• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Analisis Indeks Kritis

1. Analisis ABC Indeks Kritis

Untuk mendapatkan Nilai Indeks Kritis (NIK) obat, diperlukan

data dari NP, NI dan VEN. Ketiga varibel tersebut mengandung empat

komponen yang penting, masing-masing komponen mempunyai peran sebesar

25%, mengenai hal ini dapat dijelaskan dengan menggunakan rumus NIK,

yaitu 1NP + 1NI + 2VEN. Rumus tersebut membuktikan bahwa setiap

komponen telah memberikan kontribusinya sebesar 25% sehingga nilai total

untuk NIK adalah 100%, dari rumus tersebut dapat dilihat bahwa nilai VEN

dikalikan dua, dengan begitu VEN mempunyai peran 50% dalam penentuan

NIK yang berarti mempunyai peran yang lebih besar dalam menentukan

obat–obat yang akan hapuskan atau direkomendasikan untuk perencanaan

periode berikutnya berdasarkan nilai indek kritisnya.

Karena latar belakang pengelompokan obat kedalam kelompok

urusan farmasi ini, sifatnya sangat tergantung dari keputusan dokter dan

apoteker yang didasari akan kebutuhan dan kepentingan dalam pelayanan

kesehatan terutama pasien yang dilayani dan tidak sekedar mencari

keuntungan belaka.

Pengelompokan obat-obat kedalam kelompok VEN ini tentu saja

akan berbeda apabila rumah sakit yang bersangkutan telah memiliki

formularium sehingga mempunyai pedoman dalam menentukan mana yang

harus dipilih dan diambil keputusan.

Tabel XVIII:Jumlah Kelompok Sediaan Dalam NIK di IFRS Panti Baktiningsih Klepu,

Minggir, Sendangmulyo, Sleman, DIY dalam tiga periode (2006-2008)

Kelompok

Tahun Jumlah item obat

A B C

2006 594 57 item 245 item 292 item

2007 607 57 item 243 item 307 item

2008 607 51 item 235 item 321 item

Pada tabel XVIII tampak obat-obat yang masuk dalam kelompok C

mengalami peningkatan dari tahun ketahun, sedangkan untuk kelompok B

mengalami penurunan. Untuk obat-obat yang masuk dalam kelompok A

dalam dua tahun pertama mempunyai jumlah item yang sama dan pada tahun

ketiga mengalami penurunan. Ini merupakan pertanda bahwa ada item obat

yang dalam periode berikutnya tidak berdampak 80% atau 15% dari total hasil

suatu usaha, maka item obat tersebut dengan sendirinya apabila dilakukan

analisis sediaan ABC Indeks Kritis akan bergeser menuju kelompok C. Hal ini

dapat merupakan pertanda bahwa obat-obat tersebut dapat dihapus dari

perencanaan pada periode berikutnya. Misalnya: Renadinac 50 mg di tahun

85

dikelompok C, hal ini dapat terjadi karena tidak ada kasus yang menggunakan

obat ini atau karena alasan tertentu, misalnya penggunaan item ini telah

digantikan oleh item lain dengan nama dagang berbeda, seperti Exaflam

50mg. Dengan keadaan yang demikian kelompok obat-obat yang masuk

dalam kategori C perlu untuk diperkecil penyediaannya dan biaya yang ada di

alihkan untuk memperbesar penyediaan pada kelompok A, karena obat-obat

yang termasuk kelompok A memberikan hasil yang lebih besar bila

dibandingkan dengan hasil penjualan obat yang masuk dalam kelompok C.

Penghapusan item obat tidaklah secara automatis terjadi demikian,

inilah kegunaan dari analisis ABC Indeks Kritis, yaitu dengan

memperhitungkan NP, NI dan VEN dari suatu item obat, karena dari variable

tersebut dapat dilihat bagaimana obat tersebut selama tiga periode. Untuk

kasus renadinac 50 mg seperti yang dicontohkan diatas tidak begitu saja

dihapuskan, ini bisa dilihat dari data bahwa ternyata selama dua periode obat

tersebut dapat bertahan dalam posisi kelompok A sehingga ini tetap masuk

dalam rekomendasi untuk perencanaan periode berikutnya. Sebagai

pertimbangan dapat dilakukan dengan melihat bahwa item yang lain (Exaflam

50 mg) telah memberikan kontribusi seberapa pada saat renadinac tidak

masuk dalam kelompok A. Hal ini juga bisa menjadi pertimbangan mengapa

renadinac 50mg pada periode tertentu mengalami kemunduran dalam hal

memberikan kontribusinya.

