ANALISIS SOSIAL-TRANSENDENTAL folklor lisan
Bagan 4.8: Analisis Folklor Lisan
F
O
L
K
L
O
R
L
I
S
A
N
KULTURAL LINGUISTIK INDONESIA KRAMA KRAMA INDONESIA MORAL NASIHAT TOPONIMI RELIGIUS SOSIAL EMOSI PRIBADIcommit to user
Tabel 4.21: Distribusi Analisis Kultural pada Folklor Lisan
FOLKL OR NO KRITIK SOSIAL KRITIK MORAL
NASIHAT RELIGIUS EMOSIOSAL PRIBADI TOPONI MI 1 1 2 3 4 v v 5 6 v 7 V 8 v 9 v 10 v 11 V 12 v v 13 v 14 V 15 V V 16 v V 17 V V 18 V 19 20 21 V 22 V 23 V 24 25 V 26 V 27 V v 28 V V 29 30 31 v 32 33 V v v 34 V 35 V V 36 V V 37 V 38 V 39 V 40 V 41 V 42 V 43 44 V 45 V v 46 V V 47 V
commit to user 2 1 v V 2 V v 3 V V 4 V V 5 v v 6 v 7 V v 8 V 3 1 V 2 V 3 V 4 V 5 V V 6 V v 7 V 8 9 V V 10 V 11 V v 12 V 13 V 14 V v 4 1 2 V 3 V 4 V 5 V 6 V 7 v V JUMLAH V
Gambar 4.44: Sebuah warung di lokasi Pandan Kuning Petanahan yang ramai pada malam Jum’t terutama malam Jum’t Kliwon
commit to user
d. Kearifan Lokal yang Tercermin dalam Semua Bentuk Folklor
Dengan mengacu pada kearifan lokal yang mencakup berbagai pengetahuan, pandangan, nilai serta praktik-praktik dari sebuah komunitas baik yang diperoleh dari generasi-generasi sebelumnya, maupun dari pengalamannya berhubungan dengan lingkungan dan masyarakat lainnya untuk menyelesaikan permasalahan dan/ atau kesulitan yang dihadapi secara baik, benar dan bagus Ahimsa-Putra, 2010c) dapat dianalisis semua bentuk folklor baik sebagian lisan, bukan lisan, dan lisan yang ditemukan di daerah penelitian.
Dengan menggunakan perspektif emik, yakni pada saat mengambil data dengan menggunakan sudut pandang informan sebagai penyedia folklor lisan maupun sebagian lisan yang merupakan kesatuan gagasan sebuah wacana ceritera rakyat dipadukan dengan perspektif etik peneliti melalui interpretasi pada folklor yang tersurat, tersirat, maupun terpendam64 pada tiap jenis folklor di lokasi penelitian dapat menuak kearifan lokal yang terkandung dalam folklor. Uraian mengenai kearifan lokal dari hasil analisis tersebut adalah sebagai berikut:
1) Kearifan Lokal dalam Demensi Sosial Kemasyarakatan
Kearifan lokal (Cultural Wisdom) sangat erat kaitannya dengan segala sesuatu yang ada pada masyarakat tersebut yang menjadi bagian dari budayanya yang terwujud dalam bentuk a) kesabaran, b) gotong royong/kerjasama, c ) kemanusiaan, dan d) moral. Semua wujud tersebut tecermin baik pada folklor lisan, setengah lisan, dan bukan lisan.
Pada folklor lisan kesabaran jelas terdapat pada sosok Sidakarsa yang dengan sabar menunggu jawaban gurunya, Ngabdulngawal, untuk ikut naik haji
64 Ahimsa, 2007 tentang kearifan lokal dalam sastra, metode untuk menemukannya menjelaskan tentang tersurat adalah cereteme-ceretime, yang tersirat adalah fragmen-fragmen sebuah karya sastra, dan yang terpendam adalah makna-makna yang ada dalam konteks keagamaan.
