• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Analisis Data

Dalam dokumen MASDELILAH /IKM (Halaman 82-0)

BAB 3. METODE PENELITIAN

3.9. Metode Analisis Data

Analisis data dengan pendekatan kualitatif, dengan cara mengidentifikasi persamaan dan perbedaan jawaban dari informan melalui kajian data (analysis content) untuk membuat kesimpulan dengan membuat karakteristik pesan secara

objektif dan sistematis. Langkah-langkah analisis menggunakan model interaktif yaitu mengandung empat komponen yang berkaitan yaitu, pengumpulan data, penyederhanaan atau reduksi data, penyajian data dan verifikasi simpulan.

Untuk data kuantitatif yang telah dikumpulkan akan dilakukan analisa statistik : 1. Analisis univariat yaitu analisis yang menggambarkan variabel-variabel

penelitian baik bebas maupun terikat dalam bentuk distribusi frekuensi.

2. Analisis bivariat yaitu analisis lanjutan untuk melihat pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat menggunakan uji chi square pada tingkat kepercayaan 95%.

3. Analisis multivariat yaitu analisa yang dilakukan untuk menganalisis varibel bebas (advokasi, bina suasana, pemberdayaan masyarakat) yang paling

berpengaruh terhadap variabel terikat (partisipasi masyarakat dalam pencegahan gizi buruk pada balita di wilayah puskesmas Medan Helvetia Kota Medan) dengan menggunakan uji regresi logistik dengan persamaan :

p = 1

1+𝑒−(𝑎+𝑏1𝑥1+𝑏2𝑥2+𝑏3𝑥3)

Keterangan :

p = Nilai probalititas individu e = Bilangan natural

b1-b3 = Koefisien regresi x1 = Advokasi

x2 = Bina Suasana

x3 = Pemberdayaan masyarakat

Proses pencampuran (mixing) yaitu salah satu aspek yang penting pada mixing method. Pencampuran antara hasil analisa kualitatif dan kuantitatif dengan cara penghubungan data (data correlation), komparasi data (data comparison), dan pengintegrasian data (data integration) kemudian mendeskriptifkan secara berdampingan antara sumber data yang satu dengan sumber data lainnya

60 BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian 4.1.1. Keadaan Geografis

Kecamatan Medan Helvetia adalah salah satu dari 21 kecamatan yang ada di Kota Medan. Kecamatan Helvetia mempunyai luas wilayah kerja 11,60 Km2 , berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang disebelah Utara, Kecamatan Medan Sunggal disebelah Selatan dan Barat, serta Kecamatan Medan Barat dan Medan Petisah disebelah Timur.

Kecamatan Medan Helvetia memiliki 1 buah puskesmas yaitu Puskesmas Helvetia yang terletak di terletak di Jalan Kemuning Perumnas Helvetia, Kelurahan Helvetia. Puskesmas Helvetia melakukan pelayanan kesehatan terhadap 7 kelurahan yang ada di wilayah kerja Kecamatan Medan Helvetia, yaitu: Kelurahan Helvetia, Kelurahan Helvetia Tengah, Kelurahan Helvetia Timur, Kelurahan Tanjung Gusta, Kelurahan Sei Sikambing C II, Kelurahan Dwikora dan Kelurahan Cinta Damai.

Pada wilayah kerja Puskesmas Helvetia terdapat 2 buah Puskesmas Pembantu (Pustu), yaitu Puskesmas Pembantu Tanjung Gusta yang terletak di jalan Gaperta dan Puskesmas Pembantu Dwikora yang terletak di jalan Setia Luhur.

Gambar 4.1

Peta Wilayah Kerja Puskesmas Helvetia Sumber : Kantor CamatHelvetia ,Tahun 2013 4.1.2. Demografis

Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Helvetia sebanyak 145.239 jiwa terdiri dari 71.174 laki-laki dan 74.065 perempuan, dengan jumlah kepala keluarga 31.652 kepala keluarga. Sedangkan distribusi penduduk berdasarkan kelurahan, pekerjaan dan suku adalah sebagai berikut :

Tabel 4.1. Distribusi Jumlah Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Helvetia Kecamatan Medan Helvetia Tahun 2013

No Kelurahan Jlh. Pend

Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Helvetia Tahun 2013

Berdasarkan tabel 4.1. diketahui bahwa jumlah penduduk diwilayah kerja Puskesmas Helvetia paling banyak adalah di kelurahan Tanjung Gusta, kemudian di Kelurahan Helvetia Tengah sedangkan yang paling sedikit penduduknya di Kelurahan Helvetia.

