• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Analisis Kebutuhan

Teweh, dan SMP Nusantara Palangka Raya didapatkan bahwa guru sudah menggunakan media pembelajaran yang bervariasi pada pelajaran IPA terutama pada materi biologi. Buku acuan menjadi media utama dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di sekolah tersebut. Selain itu, guru juga menggunakan media pembelajaran kancing genetika, papan persilangan, papan catur, dan permainan ular tangga. Namun untuk beberapa sub materi seperti sistem saraf, sistem transportasi, dan jaringan, guru tetap menggunakan media pembelajaran seperti buku acuan, PPT, gambar, dan video. Guru pernah menggunakan media pembelajaran permainan ular tangga pada materi gerak pada tumbuhan yang dilaksanakan di SMPN 1 Muara Teweh.

Berdasarkan hasil wawancara, media pembelajaran yang digunakan memberikan dampak yang positif bagi guru dan peserta didik yaitu dapat mempermudah guru dalam menyampaikan materi pembelajaran dan dapat mempermudah peserta didik dalam memahami materi pembelajaran yang diajarkan. Penggunaan media pembelajaran dapat menjadi solusi untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Arsyad (2017)

menyatakan bahwa media pembelajaran tidak hanya sebatas membangkitkan motivasi dan minat belajar peserta didik, namun juga dapat membantu meningkatkan pemahaman. Tammu (2017) menyatakan bahwa media pembelajaran merupakan suatu aspek penting yang berpengaruh terhadap motivasi dan keberhasilan belajar peserta didik.

Di empat sekolah yang telah disurvei masih dijumpai permasalahan yaitu adanya peserta didik yang sulit memahami sub materi jaringan, dan tidak terdapatnya media untuk sub materi jaringan dengan waktu yang singkat dalam menyiapkan media saat akan digunakan. Hal tersebut dapat dibuktikan berdasarkan hasil wawancara pada keempat sekolah yang sudah menggunakan media yang bervariasi, akan tetapi ada beberapa materi dan sub materi yang tidak memiliki media pembelajaran. Hal tersebut berdampak pada kurangnya minat peserta didik dalam mengikuti pembelajaran di kelas, selain itu juga menyebabkan kurangnya pemahaman materi dan kesulitan dalam memahami beberapa materi yang dipelajari.

Berdasarkan hasil wawancara peneliti didapatkan potensi dari penggunaan metode tutor sebaya dari guru SMPN 1 Muara Teweh dan SMPN 2 Muara Teweh yang dapat membuat peserta didik lebih aktif dan lebih memahami materi yang dipelajari. Hal ini akan membuat peserta didik lebih memahami materi yang diajarkan, karena peserta didik diminta untuk menjelaskan atau mengajarkan materi yang dipelajari kepada peserta didik lainnya. Ahdiyat dan Sarjaya (2014) menyatakan bahwa metode tutor sebaya merupakan wahana penemuan dan pengembangan konsep. Metode tutor

sebaya merupakan metode yang mengajak peserta didik untuk berkesempatan mengajarkan dan berbagi ilmu pengetahuan atau keterampilan yang dimilikinya kepada teman sekelasnya.

Rosela (2016) menunjukkan adanya peningkatan nilai peserta didik pada pembelajaran menggunakan media permainan ular tangga. Ketuntasan peserta didik pada siklus I mencapai 62,5% sedangkan pada siklus II mencapai 100%. Selly dkk (2019) menyatakan media pembelajaran permainan ular tangga yang dikembangkan sangat praktis dari segi kemudahan penggunaan, kejelasan, dan tampilan media. Berdasarkan respon guru dan peserta didik didapatkan hasil persentase kepraktisan dari guru 82,5% dan peserta didik 82,9%.

Berdasarkan hasil wawancara di SMPN 1 Muara Teweh dan SMP Santa Maria, guru selalu menggunakan media pembelajaran kancing genetika, papan catur, dan permainan ular tangga, sehingga peserta didik lebih antusias dalam mengikuti pembelajaran di dalam kelas. Hal tersebut, dapat dibuktikan dengan ketuntasan belajar mencapai 80% di SMPN 1 Muara Teweh dan 90% di SMP Santa Maria. Di SMPN 2 Muara Teweh dan SMP Nusantara Palangka Raya, guru tidak selalu mengajar menggunakan media pembelajaran, karena tidak tersedianya media pada beberapa materi. Hal ini menyebabkan peserta didik kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran di dalam kelas dan ketuntasan belajar mencapai 75% di SMPN 2 Muara Teweh dan 70% di SMP Nusantara Palangka Raya, semua persentase ini didapatkan pada mata pelajaran biologi.

