BAB 6. KESIMPULAN
6.2. Saran
6.2.1. Dinas Kesehatan Kota Medan
1. Perlu meningkatkan kegiatan advokasi tentang pencegahan gizi buruk pada balita kepada pemerintah daerah sehingga lebih memperoleh dukungan politik, terutama dukungan kebijakan dalam bentuk peraturan daerah yang berkaitan dengan upaya pencegahan gizi buruk pada balita.
2. Disarankan kepada Dinas Kesehatan Kota Medan untuk meningkatkan alokasi dana sehingga mencukupi untuk kegiatan promosi kesehatan untuk pencegahan gizi buruk dari pada penanggulangan gizi buruk.
3. Lebih meningkatkan kegiatan bina suasana dengan sasaran masyarakat langsung, baik melalui sosialisasi, penyuluhan, dll yang dilaksanakan secara tatap muka langsung dengan masyarakat atau promosi kesehaan dengan
memanfaat media cetak (leaflet, poster, surat kabar dll) dan media elektronik (radio, TV dan pemutaran film).
4. Lebih meningkatkan pembinaan terhadap kegiatan pemberdayaan masyarakat yang sudah terbentuk, agar terus aktif melaksanakan kegiatannya dan dalam pelaksanaan kegiatan pemberdayaan harusnya lebih melibatkan peran aktif masyarakat sehingga kegiatan pemberdayaan masyarakat dapat berhasil meningkatkan kesehatan masyarakat.
5. Lebih menggalang kemitraan dengan organisasi kemasyarakat, LSM dalam peningkatan kegiatan pencegahan gizi buruk.
6.2.2. Puskesmas Helvetia
1. Lebih aktif melaksanakan kegiatan peningkatan keluarga sadar gizi mulai dari pelaporan dan pemetaan sehingga kondisi situasi gizi masyarakat lebih terpantau.
2. Meningkatkan upaya pembinaan terhadap tokoh masyarakat terutama kader posyandu bukan hanya pada hari buka posyandu, sehingga kegiatan operasi timbang yang dibebankan kepada kader dapat berjalan lebih aktif.
3. Lebih melakukan pembinaan secara langsung terhadap kegiatan pemberdayaan masyarakat yang telah terbentuk.
6.2.3. Masyarakat
1. Masyarakat lebih aktif untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang ditujukan untuk pencegahan gizi buruk pada balita, misalnya memanfaat posyandu untuk memantau status gizi balita dengan memabawa balitanya untuk ditimbang setiap bulan diposyandu.
2. Masyarakat diharapkan lebih berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat yang sudah terbentuk, yang terutama untuk bertujuan mencegah kasus gizi buruk pada balita.
131 DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, S., 2003. Prinsip Dasar Ilmu Gizi, Jakarta : Gramedia Pustaka Media.
Ambar, S., 2004, Kemitraan dan Model-Model Pemberdayaan, Yogyakarta : Gava Medika.
Anonim, 2009, Gizi Buruk Hadang 200 Juta Balita, www.republikaonline.co.id. Akses tanggal 15 Januari 2014.
Anonim, 2013, Maternal, newborn, child and adolescent health- Malnutrition, www.who.int, Akses tanggal 15 Januari 2014.
Anonim, 2013, Statistics by Area- Malnutrition , www.childinfo.org, Akses tanggal 13 September 2013.
Arikunto, S., 2006, Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta : PT Rineka Cipta.
Depkes RI., 2000. Pedoman Tatalaksana Kekurangan Energi-Protein pada Anak di Puskesmas dan di Rumah Tangga, Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
_________, 2004, Rencana Strategi Pusat Promosi Kesehatan 2005-2010, Jakarta:
Departemen Kesehatan RI.
_________, 2005, Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Gizi Buruk, Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
,
_________, 2008, Pedoman Pelaksanaan Promosi Kesehatan di Daerah, Jakarta:
Departemen Kesehatan RI.
_________, 2008. Perkembangan Penanggulangan Gizi Buruk di Indonesia Tahun 2005.
Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
_________, 2011. Standard Antropometri Penilaian Status Gizi Anak. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI.
Diana D, 1998, Peranserta Masyarakat dalam Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue di Jakarta, http//www.libunair.ac.id.
Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara, 2006, Pedoman Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Gizi Buruk 2006-2010.
