• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4. Analisis Gaya Keputusan Pembelian Responden

Gaya pengambilan keputusan merupakan salah satu pendekatan dalam proses pengambilan keputusan konsumen berdasarkan karakteristik orientasi mental. Analisis gaya keputusan pembelian ini dilakukan dengan mengelompokkan peubah-peubah yang dikaji dari Consumer Styles Inventory (CSI) dengan menggunakan analisis faktor.

Analisis faktor diawali dengan pengujian variabel-variabel yang bisa dilakukan proses factoring. Berdasarkan hasil analisis ditemukan nilai Kaiser-Meyer-Olkin (KMO) sebesar 0.643 yang dapat dilihat pada Lampiran 4. Oleh karena angka Measure of Sampling Adequacy (MSA) lebih besar dari 0.5, maka dapat disimpulkan bahwa kumpulan variabel tersebut dapat diproses lebih lanjut. Nilai Barlett’s menunjukkan nilai sebesar 904.658 dengan nilai signifikansi sebesar 0.000 sehingga signifikan dan bisa dianalisis lebih lanjut.

Pada Anti Image Matrices dapat dilihat sejumlah angka yang membentuk diagonal yang merupakan Anti Image Correlation yang bertanda “a”. Pada hasil perhitungan Anti Image Matrices, terdapat faktor yang menunjukkan korelasi dibawah 0.5, yaitu variabel nomor 22 dan nomor 26 dengan nilai 0.421209 dan 0.487413. Nilai korelasi yang paling kecil terdapat pada variabel 22, sehingga variabel nomor 22 dikeluarkan dari pemilihan variabel dan dilakukan proses factoring kembali. Anti Image Matrices dapat dilihat pada Lampiran 5. Berdasarkan hasil analisis tersebut ditemukan nilai KMO sebesar 0.655. Nilai KMO ini lebih besar dari 0.5, maka dapat disimpulkan bahwa kumpulan variabel tersebut dapat diproses lebih lanjut. Nilai Barlett’s menunjukkan nilai sebesar 875.785 dengan nilai signifikansi sebesar 0.000 sehingga signifikan dan bisa dianalisis lebih lanjut. Nilai KMO dan Barlett’s test dapat dilihat pada Lampiran 4.

Anti Image Matrices dapat kita lihat pada Lampiran 6. Pada hasil perhitungan Anti Image Matrices, ada faktor yang menunjukkan korelasi dibawah 0.5, yaitu variabel nomor 26 sebesar 0.491961 sehingga faktor 26 tersebut dikeluarkan dari pemilihan variabel dan dilakukan proses factoring kembali. Berdasarkan hasil analisis ditemukan nilai KMO sebesar 0.682, meningkat dari nilai KMO yang sebelumnya (saat variabel nomor 22 dibuang). Nilai ini lebih besar dari 0.5, maka dapat disimpulkan bahwa kumpulan variabel tersebut dapat diproses lebih lanjut. Nilai Barlett’s menunjukkan nilai sebesar 797.296 dengan nilai signifikansi sebesar 0.000 sehingga signifikan dan bisa dianalisis lebih lanjut. Nilai KMO dan Barlett’s test dapat dilihat pada Lampiran 4.

Masing-masing variabel dapat dijelaskan oleh faktor yang nanti terbentuk dengan melihat nilai communalites-nya. Communalities pada dasarnya adalah jumlah varian dari suatu variabel mula-mula yang bisa dijelaskan oleh faktor yang ada. Semakin besar communalities sebuah variabel berarti semakin erat hubungannya dengan faktor yang terbentuk. Nilai communalities masing-masing variabel dapat dilihat pada Lampiran 8.

Pada nilai communalities, terdapat faktor yang memiliki nilai dibawah 0.5, yaitu variabel nomor lima sebesar 0.494, variabel nomor 24 sebesar 0.405, dan variabel nomor 27 sebesar 0.491. Nilai korelasi yang

paling kecil, yaitu variabel nomor 24 dikeluarkan dari pemilihan variabel dan dilakukan proses factoring kembali.

