• Tidak ada hasil yang ditemukan

Potret SINas Indonesia

3.3. Isu Pokok SINas Indonesia

Perbedaan Mindset Akademisi, Bisnis, dan Pemerintahan. Boenjamin Setiawan (2008) melihat mindset dan budaya universitas dan industri berbeda.

Riset universitas kesannya terlalu teoritis. Industri kesannya hanya mencari keuntungan saja. Jadi masih ada persepsi-persepsi yang keliru dan perspektif-perspektif yang perlu dibenahi agar SINas dapat tumbuh dan berkembang. Dalam konteks kerjasama akademisi-bisnis-pemerintah (ABG), Kadiman (2008) mengamati bahwa saat ini para pelaku ABG masih bergerak di jalur masing-masing, terjadi divergensi dalam arah gerak para pelaku ABG. Keselarasan antara regulasi dan dinamika bisnis dipandang sangat penting bagi para pelaku usaha, tetapi hal ini dikeluhkan belum terjadi sebagaimana yang diharapkan. Terdapat pula kesenjangan antara iptek yang dipelajari di kampus dengan iptek yang digunakan industri dan perbedaan menyolok antara perilaku para periset dengan perilaku pebisnis.

Heterogenitas ABG terkait dengan perbedaan dalam kerangka kerja praktis, yakni perbedaan dalam orientasi, tujuan, tolok ukur kemajuan, kaidah, dan pengetahuan praktis. Kadiman (2008) menyimpulkan bahwa perbedaan antara akademisi dengan pebisnis dan pelaku pemerintahan adalah: [1] Kegiatan inti akademisi adalah untuk menghasilkan pengetahuan, sedangkan pelaku bisnis dan pemerintahan adalah menghasilkan komoditas; [2] Orientasi akademisi adalah orisinalitas, invensi, dan discovery, sedangkan pelaku bisnis dan pemerintah adalah profit dan kepuasan pelanggan; [3] Metode yang dipilih oleh akademisi adalah

riset akademik, sedangkan pelaku bisnis dan pemerintahan adalah transaksi komersial; dan [4] Bentuk pengetahuan yang digeluti para akademisi bersifat

eksploratif-eksplanatori, sedangkan yang dilakoni oleh pelaku bisnis dan pemerintahan bersifat praktis-operasional.

Dalam bahasa yang sederhana, masih ada kesenjangan cara pandang yang tajam antara pengembang dengan pengguna teknologi. Masih ada perbedaan pemahaman antara teknologi yang perlu diprioritaskan untuk dikembangkan antara akademisi dengan pelaku bisinis/industri. Masih ada tugas besar bagi pembuat kebijakan pembangunan iptek untuk menyelaraskan cara pandang atau

mindset antara pengembang dan pengguna teknologi agar SINas dapat

diwujudkan.

Keterbatasan Komunikasi dan Interaksi Antar-pelaku. Interaksi dan komunikasi antara pengembang dan pengguna teknologi akan terjadi jika ada kepentingan bersama yang menjadi pemicunya. Interaksi dan komunikasi ini tidak dapat dipaksakan oleh kekuatan manapun, termasuk oleh Pemerintah. Oleh sebab itu, keberhasilannya sangat bergantung pada kecermatan dan kemampuan mengidentifikasi kepentingan bersama tersebut. Secara umum, kepentingan bersama tersebut adalah teknologi yang dibutuhkan untuk memproduksi barang dan/atau jasa yang dibutuhkan masyarakat (konsumen) dan memberikan profit bagi kedua belah pihak.

Langkah awal yang penting dalam membangun kapabilitas inovasi adalah melalui interaksi dan komunikasi secara ‘melintas batas’. Ini merupakan interaksi yang melampaui (beyond) hal-hal yang rutin, sekat-sekat formal kelembagaan,

kotak-kotak disiplin ilmu dan bidang profesi. Yang diperlukan adalah komunikasi yang disertai dengan upaya untuk saling berbagi (sharing), saling belajar (mutual learning), untuk mencapai kemajuan bersama. Dengan cara demikian, missing links

menjadi linkage yang baru, dan akhirnya pengetahuan yang baru dihasilkan.

Belajar melalui interaksi dan komunikasi merupakan aspek esensial dari inovasi (Kadiman, 2008).

Pada saat ini, komunikasi dan interaksi tersebut belum terjadi secara intensif dan belum optimal untuk menghasilkan teknologi yang memberikan kontribusi nyata dalam proses produksi. Pihak pengembang teknologi masih kurang sensitif dan/atau belum maksimal berusaha untuk memahami kebutuhan atau problema nyata yang dihadapi masyarakat umum; sebaliknya pihak industri sebagai pengguna teknologi juga masih terkendala dalam kemampuannya mengaplikasikan teknologi.

