• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISIS DATA

B. Analisis Hasil Dalam Proses Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences

Sedangkan tahap ketiga yaitu output, seperti hasil wawancara dengan guru kelas I yaitu Ibu Rulik Purnamasari, S.Pd.I, untuk jenis penilaian, beliau menggunakan 3 aspek yaitu:

a. Sikap, berupa kesopanan di kelas, adab berteman, datang ke sekolah dan

lain-lain.

b. Pengetahuan, ada tes yaitu ulangan harian, penilaian tengah semester dan penilaian akhir semester sedangkan non tes ada demonstrasi, presentasi, tes bercerita, tes membaca, tes menulis, dan lain-lain.

c. Keterampilan, ada seni musik, seni tari dan hasil karya cipta masing-masing siswa.

B. Analisis Hasil Dalam Proses Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences

(Kecerdasan Majemuk)

Dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang guru dan pengendali dalam proses pembelajaran tentunya ia menginginkan sebuah hasil pembelajaran yang maksimal dan tepat pada sasarannya. Ketika pelaksanaan proses pembelajaran berbasis Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk) untuk mengetahui berhasil tidaknya proses pembelajaran maka digunakanlah sebuah penilaian yang bernama penilaian autentik.

Penilaian autentik adalah sebuah penilaian terhadap sosok utuh seorang peserta didik yang bukan diukur dari segi afektif dan psikomotorik peserta didik.

 

Dalam model penilaian terdapat dua model penilaian yang umum digunakan, yaitu penilaian standar dan penilaian autentik. Penilaian standar adalah penilaian tradisional yang banyak mempunyai keterbatasan dalam mengukur kemampuan peserta didik secara komprehensif. Sebaliknya, penilaian autentik merupakan perubahan paradigma yang fundamental dari penilaian standar.7

Jenis-jenis penilaian autentik antara lain:8 1. Penilaian kinerja

Dalam penilaian ini, semampu mungkin guru melibatkan partisipasi peserta didik, khususnya dalam proses dan aspek-aspek yang akan dinilai. Caranya dengan merekam hasil penilaian berbasis kinerja.

2. Penilaian proyek

Yaitu penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik menurut periode atau waktu tertentu.

3. Penilaian portofolio

Yaitu penilaian yang bisa berangkat dari hasil kerja peserta didik secara perorangan atau diproduksi secara berkelompok. Portofolio juga dapat dianggap sebagai metode penilaian yang memberikan suatu cara untuk

      

7

Munif Chatib, Sekolahnya Manusia (Bandung: Kaifa, 2016), 139.

8

Daryanto, Pendekatan Pembelajaran Saintifik Kurikulum 2013 (Yogyakarta: Gava Media, 2014), 115.

 

meninjau dan membandingkan pekerjaan guna mengamati kemajuan selama periode waktu tertentu.9

4. Penilaian tertulis

Yaitu jenis tes yang berbentuk uraian atau esai, yang menuntut peserta didik mampu mengingat, memahami, mengorganisasikan, menerapkan, menganalisis, mensintesis dan mengevaluasi.

5. Penilaian lisan

Yaitu tes lisan yang pelaksanaannya dilakukan dengan mengadakan tanya jawab secara langsung antar pendidik dan peserta didik.

6. Penilaian praktik

Dilakukan dengan cara mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan aktifitas pembelajaran.

Sebagaimana hasil wawancara dengan Bapak Agus Setyawan, S.Pd. dapat dikatakan bahwa ketika beliau mau mengadakan evaluasi ataupun juga penilaian maka harus disesuaikan dengan kecerdasan dan kemampuan anak. Biasanya ketika di kelas VI Hatta beliau memberikan tugas portofolio, PR, dan juga tugas kelompok. Hal ini untuk memudahkan guru menilai kemampuan masing-masing anak. Sedangkan hasil wawancara dengan guru IPS dan juga wali kelas VI Soekarno Ibu Fitri Nur Pangestuti, S.Pd. beliau biasanya menggunakan hasil dari tugas kelompok dan presentasi. Berbeda dengan hasil wawancara dengan guru kelas I yaitu Ibu Rulik Purnamasari, S.Pd.I beliau menilai dari tiga aspek yaitu       

9

 

sikap, pengetahuan, keterampilan meskipun tidak setiap hari dilakukan karena menurut beliau penyampaian materi lebih diutamakan. Sedangkan untuk penilaian yang sering dilakukan yaitu dengan pengamatan/observasi.