Efendi dan Makhfudli , 2009, Keperawatan Kesehatan Komunitas, Jakarta : Salemba Medica
Hastono, S.P., 2007, Analisis Data, , Jakarta : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
Hati, S., 2008, Pengaruh Strategi Promosi Kesehatan Terhadap Tingkat Perilaku Hidup Sehat dan Bersih (PHBS) pada Tatanan Rumah Tangga d Kecamatan Patumbak Kabupaten Deli Serdang, Medan : Tesis S-2 Pascasarjana IKM USU
Irianto, 2007. Panduan Gizi Lengkap Keluarga dan Olahragawan. Yogyakarta : Penerbit Andi.
Lemeshow, S., 2008, Sampling of Population Methode and Aplication, New Jersey Litbang Depkes, 2008, Gizi Buruk Sebabkan 3,5 juta Kematian Anak perTahun,
www.litbang.depkes.go.id/aktual/anak/giziburuk, Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Marlini, 2010, Pengaruh Strategi Promosi Kesehatan Terhadap Partisipasi Masyarakat dalam Pencegahan Penyakit Demam Berdarah Dengue di Kecamatan Syah Kuala tahun 2010, Medan : Tesis S-2 Pascasarjana IKM USU
Maulana, H., 2009, Promosi Kesehatan, Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Moleong, L.,J., 2007, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung : Penerbit PT Remaja Rosdakarya. Offset
Nency, Y., 2005, Gizi Buruk Ancaman Generasi yang Hilang http://io.ppijepang.org/old/article.php?id=113, diakses tanggal 09 Maret 2014
Notoatmodjo, S., 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat: Prinsip-Prinsip Dasar, Jakarta : Penerbit Rineka Cipta.
______________, 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta :Penerbit Rineka Cipta.
______________, 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Jakarta : Penerbit Rineka Cipta.
______________, 2010, Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi, Jakarta : Penerbit Rineka Cipta.
Riduwan, 2005. Skala Pengukuran Variabel-Variabel Penelitian, Bandung: Alfabeta Rimbawan, 2004. Pengantar Pangan dan Gizi, Jakarta : Penebar Swadaya.
Pandjaitan W, 2000, Faktor-Faktor yang mempengaruhi Partisipasi Masyarakat dalam Penyelenggaraan Program Inpres Bantuan Pembangunan Desa di Kecamatan Tambun Kabupaten Daerah Tingkat II Bekasi, httt// : lib unair.ac.id.
Pardede. J., 2006, Atasi Gizi Buruk dengan Komprehensif dan Berkelanjutan, http://analisadialy.com. diakses tanggal 09 Maret 2014
Prijono, Pranaka, A., 1996, Pemberdayaan Konsep Kebijakan dan Implementasi, CISS, Jakarta
Putra, N., Hendrwaman, 2013, Metode Riset Campur Sari, Jakarta : PT. Indeks.
Salusu, 1996, Pengambilan Keputusan Satrategik Untuk Organisasi Publik dan Organisasi Nonprofit, Jakarta : PT. Gramedia.
Sediaoetama, Achmad, D., 2008. Ilmu Gizi Untuk Mahasiswa dan Profesi. Jakarta : Penerbit Dian Rakyat.
Sihadi, 2009. Strategi Penanggulangan Gizi Buruk: Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi dan Makanan, Jawa Barat : Depkes RI Bogor.
Slamet, M., 2003, Pemberdayaan Masyarakat, dalam Yustina, I., dan Sudradjat, A., (eds), Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan, Bogor: IPB Press
Soetomo, 2006, Strategi-Strategi Pembangunan Masyarakat, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sugiyono, 2010, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Bandung:
Alfabeta
Solicha Z, 2013, Gizi Buruk Selalu Menghantu Negara Kita, www.antarajatim.com, diakses tanggal 25 Februari 2014.
Suhardjo, 1999. Berbagai Cara Pendidikan Gizi, Bogor : Pusat Antar Universitas Pangan Dan Gizi IPB
Sumodiningrat, G., 1999, Pemberdayaan Masyarakat dan JPS, Jakarata : PT.
Gramedia Pustaka Utama.
____________, 2004, Kemitraan dan Model-model Pemberdayaan, Yogyakarta:
Gava Media
Supariasa, 2001. Penilaian Status Gizi, Jakarta : EGC.
