Potret SINas Indonesia
3.5. Pembangunan SINas Saat ini
Pembangunan SINas tidak dapat dievaluasi secara partial dan tidak dapat direduksi hanya berdasarkan kinerja atau performa lembaga R&D semata dalam mengembangkan teknologi, menghasilkan publikasi ilmiah, atau menghasilkan paten. Apalagi jika hanya didasarkan atas indikator-indikator yang mencerminkan ‘potensi’ nya dalam mengembangkan teknologi.
SINas adalah sebuah sistem. Oleh sebab itu, SINas harus dievaluasi secara langsung berdasarkan [1] efektivitas, efisiensi, dan intensitas interaksi dan komunikasi antara aktor-aktor yang terlibat dan [2] produktivitasnya dalam menghasilkan produk yang dibutuhkan oleh pengguna. Karena SINas tidak dibangun di ruang hampa, maka interaksi dan komunikasi antar aktor SINas akan sangat dipengaruhi oleh kondisi ekosistem dimana SINas tersebut ditumbuhkan. Potensi sumberdaya (alam, manusia, finansial, sarana dan prasarana) dan berbagai kebijakan yang relevan merupakan unsur-unsur pembentuk ekosistem SINas tersebut. Ekosistem SINas dapat pula diposisikan sebagai infrastruktur inovasi. World Economic Forum (WEF) secara berkala, setiap tahun mempublikasikan Indeks Daya Saing Global (Global Competitiveness Index disingkat
menjadi dasar pertimbangan bagi para pemilik modal dalam memilih negara untuk melakukan investasi. Secara tersirat (berdasarkan pilihan pilar dan indikator yang digunakan), SINas merupakan bagian penting yang menentukan posisi daya saing suatu negara.
Pilar-pilar GCI yang secara langsung terkait dengan SINas adalah innovation dan technological readiness (Tabel 4). Selain itu dalam beberapa pilar yang lain,
terdeteksi juga indikator-indikator yang terkait nyata dengan SINas, misalnya proteksi Hak Kekayaan Intelektual (HKI), kualitas infrastruktur secara keseluruhan, kualitas pasokan listrik, kualitas sistem pendidikan (tinggi), ketersediaan jasa riset kebutuhan spesifik dan pelatihan, ketersediaan venture capital, ketersediaan teknologi mutakhir, adopsi teknologi pada tingkat perusahaan, jumlah pengguna internet, indeks ukuran pasar domestik, pembentukan klaster, kecanggihan proses produksi, kapasitas inovasi, kualitas lembaga R&D, pengeluaran perusahaan untuk R&D, kerjasama R&D antara universitas dengan industri, procurement pemerintah untuk produk teknologi maju, dan ketersediaan ilmuwan dan engineer (Table 5).
Posisi daya saing Indonesia pada tahun 2010, berdasarkan skor untuk 12 pilar CGI, secara umum dapat dikatakan tidak buruk tetapi juga tidak cukup baik (skor antara 3,6 – 4,4); hanya untuk pilar stabilitas makro ekonomi (macroeconomic stability, skor 5,2), kapasitas pasar domestik (market size, skor 5,2),
kesehatan dan pendidikan dasar (health and primary education, skor 5,8) yang dapat
digolongkan lumayan (‘somewhat’) baik; sedangkan sebaliknya pilar kesiapan
secara teknologis, Indonesia malah tergolong agak buruk (skor hanya 3,2 dari skala 1-7) (WEF, 2010).
