III. METODOLOGI PENELITIAN
3.3. Metode Pengumpulan Data
Berdasarkan sumber pengambilannya, data dibedakan menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan langsung di lapangan oleh
Kebutuhan akan Daging Sapi
Konsumsi Daging Sapi meningkat
Gaya Membeli Konsumen dan Profil Konsumen
Strategi Pemasaran Kebutuhan akan Pemahaman
Konsumen.
Gaya Membeli Konsumen
Analisis Faktor Analisis Deskriptif
Persaingan diantara pemasar
Profil Konsumen dan Produk yang dikonsumsi
orang yang melakukan penelitian atau yang bersangkutan yang memerlukannya. Sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang melakukan penelitian dari sumber-sumber yang telah ada.
Data primer penelitian ini diperoleh dari kuesioner yang disebarkan kepada konsumen dan wawancara kepada konsumen serta wawancara kepada pihak pemasaran dari salah satu supermarket yang ada di Bogor, yaitu Hero Supermarket. Sedangkan data sekundernya diperoleh sumber-sumber seperti dari Badan Pusat Statistik, buku- buku, literatur, dan skripsi yang terkait dengan penelitian ini.
Variabel yang digunakan dalam kuesioner gaya keputusan pembelian konsumen adalah variabel laten. Variabel laten yang dimaksud adalah variabel yang tidak dapat diketahui secara langsung dan dipengaruhi oleh variabel lainnya. Variabel yang digunakan dalam analisis gaya keputusan pembelian ini dikaji dari Consumer Styles Inventory (CSI) hasil penelitian Sproles dan Kendall dalam Mokhlis (2002). Ada delapan model faktor yang digunakan untuk mengetahui gaya keputusan pembelian konsumen, yaitu : (1) High quality conscious; (2) Brand conscious; (3) Novelty/Fashion conscious; (4) Recreational shopping conscious; (5) Price-value
conscious; (6) Impulsive; (7) Confused by overchoice; dan (8) Habitual, brand loyal.
Misalnya konsumen dengan gaya keputusan pembelian high quality conscious merupakan konsumen yang sangat mementingkan mutu atau kualitas dari produk. Konsumen dalam penelitian ini berusaha untuk mencari dan mendapatkan produk daging sapi segar dengan mutu atau kualitas terbaik, yaitu produk daging sapi yang segar/tidak beku/lembek, empuk, bewarna merah cerah, bebas lemak, memiliki informasi halal dan sertifikat jaminan bebas penyakit, konsumen juga akan berbelanja dengan cukup lama dan berhati-hati untuk mendapatkan daging terbaik. Konsumen ini berbeda dengan konsumen yag memiliki gaya keputusan pembelian price-value conscious, dimana konsumen berusaha mendapatkan nilai terbaik dari
uang yang dibelanjakan sehingga konsumen akan memilih produk daging sapi segar yang murah, biasanya memanfaatkan diskon atau promosi harga jika melakukan pembelian, dan melakukan tawar- menawar dalam proses belanja.
Data gaya keputusan pembelian yang digunakan dalam penelitian ini adalah data ordinal dengan skala likert, yaitu skala yang dipergunakan untuk mengukur sikap terhadap suatu obyek dengan cara mengajukan sejumlah pernyataan/statement. Setiap atribut mempunyai 5 skala yang menunjukkan apakah responden setuju atau tidak setuju terhadap pernyataan yang diberikan. Kelima skala tersebut dapat kita lihat sebagai berikut.
SS = Sangat Setuju
S = Setuju
N = Netral
TS = Tidak Setuju STS = Sangat Tidak Setuju
Untuk pernyataan positif diberikan bobot 5 untuk ”sangat setuju”, bobot 4 untuk menyatakan ”setuju”, bobot 3 untuk menyatakan ”netral”, bobot 2 untuk menyatakan ”tidak setuju”, dan bobot 1 untuk menyatakan ”sangat tidak setuju”. Sedangkan untuk pernyataan negatif, maka digunakan kebalikannya. Untuk pernyataan ”sangat setuju” diberi bobot 1, pernyataan ”setuju” diberi bobot 2, pernyataan ”netral” diberi bobot 3, pernyataan ”tidak setuju” diberi bobot 4, dan untuk pernyataan ”sangat tidak setuju” diberi bobot 5.