Tashakkori, A., Teddlie, C., 2010, Mixed Methodology, Yogyakarta : Penerbit Pustaka Belajar.
Zairina, 2008, Pengaruh Kesempatan, Kemauan dan Kemampuan Ibu Terhadap Partisipasi dalam Pencegahan Penyakit Demam Berdarah Dengue di Kecamatan Baiturrahman Kota Banda Aceh, Medan : Tesis S-2 Pascasarjana IKM USU
135 Lampiran 1
Nama Informan :
Umur :
Jenis Kelamin : Pendidikan terakhir :
Jabatan :
Lama Jabatan : Tanggal Wawancara :
PEDOMAN WAWANCARA
ANALISIS IMPLEMENTASI STRATEGI PROMOSI KESEHATAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM
PENCEGAHAN GIZI BURUK PADA BALITA DI WILAYAH PUSKESMAS HELVETIAKOTA MEDAN TAHUN 2014 I. Advokasi
1. Apakah ada dukungan politik dari pengambil keputusan dalam bentuk kebijakan/peraturan daerah yang mendukung atau berkaitan dengan strategi promosi kesehatan tentang pencegahan gizi buruk pada balita
Probing :
- Seberapa sering advokasi dilakukan pada pengambil keputusan untuk terciptanya kebijakan
- Contoh kebijakan, peraturan daerah, instruksi - Tentang kebijakaan wajib operasi timbang
- Tentang pencanangan Medan bebas gizi buruk 2015
- Jika ya, sejauh mana sosialisasi tentang kebijakan/peraturan daerah pada masyarakat
2. Apakah tersedia dana/anggaran yang cukup untuk mendukung kegiatan promosi kesehatan tentang pencegahan gizi buruk pada balita tersebut
Probing :
- Apakah ada dana untuk mendukung kegiatan promosi kesehatan tentang pencegahan gizi buruk melalui media cetak atau media elektronik (promosi kesehatan tentang ASi esklusif,MP ASI, gizi seimbang dan pola asuh ibu dan anak)
- Apakah ada dana untuk mendukung kegiatan revitalisasi posyandu - Apakah ada dana untuk mendukung kegiatan PMT balita
- Apakah ada dana untuk suplementasi gizi (pemberian tablet vit A pada balita, tablet FE pada bumil)
- Jika ya, apakah dana tersebut cukup untuk memaksimalkan kegiatan tersebut - Jika tidak, berapa seharusnya dana yang dianggarkan
3. Apakah ada sarana dan prasarana untuk mendukung kegiatan promosi kesehatan dalam pencegahan gizi buruk?
Probing :
- Apakah cukup tersedia posyandu dan sarana dan prasarananya (untuk biaya operasional posyandu, dll)
- Apakah sarana dan prasarana puskesmas cukup untuk mendukung kegiatan promosi kesehatan dalam pencegahan gizi buruk di puskesmas Helvetia
4. Apakah cukup tersedia SDM (petugas) untuk mendukung kegiatan promosi kesehatan dalam pencegahan gizi buruk?
Probing :
- Apakah tersedia petugas gizi dan petugas promosi kesehatan puskesmas - Apakah petugas rutin menjalankan tugasnya
- Apakah jumlah petugasnya cukup untuk melaksanakan kegiatan tersebut - Apakah petugas cukup berkualitas untuk melaksanakan kegiatan tersebut - Apakah ada pelatihan pada petugas