Berdasarkan hasil analisis ditemukan nilai KMO sebesar 0.682 yang sama dengan nilai KMO sebelumnya. Nilai KMO ini lebih besar dari 0.5, maka dapat disimpulkan bahwa kumpulan variabel tersebut dapat diproses lebih lanjut. Pada nilai communalities, terdapat faktor yang memiliki nilai dibawah 0.5, yaitu variabel nomor lima sebesar .0483 dan variabel nomor 27 sebesar 0.458. Nilai korelasi yang paling kecil, yaitu variabel nomor 27 dikeluarkan dari pemilihan variabel dan dilakukan proses factoring kembali.

Berdasarkan hasil analisis ditemukan nilai KMO sebesar 0.693, meningkat dari nilai KMO sebelumnya. Nilai KMO ini lebih besar dari 0.5, maka dapat disimpulkan bahwa kumpulan variabel tersebut dapat diproses lebih lanjut. Nilai Barlett’s menunjukkan nilai sebesar 731.326 dengan nilai signifikansi sebesar 0.000 sehingga signifikan dan bisa dianalisis lebih lanjut. Nilai KMO dan Barlett’s test dapat dilihat pada Lampiran 4.

Analisis faktor dalam penelitian ini dilakukan dengan menentukan jumlah faktor yang akan diambil, yaitu sebanyak delapan faktor. Hal ini dilakukan dengan mengacu pada dimensi gaya keputusan pembelian konsumen yang terdapat dalam metode penelitian.

Setelah terbentuk delapan faktor yang diinginkan, maka tabel Component Matrix menunjukkan distribusi variabel-variabel tersebut pada delapan faktor yang terbentuk. Sedangkan angka-angka yang ada pada tabel tersebut adalah factor loading yang menunjukkan besar korelasi antara suatu variabel dengan faktor 1, faktor 2, faktor 3, faktor 4, faktor 5, faktor 6, faktor 7, atau faktor 8. Faktor yang terbentuk kemudian dirotasi dengan tujuan agar nilai loading yang terkecil sampai terbesar dapat terdistribusi kembali. Berdasarkan pola factor loading yang telah dirotasi ini, kita dapat mengetahui secara jelas posisi masing-masing variabel dibanding dengan variabel yang lain. Setelah dirotasi, proses penentuan variabel ke faktor yang sesuai dilakukan dengan melakukan perbandingan besar korelasi pada setiap baris. Hasil distribusi variabel-variabel dalam setiap faktor dapat dilihat pada Tabel 4.

Hasil pemfaktoran yang terdapat pada Tabel 4 menunjukkan pengelompokkan gaya keputusan pembelian daging sapi segar pada konsumen menengah ke atas di kecamatan Tanah Sareal Bogor. Berdasarkan

hasil analisis, didapatkan enam gaya keputusan pembelian, yaitu : (1) Bingung dengan banyaknya pilihan; (2) Memperhatikan mode, (3) Kebiasaan, setia pada suatu tempat yang telah dipercayai, (4) Memperhatikan harga; (5) Memperhatikan keamanan konsumsi produk;

(6) Penuh pertimbangan; (7) Ceroboh; dan (8) Memperhatikan mutu. Tabel 4. Hasil analisis faktor

FAKTOR PEUBAH PENYUSUN FAKTOR Loading Factor

Bingung dengan banyaknya pilihan

1. Memilih produk daging baru sebelum teman membeli. 2. Semakin mengamati

merek/penyalur daging yang ada semakin sulit menentukan pilihan. 3. Banyaknya informasi berbagai

merek/perusahaan daging yang diperoleh membuat bingung. 4. Terlalu banyak merek/penyalur

daging di pasar membuat bingung.

