• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bentuk Leksikon dalam Ekspresi Verbal (mantra)

Bagan 4.2: Analisis Folklor Setengah Lisan

8) Bentuk Leksikon dalam Ekspresi Verbal (mantra)

Selain pendeskripsian sistem tata bahasa (kalimat dan wacana) yang khas sebagai pembentuk mantra/ ungkapan verbal di atas, akan diperiksa juga kosa kata

(leksikon) sebagai pembentuk mantra. Bentuk leksikon ini sebagai penopang

sistem tata bahasa di atas untuk mengungkapkan makna mantra. Bentuk kosa kata

(leksikori) yang terdapat pada mantra komunitas petani Kabupaten Kebumen itu

bukan saja berasal dari kosa kata bahasa Jawa Banyumas mengingat Kabupaten Kebumen sebagai darah transisi memiliki kemiripan dalam pemakaian bahasanya

commit to user

dengan Bahasa Jawa Banyumas itu sendiri, namun juga berasal dari bahasa asing. Sehubungan dengan itu, dalam deskripsi bentuk-bentuk leksikon ini didasarkan pada leksikon yang berasal dari relig yakni bahasa Jawa Banymas di Kabupaten Kebumen dan yang merupakan leksikon serapan dari bahasa asing. Pengklasifikasian tersebut dapat dijabarkan dalam bentuk bagan berikut.

a) Leksikon Bercirikan Bahasa Jawa Banyumas Pembentuk Mantra

Mantra-mantra komunitas petani di Kabupaten Kebumen sebagiaja besar mempunyai bentuk kosa kata yang berasal dari bahasa Jawa Banyumas itu sendiri baik yang digunakan sehari-hari maupun yang berbentuk arkais. Sehubungan dengan itu, leksikon yarig berbentuk bahasa Jawa Banyumas dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu leksikon yang berasal dari bahasa Jawa Banyumas sehari-hari dan yang berbentuk arkais.

Leksikon dari Bahasa Jawa Banyumas Sehari-hari maksudnya adalah bahasa yang berasal dari bahasa Jawa Banyumas sehari-hari dibagi berdasarkan jumlah leksikon yang ada pada setiap mantra, yaitu (i) Sebagian leksikon dan (ii) keseluruhan leksikon sebagai komponen mantra. Sebagian bentuk leksikon yang berasal bahasa Jawa Banyumas sehari-hari itu terdapat pada mantra petani yang hendak melaut.

“Semilah irohman irohim, niat nyong ambyur samudra amet urip saanane sing bisa ditrima saka samudra ya digawa, rina wengi nyong miwiti, pasrah maring Hyang Widi, slamet samangkat lan samulihe nyong” artinya ‘Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, niatku melaut di lautan mencari kehidupan (rizki) seadanya yang bisa diterima/ dicari dari samudra ya dibawa, siang dan malam saya mulai/ lakukan, berserah diri kepada Tuhan, selamat seberangkat dan sepulang saya’.

Bentuk-bentuk leksikon yang dimaksud dapat dilihat pada beberapa mantra berikut yang di dalamnya ditandai dengan hurup tebal. Namun, tidak

commit to user

ditampilkan semua mantra-mantra yang termasuk dalam komponen yang dimaksud.

Leksikon dari Bahasa Jawa Banyumas Arkais. Istilah arkais dalam tulisan ini berhubungan dengan masa dahulu atau berciri kuno, tua; tidak lazim dipakai lagi (tentang kata); atau ketinggalan zaman (lihat KBBI, 2003), Sehubungan dengan itu, dalam mantra-mantra komunitas petani ditemukan leksikon yang bercirikan seperti pada pengertian arkais itu sebagai pembentuknya. Bentuk arkais ini merupakan bentuk leksikon yang berasal dari bahasa Jawa kuno juga. Dengan kata lain, leksikon arkais itu dijadikan sebagai pelengkap mantra yang menjadi komponen mantranya. Leksikon bahasa arkais yang dimaksud adalah bentuk siro sebagai penghormatan terhadap ikan yang dianggap sebagai anak buah ibu ratu sehingga dalam hal ini juga dapat dikatakan sebagai idiosenkretik . Kata tersebut ditemukan pada mantra petani yang menjadi nelayan seperti berikut:

