• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Kesesuaian Putusan dan Akibat Hukumnya

Dalam dokumen Jurnal Al Mizan Tahun 2015 (Halaman 44-49)

ANALISIS PUTUSAN MAHKAMAH SYAR’IYAH LANGSA

E. Analisis Kesesuaian Putusan dan Akibat Hukumnya

Sesuai dengan ketentuan pasal 178 HIR, apabila pemeriksaan perkara selesai, majelis hakim karena jabatanya, melakukan musyawarah untuk mengambil putusan yang akan dijatuhkan. Agar putusan tidak dianggap cacat karena hukum maka dalam pertimbangan hukum hakim harus memuat alasan-alasan dan dasar-dasar hukum putusan serta mencantumkan pasal- pasal peraturan perundang-undangan tertentu yang bersangkutan dengan perkara yang diputuskan atau berdasarkan hukum yang tidak tertulis maupun

yurisprudensi atau doktrin hukum. Bahkan menurut pasal 178 ayat 3 HIR, hakim karena jabatanya wajib mencukupkan segala alasan hukum yang tidak dikemukakan oleh kedua belah pihak yang berperkara. 11

Dalam putusan hakim Mahkamah Syar`iyah Langsa perkara No.20/ JN/2012/MS-Lgs tentang perkara khalwat, hakim telah memutuskan perkara denganmenjatuhkan pidana terhadap terdakwa I Buyung Suderajat bin Lukman dan terdakwa II Nadira binti Muslem M Nur dengan Uqubat Cambuk masing-masing sebanyak 9 (enam) kali di depan umum.

Dalam KUHAP Pasal 197 huruf c memuat ketentuan “Dakwaan,

sebagaimana terdapat dalam surat dakwaan”; dalam poin e juga memuat ketentuan “Tuntutan pidana, sebagaimana terdapat dalam surat tuntutan”.12

Dalam Qanun Acara Jinayat Provinsi Aceh Nomor 7 Tahun 2013, juga termuat dalam pasal 200 Ayat (1) poin d Putusan penjatuhan ‘Uqubatmemuat ketentuan: “dakwaan, sebagaimana terdapat dalam surat

dakwaan atau permohonan”; dalam poin f juga termuat “tuntutan uqubat,

sebagaimana terdapat dalam surat tuntutan, kecuali dalam hal perkara atas

dasar permohonan”.13

Berdasarkan penjelasan ketentuan KUHAP dan Qanun Acara Jinayat Provinsi Aceh Nomor 7 Tahun 2013 di atas, terjadi penyelewengan penetapan putusan terhadap kasus Buyung Sudrajat bin Lukman sebagaimana tertuang dalam Putusan Mahkamah Syar’iyah Langsa Nomor 20/JN/2012/MS-Lgs yang diputuskan oleh majelis hakim berdasarkan hasil musyawarahnya pada tanggal 20 April 2012. Dalam putusan tersebut hakim memutuskan 9 kali cambuk terhadap pelaku karena terbukti melakukan khalwat, sementara Jaksa Penuntut Umum dalam surat dakwaannya menuntut pelaku dengan uqubat 6 kali cambuk.

Dalam perkara yang penulis teliti yang terjadi di Mahkamah Syar’iy- ah Langsa hakim menjatuhkan putusan yang bertentangan dengan ketentuan KUHAP dan Qanun Acara Jinayat Provinsi Aceh Nomor 7 Tahun 2013, yakni perkara dengan nomor register 20/JN/2012/MS-Lgstentang khalwat yang isi putusannya melebihi dari apa yang dituntut oleh Jaksa Penuntut Umum. Den- gan kata lain seharusnya isi petitum dengan isi putusan harus sesuai, namun dalam putusan ini isi putusan melebihi dari petitumnya.

Adapun tuntutan Jaksa Penuntut Umum dalam perkara No. 20/ JN/2012/MS-Lgstentang khalwatadalah:

1. Menyatakan mereka terdakwa I Buyung Sudrajat bin Lukman dan terdakwa II Nadira binti Muslem M Nur terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan perbuatan khalwat/mesum yang

11 Lihat H. et H. erziene Inlandsch. e Reglement (H. IR) pasal 178 ayat 1-3. 12 Soesilo, KUHP & KUHAP, (Jakarta: Buana Press, 2008), h. 246 13 Lihat Qanun Acara Jinayat Nomor 7 Tahun 2013, pasal 200 Ayat (1).

hukumnya haram sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 4 Jo Pasal 22 ayat (1) Qanun Np. 14 Tahun 2003 tentang Khalwat (Mesum).

2. Menjatuhkan pidana terhadap mereka terdakwa I Buyung Suderajat bin Lukman dan terdakwa II Nadira binti Muslem M Nur dengan Uqubat Cambuk masing-masing sebanyak 6 (enam) kali di muka umum.

3. Menyatakan barang bukti berupa 1 (satu) buah celana dalam warna hitam dan 1 (satu) buah celana dalam warna merah jambu dikembalikan kepada mereka terdakwa.

4. Menetapkan mereka terdakwa I Buyung Suderajat bin Lukman dan terdakwa II Nadira binti Muslem M Nur membayar biaya masing- masing sebesar Rp. 2.000,- (dua ribu rupiah).

Untuk mengetahui bahwa isi putusan melebihi dari petitumnya berikut akan dikemukakan isi putusannya sebagai berikut :

1. Menyatakan mereka terdakwa I Buyung Sudrajat bin Lukman dan terdakwa II Nadira binti Muslem M Nur terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan perbuatan khalwat/mesum.

2. Menjatuhkan pidana terhadap mereka terdakwa I Buyung Suderajat bin Lukman dan terdakwa II Nadira binti Muslem M Nur dengan Uqubat Cambuk masing-masing sebanyak 9 (enam) kali di depan umum. 3. Menyatakan barang bukti berupa 1 (satu) buah celana dalam warna

hitam dan 1 (satu) buah celana dalam warna merah jambu dirampas untuk dimusnahkan.

4. Menghukum terdakwa I Buyung Suderajat bin Lukman dan terdakwa II Nadira binti Muslem M Nur untuk membayar biaya perkara masing- masing sebesar Rp. 2.000,- (dua ribu rupiah).

Dengan melihat isi putusannya, sangatlah jelas bahwa isi keputusan melebihi dari isi petitum dari penuntut. Untuk lebih jelasnya dalam isi putusan angka 2 yang isinya pidana Uqubat Cambuk masing-masing sebanyak 9 (enam) kali di depan umum, tidak sesuai dengan apa yang dituntut oleh Jaksa Penuntut Umum yang tercantum dalam petitumpoint ke 2 dengan Uqubat Cambuk masing-masing sebanyak 6 (enam) kali di muka umum.

Berdasarkan analisis ini dapat diketahui bahwa putusan hakim Mahkamah Syar`iyah Langsa perkara No.20/JN/2012/MS-Lgs tidak sesuai dengan prinsip hukum, baik menurut tinjauan KUHAP maupun menurut Qanun Acara Jinayat Provinsi Aceh Nomor 7 Tahun 2013. Dengan demikian akibat hukum dari putusan Mahkamah Syar’iyah No.20/JN/2012/MS-Lgs terhadap pelaku khalwat yaitu harus menjalani dan menerima eksekusi putusan terha- dap masing-masing pelaku dengan cambuk sebanyak 9 kali di depan umum. Bila dilihat dari sikap pelaku yang sopan dan tidak mempersulit jalannya proses pemeriksaan serta sikap pelaku yang terbuka terhadap kasus yang di-

dakwakan kepadanya, maka seharusnya penambahan uqubat dari 6 kali cam- buk menjadi 9 kali cambuk ini tidak bisa terjadi.

DAFTAR PUSTAKA

Al Yasa’ Abubakar, Sekilas Syari’at Islam di Aceh. , (Banda Aceh: Dinas Syari’at Islam Provinsi Nanggroe Aceh. Darussalam),

Undang-Undang Nomor 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Penjelasan umum Undang-undang Nomor 18 tahun 2001 Tentang Otonomi

Khusus Daerah Aceh.

A. Hamid Sarong dan Hasnul Arifin Melayu, Mahkamah. Syar`iyah Aceh : Lintas Sejarah. dan Eksistensinya, Cet. I, (Banda Aceh : Global Education Institute, 2012),

Lihat Penjelasan Undang-undang Republik Indonesia No. 18 tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh Sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Profil Mahkamah Syar`iyah Langsa tahun 2014.

Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahnya, (Bandung: Penerbit Di- ponegoro, 1995), h. 546.

Het Herziene Inlandsch. e Reglement (H. IR)

Soesilo, KUHP & KUHAP, (Jakarta: Buana Press, 2008)

KERANGKA DASAR BERUMAH TANGGA DALAM ISLAM

Dalam dokumen Jurnal Al Mizan Tahun 2015 (Halaman 44-49)