Profil nilai indeks kritis dalam setiap tahunnya dapat dilihat pada

Nilai In d eks K ritis

0

20

40

60

Pe

rs

e

n

ta

s

e

 

Inde

k

s

 

K

rit

is

 

(%

)

2006 9.6 41.25 49.16

2007 9.39 40.03 50.58

2008 8.4 38.71 52.88

A B C

Gambar 12: Diagram Batang Nilai Indeks Kritis dalam Persen di IFRS Panti

Baktiningsih Klepu, Minggir, Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta

Gambar 12 memberi gambaran yang ditunjukkan dengan

persentase dari nilai indeks kritis dari tahun ketahun selama tiga periode, dari

diagram ini dapat dilihat perbedaan antara kelompok yang satu dengan yang

lain selama tiga tahun. Dengan menggunakan data selama tiga tahun ini

sekurang-kurangnya sudah dapat mewakili masing-masing item akan

keberadaan dalam posisinya yang mempunyai kemampuan dalam memberikan

kontribusi bagi keseluruhan hasil usaha.

Secara keseluruhan, dari gambar 12 terlihat bahwa pada kelompok

A dan B dari tahun ketahun nilai indeks kritisnya mengalami penurunan,

sedangkan untuk kelompok C mengalami peningkatan. Analisis nilai indeks

kritis ini merupakan kelanjutan dari analisis nilai pakai, nilai investasi dan

VEN yang digabungkan, sehingga didapatkan hasil seperti yang tertera pada

gambar 12. Sedangkan alur distribusi untuk setiap tahunnya akan dijelaskan

87

Distribusi Persediaan ABC

Tahun 2006

9,6%

100%

50,83%

0

10

20

30

40

50

60

70

80

90

100

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

Persentase sediaan (%)

N

il

a

i r

upi

a

h s

edi

a

a

n (

%

)

Gambar 13: Grafik Distribusi Persediaan ABC Berdasarkan Analisis ABC Indeks

Kritis Tahun 2006 di IFRS Panti Baktiningsih Klepu, DIY

Gambar 13 merupakan grafik distribusi persediaan ABC

berdasarkan analisis ABC Indeks Kritis tahun 2006, dari gambar terlihat

bahwa posisi obat pada 9,6% (57 item obat) telah memberikan kontribusi

sebesar 80% dari nilai total pendapatan, atau dapat dikatakan bahwa ada 57

item obat yang mempunyai dampak 80% terhadap total hasil usaha. Obat yang

berada pada posisi 50,83% memberikan kontribusi sebesar 15% dari nilai total

pendapatan. Adapun angka 50,83% merupakan jumlah persen kumulatif dari

kelompok A dan kelompok B yang dalam posisi itu obat dapat memberikan

kontribusi sebesar 15% dari nilai total. Sedangkan ketika obat berada dalam

posisi antara 50,83% hingga 100% obat tersebut dapat memberikan kontribusi

sebesar 5% dari nilai total pendapatan. Antara kelompok A dan B juga C

mempunyai hubungan yang berkesinambungan karena antara kelompok satu

dengan kelompok lainnya saling memberikan kontribusinya sehingga

obat-5% dari

nilai

total

15% dari nilai total

80% dari nilai

total

obat menempati posisi masing-masing dengan dampak yang berbeda terhadap

total hasil dari suatu usaha.

Ditahun 2007 alur distribusi sediaan ABC Indek Kritis tergambar

dalam grafik distribusi pada gambar 14:

Distribusi Persediaan ABC

Tahun 2007

9,39%

100%

49,42%

0

10

20

30

40

50

60

70

80

90

100

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

Persentase sediaan (%)

N

ilai r

u

p

iah

s

e

d

iaan

(

%

)

Gambar 14: Grafik Distribusi Persediaan ABC Berdasarkan Analisis ABC Indeks

Kritis Tahun 2007 di IFRS Panti Baktiningsih Klepu, DIY

Gambar 14. memperlihatkan bahwa posisi obat pada titik 9,39% (57

item obat) memberikan kontribusi sebesar 80% dari nilai total pendapatan, dan

obat yang berada pada posisi 49,42% memberikan kontribusi sebesar 15% dari

nilai total pendapatan. Adapun angka 49,42% merupakan jumlah persen

kumulatif dari persentasi kelompok A dan kelompok B, pada sisi tersebut obat

dapat memberikan kontribusinya sebesar 15% dari nilai total. Sedangkan ketika

obat berada dalam posisi antara 49,42% hingga 100%, maka obat tersebut dapat

memberikan kontribusi sebesar 5% dari nilai total pendapatan.

Dari hasil tersebut dapat dijelaskan bahwa alur distribusi obat-obat

kelompok A melaju kencang dan memberikan dampak yang besar (80%)

5%

dari

nilai

total

15%

dari

nilai

total

80% dari nilai

total

89

sedangkan kelompok B obat-obat memberikan dampak yang bergerak sedikit naik

(karena lajunya 15%) dan ketika obat berada dalam posisi C obat hampir tidak

mengalami pergerakan (karena dampak yang ditimbulkan hanya sebesar 5% saja).