commit to user
bersama. Pada folklor setengah/sebagian lisan nampak pada kesabaran masyarakat dalam mengolah tanah baru yang harus melaksanakan upacara tradisi dan hanya mencangkul tiga cangkulan yang diistilahkan dengan telung kaclukan terlebih dahulu baru hari berikutnya mencangkul untuk mengolah tanah itu terus sampai selesai. Dalam folklor bukan lisan nampak pada pengobatan tradisional yang menuntut kesembuhan yang bertahap tidak instan layaknya obat kimia masa kini. Dalam hal makanan masyarakat juga masih mengolah makanan dengan cara trdisional meskipun membutuhkan waktu dan tenaga yang lebih apabila dibandingkan dengan memasak dengan menggunakan bahahan jadi yang tentu saja untuk kesehatan juga tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Gotong royong dan kerjasama pada masyarakat dapat tercermin dari semua jenis folklor misalnya pada folklor lisan terlihat melalui kerjasama antara masyarakat dalam membantu Raden Jana ketika mengejar Jaka Puring yang lari menghindar karena takut akan kemarahan Raden Jana yang isterinya telah disiksa. Pada folklor setengah/sebagian lisan sangat nampak adanya kerjasama dalam melaksanakan upacara tradisi karena tidak ada satupun upacara tradisi yang dilaksanakan secara perseorangan melainkan harus dikerjakan bersama-sama secara kolektif. Pada folklor bukan lisan pun tecermin kebersamaan yakni adanya orang yang dapat memberikan obat tradisional bila diperlukan dengan tidak mematok bayaran. Bahan obat terkadang tidak bisa didapat dengan mudah di alam bebas. Namun, kadang hanya dimiliki oleh seseorang dan untuk itu biasanya yang bersangkutan mengizinkan untuk mengambilnya demi menolong sesama. Masih banyak lagi hal yang dapat ditemukan kearifan lokal dalam bentuk kerja sama ini.
Sebagai manusia yang sosial, masyarakat di lokasi penelitian mumunculkan wujud kearifan lokal berupa kemanusiaan yang dapat dilihat melalui krtik terhadap kekerasan Jaka Puring yang tidak manusiawi sehingga pada akhir ceritera dia diubah bentuk majadi buaya putih. Dalam hal ini apabila manusia tidak humanis, hal ini dimetaforakan sebagai seekor buaya putih yang jahat dan memangsa manusia. Dalam folklor setengah lisan, buruh nderep ‘penggarap sawah saat panen padi’ para pekerja sawah untuk makan bersama disawah berarti tetap menganggap bahwa semua manusia adalah sama dan
commit to user
selayaknya duduk bersama menikmati hasil panen bersama. Di sisi lain kemanusiaan juga tecermin pada folklor bukan lisan yakni pada pengobatan, yaitu orang akan dengan rela memberikan tanaman atau apa saja yang dibutuhkan untuk menolong sesama ketika orang tersebut sakit dan membutuhakannya. Kemanusiaan telah menjadi sendi dalam kehidupan masyarakat tradisional di lokasi penelitian.
Moral dan nilai65 merupakan dua hal bagian yang sangat penting dalam hidup bersama membentuk masyarakat. Untuk itulah, nasihat yang berkaitan dengan moral dan nilai itu dengan jelas tercermin pada segala bentuk folklor setempat. Pada dasarnya nasihat tentang moral ini sangat erat dengan adanya istilah hakikat yaitu manusia harus memahami tentang baik dan buruk, benar dan salah dalam bermasyarakat. Nilai kebaikan, kebenaran dan keindahan selalun berada pada matra nilai yang paling tinggi dan menjadi tujuan akhir kehidupan. Dengan kata lain, nilai-nilai tersebut sifatnya universal dan berlaku sebagai nilai akhir dan subjektif sifatnya, sedangkan fenomena atau riak kehidupan yang seolah-olah menjauhkan antara nilai dan kenyataan dipahami sebagai ketidaklengkapan atau kesalahan ikhtiar manusia (Lelapary, Leunard Heppy, 2010)66
2) Kearifan Lokal dalam Dimensi Spiritual
Kearifan lokal spiritual (Spitual Wisdom) sangat kental dan sangat dominan dalam semua bentuk folklor di lokasi penelitian yang masih tergolong tradisional. Kearifan spiritual dalam hal ini berkaitan dengan sesuatu di luar kemampuan manusia itu sendiri yang dianggap memiliki dunia supranatural yang tidak setiap orang dapat berkominikasi dengannya sehingga hanya orang yang
65 Norma merupakan ukuran yang digunakan oleh masyarakat apakah tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang merupakan tindakan yang wajar dan dapat diterima karena sesuai dengan harapan sebagian besar warga masyarakat ataukah merupakan tindakan yang menyimpang karena tidak sesuai dengan harapan sebagian besar warga masyarakat sedangkan nilai adalah konsepsi-konsepsi abstrak di dalam diri manusia, mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk. Horton dan Hunt (1987) menyatakan bahwa nilai adalah gagasan mengenai apakah suatu pengalaman itu berarti apa tidak berarti.