Prihandana (2008) mengemukakan bahwa pihak akademisi, bisnis, dan pemerintahan masih jalan sendiri-sendiri. Dalam situasi yang sekarang, sedang susah-susahnya untuk menyelaraskan kegiatan antara ketiga unsur pelaku tersebut, karena ‘mahal’nya koordinasi. Komponen akademisi, bisnis, dan pemerintahan terpisah baik secara administrasi maupun sasaran kerjanya.

Hubungan antara universitas dan industri di Indonesia tidak sebagus yang terjadi di luar negeri. Walaupun memang belakangan ini kolaborasi seperti itu sudah dimulai. Akan tetapi, kolaborasi tersebut tidak tegas dan fokus untuk

mengembangkan teknologi sesuai dengan yang dibutuhkan, kolaborasi tersebut masih lebih bernuansa ‘charity’ (Panigoro, 2008).

Kapasitas dan Kapabilitas Adopsi Teknologi. Menarik untuk disimak pandangan Ibrahim (2008) terkait dengan penguasaan teknologi. Beliau menyatakan bahwa Perusahaan Listrik Negara (PLN) sudah bisa melakukan rekayasa, dengan mengembangkan desain-desain yang sudah ada. Dokumen desain tersebut awalnya dibuat oleh para konsultan. Selanjutnya, Ibrahim (2008) menyimpulkan bahwa membuat desain sendiri justru tidak sehemat kalau menggunakan jasa konsultan. Misalnya, desain yang dibuat sendiri malah kadang

overdesigned. Ada hal-hal yang tidak perlu, tapi dimasukkan ke dalam desain. Itu

menambah biaya, dan harus dibayar sepanjang umur pakai alat tadi. Berdasarkan kenyataan ini, cukup beralasan untuk menyatakan bahwa penguasaan di bidang rekayasa ternyata belum optimal.

Berdasarkan pengalaman PT Pindad, kemampuan kerekayasaan justru terpacu di saat terjadi embargo (Santoso,2008). Kondisi terdesak dapat merangsang munculnya kreativitas dan motivasi kuat untuk membangun kemandirian bangsa, termasuk dalam penguasaan teknologi.

Salah satu kondisi yang tidak mendukung upaya membangun SINas adalah kenyataan bahwa dunia industri masih hanya menangani secara parsial rantai kegiatan bisnisnya. Sebagai contoh, Prihandana (2008) mempertanyakan industri sawit yang hanya membuat pabrik CPO (crude palm oil). Mengapa tidak

membuat pabrik minyak goreng? Kalau BUMN di sektor perkebunan mengubah kegiatannya, dengan mengolah bahan baku menjadi bahan semi-jadi, dan kemudian menjadi bahan jadi, ini otomatis akan masuk ke berbagai bentuk produk akhir. Begitu masuk ke produk hilir berarti akan berada di pasar, di sektor riil. Dan begitu masuk ke sektor riil, ruang gerak perusahaan akan menjadi lebih luas dan leluasa.

Pengembangan produk jadi dari bahan baku yang tersedia tentu akan membuka peluang dilakukannya kegiatan riset. Maknanya akan membuka kesempatan untuk berinteraksi antara pihak pengguna dengan pengembang teknologi. Kondisi ini tentu akan mendukung perkembangan SINas yang efektif dan produktif. Hanya saja pada saat ini upaya menghilirkan industri ini belum secara signifikan terjadi.

Kebutuhan Teknologi: Pedagang versus Produsen. Prihandana (2008) mendeskripsikan bahwa pelaku dunia usaha terbagi dua, yakni produsen dan pedagang. Sebagian besar pelaku bisnis di Indonesia adalah pedagang atau berjiwa pedagang, jarang yang memilih posisi sebagai produsen. Pebisnis yang hanya pedagang jelas tidak membutuhkan bantuan untuk pengembangan teknologi.

Peneliti dan akademisi hanya berpeluang untuk berinteraksi dengan pebisnis yang melakukan kegiatan produksi. Lebih spesifik lagi, industriawan yang mengembangkan produk sendiri, bukan yang berproduksi di bawah lisensi perusahaan lain. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tidak semua

pebisnis dapat menjadi mitra bagi akademisi dan peneliti dalam pengembangan teknologi.

Peran Kelembagaan Intermediasi. Kadiman (2008) memberikan panduan dalam membangun SINas yang berbasis hubungan tripartit akademisi-bisnis-pemerintah (beliau menadopsi istilah triple helix A-B-G), disebutkan bahwa

kehidupan akademik dan kehidupan industrial jangan dileburkan, biarkan masing-masing tetap hidup di ranah masing-masing. Yang diperlukan adalah lembaga intermediasi. Tugas lembaga intermediasi tersebut adalah mengarahkan riset akademik pada permintaan pasar; sebaliknya, isu-isu komersial ditengok dari sudut pandang akademik. Lembaga intermediasi ini harus berupa non-government organisation (NGO), bukan kelembagaan milik pemerintah.

