• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Keberlanjutan Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan

II. TINJAUAN PUSTAKA

4.3. Analisis Keberlanjutan Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan

Analisis keberlanjutan lanskap pertanian dilakukan terhadap aspek fisik yang menjadi objek serta aspek masyarakat yang merupakan subjek dalam pengelolaan lanskap pertanian. Analisis fisik merupakan penilaian terhadap sumber daya fisik lanskap pertanian pembentuk satuan lahan yang berpengaruh terhadap potensi penggunaan lahan. Penilaian dilakukan terhadap lingkungan fisik yaitu tanah, topografi, unsur iklim, air, vegetasi, satwa, termasuk didalamnya produk kebudayaan masyarakat.

Beragam masalah lingkungan yang bersumber dari air dirasakan masyarakat hingga dewasa ini. Kurangnya air di saat musim kemarau atau kelebihan air sesaat pada saat musim hujan karena menurunnya kapasitas tanah dalam menampung air limpahan, menjadi permasalahan yang belum ditemukan solusinya secara holistik. Kelangkaan dan rendahnya kualitas air semakin dirasakan masyarakat sejak dibukanya kawasan hutan menjadi lahan perkebunan kopi pada tahun 2007. Pembukaan lahan dalam skala besar berdampak pada tingginya tingkat erosi yang diikuti hilangnya lapisan subur tanah.

Berdasarkan kajian terhadap aspek ekologi, permasalahan lingkungan yang terjadi dipengaruhi oleh kondisi aktual dari elemen penyusun lanskap. Tingkat kecuraman lereng yang beragam dengan kondisi tanah yang berporositas tinggi menyebabkan air mudah hilang. Kondisi curah hujan maksimal tanpa didukung kemampuan daya serah dan jerap tanah terhadap air yang tinggi, tidak dapat mengoptimalkan pemanfaatannya. Pengetahuan ekologi tradisional masyarakat memberikan solusi terbaik dengan pemanfaatan vegetasi sebagai alat pengontrol stabilitas air dan tanah.

Pohon yang ditanam di dataran tinggi memiliki kemampuan konservasi air dan tanah yang optimal. Keberadaan pohon dapat memaksimalkan pemanfaatan air hujan yang menjadi sumber daya air utama di daerah studi. Pengairan hujan mampu merangsang akar untuk menyusun zona perakaran yang lebih luas dan dalam (Darwis, 2004). Dengan sistem perakaran tersebut, pohon dapat menyerap dan menjerap air secara optimal sehingga dapat menjaga debit air tanah dan konstruksi tanah.

Jenis pohon atau tanaman yang dapat dibudidayakan untuk ditanam di daerah hulu dapat disesuaikan dengan fungsi yang diharapkan. Namun, pemenuhan fungsi konservasi perlu diupayakan oleh setiap pola pemanfaatan. Dengan demikian, upaya konservasi daerah utama tangkapan air (water catchment area) dapat dilakukan secara terpadu baik pada agroekosistem kebun-talun, sawah, dan pekarangan di kawasan permukiman. Secara budaya perlu dibudidayakan kembali 40 tangkal adam yang dipercayai masyarakat sebagai vegetasi lokal

Berdasarkan perspektif sosial-kemasyarakatan, kerusakan lingkungan di kawasan pertanian di perdesaan dipengaruhi oleh persepsi, preferensi, sikap, serta perilaku masyarakat. Tingkat persepsi dan preferensi terkait erat dengan tingkat pendidikan masyarakat. Data profil desa menunjukkan tingkat pendidikan yang rendah (Tabel 11). Sebagian besar masyarakat yang hidup menetap di desa hanya berpendidikan hingga tingkat sekolah dasar. Rendahnya tingkat pendidikan di daerah studi banyak dipengaruhi oleh kurangnya biaya untuk kebutuhan pendidikan, serta adanya persepsi yang masih kuat di masyarakat yang menganggap tidak perlunya pendidikan formal.

