa dan negara tersebut akan berpeluang lebih besar untuk lebih maju; sebaliknya jika lebih banyak perannya hanya sebagai objek pembangunan, maka akan sangat berat beban yang diemban untuk memajukan bangsa dan negara tersebut.

Kinerja sektor pendidikan tentu akan menjadi tumpuan utama dalam memperbesar porsi tenaga kerja yang menjadi subjek pembangunan. Dengan demikian maka keberhasilan pembangunan pendidikan harusnya tidak hanya dievaluasi berdasarkan jumlah atau persentase penduduk yang berpartisipasi pada setiap jenjang pendidikan atau persentase populasi yang menyelesaikan jenjang pendidikan tertentu; tetapi perlu juga didasarkan atas persentase jumlah lulusan yang berperan sebagai subjek pembangunan atau sebagai tenaga kerja produktif yang berkontribusi terhadap keberhasilan pembangunan nasional di segala sektor.

Selanjutnya, dalam kerangka SINas, maka keberhasilan pembangunan sektor ketenagakerjaan perlu dievaluasi berdasarkan peran aktif dan produktifnya sebagai pengembang teknologi, pengguna teknologi dalam sistem produksi, dan intermediasi SINas; bukan hanya sebagai konsumen barang dan/atau jasa yang dihasilkan dari hasil aplikasi teknologi semata.

Posisi tenaga kerja Indonesia saat ini masih belum terlalu membanggakan, karena masih lebih banyak yang berperan dalam proses produksi barang atau jasa, tetapi untuk kegiatan-kegiatan ekonomi dengan muatan teknologi yang minimal. Kenyataan ini sebetulnya bukan hanya menjadi cerminan dari kualitas tenaga kerja yang masih rendah, tetapi juga karena industri dengan muatan teknologi tinggi masih belum berkembang di Indonesia. Kegiatan ekonomi masih dominan pada fase eksploitasi sumberdaya alam atau produksi bahan mentah, belum banyak kontribusi industri hilir terhadap perekonomian nasional.

Pembangunan Infrastruktur Sosial. Infrastruktur sosial pada prinsipnya mencakup semua fasilitas yang dapat meningkatkan kapasitas dan produktivitas masyarakat. Oleh sebab itu, sering juga disebut sebagai infrastruktur komunitas (community infrastructure). Dengan demikian maka infrastruktur sosial tidak hanya

mencakup ‘soft infrastructure’ (seperti dukungan untuk pengembangan komunitas,

keluarga, dan individu; layanan informasi; pelatihan ketrampilan; perlindungan hukum; keamanan publik; dan layanan darurat); tetapi juga mencakup ‘hard infrastructure’ (seperti fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, fasilitas untuk

kegiatan seni dan budaya, fasilitas olahraga dan rekreasi, perumahan sehat, fasilitas lingkungan, fasilitas ibadah, dan tranportasi publik).

Akibat buruk dari kurangnya perhatian dalam pembangunan infrastruktur sosial telah semakin dirasakan oleh negara-negara maju, misalnya berupa gangguan keamanan lingkungan atau mutu sumberdaya manusia yang rendah yang kemudian menjadi beban pembangunan. Kesenjangan sosial yang terjadi ternyata

sangat mahal biaya remediasinya. Menyadari akan hal ini maka beberapa negara maju mulai secara sungguh-sungguh berupaya memperbaikinya. Misalnya Inggeris menganggarkan hampir 3 milyar pound untuk pembenahan infrastruktur sosialnya. Pemerintah Australia juga mengambil inisiatif untuk membenahi infrastruktur sosial ini (Casey, 2005).

Indonesia sebagai negara berkembang kelihatannya belum menunjukkan perhatian yang baik terhadap infrastruktur sosial ini pada sebagian besar wilayah perdesaan dan lingkungan kumuh perkotaan. Akibatnya kesenjangan sosial-ekonomi antara perdesaan dan perkotaan semakin melebar. Kenyataan ini telah secara nyata menyebabkan laju urbanisasi yang semakin sulit dibendung. Kesenjangan antara komunitas kaya dan miskin di perkotaan juga terasa semakin melebar. Kondisi ini menyebabkan antara lain semakin meningkatnya frekuensi kerusuhan di perkotaan. Walaupun banyak yang mengkaitkan fenomena kerusuhan ini sebagai dampak dari demokratisasi di Indonesia.

Kesenjangan sosial-ekonomi jelas tidak ‘compatible’ dengan upaya membangun

SINas yang produktif dan berkelanjutan. Oleh sebab itu, dalam skenario besar pengembangan SINas Indonesia perlu disediakan ruang untuk pembangunan infrastruktur sosial.