B. Kajian Teori 1. Peran Guru
8. Proses Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk)
a. Pengertian Proses Pembelajaran
Proses menurut Wikipedia adalah urutan pelaksanaan atau kejadian yang saling terkait yang bersama-sama mengubah masukan menjadi keluaran. Pelaksanaan ini dapat dilakukan oleh manusia, alam atau mesin dengan menggunakan berbagai sumber daya.13
Pengertian proses secara umum adalah serangkaian langkah sistematis, atau tahapan yang jelas dan dapat ditempuh berulangkali, untuk mencapai hasil yang diinginkan. Jika ditempuh, setiap tahapan itu secara konsisten mengarah pada hasil yang diinginkan.14
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan, kemahiran serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik.
Dengan kata lain pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapaat belajar dengan baik. Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku kapanpun dan dimanapun. Menurut Dimyati dan Mudjiono, pembelajaran adalah
13
https://id.m.wikipedia.org. Diakses pada tanggal 18 Mei 2018, pukul 10.45 WIB.
14
kegiatan guru secara terprogram untuk membuat belajar secara aktif, yang menekankan pada sumber belajar.15
Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal I ayat 20 dinyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.16
Jadi pembelajaran adalah usaha membantu siswa atau anak didik mencapai perubahan struktur kognitif melalui pemahaman. Sedangkan dalam psikologi humanistik, pembelajaran adalah usaha guru untuk menciptakan suasana yang menyenangkan untuk belajar (enjoy learning), yang membuat siswa dipanggil untuk belajar. Sehingga disini ada semangat pada siswa untuk belajar dengan baik.17
b. Sejarah munculnya Multiple Inteligences (Kecerdasan Majemuk)
Sejarah penemuan teori Multiple Intelligences awalnya merupakan
teori kecerdasan dalam ranah psikologi.18 Howard Gardner merupakan
penggagas teori Multiple Intelligences yakni pada tahun 1983. Gardner mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah atau menciptakan produk yang berharga dalam satu atau berbagai lingkungan budaya dan masyarakat. Dari definisi tersebut terdapat hal
15 Syaiful Sagala, Pengembangan Pembelajaran (Jakarta: Media, 2011), 61.
16
UUD No. 20, Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Jakarta: Depdiknas), I.
17
Sudjana dan Rivai, Media Pembelajaran (Bandung: Sinar Baru, 1990), 81.
18
yang bisa digaris bawahi yaitu kata “kemampuan”. Kemampuan berasal dari kata “mampu” atau memiliki kemampuan dari dua hal, yaitu pembiasaan-pembiasaan yang disebabkan oleh perilaku fisik dan pembiasaan-pembiasaan yang disebabkan oleh factor non fisik. Pembiasaan-pembiasaan yang disebabakan oleh perilaku fisik dihasilkan oleh gerakan kinetik tubuh, seperti memainkan alat musik, membentuk pola, menentukan gradasi warna, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan perilaku fisik. Sedangkan pembiasaan-pembiasaan yang disebabkan oleh faktor non fisik, tindakan tersebut berupa pemikiran yang terpola pada bentuk kebiasaan dalam kemampuan mengolah kata, memahami perhitungan bilangan dalam matematika, merasa nyaman dan bahagia dalam interaksi personal, serta merefleksikan lingkungan.19
Kecerdasan seseorang dapat dilihat dari banyak dimensi, tidak hanya kecerdasan verbal (berbahasa) atau kecerdasan logika. Gardner
dengan cerdas member label “multiple” (jamak atau majemuk) pada
luasnya makna kecerdasan. Gardner sepertinya sengaja tidak memberikan label tertentu pada makna kecerdasan seperti yang dilakukan oleh para penemu teori kecerdasan lain. Namun, Gardner menggunakan istilah
“multiple” sehingga memungkinkan ranah kecerdasan tersebut terus
berkembang. Dan terbukti ranah kecerdasan yang ditemukan Gardner
19
Munif Chatib dan Alamsyah Said, Sekolah Anak-Anak Juara: Berbasis Kecerdasan Jamak dan Pendidikan Berkeadilan (Bandung: Kaifa, 2012), 65.
terus berkembang, mulai dari enam kecerdasan (ketika pertama kali
konsep ini muncul) hingga sembilan kecerdasan.20 Bahkan Gardner
menambahkan keyakinannya akan adanya kecerdasan-kecerdasan baru yang belum ditemukan, sehingga hal itu menandakan betapa luasnya arti sebuah kecerdasan.
c. Pengertian Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk)
Kecerdasan berasal dari kata cerdas yang secara harfiah berarti
sempurna perkembangan akal budinya, pandai dan tajam pemikirannya.21
Kecerdasan adalah kemampuan seseorang dalam memproses jenis informasi tertentu yang berasal dari faktor biologis dan psikologis manusia. Teori kecerdasan ini mulanya untuk ranah psikologi, yang kemudian dikembangkan di dunia pendidikan.
