• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEPENDIDIKAN UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2021 M/ 1443 H

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEPENDIDIKAN UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2021 M/ 1443 H"

Copied!
182
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH KOMPETENSI MANAJERIAL KEPALA SEKOLAH DAN PROFESIONALISME GURU TERHADAP

IMPLEMENTASI MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (Studi Kasus pada SMP Negeri Tingkat Kecamatan

Pamulang, Kota Tangerang Selatan)

TESIS

Diajukan kepada Magister Manajemen Pendidikan Islam untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Magister Pendidikan (M.Pd.)

Disusun oleh:

Viika Amalia Ainuna Wati NIM : 21190181000009

PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEPENDIDIKAN UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

202 1 M/ 1443 H

(2)

ii

UJI PLAGIASI Hasil Uji Turnitin

(3)

iii Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : Viika Amalia Ainuna Wati

Tempat / Tanggal Lahir : Brebes, 12 Juni 1997

NIM : 21190181000009

Prodi : Magister Manajemen Pendidikan Islam

Judul Tesis : Pengaruh Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah dan Profesionalisme Guru terhadap Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (Studi Kasus pada SMP Negeri tingkat Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan)

Dosen Pembimbing : Dr. Sita Ratnaningsih, M.Pd.

Dengan ini menyatakan bahwa tesis yang saya buat benar-benar hasil karya sendiri, dan saya bertanggung jawab secara akademik atas apa yang saya tulis. Pernyataan ini dibuat sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Magister Pendidikan (M.Pd.)

(4)

iv

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING

Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa :

Nama : Viika Amalia Ainuna Wati

Tempat / Tanggal Lahir : Brebes, 12 Juni 1997

NIM : 21190181000009

Prodi : Magister Manajemen Pendidikan Islam

Judul Tesis : Pengaruh Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah dan Profesionalisme Guru terhadap Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (Studi Kasus pada SMP Negeri tingkat Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan)

Dosen Pembimbing : Dr. Sita Ratnaningsih, M.Pd.

Mahasiswa tersebut diatas sudah selesai masa bimbingan tesis dan disetujui untuk pendaftaran ujian tesis.

Jakarta, 10 Agustus 2021 Dosen Pembimbing

Dr. Sita Ratnaningsih, M.Pd NIDN. 20002076901

(5)

v

LEMBAR PENGESAHAN SEMINAR HASIL

Tesis dengan judul “Pengaruh Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah dan Profesionalisme Guru terhadap Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (Studi Kasus pada SMP Negeri Tingkat Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan)” yang disusun oleh Viika Amalia Ainuna Wati dengan NIM 21190181000009, telah diujikan dalam Seminar Hasil Program Magister Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada Jum’at, 17 September 2021. Tesis ini telah diperbaiki sesuai saran-saran dari penguji sebagai salah satu syarat mengikuti Sidang Promosi Tesis.

Jakarta, 17 September 2021

Tanggal Tanda Tangan

Penguji 1

Dr. Jejen Musfah, M.A. 01 Oktober 2021

Penguji II

Dr. Otong Suhyanto, M.Si. 01 Oktober 2021

(6)

vi

(7)

vii DAFTAR ISI

LEMBAR PERNYATAAN KARYA SENDIRI………... iii

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING……… iv

LEMBAR PENGESAHAN SEMINAR HASIL……… v

LEMBAR PENGESAHAN TESIS……… vi

DAFTAR ISI……….. vii

DAFTAR GAMBAR……….. ix

DAFTAR TABEL……….. x

ABSTRAK……….. xii

PEDOMAN TRANSLITERASI………... xiv

KATA PENGANTAR……….... xvii

BAB 1 PENDAHULUAN……….. 1

A. Latar Belakang Masalah……….... 1

B. Identifikasi Masalah……….. 10

C. Fokus Penelitian……… 11

D. Rumusan Masalah………. 11

E. Tujuan Penelitian………... 11

F. Manfaat Penelitian………... 12

G. Sistematika Penulisan……….... 13

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR………. 14

A. Landasan Teori……….. 14

1. Manajemen Berbasis Sekolah………. 14

2. Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah………. 35

3. Profesionalisme Guru……….. 55

B. Penelitian Terdahulu yang Relevan………... 69

C. Kerangka Berpikir………. 71 1. Pengaruh Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah (X1)

terhadap Profesionalisme Guru (X2)………...

71 2. Pengaruh Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah (X1)

terhadap Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (Y)…….

73 3. Pengaruh Profesionalisme Guru (X2) terhadap Implementasi

Manajemen Berbasis Sekolah (Y)………..

73 4. Pengaruh Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah (X1) dan

Profesionalisme Guru (X2) Secara Bersama-sama terhadap Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (Y)………

74

5. Pengaruh Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah (X1) terhadap Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (Y) melalui Profesionalisme Guru (X2)……….

74

(8)

viii

D. Hipotesis Penelitian………. 76

BAB III METODE PENELITIAN ……… 77

A. Metode Penelitian……….. 77

B. Tempat dan Waktu Penelitian………... 78

C. Populasi dan Sampel……….. 80

D. Teknik Pengumpulan Data……… 83

E. Instrumen Penelitian……….. 83

F. Validitas dan Realibilitas Instrumen………. 88

G. Teknik Analisis Data………. 90

H. Hipotesis Statistik……….. 96

BAB IV TEMUAN HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN………. 97

A. Karakteristik Responden Penelitian……….. 97

B. Temuan Hasil Penelitian……… 99

1. Deskripsi Variabel Penelitian………. 99

2. Pengujian Persyaratan Analisis………... 104

3. Analisis Jalur Variabel Penelitian………... 108

C. Pembahasan Hasil Penelitian………. 115

D. Diskusi Hasil Penelitian……… 120

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN………. 128

A. Kesimpulan……… 128

B. Saran……….. 128

DAFTAR PUSTAKA………. 131

LAMPIRAN………... 137

(9)

ix

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 APM Kota Tangerang Selatan………... 6 Gambar 2.1 Paradigma Konsep MBS………... 22 Gambar 2.2 Skema Berfikir MBS di Indonesia………. 24 Gambar 2.3 Kerangka Konsep Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah 54 Gambar 2.4 Model Teoritik Penelitian Analisis Jalur………... 67 Gambar 3.1 Diagram Jalur Penelitian………... 93 Gambar 4.1 Histogram Frekuensi Variabel Kompetensi Manajerial

Kepala Sekolah……….

101 Gambar 4.2 Histogram Frekuensi Variabel Profesionalisme Guru………... 102 Gambar 4.3 Histogram Frekuensi Variabel Manajemen Berbasis Sekolah... 103

(10)

x

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Rekap Data Sekolah, Siswa, dan Guru Provinsi Banten……... 6

Tabel 1.2 Rasio Rombongan Belajar Provinsi Banten………. 7

Tabel 2.1 Kelompok Sekolah dalam MBS………... 32

Tabel 3.1 Metode Penelitian……… 78

Tabel 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian……….. 79

Tabel 3.3 Target Penelitian……….. 80

Tabel 3.4 Penskoran Skala Likert……… 83

Tabel 3.5 Kisi-kisi instrument variable manajemen berbasis sekolah….. 83

Tabel 3.6 Kisi-kisi instrument variable kompetensi manajerial kepala sekolah………. 85 Tabel 3.7 Kisi-kisi instrument variable profesionalisme guru…………. 87

Tabel 3.8 Hasil Validitas instrument……… 88

Tabel 3.9 Hasil Uji Realibilitas Instrumen………... 90

Tabel 3.10 Matriks Korelasi……….. 94

Tabel 4.1 Karakteristik Usia Responden……….. 97

Tabel 4.2 Karakteristis Jenis Kelamin Responden………... 97

Tabel 4.3 Karakteristik Pendidikan Terakhir Responden……… 98

Tabel 4.4 Karakteristik Lama Menjadi Kepala Sekolah/Guru…………. 98

Tabel 4.5 Deskripsi Variabel Penelitian……….. 99

Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Variabel Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah……… 100 Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Variabel Profesionalisme Guru………... 101

Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Variabel Manajemen Berbasis Sekolah.. 103

