BAB IV TEMUAN HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Temuan Hasil Penelitian
3. Analisis Jalur Variabel Penelitian
Dengan menggunakan aplikasi SPSS 25.00 ditemukan hasil untuk koefisien jalur X1 terhadap X2 (P21) sebagai berikut :
Tabel 4.16
Koefisien Determinasi X1 ke X2
Model Summary
Model R R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1 .903a .816 .815 7.386
a. Predictors: (Constant), Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah
Dari Output hasil SPSS diatas tampak bahwa koefisien determinasi (R2 ) sebesar 0,816 yang berarti bahwa 81,6% persen variabilitas variabel profesionalisme guru (X2) dapat dijelaskan oleh variable kompetensi manajerial kepala sekolah (X1), sehingga nilai error = 1 - R 2 = 1 - 0,816 ≈ 0,184.
Tabel 4.17 Anova Jalur X1 ke X2
ANOVAa
Model
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 35826.249 1 35826.249 656.766 .000b
Residual 8073.324 148 54.549
Total 43899.573 149
a. Dependent Variable: Profesionalisme Guru
b. Predictors: (Constant), Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah
109
Uji Signifikansi persamaan garis regresi diperoleh dari baris Regression kolom ke-5, yaitu Fhit = 656.766, dan p-value = 0,000 < 0,05 atau H0 ditolak. Dengan demikian, maka variabel kompetensi manajerial kepala sekolah berpengaruh terhadap variabel profesionalisme guru. Selanjutnya:
Tabel 4.18
a. Dependent Variable: Profesionalisme Guru
Berdasarkan hasil analisis SPSS pada tabel di atas, koefisien jalur diperoleh pada kolom Beta (standardized coefficients). Sehingga persamaan regresi : Ŷ = 30.261 + 0.895X. Dari hasil analisis diperoleh thit = 25.627 dan p-value = 0.000 / 2 = 0,000 < 0.05 sehingga H0 ditolak. Dengan demikian, maka variabel kompetensi manajerial kepala sekolah (X1) berpengaruh langsung positif terhadap profesionalisme guru (X2). Selain itu nilai konstanta sebesar 30.261 nilai ini menyatakan bahwa pada setiap terjadi kenaikan tingkat kompetensi manajerial kepala sekolah (X1) sebesar 100 % maka profesionalisme guru (X2) alam bernilai 89,5 % (positif). Koefisien regresi sebesar 0,895 (positif) menunjukkan hubungan yang searah sehingga setiap kenaikan kompetensi manajerial kepala sekolah sebesar 1 satuan maka juga akan meningkatkan profesionalisme guru sebesar 0,895 satuan.
b. Analisis Jalur Regresi X1 ke Y (Py1)
Dengan menggunakan aplikasi SPSS 25.00 ditemukan hasil untuk koefisien jalur X1 terhadap Y (Py1) sebagai berikut :
Tabel 4.19
Koefisien Determinasi Jalur X1 dan Y Model Summary
110
a. Predictors: (Constant), Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah
Dari output SPSS diatas tampak bahwa koefisien determinasi (R2) sebesar 0,774 berarti bahwa 77,4 % variabilitas variable manajemen berbasis sekolah (Y) dapat dijelaskan oleh variable kompetensi manajerial kepala sekolah (X1).
Sehingga error (ε) = 1 - R2 = 1 – 0,774 = 0,226 ≈ 0,2.