Potensi yang didapatkan saat wawancara selain pada metode tutor sebaya, juga pada model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT).

Model pembelajaran TGT pernah digunakan oleh guru dan terbukti mampu meningkatkan motivasi belajar dan membuat peserta didik lebih aktif dalam proses pembelajaran pada materi gerak pada tumbuhan saat menggunakan media pembelajaran permainan ular tangga. Rohjianti (2012) mengembangkan media permainan ular tangga dengan model pembelajaran TGT untuk pokok bahasan gerak pada tumbuhan. Berdasarkan penelitian tersebut maka peneliti merancang media permainan ular tangga dengan sub materi jaringan serta menggunakan metode tutor sebaya.

Karimah dkk (2014) menyatakan permainan ular tangga dapat dijadikan sebagai media pembelajaran yang menarik minat dan menyenangkan bagi peserta didik. Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti melakukan penelitian berjudul “Pengembangan Media Permainan Ular Tangga Pada Sub Materi Jaringan Kelas VII”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka batasan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana kualitas permainan ular tangga sebagai media pembelajaran pada sub materi jaringan kelas VII?

2. Bagaimana kelayakan permainan ular tangga dengan sub materi jaringan kelas VII?

C. Batasan Masalah

Pada pengembangan media pembelajaran yang dibuat oleh peneliti terdapat beberapa batasan masalah sebagai berikut:

1. Materi yang digunakan dalam permainan ular tangga yaitu KD 3.6 tentang organisasi kehidupan, pada sub materi jaringan.

2. Analisis kebutuhan sekolah dilakukan pada dua sekolah Negeri dan dua sekolah Swasta di Provinsi Kalimantan Tengah.

D. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mengetahui kualitas permainan ular tangga sebagai media pembelajaran pada materi jaringan kelas VII.

2. Mengetahui kelayakan permainan ular tangga pada materi jaringan kelas VII.

E. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1. Bagi Peserta Didik

Media permainan ular tangga sebagai media pembelajaran yang dapat menumbuhkan motivasi dan minat belajar peserta didik serta meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap materi biologi.

2. Bagi Guru

Sebagai refrensi untuk mengembangkan suatu media pembelajaran agar pembelajaran biologi menjadi lebih menarik dan lebih mudah.

3. Bagi Sekolah

Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dalam mencapai tujuan kurikulum yang dikembangkan oleh sekolah.

4. Bagi Peneliti

Menambah wawasan peneliti mengenai penelitian Research and Development (R&D) untuk pengembangan media permainan ular tangga pada materi jaringan kelas VII.

7 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Media Pembelajaran

1. Pengertian Media Pembelajaran

Media pembelajaran merupakan gabungan dari dua kata “Media”

dan “Pembelajaran”. Kata media berasal dari suatu bahasa latin yang merupakan suatu bentuk jamak dari medium batasan mengenai pengertian media yang sangat luas, namun hal itu dapat dibatasi agar tidak memiliki pengertian yang sangat luas, dengan cara membatasi hanya pada media pendidikan. Media pembelajaran yang dimaksudkan adalah media yang digunakan sebagai alat dan bahan kegiatan pembelajaran (Daryanto, 2016). Media pembelajaran merupakan alat bantu yang dapat mempermudah peserta didik dalam memahami materi pembelajaran dan mempermudah guru dalam menjelaskan dan memaparkan materi kepada peserta didik. Sehingga peran media pembelajaran harus sejalan dengan isi dan tujuan pembelajaran yang telah direncanakan dan ditetapkan (Djamarah dan Zain, 2014).

Hal tersebut dapat diartikan bahwa dalam pembuatan media pembelajaran haruslah mengacu pada suatu kaidah-kaidah yang sudah direncanakan dan ditetapkan seperti tujuan pembelajaran dan materi pembelajaran. Jika hal tersebut tidak dilakukan dalam pembuatan atau penyusunan suatu media pembelajaran.

Media pembelajaran tersebut tidak dapat dikatakan dan dikategorikan sebagai alat dan bahan yang mampu membantu dan mempermudah peserta didik dalam memahami materi pembelajaran yang diajarkan oleh guru.

