BAB IV DESKRIPSI DATA
B. Deskripsi Data Khusus
1. Peran Guru Dalam Proses Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences
10)Math Club 11)Pramuka
7. Sarana Prasarana SD Immersion Ponorogo
Berbagai fasilitas yang dimiliki oleh SD Immersion Ponorogo adalah sebagai berikut:10
a. Kelas/ruang belajar
b. Laboratorium
c. UKS (Unit Kesehatan Sekolah)
d. Perpustakaan e. Aula f. Kantin Sekolah g. Kantor Guru h. Kamar Mandi i. Lapangan Olahraga
B. Deskripsi Data Khusus
1. Peran Guru Dalam Proses Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences
(Kecerdasan Majemuk)
Seperti diketahui bahwa di SD Immersion Ponorogo adalah salah satu SD Inklusi berbasis Multiple Intelligences yang ada di Kabupaten Ponorogo. SD Inklusi adalah sebuah konsep pendidikan sekolah dasar yang dapat menaungi siswa berkebutuhan khusus maupun regular. Dalam proses
10
pembelajaran SD Immersion memiliki Unit Stimulus Anak (USA) yakni sebuah ruang pengembangan, pembiasaan dan pendampingan kemandirian bagi anak berkebutuhan khusus. Kehadiran sekolah inklusi memberi kesempatan bagi siswa anak berkebutuhan khusus maupun siswa reguler untuk saling bersosialisasi dan menumbuhkan rasa kepedulian serta cinta kasih antar sesama.
Seperti yang diungkapkan Waka Kurikulum yaitu ibu Hestika Hidayati, S.Pd.:
Karena kami menganggap bahwa semua anak itu cerdas maka
diputuskanlah SD Immersion Ponorogo menggunakan Multiple
Intelligences. Dimulai pada tahun ajaran baru 2010/2011. Sejak pertama berdiri yaitu tahun 2007, pihak sekolah masih dalam proses penataan
sistem. Jadi secara resmi SD Immersion Ponorogo berbasis Multiple
Intelligences dalam proses belajar mengajarnya dimulai pada tahun
ajaran baru 2010/2011. Akan tetapi konsep bahwa semua anak itu cerdas sudah dimulai dari awal sejak berdirinya sekolah tersebut.11
Karena kesadaran dari semua unsur yang ada di lembaga tersebut bahwa setiap anak itu cerdas maka lahirlah sebuah ideologi untuk menerapkan proses pembelajaran berbasis Multiple Intelligences.
Seperti halnya yang diungkapkan oleh Waka Kurikulum yaitu ibu Hestika Hidayati, S.Pd.:
Karena kami sadar bahwa anak itu cerdas. Maka dari ke delapan kecerdasan itu dicari mana yang lebih menonjol dari anak tersebut sehingga nantinya mendapatkan hasil akhir yang lebih baik.12
11
Lihat transkip wawancara nomor 01/W/XI-VIII/2018
12
Untuk mendapatkan hasil akhir yang baik tentu diimbangi dengan pengelompokan siswa di SD Immersion Ponorogo yang tepat agar dalam proses pembelajaran memudahkan guru-gurunya untuk menentukan strategi dan metode pembelajaran yang tepat. Maka pembagian pengelompokan siswa
di SD Immersion Ponorogo, pihak sekolah mengadakan MIR (Multiple
Intelligences Research). Seperti yang diungkapkan oleh Waka Kurikulum yaitu ibu Hestika Hidayati, S.Pd.:
Ketika ada siswa baru yang mau masuk maka pihak sekolah mengadakan MIR (Multiple Intelligences Research) yang berguna untuk memudahkan mengidentifikasi kecenderungan kecerdasan dari siswa tersebut. MIR idealnya diadakan 2 tahun sekali, namun karena berkaitan dengan biaya maka pihak sekolah mewajibkan siswa baru yang akan masuk di SD Immersion Ponorogo.13
Meskipun Multiple Intelligences dipandang sangat tepat untuk