5. Apakah ada pendataan dan pelaporan mendukung kegiatan promosi kesehatan dalam pencegahan gizi buruk?
Probing :
- Pendataan jumlah sasaran yaitu bayi, balita , bumil, busui - Pendataan jumlah keluarga miskin
- Pendataan tingkat partisipasi masyarakat dalam menimbang balita (D/S) II. Bina Suasana
1. Apakah pernah dilaksanakan promosi kesehatan tentang pencegahan gizi buruk pada masyarakat
Probing:
- Apakah pernah dilakukan kegiatan penyuluhan atau sosialisasi pencegahan gizi buruk pada masyarakat
- Jika ya, seberapa sering dilakukan kegiatan tersebut
2. Apakah pernah dilaksanakan promosi kesehatan tentang pencegahan gizi buruk pada tokoh masyarakat atau tokoh agama
Probing:
- Apakah pernah dilakukan kegiatan penyuluhan sosialisasi pencegahan gizi buruk pada tokoh masyarakat atau tokoh agama
- Jika ya, siapa saja sasaran kegiatan tersebut
- Jika ya, seberapa sering dilakukan kegiatan tersebut
3. Apakah pernah dilaksanakan lomba balita sehat Probing:
- Jika ya, seberapa sering dilakukan kegiatan tersebut
- Jika ya apakah kegiatan tersebut sangat membantu dalam peningkatan partisipasi masyarakat dalam pencegahan gizi buruk pada balita
4. Apakah pernah dilakukan promosi kesehatan tentang pencegahan gizi buruk melalui media cetak atau elektronik
Probing:
- Apakah ada leaflet, poster, booklet tentang pencegahan gizi buruk - Apakah jumlahnya cukup untuk seluruh sasaran
- Apakah ada promosi kesehatan tentang pencegahan gizi buruk pada balita melalui radio atau televise
- Jika ya seberapa sering ditayangkan III. Pemberdayaan Masyarakat
1. Kegiatan apa saja yang dilakukan untuk meningkatkan gerakan pemberdayaan masyarakat
Probing :
- Apakah pernah dilaksanakan pelatihan tentang pemberdayaan masyarakat di bidang gizi
- Apakah pernah dilaksanakan pendampingan pada masyarakat dalam pemberdayaan masyarakat di bidang gizi
- Apakah ada bantuan anggaran untuk merangsang timbulnya pemberdayaan masyarakat di bidang gizi
2. Apakah ada pemetaan keluarga untuk mengidentifikasi keluarga yang mempunyai masalah gizi :
Probing :
- Jika ya, seberapa sering dilakukan
- Siapa yang bertugas melakukan pemetaan
- Apakah hasil pemetaan di gunakan untuk pengambilan kebijakan dalam pencegahan gizi buruk dimasyarakat
3. Apakah tersedia kader gizi masyarakat Probing :
- Jika Ya, apakah jumlahnya cukup untuk membantu masyarakat dalam pencegahan gizi buruk
- Siapa yang membentuk - Apa tugasnya
- Apakah ada dana operasional untuk kader gizi masyarakat
4. Apakah terdapat pos gizi Probing :
- Kegiatan apa saja yang dilaksanakan di pos gizi tersebut - Siapa yang membentuk
- Apakah kegiatannya berjalan aktif
- Apakah dilaksanakan pembinaan terhadap pos gizi tersebut
5. Apakah dilaksanakan revitalisasi posyandu dalam rangka meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pencegahan gizi buruk
Probing :
- Kegiatan apa saja yang dilaksanakan dalam rangka revitalisasi posyandu - Apakah dilaksanakan pelatihan kader secara berkala
- Apakah dilaksanakan pembinaan dan pendampingan kader
- Apakah dilaksanakan peningkatan sarana dan prasarana posyandu - Apakah disediakan dana operasional posyandu
6. Apakah dilaksanakan kegitan revitalisasi sistem kewaspadaan pangan dan gizi (SKPG)
Probing :
- Kegiatan apa saja yang dilaksanakan dalam rangka revitalisasi sistem kewaspadaan pangan dan gizi (SKPG)
- Apakah PWS-gizi, system kewaspadaan dini gizi (SKD), TPG berfungsi dengan baik
- Apakah informasi, data , peta rawan gizi dimanfaatkan dalam pengambilan keputusan dalam pencegahan gizi buruk
7. Apakah ada kemitraan dengan LSM atau organisasi masyarakat lainnya dalam pencegahan gizi buruk
Probing :
- LSM atau organisasi masyarakat apa saja yang sudah bermitra
- Kegiatan apa saja yang telah dilaksanakan oleh LSM atau organisasi masyarakt tersebut
- Apa saja yang dilaksanakan untuk menggalang kemitraan tersebut
139 Lampiran 2
No : KUESIONER
ANALISIS IMPLEMENTASI STRATEGI PROMOSI KESEHATAN DAN PENGARUHNYA TERHADAPPARTISIPASI MASYARAKAT DALAM
PENCEGAHAN GIZI BURUKPADA BALITA DI WILAYAH PUSKESMAS HELVETIAKOTA MEDAN TAHUN 2014
A. Identitas Responden Nama :
B. Pertanyaan Penelitian I. Advokasi
No Pertanyaan Jawaban
Ya Tidak 1 Apakah ada peraturan dari kecamatan/puskesmas
atau walikota yang mengharuskan ibu untuk membawa balita untuk ditimbang di posyandu atau sarana kesehatan lainnya?
