Potret SINas Indonesia
3.4. Permasalahan yang Dihadapi
Produk langsung dari implementasi SINas yang efektif adalah teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat. Sebagai sosiolog, Oey-Gardiner (2008) mengingatkan bahwa teknologi seharusnya oleh dan untuk manusia. Teknologi tidak boleh ditempatkan dalam ‘menara gading’, yang bukan saja jauh dari kehidupan sosial, tapi juga jauh dari realita ekonomi. Jangan sampai biaya yang telah dikeluarkan begitu tinggi, tapi tidak menyentuh siapa pun.
Prasyarat bagi produk teknologi untuk dapat bermanfaat bagi masyarakat luas adalah jika teknologi tersebut diaplikasikan dalam proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan manusia. Oleh sebab itu, SINas tidak dapat dinilai keberhasilannya secara parsial. SINas harus dievaluasi sebagai suatu sistem yang utuh.
Beberapa indikasi menunjukkan bahwa SINas Indonesia masih berada pada tahap yang sangat memprihatinkan, misalnya:
[1] Pengembangan teknologi oleh perguruan tinggi dan lembaga riset masih pada tataran academic exercise dan belum memberi perhatian pada
[2] Komunikasi dan interaksi antara kelembagaan ataupun komunitas pengembang teknologi dan pengguna teknologi masih sangat rendah (Prihandana, 2008);
[3] Kalaupun terjadi interaksi antara kelembagaan pengembang dan pengguna teknologi, sifatnya belum dalam format membangun kemitraan-setara untuk menghasilkan teknologi yang dibutuhkan (Panigoro, 2008; Prihandana, 2008);
[4] Pelaku bisnis hanya sebagian kecil yang tergolong produsen yang mandiri, sebagian besar adalah pedagang atau produsen yang mengaplikasikan teknologi asing atas dasar lisensi (Prihandana, 2008);
[5] Kemampuan teknis pihak pengguna teknologi juga masih tergolong lemah, sehingga spending untuk teknologi masih terfokus pada upaya memahami,
mengasimilasi, dan menguasai produk teknologi yang dibeli, bukan untuk pengembangan teknologi sendiri (Ibrahin, 2008; Thee, 2008); dan
[6] Peran pemerintah melalui regulasi dan intermediasi juga belum optimal dalam merangsang interaksi antara akademisi dan pelaku bisnis (Kadiman, 2008).
Kelemahan dan kendala yang dijumpai pada semua lini SINas sebagaimana yang berhasil diidentifikasikan tersebut, menyebabkan kontribusi SINas Indonesia terhadap pembangunan nasional di semua sektor masih sangat terbatas. Kenyataan pahit ini harus diakui oleh semua pihak terkait agar upaya pembenahannya dapat dilakukan.
Ada empat tantangan yang paling menonjol untuk mewujudkan SINas Indonesia saat ini, yakni: [1] akademisi enggan bergeser dari wilayah nyaman, [2] kebutuhan teknologi komunitas bisnis belum tumbuh, [3] kelembagaan intermediasi belum berfungsi, dan [4] regulasi insentif belum efektif
Akademisi Enggan Bergeser Dari Wilayah Nyaman. Permasalah menjadi lebih sulit karena sebagian pihak tidak melihat hal tersebut sebagai masalah nyata yang dihadapi. Sebagai contoh, sebagian akademisi menganggap tugas kelembagaan akademik adalah hanya fokus (dan terbatas) pada mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menganggap upaya mendifusikannya atau mendorongnya agar digunakan dalam proses produksi bukan merupakan bagian dari tanggung jawab kelembagaan atau komunitas akademik. Jika dikaitkan dengan Tridharma Perguruan Tinggi, maka harusnya bentuk pengabdian kepada masyarakat mencakup upaya menyediakan solusi teknologi untuk permasalahan nyata yang dihadapi masyarakat.
Wilayah nyaman (comfort zone) bagi para akademisi dan peneliti adalah
melaksanakan kegiatan riset. Menjadi ‘gerah’ jika didorong untuk bergeser ke kegiatan difusi teknologi atau melaksanakan kemitraan dengan dunia bisnis untuk mengaplikasikan hasil risetnya dalam proses produksi. Hal ini terbukti dengan timpangnya minat akademisi dan peneliti berpartisipasi dalam Program Insentif yang ditawarkan Kementerian Negara Riset dan Teknologi. Sampai tahun 2008, proposal untuk riset dasar dan riset terapan masih jauh lebih
dominan dibandingkan dengan proposal untuk percepatan difusi dan peningkatan kapasitas iptek sistem produksi (Tabel 3).