Tabel 4.2.Distribusi Penduduk Berdasarkan Pekerjaan di Wilayah Kerja Puskesmas Helvetia Kecamatan Medan Helvetia Tahun 2013

No Mata Pencaharian Jumlah Persentase (%)

1 Pegawai swasta 26.908 22,92

2 Wiraswasta /Pedagang 55.072 46,91

3 Buruh 20.043 17,07

Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Helvetia Tahun 2013

Pada tabel 4.2. diketahui bahwa penduduk diwilayah kerja Puskesmas Helvetia paling banyak mempunyai mata pencaharian sebagai wiraswasta/pedagang

yaitu sebanyak 55.072 orang (46,9%) dan pegawai swasta yaitu sebanyak 26.908 orang (22,92%).

Tabel 4.3. Distribusi Penduduk Berdasarkan Suku Bangsa di Wilayah Kerja Puskesmas Helvetia Kecamatan Medan Helvetia Tahun 2013

No Suku Bangsa Jumlah Persentase (%)

Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Helvetia Tahun 2013

Berdasarkan tabel 4.3. diketahui bahwa penduduk diwilayah kerja Puskesmas Helvetia paling banyak bersuku Jawa yaitu sebanyak 55.024 orang (34,02%) dan suku Batak Toba yaitu sebanyak 43.973 orang (27,19%).

4.1.3. Sumber Daya Kesehatan

Distribusi sumber daya kesehatan yang meliputi sarana kesehatan yang ada diwilayah kerja Puskesmas Helvetia, tenaga kesehatan dan fasilitas pada Puskesmas Helvetia dan pustu diwilayahnya dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.4. Distribusi Sarana Kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas Helvetia Kecamatan Medan Helvetia Tahun 2013

No Sarana Kesehatan Jumlah

1 Puskesmas 1

2 Puskesmas Pembantu 2

3 Rumah Sakit Swasta 4

Tabel 4.4. (Lanjutan)

No Sarana Kesehatan Jumlah

4 Balai Pengobatan Paru 1

5 Rumah Bersalin 17

6 Puskesmas Keliling -

7 Apotik 24

8 Praktek Dokter Umum Swasta 71

9 Praktek Dokter Spesialis 35

10 Praktek Dokter Gigi Swasta 23

11 Praktek Bidan 32

Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Helvetia Tahun 2013

Tabel 4.4. menunjukkan bahwa sarana kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Helvetia sudah cukup memadai yaitu sudah terdapat 1 Puskesmas dan 2 Puskesmas Pembantu, 4 rumah sakit swasta dan 71 praktek dokter umum swasta.

Tabel 4.5. Distribusi Tenaga Kesehatan Pada Puskesmas Helvetia dan Pustu

No. Keterangan Jumlah (Orang)

1. Dokter Umum 5

Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Helvetia Tahun 2013

Berdasarkan tabel 4.5. diketahui bahwa jumlah tenaga kesehatan di Puskesmas Helvetia sudah cukup memadai yaitu sudah terdapat 5 orang Dokter Umum, 5 orang Dokter gigi, 5 orang Sarjana Kesehatan Masyarakat dan 12 orang D3 Kebidananan.

Tabel 4.6. Distribusi Fasilitas Kesehatan Pada Puskesmas Helvetia dan Pustu Tahun 2013

No. Ruangan Jumlah (Buah)

1. Ruang Kepala Puskesmas 1

2. Ruang Poliklinik Umum 1

3. Ruang Poliklinik Gigi 1

4. Ruang Pendaftaran/Loket 1

5. Ruang Sanitasi 1

12. Tempat Penyimpanan Obat 1

13. Tempat Penyimpanan vaksin 1

14. Ruang Laboratorium 1

Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Helvetia Tahun 2013

Pada tabel 4.6. diketahui bahwa fasilitas kesehatan di Puskesmas Helvetia sudah cukup memadai yaitu terdapat 1 ruang Kepala Puskesmas,Ruang Poloklinik Umum , gigi dan ruang-ruang lainnya.

