ANALISIS SOSIAL-TRANSENDENTAL folklor lisan
Bagan 4.9: Jenis Kearifan Lokal yang Terkandung pada Folklor
7) Ekspresi Verbal Terkait Konsep Bertirakat pada Komunita Petani
Kegiatan spiritual lainnya adalah tirakatan malem Jumat Kliwon untuk mendapatkan thotok garing yang dipercaya dapat dipakai untuk menolak penyakit tanaman. Menurut Koentjaraningrat, meditasi atau semedi biasanya dilakukan bersama-sama dengan tapabrata (bertapa) dan dilakukan pada tempat-tempat yang dianggap keramat misalnya di gunung, makam keramat, ruang yang dikeramatkan dan sebagainya. Pada umumnya orang melakukan meditasi adalah untuk mendekatkan atau menyatukan diri dengan Tuhan. Oleh sebab itu, dalam komunitas petani dikenal dengan istilah nyura dan ngadem maksudnya adalah puasa yang dilakukan untuk sebelum dan selama bulan Sura. Konsep ini sebenarnya sudah campuran antara Jawa yang disebut dengan pasa patang puluh
dina ‘berpuasa selama 40 hari’. Semua bentuk spiritual masyarakat petani
terangkum dalam konsep bertirakat yang akan diuraikan berikutnya.
Bertapa atau mati raga merupakan hal yang sudah sangat erat keberadaannya pada masyarakat tradisional, khususnya di daerah penelitian ini. Ada beberapa cara orang bertapa untuk tujuan baik diantaranya membantu menyembuhkan orang sakit, memberi petuah, dan membantu memecahkan masalah kehidupan. Memahami makna puasa menurut
Gambar 4.50: P Sajadi Pemilik Keris Nagasasra
commit to user
budaya Jawa, perlu diingat beberapa hal. Pertama, dalam menjalani laku spiritual puasa, tata caranya berdasarkan panduan guru-guru kebatinan ataupun dari hasil penemuan masing-masing para pelakunya. Sedangkan untuk mengetahui sumber panduan guru-guru kebatinan kita harus melacak tata cara keyakinan pra Islam-Jawa. Kedua, ritual puasa ini bernuansa tasawuf/mistik sehingga penjelasannya pun memakai sudut pandang mistis dengan mengutamakan rasa dan mengesampingkan akal / nalar. Ketiga, dalam budaya mistik Jawa terdapat etika guruisme; dalam hal ini murid melakukan denga cara patuh pada Sang Guru tanpa menonjolkan kebebasan untuk bertanya.
Di daerah penelitian ada beberapa bentuk berpuasa, diantaranya:
a) Nyura adalah puasa yang dilakukan pada sepuluh hari sebelum bulan Sura sampai hari Raya Idul Fitri, selama 40 hari; cara berpuasa sama seperti berpuasa Islam yakni dengan makan sahur, dan ditutup dengan makan buka puasa.
b) Ngadem, yaitu berpuasa dengan tidak makan makanan yang berasa, maksudnya tidak makan nasi, hanya makan ubu-ubian dan lauknya dimasak tanpa bumbu garam, dan gula, waktu pelaksanaan biasanya tergantung pada kehendak yang berpuasa namun lebih sering dilaksankan pada menjelang wetonnya ‘hari pasaran lahirnya’, tujuan melakukan ini untuk mencari keselamatan, meminta permohonan yang agak berat, menjelang membuat rumah, menaklukkan jin atau roh jahat, dan menemukan jodoh;
c) Topobroto ‘bertapa’ atau bersemadi dengan cara menyendiri di suatu tempat, tidak berkomunikasi dengan siapapun, dan tidak makan apapun. Ini biasanya dipakai untuk meminta kesaktian atau meminta gaman ‘pusaka’ yang dapat dipakai untuk berbagai macam keperluan, antara lain untuk menolong sesama.
