• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

4.1. Analisis Situasional

4.1.3. Analisis Kondisi Sistem Spiritual-Budaya Masyarakat Pertanian Sunda Parahiyangan Sunda Parahiyangan

4.1.3.3. Budaya Masyarakat

4.1.3.3.2. Pengetahuan Ekologik Tradisional

Masyarakat pertanian di perdesaan memiliki pengetahuan tentang alam, vegetasi, satwa, produk alam, sifat dan tingkah laku manusia, serta ruang dan waktu yang terkait dengan pertanian. Berdasarkan pemahaman terhadap aspek fisik alam dan lingkungan, secara budaya masyarakat mengenal dan memahami makna dari daerah-daerah yang dijadikan ruang aktivitas produksi dan reproduksi (Tabel 16).

Tabel 16.Ragam Jenis Tempat Berdasarkan PET Masyarakat Sunda

No. Nama Lokal Keterangan

1. Alun-alun Tempat luas yang berada di pusat kota

2. Astana Kuburan/pemakaman

3. Babakan Permukiman/kampung baru

4. Basisir Pesisir pantai

5. Babantar Bagian sungai yang lebar tetapi dangkal 6. Bojong Lahan luas yang menjorok ke sungai 7. Bobojong Lahan yang menjorok ke sungai

8. Bubulak/Bulakan Kawasan padang rumput di daerah bukit atau gunung

9. Buruan Bagian depan dari pekarangan

10 Dayeuh Permukiman yang dihuni banyak orang

11. Emper Bagian depan rumah/teras

12. Gawir Sisi jurang

13. Geger Punggung gunung yang memanjang

15. Gupitan Jalan setapak antara dua bukit

16. Gurawes Tanah yang curam

17. Huma Sawah ladang/darat (tadah hujan/rainfed) 18. Jalan huni Jalan di antara jalur tanaman di kebun

19. Jalan jajahan Jalan besar yang dapat dilewati oleh kendaraan 20 Jalan satapak Jalan yang hanya dapat dilalui oleh manusia

Lanjutan Tabel 16

22. Kubangan Tempat penuh lumpur untuk mandi kerbau

23. Kamalir Saluran air kecil

24. Kobakan Lubang di tegalan yang berair 25. Karees Bagian sisi sungai yang berpasir

26. Kebon Lahan pertanian di belakang rumah (pekarangan belakang) 27. Landeuh Daerah yang lebih rendah

28. Lebak Daerah yang lebih rendah

29. Lengkong Tempat landai dan curam yang berada di antara dua bukit 30. Lamping Bagian sisi gunung yang curam

31. Lembur Tempat yang dihuni banyak orang/kampung 32. Leuwi Bagian sungai yang luas dan dalam

33. Muhara/Muara Hilir dari aliran sungai

34. Nagrak Daerah yang tinggi dan tidak sesuai untuk pertanian 35. Negla Daerah yang luas dan tidak tertutup pepohonan 36. Parigi Saluran air yang sengaja dibuat

37. Parung Bagian sungai yang dangkal dan diapit dua leuwi 38. Pasir Daerah seperti gunung tetapi lebih rendah (bukit) 39. Pakarangan Lahan yang berada di sekitar rumah

40. Pipir Lahan pekarangan di samping rumah

41. Sungupan Tempat mengalirkan air dari sungai ke sawah

42. Sake Sungai kecil

43. Sampalan Daerah jelajah satwa di hutan

44. Samida Hutan yang dikeramatkan

45. Seler Sungai kecil

46. Situ Telaga besar

47. Sirah cai Mata air

48. Solokan Saluran air kecil

49. Somang Jurang yang curam dan dalam

50. Tegalan Lahan luas dan datar di dataran pegunungan 51. Tetelar Bagian sawah yang tidak terkena air 52. Tutugan gunung Bagian gunung paling bawah

53. Walungan Sungai besar

Sumber: Pengamatan lapang

Pengetahuan masyarakat mengenai daerah berbahaya masih diaktualisasikan dalam beberapa aktivitas produksi dan reproduksi masyarakat. Beberapa daerah seperti bojong, bobojong, gawir, samira, lamping dan sampalan menunjukkan tempat berbahaya untuk dilakukan aktivitas. Pemahaman terhadap karakteristik elemen penyusun daerah tersebut memberikan pemahaman terhadap penyesuaian aktivitas yang dapat dilakukan. Namun, kondisi saat ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat mulai mengabaikan kearifan tersebut dengan memanfaatkan daerah berbahaya sebagai ruang aktivitas. Dampaknya terjadi bencana seperti longsor dan erosi yang sebenarnya tidak akan terjadi jika aturan adat tetap ditaati.