Menurut Gardner, kecerdasan adalah kemampuan untuk menyelesaikan masalah, atau menciptakan produk, yang berharga dalam
satu atau beberapa lingkungan budaya dan masyarakat.22 Kecerdasan
merupakan kemampuan umum yang ditemukan dalam berbagai tingkat pada setiap individu sebagai kumpulan kemampuan bakat dan keterampilan emosi mental.23
20
Munif Chatib, Sekolahnya Manusia: Sekolah Berbasis Multiple Intelligences di Indonesia (Bandung: Kaifa, 2014), 75-76.
21
Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia (Jakarta: Prenada Media, 2003), 46.
22
Howard Gardner, Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk) Kecerdasan Teori dalam Praktek. Terj oleh Alexander Sindoro (Batam: Interaksa, 2003), 22.
Kecerdasan sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepar dan efektif. Menurut Ratna Sulastami dan Erlinda Manaf Mahdi, kecerdasan meliputi tiga pengertian, yaitu:
a. Kemampuan beradaptasi dan memenuhi tuntutan situasi (lingkungan)
yang dihadapi dengan tepat dan efektif
b. Kemampuan menggunakan konsep-konsep abstrak secara efektif
c. Kemampuan memahami hubungan dan mempelajarinya secara cepat.24
Kata majemuk adalah gabungan dua kata (morfem) dasar yang pada akhirnya memiliki makna baru.25 Sedangkan pengertian kecerdasan majemuk adalah pendekatan perkembangan dalam belajar yang ditandai anak tumbuh dan berkembang sebagai suatu keseluruhan, tidak hanya satu dimensi saja yang berkembang dalam suatu waktu tertentu atau sebaliknya tidak semua dimensi memiliki kecepatan perkembangan yang sama. Teori kecerdasan majemuk merupakan validasi tertinggi gagasan bahwa perbedaan individu adalah penting.26
d. Macam-macam Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk)
Multiple Intellegences (Kecerdasan Majemuk) merupakan teori
kecerdasan yang dikemukakan oleh Howard Gardner, seorang psikolog
24
Ratna Sulastami D. dan Erlinda Manaf Mahdi, Universal Intelligence: Tonggak Kecerdasan untuk Menciptakan Strategi dan Solusi Menghadapi Perbedaan (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2006), 37.
25
www.studibelajar.com/kata-majemuk/. Diakses tanggal 03 Januari 2018 pukul 13.40 WIB.
26
dari Harvard University, bahwa setiap anak punya kecenderungan kecerdasan dari sembilan kecerdasan, yaitu cerdas bahasa (linguistik), cerdas matematis-logis (kognitif), cerdas gambar dan ruang (visual-spasial), cerdas musik, cerdas gerak (kinestetis), cerdas bergaul (interpersonal), cerdas diri (intrapersonal), cerdas alam dan cerdas eksistensial.27
1. Kecerdasan linguistik (cerdas bahasa)
Merupakan kemampuan berpikir dalam bentuk kata-kata, menggunakan bahasa untuk mengekspresikan, dan menghargai makna yang kompleks. Karakteristiknya meliputi:
a) Mendengar serta merespons setiap suara ritme, warna dan berbagai ungkapan kata.
b)Menirukan suara, bahasa, membaca, dan menulis dari orang
lainnya.
c) Menyimak, membaca termasuk mengeja, menulis dan diskusi.
Adapun strategi mengajar yang bisa dilakukan yaitu melalui: Membaca, menulis informasi, menulis naskah, wawancara, presentasi, mendongeng, bercerita, debat, membaca puisi, dan lain-lain. Dari strategi mengajar tersebut nantinya data diperoleh kondisi akhir terbaik sebagai: Cerpenis, sastrawan, pembaca puisi, penulis buku, penulis naskah, drama, wartawan, dan lain-lain.