a) Syarat-syarat Bertirahat pada Komunitas Petani
Dalam bertirakat tentu saja harus mentaati peraturan yang telah menjadi pedoman secara turun menurun yang dianggap sebagai tebusan apabila permohonan dikabulkan Apa bila tidak menepati janji maka akan mendapat hukuman. Hal itu pernah dialami oleh seorang kyai yang bernama mbah Manten
commit to user
(ceritera pengalaman spiritual mbah Manten terlampir), yang setelah bertapa mendapatkan pusaka yang diberi nama Kaca Paesan. Kkeris nagasasra yang diperoleh orang tua mbah Darmuji lalu diwariskan pada mbah Darmuji seperti diceritakan berikut ini
Naliko angsal gaman saking bapak ujude sawer ageng dugi, agenge mboten patut (sangat) ngleker sasampune topo 40 dina. Mpune niku dugi tiyang putri maringaken gaman wujud keris Nogososro. Ginanipun gaman Nogososro 1) kangge nambani tiyang ketempel, caranipun dipun empani/pakani kalih meyan, termasuk naliko kulo dilengseri saking tiyang sepuh dipakani meyan rumiyen lajeng niyate sendheg-depe/menyerah dateng Gusti Allah, menyan dibong gaman dijantur di atas kukus menyan. 2) lara weteng termasuk arep nglahiraken, 3) Kangge nambani bojo elik/gabrukkan, 4) nolak santet, 5) sabin angker saged dipun sarani ngangge gaman nogososro ‘Ketika mendapat ayah saya mendapat dalam bentuk ular besar datang, besar tidak terkira melingkar setelah berpuasa selama 40 hari. Setelah itu seorang wanita memberikan pusaka berbentuk keris Nagasosro. Gunanya untuk 1) mengobati orang yang kerasukan caranya diberi makan meyan termasuk ketika saya diwarisi dari orangtua diberi makan menyan terlebih dahulu terus berserah kepada Tuhan, menyan dibakar dan pusaka di gantung. 2) Sakit perut termasuk mau melahirkan, 3) Untuk mengobati suami/isteri yang selingkuh, 4) Menolak santet, 5) Sawah yang angker’
Semua puasa dan bertapa harus didasari dengan niat baik sehingga apa bila melakukan puasa dilarang untuk melakukan berbagai kejahatan, pelanggaran moral, dan niat buruk. Apabila hal ini dilanggar maka akan terjadi bencana, penyakit, atau hukuman dan setelah mendapatkan pusaka juga harus dipergunakan dengan baik pula. Kalau melanggar kesepakatan/ aturan kepemilikan pusaka itu akan muksa ‘lesap’ contohnya terbukti pada mbah Manten (64 th) yang memiliki pusaka kaca paesan melakukan perselingkuhan akibatnya pusakanya muksa ‘leyap’. Setelah pusakanya muksa ‘leyap’ maka mbah Manten tidak lagi dapat menyembuhkan orang sakit akibatnya rejekinya juga berkurang karena yang biasanya menggunakan jasanya memberi imbalan sekedarnya. Ceritera lengkapnya pusaka tersebut adalah sebagai berikut:
commit to user
Nyong bar topo neng nggisik petanahan diwenehi Ibu Ratu gaman wujude Kaca paesan, bentukke watu gepeng, gunane werna-werna kanggo nawarke nggon sing wingit, kanggoi nonto apo wae, kanggo nonton ,maling sing wis lunga supaya barange dibalekke sing duwe. Akhire pusaka kui lunga dewe neng lau amarga nyong gawe salah soal wong wedok amagane sopo sing duwe gaman kui ora oleh seneng karo wong wadon liyo. Wektu duwe gaman kui rasane opo bae sing yong pingini iso keturutan.’Saya dulu setelah bertapa di Pesisir Selatan Petanahan diberi oleh Ratu Selatan berupa pusaka Kaca Paesan, bentuknya seperti batu pipih, fungsinya serba guna untuk menawarkan situasi rumah wingit ‘angker, gawat’, untuk mengetahui/melihat keberadaan/keadaan tempat lain, untuk melihat wajah pencuri yang telah berada di tempat lain supaya barang yang dicuri dikembalikan ke pemiliknya, dll. Akhirnya pusaka itu kembali sendiri ke laut Selatan karena ada persyaratan yang telah dilanggar, yakni soal wanita sebab pemegang pusaka itu tidak boleh selingkuh dengan wanita lain’. Ketika membawa pusaka itu apa yang diinginkan oleh pemiliknya pasti dikabulkan
Dalam kalangan masyarakat petani diyakini bahwa ilmu itu didapat dengan susah payah, tetapi akan lebih susah dalam mempertahankan dengan selalu mengikuti aturan yang telah ditetapkan dan mereka mengekspresikannya dengan moto ngelmu goleke angel-luwih angel yen wis ketemu ‘mencari ilmu itu susah namun lebih susah kalau sudah mendapatkan’ d) Madhang longan turu
longan ‘tidak tidur tidak makan’ hampir seperti bertapa, namun dilakukan
dirumah dan dengan tetap melaksanakan pekerjaan sehari-hari sehingga tampaknya ini lebih berat daripada bertapa karena tantangannya lebih banyak. Tirakat model ini biasanya dilakukan untuk mencari kekuatan batin akan peka terhadap segala jenis makhluk gaib, baik yang jahat maupun yang baik sehingga bisa berkomunikasi dengannya. Pelaksanaannya bebas menurut kehendak yang hendak tirakat dan setelah berhasil dinamakan sebagi wong sing garing silite81 ‘orang yang kering duburnya’. Hasil dari tirakat dapat pula dianggap sebagai mendapat wahyu.