Kadiman (2008) menegaskan bahwa saat ini sudah dibentuk Business Technology Center (BTC), sedang dicari mitra untuk spin-off ke industri. Masih diperlukan

aturan-aturan pendukung. Misalnya untuk mengatur mobilitas para pelakunya dan masalah resource sharing. Pernah ada juga program Riset Unggulan Kemitraan

(RUK) dengan pembiayaan bersama antara pemerintah dan swasta (sharing fund)

dan program Riset Unggulan Strategis Nasional (RUSNAS) yang dalam pelaksanaannya bermitra dengan pihak-pihak bisnis. Namun demikian diakui bahwa banyak dari pelaksanaan kedua program tersebut yang kurang berhasil. Regulasi dan Fasilitasi Pemerintah. Haryoto (2008) mengingatkan bahwa kacamata bisnis berbeda sama sekali dengan birokrasi. Perbedaan sudut pandang ini harusnya disikapi dengan membuat regulasi yang mendukung perkembangan bisnis. Jika Pemerintah menginginkan bisnis maju, maka pendekatan ini yang harusnya dipilih, tetapi yang terjadi sekarang mengarah pada upaya agar bisnis yang menyesuaikan dengan regulasi, akibatnya perkembangan bisnis terhambat. Pemerintah harusnya lebih memainkan peranan sebagai regulator, bukan operator.

Pemerintah memerlukan industri sebagai ‘mesin’ untuk mencapai sasaran-sasaran ekonomi, sebaliknya para pelaku usaha memerlukan dukungan pemerintah dalam menyediakan iklim persaingan usaha yang fair dan sehat (Kadiman, 2008). Agar

kinerja SINas optimal, maka Pemerintah harus cermat dan tepat dalam memainkan peranannya. Setiap regulasi yang dikeluarkan harus mendorong terjadinya interaksi yang sehat dan produktif antara pihak bisnis dengan pihak pengembang teknologi dalam negeri. Keberpihakan terhadap teknologi domestik, selain memerlukan kebijakan nasional yang tegas, juga perlu dikawal dengan konsisten agar betul-betul mampu meningkatkan peran kelembagaan riset dalam pembangunan nasional.

Pemerintah dan mitra legislatifnya diharapkan membuat dan/atau merevisi regulasi yang ada agar hubungan yang harmonis dan mutualistik antara pebisnis dan akademisi -termasuk para peneliti tentunya- dapat menjadi lebih intensif. Regulasi tersebut mencakup upaya untuk menggiring kegiatan riset agar lebih berorientasi pada penyediaan solusi teknologi atas permasalah domestik.

Panigoro (2008) menyatakan bahwa yang penting adalah konsistensi Pemerintah dalam memberikan platform usaha kepada siapapun. Konsistensi ini terutama

terkait dengan regulasi tentang perburuhan dan perpajakan. Bagus atau tidak bagusnya suatu regulasi atau kebijakan sifatnya relatif. Namun, makin tinggi konsistensi dalam mengimplementasikannya, makin banyak bidang usaha yang bisa tumbuh dan berkembang. Kepastian dimaksud juga mencakup agar aturan yang satu konsisten dengan aturan yang lain, serta juga konsistensi dalam penegakan aturan itu sendiri. Rencana bisnis harus diselaraskan dengan peraturan, jika peraturannya berubah-ubah maka rencana sulit untuk dijalankan. Ada sesuatu yang tidak benar dalam kebijakan SINas dan implementasinya, yang menyebabkan Indonesia kurang subur bagi kultivasi kreativitas. Dari gagasan (kreativitas) hingga menjadi produk komersial (kekuatan ekonomi) memerlukan upaya multidisiplin, mulai dari riset, pengembangan, komersialisasi, sampai menjadi komoditas di pasar (Suryatin Setiawan, 2008). Pernyataan ini mempertegas tentang perlunya dilakukan peninjauan ulang terhadap produk-produk legislasi yang ada sekarang. Suatu hal yang menggembirakan pada saat ini adalah telah ditetapkannya rencana revisi peraturan perundang-undangan yang dianggap menghambat kemajuan perekonomian Indonesia dalam Rencana Aksi Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI), termasuk peraturan yang terkait langsung dengan SINas, misalnya Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan Badan Usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan, Inovasi, dan Difusi Teknologi (selanjutnya disebut PP 35/2007).