Pengetahuan tentang vegetasi dalam lanskap pertanian ditunjukkan masyarakat dalam pengenalan dan penggunaan istilah atau nama lokal terkait vegetasi. Berdasarkan informasi dari beberapa informan kunci, ditemukan 40 pohon lokal (40 tangkal adam/pituin) yang digunakan dalam pelaksanaan konsep

kabuyutan (Tabel 17)

Tabel 17. Nama 40 Tangkal Adam Pengisi Kabuyutan

No. Nama Lokal Nama Latin Kelompok

1. Awi gombong Gigantochloa verticillata (Willd.) Rumput

2. Angsana Pterocarpus indicus Willd. Pohon

3. Angsret Spathodea campanulata Pohon

4. Bungbulang Premna tomentosa Willd. Pohon

5. Baros Manglietia glauca Pohon

6. Beunying Ficus fistulosa Reinw. BI. Pohon

7. Bintinu Melochia umbellate Stapf. Pohon

8. Bungur Lagerstroemia speciosa (L.) Pers. Pohon

9. Caringin Ficus benjamina Pohon

10. Cangcaratan Nuclea excels BI. Pohon

11. Dadap Erythrina variegate L. Pohon

12. Dangdeur Gossampinus malabarica Pohon

13. Eurih Imperata cylindrica Rumput

14. Gayam Inocarpus fagiferus Pohon

15. Harendong Malastoma malabatricum Semak

16. Huru Lisea sp. Pohon

17. Kawung Arenga pinnata L. Pohon

18. Kiara Ficus annulata BI. Pohon

19. Ki beusi Kibessia azzurea BI. Pohon

20. Ki ciat Ficus septica Burm. Pohon

21. Ki hiang Albizzia procera Benth. Pohon

22. Ki hiur Castanopsis javanica BI. Pohon

23. Ki hujan Samanea saman Merr. Pohon

24. Ki kopi Plectronia dydima Benth. & Hook. Pohon

25. Ki lalayu Erioglossum rubiginosum Pohon

26. Ki panggang Trevesia sundaica Miq. Pohon

27. Ki rinyuh Eupathorium odoratum L. Semak

28. Ki saat Velariana hardwickii Wall. Pohon

29. Ki sampang Evodia latifolia DC. Pohon

30. Ki segel Dillenia excels Gilg. Pohon

31. Ki sereh Piper aduncum L. Pohon

32. Ki sireum Syzigium acuminatisima Kurz. Pohon

33. Ki tambaga Eugenia cuprea Pohon

34. Ki teja Machilus rimosa Ness ex BI. Pohon

35. Kiray Metroxylon sagu Rottb. Pohon

36. Loa Ficus sp. Pohon

37. Mara Macaranga tanarius (L.) Muell. Arg. Pohon

38. Seuhang Ficus grossularioides Burm. F. Pohon

39. Sempur Dillenia aurea Smith. Pohon

40. Waru Hibiscus similis Pohon

Selain pengetahuan tentang 40 tangkal adam, masyarakat masih mengenal jenis-jenis lalaban tradisional yang menjadi ciri khas dalam masakan Sunda.