Kondisi tersebut menyebabkan distribusi informasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang terkait dengan pemanfaatan lahan lestari mengalami kendala. Kasus di atas membuka fakta lain bahwa faktor ekonomi memiliki peranan vital dalam proses ketidakseimbangan pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan. Prasodjo (2005) menegaskan bahwa motif ekonomi akan mempengaruhi persepsi, preferensi, sikap hingga perilaku masyarakat dalam merespon kebutuhannya terhadap alam dan lingkungannya. Aktivitas yang ekstraktif, produktif, atau konservatif terhadap alam dan lingkungan akan dilakukan masyarakat selama mampu memenuhi kebutuhan ekonomi.

Di tengah kuatnya arus modernisasi yang lebih menekankan pada pemenuhan fungsi ekonomi, masyarakat perdesaan memiliki pengetahuan ekologik tradisional dalam memanfaatkan sumber daya alam dan lingkungan pertanian secara lestari. Kearifan lokal sebagai cerminan pengetahuan tradisional masyarakat yang masih melembaga di daerah studi adalah sikap dan perilaku kekeluargaan sebagai aktualisasi dari ungkapan silih asih, silih asah, dan silih asuh. Persepsi dan preferensi masyarakat yang menganggap sumber daya alam dan lingkungan merupakan milik bersama mempengaruhi pemanfaatan dengan pertimbangan keuntungan bersama.

Peran ajengan/kyai sebagai tokoh masyarakat sangat dibutuhkan untuk mengakomodasi beragam harapan dan kebutuhan masyarakat. Akomodasi disesuaikan dengan kondisi sumber daya lahan guna memperoleh manfaat optimal tanpa mengurangi kemampuan lahan. Pranata religius (religious institution) yang diemban oleh para ajengan/kyai telah memberikan dampak positif terhadap proses

distribusi informasi dan sosialisasi. Hal tersebut telah memunculkan nilai sosial-ekologi yang menunjukkan kekuatan spiritual-budaya masyarakat (

spiritual-cultural survival) yang berdampak pada kehidupan masyarakat yang merasa

senang dan puas karena memperoleh kesesuaian dan keselarasan dalam hubungan mutual dengan alam berdasarkan kebudayaan yang dijalankan, meskipun kenyataannya dalam kondisi serba susah (Jayadinata dan Pramandika, 2006).

Berdasarkan analisis tersebut, dapat dipahami bahwa pendidikan sebagai media distribusi informasi menjadi hal penting dalam membina masyarakat. Kondisi ideal masyarakat dengan tingkat pendidikan yang tinggi dapat dicapai dengan penyediaan sarana dan prasarana pendidikan baik pendidikan agama dan umum. Pendidikan agama sebagai penyeimbang dapat diakomodasi dengan keberadaan pesantren. Sedangkan pendidikan umum sebagai gerbang informasi ilmu pengetahuan empirik dapat diakomodasi dengan adanya pendidikan formal dari tingkat sekolah dasar, menengah, hingga tinggi.

Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat di daerah studi banyak disebabkan oleh permasalahan finansial. Sumber finansial utama keluarga petani berasal dari hasil produksi pertanian. Kondisi aktual menunjukkan rendahnya pendapatan finansial diakibatkan keterbatasan kepemilikan lahan garapan. Lahan sebagai modal utama bagi petani dapat diakomodasi oleh pemerintah dengan melakukan konsolidasi lahan. Upaya tersebut dapat dilakukan secara menyeluruh dengan membagi lahan kepada seluruh keluarga petani, atau hanya menyediakan lahan pertanian untuk mencukupi kebutuhan pangan minimal seluruh masyarakat dalam satu dusun.

Sebagai contoh untuk memenuhi kebutuhan pangan utama berupa beras bagi masyarakat, pemerintah dapat mengalokasikan lahan pertanian sawah minimal untuk ketahanan pangan mandiri seluas 11,7 hektar. Luas lahan tersebut dibutuhkan untuk mengakomodasi masyarakat dengan asumsi kebutuhan beras masyarakat sebesar 113 kg/kapita/tahun (BPS, 2011). Kebutuhan beras untuk memenuhi kebutuhan total penduduk dusun dengan rata-rata berjumlah 500 jiwa adalah sebesar 56.500 kg/tahun. Hasil tersebut dihitung dengan asumsi lain berupa pemanfaatan optimal untuk konsumsi beras tanpa pemanfaatan lain seperti penyediaan benih atau digunakan untuk bahan baku industri, faktor eksternal lain

seperti pengaruh iklim, hama dan penyakit, penyusutan berat dalam proses penggilingan diabaikan, serta asumsi produksi rata-rata padi 5.000 kg per hektar. Jika dalam satu tahun dapat dilakukan dua kali panen, maka masyarakat akan memperoleh surplus padi 100% dari hasil produksi untuk konsumsi primer.