Tabel 4.9 Hasil Uji Normalitas Data……… 104

Tabel 4.10 Hasil Uji Homogenitas Data……… 105

Tabel 4.11 Hasil Uji Linearitas Data……….. 106

Tabel 4.12 Hasil Uji Multikolinearitas Data……….. 107

Tabel 4.13 Hasil Uji Autokorelasi Data………. 107

Tabel 4.14 Hasil Nilai Durbin Witson………... 107

Tabel 4.15 Hasil Uji Heteroskedastisitas Data………... 107

Tabel 4.16 Koefisien Determinasi X1 ke X2………... 108

Tabel 4.17 Anova Jalur X1 ke X2………... 108

Tabel 4.18 Koefisien Jalur X1 ke X2………... 109

Tabel 4.19 Koefisien Determinasi X1 ke Y……… 109

Tabel 4.20 Anova Jalur X1 ke Y………. 110

Tabel 4.21 Koefisien Jalur X1 ke Y……… 110

Tabel 4.22 Koefisien Determinasi Jalur X2 ke Y……… 111

(11)

xi

Tabel 4.23 Anova Jalur X2 ke Y………. 111

Tabel 4.24 Koefisien Jalur X2 ke Y……… 111

Tabel 4.25 Koefisien Determinasi Jalur X1 dan X2 ke Y……… 112

Tabel 4.26 Anova Jalur X1 dan X2 ke Y………. 113

Tabel 4.27 Koefisien Jalur X1 dan X2 ke Y……… 113

Tabel 4.28 Hasil Uji Pengaruh Langsung……….. 114

Tabel 4.29 Rangkuman Hasil Penelitian……… 115

(12)

xii ABSTRAK

Viika Amalia Ainuna Wati, NIM : 21190181000009 : “Pengaruh Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah dan Profesionalisme Guru terhadap Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (Studi Kasus pada SMP Negeri tingkat Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan).

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis tentang pengaruh kompetensi manajerial kepala sekolah dan profesionalisme guru terhadap implementasi manajemen berbasis sekolah. Berdasarkan tujuan tersebut maka penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif, melalui pendekatan Deskriptif Inferensia, artinya data yang diperoleh menggambarkan fakta sebenarnya, kemudian fakta dianalisis untuk menemukan hubungan antar variabel. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan studi dokumentasi untuk memperoleh data sekunder, sedangkan data primer diperoleh melalui instrumen angket. Data kemudian diolah dan dianalisis menggunakan uji statistik, sebelumnya instrumen penelitian diuji validitas menggunakan korelasi product pearson dan diuji reliabilitas menggunakan Alpha Cronbach, selanjutnya dilakukan uji persyaratan analisis, yaitu : uji normalitas, uji homogenitas, uji linearitas, uji multikolinearitas, uji autokorelasi dan uji heteroskedastisitas. Baru kemudian dilakukan uji analisis menggunakan analisis jalur dengan model campuran regresi ganda. Adapun populasi penelitian adalah semua kepala sekolah dan guru SMP Negeri di Kecamatan Pamulang, teknik sampling menggunakan rumus Slovin dari keseluruhan populasi yang jika dibulatkan akan menghasilkan jumlah 150 , setelah jumlah keseluruh sampel didapat lalu dihitung kembali menggunakan jenis sampel Proportionate Stratified Random Sampling untuk membagi masing-masing responden yang akan diambil pada tiap sekolah tempat penelitian.

Dari analisis hasil penelitian diperoleh bahwa : kompetensi manajerial kepala sekolah berpengaruh langsung secara signifikan terhadap profesionalisme guru sebesar 81,6 %, kompetensi manajerial kepala sekolah berpengaruh langsung secara terhadap manajemen berbasis sekolah sebesar 77,4 %, profesionalisme guru berpengaruh langsung secara signifikan terhadap manajemen berbasis sekolah sebesar 75,4 %, kompetensi manajerial kepala sekolah dan profesionalisme guru secara bersama-sama berpengaruh langsung secara signifikan terhadap manajemen berbasis sekolah dengan nilai pengaruh sebesar 80,3 %. Kemudian kompetensi manajerial kepala sekolah melalui profesionalisme guru memiliki pengaruh terhadap manajemen berbasis sekolah sebesar 60,7 %.

Kata kunci : Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah, Profesionalisme Guru, Manajemen Berbasis Sekolah

(13)

xiii ABSTRACT

Viika Amalia Ainuna Wati, NIM : 21190181000009 : “The Effect of Principal Managerial Competence and Teacher Professionalism on the Implementation of School-Based Management (Case Study at SMP Negeri Pamulang District, South Tangerang City).

The purpose of this study was to determine and analyze the effect of principal managerial competence and teacher professionalism on the implementation of school- based management. Based on these objectives, this study uses quantitative research methods, through descriptive inferential approach, meaning that the data obtained describe the actual facts, then the facts are analyzed to find the relationship between variables. Data was collected by observation, interviews and documentation studies to obtain secondary data, while primary data was obtained through a questionnaire instrument. The data were then processed and analyzed using statistical tests, the instruments tested for validity were tested using Pearson product correlation and tested for reliability using Alpha Cronbach, then the analysis requirements were tested, namely: normality test, homogeneity test, linearity test, multicollinearity test, autocorrelation test and heteroscedasticity test. . Only then did the analysis test using path analysis with a mixed multiple regression model. The research population is all principals and teachers of public junior high schools in Pamulang District, the sampling technique uses the Slovin formula from the entire population which, if rounded off, will produce a total of 150, after the total number of samples is obtained and then calculated again using the type of sample Proportionate Stratified Random Sampling to divide each respondent to be taken at each school where the study.

From the analysis of the research results, it was found that: principal's managerial competence had a significant direct effect on teacher professionalism by 81.6%, principal's managerial competence had a direct effect on school-based management by 77.4%, teacher professionalism had a significant direct effect on school-based management. schools by 75.4%, the managerial competence of the principal and the professionalism of teachers together have a significant direct effect on school-based management with an influence value of 80.3%. Then the principal's managerial competence through teacher professionalism has an influence on school- based management by 60.7%.

Keywords: Principal Managerial Competence, Teacher Professionalism, School- Based Management.

(14)

xiv

PEDOMAN TRANSLITERASI

Transliterasi Arab-Latin yang digunakan dalam tesis ini berpedoman pada buku “Pedoman Penullisan Kaya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi)” yang diterbitkan oleh Tim CeQDA (Center For Quality Development dan Assurance) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2007.

A. Konsonan

Arab Nama Latin Keterangan

ا

Alif - Tidak dilambangkan

ب

Ba’ B Be

ت

Ta’ T Te

ث

Tsa’ Ts Te dan s

ج

Jim J Je

ح

Ḥa’ Ha dengan titik dibawah

خ

Kha’ Kh Ka dan Ha

د

Dal D De

ذ

Dzal Dz De dan zet

ر

Ra’ R Er

ز

Zai Z Zet

س

Sin S Es

ش

Syin Sy Es dan ye

ص

Şad Es dengan titik dibawah

ض

Ḍad De dengan titik dibawah

ط

Ṭa Te dengan titik dibawah

ظ

Ẓa Zet dengan titik dibawah

ع

‘Ain ʻ Koma terbalik

(15)

xv

غ

Ghain Gh Ge dan ha

ف

Fa F Ef

ق

Qaf Q Qi

ك

Kaf K Ka

ل

Lam L El

م

Mim M Em

ن

Nun N En

و

Wau W We

ه

Ha’ H Ha

ء

Hamzah Apstrof

ي

Ya’ Y Ya

B. Vokal

Vokal dalam Bahasa Arab, terdiri dari vocal tunggal, vocal rangkap, dan vocal Panjang. Ketiganya adalah sebagai berikut :

1. Vokal tunggal

Tanda Vokal Nama Latin Keterangan

ا

Fathah A A

ا

Kasrah I I

ا

Dammah U U

Contoh :

ك ل ه

: Halaka

ي ب

: Bayana

(16)

xvi 2. Vokal Rangkap

Tanda Vokal Nama Latin Keterangan

َ ي َ ا Fathah dan Ya sukun Ai A dan I

َ و ا Fathah dan Wau sukun Au A dan U

Contoh :

سْي ل

: Laisa

لْو ح

: Haula

3. Vokal Panjang

Tanda Vokal Nama Latin Keterangan

ب

Fathah dan Ba Bā A dengan garis diatas

ْ ب

Kasrah dan Ba Bĩ I dengan garis diatas

ْو ب

Dammah dan Ba Bū U dengan garis diatas

(17)

xvii

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanairrahim..