2 Apakah di lingkungan tempat tinggal ibu terdapat tempat untuk menimbang balita ibu seperti posyandu atau sarana kesehatan lainnya
3 Apakah peralatan di sarana tersebut cukup baik dan sangat membantu ibu dalam pencegahan gizi buruk pada balita ?
4 Apakah di sarana tersebut tersedia media penyebaran informasi (leaflet, poster, film dll tentang gizi buruk dan pencegahannya ? 5 Apakah di sarana tersebut terdapat petugas
kesehatan dan kader yang membantu ibu untuk
memperoleh informasi tentang gizi buruk dan pencegahnnya?
6 Apakah dilingkungan ibu pernah dilaksanakan pendataan balita gizi buruk?
7 Apakah ada dana dari pemerintah untuk
pencegahan gizi buruk pada balita ibu, contohnya pemberian PMT
8 Apakah pernah dilaksanakan dilakukan sosialiasai dari petugas kesehatan tentang pecegahan gizi buruk pada balita
II. Bina Suasana
No Pertanyaan Jawaban
Ya Tidak 1 Apakah ibu pernah diundang untuk menghadiri
acara pertemuan tentang gizi buruk dan pencegahannya dikelurahan, posyandu atau puskesmas?
2 Apakah ibu pernah mendapatkan penyuluhan dari petugas kesehatan mengenai gizi pada balita serta pencegahan, gizi buruk pada saat membawa anak berobat ke puskesmas maupun di luar puskesmas seperti posyandu, dan lain-lain?
3 Apakah ibu pernah mendengar atau ikut pada kegiatan lomba balita sehat
4 Apakah ibu pernah memperoleh informasi dari tokoh agama, tokoh masyarakat tentang gizi buruk dan pencegahannya?
5 Apakah tokoh masyarakat, tokoh agama pernah menganjurkan pada ibu untuk membawa balitanya agar ditimbang di posyandu atau sarana kesehatan?
6 Apakah ibu pernah memperoleh informasi gizi buruk dan pencegahannya melalui
selebaran/leaflet, poster atau surat kabar?
7 Apakah ibu pernah memperoleh informasi gizi buruk dan pencegahannyamelalui siaran TV dan radio?
III. Pemberdayaan Masyarakat
No Pertanyaan Jawaban
Ya Tidak 1 Apakah ibu pernah memperoleh informasi dari tenaga
kesehatan tentang gizi, agar keluarga dapat
melakukan pencegahan terjadi kelainan gizi di dalam keluarga
2 Apakah ibu memperoleh informasi dari tenaga
kesehatan tentang rujukan anak balita yang menderita masalah gizi, dengan tujuan agar keluarga mampu mencari rujukan manakala terjadi kelainan gizi di dalam keluarga
3 Apakah tenaga kesehatan memberikan informasi kepada ibu tentang pemanfaatan pekarangan, agar keluarga mampu menghasilkan makanan melalui pekarangan
4 Apakah petugas kesehatan atau tokoh masyarakat pernah mengajak ibu atau keluarga untuk
berpartisipasi dalam kegiatan yang berkaitan dengan Kadarzi dan posyandu
5 Apakah di lingkungan ibu terdapat posyandu yang aktif melaksanakan kegiatannya?
6 Menurut ibu, apakah posyandu merupakan sarana yang sangat bermanfaat dalam pemberian informasi tentang makanan sehat dan bergizi seimbang untuk membantu ibu mencegah terjadinya gizi buruk pada balita ibu?
7 Apakah di lingkungan ibu terdapat kader gizi masyarakat?
8 Menurut ibu apakah kader gizi masyarakat sangat diperlukan dalam membantu ibu meningkatkan pengetahuan tentang gizi balita?
9 Apakah di lingkungan ibu terdapat pos gizi yang aktif melaksanakan kegiatannya
10 Menurut ibu, apakah pos gizi merupakan sarana yang sangat bermanfaat dalam pemberian informasi tentang makanan sehat dan bergizi seimbang untuk membantu ibu mencegah terjadinya gizi buruk pada balita ibu?
