• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki

Dalam dokumen HALAMAN JUDUL SKRIPSI (Halaman 46-54)

BAB I PENDAHULUAN

1.4 Kajian Pustaka

1.4.6 Analisis Framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki

Dalam penelitian ini dimaksudkan mengetahui bagaimana framing pemberitaan mengenai RUU P-KS di media daring Hidayatullah.com Periode 25-29 September 2019.

1.4.6.2 Proses Framing

Analisis framing dalam perspektif komunikasi dipakai untuk membedah cara-cara atau ideologi media saat mengkonstruksi fakta.48 Analisis ini mencermati strategi seleksi, penonjolan, dan pertautan fakta ke dalam berita agar lebih bermakna, lebih menarik, lebih berarti atau lebih diingat, untuk menggiring interpretasi khalayak sesuai perspektifnya. Secara umum, framing membahas mengenai bagaimana media membentuk konstruksi atas realitas, menyajikannya dan menampilkannya kepada khalayak. Jisuk Woo mengatakan bahwa paling tidak ada tiga elemen/kategori besar elemen framing (Tabel 1.3).49

Tabel 1.3 Elemen Framing Jisuk Woo

Jenis Framing Makro-struktural Mikro-struktural Retoris

Murray Edelman ˅ ˅

Robert N. Entman ˅ ˅

William Gamson ˅ ˅ ˅

Zhongdan Pan and

Gerald M. Kosicki ˅ ˅ ˅

(Sumber: Eriyanto, 2012:327) Pertama, level makro-struktural yang dapat dilihat dari pembingkaian tingkat wacana. Kedua, level mikro-struktural memusatkan pada sisi mana peristiwa tersebut dapat ditonjolkan dan bagian mana yang dilupakan/dikecilkan.

48 Alex Sobur, Op.Cit., hal. 162.

49 Eriyanto. Analisis Framing: Kontruksi, Ideologi, dan Politik Media (Yogyakarta: LKiS, 2012), hal. 327.

Level mikro berkaitan dengan pemilihan fakta, angel, narasumber. Ketiga, elemen retoris, yang diperlukan untuk melihat bagaimana cara yang dilakukan oleh media untuk menekankan fakta.

Dalam buku Eriyanto, ada empat model analisis framing. Pada Tabel 1.3, model Edelman dan Entman mengajukan gagasan bagaimana peristiwa dipahami dan bagaimana pemilihan fakta yang dilakukan oleh media. Model Gamson lebih banyak menekankan pada penandaan dalam bentuk simbolik, baik lewat kiasan maupun retorika yang secara tidak langsung mengarahkan perhatian khalayak. Sedang dalam model Pan dan Kosicki banyak diadaptasi pendekatan linguistik dengan memasukkan elemen seperti pemakaian kata, pemilihan struktur, dan bentuk kalimat yang mengarahkan bagaimana peristiwa dibingkai oleh media.50 Oleh sebab itu, dalam penelitian ini, model analisis framing yang digunakan adalah model Pan dan Kosicki karena memenuhi tiga elemen framing.

Framing didefinisikan sebagai proses membuat suatu pesan lebih menonjol, menempatkan informasi lebih daripada yang lain sehingga khalayak lebih tertuju pada pesan tersebut.51 Menurut Pan dan Kosicki, ada dua konsepsi framing yang saling berkaitan. Pertama, dalam konsepsi psikologis yang membahas pada bagaimana memproses informasi dalam diri khalayak. Kedua, konsepsi sosiologis melihat pada proses internal seseorang dalam menilai bagaimana konstruksi sosial atas realitas.

Dalam media, framing dipahami sebagai perangkat kognisi yang digunakan dalam informasi untuk membuat kode, manfsirkan, dan menyimpannya untuk dikomunikasikan dengan khalayak yang semuanya dihubungkan dengan konvensi,

50 Ibid., hal. 329. 51 Ibid., hal. 290.

rutinitas, dan praktik kerja profisional wartawan.52 Pan dan Kosicki memposisikan wartawan bukan agen tunggal yang menafsirkan peristiwa, melainkan ada dua pihak lagi yang turut serta yakni sumber dan khalayak.