Daryanto (2016) menyebutkan media mempunyai kegunaan, antara lain:

a. Memperjelas pesan agar tidak menjadi suatu hafalan.

b. Media mampu mengatasi keterbatasan ruang, waktu tenaga, dan daya indra.

c. Media mampu memberikan gairah belajar peserta didik, dan interaksi lebih langsung didapatkan antara peserta didik dengan sumber belajar.

d. Media memungkinkan peserta didik dapat belajar mandiri, sesuai dengan kemampuan visual, auditori, dan kinestetik, serta dengan bakat yang dimiliki.

e. Media mampu memberikan rangsangan yang sama, seperti memberikan pengalaman dan mampu menimbulkan persepsi atau tanggapan yang sama.

f. Proses pembelajaran mengandung lima komponen komunikasi, seperti guru sebagai orang yang menyampaikan pesan, bahan pembelajaran, media pembelajaran, peserta didik sebagai orang yang menerima pesan, dan tujuan pembelajaran.

Media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang mengandung lima komponen dan dapat digunakan sebagai penyalur pesan antara orang yang menyampaikan pesan atau guru dengan orang yang menerima pesan atau peserta didik, sehingga pesan tersebut dapat tersampaikan dengan jelas dan dimengerti oleh penerima pesan atau peserta didik. Media juga dapat digunakan untuk merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan dan ditetapkan

2. Media Sebagai Sumber Belajar

Media Pendidikan sebagai sumber belajar dapat didefinisikan sebagai sarana yang digunakan untuk menjadi salah satu sumber belajar peserta didik dalam memperkaya wawasan. Hal tersebut dapat dilihat dari media yang digunakan sebagai ruang pembelajaran bagi peserta didik (Djamarah dan Zain, 2014). Media sebagai sumber belajar memuat berbagai komponen ilmu pengetahuan yang mampu membantu peserta didik dalam menambah wawasan dan pengetahuannya. Djamarah dan Zain (2014) menyatakan Media yang digunakan sebagai sumber belajar diakui juga sebagai alat bantu auditif, visual, dan audiovisual. Dalam penggunaan tiga alat bantu guru harus memperhatikan perumusan tujuan instruksional yang harus sesuai dan sesuai dengan kompetensi yang dimiliki guru.

3. Media Sebagai Alat Bantu

Media Pendidikan sebagai alat bantu didefinisikan sebagai alat atau sarana yang dapat membantu guru dalam menyampaikan meteri pembelajaran tertentu kepada peserta didik sehingga peserta didik mampu memahami materi pembelajara yang diajarkan oleh guru.

Beberapa materi pembelajaran memiliki tingkat kesulitan tinggi, menengah, dan rendah. Hal tersebut lah yang membuat perlu adanya media pembelajaran yang mampu mempermudah dalam menyampaikan materi pembelajaran tersebut. Sebagai alat bantu maka media tersebut mampu mempermudah peserta didik, sehingga hasil dari pembelajaran dan tujuan pembelajaran dapat dicapai secara optimal. Dalam penggunaan media pembelajaran sebagai alat bantu perlu diperhatikan tujuan pembelajaran yang digunakan atau ditetapkan. Selain hal tersebut, komponen dan kualitas Pendidikan juga harus menjadi bahan pertimbangan dalam penggunaan media sehingga media yang digunakan mampu membantu peserta didik dan hasil yag didapatkan peserta didik dapat optimal (Djamarah dan Zain, 2014).

4. Jenis-Jenis Media

Djamarah dan Zain (2014) menyatakan media pembelajaran dibedakan menjadi tiga kategori, yaitu jenis, daya liput, dan bahan pembuat.

a. Jenis

1) Media Auditif

Media auditif adalah media yang mengandalkan suara saja.

Contohnya radio, cassette recorder, dan piringan hitam. Media ini memiliki kekurangan, yaitu tidak cocok digunakan oleh orang tuli dan memiliki kelainan pada pendengaran.

2) Media Visual

Media visual adalah media yang mengandalkan indra penglihatan atau penglihatan. Media visual ada yang menampilkan gambar diam, contohnya film strip (film rangkai), slides (film bingkai) foto, gambar atau lukisan, permainan ular tangga dan cetakan. Selain hal tersebut, media visual juga menampilkan gambar atau simbol bergerak, contohnya film bisu dan film kartun. Media ini memiliki kekurangan, yaitu tidak cocok digunakan oleh orang buta dan memiliki kelainan pada penglihatan.