Tabel 4.7. Distribusi Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Helvetia Kecamatan Medan HelvetiaTahun 2013

No .

Kelurahan Jenis Posyandu

Jumlah Pratama Madya Purnama Mandiri

1 Helvetia - - 9 - 9

2 Helvetia - - 14 - 14

3 Helvetia Timur - - 9 - 9

4 Dwikora - - 6 - 6

5 SSC II - - 5 - 5

6 Tanjung Gusta - - 5 - 5

7 Cinta Damai - 7 - 7

Jumlah - 55 - 55

Sumber : Laporan Tahunan Puskesmas Helvetia Tahun 2013

Berdasarkan tabel 4.7. diketahui bahwa jumlah posyandu di wilayah kerja Puskesmas Helvetia sudah cukup memadai yaitu terdapat 55 posyandu dan semua posyandu sudah berstrata Purnama.

4.2. Karakteristik Informan

Informan dalam penelitian ini berjumlah 5 orang yang terdiri dari 1 orang Kepala Bidang Bina Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Medan, 1 orang Penanggungjawab Program Gizi Dinas Kesehatan Kota Medan, 1 orang Kepala Puskesmas Helvetia, 1 orang Petugas Penangungjawab Program Gizi Puskesmas dan 1 orang Petugas Promosi Kesehatan Puskesmas. Secara rinci karakteristik informan dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.8. Distribusi Karakteristik Informan No Informan Umur Jenis

Kelamin

Pendidikan Jabatan Lama

Jabatan

4.3. Implementasi Strategi Promosi dalam Pencegahan Gizi Buruk pada Balita 4.3.1. Pendapat Informan tentang Kegiatan Advokasi pada Pencegahan Gizi

Buruk Pada Balita

4.3.1.1.Pendapat Informan tentang Dukungan Politik dari Pengambil Kebijakan Strategi promosi kesehatan diukur melalui variabel advokasi, bina suasana, dan pemberdayaan masyarakat. Untuk implementasi kegiatan advokasi yang telah dilaksanakan di Kota Medan dan Puskesmas Helvetia salah satunya dapat dilihat dari ada atau tidaknya dukungan politik dari pengambil kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari lima orang informan yang diwawancarai, semua menyatakan bahwa ada dukungan politik dari pengambil kebijakan yang mendukung atau berkaitan dengan strategi promosi kesehatan tentang pencegahan gizi buruk pada

balita, tetapi tidak dalam bentuk peraturan walikota atau peraturan daerah, tetapi dalam bentuk Pencanangan Medan Bebas Gizi Buruk Tahun 2015, dimana pencanangannya dilaksanakan di Kecamatan Medan Labuhan tahun 2011. Pada pencanangan tersebut ada penandatanganan komitmen dari beberapa Dinas terkait di bawah Pemerintah Kota Medan dalam penanganan gizi buruk. Selain itu bentuk dukungan yang ada juga berupa diadakannya operasi timbang serentak untuk menjaring balita pada tahun 2008, dan berlanjut sampai sekarang, namun kegiatan penjaringan dialihkan kepada kader. Berikut adalah hasil wawancara dengan informan 1 :

“…Dukungan politik dalam bentuk peraturan daerah tidak ada, tapi dukungan politik ada, bentuknya berupa dukungan dalam bentuk anggaran, ada juga bentuk dukungan komitmen seperti komitmen pencanangan Medan Bebas Gizi Buruk Tahun 2015, kalau gak salah pencanangannya di Kecamatan Medan Labuhan tahun 2011, dimana ada kerjasama atau komitmen untuk pencegahan dan penanggulangan gizi buruk antar beberapa SKPD terkait, SKPD yang paling berperan adalah selain Dinas kesehatan Kota Medan, Badan Ketahanan Pangan, bentuk komitmennya berupa pemberian PMT, PMT balita, PMT anak sekolah, tentang beras jimpitan itu bentuk kegiatan bantuan untuk ketahanan pangan bagi keluarga miskin, yaitu untuk balita gizi kurang dan gizi buruk. …Kalau tentang operasi timbang dulu pernah kita lakukan langsung kunjungan ke rumah-rumah, tahun 2008 kalau gak salah, sekarang dialihkan ke posyandu, kader sekarang yang melakukan kunjungan kerumah, bagi balita yang tidak mau datang ke posyandu

