ANALISIS ALASAN DAN IMPLIKASI PERCERAIAN
C. Analisis Implikasi Cerai Talak dan Cerai Gugat Di Pengadilan
Implikasi dari suatu perkawinan dapat dilihat sejak diputuskannya perkara oleh Majlis Hakim di Pengadolan Agama. Adapun perinciannya
1. Akibat Talak Raj‟i
Di Pengadilan Agama Salatiga, Majelis Hakim dalam memutuskan
suatu perceraian dalam hal ini talak raj‟i bisa penulis ketahui pada perkara
cerai talak. Adapun konsekuensi hukum yang harus ditanggung dari jatuhnya talak raj‟i ini yaitu tidak melarang mantan suami berkumpul dengan mantan istrinya, sebab akad perkawinannya tidak hilang dan tidak menghilangkan hak (pemilikan), serta tidak mempengaruhi hubungannya yang halal (kecuali persetubuhan).
Sekalipun tidak mengakibatkan perpisahan, talak raj‟i ini tidak menimbulkan akibat-akibat hukum selanjutnya selama masih dalam masa iddah istrinya. Segala akibat hukum talak baru berjalan sesudah habis masa iddah dan jika tidak ada ruju‟. Apabila masa iddah telah habis maka tidak boleh ruju‟ dan berarti perempuan itu telah bertalak ba‟in. Jika masih ada dalam massa iddah maka talak raj‟i yang berarti tidak melarang suami berkumpul dengan istrinya kecuali bersenggama. Jika ia menggauli istrinya berarti ia telah ruju‟.
Dari analisa peneliti, berpendapat bahwa dalam talak satu raj‟i suami masih berleluasa untuk kembali kepada istrinya selama masa iddah istri belum habis. Masa iddah adalah masa pertimbangan yang seharusnya tidak boleh disia-siakan apabila ada niat untuk kembali.
Istri yang menjalani iddah raj‟iyah, jika ia taat atau baik terhadap suaminya, maka ia berhak memperoleh tempat tinggal, pakaian dan uang belanja dari mantan suaminya. Tetapi jika ia durhaka maka tidak berhak
mendapat apa-apa. Ini sesuai dengan apa yang disabdakan Rasulullahh SAW:
“Perempuan yang berhak mendapat nafkah dan tempat tinggal (rumah) dari mantan suaminya adalah apabila mantan suaminya itu berhak merujuk
kepadanya (HR. Ahmad dan An-Nasa‟i)”. Sabdanya pula : “Nafkah dan
tempat tinggal bagi wanita yang memiliki (kesempatan untuk) di ruju‟”. Ruju‟ adalah salah satu hak bagi laki-laki dalam masa iddah. Oleh karena itu ia tidak berhak membatalkannya sekalipun suaminya misal berkata: “tidak ada rujuk bagiku”. Namun sebenarnya ia tetap mempunyai hak rujuk. Sebab dalam firman Allah SWT surat al-Baqarah ayat 228 disebutkan :
“Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu…”
Karena ruju‟ merupakan hak suami maka untuk merujuknya suami tidak perlu saksi, dan kerelaan mantan istri serta wali. Namun menghadirkan saksi dalam ruju‟ hukumnya sunnah, karena dikhawatirkan apabila kelak istri akan menyangkal rujuknya suami. Begitulah pentingnya pencatatan baik perkawinan maupun perceraian, dalam upayanya memperoleh kepastian hukum dan persaksian dari saudara, tetangga hingga majelis hakim yang memutuskannya. Adapun mana iddah Pasal 154 Apabila isteri bertalak raj`I kemudian dalam waktu iddah sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (2) huruf b, ayat (5) dan ayat (6) pasal 153, di tinggal mati oleh suaminya, maka iddahnya berubah menjadi empat bulan sepuluh hari terhitung saat matinya bekas suaminya.
2. Akibat Talak Ba‟in Sughra
Dalam perkara yang diputuskan oleh majelis hakim mengenai jatuhnya talak ba‟in sughra ialah terjadi pada perkara cerai gugat yang dijukan di Pengadilan Agama Salatiga. Adapun konsekuensi dari talak ba‟in sugro adalah memutuskan hubungan perkawinan antara suami dan istri setelah kata talak diucapkan. Karena ikatan perkawinan telah putus, maka istrinya kembali menjadi orang lain bagi suaminya. Oleh karena itu, ia tidak boleh bersenang-senang dengan perempuan tersebut, apalagi sampai menyetubuhinya.