27
2. Kecerdasan logis-matematis (cerdas angka)
Merupakan kecerdasan dalam hal angka dan logika. Kecerdasan ini melibatkan keterampilan mengolah angka dan kemahiran menggunakan logika atau akal sehat.28 Karakteristiknya meliputi:
a) Kepekaan dalam memahami pola-pola logis atau numeris, dan
kemampuan mengolah alur pemikiran yang panjang. b)Memiliki respons yang cepat terhadap kalkulasi angka.
c) Mengenal konsep-konsep yang bersifat kuantitas, waktu dan
hubungan sebab akibat.
Seorang guru dalam mengajarkan kecerdasan ini bisa melalui berbagai strategi di antaranya: Grafik, pembuatan pola, kode, perhitungan, tebak angka, tebak simbol, dan lain-lain. Dari strategi mengajar tersebut nantinya data diperoleh kondisi akhir terbaik sebagai: Astronot, ilmuwan, ahli ekonomi, ahli statistic, pengacara, dokter, dan lain-lain.
3. Kecerdasan spasial-visual (cerdas ruang dan gambar)
Merupakan kemapuan untuk memvisualisasikan gambar di dalam diri
seseorang.29 Kecerdasan ini sebagai cara pandang dalam proyeksi
tertentu dan kapasitas untuk berpikir dalam tiga cara dimensi.
28
Elis Nurapipah, Penerapan Konsep Pendidikan Berbasis Multiple Intelligences Munif Chatib Dalam Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Skripsi: UIN Yogyakarta, 2015), 12.
29
Yuliani Nuraini Sujiono dan Bambang Sujiono, Bermain Kreatif Berbasis Kecerdasan Jamak (Jakarta: Indeks, 2010), 55.
Kecerdasan ini memungkinkan seseorang untuk melakukan eksplorasi imajinasi, misalnya memodifikasi bayangan suatu objek dengan melakukan percobaan sederhana. Karakteristiknya meliputi:
a) Belajar dengan melihat dan mengamati.
b)Merasakan dan menghasilkan imajinasi memvisualisasikan secara
detail.
c) Menciptakan bentuk-bentuk baru dari media visual-spasial atau
karya seni asli.
Strategi mengajar yang bisa digunakan antara lain: Visualisasi, fotografi, dekorasi ruang, desain, melukis, kaligrafi, dan lain-lain. Dari strategi mengajar tersebut nantinya data diperoleh kondisi akhir terbaik sebagai: Perancang, seniman, pelukis, pembuat patung, arsitek, sutradara, dan lain-lain.
4. Kecerdasan kinestetis (cerdas olah tubuh-jasmani)
Merupakan kemampuan belajar lewat tindakan dan pengalaman melalui praktik langsung. Karakteristiknya meliputi:
a) Menjelajahi lingkungan dan sasaran melalui sentuhan dan gerakan b)Mengerti dan hidup dalam standar kesehatan fisik
c) Memiliki kegemaran dalam bidang olahraga atau olah tubuh
Strategi mengajar yang bisa digunakan antara lain: Menari, pantonim, teater kelas, acting, gerak tubuh, outbound, dan lain-lain. Dari strategi
mengajar tersebut nantinya data diperoleh kondisi akhir terbaik sebagai: Atlet, penari, guru tari, mekanik, instruktur tari, dan lain-lain.30.
5. Kecerdasan musik (cerdas musik)
Merupakan kemampuan seseorang yang punya sensitivitas pada pola titi nada, melodi, ritme, dan nada. Musik tidak hanya dipelajari secara audiotori, tapi juga melibatkan semua fungsi pancaindra. Karakteristiknya meliputi:
a) Mendengarkan dan merespons dengan ketertarikan terhadap
berbagai bunyi
b)Menikmati dan mencari kesempatan untuk mendengarkan music
atau suara-suara alam pada suasana belajar
c) Dapat menciptakan komposisi asli dan tau instrument musik
Strategi mengajar yang bisa digunakan meliputi: Konser, bernyanyi, paduan suara, menciptakan lagu, merancang irama lagu, dan lain-lain. Dari strategi mengajar tersebut nantinya data diperoleh kondisi akhir terbaik sebagai: Penyanyi, composer, musisi, pencipta lagu, pembuat instrument musik, dan lain-lain.