3) Media Audiovisual

Media audiovisual adalah media yang memiliki unsur suara dan gambar di dalamnya. Media ini lebih baik dibandingkan dengan media auditif dan media visual, karena meliputi kedua jenis media tersebut. Media audiovisual dibagi menjadi empat bagian, yaitu:

a) Audiovisual Diam

Audiovisual diam adalah media yang hanya menampilkan unsur suara dan gambar diam. Contohnya film bingkai suara (sound slides), film rangkai suara, dan cetak suara.

b) Audiovisual Gerak

Audiovisual gerak adalah media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak. Contohnya film suara dan video-cassette.

c) Audiovisual Murni

Audiovisual murni adalah unsur suara dan unsur gambar pada media berasal dari satu sumber, seperti film video-cassette.

d) Audiovisual Tidak Murni

Audiovisual tidak murni adalah unsur suara dan unsur gambar pada media berasal dari sumber yag berbeda, seperti film bingkai suara yang unsur gambarnya bersumber dari slides proyektor dan unsur suaranya bersumber dari tape recorder. Contoh lainnya seperti film strip suara dan cetak suara (Djamarah dan Zain, 2014).

b. Bahan Pembuatnya 1) Media Sederhana

Media sederhana adalah media yang tergolong mudah dibuat dan mudah digunakan, selain hal tersebut bahan dasar dalam pembuatan media tersebut mudah diperoleh dan memiliki harga yang murah.

2) Media Kompleks

Media kompleks adalah media yang tergolong sulit dalam penggunaannya, sehingga diperlukan keterampilan yang memadai. Selain hal tersebut dalam segi pembuatan media juga termasuk sulit, serta bahan dan alat yang digunakan dalam pembuatan sulit diperoleh dan memiliki harga yang mahal (Djamarah dan Zain, 2014).

5. Media Pembelajaran Konvensional

Media pembelajaran konvensional merupakan media yang pengoperasiannya tanpa menggunakan perangkat digital, seperti komputer, telepon seluler, dan peralatan IT sejenisnya. Walaupun media konvensional dianggap kuno, karena istilah konvensional mencerminkan kekunoan, bukan berarti media konvensional kurang tepat jika digunakan dalam pembelajaran zaman sekarang (Asy’ari dan Priantoro, 2017).

Asy’ari dan Priantoro (2017) menyatakan media pembelajaran memiliki keunggulan antara lain:

a. Dapat membuat peserta lebih aktif, sehingga pembelajaran menjadi student centered.

b. Peserta didik dapat berinteraksi dengan media yang digunakan.

c. Pengoperasian yang mudah dan tanpa harus menggunakan peralatan atau sarana tambahan untuk menggunakannya.

d. Pembuatan yang sederhana sehingga dapat memicu daya kreativitas peserta didik untuk pengembangannya.

e. Biaya pembuatan murah, serta bahan dapat denga mudah didapatkan di lingkungan sekitar.

6. Prinsip Pengembangan dan Produksi Media

Dalam suatu pengembangan dan produksi media pembelajaran harus memuat prinsip-prinsip yang ditetapkan sehingga media tersebut dapat digunakan secara optimal pada kegiatan pembelajaran. Nurseto (2011) menyatakan ada beberapa prinsip dalam pengembangan dan produksi suatu media pembelajaran, prinsip tersebut dinamakan VISUALS. Berikut ini prinsip yang telah dituliskan dalam Nurseto:

a. Visible : Mudah dilihat b. Interesting : Menarik c. Simple : Sederhana

d. Useful : Isinya berguna atau bermanfaat e. Accurate : Benar (dapat dipertanggungjawabkan) f. Legitimate : Masuk akal atau sah

g. Structured : Terstruktur atau tersusun dengan baik

7. Media Pembelajaran Permainan ular tangga

Karimah dkk (2014) menyatakan bahwa permainan ular tangga dapat dijadikan sebagai media pembelajaran yang menarik minat dan menyenangkan bagi peserta didik, dengan begitu peserta didik akan tertarik untuk mengikuti proses kegiatan pembelajaran. Guru berperan sangat penting sebagai fasilitator bagi peserta didik. Peserta didik yang aktif dalam proses kegiatan pembelajaran dengan media permainan ular tangga akan menemukan sendiri konsep materi yang sedang dipelajari, karena metode dalam permainan ular tangga dipadukan dengan diskusi kelompok.