Apabila ia menalaknya satu kali, berarti ia masih memiliki sisa dua kali talak setelah ruju‟ dan jika sudah dua kali talak, maka ia hanya berhak atas satu kali lagi talak setelah ruju‟. Adapun akibat jatuhnya talak ba‟in sugro adalah:
a. Hilangnya ikatan nikah antara suami dan istri.
b. Hilangnya hak bergaul bagi suami istri termasuk berkhalwat
(menyendiri berdua-duaan)
c. Masing-masing tidak saling mewarisi manakal meninggal
d. Bekas istri, dalam masa iddah, berhak tinggal di rumah bekas
suaminya dengan berpisah tempat tidur dan mendapat nafkah
e. Rujuk dengan akad dan mahar yang baru
3. Akibat Talak Ba‟in Kubra
Hukum talak ba‟in kubra sama dengan talak ba‟in sughra yaitu memutuskan hubungan tali perkawinan antara suami dan istri.tetapi talak
ba‟In kubra tidak menghalalkan bekas suami merujuk kembali bekas istri, kecuali sesudah ia menikah dengan laki-laki lain dan telah bercerai sesudah dikumpulinya (telah bersenggama), tanpa ada niat nikah tahlil. Allah SWT berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 230:
“Kemudian jika si suaminya menalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia kawin denga suami yang lain.”
Perempuan yang menjalani iddah talak ba‟in, jika tidak hamil, ia hanya berhak memperoleh tempat tinggal (rumah), lain tidak. Tetapi jika ia hamil maka ia juga berhak mendapat nafkah. Dalam al qur‟an ditegaskan :
“Tempatkanlah mereka ( para istri ) dimana kamu bertempat tinggal menurut kemmpuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan ( hati ) mereka dan jika mereka ( istri-istri yang sudah ditalak ) itu sedang hamil maka berikanlah kepada mereka bersalin.. (At-Thalaq: 6)
Perempuan yang menjalani iddah wafat (karena ditinggal mati oleh suaminya), ia tidak berhak sama sekali nafkah (dan tempat tinggal) dari mantan suaminya, karena ia dan anak (yang dikandungnya) adalah pewaris yang berhak mendapat harta pusaka dari almarhum suaminya itu.
4. Akibat Hukum Fasakh
Pisahnya suami istri akibat fasakh berbeda dengan yang diakibatkan oleh talak. Ada beberapa perkara yang diputuskan oleh majelis
hakim di Pengadilan Agama Salatiga yang diputuskan dengan fasakh, ini terjadi sebab salah seorang dari suami atau istri murtad. Pisahnya suami istri yang diakibatkan talak dapat mengurangi bilangan talak itu sendiri.
Jika suami menalak istrinya denga talak raj‟i kemudian kembali pada masa
iddahnya, atau akad lagi setelah habis masa iddahnya dengan akad baru, maka perbuatan terhitung satu talak yang berarti ia masih ada kesempatan dua kali talak lagi.
Sedangkan pisah suami istri karena fasakh, hal ini tidak berarti mengurangi bilangan talak, meskipun terjadinya fasakh karena khiyar baligh kemudian kedua suami istri tersebut menikah dengan akad baru lagi, maka suami tetap mempunyai kesempatan tiga kali talak.
Selanjutnya analisa penulis akibat perceraian yang dilakukan oleh suami maupun istri, mempunyai dampak bagi keduanya dalam hal ini mantan suami maupun mantan istri, baik kehidupan mereka setelah menikah maupun kelangsungan hidup bauh hati atau anak-anak mereka. Tanpa dipungkiri dari perceraian tersebut, keduanya harus segera membuka lembaran baru kehidupan mereka.