11 Menurut ibu apakah pengorganisasian masyarakat salah satunya dalam penyedian PMT sangat berperan dalam pencegahan gizi buruk pada balita?
IV. Partisipasi Masyarakat dalam Pencegahan Gizi Buruk pada Balita
No Pertanyaan Jawaban
Ya Tidak 1 Apakah sebelumnya ibu hanya memberikan
ASIeksklusif saja kepada bayi?
2 Apakah ibu akan tetap memberikan ASI kepada balita sampai usia 2 tahun?
3 Apakah sebelumnya ibu memberikan makanan tambahan selain ASI kepada balita setelah berusia 6 bulan?
4 Apakah ibu selalu memberi makanan yang beraneka ragam (jenis sayur, lauk-pauk dan buah) pada balita setelah berusia 6 bulan ?
5 Apakah ibu selalu mendampingi balita saat makan?
6 Apakah balita makan tiga kali dalam sehari?
7 Apakah waktu pemberian makan diberi secara teratur?
8 Apakah balita selalu menghabiskan porsi makanan setiap kali makan?
9 Apakah ibu selalu menyiapkan makanan untuk balita?
10 Apakah ibu rutin membawa balita setiap bulan ke posyandu?
11 Apakah ibu rutin menimbang berat badan balita setiap bulan?
12 Apakah balita telah mendapatkan imunisasi dasar lengkap?
13 Apakah ibu pernah mengikuti penyuluhan kesehatan yang dilakukan oleh petugas kesehatan?
14 Apakah ibu menerapkan nasehat tentang gizi balita yang dianjurkan petugas kesehatan?
15 Apakah ibu segera membawa anak ke pelayanan kesehatan bila anak ibu mengalami sakit atau gangguan pertumbuhan?
143 Lampiran 3 : Transcript Wawancara Mendalam
Nama Informan : Dr. Iman Surya
Umur : 40 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki Pendidikan terakhir : Dokter
Jabatan : Kabid Bina Pelayanan Kesehatan Dinkes Kota Medan Lama Jabatan : 3 Tahun
Tanggal Wawancara : 22 Mei 2014
PEDOMAN WAWANCARA
ANALISIS IMPLEMENTASI STRATEGI PROMOSI KESEHATAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM
PENCEGAHAN GIZI BURUK PADA BALITA DI WILAYAH PUSKESMAS HELVETIAKOTA MEDAN TAHUN 2014
I. Advokasi
1. Apakah ada dukungan politik dari pengambil keputusan dalam bentuk kebijakan/peraturan daerah yang mendukung atau berkaitan dengan strategi promosi kesehatan tentang pencegahan gizi buruk pada balita ?
Probing :
- Seberapa sering advokasi dilakukan pada pengambil keputusan untuk terciptanya kebijakan
- Contoh kebijakan, peraturan daerah, instruksi - Tentang kebijakaan wajib operasi timbang
- Tentang pencanangan Medan bebas gizi buruk 2015
- Jika ya, sejauh mana sosialisasi tentang kebijakan/peraturan daerah pada masyarakat
Jawaban informan :
Dukungan politik dalam bentuk peraturan daerah tidak ada, tapi dukungan politik ada, bentuknya dukungan komitmen seperti dukungan dalam bentuk anggaran, ada juga bentuk dukungan berupa komitmen seperti komitmen pencanangan medan gizi buruk tahun 2015, kalau gak salah pencanangannya di kecamatan medan labuhan tahun 2011, dimana ada kerjasama atau komitmen untuk pencegahan dan penanggulangan gizi buruk antar beberapa SKPD terkait, SKPD yang paling berperan adalah selain Dinas kesehatan Kota Medan, Badan Ketahanan Pangan, bentuk kmitmennya berupa pemberian PMT, PMT balita, PMT anak sekolah, tentang beras jempitan itu bentuk kegiatan bantuan untuk ketahanan pangan bagi keluarga miskin, yaitu untuk balita gizi kurang dan gizi buruk.
….Kalau tentang operasi timbang dulu pernah kita lakukan langsung kunjungan ke rumah-rumah, tahun 2008 kalau gak sala, sekarang dialihkan ke posyandu, kader sekarang yang melakukan kunjungan kerumah, bagi balita yang tidak mau datang ke posyandu
….Kalau yang mengadvokasi segala bentuk kegiatan adalah kepala dinas biasanya baik ke pemerintah daerah yaitu walikota maupun ke DPRD.
