• Tidak ada hasil yang ditemukan

Macam-macam dan Cara Pemutusan Hubungan Perkawinan a.Macam-macam Talak Menurut KHI a.Macam-macam Talak Menurut KHI

A. Tinjauan Umum tentang Perceraian 1.Pengertian Perceraian

2. Macam-macam dan Cara Pemutusan Hubungan Perkawinan a.Macam-macam Talak Menurut KHI a.Macam-macam Talak Menurut KHI

Dalam Inpres RI Nomor 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam (KHI) menyebutkan macam-macam talak dan cara pemutusan sebagaimana berikut:

1) Pasal 117 KHI

Talak adalah ikrar suami di hadapan sidang Pengadilan Agama yang menjadi salah satu sebab putusnya perkawinan, dengan cara sebagaimana dimaksud dalam pasal 129, 130, dan 131.

2) Pasal 118 KHI

Talak Raj`I adalah talak kesatu atau kedua, dimana suami berhak rujujk selamaisteri dalam masa iddah.

3) Pasal 119 KHI

a) talak Ba`in Shughraa adalah talak yang tidak boleh dirujuk

tapi boleh akad nikah baru dengan bekas suaminya meskipun dalam iddah.

b) Talak Ba`in Shughraa sebagaimana tersebut pada ayat (1)

adalah :

(1) talak yang terjadi qabla al dukhul;

(3) talak yang dijatuhkan oleh Pengadilan Agama.

4) Pasal 120 KHI

Talak Ba`in Kubra adalah talak yang terjadi untuk ketiga kalinya. Talak jenis ini tidak dapat dirujuk dan tidak dapat dinikahkan kembali, kecuali apabila pernikahan itu dilakukan setelah bekas isteri, menikah degan orang lain dan kemudian terjadi perceraian ba`da al dukhul dan hadis masa iddahnya.

5) Pasal 121 KHI

Talak sunny adalah talak yang dibolehkan yaitu talak yang dijatuhkan terhadap isteri yang sedang suci dan tidak dicampuri dalam waktu suci tersebut.

6) Pasal 122 KHI

Talak bid`i adalah talak yang dilarang, yaitu talak yang dijatuhkan pada waktu isteri dalam keadaan haid atau isteri dalam keadaan suci tapi sudah dicampuri pada waktu suci tersebut.

7) Pasal 123 KHI

Perceraian itu terjadi terhitung pada saat perceraian itu dinyatakan di depan sidang pengadilan.

8) Pasal 124 KHI

Khuluk harus berdasarkan atas alasan perceraian sesuai ketentuan pasal 116 KHI.

b. Macam-macam Talak menurut Hukum Islam

Secara garis besar ditinjau dari boleh atau tidaknya rujuk kembali, talak di bagi menjadi dua yaitu :

1) Talak Raj‟i

Talak raj‟i yaitu thalaq dimana suami masih mempunyai hak

untuk rujuk kepada istrinya, dimana istri dalam keadaan sudah digauli. Hal ini sesuai dengan QS Al-Baqarah : 229 yang berbunyi :

ُ ق الََّطلا

ُ

ُ نااتَّرام

ُ

ُ كااسْم إاف

ُ

ُ فو رْعام ب

ُ

ُْواأُ

ُ حي رْسات

ُ

ُ نااسْح إ ب

Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.” (QS. Al Baqarah: 229)

2) Talak Ba‟in

Talak Ba‟in adalah talak yang memisahkan sama sekali hubungan suami istri. Talak Ba‟in terbagi menjadi dua bagian : a) Talak ba‟in sughra yaitu talak yang menghilangkan hak-hak

rujuk dari bekas suaminya, tetapi tidak menghilangkan nikah baru kepada bekas istrinya. Artinya bekas suami boleh mengadakan akad nikah baru dengan bekas istri, baik dalam masa iddahnya maupun sesudah berakhir masa iddahnya.

Yang termasuk dalam talak ba‟in sughra ialah :

(1) Talak yang dijatuhkan kepada istrinya sebelum

(2) Talak dengan penggantian harta atau yang disebut khulu‟

(3) Talak karena aib (cacat badan), karena salah seorang di

penjara, talak karena penganiayaan, atau yang semacamnya

Hukum talak bai‟in sughra :

a. Hilangnya ikatan nikah antara suami dan istri.

b. Hilangnya hak bergaul bagi suami istri termasuk

berkhalwat (menyendiri berdua-duaan)

c. Masing-masing tidak saling mewarisi manakal

meninggal

d. Bekas istri, dalam masa iddah, berhak tinggal di

rumah bekas suaminya dengan berpisah tempat tidur dan mendapat nafkah

e. Rujuk dengan akad dan mahar yang baru

b) Talak ba‟in kubra, ialah talak yang mengakibatkan hilangnya hak rujuk kepada mantan istri. Walaupun keduanya baik suami istri itu masih ingin melakukanya, baik diwaktu iddah maupun sesudahya. Yang termasuk dalam thalaq bain kubra adalah : perceraian yang mengandung unsur sumpah seperti ila, zihar dan li‟an. Sebagian ulama berpendapat yang termasuk talak ba‟in

kubra adalah segala macam perceraian yang mengandung

unsur-unsur seperti : ila, zihar, dan li‟an.

Hukum talak ba‟in kubra :

(1) Hilangnya ikatan nikah antara suami dan istri

(2) Hilangnya hak bergaul bagi suami istri termasuk

berkhalwat (menyendiri berdua-duaan)

(3) Bekas istri dalam masa iddah, berhak tinggal di rumah

bekas suaminya dengan berpisah tempat tidur dan mendapat nafkah

(4) Suami haram kawin lagi dengan istrinya, kecuali

bekas istri telah kawin dengan laki-laki lain.