Akibat yang harus ditanggung oleh mantan suami maupun mantan istri seiring dengan putusan pengadilan dalam hal ini Pengadilan Agama Salatiga memang harus mereka tanggung. Setelah putusan pengadilan dibacakan di depan sidang, maka itu yang harus dilakukan oleh keduanya. Ada berberapa kewajiban yang melekat bagi keduanya, yaitu nafkah iddah yang harus diberikan suami kepada istri, dan pengasuhan anak. Akibat yang lain adalah
adanya hak rujuk, hal itu dapat terjadi apabila dalam putusan hakim menyebutkan talak satu raj‟i atau cerai yang diajuakan oleh suami. Talak raj‟i
adalah perceraian di mana suami mengucapkan (melafazkan) talak satu atau
talak dua kepada isterinya. Suami boleh rujuk kembali ke isterinya ketika masih dalam iddah. Jika waktu iddah telah habis, maka suami tidak dibenarkan merujuk melainkan dengan akad nikah baru. Adapun apabila dalam putusanya adalah talak ba‟in yang mana suami mengucapkan talak tiga atau melafazkan talak yang ketiga kepada isterinya. Isterinya tidak boleh dirujuk kembali. Si mantan suami hanya boleh merujuk setelah isterinya menikah dengan lelaki lain, dan suami barunya menyetubuhinya, setelah diceraikan suami barunya dan telah habis iddah dengan suami barunya
Namun apabila cerai gugat atau yang mengajukan istri maka talak yang digunakan adalah talak ba‟in sugro. Adapun konsekuensi hukum dari talak ba‟in sughro ini adalah tidak bisa rujuk kembali, akan tetapi harus ada akad nikah baru. Ada dua istilah yang dipergunakan pada kasus gugat cerai oleh istri, yaitu fasakh dan khulu‟. Fasakh adalah pengajuan cerai oleh istri tanpa adanya kompensasi yang diberikan istri kepada suami, dalam kondisi di mana suami tidak memberikan nafkah lahir dan batin selama enam bulan berturut-turut, suami meninggalkan istrinya selama empat tahun berturut-turut tanpa ada kabar berita (meskipun terdapat kontroversi tentang batas waktunya), suami tidak melunasi mahar (mas kawin) yang telah disebutkan dalam akad nikah, baik sebagian ataupun seluruhnya (sebelum terjadinya hubungan suamii istri); atau adanya perlakuan buruk oleh suami seperti
penganiayaan, penghinaan, dan tindakan-tindakan lain yang membahayakan keselamatan dan keamanan istri. Umumnya gugan yang dikabulkan oleh hakim berdsarkan bukti-bukti dari pihak istri, maka Hakim berhak memutuskan (tafriq) hubungan perkawinan antara keduanya.
Adapun implikasi dari gugat cerai oleh istri baik Fasakh maupun Khulu‟ adalah talak ba'in shughra (talak ba'in kecil). Efek hukum yang
ditimbulkan oleh fasakh dan khulu‟ adalah talak ba'in sughra, yaitu hilangnya
hak rujuk pada suami selama masa „iddah. Artinya, apabila lelaki tersebut ingin kembali kepada mantan istrinya maka ia diharuskan melamar dan menikah kembali dengan perempuan tersebut. Sementara itu, istri wajib menunggu sampai masa „iddahnya berakhir apabila ingin menikah dengan laki-laki yang lain.
Akibat dari perceraian lain yaitu adanya masa iddah pada mantan istri. Iddah adalah masa tunggu bagi istri yang dicerai talak oleh suami atau karena gugat cerai oleh istri. Dalam masa iddah, seorang perempuan yang dicerai tidak boleh menikah dengan dengan siapapun sampai masa iddahnya habis
atau selesai. Bagi istri yang ditalak raj‟i (talak satu atau talak dua) maka suami
boleh kembali ke istri (rujuk) selama masa iddah tanpa harus ada akad nikah baru. Sedangkan apabila suami ingin rujuk setelah masa iddah habis, maka harus ada akad nikah yang baru.
Masa iddah bagi mantan istri adalah apabila ditinggal mati suaminya, maka iddahnya adalah empat bulan sepuluh hari, baik sang isteri sudah dicampuri (hubungan intim) atau belum (QS Al-Baqarah 2: 234). Apabila
dicerai tidak dalam keadaan hamil dan masih haid secara normal, maka masa iddahnya tiga kali haid yang sempurna(QS Al-Baqarah 2: 228). Sedangkan saat sedang hamil, maka masa iddahnya sampai melahirkan (QS At-Talaq 65: 4). Kemudian yang dijatuhi talak itu masih kecil, belum mengeluarkan darah haid atau sudah lanjut usia yang sudah manopause (berhenti masa haid), maka iddahnya adalah tiga bulan (At-Thalaq 65: 4). Dan apabila wanita yang
pernikahannya fasakh/dibatalkan dengan cara khulu‟ atau selainnya, maka
cukup baginya menahan diri selama satu kali haid. Dan yang terakhir adalah wanita yang dicerai-talak sebelum ada hubungan intim, maka tidak ada masa iddahnya.