2. Apakah tersedia dana/anggaran yang cukup untuk mendukung kegiatan promosi kesehatan tentang pencegahan gizi buruk pada balita tersebut ?
Probing :
- Apakah ada dana untuk mendukung kegiatan promosi kesehatan tentang pencegahan gizi buruk melalui media cetak atau media elektronik (promosi kesehatan tentang ASi esklusif,MP ASI, gizi seimbang dan pola asuh ibu dan anak)
- Apakah ada dana untuk mendukung kegiatan revitalisasi posyandu - Apakah ada dana untuk mendukung kegiatan PMT balita
- Apakah ada dana untuk suplementasi gizi (pemberian tablet vit A pada balita, tablet FE pada bumil)
- Jika ya, apakah dana tersebut cukup untuk memaksimalkan kegiatan tersebut - Jika tidak, berapa seharusnya dana yang dianggarkan
Jawaban informan :
Anggaran atau dana untuk pencegahan dan penanggulangan gizi buruk lumayan cukup ditambah lagi sejak adanya pencanangan Medan Bebas gizi buruk, dan penandatangan kesepakatan, jadi pemerintah konsern terhadap masalah gizi, sehingga jarang ada hambatan dana untuk masalah gizi terutama penanggulangan gizi buruk, tetapi anggaran untuk kegiatan promosi kesehatan untuk pencegahan gizi buruk sangat sedikit atau kuranglah.
…Kalau anggaran promosi kesehatan untuk media cetak jaranglah, yang paling banyak dari APBN, kalau anggaran untuk media elektronik, jaranglah
tetapi anggaran untuk revitalisasi posyandu kan termasuk untuk pencegahan gizi buruk, itu bentuknya berupa reward kader atau transport kader, semua kader dapat perbulan serta penyediaan sarana dan prasarana posyandu, sedangkan kalau anggaran untuk penyebaran informasi tentang penannggulangan gizi buruk, sangat dibantu oleh adanya anggaran dari BOK (bantuan Operasional Kesehatan) di puskesmas, sehingga upaya pencegahan dan promosi kesehatan lebih banyak di lakukan oleh puskesmas, seperti penyuluhan dan kunjungan kerumah, banyak didanai oleh BOK puskesmas.
…Kalau untuk suplemntasi gizi berupa pemberian vit a dan Fe msih rutin itu dana anggaran dari APBD.
3. Apakah ada sarana dan prasarana untuk mendukung kegiatan promosi kesehatan dalam pencegahan gizi buruk ?
Probing :
- Apakah cukup tersedia posyandu dan sarana dan prasarananya (untuk biaya operasional posyandu, dll)
- Apakah sarana dan prasarana puskesmas cukup untuk mendukung kegiatan promosi kesehatan dalam pencegahan gizi buruk di puskesmas Helvetia
Jawaban Informan :
Kalau sarana dan prasarana untuk mendukung kegiatan promotif itu yang masih kurang, karena untuk kegiatan promosi kesehatan dari Dinas kesehatan kurang dilakukan, sehingga sarana dan prasarana pendukungnyapun masih kurang.
…Tapi kalau posyandu sebagai tempat yang sangat baik untuk pencegahan dan penanggulangan masalah gizi, sarana dan prasarana juga sudah lumayan bagus, bahkan dari Dinas ada bantuan pemberian dacin untuk melengapi sarana dan prasarana posyandu.
4. Apakah cukup tersedia SDM (petugas) untuk mendukung kegiatan promosi kesehatan dalam pencegahan gizi buruk?
Probing :
- Apakah tersedia petugas gizi dan petugas promosi kesehatan puskesmas - Apakah petugas rutin menjalankan tugasnya
- Apakah jumlah petugasnya cukup untuk melaksanakan kegiatan tersebut - Apakah petugas cukup berkualitas untuk melaksanakan kegiatan tersebut - Apakah ada pelatihan pada petugas
Jawaban informan :
Di dinas ada satu orang petugas penanggung jawab promosi kesehatan ada petugas
Di dinas ada satu orang petugas penanggung jawab promosi kesehatan ada petugas