Table 4 Competitiveness Index Indonesia 2008-2010
GCI Pillar Rank Score
2008 2009 2010 2008 2009 2010
I. Basic Requirement
1. Institution 68 58 61 3.9 4.0 4.0
2. Infrastructure 86 84 82 3.0 3.2 3.6
3. Macroeconomic stability 72 52 35 4.9 4.8 5.2
4. Health and Primary Education 87 82 62 5.3 5.2 5.8
II. Efficiency Enhancer
5. Higher Education and Training 71 69 66 3.9 3.9 4.2
6. Good market efficiency 37 41 49 4.7 4.5 4.3
7. Labor market efficiency 43 75 84 4.6 4.3 4.2
9. Technological readiness 88 88 91 3.0 3.2 3.2
10. Market size 17 16 15 5.1 5.2 5.2
III. Innovation and Sophistication Factors
11. Business sophistication 39 40 37 4.5 4.5 44
12. Innovation 47 39 36 3.4 3.6 3.7
Source : WEF (2008, 2009, 2010) Table 5. Indicators Related to National Innovation System for Indonesia in
2009/2010
Indicator Score Mean Rank
Intellectual Property Protection 3.8 3.7 58
Quality of Overall Infrastructure 3.7 4.3 90
Quality of Electricity Supply 3.6 4.5 97
Quality of Education System 4.3 3.8 40
Quality of Mathematics and Science Education 4.5 4.0 46
Quality of Management School 4.4 4.2 55
Local Availability of Specialized Research and
Training Services 4.4 4.1 52
Ease of Access to Loan 4.0 2.9 14
Venture Capital Availability 3.9 2.7 9
Availability of Latest Technologies 4.8 5.1 77
Firm Level Technology Absorption 4.9 4.9 65
Internet Users (per 100 persons), 2009 8.7 - 107 Broadband Internet Subscription (per 100
persons), 2009 0.7 - 99
Domestic Market Size Index 5.1 - 15
GDP (PPP) (billion international dollars), 2009 962.5 - 15
State of Cluster Development 4.5 3.6 24
Nature Competitive Advantage 4.1 3.6 33
Value Chain Breadth 4.4 3.7 26
Capacity for Innovation 3.7 3.2 30 Quality of Scientific Research Institution 4.2 3.8 44
Company Spending on R&D 4.0 3.2 26
University-Industry Collaboration on R&D 4.2 3.7 38 Government Procurement of Advance
Technology Products 4.2 3.7 30
Availability of Scientist and Engineers 4.7 4.1 31 Source : WEF (2010) The Global Competitiveness Report 2010-2011
Walaupun belum memuaskan, namun daya saing Indonesia telah terlihat mengalami kemajuan sampai pada tahun 2010 ini. Mungkin proses kemajuan ini yang dirasakan berlangsung masih agak lamban, kecuali pada satu tahun terakhir, dari tahun 2009 ke tahun 2010 ini, dimana peringkat daya saing Indonesia secara umum meningkat peringkatnya dari 54 ke 44 dari 139 negara yang disurvei oleh WEF (2010).
Pada tataran ekonomi global, magnet utama Indonesia pada saat ini adalah ukuran pasar domestiknya yang besar dengan penduduk Indonesia saat ini mencapai 237 juta jiwa. Indonesia adalah negara dengan penduduk terbesar ke empat setelah Cina, India, dan Amerika Serikat. Produk Domestik Bruto per kapita Indonesia saat ini telah mencapai USD 2,329 (WEF, 2010). Kapasitas pasar domestik yang besar ini jelas menjadi incaran berbagai negara untuk membanjirinya dengan berbagai produk barang dan jasa. Oleh sebab itu, sudah sangat tepat jika Presiden Republik Indonesia memberikan arahan agar perekonomian Indonesia lebih berorientasi pada pemenuhan permintaan pasar domestik.30 Pada era perdagangan bebas tentu Indonesia tidak dapat lagi memproteksi pasar domestiknya bagi produsen barang dan jasa asing. Dengan demikian, cara terbaik adalah membangun SINas yang mampu mendorong produksi barang dan jasa di dalam negeri yang kompetitif, sehingga pasar domestik Indonesia yang besar tidak hanya menjadi lahan bagi asing untuk memasarkan produknya.
Aktor Inovasi Indonesia. Sesungguhnya Indonesia sudah memiliki semua aktor utama yang esensial dibutuhkan untuk membangun SINas. Aktor-aktor dimaksud adalah para pihak yang melakukan kegiatan riset dan pengembangan teknologi, para pihak yang telah atau berpotensi untuk mengadopsi teknologi dalam berbagai kegiatan produksi barang dan jasa, dan para pihak yang mempunyai kapasitas dan/atau kewenangan untuk berperan sebagai mediator, fasilitator, atau regulator dalam menginisiasi atau membangun komunikasi dan interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi.
30 Arahan Presiden RI, Susilo Bambang Yodhoyono, pada berbagai kesempatan termasuk yang terakhir pada saat memberikan kuliah umumnya yang berjudul “Akselerasi Inovasi Teknologi dalam Rangka Mencapai Keunggulan Ekonomi Nasional” di Institut Teknologi 10 November Surabaya pada tanggal 14 Desember 2010.