Dalam Undang-undang Perkawinan No. 1 tahun 1974 mengatur
tentang putusnya perkawinan, pada pasal 38 menyatakan perkawinan dapat
putus karena: kematian, perceraian dan atas putusan Pengadilan. Dan
selanjutnya dijelaskan pada Pasal 39, menyatakan, perceraian hanya dapat
dilakukan di depan Sidang Pengadilan setelah Pengadilan yang bersangkutan
berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak. Untuk
melakukan perceraian harus ada cukup alasan bahwa antara suami istri itu
tidak akan dapat rukun sebagai suami isteri. Dan tata cara perceraian di depan
sidang Pengadilan diatur dalam peraturan perundangan tersebut.
Dari paparan sebelumnya telah disebutkan bahwa dari tahun ke tahun angka perceraian semakin meningkat, peningkatan lebih terfokus pada cerai gugat atau permohonan cerai yang dilakukan oleh istri. Dari penjelasan diatas dapat ketahui bahwasanya masyarakat sekarang sudah sadar hukum, tidak
semata-mata tunduk pada kejahilan dan takut pada ketidak adilan yang dialaminya.
Negara telah mengatur secara komprehensif tentang hubungan dua insan yang dipersatukan dalam ikatan perkawinan dan kemungkinan-kemngkinan yang ada didalamnya atau mengikutinya, dalam hal ini adalah perceraian. Sebenarnya dalam hal perceraian ini, Negara melalui Pengadilan Agama azasnya adalah mempersulit tejadinya perceraian. Namun ada saja yang tidak bisa disatukan lagi dalam suatu maghligai rumah tangga.
Di Pengadilan Agama Salatiga sendiri telah menerapakan itu, sehingga setiap perkara perceraian yang diajukan tidak semata-mata langsung diputuskan begitu saja. Mediasi adalah upaya yang dilakukan oleh Pengadilan untuk mengupayakan jalan damai dari pasangan yang bersengketa. Hal ini dijelaskan pada pasal 115 KHI menyatakan Perceraian hanya dapat dilakukan di depan Sidang Pengadilan setelah Pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak. Selanjutnya dijelskan pada Pasal 114 KHI menyatakan, Putusnya perkawinan yang disebabkan karena perceraian dapat terjadi karena talak atau berdasarkan gugatan perceraian.
Akhirnya dalam akibat perceraian, hal-hal yang perlu dilakukan oleh pihak isteri maupun suami setelah putusnya perkawinan sesuai dengan pasal 41 Undang-Undang Perkawinan yang mengharuskan baik bapak (mantan suami) atau ibu (mantan istri) tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya, semata-mata berdasarkan kepentingan anak; bilamana ada
perselisihan mengenai penguasaan anak-anak, Pengadilan memberi keputusannya.
Dalam hal untuk membiayai pemeliharaan dan pendidikan anak-anak menjadi tanggungjawab pihak bapak, kecuali dalam kenyataannya bapak dalam keadaan tidak mampu sehingga tidak dapat melakukan kewajiban tersebut, maka Pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut. Selanjutnya pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan dan/atau menentukan suatu kewajiban bagi bekas isteri
Adapun akibat perceraian secara terperinci dan hal itu dijadikan dalil bagi hakim dalam menjamin kehidupan diantara keduanya, hal tersebut diatur dalam Kompilasi Hukum Islam Bab XVII dijelaskan tentang akibat putusnya perkawinan sebagai berikut:
Akibat Talak yang dijelaskan pada Pasal 149 KHI Bilamana perkawinan putus karena talak, maka bekas suami wajib: a. memberikan mut`ah yang layak kepada bekas isterinya, baik berupa uang atau benda, kecuali bekas isteri tersebut qobla al dukhul; b. memberi nafkah, maskan dan kiswah kepada bekas isteri selama dalam iddah, kecuali bekas isteri telahdi jatuhi talak ba‟in atau nusyur dan dalam keadaan tidak hamil; c. melunasi mahar yang masih terhutang seluruhnya, dan separoh apabila qobla al dukhul; d. memeberikan biaya hadhanan untuk anak-anaknya yang belum mencapai umur 21 tahun. Begitulah konsekuensi yang harus ditanggung oleh suami istri yang telah memutuskan tali perkawinannya.