Puji Syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga peneliti mampu menyelesaikan tesis ini dengan judul

“Pengaruh Kompetensi Manajerial Kepala Sekolah dan Profesionalisme Guru terhadap Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah” . Penulis tesis ini melakukan penelitian dengan harapan dapat memberikan suatu wawasan baru dan menambah hasanah keilmuan dalam bidang pendidikan guna memenuhi sebagian persyaratan untuk memperoleh gelar Magister Manajemen Pendidikan Islam di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Peneliti menyadari bahwa penyusunan tesis ini bukan semata-mata atas upaya pribadi peneliti dan tidak pula sedikit hambatan yang dihadapi, namun berkat bantuan dan motivasi yang tidak ternilai dari berbagai pihak, akhirnya tesis ini dapat selesai tepat pada waktunya. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati pada kesempatan kali ini penulis mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :

1. Prof. Dr. Amany Burhanuddin Lubis, Lc, MA selaku Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Dr. Sururin, M.Ag selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

3. Dr. Zahrudin, Lc, M.Pd. selaku Ketua Program Magister Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Dr. Sita Ratnaningsih, M.Pd selaku pembimbing yang telah memberikan waktu dan tenaganya untuk melakukan bimbingan dan selalu sabar dalam memberikan arahan kepada penulis.

5. Seluruh Dosen Program Magister Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmu.

6. Suamiku Abdurohman dan anakku tercinta Rumaisha Zayna Rahman yang selalu menjadi penyemangat dalam menghadapi segala tantangan disetiap inci penyelesaian tesis ini.

7. Bapak Kasto dan Mamah Ade Hamidah yang senantiasa mendidik, mensupport, dan mendo’akan penulis sehingga penulis selalu merasakan kasih sayang dan semangat . Serta Adik penulis, Mohammad Remas Adi Prasetyo yang selalu membuat penulis semakin sabar dan mengerti cara management waktu yang baik dalam penyusunan tesis ini.

(18)

xviii

8. Seluruh kepala sekolah dan guru di SMPN tingkat Kecamatan Pamulang, kota Tangerang Selatan yang mau bekerja sama dan memberikan dukungan dalam penyelesain tesis ini.

9. Sahabat-sahabat tersayang Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Islam (MPI) yang selalu saling support dan kompak dalam mengingatkan penyelesaian tesis ini.

Peneliti berharap semoga Allah SWT membalas semua kebaikan dan ketulusan hati dengan keberkahan dan keridhaan dari Allah SWT. Akhir kata penulis menyadari bahwa tesis ini masih banyak kekurangan baik isi maupun susunannya. Semoga tesis ini dapat bermanfaat tidak hanya bagi penulis juga bagi para pembaca. Aamiin.

Tangerang Selatan, 22 Oktober 2021

Viika Amalia Ainuna Wati, S.Pd.

NIM . 21190181000009

(19)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Suatu bangsa pada hakikatnya akan menjadikan kualitas SDM sebagai cerminan dari tingkat kualitas pendidikan karena dari Pendidikan merupakan tempat pembentukan kualitas SDM hingga dilahirkan. Bahkan adanya krisis multidimensial karena rendahnya kualitas SDM juga berkaitan erat dengan seluruh proses yang ada dalam Pendidikan. Oleh hal itu maka setiap lembaga Pendidikan diberikan tugas utama untuk meningkatkan kualitas Pendidikan yang dari hal inilah muncul manajemen berbasis sekolah (MBS) sebagai paradigma baru yang memberikan kepercayaan luas kepada sekolah untuk dapat menyelenggarakan setiap jenjang Pendidikan menjadi lebih efektif dan berkualitas.

Kegiatan sekolah tidak hanya dijadikan sebagai kerumunan pembelajaran antara murid dan guru akan tetapi semua itu berada dalam lingkup sistem yang terbilang kompleks. Setiap sistem dalam ruang lingkup sekolah ini saling berhubungan yang pengelolaannya sudah pasti memerlukan SDM unggul untuk menghasilkan output yang mampu bersaing di era globalisasi dan banyaknya tuntutan masyarat karena dari output lah itu semua akan memberikan pengaruh pada pembangunan bangsa.

Di masa sekarang, setiap sekolah seakan sedang berlomba-lomba dalam memperlihatkan citra bahwasanya sekolahnya tersebut merupakan sekolah favorit dan juga mempunyai mutu pembelajaran lebih berkualitas. Namun pada kenyataannya, mutu pembelajaran tidaklah berbeda dengan sekolah-sekolah lainnya selama proses pengelolaan dan pelaksanaan dalam sekolah tersebut belum baik dan benar. Memang dalam perihal tersebut, sekolah bisa dikatakan sebagai suatu lembaga pendidikan yang telah memiliki tatanan sistem yang cukup rumit sehingga memerlukan pengelolaan, pengaturan, penataan dan pemberdayaan yang terbaik sehingga sekolah dapat menghasilkan produk yang optimal. Guna mewujudkannya sekolah harus memiliki perangkat dan unsur yang saling berkaitan, diantaranya perangkat guru, murid dan kurikulum. Selain itu sekolah juga harus memiliki hubungan dengan instansi lain seperti hubungan dengan orangtua siswa, masyarakat, pemerintah dan dunia usaha.

Dalam perkembangannya, peserta didik dikenalkan dengan adanya sekolah negeri dan swasta. Sekolah Negeri sering dianggap sebagai Lembaga Pendidikan yang hanya menitikberatkan pada kesesuaian pelaksanaan kegiatan dengan aturan-aturan yang diberikan oleh pemerintah. Pemahaman terhadap sekolah Negeri yang demikian mengakibatkan pengelolaan atau manajemen sekolah menjadi semakin tidak diketahui perkembangannya oleh stakeholder sekolah secara merata. Sekolah di tingkat sekolah negeri yang sering diperbincangkan sekarang adalah tingkat SMP. Karena tingkat SMP merupakan tingkat peralihan masa anak-anak. Sekolah Menengah Pertama diartikan sebagai salah satu tingkat satuan Pendidikan dasar yang secara formal telah melalui tingkat sekolah dasar. Pada umumnya peserta didik tingkat Pendidikan menengah

(20)

2

pertama ini ini memiliki usia sekitar 12 hingga 15 tahun. Dimana pada usia tersebut mereka sudah dapat dianggap memasuki masa remaja.

Pendidikan yang diberikan kepada remaja tidaklah cukup dengan memberikan Pendidikan formal saja, akan tetapi juga perlu diberikan Pendidikan nonformal. Dalam hal ini sekolah banyak berperan dalam pemberian materi pendidikan yang dibutuhkan para remaja tersebut. Berbeda dengan sekolah swasta, pada umumnya sekolah negeri memiliki peserta didik yang lebih banyak.

Untuk itu sudah seharusnya manajemen Pendidikan yang bersifat klasik di sekolah negeri mulai ditinggalkan dan beralih ke manajemen yang lebih aplikatif dan fleksibel sehingga sekolah negeri mampu menjadi Lembaga Pendidikan yang diperhitungkan masyarakat dan menumbuhkan banyaknya minat peserta didik lulusan sekolah dasar (SD) yang berkeinginan melanjutkan studinya ke sekolah menengah pertama (SMP) Negeri.

Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri tingkat kecamatan Pamulang, kota Tangerang Selatan sebagai kecamatan yang memiliki beberapa SMP Negeri yang dinilai memiliki kualitas tinggi. Selain gratis, sekolah negeri lebih prestige.

Disamping penilaian perihal prestige, sekolah yang dinilai bagus di masyakarakat diyakini telah mampu mengelola manajemennya dengan baik. Bukti nyata bagusnya sistem manajemen pada sekolah negeri dapat terlihat disetiap pelaksanaan PPDB. Sebagian besar orangtua lebih memilih SMP Negeri untuk anaknya. Sehingga sekolah negeri memperoleh peserta didik yang semakin banyak pada saat itu. Hal ini meyakinkan peneliti untuk memilih sekolah yang berkualitas sebagai objek penelitian. Memberangkatkan putra-putri kesayangannya untuk menimba ilmu di sekolah terbaik merupakan salahsatu impian utama setiap orang tua, mereka akan berusaha sekuat tenaga agar putra- putrinya kelak bisa unggul dalam segala prestasi bidang akademik dan non akademik. Para murid dan orangtua memiliki alasan yang beragam agar bisa bersekolah di sekolah negeri favorit. Alasan mereka hampir serupa, yakni biaya sekolah yang gratis, kualitas pendidikan yang mulai unggul, serta prestige orang tua dan murid.

Dalam konteks Pendidikan saat ini, idealnya setiap penjuru sekolah menginginkan sekolah tempatnya menimba ilmu unggul disegala bidang, dan untuk mewujudkannya diperlukan sebuah manajemen yang baik didalamnya.

