• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori

2.1.4. Analisis Kelayakan Finansial

Menurut Kasmir dan Jakfar (2008: 6), pengertian analisis kelayakan adalah penelitian yang dilakukan secara mendalam untuk menentukan apakah usaha yang akan dijalankan akan memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan dengan biaya yang akan dikeluarkan.

Selanjutnya Kasmir dan Jakfar (2008: 15) menjelaskan bahwa kelayakan finansial adalah untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memperoleh pendapatan serta besarnya biaya yang dikeluarkan. Dari sini akan terlihat pengembalian uang yang ditanamkan seberapa lama akan kembali.

Tujuan menganalisis kelayakan finansial, menurut Umar (2007: 178) adalah untuk menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan, dengan membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan, seperti ketersediaan dana, biaya modal, kemampuan proyek untuk membayar kembali dana tersebut dalam waktu yang telah ditentukan dan menilai apakah usaha akan dapat dikembangkan selanjutnya.

2.1.4.1.Investasi dan Reinvestasi

Menurut Suratman (2001:6) investasi adalah penggunaan sumber keuangan atau usaha dalam waktu tertentu dari setiap orang yang menginginkan keuntungan darinya. Salah satu konsep investasi adalah penganggaran modal, sebab penganggaran modal merupakan konsep penggunaan dana di masa yang akan datang yang diharapkan akan memperoleh keuntungan.

13 Investasi secara umum dapat diartikan sebagai “penanaman” seperti dalam bidang ilmu (pendidikan, training), pembelian tanah, gedung, penanaman modal dan sebagainya. Secara khusus dapat diartikan sebagai “Penanaman Modal” seperti investasi tetap, modal kerja, surat-surat berharga dan saham. Sedangkan penanaman modal kembali disebut reinvestasi (Z dan Rozalina, 2004:194).

2.1.4.2.Biaya

Biaya dalam suatu kegiatan usaha terdiri dari dua jenis, yaitu biaya investasi dan biaya modal kerja. Biaya investasi adalah biaya yang diperlukan dalam pembangunan proyek, terdiri dari pengadaan tanah, gedung, mesin, peralatan, dan biaya lainnya yang berhubungan dengan pengembangan proyek. Biaya modal kerja dalah biaya yang dikeluarkan untuk membiayai kegiatan usaha setelah pembangunan proyek siap, terdiri dari biaya tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap (variable cost) (Ibrahim, 2003:133).

Menurut Soekartawi (2006:56) biaya tetap umumnya didefinisikan sebagai biaya yang relatif tetap jumlahnya, dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau sedikit. Jadi besarnya biaya tetap ini tidak tergantung pada besar kecilnya produksi yang diperoleh. Di sisi lain biaya tidak tetap atau biaya variabel biasanya didefinisikan sebagai biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh.

14

2.1.4.3.Penerimaan dan Pendapatan

Soekartawi dkk (1986:76) menjelaskan bahwa penerimaan adalah nilai uang yang diterima dari penjualan produk usahatani yang bisa berwujud tiga hal, yaitu hasil penjualan produk yang akan dijual, hasil penjualan produk sampingan, dan produk yang dikonsumsi rumah tangga selama melakukan kegiatan usahatani. Menurut Soekartawi (2006:57) pendapatan adalah selisih antara penerimaan dan semua biaya. Data pendapatan dapat digunakan sebagai ukuran untuk melihat apakah suatu usaha menguntungkan atau merugikan. Berdasarkan data pendapatan itu pula kita dapat melihat sampai seberapa besar keuntungan atau kerugiaan usaha tersebut.

2.1.4.4.Break Even Point (BEP)

Soeharto (1999:13) menyatakan bahwa break even point adalah titik di mana total biaya produksi sama dengan pendapatan. Titik impas menunjukkan bahwa tingkat produksi telah menghasilkan pendapatan yang sama besarnya dengan biaya produksi yang dikeluarkan. Dengan asumsi bahwa harga penjualan per unit produksi adalah konstan maka jumlah unit pada titik impas.

Berdasarkan grafik pada Gambar 1 terlihat bahwa perusahaan dengan biaya tetap yang tinggi harus memproduksi dan menjual lebih banyak produk untuk sampai pada titik impas dibanding perusahaan dengan biaya tetap lebih rendah (Soeharto, 1999:115).

15

y

Pendapan dan biaya (juta rupiah)

180 Penerimaan penjualan

140 Titik impas Daerah laba

Total biaya 100 Biaya tetap 80 Daerah rugi 40 x 200 400 600 800 1000 Volume penjulan

Gambar 1. Grafik Break Even Point (Sumber: Soeharto, 1999:116)

2.1.4.5.Net Present Value (NPV)

Samryn (2002:241) menjelaskan net present value (NPV) atau nilai sekarang merupakan hasil perhitungan yang menunjukkan kesetaraan pendapatan, arus kas, atau penghematan biaya dari investasi yang diperkirakan akan diperoleh pada masa yang akan datang dengan nilai investasi yang dilakukan saat ini, berdasarkan pertimbangan perubahan daya beli uang atau nilai waktu uang.

Menurut metode NPV seluruh aliran kas bersih di-present value-kan atas dasar faktor diskonto (discount factor = DF), hasilnya dibandingkan dengan

initial investment. Selisih antara keduanya merupakan NPV. Faktor diskonto adalah suatu angka yang apabila dikalikan dengan arus kas bersih atau penghematan biaya dari investasi akan menghasilkan angka yang setara dengan

16 nilai kas tersebut pada saat investasi, berdasarkan tingkat bunga modal yang berlaku. Bunga modal biasanya dianggap sebagai rate of return minimal yang harus dicapai dari suatu investasi (Samryn, 2002:240)

2.1.4.6.Internal Rate of Return (IRR)

Internal rate of return (IRR) adalah metode untuk menghitung tingkat bunga yang menyamakan nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas bersih di masa-masa mendatang. Apabila tingkat bunga ini lebih besar dari pada tingkat bunga relevan (tingkat keuntungan yang disyaratkan), maka investasi dikatakan menguntungkan, kalau lebih kecil dikatakan merugikan. IRR ini dapat dihitung dengan menemukan DF yang dapat menjadikan NPV sama dengan nol (Husnan dan Suwarsono, 2000:210).

2.1.4.7.Profitability Indeks (PI)

Variasi lain dari kriteria NPV adalah profitability indeks, yang menunjukkan kemampuan mendatangkan laba per satuan nilai investasi (Soeharto, 1999:115). Menurut Husnan dan Suwarno (2000:211) Profitability Indeks (PI) adalah metode yang membandingkan antara nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas bersih di masa datang dengan nilai sekarang investasi. Apabila nilainya lebih besar dari satu maka proyek dikatakan menguntungkan, tetapi jika kurang tidak menguntungkan.

17

2.1.4.8.Payback Period

Payback period adalah jangka waktu yang diperlukan untuk mengembalikan modal suatu investasi, dihitung dari aliran kas bersih (net). Aliran kas bersih adalah selisih pendapatan terhadap pengeluaran per tahun. Periode pengembaliaan biasanya dinyatakan dalam jangka waktu per tahun (Soeharto, 1999:134).

2.1.4.9.Analisis Sensitivitas

Gittinger (1986:250) menjelaskan analisis sensitivitas adalah analisis yang dapat melihat pengaruh-pengaruh yang akan terjadi akibat keadaan yang berubah-ubah. Analisis ini dapat melihat kembali kepekaan manfaat sekarang netto, atau terhadap biaya-biaya operasional yang terus meningkat. Di bidang pertanian, proyek-proyek sensitif berubah-ubah akibat empat masalah utama diantaranya harga, keterlambatan pelaksanaan, kenaikan biaya dan hasil. Untuk mengukur perubahan yang terjadi maka perlu diasumsikan bahwa perubahan-perubahan yang terjadi itu hanya pada satu bagian saja, sedangkan yang lain dianggap tetap (Sofyan, 2004: 117).

Analisis sensitivitas menentukan resiko investasi didasarkan pada kemungkinan yang paling optimis sampai pada kemungkinan yang paling pesimis (Suratman, 2001:137). Sehubungan dengan hal tersebut, maka dirasakan perlu dilakukan analisis sensitivitas untuk menguji kelayakan usaha akibat adanya perubahan-perubahan.

18

Dokumen terkait