BAB V ANALISIS DATA
A. Analisis Peran Guru Dalam Proses Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk)
Status guru mempunyai implikasi terhadap peran dan fungsi yang menjadi tanggung jawabnya. Guru memiliki satu kesatuan peran dan fungsi yang tidak terpisahkan, antara kemampuan mendidik, membimbing, mengajar dan melatih. Keempat kemampuan tersebut merupakan kemampuan integratif, antara yang satu dengan yang lain tidak dapat dipisahkan.1
Seperti halnya yang dijelaskan oleh salah satu guru di SD Immersion Ponorogo yaitu Bapak Agus Setyawan, S.Pd. bahwa semua guru di SD Immersion Ponorogo ini memiliki tugas dan fungsi yang sama antara lain sebagai:
1. Perencana
2. Pelaksana proses belajar mengajar (PBM) 3. Penilai/evaluasi
4. Tindak lanjut proses pembelajaran
Banyak peranan yang diperlukan dari guru sebagai pendidik atau siapa saja yang telah menerjemahkan diri sebagai guru. Semua peranan yang diharapkan dari guru seperti berikut: korektor, inspirator, informator, organisator,
1
motivator, inisiator, fasilitator, pembimbing, demonstrator, pengelolaan kelas, mediator, supervisor dan evaluator.2
Salah satu peran guru adalah professional. Jabatan guru sebagai profesional menuntut peningkatan kecakapan dan mutu keguruan secara berkesinambungan. Guru yang berkualitas professional yaitu guru yang tahu secara mendalam tentang apa yang dikerjakan, cakap dalam mengajarkannya secara efektif dan efisien dan mempunyai kepribadian yang mantap.
Guru di SD Immersion Ponorogo dituntut untuk memiliki kualifikasi professional. Terlihat dari beberapa persiapan yang mereka lakukan baik itu dalam hal pembuatan RPP, penilaian dan juga perangkat pembelajaran yang lainnya. Masing-masing guru mengajar sesuai dengan bidang kualifikasinya masing-masing.
Peran guru terhadap anak didiknya menurut situasi interaksi sosial yaitu format (kelas) dan informal (luar kelas). Selain keteladanan dan kewibawaan, guru juga menegakkan kedisiplinan demi kelancaran dan ketertiban proses belajar mengajar.3
Dari beberapa peranan tersebut, sebagaimana hasil wawancara dengan guru kelas VI Hatta Bapak Agus Setyawan, S.Pd. dapat dikatakan bahwa peran seorang guru di sini bisa menjadi tenaga pendidik, fasilitator, motivator, inovator
2
Syaiful Bahri Djamarah, Guru Dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), 43-48.
3
dan juga model. Karena seorang guru dalam menjalankan perannya tidak hanya di dalam kelas saja tapi juga di luar kelas.
Sedangkan berdasarkan hasil wawancara dengan guru lain yaitu guru PAI Bapak Fajar Kurniawan, S.Pd.I, peran guru Pendidikan Agama Islam adalah sebagai pendidik yang professional baik itu sebagai fasilitator yang memiliki kemampuan mendidik, membimbing, mengajar dan melatih pendidikan yang menanamkan nilai-nilai ajaran agama Islam melalui proses pembelajaran, baik di kelas maupun di luar kelas. Dan diharapkan hasil pembelajaran tersebut dapat diterapkan di lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat.
Berbeda lagi dengan hasil wawancara dengan guru kelas I Venus Ibu Rulik Pebrianasari, S.Pd.I, peran yang beliau jalankan cukup banyak. Bisa dikatakan peran ganda antara guru dan orang tua. Baik itu sebagai organisator, fasilitator, pembimbing, motivator, pengelola kelas, dan demonstrator.
Berbeda lagi dengan hasil wawancara dengan guru kelas VI Soekarno yaitu Ibu Fitri Nur Pangestuti, S.Pd., kelas beliau itu kecenderungan kecerdasannya lingustik, kinestetis, interpersonal dan logis-matematis. Anak-anak di kelasnya itu rata-rata anak yang aktif gerak dan sulit untuk diam. Peran yang sering beliau jalankan antara lain yaitu fasilitator, motivator, inspirator, informator, dan juga evaluator.