Salah satu langkah terbaik yang pada umumnya diterapkan adalah Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Manajemen Berbasis Sekolah dikatakan berkontribusi positif yang diberikan kepada sekolah untuk mampu menyediakan pendidikan yang lebih bermutu dan lebih memadai bagi peserta didik. Dengan penerapan MBS, peluang baik akan semakin nyata bagi kepala sekolah, guru, dan peserta didik untuk berkegiatan dan melakukan banyaknya inovasi serta improvisasi di sekolah, terkait dengan masalah kurikulum, pembelajaran manajerial dan lain sebagainya yang tumbuh dari rangkaian aktivitas, kreativitas, dan profesionalisme yang dimiliki dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Konsep kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah, menurut Hadiyanto (2004:32) didasarkan dengan arti modelling yakni sebagai model manajemen pada sekolah yang memberikan otonomi lebih besar kepada warga sekolah (guru, Kepala madrasah, orang tua dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu. Kebijakan ini

(21)

3

diharapkan dapat diterapkan disekolah-sekolah di Indonesia termasuk sekolah negeri.

Namun kenyataan dilapangan Pendidikan sekarang, pengelolaan sistem manajemen pendidikan sebagian besar masih banyak yang menggunakan sistem sentralistik atau terpusat. Sehingga mengakibatkan hilangnya kemandirian kepala sekolah dan guru dalam usaha pengembangan sekolah dan anak didiknya. Konsep Manajemen Berbasis sekolah (MBS) ini pertama kali muncul di Amerika Serikat.

Di latar belakangi karena masyarakat mempertanyakan tentang relevansi dan korelasi pendidikan yang diselenggarakan di sekolah dengan tuntutan kebutuhan masyarakat. Bertitik tolak dari kondisi tersebut, dipandang sekolah perlu membangun suatu sistem yang mampu memberikan kemampuan dasar bagi peserta didik. Muncullah penataan sekolah melalui konsep MBS yang diartikan sebagai wujud dari reformasi pendidikan yang meredesain dan memodifikasi struktur pemerintah ke sekolah dengan pemberdayaan sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional. (Sagala, 2004: 17).

Lain halnya dengan sekolah negeri, sekolah swasta yang memang didesain sejak awal mulai dari 0 berdiri melalui sistem MBS, memiliki manajemen yang lebih bebas dengan ditandai keunggulan komparatif yakni kewiraswastaan dan nonbirokrasi. Sifat kewiraswastaan ini juga akan mewarnai manajemen sekolah, yakni inovatif dan luwes sedangkan non birokrasi mempengaruhi munculnya sekolah-sekolah swasta dengan mengesampingkan syarat-syarat hukum dan teknis dalam pendirian sekolah (Rahardja, 2002: 2).

Keberhasilan pendidikan dengan sistem MBS ini dapat diukur dari diagram-diagram yang meliputi: input, proses, output dan outcome. (Engkoswara, 1988: 54). Pertama, input yaitu diantaranya adalah kualitas guru haruslah profesional dalam pengembangan ide kreativitasnya sehingga dapat menunjang mutu pembelajaran. Kedua, proses pembelajaran, pada umumnya pembelajaran ditekankan pada proses pengajaran oleh guru (teacher teaching) dibandingkan dengan proses pembelajaran oleh murid (student learning). (Rahardja, 2002: 5).

Ketiga, output, diantaranya adalah masyarakat dan dunia usaha. Hal ini pula yang menjadi tolok ukur peningkatan mutu pembelajaran di sekolah, karena sekolah yang baik merupakan suatu kebanggaan baik bagi pengelola (yayasan) ataupun bagi masyarakat sekitar (Fattah, 1999: 3).

Penelitian mengenai hal tersebut pernah dilakukan oleh Afriansyah mahasiswa Universitas Diponegoro, dengan judul “Manajemen Berbasis Sekolah” menyatakan bahwa Manajemen Berbasis Sekolah merupakan suatu konsep yang menawarkan otonomi pada sekolah untuk menentukan adanya kebijakan sekolah dalam rangka mengupayakan peningkatan mutu, efisiensi, dan pemerataan pendidikan dengan tujuan agar mengakomodasi keinginan masyarakat setempat serta menjalin kerja sama yang erat antara sekolah, masyarakat, dan pemerintah. Dengan adanya implementasi Manajemen Berbasis Sekolah muncullah harapan untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan yang ada saat ini. Manajemen Berbasis Sekolah telah dianggap sebagai faktor penting dalam reformasi sekolah di Indonesia terhadap pendirian sekolah-sekolah yang mampu bekerja secara independen dan mendapatkan dukungan dari warga sekolah serta masyarakat setempat. Dan dalam hal ini implementasi manajemen

(22)

4

berbasis sekolah di SMP negeri diharapkan dapat meningkatkan mutu serta kualitas yang tidak kalah jauh dengan SMP swasta yang unggul diwilayahnya.

Perihal tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan pelaksanaan MBS tidak terlepas dari kepemimpinan yang bermutu. Salah satu model kepemimpinan kepala sekolah adalah kepemimpinan manajerial. Urgensi dari dilaksanakannya penelitian ini adalah kepala sekolah sebagai manager yang dituntut untuk memiliki keterampilan manajerial yang memadai. Disisi lain, tampak bahwa tanggung jawab kepala sekolah jelas lebih tinggi dan kompleks masalahnya jika dibandingkan dengan tenaga kependidikan lainnya, di tingkat sekolah. Maka dari itu, nilai dari sebuah Lembaga pendidikan sebagian besarnya akan ditentukan oleh mampu atau tidaknya seorang kepala sekolah mampu menggerakan seluruh komponen kependidikan yang tersedia dengan modal kepemimpinan yang dimilikinya. Dari hal tersebut dapat diketahui bahwa semakin seorang kepala sekolah mampu mendinamisir guru, maka semakin besar pula peluang bagi dirinya untuk tampil menjadi pemimpin berkualitas yang dapat mengelola lembaga pendidikan secara profesional.

Selain peran dari kepala sekolah, guru juga ikut menentukan keberhasilan dari penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Guru merupakan unsur sumber daya yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan di sekolah, karena guru merupakan unsur pmanusiawi yang sangat dekat hubungannya dengan siswa dalam upaya pendidikan sehari-hari di sekolah. Adapun penanggung jawab keterlaksanaan proses pembelajaran di kelas adalah guru. Pemberdayaan terhadap mutu para guru yang ada di sekolah perlu dilakukan secara terus menerus, dan berkelanjutan. Hal tersebut tentu tidak lepas dari unsur manajemen berbasis sekolah.

Hal ini serupa dengan penelitian yang dilaksanakan oleh Sulaiman dkk, dengan judul “Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru di SD Negeri 10 Banda Aceh”. Profesionalisme merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam meningkatkan mutu lembaga pendidikan terutama bagi Lembaga Pendidikan yang menerapkan system Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Profesionalisme dalam konteks ini adalah profesionalisme guru. Profesionalisme guru diartikan sebagai kemampuan dasar bagi guru dalam melaksanakan tugas profesi dengan penuh tanggung jawab yang didukung dengan bekal intelektual serta memiliki kompetensi perilaku, sehingga mampu membawa siswa berhasil mencapai tujuan pembelajaran, memiliki kompetensi perilaku, serta mampu membawa siswa berhasil mencapai tujuan pembelajaran. Profesionalisme guru harus ditunjang oleh suatu sikap dimana seorang guru dapat mengikuti dinamika kehidupan selaras dengan perkembangan zaman dengan mengikuti berbagai pelatihan, seminar, maupun pendidikan yang berkelanjutan.

Dalam penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa kepala sekolah dan para guru sama-sama memiliki peranan yang sangat penting dalam manajemen berbasis sekolah. Pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dilandasi dan diperkuat oleh Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2000 yang membahas mengenai Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) Tahun 2000-2004 pada bab VII tentang bagian program pembangunan bidang pendidikan khususnya dalam

(23)

5

terwujudnya manajemen pendidikan yang berbasis pada sekolah dan masyarakat (school/ community based management) yang menjadi sasaran”, hal ini juga termaksud dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (khususnya yang terkait dengan MBS adalah Bab XIV, Pasal 51, Ayat (1), dijelaskan bahwa ”pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan menerapkan prinsip manajemen berbasis sekolah/

madrasah.”, selain itu dalam Kepmendiknas nomor 087 tahun 2004 juga dibahas tentang standar akreditasi sekolah, khususnya tentang manajemen berbasis sekolah., sertaUndang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan (khususnya yang terkait dengan MBS adalah Bab II, Pasal 3); “Badan hukum pendidikan memiliki tujuan untuk memajukan pendidikan nasional dengan menerapkan manajemen berbasis sekolah/ madrasah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta adanya penerapan otonomi perguruan tinggi pada jenjang pendidikan tinggi”.