Permainan ular tangga merupakan papan permainan yang dapat dimainkan dua orang atau lebih. Papan permainan terbagi menjadi beberapa kotak-kotak yang di dalamnya terdapat gambar ular dan tangga yang menghubungkan antara kotak yang satu dengan kotak yang lainnya.

Dalam pembuatan papan permainan ular tangga, ukurannya dibuat sesuai dengan keinginan dan perlu memperhatikan banyak kotak, ular, dan tangga yang akan dimasukkan. Aturan dalam permainan ular tangga, yaitu pemain mulai dengan bidak di kotak yang pertama dan secara melempar dadu secara bergantian, setelah itu bidak dijalankan sesuai dengan jumlah mata dadu yang muncul. Jika ada bidak pemain yang mendarat diujuk tangga maka bidak pemain ke ujung tangga yang lainnya, sedangkan jika bidak pemain mendarat pada kotak yang ada ularnya maka bidak pemain harus turun ke kotak ujung bawah ular.

Pemenang permainan adalah pemain yang pertama mencapai kotak permainan (Abdillah dan Sudrajat, 2014).

Afandi (2015) menyatakan dalam menggunakan media pembelajaran permainan ular tangga, terdapat beberapa konsep penggunaannya, seperti:

a. Media dapat dimainkan oleh empat sampai lima orang.

b. Permainan dimulai dari awal.

c. Setiap peserta didik wajib melempar dadu terlebih dahulu, sebelum bergerak ke kotak atau kolom berikutnya.

d. Setiap peserta didik bergerak dari kotak satu ke kotak yang lainnya sesuai dengan angka mata dadu yang didapatkan pada dadu yang dilempar.

e. Setiap peserta didik yang bergerak dari satu kotak ke kotak yang lainnya, memperoleh informasi mengenai konten materi pembelajaran dan tujuan pembelajaran tercapai.

Khayatun (2013) menyatakan permainan ular tangga memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan.

Kelebihan pada permainan ular tangga, seperti:

a. Permainan ular tangga dapat digunakan dalam proses kegiatan pembelajaran karena dapat menarik minat peserta didik untuk mengikuti pelajaran dengan cara belajar sambil bermain.

b. Permainan ular tangga dapat membangkitkan atau menambah motivasi belajar peserta didik.

c. Permainan ular tangga dapat menciptakan suasana kegiatan pembelajaran semakin menyenangkan.

d. Permainan ular tangga dapat merangsang peserta didik untuk menyelesaikan masalah sendiri.

e. Peserta didik dapat berinteraksi langsung dengan sumber belajar.

f. Permainan ular tangga dapat merangsang aspek kognitif bahasa dan aspek kognitif sosial semakin berkembang.

Kelemahan pada permainan ular tangga, seperti:

a. Kurangnya perhatian peserta didik saat diberitahukannya aturan dan cara permainan akan menyebabkan keributan atau kericuhan di dalam kelas.

B. Model Pembelajaran

1. Pengertian Model Pembelajaran

Model pembelajaran adalah suatu pola dalam membuat perencanaan pembelajaran di dalam suatu kelas maupun di luar kelas,

Gambar 2. 1 Permainan ular tangga

yang digunakan sebagai strategi maupun pedoman berdasarkan perangkat-perangkat pembelajaran (Trianto, 2013). Pendapat tersebut sama dengan Suprijono (2011) menyatakan model pembelajaran merupakan pola yang digunakan sebagai pedoman dalam suatu perencanaan pembelajaran yang akan dilaksanakan di dalam ataupun di luar kelas.

2. Model Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT)

Prinsip dasarnya dalam pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) adalah bertanding untuk mendapat hasil terbaik. Kegiatan inti dalam TGT meliputi tahap bermain dan tahap tournament (Asy’ari dan Priantoro, 2017). Pada TGT peserta didik dibagi ke dalam beberapa tim, peserta didik yang sudah dibagi dalam tim akan bertemu pada satu meja tournament yang telah disediakan untuk memainkan permainan akademik dan menjawab kuis-kuis yang diberikan oleh guru. Tim yang bisa menjawab akan diberikan poin (Slavin, 2015).