Tabel 4.20 Anova Jalur X1 ke Y
ANOVAa Model
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 24198.904 1 24198.904 505.646 .000b
Residual 7082.889 148 47.857
Total 31281.793 149
a. Dependent Variable: Manajemen Berbasis Sekolah
b. Predictors: (Constant), Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah
Berdasarkan hasil analisis pada table diatas, diperoleh F0 = 505.646; db1=
1 ; db2 = 148, p-value = 0,000 < 0,05 atau H0 ditolak. Dengan demikian variable kompetensi manajerial kepala sekolah (X1) berpengaruh terhadap variable manajemen berbasis sekolah (Y). Selanjutnya :
Tabel 4.21 Koefisien Jalur X1 ke Y
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 33.350 5.427 6.145 .000
Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah
.735 .033 .880 22.487 .000
a. Dependent Variable: Manajemen Berbasis Sekolah
Dari table Coefficients diperoleh harga t0 = 22.487 dan p-value = 0,000 / 2 = 0,000< 0,05 atau H0 ditolak. Dengan demikian, variable kompetensi manajerial kepala sekolah (X1) berpengaruh langsung positif terhadap manajemen berbasis sekolah (Y). Selain itu nilai konstanta sebesar 33.350 nilai ini menyatakan bahwa pada setiap terjadi kenaikan tingkat kompetensi manajerial kepala sekolah (X1) sebesar 100 % maka manajemen berbasis sekolah (Y) alam bernilai 73,5 % (positif). Koefisien regresi sebesar 0,735 (positif) menunjukkan hubungan yang searah sehingga setiap kenaikan kompetensi manajerial kepala
111
sekolah sebesar 1 satuan maka juga akan meningkatkan manajemen berbasis sekolah sebesar 0,735 satuan.
c. Analisis Jalur X2 ke Y
Dengan menggunakan aplikasi SPSS 25.00 ditemukan hasil untuk koefisien jalur X2 terhadap Y (Py2) sebagai berikut :
Tabel 4.22
Koefisien Determinasi Jalur X2 ke Y Model Summary
Model R R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
Change Statistics R
Square Change
F
Change df1 df2
Sig. F Change 1 .868a .754 .752 7.215 .754 452.896 1 148 .000 a. Predictors: (Constant), Profesionalisme Guru
Dari output SPSS diatas tampak bahwa koefisien determinasi (R2) sebesar 0,754 berarti bahwa 75,4 % variabilitas variable manajemen berbasis sekolah (Y) dapat dijelaskan oleh variable profesionalisme guru (X2). Sehingga error (ε) = 1 – 0,754 = 0,246 ≈ 0,2.
Tabel 4.23 Anova Jalur X2 ke Y
ANOVAa
Model
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 23577.121 1 23577.121 452.896 .000b
Residual 7704.672 148 52.059
Total 31281.793 149
a. Dependent Variable: Manajemen Berbasis Sekolah b. Predictors: (Constant), Profesionalisme Guru
Berdasarkan hasil analisis pada table diatas diperoleh F0 = 452.896, db1=
1, db2 = 148, p-value = 0,000 < 0,05 atau H0 ditolak. Dengan demikian, variable profesionalisme guru berpengaruh terhadap variable manajemen berbasis sekolah . Selanjutnya,
Tabel 4.24 Koefisien Jalur X2 ke Y
Coefficientsa
112
a. Dependent Variable: Manajemen Berbasis Sekolah
Berdasarkan hasil analisis SPSS pada table diatas, koefisien jalur diperoleh pada kolom Beta (Standardized Coefficients), yaitu koefisien jalur X2
ke Y (Py1) = 0,868. Hipotesis yang akan diuji adalah : H0 : γy1 ≤ 0
H1 : γy1 > 0
Dari table Coefficients diperoleh harga t0 = 21.281 dan p-value = 0,000 / 2 = 0,000< 0,05 atau H0 ditolak. Dengan demikian, variable profesionalisme guru (X2) berpengaruh langsung positif terhadap manajemen berbasis sekolah (Y).
