BAB 5. PEMBAHASAN
5.2. Analisis Implementasi Bina Suasana dan Pengaruhnya terhadap
Bina Suasana adalah upaya untuk menciptakan opini atau lingkungan sosial yang mendorong individu anggota masyarakat untuk melakukan perilaku pencegahan penyakit. Terdapat tiga pendekatan dalam bina suasana yaitu, pendekatan individu tokoh masyarakat dalam menyebarluaskan opini yang positif kepada individu-individu di lingkungannya, pendekatan kelompok masyarakat seperti pengurus Rukun Tetangga (RT), Pengurus Rukun Warga (RW), majelis pengajian, perkumpulan seni, organisasi profesi, organisasi wanita dan lain-lain dan pendekatan masyarakat umum, dengan membina dan memanfaatkan media-media komunikasi, seperti radio, televisi, koran, majalah dan lain-lain sehingga dapat tercipta pendapat umum. Keberhasilan
kegiatan bina suasana dapat diukur dari terlaksananya kegiatan pertemuan, perlombaan dan penyuluhan atau penyebaran informasi baik individu, tokoh masyarakat maupun memanfaatkan media komunikasi.
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan diketahui bahwa pelaksanaan promosi kesehatan tentang pencegahan gizi buruk biasanya sasaran yang diambil adalah tokoh masyarakat, yaitu kepala lingkungan, kader, perangkat kelurahan.
Kemudian diharapkan tokoh masyarakat atau kader tersebut yang melaksanakan penyuluhan langsung kepada masyarakat baik di posyandu atau di lingkungannya.
Secara teori pada awalnya tahapan bina suasana dapat dilakukan melalui pendekatan kepada tokoh masyarakat/tokoh agama. Kemudian diharapkan tokoh masyarakat tersebut yang menyebarluaskan informasi kesehatan tersebut kepada masyarakat sehingga tokoh masyarakat mampu merubah opini masyarakat yang tidak mau berpatisipasi dalam program kesehatan menjadi peduli dan mau berpartisipasi.
Begitu juga strategi promosi kesehatan tentang pencegahan gizi buruk yang dilakukan di Kota Medan, telah dilakukan bina suasana terhadap tokoh masyarakat terutama kader posyandu. Bentuknya berupa pelatihan kader, jambore kader, lomba kader, dimana dilakukan secara bertahap mengingat jumlah kader yang cukup banyak di Kota Medan. Selain pelatihan ada juga pembinaan langsung terhadap kader posyandu yang dilakukan petugas penanggungjawab posyandu pada setiap hari buka posyandu.
Yang pada akhirnya kader-kader inilah yang diharapkan untuk aktif. melaksanakan penyuluhan dan pembinaan langsung pada masyarakat tentang pencegahan dan
penanggulangan gizi buruk. Untuk itu kader tersebut memperoleh dana transport kader setiap bulannya. Hal ini sesuai dengan yang dirasakan oleh responden bahwa 58,9 % responden pernah memperoleh informasi dari tokoh agama, tokoh masyarakat tentang gizi buruk dan pencegahannya dan 61,1 % tokoh masyarakat, tokoh agama pernah menganjurkan pada responden untuk membawa balitanya agar ditimbang di posyandu atau sarana kesehatan.
Selanjutnya pendekatan yang diharapkan adalah pendekatan terhadap kelompok masyarakat atau masyarakat secara umum. Pendekatan tersebut baik dilaksanakan oleh petugas kesehatan secara langsung maupun oleh tokoh masyarakat.
Namun berdasarkan informasi dari informan, bina suasana yang langsung ditujukan pada masyarakat, baik melalui penyuluhan atau pertemuan yang dilaksanakan oleh petugas kesehatan, jarang dilaksanakan, dan jika dilaksanakan dengan jumlah sasaran yang terbatas. Hal ini sesuai daengan hasil wawancara dengan responden yaitu sebagain besar responden tidak pernah pernah diundang untuk menghadiri acara pertemuan tentang gizi buruk dan pencegahannya di kelurahan, posyandu atau puskesmas (75,8%).