Dengan ketersediaan lahan pertanian tersebut, petani dapat mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya untuk memproduksi hasil pertanian yang optimal. Hasil produksi selain untuk dikonsumsi oleh keluarga petani, kelebihan (surplus) produksi dapat diperdagangkan. Keuntungan penjualan dapat dialokasikan untuk membiayai pendidikan sehingga keluarga petani memperoleh akses untuk mendapat ilmu pengetahuan. Manfaat dari terpenuhinya kebutuhan pendidikan dengan bertambahnya pengetahuan tentang pengelolaan alam dan lingkungan secara lestari, dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memahami keberlanjutan alam dan lingkungannya.

Berdasarkan hasil analisis dengan kriteria penilaian NRC, daerah studi memiliki nilai keberlanjutan cukup tinggi untuk mendukung usaha petanian di setiap agroekosistem. Kondisi sumber daya pertanian yang tersedia dapat memberikan kesempatan bagi petani untuk dapat memanfaatkan sumber daya pertanian tidak hanya untuk saat ini, tetapi untuk kebutuhan di masa yang akan datang. Keberlanjutan ditunjukkan dengan kondisi tanah, air, udara, dan keanekaragaman hayati yang baik yang mampu mendukung stabilitas kehidupan sosial-ekonomi dan spiritual-budaya masyarakat.

Kondisi sosial-ekonomi dan spiritual-budaya masyarakat dapat memberikan kualitas hidup yang baik bagi petani dengan tersedianya lapangan pekerjaan untuk melakukan aktivitas reproduksi dan produksi. Keberlanjutan ditunjukkan dengan kondisi aktivitas reproduksi maupun produksi masyarakat yang baik yang mampu menyokong stabilitas kehidupan masyarakat. Ketersediaan sumber pangan dapat memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh pangan dengan kualitas prima, cukup nutrisi, mudah diperoleh, dan harga yang sesuai.

Analisis keberlanjutan masyarakat pertanian dilakukan untuk menilai sejauh mana masyarakat dengan persepsi, preferensi, sikap, dan perilakunya mampu memanfaatkan sumber daya pertanian secara berkelanjutan. Berdasarkan hasil analisis penilaian keberlanjutan masyarakat dengan metode CSA, diperoleh hasil

tingkat keberlanjutan masyarakat yang menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan. Dusun Ciomas memiliki nilai tertinggi dibandingkan dusun lainnya dengan nilai total 1182. Adapun Dusun Mandalare memiliki nilai terendah dengan nilai 1142, sedangkan Dusun Kertabraya bernilai 1145. Perbedaan yang tidak begitu signifikan di antara dusun menunjukkan kesamaan dalam beberapa aspek dominan pembentuk karakteristik lanskap pertanian di masing-masing dusun. Status dusun yang menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan tetap perlu dilakukan upaya perbaikan dan penyempurnaan dalam beberapa aspek (dengan nilai di bawah 50) untuk mencapai keberlanjutan optimal (Tabel 27.)

Tabel 27. Hasil Penilaian Keberlanjutan Masyarakat Berdasarkan Kriteria CSA

No. Parameter Bobot Dusun Ciomas Dusun Mandalare Dusun Kertabraya Aspek Ekologi

1. Perasaan terhadap tempat 35* 27* 29*

2. Ketersediaan, produksi, dan distribusi makanan 57* 57* 55* 3. Infrastruktur, bangunan, dan transportasi 38* 29* 31* 4. Pola konsumsi dan pengelolaan limbah padat 50* 50* 50*