66
commit to user
memiliki kekuatan lebih yang dapat berkomunikasi dengannya. Oleh sebab itu, istilah wong tua, wong sing garing silite ‘orangtua, orang yang sering bertirakat’ yang memiliki kekuatan dan kemampuan lebih maka orang yang demikian yang dianggap dapat berkomunikasi dengan alam supranatural sehingga apa bila ada keperluan yang berkaitan dengan hal-hal goib selalu meminta tolong pada beliau. Pada folklor lisan dapat dipahami melalui keyakinan akan pertolongan Dewi Sri dan Ibu Ratu yang dapat menolong Dewi Sulastri ketika dibawa lari oleh Raden Jana. Hal yang sama muncul pada setiap folklor lisan lainnya. Dalam pemikiran masyarakat setempat juga mengklasifikasikan pemikiran dalam menangkap hal yang berada di luar dirinya sebagai penguasa tertinggi dengan wakil-wakilnya. Semua hal dalam kehidupan masyarakat yang masih tergolong religi ini diwarnai dengan aspek-aspek spiritual sehingga dalam folklor yang bukan lisan sekalipun tetap mengandung unsur-unsur spiritual dalam bentuk keyakinan akan kekuasaan Hyang Widhi Wasa dalam proses penyembuahan. Apabila jamu tradisional yanag diperlukan tidak ditemukan, sedangkan orang tersebut kemudian meninggal dunia, semua menyakini memang yang bersangkutan sudah waktunya untuk kembali pada sang Pencipta dengan istilah wis apese. Pada folklor setengah lisan, semua ekspresi nonverbal penuh dengan makna simbolik dengan sebagai bentuk spiritual termasuk juga ungkapan verbal yang menyertainya. Hal tersebut sama seperti hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Mingkamol Hongsawong (2012)67 yakni process of local wisdom in healing with herbs in Thailand and in Laos PRD
was found that the disease curings were based on beliefs and herb uses as well as related to four elements declared by the Buddhism ‘Proses kearifan lokal dalam
penyembuhan dengan menggunakan herbal di Thailand dan Laos PRD dijumpai bahwa penyembuhan penyakit berdasarkan keyakinan dan penggunaan herbal yang dipakai berhubungan erat dengan empat element yang diyatakan oleh Budha’. Ini adalah juga merupakan jenis kearifan lokal spiritual dalam folklor
67
Local Wisdom in using Herbs of Traditional Healer for Healing Phee-Ma-Reng-Suang Disease: A Case Study of Traditional Healer in Nakorn Prathom Province, Thailand dimuat pada European Journal of Social Sciences – Volume 33, Number 4 (2012)
commit to user
bukan lisan pada ranah pengobatan. Di daerah pesisir Selatan Kebumen masyarakat dalam hal penyembuhan penyakit juga berdasarkan keyakinan dan penggunaan herbal yang dipakai dan berhubungan erat dengan penguasa darat, laut, dsan penunggu-penunggu yang ada pada setiap lokasi.