Lalab sudah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan dan

budaya masyarakat Sunda. Bagi masyarakat di perdesaan, lalab memiliki arti tersendiri dalam kehidupan tradisi masyarakatnya. Lalab adalah sumber pangan dari tanaman segar yang berupa bagian daun, pucuk, buah muda, atau biji yang dikonsumsi secara langsung atau dimasak terlebih dahulu. Selain bernilai budaya tinggi, lalab merupakan sumber vitamin, mineral, dan serat bagi kesehatan masyarakat yang mengkonsumsinya. Lalab yang biasa dikonsumsi masyarakat telah tersedia baik dalam agroekosistem kebun-talun, sawah, maupun pekarangan. Jenis tanaman lalab di kebun-talun biasanya merupakan tanaman palawija. Di pekarangan, selain palawija ditemukan pula jenis lalab dari tanaman sayuran dan buah. Masyarakat masih mengenal dan mengkonsumsi lalaban tempo dulu seperti antanan, jotang (Spilanthes calva DC.), sintrong (Erechtites valerinanifolia

(Wolf) DC.), kosambi (Schleichera oleosa (Lour.) Oken.), marame (Glochidon

borneense (MA) Boerl.), dan daun jambu mete (Anacardium officinele L.). Akibat

terjadinya seleksi terhadap jenis tanaman baik secara alami maupun diseleksi oleh masyarakat, jenis lalaban baru mulai dikonsumsi seperti daun singkong (Manihot

easculenta Crantz.), daun pepaya (Carica papaya L.), jaat (Psopocarpus

tetragonolobus), jengkol (Pithecelobium jiringa), petai (Parkia speciosa Hassk.),

leunca (Solanum nigrum L.), daun kemangi (Ocimum bacilicum L.), seladah air

(Nasturtium officinale R.Br.), sawi (Brassica oleraceae L.), terung (Solanum

melongena L.), tespong (Oenanthe javanica DC.), mentimun (Cucumis sativus L.),

buncis (Phaseoulus vulgaris L.), labu siam (Sechium edule (Jacq.) Swartz), dan kacang panjang (Vigna unguiculata sesquipedalis (L.) Verdc.).

Pengetahuan tentang tumbuhan dan tanaman lokal di masyarakat dewasa ini mengalami penurunan akibat berkurangnya pemanfaatan terhadap beberapa jenis yang tidak bernilai ekonomi dan tidak enak untuk dikonsumsi secara langsung. Pohon-pohon pituin banyak yang tidak dibudidayakan di lahan pertanian karena kalah bersaing dengan tanaman introduksi seperti sengon, gmelina, dan jati. Jenis-jenis lalaban yang tidak dibudidayakan saat ini disebabkan oleh rasa yang kurang enak dan kemudahan memperoleh beberapa jenis lalab di pasaran sehingga

masyarakat enggan untuk membudidayakannya. Kondisi tersebut berdampak pada semakin berkurangnya keanekaragaman hayati pertanian di daerah studi. Guna menjaga eksistensi vegetasi lokal perlu dilakukan pembudidayaan kembali jenis-jenis lokal dengan pemberdayaan masyarakat mengenai manfaat dan pentingnya menjaga keberadaan dari jenis lokal tersebut.

Pengetahuan tentang satwa dalam lanskap pertanian ditunjukkan masyarakat dengan mengenal jenis satwa yang bermanfaat dalam menjaga stabilitas agroekosistem. Masyarakat secara umum mengenal jenis-jenis satwa yang berfungsi sebagai hama, musuh alami hama/predator, pollinator, cultivator, dan fungsi lainnya yang berperan dalam menjaga keberlangsungan lanskap pertanian (Tabel 18).

Tabel 18.Ragam Jenis Fungsi Satwa Berdasarkan PET Masyarakat Sunda

No. Fungsi Jenis Satwa

1. Musuh alami (predator)

celemes (Sundasciurus lowii), bajing/tupai (Tupaia javanica), musang (Paguma larvata), kalong (Pteropus vampyrus), burung hantu putih (tito alba javanica), burung hantu cokelat (Bubo ketupu), kowak (Nyctitorac nyctitorac), elang jawa (Spizaetus bartelsi), prenjak jawa (Prinia familiaris), jalak puyuh (Barred buttonquail), laba-laba pemburu (Lycosa pseudoannulata), kumbang (Coccinellidae), capung (Anisoptera dan Zygoptera), lipan/kelabang (Scolopendra sp.), kutu air (Daphnia), semut (Formisidae), kuntul kerbau (Bubulcus ibis), blekok sawah (Ardeola speciosa), musang (Verricula malaccensis), careuh (Herpestes javanicus),