6. Kecerdasan interpersonal (cerdas bergaul)
Kecerdasan interpersonal (berkaitan dengan hubungan pribadi sosial),
30
Munif Chatib dan Alamsyah Said, Sekolah Anak-Anak Juara: Berbasis Kecerdasan Jamak dan Pendidikan Berkeadilan (Bandung: Kaifa, 2014), 90.
yaitu kecerdasan antar pribadi dibangun antara lain atas kemauan inti dan untuk mengenali perbedaan: secara khusus, perbedaan besar
dalam suasana hati, tempramen, motivasi dan kehendak.31
Karakteristiknya meliputi:
a) Terikat dengan orang tua dan berinteraksi dengan orang lain
b)Membentuk dan menjaga hubungan sosial
c) Mempengaruhi pendapat dan perbuatan orang lain
Strategi mengajar yang bisa dilakukan antara lain: Tenaga pemasaran, kerja kelompok, belajar kelompok, kerja sama, negosiasi, dan lain-lain. Dari strategi mengajar tersebut nantinya data diperoleh kondisi akhir terbaik sebagai: Konselor, politikus, penghibur, pemimpin, manajer, kepala sekolah, dan lain-lain.
7. Kecerdasan intrapersonal (cerdas diri)
Kecerdasan intrapersonal (berkaitan dengan hal-hal yang sangat
mempribadi)32 dan merupakan kemampuan membuat persepsi yang
akurat tentang diri sendiri dan menggunakan pengetahuan semacam itu dalam merencanakan dan mengarahkan kehidupan seseorang. Karakteristiknya meliputi:
a) Memahami perasaan sendiri, pengetahuan tentang pengenalan diri
sendiri termasuk kekuatan dan kelemahan diri
31
Howard Gardner, Multiple Intelligences…,45.
32
b)Mengembangkan model diri yang akurat c) Bekerja mandiri
Strategi mengajar yang bisa diguunakan antara lain: Berbagi kisah, motivasi diri, belajar melalui perasaan, nilai-nilai, sikap, dan lain-lain. Dari strategi mengajar tersebut nantinya data diperoleh kondisi akhir terbaik sebagai: Psiko-terapis, pemimpin agama, penasehat, motivator, dan lain-lain.
8. Kecerdasan naturalis (cerdas alam)
Merupakan jenis kecerdasan yang erat berhubungan dengan lingkungan, flora dan fauna, yang tidak hanya menyenangi alam untuk dinikmati keindahannya, akan tetapi sekaligus juga punya kepedulian untuk kelestarian alam tersebut. Karakteristiknya meliputi:
a) Kesadaran untuk menjaga kelestarian lingkungan dan kerusakan
lingkungan dan ketidakseimbangan ekosistem.
b)Kemampuan meneliti gejala-gejala alam, mengklasifikasi dan
mengidentifikasi penyebab gejala-gejala alam.
c) Menunjukkan kesenangan terhadap dunia hewan dan tumbuhan.
Strategi mengajar yang bisa dilakukan antara lain: Koleksi tumbuhan, wisata alam, menanam pohon, memelihara hewan, dan lain-lain. Dari strategi mengajar tersebut nantinya data diperoleh kondisi akhir terbaik sebagai: Peneliti, ahli cuaca dan iklim, ahli biologi, dokter dan
lain-lain.
9. Kecerdasan eksistensialis (cerdas spiritual)
Merupakan kesiapan manusia dalam menghadapi kematian. Karakteristiknya meliputi:
a) Kesadaran akan Tuhan
b) Kecerdasan ini memiliki ciri-ciri: cenderung bersikap
mempertanyakan segala sesuatu mengenai keberadaan manusia, arti kehidupan, mengapa manusia mengalami kematian, dan realitas yang dihadapinya.
Strategi mengajar yang bisa dilakukan antara lain:
a) Menceritakan peristiwa, seperti tsunami di Aceh, gempa dan
tsunami di Jepang, atau letusan gunung merapi di Yogyakarta. b)Mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa kematian, muhasabah
(introspeksi) dan ziarah ke makam.
Dari strategi mengajar tersebut nantinya data diperoleh kondisi akhir terbaik sebagai: Tidak dapat dinyatakan dalam dunia kerja atau sebagai profesi, tetapi merupakan wujud kesiapan dan bakal menuju kehidupan yang kekal setelah kematian.33
e. Konsep Mendidik Kecerdasan Majemuk menurut Munif Chatib
Multiple intelligences merupakan teori kecerdasan jamak yang
sebelumnya telah dikemukakan oleh pencetusnya yaitu Howard Gardner
dan kemudian dikembangkan oleh Thomas Amstrong. Ketika sampai di Indonesia teori multiple intelligences akhirnya dikembangkan oleh Munif Chatib seorang dosen, trainer dan konsultan pendidikan di Lazuardi Next World View Jakarta dan Surabaya.