Aktor pengembang teknologi di Indonesia cukup tersedia. Berdasarkan hasil survei pendapat eksekutif (executive opinion survey) yang dilakukan WEF (2010),
skor ketersediaan ilmuwan dan engineer adalah 4,7 berarti cukup tersedia. Secara keseluruhan sudah berada di atas rata-rata dari 139 negara yang disurvei (skor rata-rata 4,1) dan sudah berada di peringkat 31.
Pada tahun 2008/2009, jumlah tenaga fungsional akademis (dosen tetap) sudah mencapai 156.969 orang. Jika dihitung termasuk tenaga pengajar tidak tetap maka jumlahnya mencapai 228.781 orang. Tenaga fungsional akademis ini yang bernaung di dalam 83 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan 2.892 Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Dari total tenaga dosen tetap tersebut, 12.608 orang telah menyelesaikan jenjang pendidikan Strata 3 (doktor) dan 60.524 orang bergelar Strata 2 (master/magister).31
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 2008 pernah mengeluarkan data tentang jumlah peneliti di berbagai lembaga litbang pemerintahan sebanyak 7.403 orang. Sedangkan Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT) pernah melansir pada tahun yang sama, data jumlah perekayasa hanya 537 orang. Jumlah ini meliputi semua peneliti dan perekayasa yang ada di berbagai lembaga litbang pemerintahan.32 Data ini belum termasuk tenaga peneliti yang bekerja pada lembaga non-pemerintah dan berbagai industri di Indonesia.
Walaupun jumlah berbagai tenaga yang bertugas atau potensial untuk menjadi kekuatan nasional dalam upaya pengembangan teknologi sudah relatif besar, namun produktivitas sumberdaya manusia ini di bidang pengembangan teknologi masih relatif rendah. Isu utama yang sering dihembuskan sebagai ‘penjelesan’ tentang persoalan rendahnya produktivitas tenaga pengembang teknologi ini disebabkan karena rendahnya dukungan pembiayaan dari pemerintah untuk melakukan kegiatan riset.33
Rendahnya produktivitas tenaga fungsional akademik, peneliti, dan perekayasa Indonesia sebagaimana terindikasi dari jumlah publikasi ilmiah (scientific publication) dan paten yang diperoleh (granted patent) telah banyak diulas. Posisi
Indonesia yang sangat kurang produktif dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand telah banyak mendapat sorotan.
Namun demikian sesungguhnya dalam konteks SINas, ada persoalan pokok yang lebih serius, yakni rendahnya relevansi substansi kegiatan riset dan pengembangan dengan persoalan dan kebutuhan nyata para pengguna teknologi,
31 Data dari Kementerian Pendidikan Nasional tahun 2008/2009. Diunduh dari www.kemdiknas.go.id pada tanggal 20 Januari 2011.
32 Diunduh dari http://dhi.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=59466 pada tanggal 20 Januari 2011.
33 Tetapi juga bisa dilihat dari perspektif sebaliknya, yakni rendahnya alokasi anggaran untuk pembangunan bidang ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia saat ini disebabkan karena kegiatan riset dan pengembangan yang selama ini dilakukan (termasuk pada periode dimana anggaran riset dan pengembangan tersedia berkecukupan) tidak memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan perekonomian nasional.
baik untuk masyarakat, industri, maupun untuk kepentingan negara. Isu ini sesungguhnya yang menjadi ganjalan utama dalam membangun SINas di Indonesia. Aliran paket teknologi akan sangat sulit terjadi jika teknologi yang dihasilkan oleh perguruan tinggi dan lembaga litbang lainnya tidak sesuai dengan teknologi yang dibutuhkan, tidak sesuai dengan kapasitas adopsi pengguna yang dituju, dan/atau kalah kompetitif dibandingan dengan teknologi serupa yang telah tersedia.
Tantangan utama bagi para pengembang teknologi di Indonesia saat ini adalah mengembangkan teknologi yang: [1] sesuai kebutuhan masyarakat, industri, atau negara (teknologi yang relevan); [2] terjangkau secara ekonomi, handal secara teknis, dan sesuai budaya kerja pengguna (mempertimbangkan kapasitas adopsi pengguna); dan [3] mampu berkompetisi dengan produk teknologi serupa yang sudah memasuki pasar domestik Indonesia (kompetitif secara ekonomi dan kehandalan teknis).