2. Penyerbuk alami (pollinator)

kalong (Pteropus vampyrus) 3. Pengembang biak

alami (cultivator)

celemes (Sundasciurus lowii), bajing/tupai (Tupaia javanica), musang (Paguma larvata), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), kalong (Pteropus vampyrus),

4. Hama (disease) tikus (Ratus argentiventer dan Mus caroli), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), anjing tanah/gang (Grylottalpa africana), kungkang (Leptocorisa acuta), ganjur (Orseolia orizae), kuuk, keong mas (Pomacea canaliculatus), ngengat penggerek batang padi (Scirpophaga incertulas dan S. innotata), wereng cokelat (Nilaparvata lugens), wereng hijau (Nephotettix viresscens), walang sangit (Leptocorisa olaptorius), belalang hijau (Oxya japonica dan Stenocatantops splendens), jangkrik (Gryllotalpa sp.), ulat penggulung daun (Erienota thrax), uret kumbang penggerek bonggol (Cosmopolites sordidus), penggerek batang (Odoiporus logicolis), thrips (Chaetanaphotrips signipennis), dan pipit (Lonchura leucogastroides).

Pengetahuan tradisional khas terkait pemahaman terhadap satwa ditemukan di daerah studi dalam hal memanfaatkan tenaga kerbau untuk membajak sawah

(ngawuluku). Pengetahuan untuk mengendalikan kerbau agar dapat melakukan

pekerjaannya dengan baik tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang. Sama halnya dengan aktivitas menyadap yang perlu keahlian khusus dan pengetahuan ekologik tradisional yang kuat agar dapat menghasilkan lahang yang banyak dengan kualitas yang terbaik. Dalam aktivitas ngawuluku, pemilik kerbau biasanya menggunakan perintah-perintah yang dapat dimengerti dengan mudah oleh kerbau. Tentu saja interaksi dan komunikasi tersebut telah dilakukan dalam jangka waktu yang lama, sehingga pemiliki kerbau memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan kerbau miliknya (Tabel 19)

Tabel 19. RagamInstruksi Petani kepada Kerbau dalam Aktivitas Membajak

No. Instruksi Keterangan

1. Kiya Instruksi petani kepada kerbau untuk berjalan lurus

2. Kalen Instruksi petani kepada kerbau untuk berjalan ke samping akibat terlalu lama membajak di satu tempat.

3. Arang Instruksi petani kepada kerbau untuk lebih membajak tempat yang diperintahkan karena terlalu jarang.

4. Mideur Instruksi petani kepada kerbau untuk berputar.

5. Luput Instruksi petani kepada kerbau untuk menundukan kepala karena bajak tidak mengenai tanah.

Sumber: Pengamatan lapang

Masyarakat petani di daerah studi menggunakan berbagai alat produksi sesuai dengan fungsi dan pemanfaatanya. Beberapa alat pertanian dan senjata tradisional masyarakat Sunda masih digunakan oleh sebagian besar petani. Pemanfaatan alat produksi dan senjata tersebut disesuaikan dengan fungsi dan kebutuhan dari masyarakat. Untuk fungsi memotong dan juga berfungsi sebagai senjata, petani menggunakan congkrang, bedog (golok), arit, gobang (golok panjang), atau parang. Untuk fungsi merapihkan dan membersihkan lahan digunakan pacul (cangkul), wuluku (bajak), gasrok, garu, lalandak, gacok (garpu), atau kored (cangkul kecil). Pengguna dari alat-alat tersebut sebagian besar adalah laki-laki. Bedog, arit, dan kored yang biasa digunakan oleh perempuan dalam aktivitas bertani.