5. Air-sumber mutu dan pola penggunaan 49* 49* 49*

6. Limbah cair dan pengelolaan polusi air 25* 25* 25*

7. Sumber dan penggunaan energi 46* 46* 47*

Total nilai aspek ekologi 300** 283** 286**

Aspek Sosial-Ekonomi

1. Keterbukaan, kepercayaan, keselamatan; ruang bersama

72* 72* 72*

2. Komunikasi, aliran gagasan, dan informasi 62* 62* 62*

3. Jaringan pencapaian dan jasa 61* 36* 36*

4. Keberlanjutan sosial 69* 69* 69*

5. Pendidikan 46* 46* 46*

6. Pelayanan kesehatan 55* 55* 55*

7. Keberlanjutan ekonomi lokal yang sehat 40* 40* 40*

Total nilai aspek sosial 405** 380** 380**

Aspek Spiritual-Budaya

1. Keberlanjutan budaya 97* 97* 97*

2. Seni dan kesenangan 48* 48* 48*

3. Keberlanjutan spiritual 53* 53* 53*

4. Keterikatan masyarakat 71* 71* 71*

5. Kelenturan masyarakat 62* 62* 62*

6. Holografik baru berorientasi global 66* 66* 66*

7. Perdamaian dan kesadaran global 82* 82* 82*

Total nilai aspek spiritual Total nilai aspek keseluruhan

479** 1184*** 479** 1142*** 479** 1145***

Keterangan:

*Pembobotan parameter dalam satu aspek

50+ : Menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan 25-49 : Menunjukkan suatu awal yang baik ke arah keberlanjutan 0-24 : Menunjukkan perlunya tindakan untuk mencapai keberlanjutan **Pembobotan parameter dalam satu aspek

333+ : Menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan 166-332 : Menunjukkan suatu awal yang baik ke arah keberlanjutan 0-165 : Menunjukkan perlunya tindakan untuk mencapai keberlanjutan ***Pembobotan parameter dalam satu aspek

999+ : Menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan 500-998 : Menunjukkan suatu awal yang baik ke arah keberlanjutan 0-449 : Menunjukkan perlunya tindakan untuk mencapai keberlanjutan

Berdasarkan hasil analisis keberlanjutan masyarakat menggunakan metode analisis CSA, diperoleh hasil yang cukup signifikan antara aspek ekologi dengan aspek sosial-ekonomi dan spiritual-budaya. Aspek ekologi termasuk ke dalam tingkat keberlanjutan yang menunjukkan awal yang baik ke arah keberlanjutan (nilai antara 166-332). Sedangkan aspek sosial-ekonomi dan spiritual-budaya telah memenuhi kriteria yang menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan (nilai 333+). Aspek ekologi merupakan aspek utama yang menyediakan sumber daya alam dan lingkungan sebagai penunjang utama keberlangsungan aspek sosial-ekonomi dan spiritual-budaya. Sebagai modal fisik, keberlanjutan aspek ekologi perlu ditingkatkan pada taraf kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan sehingga keseimbangan antaraspek dapat tercapai guna merealisasikan keberlanjutan masyarakat pertanian Sunda Parahiyangan.

Aspek ekologi yang menunjukkan awal baik ke arah keberlanjutan didukung oleh ketersediaan, produksi, dan distribusi sumber daya pangan yang melimpah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sumber daya pangan yang melimpah dimanfaatkan dengan pola konsumsi sederhana. Hasil produksi pertanian dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga inti petani. Kelebihan hasil produksi dapat dialokasikan untuk fungsi sosial sebagai aktualisasi budaya silih

anteuran atau diperdagangkan. Bagi masyarakat golongan menengah ke bawah

hasil pertanian lebih dimanfaatkan untuk fungsi subsisten dan sosial. Sedangkan bagi golongan atas selain untuk fungsi subsisten dapat diperdagangkan atau didistribusikan untuk fungsi lainnya.

Keberlanjutan aspek ekologi dapat tercapai secara optimal jika rasa kepemilikan masyarakat terhadap tempat tinggalnya dapat ditingkatkan. Kondisi saat ini menunjukkan bahwa generasi muda tidak begitu mengenal sejarah dari perkembangan dusunnya. Penyebab utama adalah kurangnya distribusi informasi dari generasi tua kepada generasi muda yang terkendala oleh ketidakhadiran generasi muda di dusun. Tren saat ini menunjukkan bahwa generasi muda cenderung lebih menyukai bermigrasi ke kota untuk bekerja jika dibandingkan dengan tetap tinggal di dusun. Dampaknya, para orang tua cukup kesulitan bertemu untuk menyampaikan informasi tentang sejarah dan kondisi dusun pada anak-anak dan generasi penerusnya.

Kondisi lain yang perlu ditingkatkan adalah kualitas dan kuantitas infrastruktur dusun untuk menunjang keberlangsungan aktivitas masyarakat. Ketersediaan jalan sebagai prasarana perhubungan sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk melakukan mobilisasi barang dan jasa. Kondisi prasarana jalan dan sarana berupa angkutan umum di daerah studi belum cukup memadai sehingga perlu dilakukan perbaikan dan pengembangan untuk efektivitas dan efisiensi mobilitas masyarakat. Selain itu, infrastruktur dalam pemanfaatan sumber daya air perlu dilakukan perbaikan terutama dalam menunjang aktivitas produksi pertanian dan reproduksi rumah tangga petani.

Saluran irigasi merupakan prasarana penting untuk menunjang usaha pertanian tadah hujan di daerah studi. Kondisi fisik di daerah studi cukup menyulitkan untuk pembuatan saluran irigasi teknik. Namun, pengetahuan ekologi tradisional masyarakat memberikan contoh melalui pemanfaatan bambu sebagai media saluran air. Dengan model tersebut, sumber daya air dapat dimanfaatkan lebih optimal dengan manfaat lain berupa konservasi sumber daya tanah dan menjaga keanekaragaman hayati jenis bambu.

Menurunnya kualitas dan kuantitas sumber daya air dan tanah disebabkan pula oleh penggunaan sarana produksi pertanian yang tidak ramah lingkungan, seperti pupuk dan pestisida kimia, serta sarana produksi tidak ramah lingkungan lainnya. Berdasarkan pengetahuan ekologik tradisional, masyarakat percaya bahwa dengan menggunakan pupuk kandang dan hijau dapat memberikan hasil produksi yang baik dan menjaga kelestarian sumber daya pertanian. Ungkapan

lendo taneuh (tanah subur) menunjukkan bahwa kearifan masyarakat telah memberikan bukti nyata dari pemanfaatan pupuk organik yang dapat menyuburkan tanah secara lestari. Dengan mulai memberdayakan pemanfaatan pupuk dan pestisida organik yang diberdayakan secara mandiri oleh masyarakat dapat mengurangi ketergantungan terhadap sarana produksi yang tidak ramah lingkungan.

Sumber energi utama masyarakat diperoleh dari kayu bakar. Energi tersebut dimanfaatkan untuk menunjang aktivitas reproduksi keluarga petani, seperti memasak. Ketersediaan kayu bakar yang diperoleh dari agroekosistem kebun-talun, sawah, dan pekarangan cukup tersedia dan menunjukkan tingkat keberlanjutan yang optimal jika dibandingkan dengan pemanfaatan yang masih terbatas. Namun, ketergantungan terhadap sumber energi yang berasal dari minyak bumi masih kuat dirasakan masyarakat. Bahan Bakan Minyak (BBM) dimanfaatkan oleh sebagian besar masyarakat untuk aktivitas produksi pertanian dan nonpertanian.

Bahan Bakar Gas dimanfaatan oleh sebagian kecil masyarakat untuk menunjang aktivitas reproduksi seperti memasak. Namun, masyarakat lebih memilih menggunakan suluh (kayu bakar) dengan memanfaatkan kompor tradisional berupa hawu (tungku) sebagai sarana memasak (Gambar 38). Pemanfaatan hawu selain bermanfaat secara ekologi dan sosial-ekonomi, telah menunjukkan nilai spiritual-budaya masyarakat yang tinggi. Ditemukan budaya khas masyarakat di daerah studi yang lebih menyukai makan bersama keluarga di sekitar hawu jika dibandingkan dengan makan di meja makan. Informan kunci menuturkan dengan cara seperti itu keakraban dan keeratan keluarga dapat lebih mudah terasa.

