BAB III PERBANDINGAN PEMBUKTIAN SEDERHANA DENGAN PEMBUKTIAN PERKARA PERDATA PADA UMUMNYA
PEMBUKTIAN PERKARA PERDATA PADA UMUMNYA
B. Esensi Dari Pembuktian Perkara Perdata
Kamus Besar Bahasa Indonesia, pembuktian adalah “suatu proses, cara perbuatan membuktikan usaha menunjukkan benar atau salahnya terdakwa dalam sidang pengadilan”.109
Pembuktian adalah penyajian alat-alat bukti yang sah menurut hukum oleh para pihak yang beperkara kepada hakim dalam suatu persidangan, dengan tujuan untuk memperkuat kebenaran dalil tentang fakta hukum yang menjadi pokok sengketa, sehingga hakim memperoleh dasar kepastian untuk menjatuhkan keputusan.110
Pembuktian adalah sesuatu yang bersifat historis yang mencoba menetapkan peristiwa apa yang telah terjadi dimasa lampau yang pada saat ini
107 M. Nur Rasaid, Op.Cit, hlm 4
108 Ibid, hlm 5
109 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia cetakan ke-4, (Jakarta: Balai Pustaka, 2009), hlm. 172
110 Bahtiar Effendie, dkk, Surat Gugat Dan Hukum Pembuktian Dalam Perkara Perdata (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1999),hlm. 50
dianggap sebagai suatu kebenaran, peristiwa yang harus dibuktikan.111 UUK PKPU menetapkan dua syarat kepailitan yakni ada dua atau lebih kreditur dan ada utang yang telah jatuh tempo serta dapat ditagih yang tidak dibayar lunas oleh debitur. Dua syarat ini harus dibuktikan secara sederhana agar permohonan kepailitan dikabulkan oleh pengadilan Frasa “pembuktian sederhana” termaktub dalam Pasal 8 ayat (4) UUK yang lengkapnya berbunyi, “Permohonan pernyataan pailit harus dikabulkan apabila terdapat fakta atau keadaan yang terbukti secara sederhana bahwa persyaratan untuk dinyatakan pailit telah terpenuhi”. Walaupun disebut “pembuktian sederhana” tetapi pemahaman atas frasa ini tidak sederhana.
UUK tidak memuat penjelasan lebih lanjut tentang apa yang dimaksud dalam pembuktian sederhana.112
Kekuatan pembuktian alat bukti surat dapat dibedakan antara yang berbentuk akta dengan bukan akta. Surat yang berbentuk akta juga dapat dibedakan menjadi akta auntentik dan akta di bawah tangan. Kekuatan pembuktian suatu akta dapat dibedakan menjadi:
1) Kekuatan pembuktian luar Suatu akta auntentik yang diperlihatkan harus dianggap dan diperlakukan sebagai akta auntentik, kecuali dapat dibuktikan sebaliknya bahwa akta itu bukan akta auntentik. Selama tidak dapat dibuktikan sebaliknya pada akta tersebut melekat kekuatan bukti luar. Maksud dari kata memiliki daya pembuktian luar adalah melekatkan prinsip anggapan hukum bahwa setiap akta auntentik harus dianggap benar sebagai akta auntentik
111Sudikno, Hukum Acara Perdata Indonesia, (Yogyakarta: Liberty, 2009), hlm 15
112 Bagus Wicaksono.Loc.Cit
sampai pihak lawan mampu membuktikan sebaliknya.
2) Kekuatan pembuktian formil Berdasarkan Pasal 1871 KUHPerdata, bahwa segala keterangan yang tertuang di dalamnya adalah benar diberikan dan disampaikan kepada pejabat yang membuatnya. Oleh karena itu segala keterangan yang diberikan penanda tangan dalam akta auntentik dianggap benar sebagai keterangan yang dituturkan dan dikehendaki yang bersangkutan.
Anggapan atas kebenaran yang tercantum di dalamnya, bukan hanya terbatas pada keterangan atau pernyataan di dalamnya benar dari orang yang menandatanganinya tetapi meliputi pula kebenaran formil yang dicantumkan pejabat pembuat akta: mengenai tanggal yang tertera di dalamnya, sehingga tanggal tersebut harus dianggap benar, dan tanggal pembuatan akta tidak dapat lagi digugurkan oleh para pihak dan hakim.
3) Kekuatan pembuktian materil Mengenai kekuatan pembuktian materil akta auntentik menyangkut permasalahan benar atau tidak keterangan yang tercantum di dalamnya. Oleh karena itu, kekuatan pembuktian materiil adalah persoalan pokok akta auntentik113
Merujuk pada ketentuan tersebut, jelas bahwa yang harus dibuktikan secara sederhana adalah syarat kepailitan dalam Pasal 2 ayat (1) UUK, yaitu:
1. Ada 2 (dua) atau lebih kreditur. Kreditur adalah orang yang mempunyai piutang karena perjanjian atau undang-undang yang dapat ditagih di muka pengadilan.114 “Kreditur” di sini mencakup baik kreditur konkuren, kreditur
113 M. Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata: Tentang Gugatan, Persidangan, Penyitaan, Pembuktian, dan Putusan Pengadilan (Sinar Grafika: Jakarta, 2005), hlm. 589-590.