Penggunaan alat-alat pertanian trdisional masih dilakukan oleh sebagian besar petani di daerah studi. Namun, perubahan sistem pertanian yang terjadi akibat intervensi program Revolusi Hijau mempengaruhi alat pertanian yang digunakan. Intensifikasi pertanian dengan introduksi varietas padi hibrida jenis IR yang berbatang pendek, merubah cara pemanenan dengan menggunakan arit yang menggantikan fungsi etem (ani-ani). Pengolahan lahan pertanian sawah saat ini lebih banyak memanfaatkan teknologi traktor jika dibandingkan dengan pemanfaatan bajak. Namun, sebagian besar petani masih menganggap hasil olahan yang lebih baik dengan bajak jika dibandingkan dengan traktor. Hal itu didukung pula dengan kondisi fisik lahan yang berteras dan relatif sempit sehingga cukup sulit bagi traktor untuk melakukan pengolahan tanah.

Usaha pertanian menjadi sumber nafkah utama bagi masyarakat di perdesaan. Kebergantungan masyarakat pada sumber daya hayati pertanian dalam satuan lahan pertanian telah membentuk lanskap pertanian (agroekosistem) yang khas. Dalam hal pembagian ranah kerja, masyarakat mengenal pembagian kerja untuk aktivitas di ladang, kebun-talun, sawah, maupun pekarangan. Aktivitas masyarakat yang biasa dilakukan pada agroekosistem kebun-talun (Tabel 20) dan agroekosistem sawah (Tabel 21) yang dimulai dari pembukaan lahan, penanaman, hingga pemanenan.

Tabel 20. Ragam Aktivitas Pertanian pada Agroekosistem Kebun-Talun dan Pekarangan Berdasarkan PET Masyarakat Sunda

No. Aktivitas Pertanian di Kebun-talun dan Pekarangan Alokasi SDM

Nama Lokal Keterangan B I AL AP

1. Ngabukbak Membuka lahan hutan untuk dijadikan lahan pertanian (huma, kebun-talun, atau sawah).

2. Ngabaladah Memulai perkerjaan yang sulit (pertanian) 3. Nuar Menebang pohon menggunakan bedog/golok. 4. Nyacar atau

babad

Membersihkan lahan menggunakan congkrang atau arit (nyacar) atau menggunakan bedog/golok (babad) untuk siap ditanam.

5. Ngahuru Membakar sisa pohon hasil nyacar atau babad. 6. Ngaduruk Membakar sisa semak dan penutup tanah hingga

bersih.

7. Macul Mengolah tanah agar mudah ditanami

menggunakan cangkul

8. Nemprang Meratakan tanah setelah dicangkul/dibajak

Lanjutan Tabel 20

10. Ngaseuk Membuat lubang menggunakan tongkat kayu (aseuk)

11. Muuhan Memasukan benih ke dalam lubang

12. Ngamalir Membuat saluran air untuk pengairan/irigasi

13. Ngagemuk Memupuk tanaman

14. Nyaangan Menyiangi lahan garapan

15. Ngoyos Menyiangi lahan garapan

16. Ngored Menyiangi dengan menggunakan kored (cangkul kecil)

17. Nyemprot Membasmi hama dengan menyemprotkan obat 18. Tunggu Menunggu lahan agar tidak ada yang mengganggu

19. Panen Memetik hasil tanaman

Keterangan: B=Bapak; I=Ibu; AL=Anak Laki-Laki; dan AP=Anak Perempuan

Tabel 21. Ragam Aktivitas Pertanian pada Agroekosistem Sawah Berdasarkan PET Masyarakat Sunda

No. Aktivitas Pertanian di Sawah Alokasi SDM

Nama Lokal Keterangan B I AL AP

1. Nyaatkeun cai Mengeringkan air untuk mengolah tanah sawah. 2. Babad jarami Membersihkan sisa-sisa jerami padi.

3. Babad galeng Membersihkan gulma di pematang sawah.

4. Mopok galeng Memperbaiki pematang dengan menambahkan lumpur pada permukaannya agar tidak bocor akibat tikus atau kepiting sawah.

5. Macul Mencangkul lahan sawah menggunakan cangkuL.

6. Ngawalajar Mencangkul kasar.

7. Mulihan Mencangkul ulang.

8. Ngangler Menghancurkan tanah menjadi lumpur.

9. Ngacak Membersihkan lahan sawah dari sisa gulma.

10 Nyongkog Mencangkul tanah yang masih menggumpal

11. Ngararata Meratakan tanah sawah.

12. Nyorong Meratakan tanah dengan sosorong.

13. Ngawuluku Membajak lahan sawah menggunakan bajak dengan bantuan tenaga kerbau atau sapi. 14. Ngagaru Menggaruk/menyisir tanah menggunakan garu . 15. Tebar Menebar benih padi pada area pembenihan

(pabinihan).

16. Kias Menabur beras pada area pembernihan.

17. Tandur Menanam padi siap tanam

18. Ngarambet ngabaladah

Menyiangi sawah pertama setelah usia padi 30

hari.

19. Ngarambet mindo Menyiangi sawah kedua setelah usia padi 50 hari. 20. Ngagerendel/ Menyiangi padi menggunakan batang kayu

berpaku (gerendel)

21. Dibuat Memanaen padi

Pembagian ranah kerja dalam mengelola agroekosistem kebun-talun, pekarangan, dan sawah, peran seorang bapak masih mendominasi dari keseluruhan aktivitas. Peran bapak banyak dibutuhkan dalam pekerjaan tergolong berat seperti pmbukaan lahan dan pengolahan tanah. Aktivitas tersebut biasa dibantu oleh anak laki-laki untuk sekedar nyacar, ngahuru, ngaduruk, atau macul. Peran ibu dan anak perempuan banyak dibutuhkan dalam aktivitas kategori sedang dan ringan seperti ngarag, muuhan, nyaangan, ngoyos, ngored, dan panen. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam pengelolaan sumber daya pertanian, tidak ada perbedaan dalam hal keterlibatan antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan terjadi dalam hal bobot pekerjaan dan intensitas curahan waktu kerja. Laki-laki memiliki porsi lebih besar dalam dua hal tersebut jika dibandingkan perempuan (Fausia dan Prasetyaningsih, 2005).

Namun jika dilihat dari jumlah jenis pekerjaan, perempuan memiliki jumlah pekerjaan lebih banyak daripada laki-laki. Proses setelah pembukaan lahan hingga panen banyak dilakukan oleh perempuan. Hal tersebut menunjukkan bahwa peran perempuan memiliki kontribusi positif terhadap keberlangsungan usaha pertanian. Selain itu, keikutsertaan anak dalam setiap proses pengelolaan merupakan cara efektif dalam sosialisasi usaha produski maupun reproduksi keluarga petani. Namun, banyaknya migrasi golongan usia muda ke kota berakibat terkendalanya proses sosialisasi tersebut. Pentingnya proses regenerasi perlu didukung upaya sosialisasi pentingnya keberlanjutan usaha pertanian di perdesaan sehingga dapat mengurangi kehilangan generasi muda di perdesaan.

Pengetahuan lain yang menjadi kekayaan budaya masyarakat di daerah studi adalah pemahaman terhadap sistem ukur dan sistem hitung. Sistem ukur yang digunakan masyarakat, ditentukan berdasarkan ukuran dari anggota tubuh manusia (Tabel 22). Pengetahuan mengenai sistem ukur tersebut digunakan masyarakat dalam pengukuran lahan pertanian. Sistem ukur tradisional masih dikenal dan dipergunakan dalam inventarisasi dan transaksi terkait lahan. keberlanjutan pengetahuan ekologi tradisional tersebut dapat dipertahankan dengan sosialisasi terpadu pada generasi muda untuk terus menggunakannya dalam aktivitas kemasyarakatan.

Tabel 22. Ragam Sistem Ukur Berdasarkan PET Masyarakat Sunda.