Mayoritas guru di SD Immersion Ponorogo memang sudah memiliki kualifikasi yang bagus dalam hal mengajar. Tetapi karena sekolah tersebut
berbasis Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk), maka semua guru harus faham betul mengenai kecenderungan kecerdasan siswa-siswi yang akan diajarnya. Hal ini sangat penting karena untuk menentukan strategi yang tepat dalam proses belajar mengajar.
Berdasarkan pengamatan di lapangan dari tiga belas peran yang harus dijalankan seorang guru, di SD Immersion Ponorogo sudah sembilan peran yang dijalankan, antara lain: inspirator, informator, organisator, motivator, fasilitator, pembimbing, demonstrator, pengelolaan kelas, dan evaluator.
Menurut pengamatan peneliti kondisi guru di SD Immersion sudah baik, buktinya sudah bisa menerapkan sembilan peran sesuai tugas dan fungsinya sebagai seorang pendidik. Tetapi alangkah baiknya jika tiga belas peran itu bisa dijalankan semuanya sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Sedangkan dalam Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk) peran
guru hanyalah sebagai fasilitator selain itu juga sebagai pelatih. Di SD Immersion Ponorogo mayoritas gurunya sudah menjalankan perannya sebagai fasilitator. Sedangkan peran sebagai pelatih biasanya dijalankan ketika guru tersebut mendampingi kegiatan ekstrakurikuler.
Berdasarkan temuan di lapangan, peneliti menyimpulkan bahwa ada beberapa ciri khas dari SD Immersion Ponorogo yaitu semua kegiatan ekstrakurikuler mengambil pelatih dari guru-gurunya sendiri. Kemudian ciri khas dari peran fasilitator di SD Immersion Ponorogo yaitu yang pertama, sekolah
memberikan fasilitas untuk menunjang kegiatan PBM (Proses Belajar Mengajar), dibuktikan dengan disiapkannya ruang kelas yang memadai sebagai tempat untuk belajar. Kemudian yang kedua, guru yang akan mengajar mempersiapkan semua fasilitas untuk belajar, dibuktikan dengan disiapkannya media pembelajaran yang akan digunakan ketika mengajar.
Pembelajaran berbasis Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk)
biasanya menggunakan proses pembelajaran kooperatif. Yaitu proses pembelajaran yang secara aktif melibatkan kecerdasan interpersonal, mengajar siswa untuk dapat bekerjasama dengan baik dengan orang lain, mendorong kolaborasi (kerjasama), berkompromi dan bermusyawarah mencapai kesepakatan. Secara umum dapat menyiapkan mereka untuk dunia hubungan personal dan bisnis yang sebenarnya.4
Adapun strategi mengajar yang bisa dilakukan antara lain: kecerdasan linguistik bisa melalui: membaca, menulis informasi, menulis naskah, dan lain-lain. Kecerdasan logis-matematis bisa melalui: grafik, pembuatan pola, kode, perhitungan dan lain-lain. Kecerdasan spasial-visual melalui: fotografi, dekorasi ruang, desain, melukis dan lain-lain. Kecerdasan kinestetis melalui: menari, pantonim, teater kelas, dan lain-lain. Kecerdasan musik melalui: konser, bernyanyi, paduan suara dan lain-lain. Kecerdasan interpersonal melalui: kerja kelompok, belajar kelompok dan lain-lain. Kecerdasan intrapersonal melalui:
4
Julia Jasmine, Mengajar dengan Metode Kecerdasan Majemuk: Implementasi Multiple Intelligences (Bandung: Nuansa, 2007), 139.