Selanjurnya diatur pada Pasal 150-152 KHI, paska diputuskanya perceraian maka, bekas suami berhak melakukan ruju` kepada bekas istrinya yang masih dalam iddah. Bekas isteri selama dalam iddah, wajib menjaga dirinya, tidak menerima pinangan dan tidak menikah dengan pria lain. Bekas isteri berhak mendapatkan nafkah iddah dari bekas suaminya kecuali ia nusyuz.
Adapun waktu tunggu yang diatur dalam Pasal 153 KHI adalah bagi seorang isteri yang putus perkawinannya berlaku waktu tunggu atau iddah, kecuali qobla al dukhul dan perkawinannya putus bukan karena kematian suami. Waktu tunggu bagi seorang janda ditentukan sebagai berikut: a. Apabila perkawinan putus karena kematian, walaupun qobla al dukhul, waktu tunggu ditetapkan 130 (seratus tiga puluh) hari: b. Apabila perkawinan putus karena perceraian,waktu tunggu bagi yang masih haid ditetapkan 3 (tiga) kali suci dengan sukurang-kurangnya 90 (sembilan puluh) hari, dan bagi yang tidak haid ditetapkan 90 (sembilan puluh) hari; c. Apabila perkawinan putus karena perceraian sedang janda tersebut dalam keadaan hamil, waktu tunggu ditetapkan sampai melahirkan; d. Apabila perkawinan putus karena kematian, sedang janda tersebut dalam keadaan hamil, waktu tunggu ditetapkan sampai melahirkan.
Tidak ada waktu tunggu bagi yang putus perkawinan karena perceraian sedang antara janda gtersebut dengan bekas suaminya qobla al dukhul. Bagi perkawinan yang putus karena perceraian, tenggang waktu tunggu dihitung sejak jatuhnya Putusan Pengadilan Agama yang mempunyai kekuatan hukum
yang tetap, sedangkan bagi perkawinan yang putus karena kematian, tenggang waktu tunggu dihitung sejak kematian suami. Waktu tunggu bagi isteri yang oernah haid sedang pada waktu menjalani iddah tidak haid karena menyusui, maka iddahnya tiga kali waktu haid. Dalam hal keadaan pada ayat (5) bukan karena menyusui, maka iddahnya selama satu tahun, akan tetapi bila dalam waktu satu tahun tersebut ia haid kembali, maka iddahnya menjadi tiga kali waktu suci.
. Pasal 155 Waktu iddah bagi janda yang putus perkawinannya karena khuluk, fasakh dan li`an berlaku iddah talak.
Adapun akibat perceraian yang dijelaskan Pasal 156 KHI bahwa akibat putusnya perkawinan karena perceraian ialah :
a. anak yang belum mumayyiz berhak mendapatkan hadhanah dan ibunya,
kecuali bila ibunya telah meninggal dunia, maka kedudukannya digantikan oleh:
1) wanita-wanita dalam garis lurus ke atas dari ibu;
2) ayah;
3) wanita-wanita dalam garis lurus ke atas dari ayah;
4) saudara perempuan dari anak yang bersangkutan;
5) wanita-wanita kerabat sedarah menurut garis samping dari ayah.
b. anak yang sudah mumayyiz berhak memilih untuk mendapatkan hadhanah
dari ayahatau ibunya;
c. apabila pemegang hadhanah ternyata tidak dapat menjamin keselamatan
dicukupi, maka atas permintaann kerabat yang bersangkutan Pengadilan Agama dapat memindahkan hak hadhanah kepada kerabat lain yang mempunyai hak hadhanah pula;
d. semua biaya hadhanah dan nafkah anak menjadi tanggung jawab ayah
menurut kemampuannya, sekurang-kurangnya sampai anak tersebut dewasa dapat mengurus diri sendiri (21 tahun)
e. bilamana terjadi perselisihan mengenai hadhanah dan nafkah anak,
Pengadilan Agama memberikan putusannya berdasrkan huruf (a), (b), dan (d);
f. pengadilan dapat pula dengan mengingat kemampuan ayahnya
menetapkan jumlah biaya untuk pemeliharaan dan pendidikan anak-anak yang tidak turut padanya.