Berikut ini adalah dimensi gaya keputusan pembelian konsumen yang digunakan dalam analisis :
Peubah X1 Peubah X2
Peubah X1 Peubah X2
Memilih daging beraroma segar Memilih daging yang empuk
Memilih daging yang ada informasi halalnya
Memilih mendapatkan daging yang bewarna merah cerah
Memilih daging segar / tidak beku /lembek
Memilih daging yang memiliki Sertifikat Jaminan Bebas Penyakit
Memilih produk daging yang diiklankan
Memilih daging yang bebas lemak
Perfectionistic,
High-Quality Conscious
Memilih daging dengan merek terkenal
Semakin tinggi harga merek/penyalur daging, semakin tinggi kualitasnya Memilih membeli merek/penyalur daging yang paling laku terjual
Brand Conscious, “Price Equals Quality” Consumer
Berbelanja daging cukup lama dan berhati-hati untuk mendapatkan daging terbaik
Peubah X1 Peubah X2
Memilih produk daging baru sebelum teman membeli
Selalu mengamati produk daging baru di pasar
Kemasan yang baik penting dalam pembelian daging
Novelty, Fashion Conscious Consumer
Tergesa-gesa jika membeli daging(-)
Kedekatan lokasi toko daging sangat penting
Recreational,
Hedonistic Consumer
Harus merencanakan pembelian daging sebelum belanja
Membeli daging dengan tawar-menawar
Memanfaatkan diskon/promosi harga jika membeli daging
Memilih harga daging yang murah
Price Conscious, “Value for Money” Consumer
Mengamati dengan baik berapa pengeluaran dalam belanja daging (-)
Impulsive,
Careless Consumer Mementingkan pemisahan daging
yang baik dan pengemasan daging
Berbelanja daging membuang/ menyita waktu (-)
Melakukan pembelian daging dengan cepat (-)
Memilih daging yang sudah
dikemas/dibungkus dan dipotong untuk mmenghemat waktu
Memilih produk daging baru sebelum teman membeli
Pulang dengan belanjaan daging yang lebih banyak dibanding rencana semula
Gambar 3. Dimensi gaya keputusan pembelian konsumen 3.3.2. Populasi
Menurut Purwadi (2000), pengertian populasi dalam riset pemasaran tidak terbatas pada himpunan orang, tetapi mencakup himpunan apa saja yang menjadi objek penelitian misalnya toko, bank, perusahaan sejenis, dan distributor.
Populasi adalah keseluruhan pengamatan yang menjadi perhatian kita, baik terhingga maupun tak hingga (Walpole, 1995). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh rumah tangga yang terdapat pada kota Bogor.
Semakin mengamati merek/perusahaan penyalur daging yang ada semakin sulit menentukan pilihan
Banyaknya informasi berbagai
merek/perusahaan daging yang diperoleh membuat bingung
Terlalu banyak merek/penyalur daging di pasar membuat bingung
Sulit menentukan toko/penyalur daging yang mana yang akan dituju
Confused by Overchoice Consumer
Habitual,
Brand-loyal Consumer
Mempunyai merek/penyalur daging favorit yang selalu dibeli dalam setiap pembelian
Selalu pergi ke toko/penyalur yang sama ketika membeli daging
Sekali cocok dengan merek/penyalur daging maka membeli merek atau dari penyalur tersebut
Selalu pergi ke toko/penyalur yang sama ketika membeli daging
3.3.3. Sampel
Proses pemilihan sampel dari populasi dengan tujuan mendapatkan kesimpulan umum mengenai populasi berdasarkan hasil penelitian terhadap sampel yang dipilih disebut sampling. Metode sampling yang digunakan pada penelitian ini adalah purposive sampling. Teknik pengambilan sampel ini dipilih karena dalam menentukan sampel, peneliti menggunakan pertimbangan subyektif untuk memilih anggota populasi dengan ciri tertentu dan menolak anggota populasi yang tidak memiliki ciri tersebut. Sampel dalam penelitian ini adalah rumah tangga yang terdapat di kawasan perumahan di Tanah Sareal. Daerah ini dipilih karena daerah ini merupakan salah satu daerah yang mengalami perkembangan yang pesat yang ditandai dengan meningkatnya jumlah perumahan, dibukanya akses jalan yang lebih lebar dan semakin meningkatnya kegiatan perdagangan yaitu jumlah ruko yang bertambah banyak. Di kecamatan Tanah Sareal terdapat 32 perumahan yang daftar selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 13. Dari beberapa perumahan yang ada di daerah ini, dipilih secara sengaja lima perumahan sebagai tempat pengambilan sampel, yaitu : Perumahan Budi Agung, Cimanggu Permai, Taman Cimanggu, Bukit Cimanggu Vila, dan Boulevard Kayu Manis. Di masing-masing kompleks ini akan dipilih responden ibu rumah tangga golongan menengah ke atas yang telah membeli daging selama dua bulan terakhir.
Ukuran sampel yang dibutuhkan dalam penelitian ini ditentukan dengan rumus Slovin (Simamora, 2002), yaitu :
) 1 ( Ne2 N n + = Keterangan : n = jumlah responden N = jumlah populasi
e = nilai kritis, persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan contoh yang bisa ditolerir.
Dengan nilai e sebesar 10 persen, maka nilai n adalah sebagai berikut:
n = 194.357 / 1 + 194357 (0.01) n = 99,948
Berdasarkan perhitungan, maka didapat jumlah sampel untuk penelitian ini adalah sebanyak 100 orang. Berdasarkan jumlah sampel yang telah ditetapkan, maka untuk masing-masing kompleks perumahan akan diambil 20 responden.