Selain itu nilai konstanta sebesar 0,733 nilai ini menyatakan bahwa pada setiap terjadi kenaikan tingkat kompetensi manajerial kepala sekolah (X1) sebesar 100
% maka profesionalisme guru (X2) akan bernilai 73,3 % (positif). Koefisien regresi sebesar 0,733 (positif) menunjukkan hubungan yang searah sehingga setiap kenaikan kompetensi manajerial kepala sekolah sebesar 1 satuan maka juga akan meningkatkan profesionalisme guru sebesar 0,733 satuan.
d. Analisis Jalur Regresi Ganda X1 ke Y (Py1) dan X2 ke Y (Py2) Dengan menggunakan aplikasi SPSS 25.00 ditemukan hasil untuk koefisien jalur X1 terhadap Y (Py1) dan X2 terhadap Y (Py2) sebagai berikut : a. Predictors: (Constant), Profesionalisme Guru, Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah
Uji Signifikansi koefisien korelasi ganda diperoleh dari table Model Summary diatas. Terlihat bahwa koefisien korelasi ganda (R) = 0,896 dan F hit (F Change) = 299.670, serta p-value = 0.000 < 0,05 atau H0 ditolak. Dengan demikian , koefisien korelasi ganda antara X1 dan X2 dengan Y adalah berarti atau
113
signifikan. Sedangkan koefisien determinasi ditunjukkan oleh R Square = 0.803, yang mengandung makna bahwa 80,3 % variabilitas variable manajemen berbasis sekolah (Y) dapat dijelaskan oleh kompetensi manajerial kepala sekolah (X1) dan profesionalisme guru (X2) , sehingga dapat disimpulkan bahwa pengaruh kompetensi manajerial kepala sekolah dan profesionalisme guru secara bersama-sama memepengaruhi manajemen berbasis sekolah sebesar 80,3%.
Tabel 4.26 Anova Jalur X1 dan X2 ke Y
ANOVAa
Model
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 25120.499 2 12560.249 299.670 .000b
Residual 6161.295 147 41.914
Total 31281.793 149
a. Dependent Variable: Manajemen Berbasis Sekolah
b. Predictors: (Constant), Profesionalisme Guru, Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah
Dari hasil analisis yang disarikan pada table ANOVA diatas diperoleh , harga statistik F, kolom ke-5 yaitu Fhit = 299.670, dan p-value = 0.000 < 0,05 atau hal ini berarti H0 ditolak. Artinya terdapat pengaruh linear variable kompetensi manajerial kepala sekolah dan profesionalisme guru dengan variable manajemen berbasis sekolah. Hal ini juga bermakna terdapat pengaruh secara bersama-sama (simultan) kompetensi manajerial kepala sekolah dan profesionalisme guru terhadap manajemen berbasis sekolah.
Tabel 4.27
Koefisien Jalur X1 dan X2 ke Y Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 23.126 5.527 4.184 .000
Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah
.433 .071 .518 6.068 .000
Profesionalisme Guru .338 .072 .400 4.689 .000 a. Dependent Variable: Manajemen Berbasis Sekolah
Dari table coefficients diatas, pada kolom B diperoleh konstanta b0 = 6.406, koefisien regresi b1 = 0.433, dan b2 = 0.338. Sehingga persamaan regresi linear ganda adalah Ŷ = 23.126 + 0.433X1 + 0.338 X2.
Hipotesis : H0 : β1 ≤ 0 vs H1 : β1 > 0 dan H0 : β2 ≤ 0 vs H1 : β2 > 0.
114
Dari hasil analisis seperti disarikan pada table menunjukkan harga statistik untuk koefisien variable X1 yaitu thit = 6.068 dan p-value = 0.000/2 = 0.000 < 0,05 (uji pihak kanan), atau H0 ditolak, yang bermakna kompetensi manajerial kepala sekolah berpengaruh positif terhadap manajemen berbasis sekolah. Selanjutnya harga statistik untuk koefisien X2 yaitu thit = 4.689 dan p-value = 0.000/2 = 0.000 < 0,05 (uji pihak kanan), atau H0 ditolak, yang bermakna profesionalisme guru berpengaruh positif terhadap manajemen berbasis sekolah.