Maksudnya apabila seorang suami menceraikan istrinya dengan talak tiga, maka perempuan itu tidak boleh dikawini lagi sebelum perempuan tersebut menikah dengan laki-laki lain. Apabila suami yang telah terlanjur menjatuhkan talak sampai tiga kali terhadap istri, tiba-tiba menyesal, tidak boleh minta kepada seseorang untuk mengawini bekas istrinya itu, dengan permintaan setelah berlalu beberapa waktu dan setelah terjadi persetubuhan supaya menceraikan istrinya, guna memungkinkan kawin lagi dengan suami pertama itu. Dalam hubungan ini hadits Nabi riwayat Ahmad, Abu Dawud, Turmudzi, Nasai dan Ibnu Majahdari Ali memperingatkan, “Allah mengutuk laki-laki

perkawinan kembali dengan bekas suaminya yang lama) dan

laki-laki yang menyuruh orang lain kawin sebagai

muhallilnya(Basyir, 1999: 81)

Ditunjau dari segi waktu dijatuhkannya talak itu, talak dibagi menjadi tiga macam sebagai berikut:

1) Talak Sunni, yaitu talak yang dijatuhkan sesuai dengan

tuntunan as-sunnah. Dikatakan talak sunni jika memenuhi empat syarat:

a) Istri yang ditalak sudah pernah digauli, bila dijatuhkan

terhadap istri yang belum pernah digauli tidak termasuk talak sunni.

b) Istri dapat segera melakukan iddah suci setelah ditalak,

yaitu dalam keadaan suci dari haid. Menurut ulama Syafi‟iyah, perhitungan iddah bagi wanita berhaid ialah tiga kali suci, bukan tiga kali haid. Talak terhadap istri yang telah lepas haid (menopause), atau belum pernah haid, atau sedang hamil, atau karena suami meminta tebusan (khulu‟), atau ketika istri dalam haid, semuanya tidak termasuk talak sunni.

c) Talak itu dijatuhkan ketika istri dalam keadaan suci, baik

dipermulaan, dipertengahan maupun diakhir suci, kendati beberapa saat lalu datang haid.

d) Suami tidak pernah menggauli istri selama masa suci dimana itu dijatuhkan. Talak yang dijatuhkan oleh suami ketika istri dalam keadaan suci dari haid tetapi pernah diaguli, termasuk talak sunni.

2) Talak Bid‟i, yaitu talak yang dijatuhkan tidak sesuai atau

bertentangan dengan tuntunan sunnah, tidak memenuhi syarat-syarat talak sunni.

Termasuk talak bid‟i:

a) Talak yang dijatuhkan terhadap istri pada waktu haid

(menstruasi) baik dipermulaan haid maupun

dipertengahannya.

b) Talak yang dijatuhkan terhadap istri dalam keadaan suci

tetapi pernah digauli oleh suaminya dalam keadaan suci dimaksud.

3) Talak la sunni wala bid‟i, yaitu talak yang tidak termasuk

kategori talak sunni dan tidak pula termasuk talak bid‟i yaitu:

a) Talak yang dijatuhkan terhadap istri yang belum pernah

digauli.

b) Talak yang dijatuhkan terhadap istri yang belum pernah

haid, atau istri yang telah lepas haid.

Ditinjau dari segi tegas dan tidaknya kata-kata yang digunakan sebagai ucapan talak, maka talak dibagi menjadi dua macam, sebagai berikut:

1) Talak syarih, yaitu talak dengan mempergunakan kata-kata

yang jelas dan tegas, dapat dipahami sebagai pernyataan talak atau cerai seketika diucapkan, tidak mungkin dipahami lagi. Beberapa contoh talak syarih ialah seperti suami berkata kepada istrinya:

a) Engkau saya talak sekarang juga, engkau saya cerai

sekarang juga.

b) Engkau saya firaq sekarang juga,engkau saya pisahkan

sekarang juga.

Apabila suami menjatuhkan talak terhadap istri dengan talak syarih, maka menjadi jatuhlah talak dengan sendirinya, sepanjang diucapkannya itu dinyatakan dalam keadaan sadar dan atas kemauannya sendiri.

2) Talak kinayah, yaitu talak dengan mempergunakan kata

sindiran, atau samar-samar suami berkata kepada istrinya:

a) Engkau sekarang telah jauh dari diriku

b) Selesaikan sendiri segala urusanmu

c) Janganlah engkau mendekati aku lagi

d) Keluarlah engkau dari rumah ini sekarang juga

f) Susullah keluargamu sekarang juga

g) Pulanglang kerumah orang tuamu sekarang

h) Beriddahlah engkau dan bersihkanlah kandunganmu itu

i)Saya sekarang telah sendirian dan hidup membujang

j)Engkau sekarang telah bebas merdeka, hidup sendirian

Ucapan-ucapan tersebut mengandung kemungkinan cerai dan mengandung kemuungkinan lain, tentang kedudukan talak dengan kata-kata kinayah atau sidiran ini

sebagaimana dikemukakan oleh Taqiyuddin

Al-Husaini,bergantung kepada niat suami. Artinya, jika suami dengan kata-kata tersebut bermaksud menjatuhkan talak maka menjadi jatuhlah talak itu, dan jika suami dengan kata-kata tersebut tidak bermaksud menjatuhkan talak maka talak tidak jatuh. (Ghazaly, 2006:195)