Wartawan dalam tugasnya tidak hanya menyampaikan berita sesuai yang ada di dalam pikirannya. Akan tetapi, ada tiga proses yang perlu diperhatikan. Pertama, proses konstruksi melibatkan nilai sosial yang melekat dalam diri wartawan. Kedua, ketika menulis dan mengkonstruksi berita, wartawan bukanlah berhadapan dengan publik yang kosong, melainkan harus memperhatikan khalayak. Ketiga, proses konstruksi itu juga ditentukan oleh proses produksi yang selalu memperhatikan standar kerja, profesi jurnalistik, dan standar professional dari wartawan.

1.4.6.2 Perangkat Framing

Wartawan memakai strategi kata, kalimat, lead, hubungan antarkalimat, foto, grafik, dan perangkat lain untuk membantu mengungkapkan pemaknaan agar dipahami oleh pembaca. Dalam pendekatan ini, perangkat framing dapat dibagikan dalam empat struktur besar.

1. Struktur Sintaksis

Sintaksis adalah susunan kata atau frase dalam kalimat.53 Sintaksis berhubungan dengan bagaimana wartawan menyusun peristiwa – pernyataan, opini, kutipan, pengamatan atas peristiwa – ke dalam bentuk susunan umum berita. Susunan dan bagian berita secara umum meliputi judul headline, lead, episode, latar, dan penutup. Adapun struktur berita yang digunakan yakni struktur piramida

52 Ibid., hal. 292. 53 Ibid., hal. 295.

terbalik dimana informasi penting terdapat di bagian atas, sementara bagian bawah hanya penjelas.

Headline, mempunyai fungsi framing yang kuat karena pembaca cenderung lebih mengingat headline yang dipakai dibandingkan bagian berita. Headline digunakan untuk menunjukkan bagaimana wartawan mengkonstruksi suatu isu, yang seringkali menggunakan tanda tanya untuk menunjukkan sebuah perbedaan dan tanda kutip untuk menunjukkan adanya perbedaan jarak.

Lead, merupakan perspektif tertentu dari peristiwa yang diberitakan. Latar, umumnya ditampilkan di awal sebelum pendapat wartawan yang sebenarnya muncul dengan maksud mempengaruhi dan memberi kesan bahwa pendapat wartawan sangat beralasan. Seorang wartawan ketika menulis berita biasanya mengemukakan latar belakang atas peristiwa yang ditulis. Sehingga bisa menentukan arah mana pandangan khalayak hendak dibawa.

Kutipan, dalam penulisan berita dimaksudkan untuk membangun objektivitas (prinsip keseimbangan dan tidak memihak). Bahwa apa yang ditulis oleh wartawan bukan pendapat wartawan semata, melainkan pendapat dari orang yang mempunyai otoritas tertentu. Pengutipan sumber ini menjadi perangkat framing atas tiga hal. Pertama, mengklaim validitas atau kebenaran dari pernyataan yang dibuat dengan berdasarkan diri pada klaim otoritas akademik. Kedua, menghubungkan poin tertentu dari pandangannya kepada pejabat yang berwenang. Ketiga, mengecilkan pendapat atau pandangan tertentu yang dihubungkan dengan kutipan atau pandangan mayoritas sehingga pandangan tersebut tampak sebagai menyimpang.54

Kutipan yang menarik dapat menambah bumbu dalam cerita.55 Ada lima variasi kutipan yang umum dipakai dalam berita dan cerita feature. Kutipan Langsung adalah menuliskan kata demi kata dari apa yang dikatakan pembicara/narasumber. Kutipan ini dibuka dan ditutup dengan tanda kutip. Misal: “Kita harus mempertimbangkan apakah kita punya uang untuk membangun Gedung baru.” Kutipan Tidak Langsung, berisi apa yang kurang lebih dikatakan oleh pembicara dan bagaimana cara penyampaiannya. Kutipan ini tidak menggunakan tanda kutip. Contoh: Bambang mengatakan dewan harus mempertimbangkan apakah tersedia anggaran untuk membangun gedung baru.”