membuktikan bahwa setiap anak itu cerdas, namun ketika diterapkan di SD Immersion Ponorogo, terdapat kelebihan dan juga kelemahan. Hal ini sebagaimana yang di ungkapkan oleh Waka Kurikulum yaitu ibu Hestika Hidayati, S,Pd.:
Kelebihannya yaitu untuk mempermudah guru dan orang tua dalam mendapatkan stimulus yang tepat agar mendapatkan hasil akhir yang baik. Sedangkan kelemahannya yaitu dari segi dana (pembiayaan) karena tidak semua orang bisa mengolah data hasil MIR, maka pihak
sekolah bekerjasama dengan network Ed. Surabaya dan itu
membutuhkan biaya yang tinggi.14
13
Lihat transkip wawancara nomor 02/W/XI-VIII/2018
14
Guru merupakan hal terpenting dalam proses pembelajaran. Berbagai peran dijalankan demi terselenggaranya proses belajar mengajar yang maksimal. Hal ini sebagaimana yang di ungkapkan guru kelas VI Hatta yaitu bapak Agus Setyawan, S.Pd.:
Seorang guru harus bisa bermain peran tidak hanya di kelas tetapi bisa juga di luar kelas. Menurut saya, peran seorang guru bisa menjadi tenaga pendidik, fasilitator, motivator, inovator dan juga model.15
Berbeda lagi dengan yang di ungkapkan guru Pendidikan Agama Islam yaitu bapak Fajar Kurniawan, S.Pd.I.:
Kalau menurut saya, peran guru Pendidikan Agama Islam adalah sebagai pendidik yang professional baik itu sebagai fasilitator yang memiliki kemampuan mendidik, membimbing, mengajar dan melatih pendidikan yang menanamkan nilai-nilai ajaran agama Islam melalui proses pembelajaran, baik di kelas maupun di luar kelas. Dan diharapkan hasil pembelajaran tersebut dapat diterapkan di lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat.16
Sedangkan menurut guru kelas satu Ibu Rulik Pebrianasari, S.Pd.I yaitu: Karena saya mengajar di kelas satu, di mana semua siswa merupakan siswa peralihan dari TK ke SD maka peran yang saya jalankan cukup banyak. Bisa dikatakan peran ganda antara guru dan orang tua setiap hari saya jalankan. Baik itu sebagai organisator, fasilitator, pembimbing, motivator, pengelola kelas, dan demonstrator. Hal ini saya lakukan karena anak-anak terkadang masih ada yang belum bisa mandiri. Tetapi perlahan-lahan saya berikan motivasi dan bimbingan hingga akhirnya mereka bisa melakukan semua kegiatan secara mandiri.17
Berbeda lagi dengan yang diungkapkan guru kelas VI Soekarno yaitu Ibu Fitri Nur Pangestuti, S.Pd. yaitu:
15
Lihat transkip wawancara nomor 04/W/IX-VIII/2018
16
Lihat transkip wawancara nomor 09/W/IX-VIII/2018
17
Jadi di kelas saya itu kecenderungan kecerdasannya lingustik, kinestetis, interpersonal dan logis-matematis. Anak-anak di kelas saya itu rata-rata anak yang aktif gerak dan sulit untuk diam. Peran yang sering saya jalankan antara lain yaitu fasilitator, motivator, inspirator, informator, dan juga evaluator. Anak-anak itu untuk menangkap materi pelajaran sebenarnya cepat tanggap, tetapi ketika di kelas mereka tidak bisa diam. Dan di kelas saya ini guru harus banyak bicara (ceramah) ketika menjelaskan pelajaran, karena anaknya super aktif gerak.18
Untuk bisa memainkan beberapa peran tersebut maka seorang guru harus memiliki standar kualifikasi terutama sebagai tenaga pendidik. Selain itu guru tersebut juga harus selalu meningkatkan kemampuannya agar tercipta SDM yang unggul. Untuk mewujudkan itu semua dari pihak sekolah selalu mengadakan bebagai acara yang diharapkan untuk dapat meningkatkan kompetensi guru-gurunya. Seperti yang di ungkapkan Waka Kurikulum yaitu ibu Hestika Hidayati, S.Pd.:
Di dalam Multiple Intelligences ada GA Garden Angel yaitu beliau-beliau yang mengikuti pelatihan khusus dibawah bimbingan langsung
oleh Munif Chatib. Selain itu juga ada IHT (In House Training)
biasanya dilaksanakan di sekolah dan untuk pematerinya bisa mengambil dari luar ataupun dari dalam (dari tim pengembang, kepala sekolah dan juga dari guru-guru yang ikut pelatihan). Sedangkan untuk guru baru dari pihak sekolah mengadakan pelatihan yang dilaksanakan selama 3 hari. Ada satu program lagi yang di khususkan untuk inklusi yaitu Immersion Education Week, pesertanya yaitu guru-guru, orang tua siswa dan juga untuk umum.19
Setelah mengikuti berbagai kegiatan tersebut, diharapkan para tenaga pendidik sudah siap dalam menjalankan tugas utamanya sebagai guru di kelas. Yang terpenting lagi adalah para guru tersebut mampu menerapkan PBM
18
Lihat transkip wawancara nomor 11/W/XX-IX/2018
19
(Proses Belajar Mengajar) dengan menggunakan proses yang berbasis Multiple
Intelligences. Dimana seorang guru bisa menghargai setiap kecerdasan dan
kemampuan serta potensi yang dimiliki oleh peserta didiknya. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh guru wali kelas VI Hatta yaitu bapak Agus Setyawan, S.Pd.:
Kita sebagai guru bisa menggunakan acuan hasil MIR (Multiple
Intelligences Research) untuk mengetahui masing-masing kecerdasan
anak kemudian mengaplikasikan penerapan Multiple Intelligences ke
dalam PBM (Proses Belajar Mengajar). Hal ini memudahkan guru dalam memilih metode serta strategi yang tepat untuk menyampaikan materi ke anak didik. Karena masing-masing anak itu cerdas maka tugas guru adalah membimbing mereka agar bisa menemukan kondisi belajar
yang nyaman sehingga bisa mendapatkan hasil akhir yang memuaskan.20
Sebelum mengajar kewajiban seorang guru adalah melakukan persiapan agar nantinya dalam proses pembelajaran bisa berjalan dengan baik dan lancar. Sebagaimana yang di ungkapkan wali kelas VI Hatta, yaitu bapak Agus Setyawan, S.Pd.:
Kalau saya sendiri persiapan yang dilakukan adalah pembuatan perangkat pembelajaran berupa prota, promes, RPP dan silabus. Semua perangkat pembelajaran harus sudah siap sebelum dilaksanakannya PBM (Proses Belajar Mengajar). Yang membedakan SD Immersion Ponorogo dengan SD yang lain mungkin salah satunya pada penyusunan RPP. Disini RPP dibuat serapi dan sedetail mungkin, tidak hanya strategi dan metode saja yang dicantumkan, tetapi kecenderungan kecerdasan yang dituju haruslah jelas. Semisal saya mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas VI Hatta yang mayoritas siswanya memiliki kecerdasan linguistik dan spasial visual, maka metode yang digunakan harus tepat. Kebetulan minggu ini menjelaskan tentang tokoh maka metodenya menggunakan video film pendek. Ketika diputarkan video film pendek tersebut, maka anak-anak di kelas akan merasa nyaman dan senang dalam belajar selain itu juga materi yang
20
disampaikan mudah diterima oleh siswa. Setelah persiapan mengajar lengkap maka dalam proses belajar mengajar guru akan merasa siap 100