“Nyong jala sira ora lunga, nyong (a) doh sangka darat, mara sapalilah sira, nyong butuhaken sapira kancanira kabeh gak ana sing kari, dadi-dadi kabeh wis ngerti arep dadi siji kersaning Hyang Widi” artinya ‘akan saya jaring kamu (ikan) jangan pergi, saya jauh dari darat, mendekatlah dengan suka rela, saya butuhkan berapa temanmu semua jangan ada yang tertinggal, jadi-jadi semua sudah tahu akan berkumpul jadi satu atas ijin Tuhan’.

b) Leksikon Bercirikan Bahasa Jawa Pusat Budaya sebagai Pembentuk Mantra

Dalam Bentuk Krama. Leksikon yang berasal dari bahasa Jawa Pusat Budaya banyak ditemukan pada beberapa bentuk. Hal demikian karena pengaruh dari pusat budaya melalui tingkat tutur cukup kuat. Tingkat tutur krama yang dipakai merupakan pengaruh rasa hormat terhadap penguasa tertinggi. Mantra yang demikian dapat dicermati dari contoh berikut:

Dhuh gusti Allah mugi-mugi kajat kula dikabuli, mugi-mugi kula

diparing slamet donya ngakerat, panjang umur, ayem papan lan

gampang rejekine, saiki lan mbesuke, karana Allah ‘ Ya Tuhan semoga keinginan saya dikabulkan, semoga saya diberi keselamatan dunia akerat, panjang umur, damai dan mudah rejekinya, sekarang dan yang akan datang, karena kuasa Tuhan’

commit to user

c) Leksikon Serapan dari Bahasa Arab sebagai Pembentuk Mantra Selain bahasa Jawa Krama, mantra komunitas petani di Kabupaten Kebumen sebagian besar juga dibentuk oleh kosakata yang berasal dari bahasa Arab. Sebagian leksikon dari bahasa Arab menjadi komponen mantra. Bentuk leksikon bahasa Arab yang merupakan bagian komponen mantra-mantra itu dapat ditelusuri dengan menjadikan dua bagian, yaitu (a) terdapat satu atau dua leksikon dan (b) terdapat tiga atau lebih leksikon. Pertama, ada beberapa data mantra nelayan Kebumen yang terdiri dari satu atau dua leksikon bahasa Arab adalah bentuk pembuka mantra seperti Bismillah. Contoh mantra tersebut adalah sebagai berikut:

Bismillah kepareng matur kulo aturi daharan arupi kebul menyan

bade nyuwun pitulungan panjenengan, gandeng---sakit mencret nyuwun tulung supados waras. dengan menyebut nama Allah mohon ijin saya memberi asap menyan bermaksud minta tolong, karena ---sakit perut minta tolong supaya sehat lagi’

Mantra-mantra komunitas petani tersebut yang dibentuk dari leksikon

bahasa Arab baik hanya sebagian rnaupun keseluruhan komponen itu sebagian besar ditemukan pada awal dan akhir mantra yang bersangkutan. Akan tetapi, ada juga beberapa leksikon bahasa Arab yang terdapat di bagian tengah mantra sebagai pembentuknya.