114 Satjipto Rahardjo, Op.Cit, hlm. 97-98.
separatis maupun kreditur preferen. 115
2. Ada utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih yang tidak dibayar lunas oleh debitur. Artinya adalah ada kewajiban untuk membayar utang yang telah jatuh waktu, baik karena telah diperjanjikan, karena percepatan waktu penagihannya sebagaimana diperjanjikan, karena pengenaan sanksi atau denda oleh instansi yang berwenang, maupun karena putusan pengadilan, arbiter, atau majelis arbitrase. 116
Pembuktian diperlukan dalam suatu perkara yang mengadili suatu sengketa di muka pengadilan (juridicto contentiosa) maupun dalam perkaraperkara permohonan yang menghasilkan suatu penetapan (juridicto voluntair). Dalam suatu proses perdata, salah satu tugas hakim adalah untuk menyelidiki apakah suatu hubungan hukum yang menjadi dasar gugatan benar-benar ada atau tidak. Adanya hubungan hukum inilah yang harus terbukti apabila penggugat menginginkan kemenangan dalam suatu perkara. Apabila penggugat tidak berhasil untuk membuktikan dalil-dalil yang menjadi dasar gugatannya, maka gugatannya tersebut akan ditolak, namun apabila sebaliknya maka gugatannya tersebut akan dikabulkan.117
Pembuktian eksistensi atau keberadaan kreditur adalah dengan membuktikan adanya utang sebagaimana dimuat dalam Penjelasan Pasal 2 ayat (1) UU Kepailitan yang telah memberikan teguran kepada debitur untuk membayar kewajibannya, tetapi debitur tidak juga membayarnya atau kreditur
115 Ibid.,Penjelasan Pasal. 2 ayat (1).
116 Ibid
117 Retnowulan Sutantio dan Iskandar Oeripkartawinata, Hukum Acara Perdata dalam Teori dan Praktek, (Bandung: Alumni, 2003), hlm. 53.
membuktikan bahwa hingga lewat jangka waktu pembayaran kewajiban (utang) yang telah disepakati sebelumnya, debitur tidak juga membayar utangnya. Jika pembuktian keberadaan utang tersebut cukup rumit dan sulit atau masih menimbulkan sengketa, maka tidak memenuhi syarat pembuktian yang sederhana.
Jika hal ini yang menjadi pertimbangan hakim, menurut peneliti adalah sebuah pertimbangan yang keliru karena tanpa pemikiran yang mendalam, yang sudah sangat jelas bahwa 2 (dua) kreditur mendalilkan adanya utang dari perusahaan dan perusahaan tidak membantahnya, sehingga pertimbangan tersebut seharusnya ditolak oleh judex juris.118
Asas peradilan sederhana dalam Pasal 2 ayat (4) Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, berarti menjadi dasar hukum atau sumber hukum pengaturannya dalam ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pengaturan lainnya ialah di dalam PERMA No. 2 Tahun 2015 tentang Tata Cara Penyelesaian Gugatan Sederhana, yang penyusun PERMA tersebut dilatarbelakangi oleh beberapa bahan pertimbangan (konsiderans), sebagai berikut:
a. Bahwa penyelenggaraan peradilan dilaksanakan dengan asas sederhana, cepat, dan biaya ringan untuk membuka akses yang luas bagi masyarakat dalam memperoleh keadilan;
b. Bahwa perkembangan hubungan hukum di bidang ekonomi dan keperdataan lainnya di masyarakat membutuhkan prosedur penyelesaian
118 Iwan Sidharta, Pembuktian Sederhana Dalam Putusan Pailit (Studi Kasus Perkara Nomor 515 K/PDT.SUS/2016), Jurnal Legal Reasoning Vol. 1, No. 1, Desember 2018, hlm 44
sengketa yang lebih sederhana, cepat dan biaya ringan, terutama di dalam hubungan hukum yang bersifat sederhana;
c. Bahwa penyelesaian perkara perdata sebagaimana diatur dalam Reglemen Indonesia Yang Diperbarui (HIR), Staatsblad Nomor 44 Tahun 1941 dan Reglemen Hukum Acara untuk Daerah Luar Jawa dan Madura (RBg), Staatsblad Nomor 227 Tahun 1927 dan peraturan lain mengenai hukum acara perdata, dilakukan dengan pemeriksaan tanpa membedakan lebih lanjut objek dan gugatan sederhana tidaknya pembuktian sehingga untuk penyelesaian perkara sederhana memerlukan waktu yang lama;
d. Bahwa Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 mengamanatkan reformasi sistem hukum perdata yang mudah dan cepat untuk mengatur permasalahan yang berkaitan dengan ekonomi melalui penyelesaian sengketa secara cepat (small claim court);
e. Bahwa Mahkamah Agung dapat mengatur lebih lanjut hal-hal yang diperlukan bagi kelancaran penyelenggaraan peradilan apabila terdapat hal-hal yang belum cukup diatur dalam Undang-Undang untuk mengisi kekurangan atau kekosongan hukum;
f. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a, b, c, d, dan e perlu menetapkan peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia tentang Tata Cara Penyelesaian Gugatan Sederhana.119