1. 0.479 2. 0.791

3. 0.808

4. 0.688 Memperhatikan mode 1. Mementingkan pemisahan daging

yang baik dan pengemasan daging 2. Memilih mendapatkan daging yang

bewarna merah cerah

3. Kemasan yang baik penting dalam pembelian daging

1. 0.568 2. 0.783 3. 0.639 Kebiasaan, setia pada

sesuatu yang telah dipercayai konsumen

1. Mempunyai merek/penyalur daging favorit yang selalu dibeli dalam setiap pembelian

2. Memilih daging yang empuk 3. Memilih membeli merek/penyalur

daging yang paling laku terjual 4. Selalu pergi ke toko/penyalur yang

sama ketika membeli daging 5. Sekali cocok dengan

merek/penyalur daging maka membeli merek atau dari penyalur tersebut 1. 0.621 2. 0.538 3. 0.567 4. 0.719 5. 0.569

Memperhatikan harga 1. Memilih daging dengan merek terkenal

2. Memilih harga daging yang murah 3. Memanfaatkan diskon/promosi

harga jika membeli daging

1. 0.635 2. 0.732 3. 0.705 Memperhatikan keamanan konsumsi produk

1. Memilih daging yang ada informasi halalnya

2. Memilih daging yang memiliki Sertifikat Jaminan Bebas Penyakit

1. 0.791 2. 0.753

Penuh Pertimbangan 1. Berbelanja daging cukup lama dan berhati-hati untuk mendapatkan daging terbaik

2. Harus merencanakan pembelian daging sebelum belanja

3. Membeli daging dengan tawar- menawar

1. 0.571

2. 0.620 3. 0.732 Ceroboh 1. Memilih produk daging yang

diiklankan

2. Pulang dengan belanjaan daging yang lebih banyak dibanding rencana semula

3. Sulit menentukan toko/penyalur daging yang mana yang akan dituju

1. 0.759 2. 0.698

3. 0.540 Memperhatikan mutu 1. Memilih daging beraroma segar

2. Selalu mengamati produk daging baru di pasar

1. 0.627 2. 0.595

4.4.1. Gaya Keputusan Pembelian : Bingung dengan Banyaknya Pilihan

Gaya keputusan pembelian yang pertama adalah bingung dengan banyaknya pilihan. Konsumen yang memiliki gaya keputusan ini memiliki ciri bahwa dengan banyaknya informasi yang didapat mengenai merek daging atau penyalur daging akan membuat konsumen tersebut bingung. Begitu pula dengan terlalu banyaknya merek atau penyalur daging di pasar akan membuat konsumen bingung. Semakin konsumen tersebut mengamati merek atau penyalur daging yang ada maka akan semakin sulit bagi konsumen tersebut untuk menentukan pilihannya sehingga konsumen lebih suka mencari informasi berdasarkan pengalaman orang lain maupun pribadi. Konsumen juga memilih produk daging baru sebelum teman yang lain membeli.

Strategi untuk meraih konsumen yang memiliki gaya keputusan pembelian : bingung dengan banyaknya pilihan adalah dengan memberikan informasi yang tepat kepada konsumen. Informasi yang dimaksud dapat berupa mengenai tempat penjualan daging sapi segar, macam-macam daging sapi segar yang dijual, dan lain sebagainya. Strategi lain yang dapat dilakukan adalah dengan membentuk suatu tempat penjualan khusus untuk daging sapi segar sehingga konsumen tidak bingung untuk memilih tempat pembelian daging sapi segar, memberikan keterangan mengenai daging sapi

segar yang dijual oleh pemasar sehingga konsumen dapat mengetahui dengan jelas mengenai daging sapi segar yang ingin dikonsumsi. 4.4.2. Gaya Keputusan Pembelian : Memperhatikan Mode

Gaya keputusan pembelian yang kedua adalah memperhatikan mode. Konsumen yang memiliki gaya keputusan pembelian ini memiliki ciri-ciri mementingkan pengemasan ataupun penampilan dari daging sapi segar yang dijual tersebut. Konsumen menyukai pemisahan daging yang baik dan pengemasan daging yang menarik. Menurut konsumen kemasan yang baik juga penting dalam pembelian daging. Konsumen dengan gaya keputusan ini memilih untuk mendapatkan daging yang berwarna merah cerah.