e. Analisis Jalur Mediasi X1 ke Y melalui X2
Pengaruh tak langsung variabel eksogen terhadap variabel endogen yaitu pengaruh tak langsung X1 terhadap Y melalui X2, pengaruh ini dapat dihitung dengan cara melalui hasil dari uji pengaruh langsung antar variabel yang dirangkum dalam tabel berikut :
Tabel 4.28
Hasil Uji Pengaruh Langsung Pengaruh Langsung antar
Variabel
Koefisien
Jalur Thitung Ttabel Kesimpulan X1 terhadap X2 (P21) 0.816 25,627 1.65521 Signifikan
X1 terhadap Y (PY1) 0.774 22,487 1.65521 Signifikan X2 terhadap Y (PY2) 0.754 21,281 1.65521 Signifikan
Berdasarkan table diatas maka dapat diperoleh data hasil analisis pengaruh langsung antar variabel, pengujian pengaruh tidak langsung variabel kompetensi manajerial kepala sekolah (X1) terhadap variabel manajemen berbasis sekolah (Y) melalui variabel profesionalisme guru (X2) diperoleh dengan cara mengalikan koefisien jalur pengaruh langsung antara variabel kompetensi manajerial kepala sekolah terhadap variable manajemen berbasis sekolah (P21) dengan koefisien jalur pengaruh langsung variabel profesionalisme guru terhadap manajemen berbasis sekolah (Py2) sebagai berikut (P21)(Py2) = 0,816 x 0,754 = 0,607
Selanjutnya untuk menentukan apakah nilai pengaruh tidak langsung signifikan adalah dengan cara membandingkan nilai koefisien jalur antara pengaruh langsung variabel X1 terhadap Y dan pengaruh tidak langsung variabel X1 terhadap Y melalui X2, dengan asumsi sebagai berikut :
Jika Py1 < (P21)(Py2), maka pengaruh tidak langsung ditolak Jika Py1 > (P21)(Py2), maka pengaruh tidak langsung diterima
Karena pengaruh langsung Py1 : 0,774 > (P21)(Py2): 0,607 maka hipotesis pengaruh tidak langsung di diterima atau terdapat pengaruh tidak langsung yang positif dan signifikan kompetensi manajerial kepala sekolah (X1) terhadap manajemen berbasis sekolah (Y) sekolah melalui profesionalisme guru (X2).
115 C. Pembahasan Hasil Penelitian
1. Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil pengujian diatas, maka rincian temuan penelitian dapat dilihat dalam tabel berikut :
Tabel 4.29
Rangkuman Hasil Penelitian Analisis Jalur Koefisien
Jalur
T
hitung T tabel Sig. Kesimpulan Jalur X1 ke X2 0,816 25,627 1,97591 0,000 Signifikan
Jalur X1 ke Y 0,774 22,487 1,97591 0,000 Signifikan Jalur X2 ke Y 0,754 21,281 1,97591 0,000 Signifikan Jalur X1 dan X2
ke Y secara bersama-sama
0,803 23,126 1,97591 0,000 Signifikan Jalur X1 ke Y
melalui X2
Py1 : 0,774 > (P21)(Py2): 0,607 Signifikan
a. Kompetensi manajerial kepala sekolah (X1) memiliki pengaruh langsung yang positif dan signifikan terhadap profesionalisme guru (X2).
Dengan demikian maka variasi tinggi rendahnya profesionalisme seorang guru dipengaruhi oleh variable kompetensi manajerial kepala sekolah. Besar pengaruh langsung adalah sebesar 0,949, oleh karenanya jika dilihat besarnya kontribusi kompetensi manajerial kepala sekolah maka didapat angka sebesar 0,816 x 100 % = 81,6 %. Hal ini berarti variable profesionalisme guru dapat dijelaskan sebesar 81,6 % oleh variable kompetensi manajerial kepala sekolah, sehingga dapat disimpulkan bahwa variable kompetensi manajerial kepala sekolah berpengarih terhadap variable profesionalisme guru sebesar 81,6 % sedangkan sisanya 18,4 % dipengaruhi oleh variable lain diluar penelitian.