Munif Chatib juga seorang penulis dengan karya empat buku best-seller pendidikan. Pokok-pokok pikiran Munif Chatib tentang multiple intelligences, diantaranya yaitu: 1) Munif Chatib mendefinisikan bahwa setiap individu itu unik dan masing-masing peserta didik memiliki
multiple intelligences yang berbeda. Sumber kecerdasan seseorang adalah kebiasaannya untuk membuat produk-produk baru yang mempunyai nilai daya (kreativitas) dan kebiasaannya menyelesaikan masalah secara
mandiri (problem solving), 2) Ada hal menarik dari intisari hasil
belajarnya tersebut dan dikemas dalam sebuah rumus yang cukup mengagetkan banyak orang, yaitu sebuah rumus untuk sekolah unggul. Sekolah unggul menurut beliau adalah sekolah yang memandang tidak ada siswa yang bodoh dan semua siswanya merasakan tidak ada pelajaran satupun yang sulit.
Setiap sekolah dimanapun dengan kualitas apapun, para siswanya adalah amanah yang perlu dijaga. Dan orang yang paling bertanggungjawab adalah para guru. Sekolah unggul adalah sekolah yang
mempunyai guru profesional. Dan penyelenggara sekolah yang profesional adalah yang selalu memikirkan kesejahteraan para gurunya.
Menurut Munif Chatib cara mendidik kecerdasan majemuk yaitu dilihat dari potensi yang dimiliki oleh pendidik dan peserta didik. Sekolah unggul yang menganut konsep “the best process” dapat berhasil apabila didukung oleh kualitas guru yang professional. Menjadi guru professional berarti menjadi guru yang tidak pernah berhenti belajar. Aset terbesar dan paling bernilai di sebuah sekolah adalah guru yang berkualitas.
Agar dapat membantu siswa belajar dengan teori multiple
intelligences guru harus mengenal multiple intelligences siswa, antara lain melalui tes, mengamati kegiatan siswa di luar kelas dan mengetahui serta memahami data-data siswa. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam persiapan mengajar, yaitu berfokus pada topik tertentu, menganalisa pendekatan multiple intelligences yang sesuai dengan materi ajar yang akan diberikan, membuat skema untuk mendapatkan gambaran dalam menentukan metode yang dapat digunakan, memilih dan menyusun dalam rencana pembelajaran.34
f. Proses Pembelajaran Berbasis Multiple Intteligences (Kecerdasan Majemuk)
Menurut paparan teori di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa
34
Anisa Dwi Makrufi, Konsep Pembelajaran Multiple Intelligences Perspektif Munif Chatib Dalam Kajian Pendidikan Islam (Tesis, UIN Yogyakarta, 2014), 169-170.
ses pembelajaran berbasis Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk) merupakan serangkaian pelaksanaan kegiatan interaksi antara pendidik dan peserta didik untuk menerapkan sembilan kecerdasan yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik yang dikemas dalam kegiatan belajar mengajar. Sehingga proses pembelajaran yang dilaksanakan dapat membantu guru untuk memprogram kegiatan belajar yang aktif dan menekankan pada sumber belajar.35
Pembelajaran berbasis Multiple Intelligences (Kecerdasan
Majemuk) biasanya menggunakan proses pembelajaran kooperatif. Yaitu proses pembalajaran yang secara aktif melibatkan kecerdasan interpersonal, mengajar siswa untuk dapat bekerjasama dengan baik dengan orang lain, mendorong kolaborasi (kerjasama), berkompromi dan bermusyawarah mencapai kesepakatan. Dan secara umum menyiapkan mereka untuk dunia hubungan personal dan bisnis yang sebenarnya.36
Ada empat komponen dasar dalam pembelajaran kooperatif yang harus diketahui oleh seorang guru, yaitu:37
1. Dalam pembelajaran kooperatif, semua anggota kelompok perlu
bekerjasama untuk menyelesaikan tugas
2. Kelompok pembelajaran kooperatif seharusnya heterogen
35 Syaiful Sagala, Pengembangan Pembelajaran…, 61.
36
Julia Jasmine, Mengajar dengan Metode Kecerdasan Majemuk: Implementasi Multiple Intelligences (Bandung: Nuansa, 2007), 139.
3. Aktivitas-aktivitas pembelajaran kooperatif perlu dirancang sedemikian rupa sehingga setiap siswa berkontribusi kepada kelompok dan setiap anggota kelompok dapat dinilai atas dasar kinerjanya.
4. Tim pembelajaran kooperatif perlu mengetahui tujuan akademik
maupun sosial suatu pelajaran.