berbagi kisah, motivasi diri dan lain-lain. Kecerdasan naturalis melalui: wisata alam, menanam pohon dan lain-lain. Kecerdasan eksistensialis melalui menceritakan peristiwa bersejarah, mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa kematian, muhasabah (introspeksi) dan ziarah ke makam.5
Berdasarkan temuan di lapangan yaitu di SD Immersion Ponorogo, setiap guru menerapkan metode dan srategi mengajar yang berbeda-beda. Hal ini karena semua kelas dari kelas satu sampai kelas enam dibagi menjadi dua kategori kecerdasan, kecuali kelas empat hanya ada satu kelas. Karena muridnya sekitar dua puluh lima siswa jadi dijadikan satu kelas saja. Dua kategori kelas tersebut yaitu:
a. Kategori satu, kecenderungan kecerdasan kinestetik, logis-matematis, musikal dan intrapersonal
b. Kategori dua, kecenderungan kecerdasan linguistik, spasial visual, naturalis dan interpersonal
Sedangkan untuk kecerdasan eksistensialis (cerdas spiritual) menurut pihak sekolah itu dimasukkan dalam setiap pembelajaran. Karena ketika memulai pembelajaran semua anak sudah dibiasakan untuk berdoa.
Tentunya dari kecenderungan kecerdasan itulah setiap guru mempunyai metode dan strategi yang tepat untuk menjelaskan setiap materinya. Berdasarkan hasil wawancara dengan wali kelas VI Hatta yaitu Bapak Agus Setyawan, S.Pd., ketika beliau mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas VI Hatta di
5
mana dominan siswanya memiliki kecerdasan linguistik dan spasial visual, maka strategi yang beliau gunakan yaitu melalui game, tanya jawab dan cerita kisah.
Sedangkan hasil wawancara dengan guru IPS dan juga wali kelas VI Soekarno Ibu Fitri Nur Pangestuti, S.Pd., ketika beliau mengajar IPS di kelas VI Soekarno dengan materi tentang nama-nama negara di dunia, anak-anak tidak senang kalau terus-terusan disuruh membaca. Jadi untuk mensiasatinya beliau menggunakan metode kelompok dan juga presentasi.
Berbeda lagi dengan hasil wawancara dengan guru kelas I yaitu Ibu Rulik Purnamasari, S.Pd.I, karena beliau guru wali kelas satu, maka beliau mengajar semua mata pelajaran kecuali agama, Bahasa Inggris dan olahraga. Kebetulan di kelas I Venus kecenderungan kecerdasannya antara lain kinestetik, logis-matematis, musikal daan interpersonal. Ketika beliau mengajar ada beberapa strategi yang biasa dilakukan pada anak-anak yang memiliki kecerdasan tersebut, misalnya:
a. Kinestetik, biasanya saya menggunakan kartu warna warni. Kartu tersebut di taruh ke suatu tempat sesuai jenis warna kartunya. Dalam artian adu cepat ketangkasan. Tetapi memang harus di sesuaikan dengan temanya.
b. Logis-matematis, cenderung kepada dunia nyata. Jadi kadang anak-anak
dibawa ke luar kelas untuk mencari suatu benda yang ada di suatu tempat.
c. Musikal, ketika mau pelajaran anak-anak diajak menyanyi satu sampai dua
d. Interpersonal, ketika belajar kelompok, anak-anak diajak ke luar kelas dan point yang dinilai biasanya cepat tanggap terhadap soal yang diberikan dari kelompok lain.
Berdasarkan temuan di atas maka strategi dan metode yang digunakan oleh masing-masinng guru berbeda. Alasannya karena mereka lebih mengetahui strategi dan metode yang cocok dan tepat untuk pembelajaran itu dan disesuaikan dengan kecerdasan masing-masing anak. Meskipun ada yang tidak sama dengan teori yang dipaparkan sebelumnya tetapi proses pembelajaran tetap berjalan dengan baik. Karena pemilihan strategi dan metode adalah kewenangan dari seorang guru.
Adapun kontekstualisasi pembelajaran berbasis Multiple Intelligences
(kecerdasan majemuk) di sekolah menurut Munif Chatib dijelaskan bahwa konsep pembelajaran berbasis Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk) di sekolah secara global meliputi tiga tahap penting, yaitu: input, proses dan output.