Untuk itu Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) disebut sebagai alternatif baru yang dapat dijadikan terobosan dalam mengelola pendidikan yang lebih menekankan kepada kemandirian dan kreativitas sekolah. Manajemen berbasis sekolah juga dianggap sebagai sebuah sarana yang memungkinkan para profesional pendidikan untuk dapat beradaptasi dengan kekuatan perubahan dalam sistem pendidikan saat ini. Pengetahuan sangat diperlukan lebih banyak memperbaiki manajemen pendidikan dan hal itu sebenarnya sudah ada dalam komunitas pendidikan itu sendiri, beberapa kesulitan utama yang dihadapi para profesional pendidikan sekarang ini adalah karena ketidakmampuannya menghadapi beberapa sistem yang gagal sehingga menjadi kendala bagi para profesional pendidikan untuk mengembangkan dan meningkatkan mutu pendidikan.

Berdasarkan pendapat Fattah dalam bukunya (2004:1) diungkapkan bahwa “manajemen ialah proses merencanakan, mengorganisasi, dan memimpin serta mengendalikan adanya upaya organisasi dengan segala aspeknya agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efesien”. Sedangkan Masrukhin mengatakan bahwa profesionalisme guru merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan maupun kegagalan dari implementasi manajemen berbasis sekolah (MBS). Hal ini dikarenakan guru merupakan ujung tombak dalam proses pembelajaran. Salah satu pilar dari manajemen berbasis sekolah adalah adanya inovasi pembelajaran yang muaranya adalah peningkatan hasil belajar dan mutu sekolah yang memang sudah menjadi tujuan para stake holder sekolah.

Penelitian ini dilakukan di kecamatan Pamulang kota Tangerang Selatan.

Tangerang Selatan merupakan kota baru yang memiliki beberapa keunggulan, salahsatunya adalah adanya fasilitas Pendidikan yang lengkap. Karena kecamatan Pamulang berada di Tangerang Selatan maka daerah tersebut juga akan menjadi concern dalam setiap pertumbuhan dan perkembangan yang ada di kota Tangerang Selatan. Hal ini merupakan bagian dari penjabaran visi kota Tangerang Selatan yaitu “Terwujudnya TangSel kota cerdas, berkualitas, dan berdaya saing berbasis teknologi dan inovasi”yang point pentingnya adalah sekolah.

(24)

6

Angka partisipasi murni Pendidikan (APM) tingkat Pendidikan menengah di kota Tangerang Selatan menunjukkan angka yang naik turun dari tahun 2012 hingga 2019, hal ini menunjukkan bahwa daya serap atau partisipasi penduduk antar usia dan jenjang Pendidikan menengah juga tidak dapat dipastikan akan meningkat maupun menurun. Namun dilihat dari rekap data pokok Pendidikan dapat diketahui bahwa jumlah sekolah, guru, dan siswa yang diupdate pada tahun 2020 memiliki angka yang sangat tinggi, begitupun dengan rasio rombongan belajarnya, khususnya untuk kota Tangerang Selatan yang merupakan salahsatu bagian dari provinsi Banten. Oleh sebab itu kebutuhan akan hadirnya sekolah yang memiliki manajemen yang baik sangat diharapkan guna merealisasikan visi kota Tangerang Selatan yang telah ditetapkan. Dibawah ini adalah gambar grafik Angka Partisipasi Murni (APM) Kota Tangerang Selatan.

Gambar 1.1 APM Kota Tangerang Selatan

Gambar 1.1 APM Kota Tangerang Selatan

Sumber : APM Kemdikbud dan Kemenag Kota Tangerang Selatan data kemdikbud.co.id diakses tanggal 22 Januari 2021.

Selain APM diatas, berikut rekap data pokok Pendidikan se-provinsi Banten yang didalamnya termasuk kota Tangerang Selatan.

Tabel 1.1

Jumlah Sekolah, Guru dan Siswa

Identifikasi Jumlah

Sekolah 7.253

Guru 92.856

Siswa 2.037.944

(25)

7 Tabel 1.2

Rasio Rombongan Belajar terhadap Mutu Pendidikan yang disesuaikan antara Pendidik dan Peserta Didik

SD 9.09

SMP 9.78

SMA 11.76

SMK 12.76

PLB 18.19

Sumber : Dapodik Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten. Diakses tanggal 30 Juli 2021.

Berkaitan erat dengan informasi dan data diatas, maka dibutuhkan pengelolaan manajemen berbasis sekolah yang baik, dimana didalamnya membutuhkan peran dari kepala sekolah dan juga para guru untuk mewujudkannya. Dalam hal ini seorang pemimpin harus memiliki kompetensi manajerial yang diharapkan serta guru yang bersikao professional dalam pelaksanaannya. Untuk mengelola sekolah dengan baik dibutuhkan manajer yang profesional, dengan kemampuan manajerial yang baik, kepala sekolah diharapkan mampu memberdayakan potensi guru dan staf sekolah, dan meningkatkan produktivitas juga mutu pendidikan di sekolah. kemampuan manajerial yang baik berpengaruh pada semua sektor usaha sekolah dalam pendidikan dari sarana prasarana, pembelajaran, ekstrakurikuler, pengembangan kompetensi guru, pengelolaan keuangan, hingga proses penilaian peserta didik. Dilihat dari posisi kepala sekolah sebagai seorang manajer dalam satu lembaga maka kompetensi manajerial mutlak menjadi syarat keterlaksanaan program program yang dibuat sekolah.

Kemampuan seorang kepala sekolah erat kairannya dengan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki, pengalaman dan pengetahuan berkembang berbanding lurus dengan lamanya kepala sekolah menempati jabatannya, artinya semakin lama seorang menduduki sebuah jabatan maka pengalaman dan pengetahuannya tentang tugas dan tanggung jawab pada jabatan tersebut semakin meningkat, dari data profil kepala sekolah SMP Negeri tingkat Kecamatan Pamulang kota Tangerang Selatan diperoleh data bahwa dari SMP Negeri 17 Kota Tangerang Selatan pernah dikepalai oleh seorang kepala sekolah yang notabene memiliki banyak prestasi, bahkan beliau pernah mewakili provinsi Banten untuk mengikuti kompetisi kepala sekolah berprestasi. Hal ini menunjukkan bahwa kepala sekolah berpengaruh besar dalam pengelolaan sekolah.

Berdasarkan survey awal yang dilakukan pada beberapa sekolah menengah pertama (SMP) Negeri terutama di Kecamatan Pamulang Kota Tangerang Selatan, pelaksanaan MBS dinilai cukup baik, sekolah Negeri sudah dianggap sejajar dan ikut eksis jika dibandingkan dengan sekolah swasta yang berkualitas. Namun terdapat juga SMP Negeri yang belum maksimal dalam pengelolaan MBS. Hal ini terungkap bahwa belum terlaksananya program MBS dengan baik. Terindikasi pada sekolah yang belum maksimal walaupun sudah diberikan kemandirian untuk mengelola sumber daya sendiri. Sekolah belum

(26)

8

sepenuhnya melibatkan warganya dalam pengambilan keputusan untuk melakukan perubahan. Kepala sekolah belum memandang guru sebagai mitra kerjanya, dan masih mengedepankan kekeluargaan dari pada profesionalitas dalam melakukan pekerjaan. Bahkan untuk beberapa sekolah para guru dan yang lain tidak berminat untuk terlibat langsung. Sebagian orang tidak menginginkan adanya kerja tambahan selain pekerjaan yang sekarang mereka lakukan. Mereka tidak memiliki minat untuk ikut serta dalam kegiatan yang menurut mereka hanya menambah beban. Anggota dewan sekolah dalam hal ini harus lebih banyak menggunakan waktunya untuk hal-hal yang menyangkut perencanaan dan anggaran. Akibatnya kepala sekolah dan guru tidak memiliki banyak waktu lagi yang tersisa untuk memaksimalkan pekerjaan mereka. Oleh karena itulah tidak semua guru akan berminat dalam prosesnya.

Selain itu dibeberapa sekolah pihak-pihak yang berkepentingan besar sama sekali tidak atau belum memiliki pengalaman dalam menerapkan model yang rumit dan partisipatif ini. Bahkan mereka berkemungkinan besar tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang hakikat MBS yang sebenarnya dan bagaimana cara kerjanya, pengambilan keputusan, komunikasi,dan sebagainnya.Atau jika ada beberapa pihak sekolah yang memahami pun terkadang warga yang lain tidak ikut berpartisipasi, sehingga MBS tidak bisa berjalan secara maksimal. Jadi untuk implementasi MBS memang harus ada pelatihan terlebih dahulu.