4.3.1.2. Pendapat Informan tentang Ketertersediaan Dana atau Anggaran

Berdasarkan wawancara dengan informan, diketahui bahwa dana untuk kegiatan pencegahan dan penanggulangan gizi buruk cukup besar, hal ini karena adanya dukungan penuh dari pemerintah daerah dalam pencegahan dan penanggulangan gizi buruk sejak adanya pencanangan Medan Bebas Gizi Buruk

tahun 2015, namun sebagian besar dana anggaran tersebut lebih diutamakan untuk kegiatan penanggulangan gizi buruk, sedangkan dana untuk upaya pencegahan gizi buruk atau untuk kegiatan promosi kesehatan dalam pencegahan gizi buruk, relatif sangat sedikit dianggarkan oleh Dinas Kesehatan Kota Medan, sehingga upaya untuk promosi kesehatan untuk pencegahan gizi buruk, lebih banyak diharapkan dari dana Bantuan Operasional Puskesmas dan dana APBN dari Kementrian Kesehatan dalam bentuk penyediaan leaflet dan poster yang jumlahnya terbatas.

Berikut adalah hasil cuplikan wawancara dengan informan :

“..Anggaran atau dana untuk pencegahan dan penanggulangan gizi buruk lumayan cukup ditambah lagi sejak adanya pencanangan Medan Bebas Gizi Buruk, dan penandatangan kesepakatan, jadi pemerintah concern (perhatian) terhadap masalah gizi, sehingga jarang ada hambatan dana untuk masalah gizi terutama penanggulangan gizi buruk, tetapi anggaran untuk kegiatan promosi kesehatan untuk pencegahan gizi buruk sangat sedikit atau kuranglah…. Kalau anggaran promosi kesehatan untuk media cetak jaranglah, yang paling banyak dari APBN, kalau anggaran untuk media elektronik, jarang juga. Tetapi anggaran untuk revitalisasi posyandu kan termasuk untuk pencegahan gizi buruk, itu bentuknya berupa reward kader atau transport kader, semua kader dapat perbulan serta penyediaan sarana dan prasarana posyandu, sedangkan kalau anggaran untuk penyebaran informasi tentang penannggulangan gizi buruk, sangat dibantu oleh adanya anggaran dari BOK (Bantuan Operasional Kesehatan) di puskesmas, sehingga upaya pencegahan dan promosi kesehatan lebih banyak di lakukan oleh puskesmas, seperti penyuluhan dan kunjungan kerumah, banyak didanai oleh BOK puskesmas.”

Jumlah anggaran berdasarkan hasil wawancara dengan bagian perencanaan Dinas Kesehatan Kota Medan diketahui bahwa untuk tahun 2011 pada saat pencanangan tersebut anggaran untuk pencegahan dan penanggulangan gizi buruk sebesar Rp. 3.256,050.000 (5% dari total anggaran kegiatan), Tahun 2012 setelah pencanangan sebesar Rp. 11.161.467.500 (14 % dari total seluruh anggaran kegiatan)

tahun 2013 sebesar Rp. 6.378.380.000,- (14 % dari total seluruh anggaran kegiatan).

Dari jumlah anggaran tersebut terlihat bahwa jumlah anggaran untuk pencegahan dan penanggulangan gizi buruk relative cukup besar, walapun setelah ditelusuri anggaran terbesar adalah untuk kegiatan penanggulangan gizi buruk yaitu untuk pemberian tambahan makanan dan vitamin untuk balita gizi kurang dan gizi buruk, operasional Pusat Pemulihan Gizi, Surveilans gizi buruk, namun masih terdapat anggaran juga yang cukup besar untuk kegiatan promosi kesehatan yaitu untuk revitalisasi posyandu yang tiap tahun rutin dianggarkan.