Intervensi Pemerintah melalui berbagai kebijakan dan regulasi untuk mendorong penggunaan teknologi nasional dalam kegiatan produksi barang dan jasa di dalam negeri pada tahap awal mungkin dibutuhkan, tetapi harus dikelola dengan cerdas dan hanya diposisikan sebagai insentif awal untuk merangsang perkembangan teknologi nasional dan tidak boleh menjadi kebijakan yang bersifat permanen. Teknologi nasional pada akhirnya harus mampu bersaing secara terbuka dengan teknologi impor. Jika tidak akan selamanya menjadi beban negara dan bukan menjadi faktor pengungkit untuk kemandirian SINas.
Aktor pengguna teknologi untuk produksi barang dan jasa di Indonesia harus diakui masih terbatas. Kegiatan bisnis di Indonesia masih dominan diwarnai kegiatan perdagangan dan eksploitasi sumberdaya alam, kalaupun ada industri manufaktur biasanya hanya melakukan kegiatan produksi dari produk di bawah lisensi asing. Ragam bisnis seperti ini mempunyai tingkat kebutuhan teknologi yang rendah.
Pengguna teknologi yang lain adalah masyarakat, misalnya para petani, peternak, nelayan, dan pengrajin. Kelompok pengguna ini umumnya hanya membutuhkan teknologi sederhana yang umumnya telah tersedia. Tantangan utama pengembangan teknologi untuk kelompok pengguna ini adalah menyediakan teknologi yang sesuai kapasitas adopsinya. Masyarakat pada saat ini mempunyai kapasitas adopsi teknologi yang rendah, baik dari dimensi teknis, finansial, maupun keterbatasan rentang adaptasinya terhadap perubahan budaya kerja. Kendala yang bersifat teknis dalam proses adopsi teknologi merupakan kendala yang relatif paling mudah untuk diatasi, misalnya melalui kegiatan pelatihan dan demonstrasi aplikasi teknologi yang akan diintroduksikan. Akan tetapi kendala finasial tidak selalu mudah untuk diatasi. Pada dasarnya, harus ada kemudahan akses bagi kelompok masyarakat ini untuk mendapatkan modal investasi untuk adopsi teknologi disertai peningkatan kemampuannya dalam mengelola keuangan serta melakukan perhitungan neraca bisnis.
Pemerintah sesungguhnya mempunyai multi-peran dalam skenario SINas. Salah satu peran tersebut adalah juga sebagai pengguna teknologi, baik untuk fungsi
pelayanan kepada masyarakat maupun yang lebih spesifik lagi adalah untuk fungsi pertahanan dan keamanan. Pemerintah diposisikan juga sebagai pengguna teknologi karena pemerintah juga membutuhkan teknologi. Pemenuhan kebutuhan teknologi khususnya untuk pertahanan dan keamanan sudah selayaknya diupayakan dari hasil kemampuan pengembangan teknologi nasional. Kemandirian bangsa dalam teknologi pertahanan dan keamanan perlu dibangun. Interaksi antar-aktor dan infrastruktur inovasi. Jika mencari biang keladi penyebab belum terwujudnya SINas Indonesia yang produktif, maka ada dua penyebab utamanya, yakni : [1] sangat terbatasnya komunikasi dan interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi; dan [2] belum terbangunnya infrastruktur/ekosistem inovasi yang menopang tumbuh-kembang aktor pengembang dan pengguna teknologi ke arah yang lebih merangsang keduanya untuk berinteraksi.
Kebijakan, regulasi, dan unsur ekosistem inovasi lainnya perlu dirancang secara cermat dan tepat dalam rangka memperbesar peluang untuk melakukan percepatan dalam upaya menyelesaikan permasalahan SINas saat ini, sebagaimana diuraikan sebelumnya, yakni mencakup persoalan: [1] mengubah ‘mindset’ para akademisi, peneliti, perekayasa, dan pelaku riset lainnya agar lebih sungguh-sungguh memfokuskan orientasi kegiatannya pada pemenuhan kebutuhan atau solusi persoalan nyata yang dihadapi masyarakat dan negara; [2] mendorong agar para pelaku bisnis agar tertarik untuk berkiprah pada segmen industri hilir, untuk mengolah sumberdaya lokal/nasional menjadi produk barang atau jasa sesuai dengan permintaan pasar domestik, sehingga akan menumbuhkan kebutuhan teknologi atau dengan kata lain memperbesar kapasitas serapan teknologi oleh para aktor pengguna; dan [3] memberikan kesempatan dan dorongan agar lembaga intermediasi dapat berfungsi secara optimal, tidak hanya dalam ‘memasarkan’ teknologi (seperti peran yang dominan terlihat selama ini) tetapi juga meningkatkan perannya dalam ‘merekam’ kebutuhan dan persoalan yang dihadapi oleh para pengguna.