Pengetahuan ekologik tradisional masyarakat di daerah studi telah menunjukkan dampak positif dalam menjaga keberlanjutan ekologi. Pemanfaatan sumber daya lokal untuk menunjang aktivitas produksi dan reproduksi masyarakat dilakukan dengan berbagai pertimbangan sehingga dapat mengurangi dampak negatif dari aktivitas tersebut. Dengan demikian, pemanfaatan pengetahuan ekologi tradisional perlu dipertimbangkan dalam upaya mengembangkan aspek fisik dan masyarakat dalam lanskap pertanian.

Gambar 38. Pemanfaatan Suluh (Kiri) dan Hawu (Kanan) dalam Aktivitas Reproduksi Masyarakat (Memasak)

Aspek sosial-ekonomi menunjukkan kemajuan sempurna ke arah keberlanjutan. Masyarakat di daerah studi menunjukkan rasa keterbukaan, kepercayaan, dan keselamatan di setiap kesempatan berinteraksi dalam suatu ruang sosial. Masyarakat berinteraksi dan saling bertukar informasi, gagasan, ide, opini, dan saran dalam rangka memupuk solidaritas di antara masyarakat, serta dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat. Jaringan pencapaian dan jasa dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat. Informasi tentang kemasyarakatan dalam aspek sosial, ekonomi, spiritual, budaya, dan politik dapat dengan mudah diperoleh dan diikuti masyarakat dengan keterlibatan aktif di setiap aktivitas kemasyarakatan.

Keberlanjutan sosial-ekonomi dapat dicapai secara optimal dengan meningkatkan mutu pelayanan dalam aspek pendidikan dan ekonomi pertanian lokal. Tingkat pendidikan masyarakat tergolong rendah dengan indikasi lulusan SD yang lebih mendominasi. Faktor yang mempengaruhi hal tersebut, di antaranya, adalah kurang tersedia prasarana dan sarana penunjang pendidikan seperti bangunan dan tenaga pengajar. Bangunan sekolah yang tersedia saat ini belum cukup mengakomodasi kebutuhan pendidikan yang optimal. Tenaga pengajar sebagian besar merupakan tenaga honorer dengan gaji yang kurang sesuai jika dibandingkan dengan usaha yang dilakukan. Perbaikan dalam aspek pendidikan mutlak dilakukan untuk menunjang kemandirian hidup masyarakat dalam menghadapi dinamika kehidupan. Perbaikan dapat dilakukan dengan penyediaan fasilitas pendidikan yang memadai dengan ketersediaan guru yang ditunjang gaji yang sesuai.

Aspek ekonomi pertanian lokal perlu mendapat perhatian lebih karena untuk menunjang sistem sosial-ekonomi masyarakat diperlukan sistem ekonomi pertanian yang sehat. Dewasa ini usaha produksi pertanian masih berorientasi untuk memenuhi kebutuhan primer keluarga petani (subsisten). Keinginan untuk meningkatkan produksi berorientasi pasar (komersial) terkendala modal fisik berupa lahan yang sempit bahkan tidak memiliki (landless). Sistem usaha tani ramah lingkungan untuk menunjang produksi telah dimiliki oleh masyarakat. Namun, lemahnya modal fisik dan finansial tidak dapat memanfaatkan pengetahuan tersebut secara optimal. Pengalokasian lahan menjadi solusi terbaik bagi petani sebagai modal utama dalam meningkatkan aktivitas ekonomi pertaniannya. Ketersediaan lahan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat dengan menjalankan usaha tani terpadu yang ramah lingkungan sehingga mampu memberikan hasil produksi yang baik dan tetap menjaga kelestarian lahannya.

Ketersediaan lahan dapat diakomodasi dengan upaya konsolidasi lahan melalui land reform bagi keluarga petani yang memiliki lahan terbatas atau tidak memiliki lahan. Sistem yang dijalankan dapat berupa pemberian hak sewa atau hak milik dengan pemberlakukan pajak yang sesuai. Selain ketersediaan lahan, infrastruktur penunjang usaha pertania perlu diakomodasi secara optimal, seperti penyediaan sarana produksi dan distribusi, serta didukung kelembagaan sosial-ekonomi dan sosial-ekologi yang terpadu.