4.3.1.3. Pendapat Informan tentang Ketertersediaan Sarana dan Prasarana Pendapat informan tentang ketersediaan sarana dan prasarana adalah sebagian besar informan yang diwawancara menyatakan bahwa sarana dan prasarana untuk mendukung program pencegahan dan penanggulangan gizi buruk sudah cukup, karena untuk Kota Medan terdapat 39 puskesmas dan 1396 posyandu yang aktif mendukung kegiatan pencegahan terhadap gizi buruk baik berupa melaksanakan penimbangan balita setiap bulan, melakukan penyuluhan. Dan diantara 39 puskesmas tersebut, terdapat 10 puskesmas rawat inap yang mempunyai Pusat Pemulihan Gizi (PPG) yang merupakan tempat pemulihan bagi balita yang mengalami gizi buruk.

Berikut ini adalah hasil wawancara dengan informan :

“Sarana dan prasarana cukup, kita punya 39 pusk, diantara 39 kita punya 10 pusk pusk rawat inap yang menerima balita gizi buruk itulah PPG itukan, trus ada posyandu dimana-mana, saya rasa cukup sarananya, kan Medankan kemana-mana mudah aksesnya dijangkau.”

Sedangkan, sebagian informan menyatakan bahwa sarana dan prasarana untuk program promosi kesehatan untuk pencegahan dan penanggulangan gizi buruk masih kurang, khususnya untuk sarana dan prasaran untuk mendukung kegiatan penyuluhan atau penyebarluasan informasi tentang pencegahan dan penanggulangan gizi buruk pada masyarakat, misalnya berdasarkan pedoman pelaksanaan promosi kesehatan untuk kegiatan promosi kesehatan ditingkat daerah, standard sarana dan peralatan yang harus tersedia berupa peralatan untuk kegiatan penyuluhan seperti LCD Proyektor, Tape caseete recoreder, amplifier wireless micropon, mobil unit

penyuluhan, mobil pameran, panel pameran dll. Kurangnya penyediaan sarana dan prasarana promosi kesehatan hal ini disebabkan karena kurang dilakukannya kegiatan promosi kesehatan, sehingga sarana dan prasarana untuk mendukung kegiatan tersebut tidak dilengkapi atau jarang dianggarkan. Berikut cuplikan wawancara dengan informan :

“..Kalau sarana dan prasarana untuk mendukung kegiatan promotif itu yang masih kurang, karena untuk kegiatan promosi kesehatan dari Dinas kesehatan kurang dilakukan, sehingga sarana dan prasarana pendukungnyapun masih kurang. Tapi kalau posyandu sebagai tempat yang sangat baik untuk pencegahan dan penanggulangan masalah gizi, sarana dan prasarana juga sudah lumayan bagus, bahkan dari Dinas ada bantuan pemberian dacin untuk melengkapi sarana dan prasarana posyandu.”

4.3.1.4. Pendapat Informan tentang Ketertersediaan Sumber Daya Manusia Berdasarkan hasil wawancara dengan informan, diperoleh informasi bahwa pendapat semua informan tentang ketersediaan Sumber Daya Manusia untuk pencegahan gizi buruk sudah cukup, berikut hasil wawancara dengan informan dari Dinas Kesehatan :

“Kalau petugasnya saya rasa cukup karena disemua puskesmas yang ada di Kota Medan 39 puskesmas semuanya hampir rata-rata dia punya tenaga pelaksana gizi, tenaga promkes juga ada, ada petugas KIA, ada petugas kesehatan lingkungan, itu mereka kerjasama dalam pencegahan dan penanggulangan gizi buruk.”

Hal ini juga sejalan dengan pendapat informan yang berasal dari puskesmas Helvetia selain dari petugas gizi dan petugas promosi kesehatan puskesmas, juga terdapat petugas yang ditugaskan untuk menanggungjawabi tiap posyandu, dimana petugas tersebut merupakan petugas yang memberikan promosi kesehatan di posyandu, berikut adalah hasil wawancara dengan informan :

“Cukup, ada petugas penanggung jawab posyandu, perkelurahan 2 orang, yang harus turun setiap hari buka posyandu. Petugas yang turun adalah petugas yang mempunyai basic kesehatan…Pelatihan petugas penanggung jawab tidak ada, tapi pas waktu minilokakarya puskesmas, dilakukan pengarahan bagi petugas.”