3) Kearifan Lokal dalam Keterbukaan Terhadap Unsur Luar yang Bersifat Baik
Kearifan edukatif diartikan sebagai suatu kesadaran akan keinginan selalu belajar memperbaiki diri menuju kearah yang lebih baik melalui proses pembelajaran sepanjang hidup. Hal ini muncul pada kisah perjalanan Santri Gudhig yang melaksanakan perjalanan panjang untuk mencari ilmu. Folklor bukan lisan juga mengalami perkembangan kebaikan seperti contoh pada pembuatan rumah yang berkembang menuju ke arah yang lebih praktis dan lebih ekonomis meskipun di pihak lain hal ini mengurangi keberadaan rumah tradisional yang sangat sarat makna itu. Oleh sebab itu, terdapat rumah kombinasi dengan istilah omah buta mangku wanita ‘rumah raksasa memangku wanita’,
omah loji ‘rumah gedong’, omah karna tanding ‘rumah Karno bertarung’.
Keariafan edukatif ini akan berjalan terus sejalan dengan perkembangan komunikasi dan transportasi yang nantinya akan mempengaruhi tata nilai, norma, dan budaya masyarakat setempat68. Sepanjang perubahan itu masih memelihara keseimbangan alam dan menjaga kelestariaany seperti yang terjadi lokasi penelitian ini, hal tersebut dapat digolongkan sebagai kearifan edukatif yang masuk dalam golongan kearifan masa kini69. Dapat diyakini bahwa dengan kearifan lokal, segala pengaruh global dan teknologi komunikasi dapat
68
Perbedaan nilai ini memiliki karakter yang berbeda dari satu tempat ke tempat lain karena terkadang sesuatu dianggap benar di suatu tempat belum tentu benar ditempat lain.(Koentjoroningrat,
69
Ahimsa, 2007: 6 dalam kaerifan lokal dalam sastra menggolongkan kearifan lokal menjadi 2 yaitu kearifan tradisional yang disebut sebagai kearifan dulu/ kearifan lama dan kearifan kini/ kearifan kontenporer/ kearifan baru.
commit to user
diminimalkan dapak negatifnya karena kearifan lokal tradisional dapat menangkal dampak pengaruh negatif globalisasi sehingga akan menghasilkan kearifan lokal baru seperti yang pernah diteliti di Tailand oleh Miss Roikhwanphut Mungmachon (2011)70 seperti yang terjadi di Tahiland dengan hasil seperti berikut: Globalization has arrived and negative impacts are felt luckily many of
these communities are studying their problems, finding solutions, and are becoming strong again. They start by collectively studying their problems, recovering traditional wisdom and knowledge which remain ‘globalisasi telah
membawa dampak negatif, untungnya masyarakat memahami persoalan itu dan mencari pemecahan masalahnya sehingga menjadi kuat kembali. Mereka memulai dengan menggunakan sisa kearifan lokal tradisi yang ada’. Dapat disimpulkan adanya hubungan yang erat antara kearifan lokal tradisional dengan kearifan lokal kontenporer.