Terkait hal tersebut implementasi MBS juga akan membuat beberapa stakeholder sekolah mengalami ketidakfahaman atas tugas dan tanggung jawab baru. Tanggung jawab terbaru dari pihak-pihak yang terlibat kemungkinan besar telah sangat terkondisi dengan adanya iklim kerja yang selama ini di geluti dalam dunia pekerjaan sekolah. Peran MBS mengubah peran dan tanggung jawab para pihak yang berkepentingan. Perubahan yang dilakukan mendadak tersebut kemungkinan besar akan menimbulkan kejutan dan ketidakfahaman sehingga mereka ragu untuk memikul tangung jawab pengambilan keputusan.

Kesulitan koordinasi dalam pelaksanaan MBS juga akan ikut menghambat. Dalam pengambilan langkah penerapan MBS ini setiap penerapan model yang rumit dan cukup kegiatan yang beragam yang mengahsruskan adanya koordinasi yang efektif dan efisien. Tanpa itu kgeiatan yang beragam akan berjalan sendiri ketujuannnya masing-masing yang kemungkinan besar menjauh dari tujuan utama sekolah Apabila pihak-pihak yang berkepentingan telahh dilibatkan sejak awal mereka dapat memastikan bahwa setiap hambatan telah ditangani sebelum penerapan MBS.

Pelaksanaan wawancara awal dengan salahsatu kepala sekolah di Pamulang juga memberikan pernyataan yang sama dengan hal tersebut. Beliau menyatakan bahwa di SMP Negeri masih sulit untuk mengembangkan program- program yang dirancang oleh warga internal. Contohnya pada SMPN 21 Kota Tangerang Selatan, Sekolah tersebut sudah melaksanakan adanya program kelas pengayaan yang dalam proses pengusulannya menyebabkan pro-kontra didalamnya. Di sekolah juga masih ada guru-guru yang menolak ide-ide baru tentang pendidikan, kurangnya kreatifitas guru untuk menciptakan hal-hal baru dalam pendidikan dan pengajaran, tingkat kelulusan ujian akhir nasional siswa

(27)

9

cenderung rendah, para orang tua siswa hanya berpartisipasi dalam hal materi (dana), orang tua kurang peduli dengan kemajuan sekolah. Tidak berfungsinya komite sekolah dalam menyalurkan aspirasi orang tua dan masyarakat, bahkan sekolah hanya mengikuti semua langkah-langkah sesuai anjuran pemerintah tanpa adanya inovasi secara mandiri.

Dalam hal Pendidikan secara mandiri, kepala sekolah sebagai pemimpin dan manajer maupun adminstrator harus terus menerus mempelajari keilmuan baik yang berhubungan dengan kebijakan pemerintah, keorganisasisan maupun pembelajaran untuk mengembangkan program sekolah. kemandirian ini kurang terlaksana dilihat dari kreativitas pengembangan program kerja sekolah yang hampir serupa setiap tahunnya. kepala sekolah cenderung bermain aman dalam pembuatan program untuk mengantisipasi masalah administrasi dan anggaran.

Pada sebagian besar sekolah pembuatan dan pengembangan program sekolah lebih berdasarkan pada orientasi anggaran, artinya pengembangan program disesuaikan dengan anggaran yang ada bukan pada orientasi program dimana justru anggaran yang dicari melalui usaha usaha kemandirian sekolah untuk mengembangkan program sekolah.

Dari aspek informasi dan kapabilitas belajar sendiri (otodidak), seringkali para guru lebih dahulu tahu tentang perubahan kurikulum dan perangkatnya sehingga memunculkan anggapan oleh guru bahwa kehadiran kepala sekolah kurang mampu dalam membimbing pengetahuan mereka, berdasarkan wawancara langsung pada dua sekolah di kecamatan yang diteliti pada tanggal 20 Februari 2021. Kepala sekolah tidak mungkin memahami secara rinci seluk beluk kurikulum yang bukan menjadi tugas pokoknya, namun pemahaman dasar dalam mengelola kurikulum dan pengetahuan atas perubahan kebijakan dalam susunan kurikulum merupakan tugas penting yang yang harus dikerjakan kepala sekolah untuk membina kualitas guru yang berada dibawah tanggung jawabnya.

Dari beragam pengamatan dan analisis setidaknya ada tambahan data penelitian permasalahan yang menyebabkan implementasi manajemen berbasis sekolah dinyatakan belum berhasil. Hal itu yakni, kebijakan serta penyelenggaraan pendidikan nasional yang menggunakan pendekatan education production function atau input-output analysis tidak dilaksanakan secara konsekuen. Pendekatan ini melihat bahwa lembaga pendidikan berfungsi menghasilkan output yang dikehendaki. Pendekatan ini menganggap bahwa apabila input pendidikan seperti guru, buku, media pembelajaran, dan sarana serta prasarana pendidikan lainnya dipenuhi, mutu pendidikan (output) secara otomatis akan meningkat. Dalam kenyataan, mutu pendidikan yang diharapkan tidak meningkat secara signifikan. Hal ini dikarenakan selama ini dalam menerapkan pendekatan education production function terlalu memusatkan pada input pendidikan dan kurang memperhatikan pada proses pendidikan. Padahal, proses pendidikan sangat menentukan output pendidikan.

Melalui studi pendahuluan, peneliti menemukan data di lapangan bahwa dalam praktik pembelajaran yang dilakukan oleh para guru juga belum optimal di SMP Negeri, beberapa problem yang dihadapi yaitu ; (1) Masih terdapat guru yang belum maksimal dalam melaksanakan tugas dan fungsinya dalam pembelajaran, misalnya: a)Prosesi pembelajaran/pelaksanaan pembelajaran, b)

(28)

10

penerapam metode pembelajaran tidak bervariasi c) pengelolaan kelas belum sesuai yang diharapkan dan d) Evaluasi pembelajaran. (2) Terdapat banyak siswa yang kurang serius dalam mengikuti pembelajaran di sekolah tersebut, misalnya:

a) Materi pelajaran tidak menyenangkan, b) Metode pembelajaran yang tidak bervariatif, c) Suasana kelas kurang mendukung, d) Penampilan guru kurang simpatik terhadap siswa, dan sebagainya. Hal ini tentu saja memiliki banyak efek terhadap pembelajaran.

Guru yang menjadi objek utama dalam proses Pendidikan perlu memperoleh pembinaan yang mendalam dari kepala sekolah melalui seminar maupun yang lainnya agar output yang dihasilkan maksimal, namun fakta dilapangan pemberian pembinaan tersebut tidak sering dilakukan. Survey menyatakan bahwa sejak adanya pandemic Covid-19 guru tidak diwajibkan untuk mengikuti seminar maupun workshop. Hal itu dilakukan atas dasar kemauan guru sendiri. Guru diberi pilihan untuk mencari seminar online secara mandiri. Hal ini tentu saja tidak akan bisa efektif diterapkan untuk semua guru.

Selain itu, hingga saat ini penyelenggaraan pendidikan nasional dilakukan secara birokratiksentralistik sehingga menempatkan sekolah sebagai penyelenggara pendidikan sangat tergantung pada keputusan birokrasi atau dalam hal ini pemerintah yang mempunyai jalur yang sangat panjang dan kadang-kadang kebijakan yang dikeluarkan tidak sesuai dengan kondisi sekolah setempat.

Sekolah lebih merupakan subordinasi dari birokrasi diatasnya sehingga mereka kehilangan kemandirian, keluwesan, motivasi, kreativitas/inisiatif untuk mengembangkan dan memajukan sekolahnya. Kinerja sekolah menjadi kurang optimal, baik mutu, efisiensi, inovasi, efektivitas, relevansi, maupun produktivitasnya. Walaupun hal ini tidak dialami oleh banyak sekolah.

Oleh karena itu, dianggap penting untuk dilakukan penelitian secara empiris tentang faktor penentu keberhasilan implementasi Manajemen Berbasis Sekolah antara lain : kompetensi manajerial kepala sekolah dan profesionalisme guru. Melalui penelitian ini diharapkan akan dapat menjawab permasalahan penelitian yang berkaitan dengan SMP Negeri yang berada di Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, peneliti mengidentifikasi beberapa permasalahan diantaranya :

a. Implementasi manajemen berbasis sekolah belum dilaksanakan secara menyeluruh oleh stakeholder sekolah

b. Kurangnya minat warga sekolah untuk ikut terlibat secara langsung karena sebagian orang tidak menginginkan adanya kerja tambahan selain pekerjaan yang sekarang mereka lakukan. Mereka tidak memiliki minat untuk ikut serta dalam kegiatan yang menurut mereka hanya menambah beban.

c. Lingkungan Pendidikan belum memberikan dukungan nyata dalam hal ini para orang tua siswa hanya berpartisipasi dalam hal materi (dana), orang tua kurang peduli dengan kemajuan sekolah. Tidak berfungsinya komite sekolah dalam menyalurkan aspirasi orang tua dan masyarakat, bahkan sekolah hanya

(29)

11

mengikuti semua langkah-langkah sesuai anjuran pemerintah tanpa adanya inovasi secara mandiri.

d. Pemberian pelatihan / workshop pelaksanaan pembelajaran pada guru yang masih minim hal ini dikarenakan selama ini dalam menerapkan pendekatan education production function terlalu memusatkan pada input pendidikan dan kurang memperhatikan pada proses pendidikan. Padahal, proses pendidikan sangat menentukan output pendidikan.

e. Sulitnya koordinasi antar pihak yang berkepentingan dengan para bawahan Adanya pemberian tanggung jawab terbaru dari pihak-pihak yang terlibat kemungkinan besar telah sangat terkondisi dengan adanya iklim kerja yang selama ini di geluti dalam dunia pekerjaan sekolah. Namun perubahan yang dilakukan mendadak tersebut kemungkinan besar akan menimbulkan kejutan dan ketidakfahaman sehingga mereka ragu untuk memikul tangung jawab pengambilan keputusan dan sulit untuk diajak bekerjasama.

C. Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang serta identifikasi permasalahan sebelumnya, maka peneliti membatasi permasalahan penelitian terhadap faktor kompetensi kepala sekolah dan kompetensi guru dalam konteks pengaruhnya terhadap implementasi manajemen berbasis sekolah. Untuk variabel kompetensi kepala sekolah dibatasi pada kompetensi manajerial kepala sekolah, dan kompetensi guru dibatasi pada profesionalisme guru. Kemudian objek dan tempat penelitian dibatasi kepada kepala sekolah, guru, dan warga SMP Negeri Tingkat Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dan pembatasan masalah di atas, peneliti merumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. Apakah terdapat pengaruh langsung kompetensi manajerial kepala sekolah (X1) terhadap profesionalisme guru (X2) ?

2. Apakah terdapat pengaruh langsung kompetensi manajerial kepala sekolah (X1) terhadap implementasi manajemen berbasis sekolah (Y) ?

3. Apakah terdapat pengaruh langsung profesionalisme guru (X2) terhadap implementasi manajemen berbasis sekolah (Y) ?

4. Apakah terdapat pengaruh kompetensi manajerial kepala sekolah (X1) dan profesionalisme guru (X2) secara bersama-sama terhadap implementasi manajemen berbasis sekolah (Y) ?

5. Apakah terdapat pengaruh tidak langsung kompetensi manajerial kepala sekolah (X1) terhadap implementasi manajemen berbasis sekolah (Y) melalui profesionalisme guru (X2) ?

E. Tujuan Penelitian

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data empiris, fakta dan informasi valid tentang pengaruh kompetensi manajerial kepala sekolah

(30)

12

dan profesionalisme guru terhadap implementasi manajemen berbasis sekolah, secara spesifik penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis hal sebagai berikut :

1. Pengaruh kompetensi manajerial kepala sekolah (X1) terhadap profesionalisme guru (X2)

2. Pengaruh langsung kompetensi manajerial kepala sekolah (X1) terhadap implementasi manajemen berbasis sekolah (Y)

3. Pengaruh langsung profesionalisme guru (X2) terhadap implementasi manajemen berbasis sekolah (Y)

4. Pengaruh antara kompetensi manajerial kepala sekolah (X1) dengan profesionalisme guru (X2) secara bersama-sama terhadap implementasi manajemen berbasis sekolah (Y)

5. Pengaruh tidak langsung kompetensi manajerial kepala sekolah (X1) terhadap implementasi manajemen berbasis sekolah (Y) melalui profesionalisme guru (X2)

F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan analisis tentang pengaruh kompetensi manajerial kepala sekolah dan profesionalisme guru terhadap implementasi manajemen berbasis sekolah.

1. Secara Teoritis

Secara teoritis hasil penelitian ini akan memberikan kontribusi dalam bidang manajemen berbasis sekolah khususnya dalam aktualisasinya, kompetensi manajerial kepala sekolah, dan profesionalisme guru.

2. Secara Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi :

a. Kepala Sekolah, hasil penelitian ini dapat memberikan informasi dan wawasan bagi kepala sekolah untuk meningkatkan kinerjanya melalui peningkatan kompetensi dan hubungan yang sinergis dengan guru.

b. Sekolah, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif pada lembaga pendidikan SMP Negeri Kecamatan Pamulang, kota Tangerang Selatan dalam manajemen berbasis sekolah

c. Guru, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan informasi tentang pentingnya profesionalisme guru terhadap implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada SMP Negeri Kecamatan Pamulang, kota Tangerang Selatan

d. Universitas Islam Negeri Jakarta, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan keilmuan untuk bidang pengembangan Manajemen Pendidikan dalam program studi Magister Pendidikan Islam Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

e. Penelitian selanjutnya, hasil penelitian ini diharapkan akan memberi kontribusi dalam bidang manajemen sumber daya kepala sekolah khususnya dalam kompetensi manajerial kepala sekolah, profesionalisme guru, dan manajemen berbasis sekolah. Karena dalam penelitian ini dilakukan uji pengaruh antar variabel variabel tersebut. Bagi peneliti lain

(31)

13

hasil penelitian ini bermanfaat untuk melakukan penelitian sejenis dengan objek yang berbeda atau lebih luas, sekaligus penelitian ini bisa dijadikan bahan rujukan untuk penelitian serupa.

G. Sistematika Penulisan

Penulisan tesis ini akan disajikan secara sistematis dalam beberapa bab untuk memberikan ilustrasi yang jelas mengenai arah penulisan, yaitu:

BAB I : Pendahuluan, dimana isi dari bab ini adalah latar belakang masalah, Identifikasi masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan Penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II : Tinjauan Pustaka, pada bab ini adalah bagian yang memuat landasan teori, penelitian terdahulu yang relevan, kerangka penelitian dan hipotesis penelitian.

BAB III : Metode Penelitian, Pada bab ini berisi tentang Metode Penelitian meliputi; Metode dan pendekatan penelitian, Tempat dan waktu Penelitian, Populasi dan sampel, sumber data, teknik pengumpulan data, instrumen penelitian, uji instrumen, teknik analisis data, pengujian statistik dan hipotesis statistik

BAB IV : Temuan penelitian dan pembahasan, pada bab ini dibahas tentang Temuan data dalam hasil penelitian dan Pembahasan hasil penelitian.

BAB V : Kesimpulan dan Saran. Pada bab ini disimpulkan mengenai kesimpulan yang diperoleh dari hasil analisis Pengaruh Supervisi manajerial pengawas sekolah dan kompetensi manajerial kepala sekolah terhadap kinerja kepala sekolah.

(32)

14 BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR

A. Kajian Pustaka

1. Manajemen Berbasis Sekolah

a. Definisi Manajemen Berbasis Sekolah

Organisasi ataupun lembaga Pendidikan baik formal maupun nonformal tentunya selalu membutuhkan tata kelola yang kini sering disebut sebagai manajemen. Manajemen sering diartikan oleh pakar dibidangnya sebagai bentuk pengelolaan. Husaini Usman (2013:3) dalam bukunya menjabarkan bahwa istilah manajemen berasal dari Bahasa latin yaitu manus yang berarti tangan dan agree yang berarti melakukan. Kata tersebut digabung menjadi manager yang berarti menangani. Manager diterjemahkan kedalam Bahasa Inggris dalam bentuk kata kerja to manage, dengan kata benda management dan manage untuk orang yang melakukan kegiatan management. Yang akhirnya diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia menjadi manajemen atau pengelolaan.

Dipandang dari segi terminology, manajemen berbasis sekolah merupakan kumpulan dari tiga kata yakni manajemen, basis, dan sekolah.

Masing-masing kata tersebut dalam KBBI (2003:23) memiliki makna :

1) Manajemen adalah pemanfaatan sumber daya secara efektif untuk mencapai tujuan atau sasaran yang dimaksudkan, yang apabila kita hubungkan dengan pendidikan merupakan pemanfaatan segala sumber daya untuk peningkatan pendidikan

2) Berbasis berasal dari kata “basis” yang berarti “asas” atau “dasar”

3) Sekolah yakni bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran (menurut tingkatannya)

Secara demikian, dapat dipahami bahwa manajemen berbasis sekolah adalah “suatu upaya pemanfaatan sumber daya lembaga pembelajaran dalam pengelolaan pendidikan dengan asas atau dasar sekolah, baik mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai pada penilaian jalannya kegiatan pendidikan yang semuanya menuntut keterlibatan peran serta masyarakat, baik dari segi moral maupun material”.

Landasan berlakunya MBS dalam setiap sekolah diatur juga dalam , 1) UU No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, pasal 51 ayat 1 "

pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/ madrasah."