Implikasi perceraian selanjutnya adalah terkait dengan masalah Mut`ah, yang dijelaskan pada Pasal 158 yaitu, Mut`ah wajib diberikan oleh bekas suami dengan syarat : a. belum ditetapkan mahar bagi isteri ba`da al dukhul;b.perceraian itu atas kehendak suami. Dan pada Pasal 159 dijelaskan Mut`ah sunnat diberikan oleh bekas suami tanpa syarat tersebut pada pasal 158. Pasal 160 menjelaskan bahwa Besarnya mut`ah disesuaikan dengan kepatutan dan kemampuan suami.
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Pengadilan Agama Salatiga telah memutuskan perkara perceraian
sebanyak 1324 perkara pada tahun 2015 dan 1316 pada tahun 2016, yang dibagi atas cerai talak 379 perkara, sedangkan cerai gugat sebanyak 945 perkara pada 2015, kemudian tahun 2016 cerai talak sebanyak 368 perkara, sedangkan cerai gugat sebanyak 948 perkara. Adapun faktor yang melatar belakangi terjadinya perceraian pada tahun 2015-2016, baik cerai talak maupun cerai gugat berdasarkan petitum dalam gugatan baik suami atau istri adalah sebagian besar karena permasalahan krisis akhlak/ moral yang disebabkan karena lemahnya iman dan pendidikan seseoarang, faktor ekonomi yang disebabkan oleh kurangnya pemenuhan nafkah dalam rumah tangga, tidak adanya tanggungjawab dalam rumah tangga, seperti suami atau istri lari dari tanggung jawab untuk memberi nafkah maupun mengurus rumah tangga, Penganiayaan atau kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang disebabkan kurang nya kontrol pada diri sehingga tangannya ringan sekali untuk memukul, Gangguan/ hadirnya pihak ketiga dikarenakan baik suami atau istri menjalin hubungan dengan
adanya orang ketiga dalam rumah tangganya, tidak ada keharmonisan
dalam rumah tangga disebabkan karena perselisihan yang
berkepanjangan.
2. Dalam praktiknya yang terjadi di PA Salatiga, perkara yang diputus/
diselesaikan pada Tahun 2015 dan 2016, menunjukkan bahwa cerai gugat lebih mendominasi jika dibandingkan denga cerai talak. Adapun implikasinya dari perceraian adalah adanya hak rujuk bagi suami yang diputuskan talaknya yaitu talak raj‟i oleh Majelis Hakim. Selanjurnya adalah dialaminya masa iddah pada mantan istri yang ditalak dengan beberapa kriteria hukum yang menjadi pertimbangannya. Dalam hal jatuhnya talak ba‟in adalah membayar iwadl sebesar Rp. 10.000,-. Adapun salah satu perkaranya dicontohkan pada perkara nomor:
0194/Pdt.G/2016/PA.Sal. Pemberian nafkah mut‟ah oleh mantan suami
kepada mantan istri. Pasca diputuskannya perkara perkara perceraian oleh Majelis Hakim maka dalam suatu perkara, Majelis Hakim memutuskan sekalian tentang pemberian nafkah mut‟ah. Konsekuensi perceraian selanjutnya adalah tentang hak pengasuhan anak, karena hak pengasuhan anak bisa terjadi kerumitan apabila tidak diatur kemudian.
B. Saran
Dalam rangka membangun keluaga yang utuh, harmonis dan bahagia, serta meminimalisir terjadinya perceraian, ada hal-hal yang harus lebih ditekankan, yaitu:
1. Pemerintah harus lebih memperhatikan kesejahteraan rakyatnya, baik
berkaitan dengan masalah kesejahteraan ekonomi melalui penyediaan lapangan pekerjaan yang memadahi, maupun kesejahteraan dalam berumah tangga dengan memaksimalkan peran pemerintah dalam mencegah, menaggulangi, dan menekan angka perceraian.
2. Perlunya kegiatan preventif yang bisa dilakukan oleh Badan Penasehat
Perkawinan dan Penyelesaian Perceraian (BP4), dalam hal ini KUA harus pro aktif.
3. Pasangan suami istri tidak boleh gegabah dan buru-buru mengajukan
gugatanya ke Pengadilan, apabila dalam rumah tangganya sedang ditimpa masalah. Mungkin itulah ujian dalam mendewasakan salah satu dari keduanya atau malah kedua-duanya supaya tujuan pernikahanya tetap langgeng dan terjaga dari kata cerai.