Contoh mantra yang memakai bahasa Arap sebagai penutup adalah sebagai berikut:

Dhuh gusti Allah mugi-mugi kajat kula dikabuli, mugi-mugi kula diparing slamet donya ngakerat, panjang umur, ayem papan lan gampang rejekine, saiki lan mbesuke, karana Allah ‘ Ya Tuhan semoga keinginan saya dikabulkan, semoga saya diberi keselamatan dunia akerat, panjang umur, damai dan mudah rejekinya, sekarang dan yang akan datang, karena kuasa Tuhan’

commit to user

Berikutnya adalah mantra yang menggunakan leksikon bahasa Arab yang diletakkan di tengan-tengah;

Semilah, kanthi nyuwun berkah lan slamet rina wengi seka panguwaosing Gusti Allah lantaran kanjeng Nabi Kidir lan mBok Ratu sing ngratoni laut kidul, nyong kabeh aji sarana sajen rupa werna-werna, kabeh mau nyong bekteni jalaran mung pasrah ing samukabeh-kabehe supaya nemu beja lan slamet ing darat lan ing segara, aja ana barang kasedhak nemu mburine ‘Dengan menyebut nama Allah, dengan mengharap berkah dan selamat siang dan malam dari kekuasaan Allah lewat perantara Kanjeng Nabi Kidir dan Ibu Ratu yang menempati laut selatan (Kebumen), saya semua memberikan sarana sesaji berbagai macam (wujudnya), semua itu saya hormati karena hanya dalam rangka pasrah atas semuanya agar mendapat keberuntungan dan selamat di daratan dan di lautan, jangan sampai ada karma/ halangan di belakang harinya’

Dari pemerian tentang leksikon sebagai pembentuk mantra komunitas petani di Kabupaten Kebumen di atas ditunjukkan bahwa tidak hanya berasal bahasa Jawa Banyumas saja, tetapi juga berasal dari leksikon bahasa asing (bahasa Jawa Krama dan bahasa Arab). Hal ini dapat dikatakan bahwa komunitas petani di Kabupaten Kebumen telah mengalami perubahan. Perubahan yang dimaksud adalah komunitas petani tidak lagi mengisolasikan diri dan mulai membuka diri dengan lingkungan sekitarnya. Penyesuaian diri itu dimulai sejak adanya pengaruh bahasa asing terhadap mantra-mantranya. Dengan kata lain, komunitas petani di Kabupaten Kebumen telah mengikuti perkembangan yang dialami oleh etnis lain yang ada di sekitarnya, Di samping itu, dengan adanya pemakaian leksikon bahasa Arab pada mantra-mantranya ini dapat dikatakan bahwa komunitas petani adalah sebagai salah satu penganut ajaran Islam yang berasal dari negeri Arab tersebut. Oleh karena itu, mereka selalu disesuakian dengan ajaran agamanya. Penggunaan leksikon ini dimasudkan agar setiap pengucapan atau pemakaian mantra selalu mendapat ridho dan berkah dari Wujud Tertinggi (Tuhan), sehingga apa yang diharapkan lewat pemakaian mantra-mantranya tersebut dapat tercapai. Dengan leksikon bahasa Arab ini juga

commit to user

dijadikan sebagai salah satu kekuatan magi yang ada pada mantra-mantra untuk membangun relasi horizontal dengan alam sekitarnya. Sebagian besar bertipe mantra pendek, yakni hanya menekankan pada kepentingan tujuan mantra tersebut.

b. Analisis Folklor Bukan Lisan pada Komunitas Petani

Folkor bukan lisan di antaranya termasuk jenis makanan dan jamu tradisional. Dalam pandangan budaya Jawa, hal-hal yang berkaitan dengan bahan makanan dan pengobatan merupakan suatu kesatuan dalam sistem kepercayaan dan sistem sosial buday (Dr.Arief Budiwiranto, M.Si, 2007/2008)54. Demikian juga pada masyarakat di Pesisir Selatan. Sampai sekarang melalui konsep agraris budaya pesisir sebagai daerah transisi yang merupakan bagian integral dari Kabupaten Kebumen, mereka memandang tanam-tanaman baik untuk bahan pangan maupun sarana upacara tradisi yang bermakna religius dan gambaran kearifan lokal adat masyarakat dan sebagai jamu untuk pengobatan tradisional. Banyak orang telah disembuhkan dengan obat tradisional yang terbuat dari tanaman sekitar pesisir. Bahkan, penyakit yang berat sekalipun seperti kanker payudara.