Berdasarkan temuan di atas maka peneliti menyimpulkan bahwa dari enam jenis penilaian autentik sebenarnya di SD Immersion Ponorogo sudah diterapkan, hanya saja bentuk prakteknya kadang disesuaikan dengan situasi dan kondisi waktu pelaksanaan PBM (Proses Belajar Mengajar).

Karena dalam penilain autentik menekankan pada apa yang sebenarnya dinilai, baik proses maupun hasil dengan berbagai instrument penilaian yang disesuaikan dengan tuntutan kompetensi yang ada di Standar Kompetensi (SK) atau Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD). Oleh Karena itu, guru harus memperhatikan keseimbangan antara penilaian kompetensi sikap, keterampilan dan pengetahuan yang disesuaikan dengan perkembangan karakteristik siswa sesuai dengan jenjangnya.10

Ketika dalam proses pembelajaran berjalan dengan baik dan lancar, dalam artian pada proses pemilihan metode dan strategi yang tepat maka akan diperoleh sebuah hasil pembelajaran yang maksimal juga. Karena sebuah hasil tidak akan menghianati sebuah proses.

Dari hasil temuan di lapangan yaitu berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Agus Setyawan, S.Pd. dikatakan bahwa dan hasilnya ketika diberikan       

10

Kunandar, Penilaian Autentik “Penilaian Hasil Belajar Peserta Ddidik Berdasarkan Kurikulum 2013” (Jakarta: Raja Grafindo, 2013), 35-36.

 

kepada anak regular maka materi bisa tersampaikan dengan baik sesuai dengan tujuan pembelajaran. Hal ini karena strategi dan media yang digunakan tepat. Tetapi jika materi ini diberikan kepada ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) sebagai penguatan PBM (Proses Belajar Mengajar) dengan materi yang sama maka indikatornya dibuat sesederhana mungkin (misalnya hanya menyebutkan nama tokoh yang ada di film tersebut). Di SD Immersion memiliki 2 jenis siswa yaitu siswa regular dan siswa ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) dan ini tidak mudah untuk menyampaikan materi seperti di sekolah-sekolah lain. Jadi satu materi pembelajaran harus dibuat 2 tipe, yaitu untuk siswa regular dan siswa ABK. Sedangkan berdasarkan wawancara dengan guru IPS dan juga wali kelas VI Soekarno Ibu Fitri Nur Pangestuti, S.Pd. diperoleh hasil untuk nilai presentasi mereka semua sudah di atas rata-rata KKM. Berbeda dengan hasil wawancara dengan guru kelas I yaitu Ibu Rulik Purnamasari, S.Pd.I untuk hasilnya nilai anak-anak lumayan bagus dan juga kesalahan dalam menjawab berkurang.

Berdasarkan temuan di atas maka peneliti menyimpulkan bahwa hasil dari aspek pengetahuan lebih nyata nilainya. Sedangkan hasil nilai dari aspek sikap dan aspek keterampilan hasil nilainya dilakukan melalui observasi dan kurun waktunya tidak bisa ditentukan. Karena sikap dan keterampilan masing-masing anak bisa saja berubah sewaktu-waktu. Untuk jenis pengambilan nilai bisa dikatakan sudah seimbang, artinya ketiga aspek dalam penilaian autentik sudah diterapkan. Sedangkan dalam proses pengambilan nilai yang mungkin kurang

 

seimbang. Karena masih ada sebagian guru yang belum tertib ketika memasukkan hasil nilai sikap dan juga keterampilan.

Karena di SD Immersion Ponorogo menggunakan model pembelajaran berbasis Multiple Intelligences maka hasil yang dilihat tidak hanya dari segi akademiknya saja, melainkan juga dari bakat dan minat anak, yaitu melalui kegiatan ekstrakurikuler. Pemilihan ekstrakurikuler ini di sesuaikan dengan kebutuhan kecerdasan masing-masing anak. Ada tiga cara dalam pemilihan ekstrakurikuler, antara lain:

a. Wali murid yang memilih sendiri

b. Wali murid datang ke sekolah untuk minta bimbingan dan arahan c. Berdasarkan hasil MIR dan minat anaknya sendiri

Semua ekstrakurikuler yang ada di SD Immersion di sesuaikan dengan sembilan jenis kecerdasan yaitu:

1. Kecerdasan linguistik (cerdas bahasa), di salurkan lewat ekstrakurikuler

English Club dan Indonesian Club

2. Kecerdasan logis-matematis (cerdas angka), disalurkan lewat ekstrakurikuler

match club

3. Kecerdasan spasial-visual (cerdas ruang dan gambar), disalurkan lewat

ekstrakurikuler sains

4. Kecerdasan kinestetis (cerdas olah tubuh-jasmani), disalurkan lewat

 