Kemudian pada uji hipotesis berdasarkan analisis data, nilai koefisien beta (β) = 0,816 dan menunjukkan t hitung sebesar 25,627 dengan nilai Sig. = 0,000 dimana < 0,05. Hasil tersebut menunjukkan bahwa variable kompetensi manajerial kepala sekolah dalam penelitian ini memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap profesionalisme guru. Artinya, dengan kompetensi manajerial kepala sekolah yang tinggi maka tingkat profesionalisme guru akan semakin meningkat. Kompetensi manajerial kepala sekolah menimbulkan hal yang positif bagi tingkat profesionalisme guru.
Hal ini sesuai dengan penelitian Gorton (2006:8) yang mengatakan bahwa kompetensi manajerial penting bagi kinerja serta keprofesionalan seorang guru, oleh karena itu, kepala sekolah harus bertindak sebagai manajer yang efektif. Indikator kepala sekolah yang efektif adalah ia harus mampu mengatur semua potensi sekolah agar dapat berfungsi secara optimal. Selain itu, kepala
116
sekolah juga harus mampu melakukan fungsi-fungsi manajerial dengan baik yang meliputi planning, organizing, actuating, dan controlling.
Dari hasil analisis terbukti bahwa terdapat pengaruh kompetensi manajerial kepala sekolah terhadap profesionalisme guru pada SMP Negeri tingkat Kecamatan Pamulang , Kota Tangerang Selatan dengan didapat angka sebesar 94.9 %. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kompetensi manajerial kepala sekolah dalam menerapkan fungsi manajemen di sekolah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat profesionalisme guru. Adapun pengaruh tersebut bersifat positif artinya semakin tinggi tingkat kompetensi manajerial kepala sekolah semakin meningkat profesionalisme para guru.
Beberapa teori yang telah disebutkan mendukung hasil penelitian ini baik secara teorik maupun empiric yang menemukan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan kompetensi manajerial kepala sekolah terhadap profesionalisme guru pada SMP Negeri tingkat Kecamatan Pamulang , Kota Tangerang Selatan.
b. Kompetensi manajerial kepala sekolah (X1) memiliki pengaruh langsung yang positif dan signifikan terhadap manajemen berbasis sekolah (Y).
Dengan demikian maka variasi sukses atau tidaknya manajemen di sebuah sekolah dipengaruhi oleh variable kompetensi manajerial kepala sekolah.
Besar pengaruh langsung adalah sebesar 0,774, oleh karenanya jika dilihat besarnya kontribusi kompetensi manajerial kepala sekolah maka didapat angka sebesar 0,774 x 100 % = 95,6 %. Hal ini berarti variable manajemen berbasis sekolah dapat dijelaskan sebesar 77,4 % oleh variable kompetensi manajerial kepala sekolah, sehingga dapat disimpulkan bahwa variable kompetensi manajerial kepala sekolah berpengarih terhadap variable manajemen berbasis sekolah sebesar 77,4 % sedangkan sisanya 22,6 % dipengaruhi oleh variable lain diluar penelitian.
Kemudian pada uji hipotesis berdasarkan analisis data, nilai koefisien beta (β) = 0,774 dan menunjukkan t hitung sebesar 22,487 dengan nilai Sig. = 0,000 dimana < 0,05. Hasil tersebut menunjukkan bahwa variable kompetensi manajerial kepala sekolah dalam penelitian ini memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap manajemen berbasis sekolah. Artinya, dengan kompetensi manajerial kepala sekolah yang tinggi maka tingkat implementasi manajemen berbasis sekolah juga akan semakin baik. Kompetensi manajerial kepala sekolah menimbulkan hal yang positif bagi implementasi manajemen berbasis sekolah.
Hal ini sesuai dengan pendapat Supriadi (1998:346) yang menungkapkan bahwa salah satu sumber daya manusia yang merupakan komponen penting dalam menentukan keberhasilan manajemen berbasis sekolah adalah kepala sekolah.
Kepala sekolah menjadi sangat penting dalam menentukan kualitas mutu Pendidikan karena kepala sekolah adalah seorang manajer, administrator, penentu kebijakan dan pamong di sekolah tersebut. Oleh karena itu tidak berlebihan jika kepala sekolah adalah variable yang paling disorot dalam penelitian Pendidikan.
