• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PERBANDINGAN PEMBUKTIAN SEDERHANA DENGAN PEMBUKTIAN PERKARA PERDATA PADA UMUMNYA

PEMBUKTIAN PERKARA PERDATA PADA UMUMNYA

F. Analisis Kasus

Syarat mengenai keharusan adanya dua atau lebih kreditur dikenal sebagai concursus creditorium, telah diuraikan majelis hakim Pengadilan Niaga Medan secara jelas dan rinci demikian juga alasan-alasan dan dasar putusan. Telah terpenuhi dua orang kreditur, dalam hal ini kreditur Muhammad Arifin Hasibuan dan 10 orang kreditur lainnya yakni Muhammad Arifin Hasibuan, dkk, dimana para kreditur tersebut mempunyai piutang yang timbul berdasarkan putusan pengadilan yang sudah berkekuatan hukum tetap. Syarat tidak membayar lunas sedikitnya satu utang. Majelis hakim pengadilan niaga telah mengurai secara rinci dalam pertimbangannya bahwa CV. HITADO tidak membayar utangnya dengan cara menolak membayar utang yang lahir karena putusan Pengadilan Negeri Medan baik terhadap pemohon pailit Muhammad Arifin Hasibuan.

Ketentuan UU PKPU, pada intinya menyatakan bahwa kepailitan meliputi harta kekayaan debitur pada waktu Pernyataan kepailitan beserta apa yang ia peroleh selama kepailitan dan penegasan tentang hal tersebut juga terdapat dalam

ketentuan Pasal 6 KUHDagang, disebutkan : “Setiap orang yang menjalankan perusahaan diwajibkan untuk menyelenggarakan catatan-catatan menurut syarat – syarat perusahaannya tentang keadaan hartanya dan tentang apa yang berhubungan dengan perusahaannya, dengan cara yang sedemikian sehingga dari catatan-catatan yang diselenggarakan itu sewaktu – waktu dapat diketahui semua hak dan kewajibannya; “Ia diwajibkan dalam enam bulan pertama dari tiap-tiap tahun untuk membuat neraca yang diatur menurut syarat – syarat perusahaannya dan menandatanganinya sendiri. Ia diwajibkan menyimpan selama tiga puluh tahun, buku – buku dan surat – surat dimana ia menyelenggarakan catatan – catatan dimaksud dalam alinea pertama beserta neracanya dan selama sepuluh tahun, surat – surat dan telegram – telegram yang diterima dan salinan – salinan surat-surat dan telegram – telegram yang dikeluarkan “,

Hakim pengadilan niaga telah mempertimbangkan dengan jelas dan rinci utang CV. HITADO tersebut telah jatuh waktu dan dapat ditagih sejak putusan dalam perkara PHI berkekuatan hukum tetap dan tidak ada lagi upaya hukum yang dapat dilakukan Termohon pailit/ CV. HITADO atas putusan. Pertimbangan hakim pengadilan niaga telah mengakomodir pengertian utang dalam arti luas berupa hak-hak normatif tenaga kerja/buruh yang lahir dari suatu putusan hakim yang telah berkekuatan hukum tetap. Pembuktian sederhana tentang adanya utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih majelis hakim telah mendasarkan pada ketentuan Pasal 1 ayat 1 UUK-PKPU, yang menyatakan bahwa debitur dapat dinyatakan pailit apabila telah terbukti bahwa debitur tersebut mempunyai paling

tidak satu kreditur yang tagihannya telah jatuh tempo dan dapat ditagih, juga mempunyai minimal satu kreditur lainnya.

Putusan Nomor:1/Pdt.Sus-PAILIT/2017/PN Mdn, tidak terlihat analisis dan argumentasi hukum hakim yang mengadili melainkan hanya membuat satu kesimpulan dari alasan-alasan permohon pailit. Seharusnya hakim harus membuat analisis yang objektif dan rasional dan hukum apa yang diterapkan. Hakim yang mengadili permohonan pailit ini, seharusnya dapat memahami syarat bahwa debitur harus mempunyai minimal dua kreditur, sebagai salah satu filosofi lahirnya hukum kepailitan yang sudah terpenuhi dalam perkara ini. Syarat, debitur tidak membayar lunas sedikitnya satu utang, dalam perkara ini telah terpenuhi dimana CV. HITADO selaku termohon pailit tidak ada melunasi utangnya yang lahir karena putusan Pengadilan Negeri Medan maupun terhadap pemohon pailit Muhammad Arifin Hasibuan. Seharusnya hakim dalam putusannya dapat mengabaikan masalah prosedural yang belum selesai dalam tahap eksekusi dan memberi rasa keadilan dengan berpedoman kepada utang yang sudah jatuh tempo dan dapat dibayar, debitur memiliki dua kreditur atau lebih sebagaimana diatur dalam Undang-undang kepailitan.

Pertimbangan hukum pengadilan negeri tidak memberikan solusi hukum atas ketidakpastian hukum yang diakibatkan oleh tafsir yang selalu pada persoalan prosedural yakni hukum acara dan tidak berusaha untuk menggali nilai-nilai materil dalam kepailitan khususnya tentang pengertian utang dalam arti yang luas termasuk yang timbul dari putusan hakim yang telah berkekuatan hukum tetap sebagaimana dasar pengajuan pailit Muhammad Arifin Hasibuan Putusan

Nomor:1/Pdt.Sus-PAILIT/2017/PN Mdn telah menjadikan prosedur sebagaimana dalam hukum acara perdata sebagai tujuan tegaknya hukum bukan mencari tujuan hukum yang sesungguhnya yakni untuk kepastian, kemanfaatan dan keadilan substantif bagi masyarakat pencari keadilan. Tentang syarat pembuktian sederhana dalam kasus yang sedang dianalisis ini, terbukti adanya utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih Pengadilan Niaga mendasarkan pada ketentuan Pasal 1 ayat 1 UUKPKPU, yang menyatakan bahwa debitur dapat dinyatakan pailit apabila telah terbukti bahwa debitur tersebut mempunyai paling tidak satu kreditur yang tagihannya telah jatuh tempo dan dapat ditagih, juga mempunyai minimal satu kreditur lainnya. Jika posisi kasus pada para pihak yang bersengketa, maka pengajuan permohonan pailit yang diajukan Pemohon Pailit Kreditur.

Pembuktian sederhana ini dalam praktik di pengadilan niaga, menjadi tidak sesederhana sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 8 ayat (4) UUK.

Sering terjadi adanya penafsiran berbeda-beda atau inkonsistensi penafsiran di kalangan majelis hakim tentang ketidakjelasan pengertian pembuktian sederhana.

Dalam praktiknya pembuktian sederhana dalam proses permohonan kepailitan bagi kreditur pemegang hak cessie juga demikian halnya, dengan menolak permohonan pemegang hak cessie dengan alasan pembuktiannya tidaklah sederhana.

Dalam hal ini adalah Muhammad Arifin Hasibuan sudah terpenuhi syarat-syaratnya. Pengajuan permohonan pailit yang diajukan pemohon pailit (Muhammad Arifin Hasibuan) terbukti termohon pailit memiliki dua kreditur atau

lebih (Cansursus Creditorum), yaitu Muhammad Arifin Hasibuan. Pertimbangan hakim pengadilan niaga telah mengakomodir pengertian utang dalam arti luas berupa hak-hak normatif tenaga kerja/buruh yang lahir dari suatu putusan hakim yang telah berkekuatan hukum tetap. Pembuktian sederhana tentang adanya utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih majelis hakim telah mendasarkan pada ketentuan Pasal 1 ayat (1) UUK PKPU, yang menyatakan bahwa debitur dapat dinyatakan pailit apabila telah terbukti bahwa debitur tersebut mempunyai paling tidak satu kreditur yang tagihannya telah jatuh tempo dan dapat ditagih, juga mempunyai minimal satu kreditur lainnya

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, maka penulis berkesimpulan bahwa :

1. Pembuktian sederhana dalam hukum kepailitan di Indonesia, Bahwa makna pembuktian sederhana dalam perkara kepailitan yang dimuat dalam Pasal 8 ayat (4) sudah cukup jelas yaitu membuktikan adanya fakta dua kreditur atau lebih dan minimal satu utang yang telah jatuh waktu dan tidak dibayar, Pasal 8 ayat (4) ini telah sesuai dengan tujuan hukum yaitu kepastian hukum, keadilan dan kemanfaatan

2. Perbandingan pembuktian sederhana dengan pembuktian perkara perdata pada umumnya Pasal 299 UUKPKPU menyatakan dengan tegas bahwa apabila tidak ditentukan lain dalam UUKPKPU, maka hukum acara yang berlaku

dalam perkara kepailitan adalah hukum acara perdata dalam hal ini HIR/RBG. Dengan demikian, dapat dipahami

bahwa HIR/RBG dalam hukum acara perkara kepailitan berkedudukan sebagai hukum umum atau lex generalis, sedangkan UUKPKPU berkedudukan sebagai hukum khusus atau lex specialis. Terdapat beberapa persamaan dan perbedaan antara pembuktian sederhana dengan pembuktian pada perkara perdata biasa. Pertama, pembuktian sederhana dan pembuktian pada perkara perdata biasa dimaksudkan hanya untuk mencari kebenaran

formil di dalam persidangan.

3. Standart pembuktian sederhana yang diterapkan oleh hakim pada Kriteria atau parameter dari pembuktian sederhana itu belum ada secara tegas. Dan itu masih merujuk kepada Pasal 8 ayat (4), kadang kala pembuktian sederhana ini berbanding terbalik dengan pembuktian yang biasa kalau pengadilan mengatakan dia tidak pembuktian sederhana maka itu bukan kompetensi dari pengadilan niaga melainkan kompetensi pengadilan negeri tadi mengajukan permohonan pailit kepengadilan niaga ternyata majelis hakim memandang ada sekenta didalamnya dan jikalau ada sengketa didalamnya berarti itu bukan pembuktian sederhana yang dimana kompetensinya pengadilan negeri.

Makanya hakim tidak berpikir yang rumit cukup apa yang sudah diajukan pemohon dengan termohon atau pun sudah siap pakai dan tidak ada secara tegas mengatur tentang kriteria pembuktian sederhana itu.

B. Saran

Adapun saran dari kesimpulan di atas dapat dikemukakan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut

1. Dalam melakukan perbuatan hukum terutama tentang pembuktian acara perdata dilakukan melalui pengadilan yang berdasarkan pada system pembuktian formal sesuai aturan limitative oleh undang-undang sehingga hakim memperoleh keyakinan akan hal itu. Pada umumnya hakim dalam pembuktian menggunakan alat-alat bukti yang telah diatur dalam undang-undang saja.

2. Proses pembuktian sederhana, dalam praktek dapat digunakan pihak-pihak

yang berkepentingan untuk mendapatkan keuntungan lain diluar proses kepailitan itu sendiri, sehingga terhadap ketentuan kepailitan khsusnya dalam hal pembuktian sederhana perlu disempurnakan, sehingga kelemahan ini tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk diperguanakan untuk tujuan diluar dari yang dikehendaki oleh pembuat undang-undang.

3. Dasar dan pertimbangan putusan hakim tersebut sangatlah sederhana, sehingga membuka celah bagi debitur untuk dimanfaatkan dalam mengajukan kepailitan. Apabila telah jatuh tempo, sedangkan debitur tidak mampu memenuhi kewajibannya terhadap kreditur, maka debitur yang tidak mempunyai itikad baik untuk memenuhi kewajibannya dapat memanfaatkan Pasal 2 ayat (1) tanpa mempertimbangkan jumlah harta yang dimilikinya untuk dijadikan sita jaminan, meskipun jumlah harta tersebut tidak dapat menutup keseluruhan hutang yang dimilikinya. Maka hal ini menyebabkan hak-hak dari para kreditur tidak dapat dipenuhi seluruhnya dengan adanya putusan pailit tersebut. Oleh karena itu perlu diadakannya revisi dari Undang-undang kepailitan mengenai syarat-syarat pailit sehingga hak dari para kreditur dapat terpenuhi secara utuh dan menutup celah bagi debitur nakal untuk memanfaatkan ketentuan syarat pailit guna mehindari pemenuhan kewajibannya.