Berbagai khasiat tanaman obat dan pemanfaatan tanaman untuk bahan makanan juga dipakai untuk upacara keagamaan dan semua bernilai religi serta pesan-pesan moral melalui pengolahan maupun pengadaannya. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa masyarakat pesisir memandang tanaman pangan dan tanaman obat sebagai bagian dari kearifan lokal yang berbasis pada sistem kepercayaan seperti pada masa lalu masih adanya keyakinan pada Dewi Sri/Desi Sulasih dan Ibu Ratu yang menyimbolkan kesuburan dan kesejahteraan boga. Meskipun mulai mengalami perubahan sosial, tradisi atas boga dan husada sampai sekarang masih melekat pada masyarakat.

54

Laporan Penelitian PDK (naskah publikasi) dengan judul Aspek Budaya Pada Tradisi Kuliner Tradisional di Kota Malang Sebagai Identitas Sosila Budaya (Sebuah tinjauan Folklore), Universitas Muhamadiyah Malang, 2007/2008.

commit to user

Dalam penetapan identifikasi dan klasifikasi makanan dan obat-obatan tradisional dapat diketahui bahwa makanan dapat berupa makanan, minuman, dan makanan ringan atau jajanan. Makanan dapat dibedakan makanan harian serta makanan adat dan tradisi yang berkaitan dengan peringatan daur hidup dan makanan untuk upacara ritual sebagai sesaji. Minuman terdiri atas minuman ringan dalam kegiatan sehari-hari maupun untuk upacara adat dan resepsi. Dalam hal minumana ini juga terdapat jamu untuk terapi kesehatan dan minuman sehat yang dikonsumsi sebagai minuman segar. Klasifikasi tersebut merupakan identifikasi atas bahan, manfaat dan nilai. Makanan merupakan sumber penghidupan manusia, kebudayaan, dan lingkungannya. Dalam perspektif budaya, makanan merupakan sebuah identitas, representasi, dan produksi dari kebudayaan yang berkembang di masyarakat. Pola makan dan jenis makanan masyarakat dapat menggambarkan perilaku hidup seperti kesehatan, gaya hidup, lingkungan, dan sistem-sistem sosial masyarakat pendukungnya (Arif Budi Wurianto, 2008: 4). Makanan secara budaya menggambarkan identitas lokal masyarakat pesisir yang mendukung budaya Jawa yang mencirikan lingkungan agraris. Makanan juga menggambarkan representasi, regulasi, konsumsi, dan produksi. Makanan menggambarkan adanya resistensi terhadap makanan modern lain dan pemaknaannya. Selain itu, makanan juga menunjukkan latar belakang sosial, ekonomi, dan golongan konsumen. Oleh sebab itu, dalam tata boga suatu masyarakat dikelola dengan regulasi adat istiadat yang berisi anjuran, pantangan, dan etika tata cara pemanfaatannya.

Pesisir Selatan sebagai wilayah kebudayaan Jawa daerah transisi yang memiliki kecenderungan mirip dengan daerah konservatif memiliki keragaman kuliner dan husada mirip dengan daerah konservatif yang berada di wilayah pegunungan yang subur dataran tinggi dan memungkinkan tumbuhnya beraneka tanaman pangan dan tanaman obat-obatan serta masyarakatnya yang menjadikan tanaman pangan dan obat sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Kemiripan tersebut karena adanya upaya resistensi tanaman dan inovasi. Adapun tanaman subtitusi memiliki pemaknaan yang berbeda. Mengingat boga dan husada tradisional sekarang sedang marak di masyarakat serta adanya upaya untuk

commit to user

melindunginya sebagai bagian dari paten kultural, perlu diadakan upaya pendokumentasian melalui pelestarian serta pengenalan kepada daerah di luar pesisir agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas sebagai pengobatan alternatif yang keberadaannya telah diakui oleh dunia medis.