Lemahnya modal finansial dapat diperkuat dengan penyediaan bantuan keuangan berupa kredit mikro bagi keluarga petani baik dikelola oleh pihak pemerintah maupun swasta. Sistem kredit yang ditawarkan diupayakan tidak memberatkan petani yang dapat dijalankan dengan sistem keuangan syari’ah (bagi hasil). Ketersediaan modal fisik berupa lahan dan kuatnya modal finansial tidak dapat dimanfaatkan secara optimal tanpa adanya kekuatan modal manusia (SDM). Kondisi aktual di daerah studi menunjukkan tren migrasi masyarakat golongan usia kerja ke kota. Migrasi yang terjadi mengakibatkan dilema pada keberlanjutan lanskap pertanian.

Perpindahan masyarakat ke kota di satu sisi memberikan manfaat bagi golongan tua yang tetap tinggal di desa dengan ketersediaan modal finansial bulanan dari anggota keluarga yang berkerja di kota. Namun, di sisi lain berdampak pada ketidakefektifan usaha pertanian yang diakibatkan berkurangnya SDM dalam pengelolaannya. Tingginya tingkat migrasi ke kota dapat diturunkan dengan pemberdayaan generasi muda yang diarahkan pada usaha pertanian yang menjanjikan secara ekonomi, sosial, budaya, dan ekologi. dalam hal ini diperlukan keterlibatan aktif dari pihak pemerintah melalui dinas terkait, institusi pendidikan, dan swasta dalam menunjang keberlangsungan usaha pertanian untuk mencapai pembangunan pertanian berkelanjutan.

Keberlanjutan aspek spiritual-budaya masyarakat menunjukkan tren positif ke arah kemajuan sempurna. Optimalisasi keberkanjutan perlu dilakukan pada peningkatan aspek seni dan kesenangan. Kondisi aktual menunjukkan bahwa tidak banyak ditemukan bentuk kesenian baik aktivitas maupun benda. Kesenian yang banyak dilakukan oleh masyarakat adalah seni suara dalam aktivitas seni marawis,

qasidah, dan nasyd dengan benda budaya berupa rebana hasil akulturasi dengan

budaya pesantren (Islam). Pengaruh ajaran Islam cukup kuat mempengaruhi perkembangan kesenian dan kesenangan. Namun demikian, beberapa sesepuh masyarakat mulai menggali dan mempelajari kembali beberapa kesenian tradisional masyarakat lokal untuk dapat dinikmati masyarakat tanpa melanggar syariat agama. Kesenian yang mulai dikembangkan, di antaranya, adalah seni

karinding yang telah dialihfungsikan sebagai benda seni (Gambar 39).

Aspek spiritual-budaya lain yang berpotensi mendukung pencapaian kehidupan masyarakat berkelanjutan tercermin dalam beberapa peribahasa

(babasan Sunda). Babasan Sunda yang masih ditemukan dalam kehidupan

masyarakat seperti adat kakurung ku iga (adat yang sulit digantikan) menunjukkan sikap masyarakat yang tetap berusaha menjaga adat istiadat lokal yang disesuaikan dengan pranata yang berlaku saat ini. Peribahasa lain seperti ari

diarah supana kudu dipiara catangna yang berarti apa yang bermanfaat harus

dirawat dengan sebaik-baiknya. Hal itu menjadi dasar spiritual-budaya yang kuat bagi masyarakat untuk menjaga kelestarian alam dan lingkungannya yang telah memberi berbagai manfaat.

Gambar 39. Alat Musik Karinding Buhun Khas Masyarakat Sunda Panjalu

Keberlanjutan lanskap pertanian di daerah studi menunjukkan tren positif ke arah keberlanjutan yang optimal. Kondisi tersebut didukung oleh potensi pengetahuan ekologik tradisional masyarakat Sunda Parahiyangan yang mengarah kepada tingkat keberlanjutan yang sesuai dengan kriteria USDA. Hasil kajian menunjukkan bahwa hasil analisis NRC terhadap aspek fisik lanskap dan CSA