Konsumen dengan gaya keputusan pembelian memperhatikan mode dapat diraih dengan beberapa strategi. Strategi yang dapat digunakan adalah dengan membuat kemasan yang menarik pada setiap pembelian daging sapi segar, tidak hanya dengan bungkus daun pisang atau plastik biasa; membuat potongan-potongan daging yang baik dan rapi, misalnya membuat potongan daging dengan tulang di bagian tengahnya, membuat potongan-potongan daging yang disesuaikan dengan resep masakan tertentu sehingga konsumen tidak perlu memotongnya lagi saat konsumen hendak memasaknya. 4.4.3. Gaya Keputusan Pembelian : Kebiasaan dan Setia pada Sesuatu

yang Telah Dipercayai

Gaya keputusan pembelian yang ketiga adalah kebiasaan, setia terhadap sesuatu yang telah konsumen percayai. Konsumen dengan gaya keputusan pembelian ini memiliki beberapa ciri, yaitu : konsumen memiliki merek atau penyalur daging favorit yang selalu konsumen beli dalam setiap pembelian, konsumen selalu pergi ke toko atau penyalur yang sama ketika konsumen tersebut membeli daging sapi segar, sekali konsumen cocok dengan merek atau penyalur daging tertentu maka konsumen akan membeli merek atau dari penyalur tersebut, konsumen dengan gaya keputusan pembelian ini memilih daging yang empuk, dan konsumen juga memilih membeli merek daging yang paling laku terjual atau membeli dari

penyalur daging yang terlihat paling laku. Dalam hal ini konsumen juga terbiasa untuk melakukan pembelian berulang.

Kosumen dengan gaya keputusan pembelian kebiasaan, setia pada sesuatu yang telah dipercayai yang sudah ada, harus tetap dijaga karena konsumen tersebut loyal. Strategi yang dapat dilakukan untuk meraih konsumen yang memiliki gaya keputusan ini adalah dengan menyediakan stok daging sapi segar yang tetap setelah memperkirakan dengan tepat jumlah daging sapi dalam periode tertentu, tetap menjaga kualitas pelayanan, tetap menjaga kualitas produk daging sapi segar yang dijual, dan berusaha menawarkan produk daging sapi segar kepada setiap konsumen yang datang ke tempat penjualan.

4.4.4. Gaya Keputusan Pembelian : Memperhatikan harga

Gaya keputusan pembelian yang keempat adalah memperhatikan harga. Konsumen dengan gaya keputusan pembelian ini berusaha mendapatkan nilai terbaik dari uang yang dibelanjakan. Ia akan memilih daging dengan merek terkenal, memilih harga daging yang murah, dan memanfaatkan diskon atau promosi pada saat konsumen melakukan pembelian daging. Sebelum memutuskan untuk membeli, biasanya konsumen akan melakukan pencarian informasi dan membanding-bandingkan harga.

Konsumen dengan gaya keputusan pembelian memperhatikan harga dapat diraih dengan cara memberikan potongan harga dalam penjualan daging sapi segar, dan memberikan harga paket murah kepada konsumen dengan ketentuan banyaknya daging sapi segar yang konsumen beli.

4.4.5. Gaya Keputusan Pembelian : Memperhatikan Keamanan Konsumsi Produk

Gaya keputusan pembelian yang kelima adalah memperhatikan keamanan produk daging sapi yang dikonsumsi konsumen. Konsumen dengan gaya keputusan ini memiliki ciri memilih daging yang ada informasi halalnya dan Sertifikat Jaminan

Bebas Penyakit sehingga konsumen merasa aman saat mengkonsumsi produk daging sapi segar tersebut.

Konsumen yang memperhatikan keamanan dari menunjukkan Sertifikat Halal dan Sertifikat Jaminan Bebas Penyakit dengan cara memajangnya di dinding tempat penjualan ataupun memberikan cap halal dan bebas penyakit pada kemasan daging sapi segar yang dibeli konsumen.