4.3.1.5. Pendapat Informan tentang Ketertersediaan Pendataan dan Pelaporan Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari lima orang informan yang diwawancarai, menyatakan bahwa untuk ketersediaan pendataan dan pelaporan mendukung kegiatan promosi kesehatan dalam pencegahan gizi buruk tetap ada dilakukan, baik untuk pendataan jumlah sasaran yaitu balita, bumil dan busui atau jumlah masyarakat miskin yang berpotensi untuk menderita gizi buruk, serta pendataan kondisi balita perposyandu yang diperoleh dari pendataan penimbangan balita di posyandu, serta tingkat partisipasi masyarakat dalam menimbang. Berikut adalah hasil wawancara dengan informan :

“Pendataan jumlah sasaran yaitu bayi, bumil, busui tetap ada, dilakukan oleh puskesmas biasanya, datanya didapat dari kader, baik data yang diperoleh

dari data kunjungan balita ke posyandu, atau kunjungan kerumah yang dilakukan oleh kader.”

Hal ini senada dengan pendapat informan dari Puskesmas Helvetia yang menyatakan bahwa ada pendataan dan pelaporan terhadap sasaran, serta ada alur pelaporan untuk balita yang menderita gizi kurang dan gizi buruk agar segera ditangani, berikut hasil wawancara dengan informan :

“Ada, biasanya pendataan dibuat kader, namun ditanggung jawabi petugas penanggung jawab posyandu, hasil pelaporan rutin posyandu kemudian diteruskan pada saya sebagai petugas penanggung jawa gizi puskesmas, dan untuk kasus data gizi kurang dan gizi buruk segera kita tangani.”

4.3.2. Pendapat Informan tentang Kegiatan Bina Suasana pada Pencegahan Gizi Buruk pada Balita

4.3.2.1.Pendapat Informan tentang Pelaksanaan Promosi Kesehatan untuk Pencegahan Gizi Buruk pada Masyarakat

Berdasarkan wawancara dengan informan, diketahui bahwa sebagian besar informan menyatakan pelaksanaan promosi kesehatan tentang pencegahan gizi buruk pada masyarakat secara langsung, jarang dilaksanakan, untuk promosi kesehatan secara langsung pada masyarakat baik berupa dalam bentuk penyuluhan atau pelatihan, biasanya sasaran yang diambil adalah tokoh masyarakat, yaitu kepala lingkungan, kader, perangkat kelurahan. Kemudian diharapkan tokoh masyarakat atau kader tersebut yang melaksanakan penyuluhan langsung kepada masyarakat baik diposyandu atau di lingkungannya. Berikut hasil wawancara dengan beberapa informan :

“Promosi kesehatan yang dilaksanakan secara langsung pada masyarakat dalam bentuk penyuluhan langsung, jarang dilaksanakan, karena tidak dianggarkan.”

Hasil wawancara dengan informan lainnya :

“Ada, kalau dari Dinkes kita lakukan penyuluhan terhadap petugas, kapusk, kelurahan, kecamatan lintas sektor yang ada di kelurahan itu kita kasi penyuluhan tentang pencegahan kasus gizi buruk dan jika ada kasus gizi buruk harus ditangani dengan segera karena itukan instruksi dari walikota dari mereka dari petugas puksesmas mereka juga melakukan penyuluhan pada kader, kader juga melakukan penyuluhan ke masyarakat melalui posyandu, bertahap, berjenjang.”

Informan dari puskesmas juga menyatakan hal yang sama :

“Masyarakat langsung tidak ada, biasanya kalaupun ada selalu melalui posyandu.”

4.3.2.2. Pendapat Informan tentang Pelaksanaan Promosi Kesehatan untuk Pencegahan Gizi Buruk pada Tokoh Masyarakat atau Tokoh Agama Dari hasil penelitian, diketahui bahwa sebagian besar informan menyatakan bahwa pelaksanaan promosi kesehatan pada tokoh masyarakat atau tokoh agama selalu dilaksanakan, bentuknya berupa pelatihan kader, jambore posyandu dan lomba kader. Pada Pelatihan kader, biasanya yang dilatih bertahap, mewakili kader perposyandu, dalam pelatihan kader biasanya bekerjasama dengan Tim Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga Kota Medan (TP-PKK). Begitu juga dengan Jambore Posyandu, selain ada pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan kader, sekaligus juga ada lomba kader. Berikut hasil wawancara dengan informan :

“Ada pelatihan tokoh masyarakat yaitu kader, jambore posyandu, kader kita kumpulkan, dilakukan penyuluhan, kita adakan lomba kader, trus disitulah kita lakukan kegiatan, dilakukan pada seluruh kader, tapi waktuya bertahap, misalnya satu kelurahan ini kapan,kelurahan lain kapan, bertahap.”