Selama pembelajaran kooperatif, seorang guru juga harus mengetahui peran apa saja yang harus ia jalankan. Guru mempunyai beberapa keputusan penting untuk memprioritaskan suatu pelajaran dari pelajaran lainnya, tetapi tatkala siswa belajar dalam kelompok kooperatif, peran guru hanyalah sebagai fasilitator selain itu juga sebagai pelatih. Ketika semuanya berjalan lancar, guru hendaknya berkeliling dan mengamati bagaimana tim bekerja.
Setelah mengetahui peran apa saja yang harus dijalankan, kemudian seorang guru harus menyiapkan beberapa tahapan dalam pembelajaran, di antaranya yaitu:
1. Perencanaan dalam proses pembelajaran berbasis Multiple
Intelligences (Kecerdasan Majemuk). Dua hal pokok yang dilakukan
guru dalam merencanakan pembelajaran berbasis multiple intelligences, yaitu: mengenali multiple intelligences siswa dan membuat rencana pembelajaran/lesson plan. Beberapa langkah yang perlu diperhatikan dalam mempersiapkan pembelajaran berbasis multiple intelligences,
antara lain: mengenal intelegensi ganda siswa, mempersiapkan pengajaran, strategi pengajaran, dan menentukan evaluasi.
2. Pelaksanaan pembelajaran berbasis Multiple Intelligences
(Implementing). Guru membagi kegiatan pembelajaran menjadi tiga
bagian, yaitu: a) kegiatan awal, meliputi pra-pembelajaran dan pemberian apersepsi, b) kegiatan inti, meliputi kegiatan pembelajaran berbasis multiple intelligences, serta c) kegiatan akhir.
3. Penilaian pembelajaran berbasis Multiple Intelligences (Assessment). Menurut Munif Chatib, teori multiple intelligences menganjurkan sistem yang tidak bergantung pada tes standar atau tes yang didasarkan pada nilai formal, tetapi lebih banyak didasarkan pada penilaian autentik yang mengacu pada kriteria khusus dengan menggunakan tes yang memiliki titik acuan spesifik dan ipsative/tes yang membandingkan prestasi siswa saat ini dengan prestasinya yang lalu. Adapun jenis penilaian kognitif menurut Munif Chatib meliputi tes dan tugas. Penilaian psikomotorik yaitu: a) unjuk kerja atau kinerja, b) penilaian proyek, dan c) penilaian portofolio. Dan penilaian afektif yang dilakukan guru adalah dengan melakukan pengamatan untuk menilai sikap siswa selama pembelajaran.38
38
Sarah Pradini Dzilhijjah, “Implementasi Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences pada Siswa Kelas III di SD Jogja Green School,” Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Edisi 20 Tahun ke 5 (2016), 1970-1977.
Adapun kontekstualisasi pembelajaran berbasis Multiple
Intelligences (kecerdasan majemuk) di sekolah menurut Munif Chatib
dijelaskan bahwa konsep pembelajaran berbasis Multiple Intelligences di sekolah secara global meliputi tiga tahap penting, yaitu: input, proses dan
output. Pada tahap input, menggunakan multiple intelligences research
(MIR) dalam penerimaan peserta didik barunya. Tahapan yang kedua adalah tahapan pada proses pembelajaran, dimana nantinya gaya mengajar gurunya harus sama dengan gaya belajar peserta didiknya. Pada tahap
proses, pembelajaran berbasis multiple intelligences ini, terdapat teknik dan strategi mengajar baik itu dalam pemilihan media dan pendekatan pembelajaran. Pada tahap output, dalam pembelajaran berbasis multiple
intelligences ini menggunakan penilaian autentik. Penilaian autentik
adalah sebuah penilaian terhadap sosok utuh seorang peserta didik yang bukan diukur dari segi kognitifnya saja melainkan juga diukur dari segi afektif dan psikomotorik peserta didik.39 Dalam artian tahap ketiga ini tugas sekolah yaitu bagaimana proses pengambilan nilai (assessment)
terhadap aktivitas pembelajaran yang adil dan manusiawi sehingga didapat hasil pembelajaran yang otentik dan terukur.40
39
Munif Chatib, Sekolahnya Manusia (Bandung: Kaifa, 2016), 86-157.
40
Hairun Arifin, “Konsep Multiple Intelligences Sistem pada Sekolah Menengah Pertama Al Washliyah 8 Medan dalam Perspektif Islam,” EduTech, Vol.3 No. 1 (Maret, 2017), 53.
43
BAB III