2) UU no 25 tahun 2000 tentang program pembangunan nasional tahun 2000- 2004 pada bab VII tentang bagian program pembangunan bidang pendidikan khususnya sasaran terwujudnya manajemen pendidikan yang berbasis pada sekolah dan masyarakat.

(33)

15

3) Keputusan Mendiknas nomor 044 tahun 2002 tentang pembentukan dewan pendidikan dan komite sekolah.

4) Kepmendiknas nomor 087 tahun 2004 tentang standar akreditasi sekolah, khususnya tentang manajemen berbasis sekolah.

Manajemen Berbasis Sekolah merupakan sebuah program yang dicanangkan atau ditetapkan oleh pemerintah dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di tingkat Sekolah. Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah menurut Dirjen Dikdasmen (2001:2) diartikan sebagai bentuk alternatif pengelolaan sekolah dalam rangka desentralisasi pendidikan, yang ditandai adanya kewenangan pengambilan keputusan yang lebih luas ditingkat sekolah, partisipasi masyarakat yang relatif tinggi, dalam rangka Kebijakan Pendidikan Nasional.

Menurut Sudarwan (2007: 33-34) Manajemen berbasis sekolah didefinisikan sebagai suatu rangkaian proses kerja komunitas sekolah dengan menerapkan kaidah-kaidah tertentu sebagai cara seperti pelaksanaan otonomi, akuntabilitas, pratisipasi, dan sustainability yang dilakukan untuk mencapai tujuan pendidikan dan pembelajaran secara bermutu. Menurut Judith Capman yang dikutip oleh penelitian Jamal (2012 : 33), MBS adalah “school based management refers to form of education administration in which the school become the primary unit for decision making, it differs from more traditional form of educational administration in which central bureaucracy dominate in the decision making process” (manajemen berbasis sekolah didefinisikan merujuk pada suatu bentuk administrasi pendidikan, dimana setiap sekolahlah yang menjadi unit kecil utama dalam pengambilan sebuah keputusan. Hal ini tentunya jelas berbeda dengan bentuk tradisional administrasi pendidikan, yakni pemerintah pusat sangat menonjol dan lebih dominan dalam pengambilan keputusan.

Sementara menurut catatan yang disusun oleh Candoli (2007:37), MBS dimaknai sebagai suatu cara/ metode untuk memaksa sekolah itu sendiri mengambil tanggung jawab atas apa yang terjadi pada anak didik menurut yuridiksi dan mengikuti sekolahnya. Pada konsep ini telah ditegaskan bahwa ketika sekolah itu dibebani dengan pengembangan total kependidikan yang bertujuan melayani kebutuhan kebutuhan anak dalam mengikuti sekolah khusus itu, personil sekolah akan mengembangkan beberapa program yang dianggap lebih meyakinkan mereka dalam mengetahui para siswa dan kebutuhan kebutuhan mereka.

A Gorton (2011:44) menyebutkan dalam penelitiannya MBS identik dengan school and the community ( sekolah dan masyarakat). Menurutnya, school and community memiliki makna sebagai suatu rumusan dasar tentang masalah masalah hubungan antar sekolah dan masyarakat serta sebagai alat yang berkaitan erat dengan iklim kehidupan masyarakat dan sekolah. Hal ini sama halnya seperti yang tercantum dalam international journal of educational management (Karageorgos et al. 2021:9) yang meneliti tentang kasus cyprus menyebutkan bahwa implementation and evaluation of Total Quality Management (TQM) in Cypriot education directly relate to the six dimensions - leadership (strategic planning, human resources management, processes, resources and partnerships,

(34)

16

and finally performance metrics) that determine this quality. Yang memiliki makna bahwa pendidikan Siprus secara langsung berhubungan dengan enam dimensi - kepemimpinan (perencanaan strategis, manajemen sumber daya manusia, proses, sumber daya dan kemitraan, dan terakhir metrik kinerja) yang menentukan kualitas ini. Jadi dapat diketahui bahwa manajemen berbasis sekolah tidak bisa dijalankan sendiri, akan tetapi membutuhkan SDM maupun stakeholder sekolah.

Menurut Mulyasa (2006:10-11) menuliskan dalam bukunya, terdapat dua faktor penunjang yang berpengaruh dalam memahami hubungan antara sekolah dan masyarakat, yaitu : Faktor pertama yaitu tantangan profesionalitas terhadap penyelenggara pendidikan di sekolah yang memiliki tujuan dalam memenuhi keinginan/harapan/ cita cita masyarakat. Dalam hal ini, tantangan profesionalitas berkaitan erat dengan upaya-upaya yang akan dilakukan seorang guru dalam merubah program atau sistem pembelajaran yang mempunyai kecenderungan dan kesesuaian terhadap norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Jika sekolah yang ada tidak memberikan kontribusi yang baik dan konstruktif kepada masyarakat, maka secara reaktif masyarakat sudah pasti akan menolak keberadaan sekolah akan sangat didukung dan diharapkan oleh masyarakat di tempat tersebut.

Faktor kedua, tantangan masyarakat terhadap para penyelenggara pendidikan yang bersyarat dengan tuntutan norma norma profesionalitas.

Tantangan yang dimaksudkan adalah menyangkut masalah-masalah yang disebabkan adanya keinginan antara masyarakat dan sekolah untuk memperbaiki pendidikan yang sedang berlangsung. Sekolah secara intensif bersama sama dengan masyarakat melalui kepastian aksi-aksi dan mengevaluasi apa yang sedang berlangsung di sekolah. Masyarakat pada umumnya hanya menghendaki hasil yang diperoleh di sekolah dari segi efektifitas dan ingin dilibatkan dalam poses penentuan kebijakan sekolah.

Jadi, MBS dapat diartikan sebagai format pengelolaan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik , sekolah, dan masyarakat. Dengan penjabaran bahwa masing-masing dari komponen stakeholders yang ada di sekolah (peserta didik, sekolah dan masyarakat) masing-masing mempunyai tanggung jawab bersama dalam pencapaian tujuan untuk menciptakan sekolah yang bermutu dan berkesinambungan. Disamping itu, MBS juga merupakan sebuah konsep yang “multi combine” dalam hal ini diyakini bahwa MBS didorong dan didukung oleh berbagai pihak yang saling melengkapi. MBS dalam hal ini dibebankan kepada kepala sekolah, guru, komite sekolah, orang tua, masyarakat dan pemerintah. Disisi lain hal tersebut dapat dijabarkan seperti sekolah sebagai pelaksana pembelajaran, orang tua/ masyarakat sebagai pemberi masukan pendapat, sekaligus juga menikmati output dan outcome pembelajaran sekolah, dan pemerintah yang menjadi pemegang otoritas resmi akan bertindak sebagai pendorong, pengawas serta memberikan opini dengan luas tentang pentingnya kualitas dalam dunia pendidikan nasional.

Dengan demikian, MBS yang akan dikembangkan merupakan bentuk alternative yang dipilih dari sekolah dalam mengimplementasikan program

Gambar

Gambar 1.1 APM Kota Tangerang Selatan
Gambar 2.1  Paradigma Konsep MBS
Tabel 3.1  Metode Penelitian
Tabel 3.3  Target Populasi Penelitian
+6

Referensi

Dokumen terkait

Makna atau pesan diproduksi melalui pemilihan tanda atau simbol, baik bahasa (lisan dan tulisan) maupun non-bahasa (gambar, gerakan, suara) yang paling dekat agar efektif dan

Radikalisme tidak sepenuhnya dapat diartikan sebagai paham yang mendorong seseorang atau sekelompok orang untuk melakukan perubahan sosial maupun politik dengan cepat

Penulis sangat tertarik dengan media YouTube, karena YouTube mampu membius masyarakat dengan cepat untuk menggunakannya. Entah untuk hanya sekadar hiburan, belajar,

Alhamdulillah, segala puji serta syukur atas kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi dengan

Dr. Fauzun Jamal, Lc.,M.A.. Pembinaan akhlak adalah suatu penanganan yang berbentuk pengarahan terhadap kemampuan seseorang agar berperilaku lebih baik. Salah satu

adalah penelitian untuk Jurnal Pendidikan UNS, Vol. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas XII Akuntansi SMK Negeri 6 Surakarta tahun 2013 dilakukan pada bulan Februari

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa efektiviitas penggunaan aplikasi Wordwall dalam pembelajaran daring (Online) Matematika pada materi bilangan

Menurut Clark dan Yallop dalam fonologi bahasa Indonesia: Tujuan deskriptif SistemBunyi Bahasa Indonesia karya Masnur Muslich, fonetik adalah bidang yang