Kutipan Parafrasa, kutipan ini berisi apa yang dikatakan oleh pembicara tetapi disajikan dengan kata-kata dari wartawan. Disi kata-kata asli dari narasumber tidak dipertahankan. Contoh: Bambang mengajukan pertanyaan tentang pembiayaan gedung baru. Kutipan Fragmentaris, adalah gabungan dari parafrasa dan kutipan langsung. Kutipan ini sangat baik dipakai jika pembicara memasukkan kata-kata yang penuh warna ke dalam suatu pernyataan yang sebenarnya bisa disampaikan biasa-biasa saja. Misalnya: Bejo menentang pembangunan Gedung itu sebagai suatu “pemborosan yang melebihi sebuah istana.” Dialog, teknik ini digunakan jika dua atau lebih pembicara dikutip dalam suatu konversasi tanya-jawab. Seperti misalnya di sidang pengadilan sehingga membuat artikel enak dibaca.

2. Struktur Skrip

Bentuk umum dari struktur skrip adalah pola 5W+1H yakni who, what, when, where, why, dan how.56 Unsur kelengkapan berita ini dapat menjadi penanda

55 Luwi Ishwara, Jurnalisme Dasar (Jakarta: Kompas, 2015), hal. 163-164. 56 Ibid., hal. 299-300.

framing yang penting. Skrip adalah salah satu strategi wartawan dalam mengkonstruksi berita: bagaimana suatu peristiwa dipahami melalui cara tertentu dengan menyusun bagian-bagian dengan urutan tertentu. Skrip memberikan tekanan mana yang didahulukan, dan bagian mana yang bisa dijadikan strategi menyembunyikan informasi. Upaya penyembunyian itu ditempatkan di bagian akhir agar terkesan kurang menonjol.

3. Struktur Tematik

Bagi Pan dan Kosicki, berita mirip sebuah pengujian hipotesis: peristiwa yang diliput, sumber yang dikutip, dan pernyataan yang diungkapkan – itu digunakan untuk membuat dukungan yang logis bagi hipotesis yang dibuat. Struktur tematik dapat diamati dari bagaimana peristiwa itu diungkapkan atau dibuat oleh wartawan. Dalam menulis berita, seorang wartawan mempunyai tema tertentu atas suatu peristiwa. Ada beberapa elemen yang dapat diamati dari perangkat tematik. Di antaranya adalah koherensi: pertalian atau jalinan antarkata, proposisi atau kalimat.

Ada beberapa macam koherensi. Pertama, koherensi sebab-akibat, yakni proposisi satu dipandang akibat atau sebab dari proposisi lain dan ditandai dengan kata hubung “sebab” atau “karena”. Kedua, koherensi penjelas, yakni proposisi satu dilihat sebagai penjelas proposisi lain dan ditandai dengan pemakaian kata hubung “dan” atau “lalu”. Ketiga, koherensi pembeda, yakni proposisi satu dipandang kebalikan atau lawan dari proposisi lain dan ditandai dengan kata hubung “dibandingkan” atau “sedangkan”.

Koherensi tersebut tertuang pada kalimat maupun paragraf. Dimana menurut Sumadiria57 yang mengutip dari Tarigan, jenis-jenis paragraf dikelompokkan ke dalam [1] paragraf detektif, [2] paragraf induktif, [3] paragraf campuran, [4] paragraf perbandingan, [5] paragraf pernyataan, [6] paragraf sebab-akibat, [7] paragraf contoh, [8] paragraf perulangan, dan [9] paragraf definisi. Paragraf dalam jurnalistik bergantung pada setiap penulis atau jurnalis untuk menggunakan paragraf yang mana yang disukai serta yang paling cocok dengan jalan cerita yang disajikan. Terpenting, setiap paragraf jurnalistik yang disusunnya harus efektif dan variatif.

Paragraf deduktif, yakni paragraf yang dimulai dengan kalimat utama disusul dengan penjelasan atau uraian secara lebih perinci dengan mengikuti pola urutan pesan dari umum ke khusus. Paragraf induktif, yakni mengikuti pola urutan pesan dari khusus ke umum, yang dimulai dengan kalimat penjelas yang menekankan bagian-bagian atau unsur-unsur terkecil disusul dengan penjelasan bagian-bagian yang lebih besar sebelum diakhiri dengan kesimpulan atau kalimat penjelas.

Paragraf campuran, yakni paragraf gabungan dari paragraf deduktif dan paragraf induktif yang menurut bahasa jurnalistik cenderung menyulitkan pembaca untuk cepat mengambil kesimpulan mengenai pokok pikiran yang terdapat dalam suatu paragraf. Paragraf perbandingan, merupakan kalimat utama yang biasanya ditempatkan pada awal paragraf, membandingkan dua hal mengani unsur-unsur sifat atau keadaan yang terdapat di dalamnya.

57 AS Haris Sumadiria, Bahasa Jurnalistik – Pandan Praktis Penulis dan Jurnalistik (Bandung: Remaja Rosdakarya Offset, 2017), hal. 89-92.

Paragraf pertanyaan, yakni bertujuan untuk mempertanyakann atau menggugat susuatu dengan mengajukan kalimat tanya pada kalimat pertama atau kalimat kedua di awal paragraf jurnalistik. Paragraf sebab-akibat, artinya kalimat utama dalam paragraf dikembangkan ke dalam urutan sebab dan akibat. Paragraf contoh, adalah paragraf yang disusun dengan menunjukkan banyak contoh pada kalimat utama, kalimat pengembangan, dan kalimat penjelas. Fungsi utama paragraf contoh tidak dimaksudkan untuk menekankan suatu gagasan atau konsep, tetapi justru untuk memberikan gambaran suatu hal secara konkret kepada khalayak pembaca.

Paragraf perulangan, dimaksudkan untuk lebih menekankan efek psikologis yang ingin dicapai dari pembaca sekaligus menunjukkan variasi kata dan kalimat. Paragraf definisi, menunjukkan suatu istilah atau konsep pada kalimat utama dan istilah atau konsep itu masih memerlukan uraian serta penjelasan perinci pada kalimat-kalimat berikutnya.

4. Struktur Retoris

Struktur retoris dalam wacana berita menggambarkan pilihan gaya atau kata yang dipilih oleh wartawan untuk menekankan arti yang ingin ditonjolkan bahkan kecenderungan untuk menyampaikan kebenaran.58 Perangkat retoris digunakan untuk membuat citra, meningkatkan kemenonjolan pada sisi tertentu dan meningkatkan gambaran yang diinginkan dari suatu berita. Ada beberapa elemen yang penting, yakni leksikon (pemilihan, dan pemakaian kata-kata tertentu untuk menandai atau menggambarkan peristiwa), grafis, metafora dan pengandaian.

Pilihan kata-kata yang dipakai menunjukkan sikap dan ideologi tertentu. Peristiwa sama dapat digambarkan dengan pilihan kata yang berbeda-beda. Selain kata, penekanan pesan dalam berita juga dapat dilakukan dengan menggunakan unsur grafis. Dalam wacana berita, grafis ini biasanya muncul lewat bagian tulisan yang dibuat lain dibandingkan tulisan lain. Pemakaian huruf tebal, miring, pemakaian garis bawah, dan huruf yang dibuat lebih besar juga bagian dari unsur grafis. Selain itu elemen grafis juga muncul dalam bentuk foto, gambar, dan tabel untuk mendukung gagasan yang mampu memberikan efek kognitif (mengontrol perhatian dan ketertarikan secara intensif).

Metafora, menurut Poerwadarminta dalam buku Drs. AS Haris Sumadiria, M.Si. adalah pemakaian kata-kata yang bukan arti sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan yang singkat, padat, dan tersusun rapi.59

Dalam dokumen HALAMAN JUDUL SKRIPSI (Halaman 46-54)

Dokumen terkait