Kegiatan lomba balita sehat dalam rangka meningkatkan motivasi masyarakat dalam menyehatkan balitanya tidak dilaksanakan. Walaupun sering diusulkan oleh pembuat program, namun karena hasil dari kegiatan tersebut dianggap tidak berpengaruh langsung pada penurunan kejadian gizi buruk di Kota Medan, maka kegiatan tersebut sering dihilangkan.
Untuk kegiatan promosi kesehatan tentang pencegahan gizi buruk dengan memanfaatkan media untuk melaksanakan bina suasana terhadap masyarakat secara umum misalanya melalui media cetak yaitu dalam bentuk poster, leaflet, booklet, surat kabar dan media elektronik dalam bentuk penyebarab informasi melalui radio, televisi dan pemutaran film jarang dilaksanakan, karena jarang dianggarkan. Jikapun ada penyebarluasan informasi melalui media cetak, misalnya poster leaflet biasanya dicetak dalam jumlah yang terbatas atau berasal dari Kementrian Kesehatan yang dikirimkan kedaerah dengan jumlah yang terbatas pula. Dan juga media elektronik yaitu radio dan televisi, biasanya berasal dari permintaan dari media itu sendiri.
Responden penelitian juga menyatakan hal yang sama yaitu 51, 6 % responden tidak pernah memperoleh informasi gizi buruk dan pencegahannya melalui selebaran/leaflet, poster atau surat kabar. Namun melalui media elektronik 55, 8%
responden pernah memperoleh informasi gizi buruk dan pencegahannya. Hal ini kemungkinan besar informasi kesehatan tersebut berasal dari siaran televisi pusat atau yang dianggarkan oleh Kementrian Kesehatan.
Jika dilihat dari penerimaan masyarakat terhadap bina suasana menunjukkan hasil secara keseluruhan bahwa sebagian besar responden menilai aspek bina suasana dalam kategori tidak baik yaitu sebanyak 63 orang (66,3%) dan hanya 32 orang (33,7%) yang menilai bahwa aspek bina suasana dalam kategori baik. Terbatasnya kegiatan bina suasana ini, diduga menjadi penyebab sebagian besar responden menilai kegiatan bina suasana yang dilakukan dikategorikan tidak baik. Penilaian ini diperkirakan berasal dari tingkat cakupan sasaran yang relatif terbatas pada saat
penyuluhan, hanya sebagaian kecil anggota masyarakaat yang memperoleh brosur atau poster dan hanya sebagian kecil ibu-ibu yang datang dan memperoleh peyuluhan di posyandu.
Dari hasil tabel silang antara bina suasana dengan partisipasi masyarakat dalam pencegahan gizi buruk pada balita menunjukkan bahwa dari 32 responden yang menilai bina suasana dalam kategori baik, ada 21 responden (65,6%) yang mempunyai partisipasi masyarakat dalam pencegahan gizi buruk pada balita dalam kategori baik, sedangkan dari 63 responden yag menilai bina suasana dalam kategori tidak baik, sebagian besar responden mempunyai partisipasi masyarakat dalam pencegahan buruk pada balita dalam kategori tidak baik juga yaitu 40 orang (63,5%).
Hasil uji chi-square diperoleh nilai p = 0,007 (p<0,05), dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh bina suasana terhadap partisipasi masyarakat dalam pencegahan gizi buruk pada balita atau dapat diartikan kegiatan bina suasana yang dilakukan dengan baik akan berpeluang untuk mempengaruhi meningkatnya partisipasi partisipasi masyarakat dalam pencegahan gizi buruk pada balita.
Hasil tersebut, terlihat bahwa kegiatan bina suasana yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah memang sangat kurang, dan lebih ditujukan kepada tokoh masyarakat sedangkan terhadap masyarakat secara langsung jarang dilaksanakan.