Penelitian lain juga menyebutkan bahwa skill manajerial kepala sekolah memiliki pengaruh positif terhadap implementasi Manajemen Berbasis Sekolah. Kondisi
117
tersebut mengindikasi- kan semakin baik skill manajerial kepala sekolah, maka implementasi Manajemen Berbasis Sekolah akan semakin meningkat (Susetyo 2013:117).
Dari hasil analisis terbukti bahwa terdapat pengaruh kompetensi manajerial kepala sekolah terhadap manajemen berbasis sekolah pada SMP Negeri tingkat Kecamatan Pamulang , Kota Tangerang Selatan dengan didapat angka sebesar 77,4 %. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kompetensi manajerial kepala sekolah dalam menerapkan fungsi manajemen di sekolah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat implementasi manajemen berbasis sekolah. Adapun pengaruh tersebut bersifat positif artinya semakin tinggi tingkat kompetensi manajerial kepala sekolah semakin meningkat pula keberhasilan implementasi manajemen berbasis sekolah.
Beberapa teori yang telah disebutkan mendukung hasil penelitian ini baik secara teorik maupun empiric yang menemukan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan kompetensi manajerial kepala sekolah implementasi manajemen berbasis sekolah pada SMP Negeri tingkat Kecamatan Pamulang , Kota Tangerang Selatan.
c. Profesionalisme guru (X2) memiliki pengaruh langsung yang positif dan signifikan terhadap manajemen berbasis sekolah (Y).
Dengan demikian maka variasi sukses atau tidaknya manajemen di sebuah sekolah dipengaruhi oleh pofesionalisme seorang guru. Besar pengaruh langsung adalah sebesar 0,754, oleh karenanya jika dilihat besarnya kontribusi profesionalisme guru maka didapat angka sebesar 0,754 x 100 % = 75,4%. Hal ini berarti variable manajemen berbasis sekolah dapat dijelaskan sebesar 75,4 % oleh variable profesionalisme guru, sehingga dapat disimpulkan bahwa variable profesionalisme guru berpengarih terhadap variable manajemen berbasis sekolah sebesar 75,4 % sedangkan sisanya 24,6 % dipengaruhi oleh variable lain diluar penelitian.
Kemudian pada uji hipotesis berdasarkan analisis data, nilai koefisien beta (β) = 0.754 dan menunjukkan t hitung sebesar 21,281 dengan nilai Sig. = 0,000 dimana < 0,05. Hasil tersebut menunjukkan bahwa variable profesionalisme guru dalam penelitian ini memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap manajemen berbasis sekolah. Artinya, dengan tingkat profesionalisme guru yang tinggi maka keberhasilan implementasi manajemen berbasis sekolah juga akan meningkat. Profesionalisme guru menimbulkan hal yang positif bagi implementasi manajemen berbasis sekolah.
Hal ini sesuai dengan yang diungkapkam Wahyusumidjo (2016:119) yang menyatakan bahwa implementasi manajemen berbasis sekolah dilihat melalui proses perencanaan kegiatan atau penyusunan program sekolah dengan melibatkan unsur para guru yang professional serta masyarakat yang akan mendorong terwujudnya terwujudnuya keterbukaan dan akan menekan tingkat kesalahan perencanaan hingga minimal.
Dari hasil analisis terbukti bahwa terdapat pengaruh profesionalisme guru terhadap implementasi manajemen berbasis sekolah pada SMP Negeri tingkat Kecamatan Pamulang , Kota Tangerang Selatan dengan didapat angka sebesar
118
75,4 %. Hasil tersebut menunjukkan bahwa profesionalisme guru dalam menjalankan tugas dan kewajibannya di sekolah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap implementasi manajemen berbasis sekolah. Adapun pengaruh tersebut bersifat positif artinya semakin tinggi tingkat profesionalisme guru maka semakin meningkat pula keberhasilan implementasi manajemen berbasis sekolah.