Selain adanya pelatihan kader dan jambore kader yang dilaksanakan Dinas Kesehatan, juga dilaksanakan pertemuan tokoh masyarakat dan kader di kelurahan.

Pada pertemuan tersebut, dilaksanakan pembinaan dan pelatihan pada sasaran tentang pencegahan gizi buruk pada balita. Selain pertemuan, dilakukan juga promosi kesehatan pada kader langsung dan pembinaan pada saat turun ke posyandu pada hari buka posyandu, berikut hasil wawancara dengan informan dari puskesmas:

“Ada, dilakukan dikantor camat atau pada saat turun petugas keposyandu, sekalian dilakukan pembinaan terhadap kader posyandu…”

4.3.2.3. Pendapat Informan tentang Pelaksanaan Lomba Balita Sehat

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan, diketahui bahwa pelaksanaan lomba balita sehat tidak pernah dilaksanakan karena adanya efisiensi anggaran, namun tahun-tahun sebelumnya sering dilaksanakan karena mengingat manfaat yang sangat besar dari pelaksanaan lomba balita sehat tersebut, berikut hasil wawancara dengan informan :

“Lomba balita sehat dulu kita ada melaksanakan, karena ada efisiensi anggaran, tidak dilakukan, tapi itu mungkin tetap di akomodir dengan dari PKK, kalau dari dinas kesehatan karena efisiensi tidak ada lagi, tapi lima tahun terakhir dulu ada, kita penyelenggaranya…..Kalau saya rasa pengaruhnya lomba balita sehat bagus ya, karena gini kalau kita adakan lomba balita sehat masyarakat termotivasi, jadi dia kan termotivasi bagaimana merawat anaknya, karena banyak dilomba itu kriterianya ada yang lihat KMSnya gimana lihat grafiknya gimana,kebersihannya gimana, semua dilombakan jadi ibunya termotivasi, kemarin tahun berapa itu ya tahun 2012, kami pernah juga pernah mau mengganggarkan lomba balita sehat tapi dari balita gizi buruk, bukan balita umum, balita gizi buruk dilombakan yang sudah sehat itu bagaimana, dulu pernah ada keinginan seperti itu tapi karena efisiensi anggaran gak bisa terlaksana, supaya orang tua balita gizi buruk itu termotivasi kenapa sianu bisa kenapa anakku tidak bisa jadi itunya niat kita supaya termotivasi sehingga lebih baik dari sekarang.”

Dari pernyataan informan tersebut, selain lomba balita sehat juga pernah direncanakan untuk melaksanakan lomba balita sehat untuk balita yang menderita gizi buruk, dengan harapan agar orang tua dari balita yang menderita gizi buruk termotivasi untuk meningkatkan kesehatan balita gizi buruknya.

4.3.2.4. Pendapat Informan tentang Pelaksanaan Promosi Kesehatan Melalui Media Cetak atau Elektronik

Berdasarkan wawancara dengan informan, diketahui bahwa semua informan menyatakan pelaksanaan promosi kesehatan tentang pencegahan gizi buruk melalui media cetak dan media elektronik tidak dilakukan, kalaupun ada promosi kesehatan melalui media cetak misalnya pembagian leaflet dan poster terutama untuk posyandu berasal dari Kementrian Kesehatan bukan merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan. Untuk promosi kesehatan melalui media elektronik juga jarang dilakukan, karena tidak pernah dianggarkan secara rutin dari Dinas kesehatan Kota Medan, jika pun dilaksanakan biasanya karena permintaan dari pihak televisinya sendiri. Berikut hasil wawancara dengan informan :

“Promosi kesehatan melalui media cetak dari dana APBD tidak ada dilakukan, tetapi kalau bantuan media cetak dari APBN tetap ada, bentuknya

“Promosi kesehatan melalui media cetak dari dana APBD tidak ada dilakukan, tetapi kalau bantuan media cetak dari APBN tetap ada, bentuknya

Dalam dokumen MASDELILAH /IKM (Halaman 82-0)