Kegiatan bina suasana yang dilakukan lebih berfokus pada kelompok sasaran tokoh masyarakat terutama kader posyandu, yang pada akhirnya diharapkan kader tersebut yang menjembatani pengelola program dengan masyarakat atau melaksanakan bina suasana langsung pada masyarakat. Sedangkan untuk kegiatan bina suasana
seharusnya berimbang antara seluruh kelompok sasaran baik bina suasana dengan pendekatan terhadap individu tokoh masyarakat, kelompok masyarakat dan masyarakat secara umum.
Dalam menumbuhkan sikap tentang kepedulian dan partisipasi masyarakat dalam pencegahan gizi buruk pada balita memang diperlukan dari dukungan orang yang berpengaruh dalam masyarakat misalnya kader posyandu, kepala lingkungan, tokoh agama dan tokoh masyarakat lainnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (2007) yang menyatakan bahwa suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior). Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu tindakan diperlukan dukungan (support) dari pihak lain misalnya tokoh masyarakat, tokoh agama dan lain sebagainya. Menurut Depkes RI (2005) seseorang akan terdorong untuk mau melakukan perilaku yang diperkenalkan apabila lingkungan sosialnya (keluarga, tokoh panutan, tokoh agama dll) mendukung. Oleh karena itu bina suasana sangat penting dilakukan untuk mendukung proses partisipasi masyarakat, khususnya dalam upaya mengajak para individu meningkat dari fase tahu ke fase mau dalam melakukan perilaku yang diperkenalkan.
Jika ditinjau dari bina susana melalui pendekatan langsung pada masyarakat umum dengan memanfaatkan media cetak dan media elektronik yang sangat kurang dilaksanakan. Seharusnya untuk Kota Medan dengan jumlah penduduk yang cukup banyak, media ini merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk menyebarluaskan informasi kesehatan khususnya pencegahan gizi buruk terhadap masyarakat. Ditambah lagi dengan jumlah media elektronik yaitu stasiun radio dan
televisi cukup banyak, seharusnya dapat dimanfaatkan oleh pemerintah daerah.
Bentuk penyebarluasannya bisa berupa iklan layanan masyarakat baik melalui radio (radio spot) maupun televisi (TV spot) didengar atau ditonton masyarakat dirumah, serta mengingat bahwa radio dan televisi merupakan media komunikasi massa yang paling akrab dengan masyarakat dan hampir dimiliki oleh seluruh masyarakat serta karena kemampuannya mengatasi faktor jarak, ruang, dan waktu yang dapat mempengaruhi masyarakat untuk berperilaku seperti yang diharapkan. Jarangnya dilaksanakan kegiatan bina suasana dalam bentuk promosi kesehatan secara langsung karena pengelola program beranggapan bahwa hasil dari proses bina suasana tidak menunjukkan hasil nyata dan langsung dalam penurunan kejadian gizi buruk hanya berupa dalam wujud meningkatnya pengetahuan masyarakat dalam pencegahan gizi buruk dan adanya sikap positif masyarakat dalam pencegahan gizi buruk.
Menurut pendapat Notoatmodjo (2007), salah satu cara mengajak atau menumbuhkan partisipasi masyarakat adalah dengan cara persuasi dan edukasi yakni suatu partisipasi yang didasari pada kesadaran. Memang sukar ditumbuhkan, akan memakan waktu yang yang. Tetapi bila tercapai hasilnya akan lebih baik dari partisipasi dengan paksaan dan akan tercipta secara terus menerus. Dan seperti yang diketahui bahwa pada bina suasana berisi kegiatan yang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat dan juga mempengaruhi (peruasi) masyarakat agar berperilaku seperti yang diinginkan. Oleh karena itu diharapkan kegiatan bina suasana dalam rangka meningkatkan partisipasi masayarakat dalam pencegahan gizi buruk semakin ditingkatkan.
5.3. Analisis Implementasi Pemberdayaan Masyarakat dan Pengaruhnya