Beberapa teori yang telah disebutkan mendukung hasil penelitian ini baik secara teorik maupun empiric yang menemukan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan profesionalisme guru terhadap implementasi manajemen berbasis sekolah pada SMP Negeri tingkat Kecamatan Pamulang , Kota Tangerang Selatan.
d. Kompetensi manajerial kepala sekolah (X1) dan profesionalisme guru (X2) secara bersama-sama tidak memiliki pengaruh langsung yang positif dan signifikan terhadap implementasi manajemen berbasis sekolah (Y).
Paradigma keberhasilan manajemen berbasis sekolah berkaitan dengan mutu sekolah, dimana dalam hal ini mutu sekolah mencakup input, proses, dan output. Lebih jauh dijelaskan bahwa input Pendidikan adalah segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses, yang dimaksud sesuatu adalah berupa sumber daya dan perangkat lunak. Input sumber daya manusia seperti kepala sekolah dan guru, dalam hal ini proses mensukseskan manajemen di tingkat sekolah adalah peranan dari kepala sekolah dan para gurunya.
Hasil analisis pada penelitian ini menemukan adanya pengaruh yang signifikan kompetensi manajerial kepala sekolah dan profesionalisme guru terhadap manajemen berbasis sekolah pada SMP Negeri tingkat Kecamatan Pamulang , Kota Tangerang Selatan dengan angka pengaruh sebesar 80,3 %. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kompetensi manajerial kepala sekolah dan profesionalisme guru dalam menerapkan perannya di sekolah memiliki pengaruh yang signifikan jika dilakukan bersamaan terhadap tingkat keberhasilan implementasi manajemen berbasis sekolah. Hal ini dikarenakan variabel kompetensi manajerial kepala sekolah maupun variabel profesionalisme guru memiliki korelasi yang kuat dengan variabel independent yang diteliti
Beberapa teori yang telah disebutkan mendukung hasil penelitian ini baik secara teorik maupun empiric yang menemukan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan kompetensi manajerial kepala sekolah dan profesionalisme guru terhadap implementasi manajemen berbasis sekolah pada SMP Negeri tingkat Kecamatan Pamulang , Kota Tangerang Selatan.
e. Kompetensi manajerial kepala sekolah (X1) berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap manajemen berbasis sekolah (Y) melalui profesionalisme guru (X2).
Dengan demikian maka variasi berhasil atau tidaknya manajemen berbasis sekolah dipengaruhi oleh variabel kompetensi manajerial kepala sekolah melalui profesionalisme guru. Besar pengaruh langsung adalah sebesar 0,607 sehingga dapat ditemukan besaran kontribusi kompetensi manajerial kepala
119
sekolah secara langsung terhadap manajemen berbasis sekolah melalui profesionalisme guru adalah 0,607 x 100 % = 60,7 %. Hal ini berarti variable manajemen berbasis sekolah dapat dijelaskan sebesar 60,7 % oleh variable kompetensi manajerial kepala sekolah melalui variable profesionalisme guru, sehingga dapat disimpulkan bahwa variable kompetensi manajerial kepala sekolah berpengaruh terhadap variable manajemen berbasis sekolah melalui variable profesionalisme guru sebesar 60,7 % sedangkan sisanya 39,3 % dipengaruhi oleh variable lain diluar penelitian.
Hal ini sesuai dengan penelitian Gumelar (2002:1) yang mengatakan bahwa manajemen berbasis sekolah adalah system pengelolaan sekolah yang memberikan otonomi luas kepada kepala sekolah beserta guru dalam menyelenggarakan atau mengelola pendidikan . Dalam hal ini dibututuhkan kepala sekolah yang memiliki kompetensi manajerial dan guru yang professional.
Dari hasil analisis terbukti bahwa terdapat pengaruh kompetensi manajerial kepala sekolah terhadap manajemen berbasis sekolah melalui profesionalisme guru pada SMP Negeri tingkat Kecamatan Pamulang , Kota Tangerang Selatan dengan didapat angka sebesar 60,7 %. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kompetensi manajerial kepala sekolah dalam menerapkan fungsi manajemen di sekolah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap implementasi manajemen berbasis sekolah melalui tingkat profesionalisme guru.