4.4.6. Gaya Keputusan Pembelian : Penuh Pertimbangan

Gaya keputusan pembelian yang keenam adalah penuh pertimbangan. Konsumen dengan gaya keputusan ini memiliki beberapa ciri, yaitu: konsumen berbelanja daging cukup lama dan berhati-hati untuk mendapatkan daging terbaik, konsumen harus merencanakan pembelian daging terlebih dahulu sebelum konsumen berbelanja, biasanya konsumen melakukan tawar-menawar pada saat melakukan pembelian daging. Konsumen yang memiliki gaya keputusan pembelian ini mempertimbangkan beberapa hal terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk membeli, tidak langsung membeli saat menghadapi situasi tertentu.

Strategi yang dapat dilakukan untuk meraih konsumen dengan gaya keputusan pembelian ini adalah menawarkan produk daging sapi segar yang memiliki kualitas yang baik dengan harga yang sesuai karena konsumen berusaha melakukan tawar-menawar pada saat membeli daging sapi segar tersebut.

4.4.7. Gaya Keputusan Pembelian : Ceroboh

Gaya keputusan pembelian yang ketujuh adalah konsumen yang ceroboh. Konsumen dengan gaya keputusan pembelian ceroboh melakukan pembelian dengan tidak terencana. Gaya keputusan pembelian ini memiliki beberapa ciri, yaitu konsumen memilih produk daging yang diiklankan, konsumen biasa pulang dengan belanjaan daging yang lebih banyak dibandingkan rencana konsumen semula, dan konsumen juga sulit menentukan toko atau penyalur daging yang mana yang akan dituju. Keputusan pembelian yang dilakukan oleh konsumen dengan gaya keputusan pembelian ceroboh

ini sangat dipengaruhi oleh dorongan dari situasi. Konsumen juga tampak tidak mempedulikan jumlah uang yang dibelanjakan untuk mendapatkan daging yang konsumen inginkan.

Konsumen dengan gaya keputusan pembelian ceroboh tampak tidak terlalu berpikir panjang atau dengan seksama saat ia membeli produk daging sapi segar, melakukan pembelian dengan tidak terencana. Strategi yang dapat dilakukan untuk meraih konsumen ini adalah dengan selalu menawarkan produk daging sapi segar kepada setiap konsumen yang datang ke tempat penjualan, membuat spanduk yang menarik mengenai daging sapi segar yang dijual, menyebarkan brosur mengenai tempat penjualan produk daging sapi segar, dan memberikan brosur mengenai resep-resep masakan daging sapi yang menarik. Hal-hal yang telah diuraikan tersebut dapat menarik konsumen untuk datang ke tempat penjualan dan membeli produk daging sapi segar. Konsumen dengan gaya keputusan pembelian ceroboh ini juga perlu dibimbing dalam melakukan pembelian terutama pembelian daging sapi, misalnya pada pasar tradisional konsumen dibimbing dengan adanya papan petunjuk mengenai tempat penjualan daging sapi, bagian daging sapi segar yang cocok untuk suatu masakan tertentu (contohnya, masakan rendang lebih enak dengan menggunakan daging sapi bagian has dalam karena tekstur dagingnya lebih lembut).

4.4.8. Gaya Keputusan Pembelian : Memperhatikan Mutu

Gaya keputusan pembelian yang kedelapan atau yang terakhir yang didapat dari hasil analisis faktor ini adalah memperhatikan mutu dari produk daging sapi segar. Konsumen yang memiliki gaya keputusan pembelian ini memiliki ciri berusaha mendapatkan produk daging sapi segar dengan kualitas daging terbaik. Konsumen tersebut memilih daging yang beraroma segar dan konsumen selalu mengamati produk daging baru yang ada di pasar.

Konsumen dengan gaya keputusan pembelian ini sangat memperhatikan mutu dari daging sapi segar, maka perlu disediakan

daging sapi segar yang memiliki kualitas terbaik untuk meraih konsumen dengan gaya keputusan ini.

Dokumen terkait