5. Kecerdasan musik (cerdas musik), disalurkan lewat ekstrakurikuler musik dan hadroh

6. Kecerdasan interpersonal (cerdas bergaul), disalurkan lewat semua

ekstrakurikuler

7. Kecerdasan intrapersonal (cerdas diri), disalurkan lewat semua ekstrakurikuler

8. Kecerdasan naturalis (cerdas alam), disalurkan lewat ekstrakurikuler

sains/kuark

9. Kecerdasan eksistensialis (cerdas spiritual), disalurkan lewat ekstrakurikuler qiro’

Tentunya lewat kegiatan ekstrakurikuler ini diharapkan dari pihak sekolah SD Immersion Ponorogo, semua kecerdasan anak tersalurkan sesuai potensi, bakat dan juga minat yang dimiliki agar tujuan akhirnya tercapai dengan baik dan maksimal.

Berdasarkan temuan di lapangan, melalui beberapa pilihan ekstrakurikuler yang ditawarkan pihak sekolah yaitu SD Immersion Ponorogo, membawa dampak terhadap hasil perkembangan prestasi anak. Terbukti dari beberapa ekstrakurikuler sudah bisa menyumbangkan prestasi buat sekolah. Di antaranya: a. Anindita sudah berhasil meraih juara 3 lomba mewarnai tingkat SD

b. Anindita berhasil meraih juara 2 lomba mewarnai tingkat siaga Immersion

Schout Competition.

 

Menurut pengamatan peneliti, hasil dari kegiatan ekstrakurikuler sudah bagus tetapi mungkin bisa ditingkatkan lagi agar siswa semakin terasah bakat, minat serta keterampilannya.

88 

BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang dilakukan di SD Immersion Ponorogo maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Peran guru dalam proses pembelajaran berbasis Multiple Intelligences

(kecerdasan majemuk) di SD Immersion Ponorogo mayoritas gurunya sudah menjalankan perannya sebagai fasilitator. Sedangkan peran sebagai pelatih biasanya dijalankan ketika guru tersebut mendampingi kegiatan ekstrakurikuler. Selain itu guru di SD Immersion Ponorogo juga menjalankan perannya sebagai inspirator, pembimbing, informator, organisator, motivator, demonstrator, pengelolaan kelas, dan evaluator.

2. Untuk hasil dalam proses pembelajaran berbasis Multiple Intelligences

(kecerdasan majemuk) di SD Immersion Ponorogo bisa dilihat dari penilaian autentiknya. Penilaian yang sering digunakan diperoleh dari tugas portofolio, PR (pekerjaan rumah), tugas kelompok dan juga presentasi. Untuk hasilnya nilai siswa siswi bagus dan juga kesalahan dalam menjawab semakin berkurang. Oleh karena itu, hasil dari aspek pengetahuan lebih nyata nilainya. Sedangkan hasil nilai dari aspek sikap dan aspek keterampilan hasil nilainya dilakukan melalui observasi dan kurun waktunya tidak bisa ditentukan.

 

 

Karena sikap dan keterampilan masing-masing anak bisa saja berubah sewaktu-waktu.

B. Saran-Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan, maka peneliti mengajukan beberapa saran sebagai berikut:

1. Kepada pihak sekolah agar bisa meningkatkan lagi mutu serta kualitas SDM

(Sumber Daya Manusia) agar lebih professional dan bisa menjalankan perannya secara maksimal, bisa dengan melakukan studi banding ataupun

kegiatan yang lainnya. Hubungannya dengan Multiple Intelligences yaitu

dalam pendekatan ini guru memiliki peran penting untuk menstransferkan ilmu sesuai jenis kecerdasan masing-masing anak. Jadi kualitas guru juga di utamakan demi terciptanya proses belajar mengajar yang maksimal.

2. Pihak sekolah mungkin bisa menambah lagi jenis kegiatan ekstrakurikuler

seperti drum band, angklung ataupun yang lainnya agar siswa-siswi di SD Immersion Ponorogo semakin terasah bakat, minat serta keterampilannya.

Hubunganya dengan Multiple Intelligences yaitu agar anak yang memiliki

kecenderungan kecerdasan di bidang musik bisa menambah lagi kreativitas dalam hal memainkan alat musik sehingga nantinya bisa menghasilkan sebuah iringan lagu yang bagus.

 

 

3. Pihak sarana dan prasarana sekolah bisa menambah lagi fasilitas yang

diperlukan di kelas seperti LCD proyektor, tempat penyimpanan tugas dan lain sebagainya.