Walaupun secara teoritis, persoalan yang menjadi kendala dapat dideteksi dan diidentifikasi dengan tepat serta solusi jitunya dapat diformulasikan, namun karena kompleksitas persoalan, lebarnya rentang spektrum keragaman komponen solusinya, dan perlunya keterlibatan banyak pihak; maka untuk implementasinya dibutuhkan upaya ekstra keras dan partisipasi banyak pihak secara sinergis dan terfokus.34
Mengubah mindset para akademisi, peneliti, dan perekaya agar menggeser
orientasi riset yang dilakukannya dari dominan untuk pengembangan ilmu35 34 Simak juga opini Sakti Nasution berjudul ‘Freeman, Inovasi, dan Sepak Bola’ yang dimuat di Media Indonesia, 18 Januari 2010: “Akan terasa sulit untuk melakukan kolaborasi inovasi
jika para periset, inovator, penemuan dan kekayaan intelektual universitas/lembaga riset masih belum berorientasi pada pemenuhan kebutuhan riil masyarakat, pasar, atau dunia bisnis pada umumnya. Sementara badan usaha enggan dan terpaksa tetap memilih cara mengembangkan produk barang/jasa secara sendiri-sendiri atau membelinya ke luar negeri”.
35 Atau untuk tujuan yang lebih pragmatis, seperti hanya untuk memperoleh ‘angka kredit’ supaya bisa promosi jabatan fungsionalnya, atau karena alasan materialistik lainnya.
menjadi lebih terarah pada upaya memenuhi kebutuhan atau menyediakan solusi bagi persoalan nyata, tidak akan mudah dilakukan dan akan membutuhkan waktu yang relatif lama. Proses perubahan mindset akan berlangsung secara
bertahap, butuh proses ‘unlearning’ terlebih dahulu sebelum konsepsi baru dapat
diadopsi.
Sudah sejak lama dan sekarang semakin banyak dibicarakan tentang perlunya Indonesia mengekspor produk jadi (consumer goods), bukan hanya berupa bahan
mentah atau barang setengah-jadi. Industri-industri pengolahan dan manufaktur perlu untuk dikembangkan. Jika ini dilakukan, maka akan menyerap banyak tenaga kerja di dalam negeri36 dan nilai tambah yang signifikan diperoleh serta perekonomian nasional akan semakin membaik. Skenario ini baik dan logis, namun mengapa belum juga menjadi kenyataan?
Kendalanya adalah perekonomian Indonesia masih sangat bergantung pada investasi asing. Ini yang menyebabkan banyak skenario pembangunan nasional yang tidak mampu direalisasikan. Jika modal berasal dari investor asing (negara donor ataupun perusahaan multi nasional) maka menjadi logis jika kepentingan asing yang lebih dominan mewarnai perekonomian nasional. Perekonomian nasional tidak akan steril dari kepentingan ekonomi dan politik internasional. Lembaga intermediasi tidak akan dapat berperan efektif jika teknologi yang dihasilkan para pengembang tidak sesuai dengan kebutuhan pengguna. Kelirunya justeru kebanyakan lembaga intermediasi lebih berorientasi pada upaya memasarkan teknologi yang tersedia (yang tidak sesuai dengan kebutuhan atau sudah relevan dengan kebutuhan tetapi tidak kompetitif secara ekonomi dibandingkan dengan teknologi asing yang sudah merambah pasar Indonesia) dan belum banyak membantu upaya mengalirkan informasi kebutuhan teknologi kepada para pengembang.
Dalam konteks ini, mungkin benar ungkapan bahwa sesungguhnya kita sudah berada pada ‘track’ yang benar, tapi persoalannya kita menghadap ke arah yang
salah!
Peran Pemerintah. Terkait dengan SINas, pemerintah mempunyai multi-peran atau berperan pada berbagai posisi. Sebagian aktor pengembang teknologi adalah lembaga-lembaga pemerintah, karena dibiayai oleh anggaran pemerintah dan diawaki oleh personel pegawai pemerintah, misalnya LPNK yang menyelenggarakan kegiatan riset dan/atau pengembangan teknologi, demikian pula PTN dimana penelitian merupakan salah satu unsur tridharma-nya.
Untuk kondisi Indonesia saat ini, peranan pemerintah masih sangat dominan dalam komunitas pengembang teknologi; sementara peran industri masih terbatas dan sangat berorientasi untuk pemenuhan kebutuhannya sendiri. Kondisi yang sama juga terlihat pada berbagai negara berkembang. Di negara maju, peran dan kontribusi industri atau dunia usaha dalam pengembangan
36 Sehingga tidak perlu lagi mengirim TKI ke luar negeri, yang banyak berakhir menjadi cerita pilu.
teknologi sudah lebih kentara, walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa peran pemerintah ternyata masih cukup dominan.
Untuk penyelenggaraan pemerintahan, yakni memberikan pelayanan publik dan menjaga keutuhan serta kedaulatan negara, jelas butuh dukungan teknologi. Dengan demikian, sebagaimana dikemukakan sebelumnya, pemerintah juga merupakan pengguna teknologi yang penting, disamping tentunya juga dunia usaha dan masyarakat.
Jika pemerintah bermain di kedua sisi (sebagai pengembang dan pengguna teknologi, sebagaimana khususnya untuk teknologi pertahanan dan keamanan), maka patut untuk diasumsikan bahwa proses aliran teknologi akan dapat mudah terjadi, demikian pula sebaliknya informasi tentang jenis dan kuantitas kebutuhan teknologi akan mudah dikomunikasikan antara sesama lembaga pemerintah. Namun ternyata asumsi ini tidak terbukti benar. Kebutuhan teknologi pertahanan dan keamanan masih dominan dipasok dari pihak asing.37
Banyak argumen yang dapat dipakai untuk menjelaskan tentang mengapa interaksi dan komunikasi antara sesama lembaga pemerintahpun masih terkendala. Koordinasi dan sinergi kegiatan lintas sektor sering hanya diterjemahkan sebagai pelaksanaan rapat koordinasi semata dan dengan mengadakan rapat tersebut dianggap bahwa kewajiban koordinasi dan sinkronisasi telah tertunaikan.
Hakikinya koordinasi dan sinkronisasi kegiatan harus berbuah peningkatan efektivitas pencapaian sasaran kegiatan, efisiensi dalam pengelolaan sumberdaya (anggaran, tenaga, sarana, prasarana), dan terbangunnya semangat kebersamaan, tumbuhnya sikap profesionalisme, serta semakin kokohnya jiwa nasionalisme. Pemerintah pada saat ini sangat diharapkan peranannya dalam melakukan intermediasi dan fasilitasi serta memberlakukan regulasi yang berdampak pada peningkatan intensitas dan kualitas komunikasi dan interaksi antara pengembang dan pengguna teknologi. Sesungguhnya pemerintah sudah membentuk lembaga intermediasi, fasilitasi, dan regulasi ini. Terbukti dari adanya lembaga intermediasi (misanya Business Technology Center, disingkat BTC,
dan Business Innovation Center, disingkat BIC) hasil bentukan pemerintah.
Juga telah dialokasi anggaran untuk mendukung pelaksanaan riset dan pengembangan, misalnya di Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Riset dan Teknologi, dan berbagai kementerian lainnya, sebagai upaya pemerintah memfasilitasi peran berbagai pihak untuk mewujudkan SINas. Serta telah pula diterbitkan beberapa peraturan perundang-undangan yang diniatkan sebagai regulasi untuk mendorong tumbuh kembang SINas, misalnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi beserta beberapa peraturan pemerintah turunannya.
37 Persoalan ini mungkin yang menyebabkan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, menginstruksikan lembaga pemerintah yang bertanggung jawab pada sektor pertahanan dan keamanan agar secara maksimal memprioritaskan penggunaan teknologi nasional untuk pemenuhan kebutuhan tugasnya.