II. TINJAUAN PUSTAKA
4.1. Analisis Situasional
4.1.1. Analisis Kondisi Fisik Lanskap Pertanian Sunda Parahiyangan
4.1.1.4. Vegetasi dan Satwa
4.1.1.4.1. Struktur Vegetasi dan Satwa di Kebun-Talun
Kebun-talun merupakan agroekosistem dengan ciri utama kombinasi antara tanaman tahunan dan semusim yang merupakan implementasi dari praktik
agroforestry. Sistem kebun-talun yang dilakukan masyarakat sebagian besar
dilakukan di daerah dataran tinggi (luhur) yang langsung berbatasan dengan hutan lindung di bagian atas dan sawah di bagian bawah. Posisi tersebut menjadikan kebun-talun tidak hanya berfungsi untuk subsisten dan komersial, tetapi berfungsi pula secara ekologis untuk konservasi tanah, air, dan keanekaragaman hayati. Sistem kebun-talun dijalankan dengan membuka talun untuk ditanami tanaman tahunan dan semusim (kebun). Setelah tanaman semusim dipanen, tanaman tahunan dibiarkan tetap tumbuh dengan pemeliharaan semi intensif (kebun campuran) hingga ekstensif (talun).
Berdasarkan inventarisasi tanaman, ditemukan ragman jenis tanaman dengan jumlah rata-rata jenis tanaman yang dominan ditanam masyarakat dalam sistem kebun-talun sebanyak 47 jenis tanaman (Tabel 2). Jenis tanaman herba yang dominan ditanam adalah pisang (Musa paradisiaca L.). Sedangkan jenis pohon, di antaranya, adalah jati (Tectona grandis L.f.), sengon (Paraserianthes
falcataria), dan kopi (Coffea arabica L.). Jenis semak dan rumput yang banyak
ditanam, di antaranya, adalah kapulaga (Amomum compactum Solland), lada
(Piper nigrum L.), sirih (Piper betle L.), nanas (Ananas comosus (L.) Merr.), dan
bambu (Gigantochloa verticillata (Willd.)).
Tabel 2. Jenis Tanaman Dominan di Agroekosistem Kebun-Talun
Dusun Nama
Lokal
Nama Botani Individu Kelompok Fungsi
Ciomas 1 Pisang Musa
paradisiaca L.
46 Herba Buah/ Penghasil Pati/Obat Kelapa Cocos nucifera L. 9 Pohon Buah/Bumbu/ Lainnya Sengon Paraserianthe s falcataria 9 Pohon Industri/ Lainnya
Ciomas 2 Pisang Musa
paradisiaca L.
21 Herba Buah/ Penghasil Pati /Obat Sengon Paraserianthe
s falcataria
15 Pohon Industri/ Lainnya Cengkeh Eurgenia
aromatica
10 Perdu Industri/Sayur/Obat/ Lainnya
Ciomas 3 Jati Tectona
grandis L.f.
Lanjutan tabel 2 Mengkudu Morinda citrifolia L. 9 Perdu Buah/Obat Sengon Paraserianthe s falcataria
5 Pohon Industri/ Lainnya Mandalare 1 Pisang Musa
paradisiaca L.
58 Herba Buah/ Penghasil Pati /Obat Cengkeh Eurgenia
aromatica
16 Perdu Bumbu/ Lainnya Sengon Paraserianthe
s falcataria
18 Pohon Industri/ Lainnya Mandalare 2 Pisang Musa
paradisiaca L.
39 Herba Buah/ Penghasil Pati /Obat Sengon Paraserianthe
s falcataria
18 Pohon Industri/ Lainnya Cengkeh Eurgenia
aromatica
14 Perdu Bumbu/ Lainnya Mandalare 3 Pisang Musa
paradisiaca L.
33 Herba Buah/ Penghasil Pati /Obat Jati Tectona grandis L.f. 15 Pohon Industri Bambu Gigantochloa verticillata (Willd) 13 Pohon Industri/Sayur/Obat/ Lainnya Kertabraya 1 Kopi Coffea
arabica L.
24 Perdu Buah
Pisang Musa
paradisiaca L.
24 Herba Buah/Pangan/Obat Suren Toona sureni
(BI) Merr
23 Pohon Industri/ Lainnya Kertabraya 2 Pisang Musa
paradisiaca L.
63 Herba Buah/ Penghasil Pati /Obat Suren Toona sureni
(BI) Merr
10 Pohon Industri/ Lainnya Jabon Gmelina
arborea
10 Pohon Industri/ Lainnya Kertabraya 3 Pisang Musa
paradisiaca L.
54 Herba Buah/ Penghasil Pati /Obat Cengkeh Eurgenia
aromatica
18 Perdu Bumbu/ Lainnya Sengon Paraserianthe
s falcataria
13 Pohon Industri/ Lainnya Sumber: Pengamatan lapang
Pisang (Musa paradisiaca L.) menjadi primadona karena kemudahan dalam penanaman dan perawatan, serta dapat diperoleh hasil yang cepat dan cukup menguntungkan secara ekonomi. Jati merupakan pohon kayu yang banyak ditanam masyarakat sebagai investasi jangka panjang. Sebagai investasi jangka menengah, jenis pohon kayu yang banyak ditanam oleh masyarakat adalah sengon
(Paraserianthes falcataria). Kopi (Coffea arabica L.) merupakan komoditas
ekonomi menjadi alasan utama masyarakat mulai mengalihfungsikan lahan kebun-talunnya menjadi kebun kopi. Selain jenis pohon, perdu, herba, dan rumput, diidentifikasi pula jenis tanaman semak dan penutup tanah yang ditanam oleh masyarakat (Lampiran 4).
Jenis tumbuhan yang banyak ditemukan di daerah studi adalah ki rinyuh
(Chromolaena odorata L.). Ki rinyuh tumbuh secara liar di agroekosistem
kebun-talun dan dimanfaatkan oleh petani sebagai salah satu sumber hayati untuk pembuatan pupuk hijau (Gambar 20). Dengan fungsi tersebut, banyak dari petani yang membiarkan ki rinyuh tumbuh subur di lahannya atau bahkan sengaja ditanam untuk menambah bahan baku produksi pupuk hijau. Keberadaan ki
rinyuh cukup membantu petani dalam mengelola lahan garapannya. Pemanfaatan
ki rinyuh yang dikombinasikan dengan pupuk kandang dapat mengurangi biaya
produksi dalam pengadaan pupuk. Selain untuk fungsi pupuk hijau, ki rinyuh
dapat dimanfaatkan pula sebagai pestisida alami.
Gambar 20. Tumbuhan Ki Rinyuh (Chromolaena odorata L.) dengan Bentuk Daun (Kiri) dan Habitatnya (Kanan)
Berdasarkan perhitungan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener untuk kelompok pohon dan perdu, diperoleh hasil tingkat keanekaragaman tanaman di daerah studi berkisar antara nilai 1 dan 3 yang menunjukkan tingkat keanekaragaman sedang (Tabel 3). Dusun Kertabraya memiliki nilai indeks tertinggi (2,13) jika dibandingkan dengan Dusun Ciomas (1,50) dan Mandalare (2,13). Hasil perhitungan dengan kategori yang sama dipengaruhi oleh kondisi ekologi, sosial-ekonomi, dan spiritual-budaya yang relatif sama di setiap dusun. Namun, terdapat perbedaan nilai yang cukup signifikan di Dusun Ciomas.
Tabel 3. Indeks Keanekaragaman Tanaman di Agroekosistem Kebun-Talun
No. Dusun Plot H Rata-Rata H Kategori*
1. Ciomas 1 1,777409358 1,50544755 Sedang 2 1,511550157 3 1,227383136 2. Mandalare 1 2,074918402 1,957789837 Sedang 2 2,027284141 3 1,771166967 3. Kertabraya 1 2,627837175 2,138040448 Sedang 2 1,757537056 3 2,028747113 *Kategori: H<1 Rendah 1<H<3 Sedang H>3 Tinggi
Berdasarkan faktor ekologi, kondisi lahan untuk implementasi sistem kebun-talun di daerah studi berada pada kemiringan 15% hingga 40% (agak curam hingga curam). Kondisi tersebut sesuai untuk penanaman tanaman kayu yang dapat dikombinasikan dengan tanaman semusim (Gambar 21). Penanaman tersebut sangat bermanfaat bagi upaya konservasi tanah dan air. Hal ini direspon oleh masyarakat dengan menaman ragam tanaman kayu, seperti suren (Toona
sureni (BI) Merr), gmelina (Gmelina arborea Roxb.), sengon/ablo (Paraserianthe
falcataria), dan jati (Tectona grandis L.f.), serta tanaman (rumput) bambu
(Gigantochloa verticillata (Willd)).
Faktor sosial-ekonomi cukup mempengaruhi persepsi dan preferensi masyarakat dalam menentukan jenis tanaman. Perolehan keuntungan dari komoditas yang ditanam menjadi pertimbangan utama masyarakat. Pohon kayu banyak ditanam masyarakat karena nilai ekonomi yang dimilikinya. Pohon jati saat ini banyak ditanam karena dapat memberikan pemasukan finansial yang relatif besar, meskipun membutuhkan waktu lama untuk diambil hasilnya. Namun demikian, orientasi terhadap aspek ekonomi berdampak pada menurunnya keanekaragaman jenis tanaman karena lahan ditanami secara seragam.
Faktor spiritual-budaya memiliki pengaruh positif terhadap tingkat keberagaman jenis tanaman di daerah studi. Sebagai contoh dalam pelaksanaan syukuran, hajatan, atau peringatan hari besar keagamaan, masyarakat memanfaatkan hasil pertanian sebagai sumber pangan, seperti beras merah, beras putih, gula aren, serta ragam jenis buah dan sayuran untuk keperluan acara seperti pisang, jeruk nipis, dan umbi-umbian. Beberapa jenis tanaman yang dimanfaatkan dalam acara tersebut. banyak ditanam oleh masyarakat sebagai modal untuk dapat memenuhi kebutuhan acara tanpa harus membeli. Namun, beberapa jenis sumber tanaman yang dapat diperoleh dengan mudah di pasar seperti jeruk nipis dan beras merah, tidak banyak dibudidayakan oleh masyarakat. Sistem pertanian huma yang telah ditinggalkan oleh masyarakat menyebabkan beras merah jarang dibudidayakan.
Faktor fisik berupa posisi, lokasi, situasi dan jarak memiliki kaitan yang erat dengan perbedaan ragam tanaman dalam agrokosistem kebun-talun. Dusun Kertabraya terletak di ketinggian 898-1.203 mdpl. dengan posisi terdekat ke arah Gunung Sawal dan terjauh ke arah kota Kecamatan Panjalu jika dibandingkan dengan dua dusun lainnya. Situasi tersebut berpengaruh pada preferensi masyarakat dalam memanfaatkan lahan kebun-talun untuk memenuhi kebutuhan harian tanpa pertimbangan lebih untuk kebutuhan ekonomi. Informan kunci mengemukakan bahwa sebagian besar masyarakat sangat bergantung pada hasil pertanian dari kebun-talun. Hasil pertanian lebih banyak dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan harian keluarga petani. Namun, jika ada hasil berlebih akan dibagikan atau dijual kepada masyarakat lainnya. Hubungan mutualistik tersebut masih tetap dijalankan dan menjadi alasan kuat bagi eksistensi sistem kebun-talun.
Kondisi yang sama terlihat pada agroekosistem kebun-talun di Dusun Mandalare. Posisi dusun yang berada pada ketinggian antara 737-866 mdpl. memiliki kesamaan karakter agroekosistem, pola tanam, jenis tanaman, dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Posisi Dusun Ciomas berada cukup dekat dengan kota kecamatan sehingga lebih memudahkan masyarakat untuk menjual dan membeli produk pertanian. Dengan kemudahan tersebut, berdampak pada preferensi masyarakat untuk lebih banyak menanam tanaman untuk tujuan komersial dan untuk kebutuhan harian dapat diakomodasi dengan mudah di pasar.
Kondisi satwa dalam sistem kebun-talun sebagian besar didominasi satwa liar baik dari kelas vertebrata (mamalia, burung, reptil, dan ampibi) maupun avertebrata (moluska, laba-laba, dan serangga). Hampir tidak ditemukan di ketiga dusun petani yang beternak dalam sistem kebun-talun. Padahal kebutuhan pupuk kandang sangat dibutuhkan guna menunjang usaha pertanian. Informan kunci menjelaskan bahwa faktor keamanan menjadi alasan utama petani tidak berani memelihara ternak di kebun-talun yang lokasinya relatif jauh dari permukiman.