No. Nama Lokal Keterangan

1. Satumbak 3.77 m

2. Sabata 14 m2

3. Samil 1.5 km

4. Saareu 100 m2

5. Sahektar 100 are/500 bata

6. Sakaki 30 cm

7. Saelo 0.75 m

8. Saicak 0.75 m2/saelo pasagi

9. Sajeujeuh Sepanjang telapak kaki orang dewasa 10 Satampah Sepanjang telapak tangan orang dewasa

11 Sajeungkal Sepanjang ujung jari jempol hingga ujung jari kelingking, kira-kira 20 cm

12. Sadeupa Sepanjang ujung jari tangan kanan hingga ujung jari tangan kiri, kira-kira 1.60 m

Sumber: Pengamatan lapang

Sistem hitung yang digunakan berdasarkan perhitungan barang tertentu. Perhitungan digunakan masyarakat dalam aktivitas produksi, konsumsi, dan distribusi produk pertanian. Sistem perhitungan dalam aspek pertanian dibedakan menjadi sistem hitung pertanian secara umum (Tabel 23) dan pertanian sawah (Tabel 24).

Tabel 23. Ragam Sistem Hitung Objek Pertanian Secara Umum Berdasarkan PET Masyarakat Sunda

No. Nama Lokal Keterangan Hitungan Umum

A. Hitungan produksi pertanian umum

1. Saleunjeur/Sadapur Hitungan untuk bambu (awi) Satu cetakan

2. Sakeben Hitungan untuk tembakau (bako) 1-2 kg

3. Sasihung Hitungan untuk bawang Satu siung

4. Sailab Hitungan untuk anyaman bambu (bilik) 2 x 2,5 m/2,5 x 3 m

5. Sakeclak Hitungan untuk air (cai) Satu tetes

6. Saturuy/Sasikat Hitungan untuk pisang (cau) 20-15-10 kg/3-5 kg 7. Saponggol/Salembar Hitungan untuk daun pisang (daun cau) Satu pelepah

8. Sajalon Hitungan untuk rumput (eurih) Satu ikat atap (L=1 m) 9. Sagandu/Sabonjor Hitungan untuk gula merah/aren (gula

kawung)

Satu cetakan/10 gandu

10 Sakakab Hitungan untuk injuk (ijuk) Satu pepalah

11. Samanggar Hitungan untuk pinang (jambe) dan kelapa (kalapa)

50 kg atau lebih 13. Sarakit Hitungan untuk kerbau (munding) Dua ekor

15. Sanyamplung Hitungan untuk nangka Satu buah

16. Sapapan Hitungan untuk petai (peuteuy) Satu ruas 17. Saranggeuy/Saganci Hitungan untuk padi (pare) Satu kali arit 18. Sacanggeum Hitungan untuk beras (beas) Satu genggam 19. Sapiring/Saboboko Hitungan untuk nasi (sangu) Satu piring

20 Sakotak Hitungan untuk sawah Satu petak

21. Sabebek/Sateukteuk Hitungan untuk kayu bakar (suluh) Satu buah

22. Sajodo Hitungan untuk ayam atau merpati Dua ekor

23. Samanggar Hitungan untuk salak Satu tangkai

Tabel 24. Ragam Sistem Hitung Pertanian Sawah Berdasarkan PET Masyarakat Sunda

No. Nama Lokal Keterangan

1. Saranggeuy Satu genggam padi 2. Sapocong/Saeundan Satu ikat padi 3. Sageugeus/Sagedeng Dua pocong

4. Sabawon Empat pocong

5. Sasangga Lima geugeus

6. Salajer Empat sangga/dua puluh geugeus

7. Sacaeng 40 sangga/10 lajeur/empat tanggung/200 geugeus

8. Satanggung 50 geugeus

9. Saundem Ukuran beras yang diukur dengan tempurung kelapa 10. Samadea 100 geugeus/setengah caeng

11. Sakati Berat sekitar 817.5 gram 12. Sagantang Lima kati/10 undem 13. Saleter Satu liter (1 dm3)

14. Saemud Satu liter lebih

15 Sakulak Ukuran beras sekitar 2.5 kg

16. Sapikul/Sadacin Ukuran bangsal sekitar 62.5 kg/100 kati Sumber: Pengamatan lapang

Pengetahuan terhadap waktu diaktualisasikan oleh masyarakat dalam penggunaan sistem waktu yang ditentukan berdasarkan musim (Tabel 25). Sistem waktu yang hingga saat ini masih digunakan oleh sebagian besar masyarakat erat kaitannya dengan aktivitas produksi dan reproduksi masyarakat petani. Dengan memahami beberapa ukuran waktu tersebut dapat menjadi tanda bagi ragam aktivitas masyarakat pertanian.

Tabel 25. Ragam Ukuran Waktu Berdasarkan PET dalam Masyarakat Sunda

No. Nama Lokal Keterangan

1. Mamareng Awal musim hujan

2. Usum ngijih Musim hujan, setiap hari basah

3. Dangdangrat Musim hujan yang diselang musim kemarau

4. Usum katiga/halodo Musim kemarau

B. Terkait pertanian

1. Usum nyambut Musim pertama menggarap sawah

2. Usum tandur Musim menanam padi

3. Usum ngarambet/ngoyos Musim merawat/menyiangi sawah

4. Usum celetu Musim padi mulai berbuah

5. Usum rampak Musim padi sudah berbuah

6. Usum panen Musim panen padi

7. Usum nyacar Musim membuka lahan untuk ladang/kebun

8. Usum ngahuru Musim membakar pohon hasil nyacar

9. Usum ngaduruk Musim membakar sisa ngahuru

10. Usum ngaseuk Musim menanam padi huma/ladang/kebun

11. Usum ngored Musim merawat/menyiangi ladang/kebun

12. Usum dibuat Musim panen padi huma/hasil kebun

Pemahaman masyarakat terhadap ruang dan waktu pada agroekosistem terlihat pula dalam mengenal penanda alam yang dijadikan pedoman dalam menjalankan aktivitas pertanian. Namun demikian, dengan perubahan sistem pertanian di beberapa agroekosistem, keberadaan pengetahuan lokal masyarakat terkait perhitungan musim semakin ditinggalkan bahkan dilupakan. Beberapa informan kunci ahli pertanian (mantra tani) menyampaikan bahwa masyarakat masih menggunakan perhitungan musim berdasarkan perbintangan (pabentangan) hingga akhir tahun 1970. Setelah dideklarasikannya program Revolusi Hijau, lambat laun kebudayaan bertani tradisional tersebut semakin ditinggalkan. Pengetahuan ekologik tradisional tersebut dikenal masyarakat sebagai pranata

mangsa.

Pranata mangsa yang dikenal masyarakat memiliki kesamaan dengan

pronoto mongso yang dipakai oleh masyarakat jawa pada umumnya. Pengaruh

Mataram yang pernah menguasai Tatar Sunda cukup kuat mempengaruhi pengetahuan masyarakat dalam menentukan kalender pertanian. Secara umum masyarakat di daerah studi menyusun kalender pertanian berdasarkan gejala alam yang dipelajari secara terus-menerus sehingga menghasilkan pengetahuan tentang musim yang diperlukan dalam pelaksanaan usaha pertanian (pranata mangsa). Sebagai dasar dalam menentukan musim, masyarakat menggunakan keadaan dan jalannya bintang-bintang tertentu.

Hal yang diperhatikan masyarakat adalah keadaaan matahari dengan melihat bayangan manusia. Bayangan manusia yang jatuh di sebelah utara menandakan musim hujan akan segera mulai. Kondisi tersebut biasanya terjadi mulai bulan September hingga permulaan bulan Maret. Kondisi sebaliknya ketika bayangan jatuh di sebelah selatan menandakan hujan semakin berkuran dan musim kemarau akan segera mulai. Kondisi tersebut terjadi pada bulan Maret hingga September. Selain dengan melihat pergerakan matahari, masyarakat memanfaatkan kemunculan bintang waluku (orion) sebagai penanda dimulainya penggarapan lahan. Bintang waluku dipercayai sebagai penanda musim oleh masyarakat karena melihat gugusan bintang seperti bentuk bajak. Tanda yang ditunjukkan oleh bintang waluku adalah ketika kemunculannya yang terang pada sore hari yang menandakan penggarapan lahan harus segera dimulai.