Pada tahap input, menggunakan Multiple Intelligences Research (MIR) dalam penerimaan peserta didik barunya. Tahapan yang kedua adalah tahapan pada proses pembelajaran, dimana nantinya gaya mengajar gurunya harus sama dengan gaya belajar peserta didiknya. Pada tahap proses, pembelajaran berbasis Multiple Intelligences ini, terdapat teknik dan strategi mengajar baik itu dalam pemilihan
media dan pendekatan pembelajaran. Pada tahap output, dalam pembelajaran
autentik adalah sebuah penilaian terhadap sosok utuh seorang peserta didik yang bukan diukur dari segi kognitifnya saja melainkan juga diukur dari segi afektif dan psikomotorik peserta didik.6
Berdasarkan hasil temuan di lapangan yaitu di SD Immersion Ponorogo, pihak sekolah sudah menjalankan tiga tahap penting itu. Tahap pertama, di awal tahun ketika ada siswa baru yang mau masuk SD Immersion Ponorogo, terlebih
dahulu siswa-siswa tersebut mengikuti proses MIR (Multiple Intelligences
Research). Proses ini dilakukan untuk mengetahui jenis kecenderungan
kecerdasan yang dimiliki oleh siswa baru tersebut. Idealnya MIR dilakukan selama 2 tahun sekali, tetapi karena faktor biaya yang mahal sehingga pihak sekolah sementara ini menjalankan MIR ketika di awal masuk siswa baru.
Pada tahap kedua ini yaitu tahap proses, setiap guru yang akan mengajar di kelas wajib mempersiapkan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). RPP yang dibuat oleh guru-guru di SD Immersion Ponorogo tidak jauh berbeda dengan RPP yang dibuat oleh guru-guru yang sekolahnya tidak menggunakan basis Multiple Intelligences pada proses pembelajarannya. Hanya saja RPP yang dibuat oleh guru-guru di SD Immersion Ponorogo dicantumkan juga jenis kecerdasan dan strategi dan metode yang tepat. Karena di SD Immersion Ponorogo sudah diketahui jenis kecenderungan kecerdasan, maka guru yang mengajar lebih mudah dalam menentukan metode, strategi dan juga media belajarnya.
Selain dalam persiapan mengajar, yang menarik dari masing-masing wali kelas adalah membuat slogan unggulan yang dijadikan motivasi dalam belajar anak. Misalnya:
1. Di kelas I Venus, slogan yang di buat adalah “Sang Bintang”. Wali kelasnya yaitu ibu Rulik Pebrianasari, S.Pd.I beralasan karena semua anak itu cerdas dan seperti bintang yang bercahaya. Maka tidak ada istilah anak bodoh di kelas I Venus.
2. Di kelas VI Soekarno, slogan yang dibuat adalah “Sang Prestasi”. Wali
kelasnya yaitu ibu Fitri Nur Pangestuti, S.Pd. beralasan karena sebentar lagi siswa-siswi yang berada di kelas VI ini akan mengikuti ujian akhir Negara dan akan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Maka beliau memberikan slogan itu untuk meningkatkan motivasi siswa-siswi agar terus semangat mengejar prestasi yang gemilang demi tercapainya suatu impian di masa depan.
3. Di kelas VI Hatta, slogan yang di buat adalah “Sang Juara”. Wali kelasnya
yaitu bapak Agus Setyawan, S.Pd. beralasan bahwa sejak angkatan pertama kelas beliau selalu memperoleh nilai danem tertinggi. Karena itulah motivasi menjadi juara selalu beliau tanamkan kepada anak-anak. Karena semua anak berkesempatan untuk menjadi sang juara.
Sedangkan tahap ketiga yaitu output, seperti hasil wawancara dengan guru kelas I yaitu Ibu Rulik Purnamasari, S.Pd.I, untuk jenis penilaian, beliau menggunakan 3 aspek yaitu:
a. Sikap, berupa kesopanan di kelas, adab berteman, datang ke sekolah dan
lain-lain.
b. Pengetahuan, ada tes yaitu ulangan harian, penilaian tengah semester dan penilaian akhir semester sedangkan non tes ada demonstrasi, presentasi, tes bercerita, tes membaca, tes menulis, dan lain-lain.
c. Keterampilan, ada seni musik, seni tari dan hasil karya cipta masing-masing siswa.