b) Konsep Wahyu pada Komunitas Petani
81 Kering duburnya kaarenaa jarang makan sebagai cara tirakat sehingga jarang buang air besar sehingga kering duburnya.
commit to user
Persepsi mereka tentang anugerah berupa “wahyu” yang berasal dari Ratu Kidul dapat diterima dalam wujud fisik berupa benda yang disebut piandel ’andalan’, gaman ‘pusaka’ yang dianggap ampuh, antara lain berupa tulang ikan yang telah membatu disebut wrengka, lempengan batu ajaib yang disebut kaca
paesan, keris nagasasra, dan thothok ‘tangkai pembungkus bunga kelapa’ yang
jatuh pada malam Jumah Kliwon’, dan jenis lainnya. Itu semua dianggap sebagai hadiah dari Ratu yang bertahta di Selatan, dan menjadi sebuah mitos sekaligus merupakan penghargaan menarik bagi mereka di sana. Khasiat piandel yang dimilikinya itu, dipahami memiliki variasi khasiat sesuai dengan piweling ‘ilham, suara gaib, mimpi’ dari Ratu Selatan kepada mereka yang menyangkut tatacara dan syarat namakaken ‘penerapannya’ setelah mereka gentur-tapane ‘tirakat dengan sungguh-sungguh’ seperti tertuang dalam ungkapannya “turu longan
madhang longan” dan “wong sing garing silite” ‘orang yang berani kering
duburnya karena tirakat selama 40 hari 40 malam’. Orang seperti itu menurutnya ‘diwedeni lan diingkuri barang alus” maknanya ‘orang yang seperti itu ditakuti dan disegani barang halus/gaib/jin’.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bertirakat memiliki beberapa fungsi, sebagai berikut.
c) Tirakat sebagai Simbol Keprihatinan dan Praktek Asketik82
Ciri laku spiritual tapa dan pasa adalah menikmati yang tidak enak dan tidak menikmati yang enak, gembira dalam keprihatinan. Diharapkan setelah menjalani laku ini, tidak akan mudah tergoda dengan daya tarik dunia dan terbentuk pandangan spiritual yang transenden sehingga dapat juga dikatakan bahwa pasa bertujuan untuk penyucian batin dan mencapai kesempurnaan ruh.
82
Dalam kamus besar indonesia III asketisme bermakna “paham yang mempraktekan kesederhanaan kejujuran dan kerelaan berkorban”
commit to user
d) Puasa sebagai Sarana Penguatan Batin
Dalam hal ini pasa dan tapa merupakan bentuk latihan untuk menguatkan batin. Batin akan menjadi kuat setelah adanya pengekangan nafsu dunia secara konsisten dan terarah. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kesaktian, dan mampu berkomunikasi dengan yang gaib-gaib.
Interpretasi pertama dan kedua di atas acapkali berada dalam satu pemaknaan saja yaitu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dikatakan oleh Sayyid Husein Nasr, ”Jalan mistik sebagaimana lahir dalam bentuk tasawuf adalah salah satu jalan di mana manusia berusaha mematikan hawa nafsunya di dalam rangka supaya lahir kembali di dalam Ilahi dan oleh karenanya mengalami persatuan dengan Yang Benar” (Nasr, 2000). C) dan puasa adalah ibadah komunitas petani yang menjalankan syariat Islam dan dijalankan dalam hukum-hukum fiqihnya. Komunitas petani di lokasi penelitian percaya bahwa Tuhan adalah pusat alam semesta dan pusat segala kehidupan karena sebelum semuanya terjadi di dunia ini Tuhanlah yang pertama kali ada. Tuhan tidak hanya menciptakan alam semesta beserta isinya tetapi juga bertindak sebagai pengatur karena segala sesuatunya bergerak menurut rencana dan atas izin serta kehendak-NYA.
Pusat yang dimaksud dalam pengertian ini adalah sumber yang dapat memberikan penghidupan, keseimbangan dan kestabilan, yang dapat juga memberi kehidupan dan penguasa dunia atas. Pandangan orang Jawa yang demikian biasa disebut Manunggaling Kawula Lan Gusti ‘menyatunya manusia sebagai hamba dengan Tuhan’, yaitu pandangan yang beranggapan bahwa kewajiban moral manusia adalah mencapai harmoni dengan kekuatan terakhir dan pada kesatuan terakhir, yaitu manusia menyerahkan dirinya selaku kawula terhadap Gustinya.