Taniredja (2013) menyatakan ada beberapa kelebihan yang ada pada model pembelajaran TGT, seperti:

a. Mendidik dan melatih peserta didik untuk bersosialisasi dengan orang lain.

b. Mengedepankan penerimaan terhadap perbedaan individu.

c. Peserta didik lebih aktif dalam proses pembelajaran yang sedang berlangsung.

d. Perilaku mengganggu terhadap peserta didik lain menjadi lebih kecil dan hasil belajar lebih baik.

e. Motivasi belajar bertambah.

f. Lebih meningkatkan waktu untuk tugas.

g. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan, toleransi antara peserta didik satu dengan peserta didik yang lainnya dan antara peserta didik dengan guru.

Taniredja (2013) menyatakan juga ada beberapa kekurangan yang ada pada model pembelajaran TGT, seperti:

a. Kekurangan waktu untuk proses pembelajaran.

b. Kemungkinan terjadinya kegaduhan, jika guru tidak mampu mengelola kelas.

Pada setiap model pembelajaran pasti memiliki kelebihan dan kekurang. Kekurangan yang ada pada model pembelajaran tersebut dapat diminimalisir atau diatasi oleh guru, karena seorang guru seharusnya mampu mengelola kelas dan membimbing peserta didik yang ada di dalam kelas sehingga peserta didik memiliki kemampuan akademik tinggi.

C. Metode Pembelajaran Tutor Sebaya

Metode pembelajaran merupakan cara yang digunakan oleh guru dalam mewujudkan suatu rencana kegiatan pembelajaran yang telah disiapkan. Dalam metode pembelajaran ada hal penting bagi guru yaitu memilih metode pembelajaran yang akan digunakan dan yang dirasa sesuai dengan kondisi dan karakter peserta didiknya. Selain itu haruslah sesuai dengan materi yang akan dibahas (Asy’ari dan Priantoro, 2017). Atas dasar hal tersebut, perlu diketahui dan diingat oleh guru bahwa tidak ada satupun metode pembelajaran yang sesuai dan dapat digunakan dalam semua materi pembelajaran (Asy’ari dan Priantoro, 2017). Variasi dalam metode pembelajaran yang digunakan oleh guru diperlukan dalam setiap kegiatan pembelajaran.

Salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan agar peserta didik termotivasi untuk mengikuti pembelajaran secara bersungguh-sungguh yaitu tutor sebaya. Febianti (2014) menyatakan tutor sebaya merupakan metode pembelajaran di mana peserta didik diminta untuk mengajar atau menjadi tutor dari peserta didik yang lainnya. Metode pembelajaran tutor sebaya adalah metode pembelajaran yang menjadikan peserta didik tidak mudah bosan dan menambah motivasi peserta didik saat mengikuti kegiatan pembelajaran.

Dikarenakan setiap peserta didik diminta memahami suatu materi untuk mengajarkan materi yang sudah dipahami atau diketahui kepada teman sekelasnya.

Munthe dan Naibaho (2019) menyatakan ada beberapa manfaat saat menerapkan tutor sebaya yaitu, seperti:

1. Setiap peserta didik berani bertanya terkait hal yang menjadi suatu kesulitan dan tidak dipahami saat kegiatan belajar berlangsung, tanpa ada rasa takut dan malu. Karena tidak adanya perbedaan otoritas seperti guru dan peserta didik.

2. Peserta didik dapat belajar untuk saling mengetahui dan memahami terkait sifat dan karakter peserta didik yang lainnya.

3. Peserta didik mudah memahami materi yang dipelajari, karena di dibahas oleh peserta didik yang lain dengan bahasa dan cara menjelaskan yang mudah dipahami.

4. Peserta didik yang berperan sebagai tutor, dapat belajar menjadi seorang pemimpin dan membimbing teman sekelas atau sebayanya untuk berdiskusi dalam suatu kelompok.

5. Peserta didik memiliki kebebasan untuk mengutarakan ide atau pendapatnya.

6. Peserta didik yang berperan sebagai tutor, akhirnya mampu mengambil keputusan sendiri, jika terjadi perbedaan pendapat atau gagasan diantara

6. Peserta didik yang berperan sebagai tutor, akhirnya mampu mengambil keputusan sendiri, jika terjadi perbedaan pendapat atau gagasan diantara