Adapun pengaruh tersebut bersifat positif artinya semakin tinggi tingkat kompetensi manajerial kepala sekolah semakin meningkat keberhasilan implementasi manajemen berbasis sekolah.
Beberapa teori yang telah disebutkan mendukung hasil penelitian ini baik secara teorik maupun empiric yang menemukan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan kompetensi manajerial kepala sekolah terhadap manajemen berbasis sekolah melalui profesionalisme guru pada SMP Negeri tingkat Kecamatan Pamulang , Kota Tangerang Selatan.
2. Keterbatasan Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat beberapa keterbatasan dan kelemahan yang tidak dapat dihindari peneliti.
Pertama, pendekatan penelitian positivisme yang menggunakan metode kuantitatif mendapat kesulitan dalam mengukur hal hal yang bersifat kualitatif secara mendalam dalam satu variabel.
Kedua, Keterbatasan waktu dan populasi penelitian. Peneliti hanya memilih beberapa kepala sekolah dan guru sesuai arahan dari pihak sekolah saja.
Ketiga, instrumen penelitian variabel kompetensi manajerial kepala sekolah dan profesionalisme guru adalah berupa angket yang bersifat self evaluation artinya responden mengevaluasi diri sendiri, sehingga dimungkinkan ada responden yang memberikan jawaban tidak pada keadaan sebenarnya, walaupun instrumen telah dirancang semaksimal mungkin dan telah diuji validitas dan reliabilitas.
120 D. Diskusi Hasil Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis apakah implementasi manajemen berbasis sekolah berhasil dilaksanakan meski dibawah pengaruh kompetensi manajerial seorang kepala sekolah dan profesionalisme para gurunya. Berikut akan dijabarkan analisis hipotesis penelitian secara teoritis untuk mendukung hasil analisis data secara statistik.
1. Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah Berpengaruh Langsung Secara Positif dan Signifikan terhadap Profesionalisme Guru
Guru yang professional adalah guru yang mampu mengelola dirinya sendiri dalam melaksanakan tugas sehari-hari, hal ini tentunya akan menjadi salah satu sorotan masyarakat terhadap kualitas Pendidikan. Mencermati pendidikan sebagai sebuah sorotan masyarakat maka profesionalisme guru tidak terlepas dari kompetensi manajerial kepala sekolah dalam headmaster dan top manajemen dalam mengelola sekolah dan memberdayakan guru. Semakin baik Kompetensi manajerial kepala sekolah memberdayakan guru maka profesionalisme guru akan meningkat (Habibi 2015:194).
Hasil temuan pada penelitian ini mendukung beberapa penelitian sebelumnya seperti penelitian yang dilakukan Habibi pada tahun 2015 yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara kompetensi manajerial kepala sekolah terhadap profesionalisme guru. Pengaruh positif disini berarti jika kompetensi manajerial seorang kepala sekolah baik, maka profesionalisme para gurunya juga akan semakin baik. Maka secara tidak langsung penelitian ini juga mendukung penelitian tesis yang dilakukan oleh Fazruyah El-Faradis pada tahun 2016 dan penelitian Farid yang menyatakan bahwa kepala sekolah dengan kompetensi manajerial yang baik akan mampu memberikan pengarahan dan contoh terhadap bawahannya dari berbagai bentuk kegiatan di sekolah. Dari hal tersebut profesionalisme guru juga akan meningkat dilihat dari keaktifan mereka menjalankan semua Amanah dan tugas yang diberikan (Farid 2018:334)
Menurut Apriana dkk dalam jurnalnya (2017:12) dinyatakan bahwa Kepemimpinan yang efektif adalah kepemimpinan yang sanggup menciptakan
Menurut Apriana dkk dalam jurnalnya (2017:12) dinyatakan bahwa Kepemimpinan yang efektif adalah kepemimpinan yang sanggup menciptakan