Sebagian besar komunitas petani di daerah penelitian termasuk dalam golongan yang telah berusaha mencampurkan beberapa konsep dan cara berpikir Islam, dengan pandangan asli mengenai alam kodrati ( dunia ini ) dan alam adikodrati ( alam gaib atau supranatural). Hal ini ditandai dengan realitas yang
commit to user
mengarah kepada pembentukan kesatuan alam gaib antara alam nyata, masyarakat dan alam adikodrati yang dianggap keramat. Alam adalah ungkapan kekuasaan yang menentukan kehidupan. Dasar kepercayaan mereka adalah keyakinan bahwa segala sesuatu yang ada didunia ini pada hakikatnya adalah satu, atau merupakan kesatuan hidup, dan memandang kehidupan manusia selalu terpaut erat dalam kosmos alam raya. Dengan demikian, kehidupan manusia merupakan suatu perjalanan yang penuh dengan pengalaman-pengalaman yang religius. Alam pikiran mereka merumuskan kehidupan manusia berada dalam dua kosmos (alam) yaitu makrokosmos dan mikrokosmos.
b. Pandangan Hidup Komunitas Petani yang Mencerminkan Kearifan Lokal
Yang dimaksud pandangan hidup orang Jawa adalah pandangan secara keseluruhan dari semua keyakinan deskriptif tentang realita kehidupan yang dihadapi oleh manusia sangat bermakna dan diperoleh dari berbagai pengalaman hidup (Woro, Muhamad, 2012)83. Berdasarkan hasil penelitian Parsudi Suparlan di Suriname (1976) bahwa orang Jawa berprinsip pada “sangkan paraning
dumadi” (dari mana manusia berasal, apa dan siapa dia pada masa kini dan
kemana arah tujuan hidup yang dijalani dan ditujunya). Prinsip ini menyangkut dua hal, yaitu konsep eksistensi manusia di dunia dan konsep tempat manusia di dunia.
Masyarakat petani di lokasi penelitian dengan segala pandangan hidupnya memiliki karakteristik budaya yang khas, sesuai dengan kondisi masyarakatnya yang masih tradisional dan merupakan daerah peralihan antara budaya Jawa Bayumas dan pusat budaya Solo-Jogja. Pada garis besarnya pandangan hidup mereka terkait dengan kedudukan seseorang sebagai makhluk individu dan sosial. Dalam hal ini pandangan hidup mereka memiliki kaidah-kaidah yang diidentifikasikan berdasarkan ungkapan-ungkapan verbal dan nonverbal sebagai
83
Kepercayaan Jawa oleh Waro Muhamad
commit to user
pengejawantahan nilai-nilai budaya yang didukung oleh masyarakatnya. Sebaliknya, pandangan batin terkait dengan persoalan-persoalan yang bersifat supranatural, tetapi menduduki tempat yang penting dalam sistem budayanya.
Terdapat sistem yang menuntut untuk meminimalisasi kepentingan-kepentingan yang bersifat individu. Hal tersebut didasarkan pada semangat komunal, tetapi secara individu seseorang di tuntut untuk memiliki kepercayaan yang kuat serta tekad dalam memperjuangkan hidup (jujur lan nerimo). Ungkapan di atas merupakan kristalisasi atau bahan untuk membaca semangat hidup agar mampu menempatkan diri sebagai individu guna menjaga keberadaan kehidupan.
Secara sosial, komunitas petani memiliki orientasi utama, yaitu dengan menciptakan sikap yang mulia terhadap orang lain dalam beberapa bentuk, yakni dengan kerigen, uruban, dan gotong royong. Untuk menciptakan hal tersebut masyarakat menghindari sikap adigang adigung, adiguna, srei dengki, panasten, dan wedi isin, sebaliknya harus selalu eling lan waspodo, serta menciptakan hubungan sosial yang harmoni sengan ungkapan clatu, laku, lan pituku. Dalam hal ini melibatkan norma sosial seperti rukun, tepo sliro, berucap santun, berperilaku
jujur, andap ashor dan sebagainya dan percaya bahwa apa yang diperbuat akan
mendapat ganjaran yang setimpal dan bahkan menjadi orang yang meskipun tidak punya apa-apa namun tetap terhormat dengan ungkapan ora duwe apa-apa neng
disuyuti ‘tidak punya apa-apa namun dihormati’.
Sebenarnya tujuan serta pandangan hidup komunitas petani itu sama dengan masyarakat Jawa pada mumnya, yaitu untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin bagi anggotanya. Kebahagiaan tersebut diwujudkan sebagai hidup sejahtera, cukup sandang pandang, tempat tinggal aman dan tenteram. Hubungan masyarakat petani adalah cerminan yang lebih lanjut dari manusia didalam kaitannya dalam masyarakat sebagai makhluk sosial. Sedangkan hubungan dikeluarganya adalah pengejawantahan dari hubungan manusia sebagai pribadi dan orang lain yang pada hakekatnya adalah sebagai individu.