Makanan tradisional adalah makanan rakyat yang dapat dikategorikan sebagai folklor material bukan lisan yang terdiri atas konsep makanan, bahan makanan, cara memperoleh makanan, cara mengolah makanan, cara penyajian, fungsi makanan, dan pengobatan tradisional. Sejalan dengan apa yang telah disebutkan itu, daerah pesisir Selatan memiliki kebudayaan dan pemikiran kolektif masyarakat yang diwariskan secara turun temurun. Meskipun terdapat beberapa perubahan, hal itu hanya sekadar sebagai simplifikasi atau modifikasi. Oleh sebab itu, makanan daerah pesisir Selatan ini merupakan ikon daerah pertanian yang bercirikan pesisir yang banyak ditumbuhi pohon kelapa. Dalam keseharian, makanan dibuat dengan bahan yang tumbuh di sawah, ladang, kebun, laut, yang dipelihara di halaman, dan peternakan yang dihasilkan sendiri. Dalam sudut ilmu pandang antropologi, folklor makanan merupakan fenomena kebudayaan. Oleh karena itu, makanan merupakan bagian dari upaya mempertahankan hidup yang ditentukan oleh kebudayaan masing-masing kolektif yamg berhubungan erat dengan kondisi geografis.

Banyak cara mendapatkan makanan. Namun, di wilayah Pesisir Selatan sebagai daerah pertanian subsisten dapat digolongkan ke dalam dua kategori, yaitu langsung mengambilnya dari alam seperti menangkap ikan dari laut yang sudah tersedia dari alam dan jenis lainnya adalah melalui upaya pembudidayaan seperti menanam padi di sawah, menanam sayur di ladang, atau membudidayakan ikan di empang sawah. Kegiatan memperoleh makanan sering diiringi pula dengan upacara-upacara kepercayaan/keyakinan/keagamaan, baik yang sederhana maupun yang kompleks. Demikian pula cara pengolahan makanan. Cara pengolahan makanan dapat dilihat berdasarkan sifat alamiah maupun sifat kebudayaan melalui tata cara kebudayaannya yang terkait dengan lingkungan alam, budaya, dan tata kebiasaannya. Ada makanan mentah, dimasak, peragian (fermentasi) penggaraman, dan sebagainya.

commit to user

Seperti telah disebutkan bahwa cara penyajian makanan dibedakan untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk kepentingan sosial budaya seperti weweh ‘mengantar makanan’ dan untuk sesaji yang bersifat ritual keagamaan seperti untuk Suran, jabel, dan wiwit. Cara penyajian makanan untuk sehari-hari adalah sederhana, sedangkan untuk pesta atau upacara lebih rumit, bahkan tampak lebih indah dengan penambahan aksesori. Dari cara penyajian makanan dapat dikaji bahwa makanan di daerah pesisir masih tergolong sederhana karena belum banyak modifikasi, misalnya dengan penambahan warna buatan yang membahayakan seperti banyak dijumpai di kota-kota besar. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa budaya daerah penelitian ini pun masih tergolong cenderung religi. Bentuk modifikasi yang dilakukan adalah mengganti pembungkus makanan lepet dengan plastik dan menempatkan minuman sajeng dalam botol bekas minuman air mineral berbagai jenis merek. Jenis makanan memiliki arti simbolik, arti sosial, budaya, agama, dan lain-lain. Arti sosial mempunyai fungsi kemasyarakatan seperti untuk hidangan pada waktu rembuk desa. Makanan juga dapat dijadikan sebagai simbol solidaritas kelompok, seperti ketika ada kerigan ‘gotong royong’. Bagi yang tidak dapat ikut gotong royong, warga tersebut menyumbangkan makanan sebagai ganti tenaga.

Bagan 4.3: Analisis Folklor Bukan Lisan