Bagan 4.2: Analisis Folklor Setengah Lisan
2) Upacara Wiwit ‘upacara ritual menjelang masa tanam’
Nama upacara tradisi menjelang panen adalah wiwit. Makna kata wiwit ‘mulai’ dalam bahasa Jawa berarti mulai. Hal ini dimaksudkan untuk memohon kepada Tuhan agar padi yang mulai ditanam akan tumbuh subur dan berkembang menjadi banyak sehingga dapat mencukupi kebutuhan makan bagi seluruh keluarga yang menanam. Upacara wiwit biasanya dilaksanakan secara sederhana, yaitu hanya dengan sedikit sesajen sebagai buangan ‘dibuang’. Upacara ini disertai dengan ekspresi verbal yang dilafalkan oleh petani yang memiliki sawah seperti berikut: Nyong tandur Dewi
Sri ana kene, mbabar pari sakethi, sak palilahe Hyang Widhi subur-subur dadi makmur ‘saya menabur sejumput padi, seikhlas Tuhan, Dewi Sri ada di sini,
subur-subur menjadi makmur’. Mereka percaya apabila mereka memohon kepada Tuhan, padi yang hanya sedikit akan menjadi banyak sehingga menghasilkan padi yang nantinya menjadi beras yang dapat menghidupi seluruh bumi. Selain itu, upacara wiwit juga ditutup dengan ungkapan muga slamet sing nanem lan sing
ditanem ‘semoga selamat yang menanam dan yang ditanam’. Ungkapan tersebut
mengandung makna bahwa permohonan agar tanaman dapat mencukupi petani. Gambar 4.35: Menjelang upacara
commit to user
Kecuali itu, mereka juga memohon keselamatan bagi yang menanam sehingga dapat merawat tanaman dan dapat menikmati hasil tanamannya.
a) Latar Belakang Penyelenggaraan Upacara Wiwit ‘tanam padi’
Upacara ritual wiwit dilatarbelakangi adanya kepercayaan yang kuat terhadap Tuhan Yang Mahakuasa bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini ada dalam kendali-Nya karena Tuhanlah pencipta dan pemilik dunia seisinya. oleh sebab itu, segala sesuatu harus memohon izin dan berkat-Nya supaya usaha dalam menanam tanaman padi yang merupakan makanan pokok dapat berhasil. Kesuburan tanah dan tanaman padi yang menyuburkan masyarakat adalah bagian dari penguasa darat yaitu Dewi Sri. Selain berhasil dalam menanam, mereka juga berkeyakinan selamat dari segala hama penyakit yang menyerang tanaman itu dan penyakit yang menyerang pemilik tanaman. Kearifan lokal yang dapat diamati melalui sosiokultural masyarakat setempat adalah keseimbangan antara makrokosmos dan mikrokosmos (jagad gedhe lan jagad cilik). Inilah yang menjadi kearifan lokal yang ada pada ranah kepercayaan (beliefing).
b) Waktu dan Tempat Pelaksanaan Upacara Wiwit ‘tanam padi’
Tempat upacara wiwit berada di sawah masing-masing petani yang diikuti oleh para anggota keluarga dan penggarap sawah. Waktu yang dipilih adalah waktu mulai tanam kita-kira sesudah adanya mulai hujan. Yang penting adalah mereka tidak melanggar aturan menanam yakni hari kapesan. Hari kapesan ini tentu saja berbeda pada masing-masing keluarga. Hari yang disukai untuk melaksanakan upacara ritual adalah Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon dan pada pagi hari sebelum mulai menanam pertama kali.
commit to user
c) Ungkapan Nonverbal dalam Bentuk Sarana dan Prasarana Sesaji Upacara Wiwit ‘tanam padi’
Pada acara ritual wiwit terdapat sesaji yang tidak dimakan yang disebut sebagai buangan yang terdiri atas kembang cempaka bares, kemenyan, daun sirih, daun pitikan, telor mentah. Makna secara simbolik atas uborampe’sesaji’ tersebut adalah kembang
cempaka bares ‘bunga cemoaka bare’. Menyan ‘kemenyan’, merupakan bau-bauan
yang dusukai oleh mahkluk halus, sedangkan kinang’sirih’ adalah kesukaan ibu Ratu dan Dewi Sulasih. Daun pitikan adalah suatu kebiasaan komunitas petani untuk dijadikan alas telur. Telur dimaknai sebagai wiji dadi ‘biji yang jadi’ agar biji-biji padi menjadi beras. Barang-barang atau ubarampe tersebut dibuang di pojok sawah yang dipercaya banyak manfaatnya. Peletakkan di pojok sawa secara ekonomis dapat dianggap mageri ‘memagari’ seluruh sawah sehimgga tidak perlu membuat banyak layaknya pagar tetapi secara filosofis adalah sebagai persembahan kepada utusane ibu ratu ‘suruhannya ibu Ratu’ yang diyakini bahwa Dewi Kesuburan asalah Dewi Sulasih yang merupakan puteri dari ibu Ratu yang diikuti oleh hulu baling dari pantai Selatan.
d) Ungkapan Verbal Upacara Wiwit ‘tanam padi’
Wiwit adalah awal mulai menanam bagi petani di Kebumen dan pada saat seperti ini merupakan saat yang perlu keprihatinan karena pada awal inilah yang menentukan panenan nantinya. Oleh karena itu masyarakat petani ini sangat berhati-hati baik dalam menentukan hari dan membaca
Gambar 4.36: Sesaji buangan
Gaambar 4.37: Mbah Darmuji sedang menyiapkan buangan
commit to user
mantra berserta penyediaaan sarana sesajinya. Dengan kesadaran yang besar bahwa manusia hanyalah mahkluk ciptaan Tuhan yang kecil sedangkan Tuhanlah yang menguasai bumi ini maka segala kegiatan selalu memohon ijin kepada Tuhan sang penguasa bumi yang disebut juga manusia hanyalah mahkluk ciptaan Tuhan yang kecil sedangkan Tuhanlah yang menguasai bumi ini maka segala kegiatan selalu memohon ijin kepada Tuhan sang penguasa bumi yang disebut juga Hyang Widhi Wasa ‘penguasa tertinggi’. Ungkapan yang biasa di lafalkan saat wiwit adalah sebagai berikut: Nyong tandur Dewi Sri ana kene, mbabar pari
sakethi, sak palilahe Hyang Widhi subur-subur dadi makmur ‘saya Menabur
sejumput padi, seikhlas Tuhan, Dewi Sri ada di sini, subur-subur menjadi makmur. Dalam hal ini nampak terdapat permohonan ijin kepada Dewi Sri sebagai penguasa bumi yang merupakan wakil Tuhan Sang Penguasa tertinggi dalam urusan yang bersangkutan dengan pemanfaatan bumi.
Dalam contoh wacana ungkapan verbal di atas terkandung makna budaya sebagai berikut. Di wiwit ini, ketika mantra ini disampaikan untuk menanam padi, petani menyadari kehadiran Dewi Sri di lokasi itu, walaupun banyaknya padi hanya sejumput yang akan ditanam namun akan berkembang menjadi panenan yang berlimpah, karena padi itu akan bertumbuh subur atas kuasa Tuhan dan memberikan kesejahteraan. Padi yang ditanam atau dipanen merupakan metafor dari Dewi Sri, lambang kesuburan yang juga di kenal di daerah Jawa Tengah, Sunda, dan Bali. Dewi Sri merupakan gambaran dunia supranatural, yang dalam budaya Jawa khususnya berkaitan dengan konsep penguasa hajat hidup yang memberi rejeki kepada petani agar hasil panenannya berlimpah. Hal ini identik dengan dengan gambaran dunia supranatural dalam tokoh “Hyang Widhi” yang menggambarkan sang penguasa tertinggi, “sing gawe urip” atau ‘yang memberi hidup”. Dalam agama Hindu, tokoh tersebut mirip dengan dewa penguasa tertinggi “Sang Hyang Widhi Wasa”. Ada relasi antara ke dua tokoh supranatural itu untuk memberi kesuburan dan kemakmuran agar kehidupan berlangsung lancar dan diberi kemudahan. Padi yang ditanam dalam jumlah sedikit, namun diibaratkan setelah ditanam dapat menghasilkan panenan yang berlimpah berkat kuasa Sang Pencipta Kehidupan.
commit to user