Hasrat Komunitas Bisnis Akan Teknologi Belum Tumbuh. Umumnya pelaku bisnis yang mayoritas pedagang atau produsen produk dengan lisensi teknologi asing, belum menganggap perlu untuk berinvestasi dalam pengembangan teknologi sendiri. Sebagai ‘positive gesture’ dari pihak bisnis pada dunia
pendidikan, bantuan umumnya diberikan dalam berbagai bentuk, misalnya beasiswa dan peralatan laboratorium, tetapi jarang dalam bentuk pembiayaan riset kemitraan yang sungguh-sungguh difokuskan untuk menghasilkan teknologi yang akan digunakan dalam proses produksi.
Tabel 3. Perbandingan minat akademisi dan peneliti Indonesia dalam melaksanakan kegiatan pengembangan (riset dasar dan terapan) dan penerapan
teknologi (difusi dan kapasitas produksi), tahun 2007-2009
No. Jenis Insentif
2007 2008 2009
Proposal Dibiayai Proposal Dibiayai Proposal Dibiayai
1 Riset Dasar 517 166 1.543 179 1.044 124
2 Riset Terapan 561 227 1.677 243 1.837 122
3 Difusi 82 48 245 49 582 48
4 Kapasitas Produksi 40 32 119 51 376 66
Jumlah 1.200 473 3.584 522 3.839 360
Sumber : Kementerian Negara Riset dan Teknologi (2009)
Pelaku bisnis di Indonesia lebih memilih untuk membeli produk teknologi asing yang sudah tersedia, sebagai bentuk keengganan untuk menanggung resiko kegagalan dalam pengembangan teknologi baru. Pelaku bisnis Indonesia juga lebih memilih memakai jasa konsultan asing untuk melakukan kegiatan kerekayasaan daripada tenaga pakar lokal.29
Kelembagaan Intermediasi Belum Berfungsi. Upaya intermediasi, baik berupa program maupun pembentukkan kelembagaan, belum berfungsi secara optimal. Kegagalan kelembagaan dalam menjalankan fungsi intermediasi ini diduga lebih
29 Preferensi pada konsultan asing ini bisa menimbulkan berbagai penafsiran, antara lain: karena jasa konsultan asing tersebut termasuk dalam paket dana pinjaman, atau merupakan bentuk ketidak percayaan pada tenaga ahli dalam negeri, atau karena pertimbangan finansial dan/atau pertimbangan pencitraan (image).
disebabkan karena: [1] paket teknologi yang dikembangkan tidak sesuai dengan kebutuhan industri atau secara teknis sudah sesuai tetapi secara ekonomi belum kompetitif, dan [2] sikap pelaku bisnis yang tidak berani mengambil resiko untuk mengadopsi teknologi baru (dalam hal ini teknologi domestik) dan merasa lebih aman dan nyaman dengan pilihan teknologi yang sudah mapan (umumnya teknologi asing dengan brand yang sudah dikenal konsumen).
Penyebab kegagalan lain dapat pula karena kelembagaan intermediasi tersebut diawaki oleh personel dengan kemampuan manajerial dan/atau marketing yang
terbatas. Terlepas dari pertimbangan kemampuan personel kelembagaan intermediasi, ‘menjual’ suatu produk teknologi yang sesungguhnya tidak dibutuhkan oleh pelaku industri tentunya merupakan pekerjaan yang maha berat untuk dilakukan oleh siapapun.
Regulasi Insentif Belum Efektif. Upaya untuk meningkatkan peran aktif kelembagaan bisnis dalam kegiatan pengembangan teknologi melalui pemberian insentif pajak dan kepabeanan telah dirintis, yakni dengan telah dikeluarkannya PP 35/2007). Akan tetapi, peraturan ini belum dapat diterapkan karena substansi ini belum terakomodir dalam peraturan atau petunjuk teknis yang terkait dengan perpajakan dan kepabeanan.
Sinkronisasi dan penuntasan peraturan sampai kepada petunjuk teknisnya menjadi agenda yang sangat penting untuk diprioritaskan, agar upaya pemberian insentif kepada dunia usaha untuk berperan aktif dalam kegiatan pengembangan dan adopsi teknologi dapat diaktualisasikan. Jika tidak, maka semua upaya rintisan yang telah dilakukan akan menjadi sia-sia. Saat ini revisi PP 35/2007 sedang mendapat perhatian nasional.