4) Kearifan Lokal pada Sistem Simbolik
Sebagai bagian dari masyarakat Jawa, di daerah penelitian ini masyarakatnya masih sangat kental dengan berbagai sistem simbolik yang penuh makna seperti yang dimunculkan pada folklor lisan, setengah lisan, dan bukan lisan. Pada folklor lisan dijumpai perubahan manusia yang berkarakter buruk menjadi seekor buaya karena buaya tergolong sebagai hewan yang memiliki karakter buruk. Pada folklor bukan lisan dapat dipahami beberapa jenis pemaknaan simbol seperti simbol yang mengambil dari bunyinya seperti daun kluwih ‘nama jenis daun’ maksudnya biar luwih ‘lebih’. Banyu tawa ‘air tawar’ mengandung simbol sifat air yang dingin agar menjaga tempat penyimpanan padi selalu dalam suasana dingin sehingga padi dapat bertahan tinggal di tempatnya (awet). Sifat lain yang diambil sebagai penyimbolan ( sistem simbolis) adalah
watu ‘batu’ yang diletakkan di dalam ruang penyimpanan padi karena sifat batu
yang keras dan relatif tetap diharapkan sebagai keinginan agar padinya tetap ada
70
local wisdom: the development of community culture and production processes in thailand di muat pada Research Journal – November 2010 Volume 9, Number 11--Utit Sungkharat, Thaksin University, Thailand
commit to user
atau awet. Kearifan lokal pada sistem simbolik ini adalah adanya pemanfaatan kekayaan alam untuk keperluar bersama dalam segala sektor. Dengan demikian tanaman, hewan yang dibutuhkan akan tetap terpelihara sehingga tidak punah. Kalau saja pemakaian kembang telon ‘bunga tiga warna’ itu sudah tidak dikembangkan, jenis bunga itu pastilah tidak lagi ditanam sehingga akan punah dan tidak ada keindahan lagi. Dengan demikian, keseimbangan ekosistem tidak stabil karena kumbangpun tidak akan ada dan penyerbukan tidak akan berlangsung. Dalam sistem perlambangan, ini konon telah diajarkan sejak zaman Majapahit dahulu karena waktu itu Petani Mataraman tempo dulu wajib untuk membudidayakan tanaman terpadu yang berupa kombinasi jenis oyod-oyodan,
kekayon, gegodhongan, kekembangan, woh-wohan, dan gegedhangan
‘akar-akaran, daun-gaunan, aneka bunga, buah-buahan, dan pisang-pisangan’. Jika hal tersebut dilakukan, kebutuhan pangan, bahan bakar, perumahan, obat-obatan, dan harum-haruman akan dapat dipenuhi dari lingkungannya sendiri (Hidayat, 2012). Di desa-desa sepanjang Pesisir Selatan ini selalu ada tempat yang disebut punden berupa petilasan dan disampingnya adalah makam. Segala jenis tanaman yang tumbuh di punden tidak boleh diganggu keberadaannya kecuali untuk dilestarikan dan dikembangkan. Punden biasanya memberi manfaat pada kelestarian sumber air dan ketersediaan plasma nutfah lokal71.
5) Kearifan Lokal Terkait Sistem Ekonomi
Kearifan ekonomi juga dapat tecermin dari semua bentuk folklor di lokasi penelitian seperti misalnya sistem pengobatan tradisional yang masih sederhana dan berbasis kegotongroyongan dan kebersamaan sehingga semua nampaknya lebih ekonomis karena semua ditanggung secara bersama-sama (kolektif). Istilah
ganti luru ‘sebagai pengganti mencari’ adalah salah satu bentuk ungkapan yang
71 Menyangkut seluruh keanekaragaman genetik baik dari mahkluk hidup yang hidup secara liar disemua lingkungan hingga mankluk hidup yang dipelihara oleh manusia dan biasa dimanfaatkan oleh manusia untuk mencukupi kebutuhan hidup manusia (situs Pelangi Indonesia, diakses 14 Nopember 2012.
commit to user
mencerminkan kearifan lokal ekonomi selain itu dengan menggunakan jamu atau pengobatan tradisional yang memanfaatkan tanaman yang ada di lingkungan juga merupakan bentuk kearifan lokal ekonomi masyarakat tradisional seperti yang pernah diteliti Utit Sungkharat, Thaksin University, Thailand , Piboon Doungchan, Thaksin University, Thailand, Chantas Tongchiou, Thaksin University, Thailand, Banlue Tinpang-nga, Thaksin University, Thailand dan hasilnya adalah People have returned to the use of herbs for curing disease in
humans and animals. In addition, the development helps people save on production costs and reduce pollution ‘Orang telah kembali menggunakan
tanaman (jamu herbal) untuk menyembuhkan penyakit pada manusia dan hewan karena hal ini akan menghemat biaya dan mengurangi polusi’.