Alur distribusi persediaan (obat) ditahun 2008 dapat dilihat pada

gambar 15, disini juga diperlihatkan posisi obat pada kelompok A pada posisi

8,4% (ada 51 item obat) yang telah memberikan kontribusi sebesar 80% dari nilai

total pendapatan, untuk obat yang berada pada posisi 47,11% memberikan

kontribusi sebesar 15% dari nilai total pendapatan.

Distribusi Persediaan ABC

Tahun 2008

8,4%

47,11%

100%

0

10

20

30

40

50

60

70

80

90

100

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

Persentase sediaan (%)

N

ila

i r

u

p

ia

h

s

ed

ia

a

n

(

%

)

Gambar 15: Grafik Distribusi Persediaan ABC Berdasarkan Analisis ABC Indeks

Kritis Tahun 2008 di IFRS Panti Baktiningsih Klepu, Sendangmulyo,

Minggir, Sleman DIY

Sebagaimana keterangan pada grafik distribusi tahun-tahun

sebelumnya maka pada angka 47,11% merupakan jumlah persen kumulatif

dari persentase kelompok A dan kelompok B, dan pada posisi tersebut obat

dapat memberikan kontribusi sebesar 15% dari nilai total, obat-obat ini masuk

80% dari

nilai total

15% dari nilai total

5%

dari

nilai

total

dalam kelompok B. Sedangkan ketika obat berada dalam posisi antara 47,11%

hingga 100%, maka obat tersebut hanya dapat memberikan kontribusi sebesar

5% dari nilai total pendapatan dan obat-obat yang termasuk didalamnya

adalah obat kelompok C.

Mengenai alur distribusi obat di tahun 2008 seperti gambar 15

diatas telah tergambarkan dengan jelas dan mengenai keterangan yang bisa

diberikan tidak jauh berbeda dari pada tahun sebelumnya, hal ini dikarenakan

masing-masing obat telah menempati posisinya dan dengan posisinya itu

terlihat seberapa besar kontribusi yang bisa diberikan oleh masing-masing

obat tersebut.

2. Analisis z score Indeks Kritis

Hasil analisis statistik dengan z score terhadap nilai pakai maupun

nilai investasi, sudah dijelaskan pada pokok bahasan analisis ABC nilai pakai

dan nilai invesatasi. Adanya perbedaan hasil antara kedua analisis ini

mendasari pemikiran untuk mencari solusi yang tepat dalam pemilihan

obat untuk perencanaan persediaan pada periode berikutnya. Adapun

mengenai item-item obat yang masuk dalam kelompok A, B ataupun C

menurut analisis z score, mendapat perhatian dan penanganan yang sama

sebagaimana perhatian dan penanganan pada hasil analisis ABC.

Perbedaan hasil dari kedua analisis ini selain mengenai jumlah item

juga mengenai besarnya kontribusi yang diberikan oleh setiap kelompok tidak

sama antara analisis ABC dan analisis dengan perhitungan matematika

91

mengesampingkan keterkaitan antara kelompok yang satu dengan kelompok

yang lain saling mepengaruhi. Perhitungan dilakukan untuk mengetahui

batasan nilai terendah dari suatu item obat dapat masuk dalam kelompok

tertentu dan dalam suatu periode yang tertentu pula.

Dari hasil penggabungan antara perhitungan z score pada data

NP dan data NI didapatkan pengelompokan ABC berdasarkan tingkatan

produk. Penggabungan disini menggunakan jalan pemikiran yang sama

sebagaimana dalam analisis ABC Indeks Kritis. Pencarian nilai indeks kritis

berdasarkan z score ini dengan cara menggabungkan hasil perolehan keduanya

(NI dan z score) kemudian digabung dengan analisis VEN. Langkah

berikutnya dilakukan pemberian skor dan dijumlahkan sehingga didapatkan

nilai indeks kritis dari masing-masing item obat, sehingga item obat tersebut

dapat digolongkan kedalam kelompok tertentu.

Adapun perolehan perhitungan dengan z score adalah sebagai

berikut:

Tabel XIX: Perolehan Nilai Kritis berdasarkan perhitungan z score di IFRS Panti Baktiningsih

Klepu, Minggir, Sendangmulyo, Sleman, DIY dalam tiga periode (2006-2008)

Kelompok

Tahun Jumlah item

obat A B C 0

2006 594 46 item 121 item 401 item 26

2007 607 75 item 112 item 400 item 20

2008 607 62 item 127 item 396 item 22

Dokumen terkait