6) Praktek dalam Menjaga Kelestarian Lingkungan dalam Folklor sebagai Bentuk Kearifan Lokal
Kearifan lokal praktikal banyak dijumpai pada praktik-praktik pembuatan rumah serta pembuatan jamu tradisional yang merupakan folklor bukan lisan yang masih dipertahankan sampai sekarang. Praktik pembuatan rumah bandung sebagai cerminan kearifan lokal masyarakatnya karena d idalamnya mengandung banyak makna yang bertujuan menjaga silahturami antaranggota masyarakat, menjaga keseimbangan ekosistem, serta menjaga keharmonisan antara sosial budaya dan spiritual yang dimiliki masyarakat setempat sebagai bagian dari masyarakat Jawa.
Praktik pembuatan jamu tradisional merupakan bagian dari kearifan lokal praktikal yang tecermin pada folklor bukan lisan. Dalam praktik pembuatan jamu, masyarakat masih menggunakan sistem tradisional yang sederhana, tetapi memiliki kekuatan yang sangat signifikan dalam mengobati berbagai macam penyakit karena dalam membuat jamu masih menggunakan ramuan herbal yang asli tanpa menggunakan zat kimia sama sekali seperti banyak dijumpai pada jamu tradisional produk pabrikan. Hal lain yang sangat penting adalah pola pikir masyarakatnya yang masih menjunjung tinggi spiritualisme sebagai dasar pengobatan ini. Peralatan untuk sarana mengolah jamu juga masih sederhana
commit to user
namun ternyata hal itu memiliki kebaikan yang terpendam karena apabila menggunakan plastik atau logam akan mengurangi kasiat disebabkan adanya reaksi ramuan tersebut terhadap penggunaan alat atau tempat yang tidak sesuai.
Praktik pembuatan makanan tradisional merupakan folklor bukan lisan juga dapat mencerminkan kearifan lokal masyarakatnya karena dalam pembuatan makanan masih tergolong sederhana dan menggunakan bahan-bahan yang tersedia oleh alam meskipun kadang ada sedikit modifikasi. Kekhasan makanan tradisional ini masih dipertahankan sehingga dapat membuat jenis makanan di Pesisir Sealatan ini menjadi makanan yang dikenal oleh daerah lain. Dengan menggunakan bahan yang masih sederhana ini menjadikan makanan di lokasi penelitian ini masih sehat belum tercemar oleh zat penambah lain yang pada akhirnya malah merusak kesehatan.
7) Kearifan Lokal dalam Bentuk Penghormatan Terhadap Leluhur
Histori berarti sangat erat dengan masa lalu. Demikian pula kearifan lokal histori (historical Wisdom) ini merupakan kearifan yang menghargai masa lalu sebagai sebuah penghormatan terhadap nenek moyang dan leluhur. Mereka selalu menghargai keberadaan leluhurnya meskipun sudah tiada. Hal ini sesuai dengan falsafah orang jawa dengan ekspresi mikul duwur mendem jero
‘memanggul setinggi-tingginya, mengubur sedalam-dalamnya’. Bentuk ini terdapat banyak pada folklor lisan yang berkaitan dengan penamaan desa di sepanjang Pesisir Selatan Kebumen ini. Penamaan yang sampai sekarang dipakai dan identik dengan segala sesuatu yang pernah terjadi pada tempat
Gambar 4.46: Bersama informan di Kebumen bagian tengah
Gambar 4.45: Bersama informan penanam tanaman herbal
commit to user
itu semata-mata sebagi pengingat akan peristiwa, tokoh yang pernah ada sebelumnya.
Kearifan lokal histori (historical Wisdom) juga sangat nampak pada masih dilaksanakannya selamatan sebagai pengingat meninggalnya orangtua seperti adanya ungkapan pitung ndinan, patangpuluh dinan, satus dinan, sewu dinan ‘tujuh harian, empat puluh harian, seratus harian, seribu harian’. Hal semacam ini merupakan upaya penghargaan akan leluhur yang walaupun sudah meninggal, keberadaannya masih dihargai dan bahkan hari meninggalnyapun menjadi peringatan untuk tidak melakukan aktivitas tertentu. Selain itu pada acara peringatan itu merupakan ajang bersilahturami, berkumpul untuk berdoa bersama, menjalin keakraban, dan berbagi berkah. Bagan tentang kearifan lokal masyarakat melalui folklornya dapat dilihat pada diagram berikut: