• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Al Mizan Tahun 2015

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Jurnal Al Mizan Tahun 2015"

Copied!
176
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Jurnal Al-Mizan

Media Syariah Dalam Mata Tinta

Fakultas Syariah Dan Ekonomi Islam

Institut Agama Islam (IAI) AL-Aziziyah

(4)

2013-2018

Penanggung Jawab : Abdullah, SHI, MA Ketua Penyunting : Mukhlisuddin, SHI, MA Sekretaris Penyunting : Karimuddin, SHI, MA Penyunting Pelaksana : Nainunis, SHI, MA

: Mustafa Kamal, SHI, MA

: Munadi, SHI, MA

: Agustinawati, S.Pd

(5)

Puji syukur kepada Allah SWT atas limpahan rahmat-Nya, jurnal

“Al-Mizan” Media syariah dalam mata tinta, ini dapat diselesaikan dengan harapan dapat bermanfaat dalam menguraikan kajian ilmiah hukum islam dari kalangan citivitas akademika.

Jurnal ilmiah yang hadir ini, merupakan hasil kerja dewan redaksi jurnal “Al-Mizan” Media Syariah Dalam Mata Tinta, Fakultas Syariah Dan Ekonomi Islam Institut Agama Islam (IAI) AL-Aziziyah Samalanga berkat kerjasama dengan civitas akademika dan dosen baik di kalangan kampus IAI Al-Aziziyah maupun pihak perguruan tinggi lain yang ikut berpartisipasi dalam jurnal ini.

Kehadiran jurnal “Al-Mizan” Media Syariah Dalam Mata Tinta, mudah-mudahan jurnal ini dapat memenuhi kebutuhan dan harapan, bagi semua pihak dan juga dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran hukum syariah dalam perkembangan hukum islam di era kontemporer. Kami mengucapkan terimakasih kepada para penulis yang telah menyumbang tulisannya, semoga ke depan jurnal “Al-Mizan” Media Syariah Dalam Mata Tinta, lebih maju dan dapat menjadi referensi bagi perkembangan media syariah.

Samalanga, 13 April 2015

Tgk. Mukhlisuddin, SHI, MA

(6)

Kami sangat menghargai sekali terhadap Jurnal Ilmiah “Al-Mizan” Media Syariah Dalam Mata Tinta sebagai ulasan ilmiah dalam bidang ilmu syariah yang dipublikasikan oleh Fakultas Syariah Dan Ekonomi Islam Institut Agama Islam (IAI) AL-Aziziyah Samalanga.\

Kehadiran jurnal ilmiah “Al-Mizan” Media Syariah Dalam Mata Tinta ini menjadi rujukan ilmiah terhadap hukum syariah baik secara teoritis maupun dalam tataran aplikatif. Kami atas nama Ketua Fakultas Syariah Dan Ekonomi Islam Institut Agama Islam (IAI) AL-Aziziyah Samalanga mengucapkan terimakasih kepada semua penulis yang telah menyumbangkan tulisannya untuk jurnal ini, senantiasa Allah membalas kebaikan penulis dengan curahan rahmat-Nya.

Akhirnya, kami berharap kehadiran jurnal ilmiah “Al-Mizan” Media Syariah Dalam Mata Tinta, ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca secara khusus serta bagi masyarakat pada umumnya terutama dalam menjaga kajian ilmiah profesional sebagai referensi bagi masyarakat. Dan kami juga berharap jurnal ini dapat menjadi motivasi bagi penulis yang lain dalam mengembangkan ide ilmiah untuk langkah lebih maju di masa mendatang.

Samalanga, 13 April 2015

Tgk. Abdullah, SHI, MA

(7)

KATA PENGANTAR KETUA PENYUNTING ... II

KATA PENGANTAR DEKAN FAKULTAS SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM...III

DAFTAR ISI...IV

H. HELMI - KRITERIA FI SABILILLAH SEBAGAI MUSTAHIK ZAKAT....1

MUHAMMAD BASYIR - ANALISIS PUTUSAN MAHKAMAH SYAR’IYAH LANGSA...20

HAIKAL - KERANGKA DASAR BERUMAH TANGGA DALAM ISLAM...42

NAINUNIS - PERLINDUNGAN KONSUMEN (HAK KHIYAR) DALAM JUAL-BELI...60

IMRAN - NUSYUZD DALAM NASH, FIQH, DAN KOMPILASI HUKUM ISLAM...72

SAFRIADI- PERUMUSAN HARTA BERSAMA...89

AFRIZAL, SHI, MHI- AKIBAT HUKUM PEMBATALAN PERKAWINAN DI INDONESIA...104

MUSTAFA KAMAL, SHI, MA - PERKAWINAN BEDA AGAMA MENURUT HUKUM ISLAM...117

SYAMSUL BAHRI, SH, MH - KEKUATAN PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI DALAM PROSES PEMAKZULAN PRESIDEN MENURUT UUD 1945...139

(8)

KRITERIA FI SABILILLAH SEBAGAI MUSTAHIK ZAKAT Oleh: H. Helmi Imran, MA

ABSTRAK

Zakat is one of interesting discussion to be analyzed and understood conceptually and dynamic. Zakat often mentioned sequentially with prayer, because zakat not only serves as a mahdhah worship or ta`abbudi (dogmatic), but it also related with the property and civil society (Maliyah ijtima`iyah

worship) or ta`aquli (rational). Zakat has a very important role, strategic and decisive for the moral, economic and social development. One of the most urgent and raised in the zakat issues is about mustahik zakat, beside the property which must be given in zakat. Normative nash which underlying theoretical concept about mustahik zakat group (zakat recipients) has limited

mustahik zakat with a limited group. However, in the present context the

significance limit has been renewed or extended to more general meaning

and a wider scope (muthlaq and compherehensive). Basically, the fiqh law is a dynamic law, in accordance with the times as long as the law was exhumed

at the time of publishing by considering a particular situation or a benefit.

But in updating it must necessarily follow the istinbath rules which has been established. Therefore, when a law is updated, it is not necessarily have the truth and authenticity, because they have to be measured for compliance with

istinbath method. In connection with the renewal and meaning extension of the nash relating to the mustahik zakat, especially senif fi sabilillah need to be investigated deeply and comprehensively if it is accordance with the

(9)

PENDAHULUAN

Dalam permasalahan zakat, fi sabilillah merupakan salah satu bagian

(senif) yang berhak menerima zakat (mustahik). Hal ini dapat dipahami secara jelas dalam al-Qur`an surat al-taubah ayat ke-60 yang berbunyi:

ليبس فىو ينمراغلاو باقرلا فىو مبهولق ةفلؤلماو اهيلع ينلماعلاو ينكاسلماو ءارقفلل تاقدصلا انمإ

)

60:ةبوتلا( ميكح ميلع للهاو للها نم ةضيرف ليبسلا نباو للها

Artinya: Zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu`allaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan budak, orang-orang yang berhutang, untuk orang-orang yang berperang dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Hukum ini merupakan suatu ketetapan yang diwajibkan oleh Allah, dan Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana. (Q.S. al-Taubah: 60).

Kata “fi sabilillah” yang tertera dalam firman Allah di atas, umumnya didefinisikan oleh para ulama dalam berbagai literatur klasik sebagai para

relawan perang yang tidak tercatat dalam anggaran belanja negara (al-ghuzāt

al-mutathawwi’ah). Namun di era modern ini telah muncul penafsiran yang

lebih luas mengenai bagian fi sabilillah yang diartikan oleh sebagian intelektual

Muslim dengan fī sabīl-al-khair (jalan kebaikan), sehingga apa saja kegiatan

yang dipandang sebagai jalan kebaikan dalam agama dianggap fi sabilillah.

Konsekwensinya tentu saja untuk kegiatan tersebut boleh disalurkan zakat

atas nama senif fi sabilillah.

Beranjak dari permasalahan tersebut, maka tulisan ini berusaha

mengupas sedikit tentang kriteria senif fi sabillah sebagai mustahik zakat dengan mengacu kepada kitab-kitab karya para ulama terdahulu secara umum, dan khususnya ulama Syāfi’iyyah, kemudian membandingkannya dengan pendapat-pendapat ulama kontemporer serta berusaha menemukan mana yang lebih sesuai dengan kaidah-kaidah istinbāth yang telah dirumuskan oleh para ulama.

KRITERIA FI SABILILLAH MENURUT MAZHAB EMPAT Secara lughawi, kata “sabil” berarti jalan. Jadi, sabilillah berarti

jalan yang menyampaikan kepada ridha Allah. Dengan demikian, sabilillah merupakan segala bentuk amal dan perbuatan yang dilakukan untuk

mendekatkan diri kepada Allah. Adapun dalam istilah fikih, khususnya

dalam konteks penerima zakat, sabilillah diartikan oleh para ulama dari lintas mazhab empat (Hanafī, Mālikī, Syāfi’ī, dan Hanbalī) dengan orang yang berperang untuk menegakkan agama Allah. Secara lebih rinci, berikut ini

(10)

Menurut Mazhab Hanafī

Mazhab Hanafī mendefinisikan sabilillah dengan relawan perang yang terputus bekalnya. Hal ini dapat dipahami dari dua kitab berikut ini.

Al-Fiqh ‘alā al-Madzāhib al-Arba’ah:

1

...حصلأا ىلع للها ليبس فى وزغلل نوعطقنلما ءارقفلا مه للها ليبس فىو ...اولاق ةّيفنلحا

Artinya: Berkata ulama mazhab Hanafī, dan sabilillah adalah orang-orang fakir yang terputus bekal mereka untuk berperang pada jalan Allah menurut pendapat kuat.

Al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuh:

2

.ايرقف ناك اذإ لاإ للها ليبس فى يزاغلا ىطعيلا ةفينح وبأ لاقو

Artinya: Dan berkata Abū Hanīfah, tidak boleh diberikan zakat kepada orang

yang berperang pada jalan Allah kecuali ia fakir.

Dua teks kitab di atas secara tegas menyatakan bahwa menurut mazhab Hanafī, yang dimaksudkan dengan senif fi sabilillah adalah orang yang berperang, hanya saja untuk dapat menerima zakat, orang tersebut disyaratkan fakir.

Menurut Mazhab Mālikī

Mazhab Mālikī mendefinisikan sabilillah dengan orang yang berperang

sekalipun ia kaya. Hal ini dapat dipahami dari dua kitab berikut ini. Bidāyah al-mujtahid wa Nihāyah al-Muqtashid:

3

.طابرلاو داهلجا عضاوم للها ليبس كلام لاقف للها ليبس فى امأو

Artinya: Adapun fi sabilillah, maka berkatalah Imam Mālik bahwa sabilillah

merupakan tempat-tempat peperangan dan pengintaian.

1 ‘Abd al-Rahman ibn Muhammad al-Jazīrī, Al-Fiqh ‘alā al-Madzāhib al-Ar

-ba’ah, Cet. I, (al-Manshūrah: Dār al-Ghad al-Jadīd, 2005), h. 350

2 Wahbah al-Zuhaylī, Al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuh, Jld. III, Cet. IV,

(Damsy-iq: Dār al-Fikr, 2004), h. 1957

3 Ibn Rusyd, Muhammad ibn Ahmad, Bidāyah mujtahid wa Nihāyah

(11)

Al-Fiqh ‘alā al-Madzāhib al-Arba’ah:

هب قحليو اّينغ ولو يشماه يرغ املسم ارح ناك نإ ةاكزلا نم ىطعي دهالمجاو ...اولاق ةّيكلالما

4

...ارفاك ولو سوسلجا

Artinya: Ulama mazhab Mālikī berpendapat, dan orang yang berperang

diberikan zakat kepadanya sekalipun ia kaya asalkan ia merdeka, muslim dan bukan keturunan Bani Hasyim. Intel disamakan juga dengan orang yang

berperang, maka diberikan zakat kepadanya sekalipun ia kafir.

Dua teks kitab di atas menegaskan bahwa menurut mazhab Mālikī,

sabilillah merupakan orang yang berperang, namun berbeda dengan mazhab Hanafī dari segi membolehkan penyaluran zakat kepada orang berperang meskipun ia kaya, dan juga membolehkan penyalurannya kepada intel,

sekalipun ia kafir.

Menurut Mazhab Syāfi’ī

Dalam mazhab Syāfi’ī, dapat dikatakan semua ulama Syāfi’iyyah

mengartikan fi sabilillah dengan para relawan perang yang tidak tercatat

dalam anggaran belanja negara (al-ghuzāt al-mutathawwi’ah) meskipun kaya. Hal ini bisa dilihat dari sekian banyak redaksi kitab karya ulama Syāfi’iyyah sebagaimana berikut ini:

Al-Majmū’ Syarh al-Muhadzdzab

شويج نم ناطلسلا ناويد في ابترم ناك نم اماو اوزغ اوطشن اذإ ةازغلا مهو للها ليبس في مهسو

ئفلا نم مهتيافكو مهقازرأ نوذخأي منهلا ةازغلا مهسب ةقدصلا نم نوطعي لا منهاف ينملسلما

5

.وزغلا ىلع هب ينعتسي ام ىطعيو مراغلا في هانركذ ىذلا برخلل نىغلاو رقفلا عم ىزاغلا ىطعيو

Artinya: Dan satu bagian untuk sabilillah, mereka adalah para relawan perang. Adapun tentara yang mendapatkan anggaran belanja dari

pemerintah, mereka tidak diberikan harta zakat dari bagian fi sabilillah

karena gaji dan kebutuhan mereka diambil dari harta fay`. Para relawan perang diberikan harta zakat meskipun kaya karena berdasarkan hadis yang

telah kami sebutkan pada pembahasan ghārim. Mereka diberikan segala

sesuatu kebutuhan untuk berperang.

4 Al-Jazīrī, Al-Fiqh ‘alā al-Madzāhib al-Arba’ah…, 351

(12)

Al-Tanbīh:

في هب نونيعتسي ام مهيلا عفديف نويدلا في مله قح لا نيذلا ةازغلا مهو للها ليبس في عباسلاو

6

.نيغلا عم مهوزغ

Artinya : Mustahik yang ketujuh yaitu fi sabilillah. Mereka adalah para

pejuang perang yang tidak ada bagian dari buku stambuk negara. Diberikan kepada mereka sesuatu yang dapat menolongnya dalam berperang meskipun kaya.

Raudhah al-Thālibīn :

نم ءىش فرصي لاو ءيىفلا في مله قزر لا نيذلا ةازغلا مهو للها ليبس في عباسلا فنصلا

ماملإا عم نكي لم نإف ةعوطلما لىإ ءيىفلا نم ءىش فرصي لا امك ةقزترلما ةازغلا لىإ تاقدصلا

نم ةاكزلا نم ةقزترلما ىطعي لهف رافكلا رش مهيفكي نم لىإ نوملسلما جاتحاو ةقزترملل ءىش

يزاغلا ىطعيو ينملسلما ءاينغأ ىلع مهتناعإ بتج لب لا اهمرهظأ نلاوق هيف للها ليبس مهس

7

. ايرقف وأ ناك اينغ

Artinya: Bagian yang ketujuh yaitu fi sabilillah. Mereka adalah para pejuang

perang yang tidak ada jatah dari harta fay`. Adapun tentara yang terdaftar dalam buku stambuk negara tidak boleh diberikan harta zakat, sebagaimana para relawan perang juga tidak diberikan sedikitpun bagian dari harta fay``. Maka jika pemerintah kehabisan dana untuk para tentara terdaftar, sedangkan kaum muslim memerlukan orang-orang yang bisa menghilangkan

kebejatan orang kafir, apakah mereka boleh diberikan harta zakat dari bagian fi sabilillah? Hal tersebut ada dua pendapat. Pendapat yang kuat

tidak boleh tetapi wajib terhadap orang-orang kaya di kalangan Islam untuk membiayai mereka. Para relawan perang tersebut diberikan harta zakat, baik kaya ataupun fakir.

Dari redaksi beberapa kitab di atas, di samping menjelaskan sasaran

zakat bagian fi sabilillah yakni relawan perang, juga menyatakan bahwa tentara

militer tidak boleh diberikan harta zakat meskipun pemerintah kehabisan

dana untuk membiayai mereka. Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa fi

sabilillah tidak boleh diartikan kepada segala hal yang bisa mempertahankan dan memperjuangkan agama Islam, karena tentara militer juga bertugas memperjuangkan Islam dan mereka tetap tidak boleh diberikan harta zakat.

6 Al-Syairāzī, Ibrāhīm ibn ‘Alī, al-Tanbīh, (Sofware: Maktabah Syamilah, Versi 4,37, 2010), h. 64.

(13)

Makta-Al-Muharrar fī Fiqh al-Syāfi’ī:

8

.ءاينغأ اوناك نإو نوطعيو ءيفلا نم أيش نوذخأي لا نيذلا ةازغلا ةيلآا فى للها ليبس نم دارلماو

Artinya: Dan yang dimaksudkan dengan sabilillah dalam ayat adalah para relawan perang yang tidak mengambil sedikitpun dari harta fay`, mereka diberikan zakat meskipun mereka orang kaya.

Dari beberapa teks kitab yang penulis kutip di atas, bisa dipastikan

bahwa fi sabilillah dalam konteks zakat menurut fiqh Syāfi’iyyah adalah para pejuang perang yang tidak terdaftar dalam buku stambuk negara.

Selanjutnya, al-Bājūrī juga mengatakan bahwa para relawan perang

yang sudah menerima harta zakat namun tidak jadi berperang atau harta yang diberikan masih tersisa setelah selesainya peperangan, maka harta zakat tersebut wajib dikembalikan.9 Al-Māwaridī menambahkan, harta zakat tidak boleh dipakai untuk membeli senjata perang dan semacamnya agar kemudian diberikan kepada para relawan perang yang masih belum jelas, karena zakat mesti diberikan kepada pemiliknya (mustahik) dalam bentuk yang utuh, artinya tidak boleh menyerahkan harga.10

Menurut Mazhab Hanbalī

Pada dasarnya, mazhab Hanbalī juga mendefinisikan sabilillah dengan relawan perang, tetapi di samping itu, mazhab ini memperluas sedikit makna sabilillah, sehingga orang menunaikan haji dianggap bagian dari sabilillah.

Hal ini dapat dipahami dari redaksi kitab berikut ini. Al-Fiqh ‘alā al-Madzāhib al-Arba’ah:

11

.هيلع هنم قفني ناويد كانه نكي لم نإ يزاغلا وه للها ليبس فىو ...اولاق ةلبانلحا

Artinya: Ulama mazhab Hanbalī berpendapat bahwa fi sabilillah adalah orang yang berperang jika tidak diperdapatkan anggaran negara yang diberikan kepadanya.

Rahmah al-Ummah fī Ikhtilāf al-A`immah:

12

.للها ليبس نم جلحا ينتياورلا رهظأ فى دحمأ لاقو ةازغلا للها ليبس فىو

8 Al-Rāfi’ī, ‘Abd al-Karīm ibn Muhammad, al-Muharrar fī Fiqh al-Syāfi’ī, Cet. I, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2005), h. 285

9 Ibrahim al-Bājūrī, Hāsyiat al-Bājūrī ‘ala Ibn Qāsim al-Ghazī, Jld. I, (Indone-sia: Haramain, t.t), h. 284.

10Al-Māwaridī, ‘Alī ibn Muhammad, al-Hāwī al-Kabīr, Jld. VIII, (Sofware: Maktabah Syamilah, Versi 4,37, 2010),h. 1395-1396.

11 Al-Jazīrī, Al-Fiqh ‘alā al-Madzāhib al-Arba’ah…, 351

12 Al-Dimsyiqī, Muhammad ibn ‘Abd al-Rahman, Rahmah al-Ummah fī Ikhtilāf

(14)

Artinya: Dan sabilillah adalah orang-orang yang berperang, dan pendapat yang kuat dari Imam Ahmad bahwasanya haji termasuk dalam kategori sabilillah.

Dari berbagai data yang telah penulis sebutkan di atas dapatlah di pahami bahwa mazhab Hanafī, Mālikī, dan Syāfi’ī mambatasi makna sabilillah sebagai mustahik zakat hanya pada orang yang berperang. Adapun mazhab Hanbalī, di samping mamaknai sabilillah sebagai orang yang berperang juga melebarkan sedikit makna sabilillah sehingga orang berhaji dianggap bagian dari sabilillah, tetapi tidak lebih luas dari itu.

Dari data tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa orang yang berperang merupakan makna yang disepakati dari kata sabilillah oleh mazhab empat, hanya saja para ulama ini masih berbeda pendapat mengenai haji apakah termasuk sabilillah atau tidak. Menurut tiga mazhab pertama tidak termasuk, sedangkan mazhab terakhir memasukkannya. Di samping itu, mereka juga berbeda pendapat mengenai persyaratan-persyaratan menyangkut sifat orang berperang tersebut. Meski demikian, para ulama dari empat mazhab sepakat juga bahwa senif sabilillah tidak boleh disalurkan kepada kemaslahatan umum atau segala bentuk kebaikan. Artinya, kata sabilillah dipersempit maknanya sesuai dengan istilah yang dipakai dalam ‘urf syara’, tidak memaknai kata ini menurut arti lughawī-nya.

Penafsiran ulama dari empat mazhab terhadap makna fi sabilillah sebagaimana tersebut di atas, ternyata mendapat dukungan dari berbagai penafsiran ulama-ulama tafsir dalam berbagai karya mereka seperti berikut ini :

Al-Muharrar al-Wajīz:

اينغ ناك نإو هوزغ في اهقفنيل ةقدصلا نم ذخأي نأ زويج دهالمجا وهف « للها ليبس في « امأو

نباو سابع نبا لاقو هرقفل ىطعيف ايرقف نوكي نأ لاإ جالحا اهنم ىطعي لاو بيبح نبا لاق

ءانب في اهنم ىطعي لاو للها ليبس جلحاو اينغ ناك نإو جالحا اهنم ىطعي قاحسإو دحمأو رمع

13

.اذه ونحو فحصم ءارش لاو ةرطنق لاو دجسم

Artinya : Fi sabilillah adalah para pejuang perang. Mereka boleh mengambil harta zakat untuk digunakan dalam peperangannya meskipun kaya. Ibn Habīb mengatakan harta zakat tidak boleh diberikan kepada orang yang melakukan haji kecuali mereka fakir, maka mereka diberikan harta zakat karena

kefakirannya. Menurut Ibn ‘Abbās, Ibn ‘Umar, Ahmad dan Ishāq, mereka

juga diberikan harta zakat meskipun kaya karena haji adalah termasuk fi

sabilillah. Adapun pembangunan mesjid, jembatan, pembelian mushaf dan

(15)

semacamnya tidak boleh diambil dari harta zakat.

Tafsīr al-Munīr:

نوطعي ،دنلجا ناويد في مله قح لا نيذلا نودهالمجا ةازغلا روهملجا يأر في مهو : هّللا ليبس فيو

لمعتسلما وهو ،وزغلا وه قلاطلإا دنع ليبسلا نلأ ءارقف وأ ءاينغأ اوناك ،مهوزغ في نوقفني ام

14

.ةنسلاو نآرقلا في

Artinya: Fi sabilillah menurut mayoritas ulama adalah para pejuang perang yang tidak ada bagian dalam buku daftar tentara. Mereka diberikan harta zakat untuk digunakan pada peperangannya, baik mereka fakir ataupun kaya.

Karena fi sabilillah ketika ithlāq (disebutkan secara global) artinya perang.

Makna tersebut digunakan dalam al-qur`an dan hadis.

Mafātīh al-Ghaib:

يعفاشلا لاق . ةازغلا نيعي : نورسفلما لاق } للها ليبس فىو { :لىاعت هلوق : عباسلا فنصلا

.ديبع بيأو قحسإو كلام بهذم وهو اينغ ناك نإو ةاكزلا لام نم ذخأي نأ هل زويج :للها هحمر

رهاظ نأ ملعاو .اجاتمح ناك اذإ لاإ يزاغلا ىطعي لا :للها مهحمر هابحاصو ةفينح وبأ لاقو

لافقلا لقن نىعلما اذهلف ،ةازغلا لك ىلع رصقلا بجوي لا } للها ليبس فىو { :هلوق في ظفللا

ينفكت نم يرلخا هوجو عيجم لىإ تاقدصلا فرص اوزاجأ منهأ ءاهقفلا ضعب نع »هيرسفت« في

15

.لكلا في ماع } للها ليبس فىو { :هلوق نلأ ،دجاسلما ةرامعو نوصلحا ءانبو ىتولما

Artinya: Mustahik yang ketujuh adalah Fi Sabilillah. Para mufassir

mengartikannya dengan orang-orang yang berperang. Imam Syāfi’i

berpendapat bahwa mereka boleh mengambil harta zakat meskipun kaya.

Begitu pula pendapat dalam mazhab Mālik, Ishaq dan Abī ‘Ubaid. Sedangkan

Abū Hanīfah dan kedua muridnya berpendapat mereka boleh diberikan harta

zakat apabila fakir atau miskin. Ketahuilah!, secara zhāhir kata fi sabilillah dalam firman Allah tersebut tidak dibatasi kepada orang-orang yang berperang saja. Oleh karena itu, Al-Qaffāl menukilkan dari sebagian fuqahā`

bahwa mereka membolehkan harta zakat disalurkan kepada segala bentuk kebaikan, seperti mengkafani jenazah, membangun benteng dan mendirikan

mesjid. Karena fi sabilillah dalam firman Allah itu mencakupi kepada seluruh

amal kebajikan.

Dari teks kitab tersebut dijelaskan bahwa fi sabilillah artinya juga

14Wahbah Al-Zuhailī, al-Tafsīr al-Munīr, Jld. X,(Sofware: Maktabah Syamilah, Versi 4,37, 2010), h. 273

(16)

para pejuang perang. Di samping itu, juga dijelaskan mengenai perselisihan antara empat mazhab yang pernah penulis uraikan sebelumnya. Dalam teks kitab tersebut, juga dinyatakan tentang adanya pendapat sebagian ulama yang dinukilkan oleh al-Qaffāl (ulama senior dalam mazhab Syāfi’ī) yang memperbolehkan harta zakat dari bagian fi sabilillah untuk segala bentuk kebaikan. Akan tetapi, bila ditelaah lebih dalam, nukilan tersebut terdapat beberapa kelemahan.

Salah satunya yaitu, sebagian fuqahā` yang berpendapat demikian masih tergolong majhul (tidak terlacak). Artinya, fuqahā` tersebut apakah termasuk dalam madzāhib arba’ah atau tidak, termasuk ulama yang pendapatnya mu’tabar atau bukan, bahkan dalam kitab Mausū’at al-Fiqhiyyah secara tegas dinyatakan bahwa tidak ada pendapat mu’tabar yang memperbolehkan zakat diberikan untuk sabīl al-khair.16 Apalagi al-Khāzin juga mengatakan pendapat sebagian ulama tersebut dha’īf karena bertentangan dengan kesepakatan mayoritas ulama.17

Kemudian, al-Zuhailī juga mengatakan bahwa mayoritas ulama sepakat harta zakat tidak boleh disalurkan untuk pembangunan mesjid, jembatan, mengkafani jenazah dan semacamnya karena tidak ada unsur

tamlīk.18 Oleh karena itu, nukilan al-Qaffāl jelas bertentangan dengan jumhur ulama. Bahkan Al-Sya’rānī secara tersirat menyatakan hal tersebut menyalahi ijmak.19 Selain itu, jikapun al-Qaffāl sendiri yang berpendapat demikian, tetap saja pendapat itu lemah dan tidak boleh diikuti, karena al-Qaffāl merupakan salah seorang pengikut mazhab Syāfi’ī. Dalam ketentuan bermazhab disebutkan, jika pendapat seorang ulama pengikut mazhab tertentu berbeda dengan pendapat imam mazhabnya, maka yang menjadi pendapat untuk diikuti dan diamalkan oleh pengikut mazhab tersebut adalah pendapat imam mazhab. Oleh karenanya, pendapat al-Qaffāl dalam konteks ini tidak boleh diikuti.

Dari berbagai redaksi kitab-kitab tafsir di atas, lebih memperkuat lagi pendapat ulama dari mazhab empat yang menyatakan bahwa fi sabilillah

artinya adalah para relawan perang yang tidak mendapat anggaran belanja dari negara (al-ghuzāt al-mutathawwi’ah).

Para ulama mazhab empat tentu mempunyai alasan dan landasan

16 Wizārat al-Auqāf wa al-Syū’ūn, al-Mausū’at al-Fiqhiyyah, Jld. XXIII, (Sof-ware: Maktabah Syamilah, Versi 4,37, 2010), h. 329-330.

17 Al-Khāzin, lubāb al-Ta`wīl fī Ma’ānī al-Tanzīl, Jld. III, (Sofware: Maktabah Syamilah, Versi 4,37, 2010), h. 295

18 Al-Zuhailī, al-Fiqh al-Islāmī ..., h. 303.

(17)

hukum serta metode istinbāth-nya tersendiri mengapa fi sabilillah dalam persoalan zakat hanya bisa diartikan kepada para relawan perang. Menurut

mereka, fi sabilillah secara bahasa (lughah) adalah jalan yang menuju kepada

Allah, kemudian kata fi sabilillah sering dipakai pada ‘urf dan syara’ kepada

makna jihad. Oleh karena itu, ketika diucapkan kata fi sabilillah secara muthlāq maka makna yang langsung terbesit dan ditangkap oleh pikiran adalah jihad. Metode seperti diistilahkan dengan metode lafzhi. Artinya, untuk menggali hukum-hukum dari al-qur`an dan hadis, terlebih dulu meninjau makna kata yang sering dipakai dalam istilah syara’ ataupun ‘urf. Dengan kata lain, metode lafzi adalah upaya menggali hukum syara’ dengan menerapkan kaidah-kaidah kebahasaan. Metode istinbāth ulama mazhab empat terkait hal

ini dapat ditemukan antara lain dalam penjelasan al-Bujairimī sebagai berikut

:

ةداهشلا ببس هنلأ ؛داهلجا في هلامعتسا رثك ثم ،لىاعت هل ةلصولما قيرطلا اعضو للها ليبس

نم لضفأ اوناكف ءيش ةلباقم في لا اودهاج منهلأ ؛ءلاؤه ىلع عضو ثم ،لىاعت للها لىإ ةلصولما

اعرشو افرع بلغ داهلجا في هلامعتسا نلأ ؛ةازغلاب للها ليبس رسف ي ز ةرابعو ر م حرش مهيرغ

قيرط داهلجا نلأ ؛للها ليبس وزغلا يسمو ]۷6 :ءاسنلا[ }للها ليبس في نولتاقي{ لىاعت للها لاق

20

.هيلع للها ليبس مسا قلاطإب قحأ وزغلا ناك كلذلف لىاعت لله ةلصولما ةداهشلل

Artinya: Fi sabilillah secara bahasa (lughah) adalah jalan yang menuju

kepada Allah, kemudian kata fi sabilillah sering dipakai kepada makna

jihad, karena jihad merupakan sebab syahidnya seseorang yang bisa menuju

kepada Allah. Setelah itu, fi sabilillah diartikan kepada para relawan perang

karena mereka berperang tanpa imbalan apapun. Maka para relawan perang lebih utama dari selain mereka (syarh Muhammad Ramlī). Adapun redaksi

dari kitab karya al-Ziyadī, fi sabilillah ditafsirkan dengan orang-orang yang berperang. Karena pada syara’ dan ‘urf fi sabilillah sering dipakai dengan makna jihad (perang) sebagaimana kata fi sabilillah yang terdapat dalam surat al-Nisā` : 76. Adapun orang berperang dinamakan dengan fi sabilillah

karena berperang adalah jalan untuk menuju kepada Allah, maka karena itu

fi sabilillah lebih pantas pemakaiannya kepada para tentara perang.

Jadi, Interpretasi ini muncul karena melihat kepada penggunaaan pada ‘urf dan al-qur`an bahwa fi sabilillah sering diartikan dengan orang yang

berperang. Dalam al-qur`an, istilah kata-kata fi sabililah terdapat sebanyak

lima puluh kali. Tiga puluh delapan di antaranya muncul bersama perang (qitāl) dan jihad atau tindakan-tindakan yang menunjukkan makna qitāl dan

(18)

jihad, dan delapan di antaranya muncul bersama kata anfaqa (memberi infaq). Sedangkan empat sisanya muncul bersamaan dengan hijrah.21

Hal ini membuktikan bahwa dalam al-qur`an, istilah fi sabilillah

lebih banyak diartikan dengan jihad (perang). Bahkan, dalam kitab Asrār al-Bayān disebutkan bahwa fi sabilillah dalam surat al-Taubah maksudnya

adalah jihad, karena kebanyakan kata fi sabilillah dalam surat tersebut

diiringi dengan kata qitāl (perang),22 ditambah lagi dengan salah satu alasan dimakruhkan membaca basmalah ketika membaca surat al-Taubah karena diturunkan ketika perang.23 Maka dari uraian di atas dapatlah mengokohkan

makna fi sabilillah dalam surat al-Taubah ayat ke-60 untuk diartikan dengan

orang yang berperang.

Di samping itu, senif fi sabilillah tidak boleh disalurkan kepada selain

relawan perang juga dapat pahami melakui penggantian kata lam dengan kata fi di dalam ayat, sebagaimana dikemukakan oleh al-Razī berikut ini:

ةدئاف نم قرفلا اذله دب لاف } باقرلا فيو { :لاقف في فربح ملالا فرح لدبأ باقرلا ركذ المو

تىح تاقدصلا نم مهبيصن مهيلإ عفدي ةمدقتلما ةعبرلأا فانصلأا كلت نأ يه ةدئافلا كلتو ،

لاو ، قرلا نع مهتبقر صيلتخ في مهبيصن عضويف } باقرلا فى { امأو اوؤاش امك اهيف اوفرصتي

نأب باقرلا في عضوي لب ، اوؤاش فيك بيصنلا كلذ في فرصتلا نم اونكيم لاو مهيلإ عفدي

لالما فرصي ةازغلا فيو ، منهويد ءاضق في لالما فرصي ينمراغلا في لوقلا اذكو ، مهنع يدؤي

ةعبرلأا فانصلأا في نأ : لصالحاو . كلذك ليبسلا نباو وزغلا في هيلإ نوجاتيح ام دادعإ لىإ

لالما فرصي لا ةيرخلأا ةعبرلأا فيو ، اوؤاش امك هيف اوفرصتي تىح مهيلإ لالما فرصي ، لولأا

ةاكزلا مهس اوقحتسا اهلجلأ تيلا تافصلا في ةبرتعلما تاجالحا تاهج لىإ فرصي لب ، مهيلإ

24

.

Artinya: Tatkala menyebutkan kata riqāb, digantikan huruf lam dengan huruf fī, maka hal ini mengandung suatu faedah, yaitu empat mustahik yang pertama

diberikan harta zakat dan mereka boleh menggunakan untuk apa saja yang mereka inginkan. Sedangkan empat mustahik yang terakhir hanya boleh menggunakan harta zakat untuk kepentingan yang sesuai dengan sifatnya

masing-masing, yakni riqāb hanya boleh menggunakan harta zakat untuk melepaskan perbudakannya, ghārim untuk membayar hutangnya, pejuang

perang untuk keperluan peperangannya, begitupula ibnu sabil.

21 Muslim Ibrahim, Konsep Senif Fi Sabilillah Dalam Perspektif Fiqh

Muqar-ran, (Banda Aceh: Bandar Publishing, 2012), h. 89-90.

22 Fādhil Shālih al-Sāmirā`īh, Asrāral-Bayān fi ta’bīr al-qur`ānī, Jld. I, (Sof-ware: Maktabah Syamilah, Versi 4,37, 2010), h. 48.

23 Al-Bujairimī,Hāsyiat al-Bujairimī..., h. 23.

(19)

Dari teks kitab tersebut jelaslah bahwa penggantian kata lam dengan

kata fi memiliki tujuan tersendiri, yakni tatkala kata fi menggantikan kata lam

pada empat senif terakhir, maka empat senif tersebut hanya boleh menggunakan

zakat pada kepentingan yang terikat dengan sifatnya. Seandainya senif fi

sabilillah boleh disalurkan kepada selain relawan perang maka hilanglah faedah dari penggantian kata lam dangan kata fi, yang mengakibatkan kepada hilangnya rahasia dibalik penggantian tersebut, yakni pengantian tersebut menjadi tanpa makna. Hal ini tidaklah layak terjadi pada kalam yang mu’jiz.

KRITERIA FI SABILILLAH MENURUT ULAMA KONTEMPORER Berbeda dengan ulama dalam mazhab empat, para ulama kontemporer tidak membatasi makna sabilillah hanya pada relawan perang, tetapi mereka mengartikannya dengan makna yang lebih luas yaitu semua hal yang mencakup kemaslahatan dan perbuatan-perbuatan baik sesuai dengan penerapan asal dari kalimat tersebut. Hal ini dapat dilihat dari berbagai ungkapan dan komentar mereka terkait permasalahan ini. Berikut penulis mengutip beberapa komentar mereka.

Menurut Jamāl al-Dīn al-Qāsimī:

ةصاخ نيدهالمجا ةازغلل فنصلا اذه اولعجف )للها ليبس فىو( لىاعت هلوق ءاهقفلا هب رّسف امم اذه

هدارفأ مهأ فى ماعلا رصح نم رصقلا ذه نأ ىدنعو .فلسلا نع تيور كلذ فى راثآ عم افوقو

لمع لك ةياهنلا فى يرثلأا نبا لاق امك للها ليبس نلأ ىوغللا هعوضومو هلولدم فى هرصح نم لا

سيل للها ليبس نأ ىلع تابرقلاو تاعوطتلا عاونأب لىاعت للها لىا برقتلا قيرط هب كلس صلاخ

ىتأي نأ دحأ ردقي لاو لوصلأاب مالما هل نم ىلع ىفيخ لا امك هيف ارهاظ لاو داهلجا فى اصن

نم لاإ ادبأ مهيرغ نود نيدهالمجا ىلع ىلع قافنلإا وه للها ليبس نأ ةنس وأ باتك نم صنب

همومع ىلع هؤاقبإ بيج ماعلا نأ ررقت دقو عطاق لاو ةجبح سيل امم فلسلا ىلع ةفوقوم راثآ

هعرشو هنيد ديؤيو للها لىا هب برقتي ام لك فى ماع وهف صصمخ لا ذإو هصصيخ ام دري تىح

25

.هدارفأ ىصتح لا امم رب عوضومو يرخ عورشم فى ةناعإو ءاملعلل بتك ءارشو ةسردم ءانبك

Artinya: Ini (membatasi sabilillah kepada jihad) merupakan penafsiran para fuqahā` terhadap firman Allah “wa fi sabilillah”, mereka mengkhususkan senif ini hanya untuk orang yang berperang karena berpijak pada atsar yang diriwayatkan dari ulama salaf. Menurut saya, pembatasan ini merupakan sebagian dari bentuk pembatasan lafaz umum kepada yang terpenting dari segala satuannya, bukan pembatasan kepada makna aslinya, karena sabilillah seperti yang dikemukakan oleh Ibn al-Atsīr dalam kitab al-Nihāyah

adalah setiap amalan ikhlas yang dijadikan sarana untuk mendekatkan

25 Jamāl al-Dīn al-Qāsimī, Mauzhi’ah al-Mu`minīn min Ihyā` ‘Ulūm al-Dīn,

(20)

diri kepada Allah yang terdiri dari berbagai bentuk perbuatan sunnat dan ibadat. Lebih-lebih lagi, kata sabilillah tidak menunjukkan kepada makna jihad, baik secara nash (tegas) maupun secara lebih kuat (zhahir), dan hal ini bukanlah sesuatu yang samar-samar bagi orang yang menguasai ilmu

ushul fiqh. Kapan saja tidak ada seorangpun mampu membuktikan ada

dalil ayat atau hadis yang menunjukkan kepada bahwa makna sabilillah adalah hanya infaq kepada para relawan perang dengan mengabaikan yang lainnya, kecuali berpijak pada atsar yang terhenti pada ulama salaf, di mana atsar tersebut tidak dapat dijadikan hujjah dan juga tidak menunjukkan kepada hukum yang meyakinkan. Sudah menjadi ketetapan bahwa suatu lafaz umum wajib dipahami menurut keumumannya selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya. Karena di sini tidak diperdapatkan dalil yang mengkhususkannya maka sabilillah mencakup apa saja perbuatan yang menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah dan menguatkan agama serta syari’atnya seperti membangun madrasah, membeli kitab untuk ulama, dan membantu jalan kebaikan yang tidak terhingga bentuknya.

Menurut al-Shan’anī:

:حراشلا لاق .للها ليبس فى عاس هنلأ اّينغ ناك نإو ةاكزلا نم زهجتي نأ هل ليح ىزاغلا كلذكو

نإو سيردتلاو ءاتفلإاو ءاضقلاك ينملسلما لحاصم نم ةماع ةحلصبم امئاق ناك نم هب قحليو

26

.اّينغ ناك

Artinya: Demikian juga relawan perang, halal baginya mengambil harta zakat sekalipun ia kaya, karena ia merupakan orang yang berjalan pada jalan Allah. berkatalah pensyarah, dan diqiaskan kepada relawan perang, orang-orang yang mengurus kepentingan umum umat Islam seperti memutuskan perkara dalam persengketaan, memberi jawaban hukum dan mengajar, mereka diberikan zakat meskipun mereka kaya.

Menurut Yūsuf al-Qaradhawī:

Pada dasarnya, Yūsuf al-Qaradhawī mengartikan sabilillah dalam ayat tentang mustahik zakat dengan jihad, namun ia tidak membatasi makna jihad itu hanya pada bentuk konfrontasi senjata, tetapi segala bentuk upaya dan perbuatan yang bertujuan membela agama Allah dianggap sebagai jihad. Hal jelas tergambarkan dari pernyataannya berikut ini.

Sesungguhnya jihad itu kadangkala dilakukan dengan tulisan dan ucapan sebagaimana bisa dilakukan pula dengan pedang dan pisau. Kadangkala jihad itu dilakukan dalam bidang pemikiran, pendidikan, sosial,

(21)

ekonomi, politik sebagaimana dilakukan dengan kekuatan bala tentara. Yang paling penting, terwujudnya syarat utama pada semuanya itu, yaitu hendaknya sabilillah itu dimaksudkan untuk membela dan menegakkan kalimat Islam di muka bumi ini. Setiap jihad yang dimaksudkan untuk menegakkan kalimat Allah, termasuk sabilillah, bagaimanapun keadaan bentuk dan senjatanya”.

Selanjutnya, Yūsuf al-Qaradhawī menjelaskan: Alasan kami dalam memperluas arti jihad ini sebagai berikut: pertama, bahwa jihad dalam Islam tidak hanya terbatas pada peperangan dan pertempuran dengan senjata saja, sebab telah shahih riwayat dari Nabi SAW ketika beliau ditanya jihad apakah yang paling utama?, ia menjawab “menyatakan kalimah yang hak

pada penguasa yang zalim”… Kedua, apa yang kami sebutkan atas bermacam jihad dan kebangkitan Islam, kalau tidak termasuk ke dalam jihad dengan

nash, maka wajib menyertakannya dengan qias. Keduanya adalah perbuatan yang bertujuan untuk membela Islam, menghancurkan musuh-musuhnya dan menegakkan kalimah Allah di muka bumi.27

Dari komentar tiga ulama kontemporer di atas dapat dipahami bahwa mereka tidak membatasi makna sabilillah sebagai penerima zakat hanya

kepada relawan yang berperang secara fisik dan senjata saja, tetapi segala

bentuk kebaikan dan kegiatan yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah, atau menegakkan agama Islam, juga termasuk sabilillah. Di antara kegiatan tersebut adalah mengajar, memberi jawaban hukum, menyediakan kitab untuk ulama, mendirikan madrasah, melangsungkan pendidikan, menulis, dan lain sebagainya.

Dasar yang dijadikan sebagai pijakan mereka dan metode penalaran hukum yang digunakan terlihat beragam. al-Qāsimī mengembalikan arti kata sabilillah kepada arti asli, dan juga menurutnya tidak ada nash dari al-qur`an dan hadis yang mengarahkan arti sabilillah kepada jihad. Karenanya, kata sabilillah tetap bermakna umum disebabkan tidak ada dalil yang

mengkhususkannya. Sedangkan Yūsuf al-Qaradhawī memperluas arti dari kata jihad dengan sebab adanya hadis yang mengartikan kata jihad tidak hanya berperang dengan senjata. Di samping itu, ia juga mengqiaskan seluruh kebaikan dan kegiatan yang bertujuan menegakkan agama Islam, kepada jihad

yang berarti perang dengan fisik dan senjata, sama seperti yang ditempuh oleh al-Shan’anī. Dari uraian ini, terlihatlah bahwa metode yang digunakan oleh

ulama kontemporer adalah penggabungan antara metode lafzi dan maknawi. ANALISIS

Menurut hemat penulis, jika diukur dengan aturan-aturan dan metode

(22)

istinbāth hukum yang telah dirumuskan oleh para ulama terdahulu, terlihat bahwa pijakan dan metode yang digunakan oleh ulama kontemporer dalam konteks ini tidak terlepas dari berbagai kelemahan, bahkan kerancuan. Berikut ini penjelasannya:

1. Pernyataan al-Qāsimī bahwa tidak terdapat satupun nash al-qur`an atau hadis yang dapat mengkhususkan makna sabilillah kepada relawan perang patut dipertanyakan. Sebab bila ditelusuri lebih jauh ternyata ada

satu hadis yang bersumber dari Abī Sa’īd al-Khudrī yang secara tegas

menyebutkan kata-kata yang menunjukkan kepada arti relawan perang. Hadis tersebut adalah:

ةقدصلا لتح لا ملسو هيلع للها ىلص للها لوسر لاق :لاق هنع للها يضر ىردلخا ديعس بيأ نع

ينكسم وأ للها ليبس فى زاغ وأ مراغ وأ هلابم اهاترشا لجر وأ اهيلع لماعل ةسملخ لاإ ّنيغل

28

.)مكالحا هححصو هجام نباو دواد وبأو دحمأ هاور( ّنيغل اهنم ىدهأف اهنم هيلع قدصت

Artinya: Diriwayatkan dari Abī Sa’īd al-Khudrī RA, berkata ia “berkatalah

Rasulullah SAW, zakat itu tidak halal untuk orang kaya kecuali untuk lima orang dari mereka, pengurus zakat, seseorang yang membeli harta zakat dengan hartanya, orang yang memiliki hutang, orang yang berperang di jalan Allah, dan orang miskin yang diberikan zakat kepadanya, lantas ia menghadiahkan kepada orang kaya. (H.R. Ahmad, Abū Dāwud, Ibnu Mājah, dan di-tashhih oleh al-Hākim).

Dalam hadis tersebut secara tegas dinyatakan bahwa salah satu dari orang kaya yang boleh mengambil zakat adalah relawan perang. Kalimat yang digunakan untuk menunjukkan kepada makna relawan perang cukup jelas yaitu زاغ, di mana kalimat ini tidak memiliki kemungkinan arti yang lain. Karena itu, hadis tersebut dapat menjadi dalil yang mengkhususkan keumuman makna kata sabilillah yang ada dalam ayat. Dengan demikian, kata sabilillah dalam ayat tidak boleh pahami lagi bermakna umum karena sudah ada mukhashshish-nya. Berkaitan dengan keotentikannya, sejauh ini penulis belum menemukan pernyataan ulama yang menolak ber-istidlāl dengan hadis tersebut. Bahkan dalam beberapa kitab, hadis ini justeru dijadikan hujjah untuk membolehkan penerimaan zakat oleh relawan perang yang kaya. Dengan temuan ini, terbantahlah pernyataan al-Qāsimī di atas.

2. Metode penalaran hukum yang dipakai al-Qāsimī, yaitu mengembalikan kata sabilillah kepada makna lughawi-nya tidak sesuai dengan aturan istinbāth yang telah ditetapkan ulama Ushul Fiqh. Dalam Ushul Fiqh disebutkan sebuah kaidah yaitu, “apa bila suatu lafaz memiliki arti menurut lughawi dan arti menurut istilah syara’, maka yang

28 Ibnu Hajar al-‘Asqālanī, Bulūgh al-Marām min adillah al-Ahkām, Cet. I,

(23)

dimaksudkan dari lafaz tersebut jika diperdapatkan dalam al-qur`an atau hadis adalah makna menurut istilah syara’, kecuali ada indikasi yang memalingkannya kepada arti lughawi”.29 Berkaitan dengan lafaz sabillah, tidak diperdapatkan indikasi yang memalingkannya kepada arti lughawi, bahkan yang diperdapatkan justeru indikasi yang menguatkannya untuk

diartikan secara istilah syara’ yaitu hadis Abī Sa’īd al-Khudrī RA, maka

lafaz ini mesti diartikan sesuai makna syar’i-nya, yaitu relawan perang. 3. Metode yang dipakai oleh Yūsuf al-Qaradhawī dengan memperluas arti

jihad kepada selain peperangan dengan senjata perlu ditinjau kembali. Karena jihad yang disebutkan oleh Nabi SAW dalam hadis yang dijadikan

sumber oleh Yūsuf al-Qaradhawī bisa saja jihad dalam pengertian lughawi,

yaitu bersungguh melakukan sesuatu/mencurahkan segenap kemampuan. Sedangkan jihad dalam konteks zakat mempunyai arti khusus secara istilah syara’. Selain itu, bisa saja yang dimaksudkan oleh Nabi dengan jihad tersebut adalah memperoleh pahala sama seperti berjihad dalam arti berperang. Maksud seperti ini diperdapatkan juga dalam hadis-hadis yang lain, seperti ketika sebagian perempuan mengadu kepada Nabi bahwa mereka kekurangan pahala karena tidak dibebankan jihad, lantas Nabi menjawab bahwa kegiatan mengurus rumah tangga itulah jihad bagi perempuan. Di samping itu, perluasan arti jihad juga bertentangan pen-takhshīsh-an makna sabilillah oleh hadis Abī Sa’īd al-Khudrī RA di atas.

4. Mengqiaskan segala kebaikan atau kegiatan yang bertujuan menegakkan agama Allah kepada peperangan tidaklah tepat karena ilat hukum pada permasalahan jihad tidak diperdapatkan pada kegiatan lainnya. Yang menjadi ilat hukum pada jihad adalah membantu relawan perang dalam menghadapi peperangannya. Ilat ini tidak diperdapatkan pada perbuatan yang lain. Ketika sebuah ilat hanya berdiri pada hukum tertentu dan tidak dapat dikembangkan kepada kasus lain, maka peluang melakukan qias di situ menjadi tertutup, karena yang dapat diberlakukan qias hanya bila ilatnya muta’addiyyah. Sedangkan pada permasalahan jihad ilatnya qāshirah.

5. Dalam ketentuan ber-istinbāth disyaratkan bahwa pendapat yang dihasilkan tidak boleh bertentangan dengan ijma’ ulama. Dalam kaitan ini, sabilillah bermakna relawan perang merupakan sesuatu yang telah di-ijma’-kan oleh mazhab empat. Dengan demikian, pendapat ulama kontemporer dalam memperluas makna sabilillah merupakan pendapat yang bertentangan dengan ijma’. Karenanya, pendapat tersebut tidak dianggap pendapat yang mu’tabar. Apalagi secara tidak langsung, pendapat tersebut telah menyalahkan ijma’ yang sudah terbentuk selama

29 Wahbah al-Zuhailī, Ushūl al-Fiqh al-Islāmī, Jld. I, Cet. III, Ed. XIV,

(24)

berabad-abad, padahal Nabi sendiri memberikan jaminan bahwa apa yang di-ijma’-kan oleh para mujtahid dari umatnya tidak akan pernah salah. 6. Mengartikan sabilillah dengan jalan kebaikan bertentangan dengan

kaidah lughawiyyah terkait dengan ‘athaf. Kaidah menyebutkan bahwa hubungan antara ma’thūf dan ma’thūf ‘alaih adalah berlainan (mughāyarah). Jika sabilillah diartikan dengan jalan kebaikan maka tidak akan ada mughāyarah pada ‘athaf dalam ayat tersebut karena memberikan zakat kepada para mustahik yang disebutkan sebelum kata fi sabilillah

juga merupakan jalan kebaikan. Seandainya dimaksudkan dengan ‘athaf

di sini berbentuk ‘athaf kalimat ‘āmm atas kalimat khāsh yang bertujuan untuk ta’mīm, seharusnya kalimat fi sabilillah letaknya pada bagian akhir dari delapan senif mustahikagar mencakup juga kepada ibnu sabil karena memberikan kepada ibnu sabil pun merupakan jalan kebaikan. Oleh karena itu, mengartikan sabilillah dengan jalan kebaikan merupakan pentafsiran yang rancu dan kontradiksi dengan kaidah di sana-sini.

Dari berbagai uraian ini terlihatlah secara jelas bahwa pendapat ulama kontemporer yang mengartikan sabilillah dengan segala kebaikan atau kegiatan yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah atau menegakkan agama Allah merupakan pendapat yang menyimpang dari aturan istinbāth hukum yang ditetapkan para ulama, baik dari segi sumber pijakannya maupun metode penalarannya.

KESIMPULAN

Senif fi sabilillah sebagai mustahik zakat adalah para relawan perang

yang tidak mendapatkan bagian dari harta fay`. Inilah pendapat yang sah,

mu’tabar, dan wajib diikuti oleh umat Islam dalam hal ini, karena pendapat ini merupakan kesepakatan para ulama dalam lingkup mazhab empat. Sesuai dengan kaidah yang telah baku bahwa mazhab yang boleh diikuti dalam

bidang fikih hanyalah salah satu dari mazhab empat, maka pendapat ulama kontemporer yang membolehkan penyaluran senif fi sabilillah kepada segala

bentuk kebaikan dan kemaslahatan, bukanlah pendapat yang boleh diikuti karena bertentangan dengan ijma’ mazhab empat. Berdasarkan kesimpulan ini, diharapkan kepada pemerintah untuk meluruskan pola penyaluran zakat di instansi Baitul Mal, baik tingkat propinsi maupun kabupaten/kota ke arah yang lebih sesuai dengan aturan hukum syar’i.

(25)

DAFTAR PUSTAKA

Al-Bujairimī, Sulaimān ibn Muhammad, Hāsyiat Bujairimī ‘ala

al-Minhāj, Jld. V, Sofware: Maktabah Syamilah, Versi 4,37, 2010;

Al-Dimsyiqī, Muhammad ibn ‘Abd al-Rahman, Rahmah al-Ummah fī

Ikhtilāf al-A`immah, Beirut: Dār al-Fikr, 2000;

Al-Khāzin, lubāb al-Ta`wīl fī Ma’ānī al-Tanzīl, Jld. III, Sofware: Makta-bah Syamilah, Versi 4,37, 2010;

Al-Māwaridī, ‘Alī ibn Muhammad, al-Hāwī al-Kabīr, Jld. VIII, Sofware: Maktabah Syamilah, Versi 4,37, 2010;

Al-Nawawī, Yahyā ibn Syarf, al-Majmū’ ‘alā Syarh al-Muhadzdzab, Jld. VI, Sofware: Maktabah Syamilah, Versi 4,37, 2010;

Raudhat al-Thālibīn, Jld. II, Sofware: Maktabah Syami- ,______ ;lah, Versi 4,37, 2010

Al-Rāfi’ī, ‘Abd al-Karīm ibn Muhammad, al-Muharrar fī Fiqh

;al-Syāfi’ī, Cet. I, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2005 Al-Rāzī, Fakhr al-Dīn Muhammad ibn ‘Umar, Mafātīh al-Ghaib, Jld.

VIII, Sofware: Maktabah Syamilah, Versi 4,37, 2010;

Al-Shan’anī, Muhammad ibn Ismā’īl, Subul al-Salām Syarh Bulūgh al-Marām, Jld. II, Cet. IV, Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmi -;yyah, 2006

Al-Syairāzī, Ibrāhīm ibn ‘Alī, al-Tanbīh, Sofware: Maktabah Syamilah, Versi 4,37, 2010;

Al-Sya’rānī, ‘Abd al-Wahhāb ibn Ahmad, al-Mīzān al-Kubrā, Jld. II, Semarang : Toha Putra, t.t;

‘Abd al-Haq ibn Ghālib, al-Muharrar al-Wajīz, Jld. III, (Sofware: Makta-bah Syamilah, Versi 4,37, 2010;

‘Abd al-Rahman ibn Muhammad al-Jazīrī, Al-Fiqh ‘alā al-Madzāhib

al-Arba’ah, Cet. I, al-Manshūrah: Dār al-Ghad al-Jadīd, 2005;

(26)

Sof-ware: Maktabah Syamilah, Versi 4,37, 2010;

Ibnu Hajar al-‘Asqālanī, Bulūgh al-Marām min adillah al-Ah

-;kām, Cet. I, Beirut: Dār al-Kutub al-Islāmiyyah, 2002

Ibnu Rusyd, Muhammad ibn Ahmad, Bidāyah al-mujtahid wa Ni

-hāyah al-Muqtashid, Jld. I, Cet. I, Kairo: Maktabah al-Kulliyyāt

;al-Azhariyyah, 1989

Ibrahim al-Bājūrī, Hāsyiat al-Bājūrī ‘ala Ibn Qāsim al-Ghazī, Jld. I, Indo-nesia: Haramain, t.t;

Jamāl al-Dīn al-Qāsimī, Mauzhi’ah al-Mu`minīn min Ihyā` ‘Ulūm al-Dīn,

Ttp: Dār al-‘Ahd al-Jadīd, tt;

Muslim Ibrahim, Konsep Senif Fi Sabilillah Dalam Perspektif Fiqh Muqa-rran, Banda Aceh: Bandar Publishing, 2012;

(27)

ANALISIS PUTUSAN MAHKAMAH SYAR’IYAH LANGSA

(NOMOR 20/JN/2012/MS-LGS TENTANG ‘UQUBAT CAMBUK) OLEH: MUHAMMAD BASHIR, SHI, MA

ABSTRAK

In the criminal justice system in addition to material law also exists a formal law, these formal law as a rule of law that the material can be applied.

With the formal law enforcement officers are authorized to arrest a person,

held their, seize an object, the prosecutor may prosecute, indict and others. Therefore, a formal law is very important because it determines the fate of

the accused person. In Langsa Syar’iyah Court Decision No. 20 / JN / 2012 / MS-LGS decided by the judges are judges negligence in providing legal

considerations. Then moved to these problems is needed there is a study of what the legal considerations given judge, whether the decision in accordance with the principles of the law and how the legal consequences of the decision. This study was designed with the qualitative pattern, using regulatory approach. Data collection techniques using documentation and interview techniques. The research proves that consideration Langsa Syar`iyah Court

judges in deciding ‘uqubat whip khalwat in case No.20 / JN / 2012 / MS-LGS, first Qanun No. 14 of 2003 concerning the seclusion, the Qur’an Surat Al-lsraa ‘paragraph 32 on the prohibition of adultery. Langsa Syar`iyah Court judge’s ruling on the case No.20 / JN / 2012 / MS-LGS does not take into

consideration the demands of the public prosecutor. The legal consequences

Syar’iyah Court decision 20 / JN / 2012 / MS-LGS is a judgment decision must

perform in accordance with the decision of the judges deliberation execution.

(28)

A. Pendahuluan

Peradilan Syari’at Islam merupakan bagian dari sistem peradilan nasional yang dilakukan oleh Mahkamah Syar’iyah. Mahkamah Syar’iyah dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 11 Tahun 2003 tentang Mahkamah Syar’iyah dan Mahkamah Syar’iyah Provinsi di Aceh, diresmikan oleh Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan pada tanggal 4 Maret 2003. Kemudian pada bulan Oktober 2004 Ketua Mahkamah Agung melimpahkan sebagian kewenanganmengadili di bidang perdata dan pidana dari Pengadilan Negeri ke Mahkamah Syar’iyah.1

Berdasarkan Keppres Nomor 11 Tahun 2003 tersebut, kekuasaan dan kewenangan Mahkamah Syar’iyah dan Mahkamah Syar’iyah Provinsi adalah kekuasaan dan kewenangan Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi Agama, ditambah dengan kekuasaan dan kewenangan lain yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dalam ibadah dan syiar Islam yang ditetapkan dalam Qanun. Jadi pembentukan Mahkamah Syar’iyah menggantikan peran Peradilan Agama. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman menyatakan, bahwa peradilan Syari’at Islam di Provinsi Aceh merupakan pengadilan khusus dalam lingkungan peradilan agama sepanjang kewenangannya menyangkut kewenangan peradilan agama, dan merupakan pengadilan khusus dalam lingkungan peradilan umum sepanjang kewenangannya menyangkut kewenangan peradilan umum.2

Kewenangan Mahkamah Syar’iyah ditetapkan dengan Qanun Nomor 10 Tahun 2002 tentang Peradilan Syari’at Islam. Berdasarkan Qanun tersebut, Mahkamah Syar’iyah bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara pada tingkat pertama, dalam bidang ahwal al-syakhshiyah, mu’amalah, dan jinayah (Pasal 49). Dalam Penjelasan Pasal 49, disebutkan bahwa:

1. Yang dimaksud dengan kewenangan dalam bidang ahwal al-syakhshiyahmeliputi hal-hal yang diatur dalam Pasal 49 UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama beserta penjelasan dari pasal tersebut, kecuali waqaf, hibah, dan sadaqah.

2. Yang dimaksud dengan kewenangan dalam bidang mu’amalah meliputi hukum kebendaan dan perikatan, seperti jual beli, hutang piutang;

qiradh (permodalan); musaqah, muzara’ah, mukhabarah (bagi hasil pertanian); wakilah (kuasa), syirkah (perkongsian); ariyah (pinjam meminjam), hajru (penyitaan harta), syuf ’ah (hak langgeh), rahnu

(gadai);

1 Al Yasa’ Abubakar, Sekilas Syari’at Islam di Aceh. , (Banda Aceh: Dinas Syari’at Islam Provinsi Nanggroe Aceh. Darussalam), h. 6

(29)

Kekua-3. Yang dimaksud dengan kewenangan dalam bidang jinayat adalah hudud yang meliputi zina, menuduh berzina (qadhaf), mencuri, merampok, minuman keras dan NAPZA, murtad, pemberontakan (bughat); qishash/diat yang meliputi pembunuhan dan penganiayaan;

ta’zir yaitu hukuman yang dijatuhkan kepada orang yang melakukan pelanggaran syari’at selain hudud dan qishash/diat seperti judi, khalwat, meninggalkan shalat fardhu dan puasa Ramadhan.

Pelaksanaan Syariat Islam lainnya yang sangat spesifik di Provinsi

Aceh adalah pelaksanaan hukuman cambuk. Bagi mereka yang terbukti melanggar Qanun tentang judi, minuman keras, dan berduaan dengan pasangan lain jenis (bukan suami isteri) dikenakan hukuman cambuk. Semua itu telah diatur dalam Qanun Nomor 12 Tahun 2003, Qanun Nomor 13 Tahun 2003, Qanun Nomor 14 Tahun 2003, dan Qanun Nomor 7 Tahun 2004. Hukum Pidana Materiil, yang dalam sistem hukum termasuk dalam elemen substansi hukum, adalah berkaitan dengan peraturan dan norma yang ada. Secara nasional peraturan yang memuat perbuatan pidana yang diancam dengan sanksi dimuat dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Penerapan Hukum (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana/KUHP) dan peraturan pidana lainnya di luar KUHP, Hukum materiil yang akan digunakan dalam menyelesaikan perkara dalam bidang jinayah adalah yang bersumber dari atau sesuai dengan Syari’at Islam yang akan diatur dengan Qanun.

Dalam Qanun ketentuan pidana terhadap perbuatan pidana disebut dengan ketentuan uqubah/uqubat. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh menegaskan bahwa Syari’at Islam yang dilaksanakan di Aceh meliputi aqidah, syari’ah dan akhlak (Pasal 125 ayat (1). Syariat Islam tersebut meliputi ibadah, ahwalal-syakhshiyah (hukum keluarga), muamalah (hukum perdata), jinayah (hukum pidana), qadha’ (peradilan), tarbiyah (pendidikan), dakwah, syiar, dan pembelaan Islam. Ketentuan mengenai pelaksanaan Syariat Islam diatur dengan Qanun. Adapun yang dimaksud dengan Qanun, dalam Pasal 1 angka 8 UU No. 18 Tahun 2001, dikatakan bahwa Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam adalah Peraturan Daerah sebagai pelaksanaan undang-undang di wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dalam rangka penyelenggaraan otonomi khusus. Jadi, Qanun adalah peraturan daerah provinsi yang mengatur penyelenggaraan pemerintahan dan kehidupan masyarakat Aceh. Qanun dapat mengenyampingkan peraturan perundang-undangan yang lain dengan mengikuti asas lex specialis derogaat legegeneralis dan MA berwenang melakukan uji materil terhadap Qanun.3

(30)

Dalam Qanun Nomor 11 Tahun 2002 disebutkan beberapa perbuatan yang dapat dikenakan sanksi, antara lain yaitu:

1. menyebarkan paham atau aliran sesat;

2. keluar dari aqidah Islam dan/atau menghina atau melecehkan agama Islam;

3. tidak melaksanakan shalat jum’at tiga kali berturut-turut tanpa uzur syar’i;

4. makan atau minum (oleh orang yang wajib puasa) di tempat/di depan umum pada siang hari bulan Ramadhan; dan tidak berbusana islami.

Sedangkan empat Qanun Provinsi NAD lainnya menyangkut perbuatan pidana mengenai:

a. larangan mengkonsumsi minuman khamar dan sejenisnya (Qanun No. 12 Tahun 2003);

b. larangan melakukan perbuatan maisir (perjudian) (Qanun No. 13 Tahun 2003);

c. larangan melakukan khalwat (mesum) (Qanun No. 14 Tahun 2003); dan tidak membayar zakat atau tidak membayar zakat menurut sebenarnya (Qanun No. 7 Tahun 2004).

Jika diperhatikan perbuatan pidana dalam Qanun No. 11 Tahun 2002 yang menyangkut aqidah, ibadah dan syiar Islam dan Qanun No. 7 Tahun 2004 merupakan hal yang bersifat pribadi, termasuk dalam perbuatan yang diwajibkan/dilarang dalam agama Islam. Sedangkan tiga perbuatan lainnya yang telah dimuat dalam Qanun merupakan perbuatan pidana yang telah dimuat dalam KUHP.

Mahkamah Syar’iyah selain melaksanakan tugas dan kewenangan yang diatur dengan Qanun Provinsi Aceh Nomor 10 tahun 2002 tentang Peradilan Syariat Islam juga melaksanakan Tugas Pokok dan kewenangan Peradilan Agama. Berdasarkan pasal 49 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 Jo. Undang-undang Nomor 3 tahun 2006 Jo. Undang-undang No 50 tahun 2009 tentang Peradilan Agama, tugas pokok dan kewenangan Peradilan Agama adalah menerima, memeriksa, mengadili, dan menyelesaikan perkara yang diajukan kepadanya diantara orang yang beragama Islam dibidang: perkawinan, kewarisan, wasiat, hibbah, wakaf, Imfaq, Shadaqah dan ekono-mi Syariat.4

Disamping tugas pokok sebagaimana tersebut di atas, Pengadilan Agama atau Mahkamah Syar’iyah juga mempunyai tugas-tugas lain yaitu bertugas memberikan istbat kesaksian rukyah hilal dalam penentuan awal

4 A. Hamid Sarong dan Hasnul Arifin Melayu, Mahkamah. Syar`iyah Aceh :

(31)

bulan pada rahun Hijriyah (Pasal 52A Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006). Kewenangan Mahkamah Syar’iyah diatur dalam Qanun Provinsi Aceh No-mor 10 Tahun 2002 tentang Peradilan Syariat Islam Pasal 49 yaitu: Mah-kamah Syar’iyah bertugas dan berwenang memeriksa, memutuskan, dan menyelesaikan perkara-perkara pada tingkat pertama dalam bidang: aḥwal

al-syakhshiyah; muʻāmalah; dan jināyah. Dalam Pasal 50 dijelaskan (1) Mahkamah Syar’iyah Provinsi bertugas dan berwenang memeriksa dan me-mutuskan perkara yang menjadi kewenangan Mahkamah Syar’iyah dalam tingkat banding. (2) Mahkamah Syar’iyah Provinsi juga bertugas dan berwe-nang mengadili dalam tingkat pertama dan terakhir sengketa keweberwe-nangan an-tar Mahkamah Syar’iyah di Nanggroe Aceh Darussalam.5

Peradilan Syariat Islam di Provinsi Aceh adalah merupakan peradilan khusus dalam lingkungan Peradilan Agama sepanjang kewenangannya me-nyangkut kewenangan peradilan Agama, pasal 15 ayat (2) Undang-undang Nomor 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Kewenangan Mahka-mah Syar’iyah di Provinsi Aceh lebih luas dibanding kewenangan Peradilan Agama di Provinsi lain pada umumnya dan mempunyai wewenang dalam menyelesaikan perkara jināyah. Dalam pasal 51 Qanun Provinsi Aceh

No-mor 10 Tahun 2002 tentang Peradilan Syariat Islam dijelaskan ”Selain tugas

dan kewenangan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 49 dan Pasal 50,

Mahkamah dapat diserahi tugas dan kewenangan lain yang diatur dengan Qanun”.

Kendatipun tugas dan kewenangan Mahkamah Syar’iyah telah ber-tambah, namun masih dalam batas tertentu sesuai dengan yang diatur dalam Qanun Provinsi Aceh, untuk saat ini perkara jinayat yang telah diberlakukan di Mahkamah Syar’iyah dalam Provinsi Aceh adalah: a). Tentang Pelaksa-naan Syari`at Islam (Qanun Prov. Aceh. No. 11 Tahun 2002). b). Tentang Minuman Khamar dan sejenisnya (Qanun Prov. Aceh. No. 12 Tahun 2003); c). Tentang Maisir atau penjudian (Qanun Prov. Aceh. No. 13 Tahun 2003); d). Tentang Khalwat atau Mesum (Qanun Prov. Aceh. No. 14 Tahun 2003); e). Tentang Pelaksanaan Zakat (Qanun Prov. Aceh. No. 7 Tahun 2004).6

Kewenangan tersebut terus bertambah seiring dengan lahirnya Qa-nun-qanun baru tentang kewenangan Mahkamah Syar’iyah. Namun demikian Syari`at Islam yang dilaksanakan oleh Mahkamah Syar’iyah sebagai peradi-lan Syari`at Islam, tetap dibatasi yakni harus dalam bingkai hukum nasional, sekalipun dalam penjelasan Undang-undang Nomor 18 tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus Daerah Aceh dinyatakan bahwa qanun daerah dapat

menge-5 A. Hamid Sarong dan Hasnul Arifin Melayu, Mahkamah. Syar`iyah. …, h. 123.

(32)

nyampingkan peraturan perundang-undangan.7

B. Profil Mahkamah Syar’iyah Langsa

Gedung Mahkamah Syar’iyah Langsa beralamat di Jln. Prof. A. Majid Ibrahim Gampong Matang Seulimeng Kecamatan Langsa Barat, Kota Langsa. Sementara Gedung Mahkamah Syar’iyah Langsa yang baru dengan konstruksi bangunan masih dalam pengerjaan, beralamat di Jln. TM. Bahrum Gampong Paya Bujok Teungoh Kecamatan Langsa Barat Kota

Langsa. Letak Astronomis Gedung Kantor 04° 24’ 35,68’’ – 04° 33’ 47,03”

Lintang Utara dan 97° 53’ 14,59’’ – 98° 04’ 42,16’’ Bujur Timur.8

Mayoritas penduduk Kota Langsa adalah suku Aceh, selain itu juga ada suku Tionghoa, suku Melayu, suku Batak, dan suku Jawa. Bahasa yang digunakan oleh mayoritas masyarakat adalah bahasa Aceh, di samping itu juga digunakan bahasa Indonesia tetapi sebagai bahasa bisnis, sekolah, pemerintah, universitas, dan kantor. Bahasa Melayu juga digunakan dalam percakapan sehari-hari, tetapi hanya oleh sebagian masyarakat saja, karena penggunaan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia hanya sedikit berbeda antara kata dan maknanya.

Visi Mahkamah Syar’iyah Langsa adalah“Terwujudnya Badan Peradilan Yang Agung”. Sementara misinya adalah:

1. Menjaga Kemandirian Badan Peradilan;

2. Memberikan Pelayanan Hukum Yang Berkeadilan Kepada Pencari Keadilan;

3. Meningkatkan Kualitas Kepemimpinan Badan Peradilan; 4. Meningkatkan Kredibilitas dan Transparansi Badan Peradilan; 5. Tupoksi. 9

Mahkamah Syar’iyah Langsa sebagai salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi yang beragama Islam mengenai perkara tertentu yang melaksanakan tugasnya terlepas dari pengaruh pemerintah dan pengaruh luar lainnya.Mahkamah Syar’iyah Langsa bertugas dan berwenang memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara di tingkat pertama sebagaimana tertuang dalam Pasal 49 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 Tentang Peradilan Agama menyebutkan bahwa Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara antara orang-orang yang beragama Islam di bidang:

(a) Perkawinan, (b) Kewarisan,

7 Lihat Penjelasan Undang-undang Republik Indonesia No. 18 tahun 2001 Ten-tang Otonomi Kh. usus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh Sebagai Provinsi Nang-groe Aceh Darussalam.

8 Profil Mahkamah Syar`iyah Langsa tahun 2014.

(33)

(c) Wasiat, (d) Hibah, (e) Wakaf, (f) Zakat, (g) Infaq,

(h) Shadaqah dan (i) Ekonomi Syari’ah.

Kekuasaan sebuah pengadilan mencakup kekuasaan relatif dan ke-kuasaan absolut. Keke-kuasaan relatif diartikan sebagai keke-kuasaan pengadilan yang satu jenis dan satu tingkatan dalam perbedaannya dengan kekuasaan pengadilan yang sama jenis dan sama tingkatan pula. Kekuasaan relatif juga lebih dikenal dengan wilayah hukumnya (distributie van rechtsmacht). Hal ini diatur secara umum dalam pasal 142 R.Bg/118 HIR.

Mahkamah Syar’iyah Langsa adalah Mahkamah/Pengadilan yang berwenang menerima, memeriksa dan memutus perkara tingkat pertama dan bertugas membina keseragaman dalam penerapan hukum melalui putusan untuk menjaga agar semua hukum dan undang-undang pada seluruh hakim Mahkamah Syar’iyah Langsa diterapkan secara adil, tepat dan benar.

Mahkamah Syar’iyah Langsa melakukan pengawasan agar Mahka-mah/peradilan yang dilakukan diselenggarakan dengan seksama dan wajar dengan berpedoman pada asas peradilan yang sederhara, cepat, dan biaya rin-gan tanpa mengurangi kebebasan dalam memeriksa dan memutus perkara.

Wewenangnya mengatur tugas dan tanggung jawab serta susunan or-ganisasi dan tata kerja di Mahkamah Syar’iyah Langsa agar dapat melaksana-kan tugasnya secara berdayaguna dan berhasilguna, membina dan melakumelaksana-kan pengawasan atas penyelenggaraan urusan kepegawaian, keuangan, peralatan dan kelengkapan serta urusan ketatausahaan lainnya yang ditentukan Ketua Mahkamah Syar’iyah Langsa.Mahkamah Syar’iyah Langsa juga mempunyai wewenang untuk memberi nasihat-nasihat atau pertimbangan-pertimbangan dalam bidang hukum kepada Pemerintah Kota Langsa.10

Mengenai dengan struktur Mahkamah Syar’iyah Langsa bisa dilihat di bawah ini:

(34)

Struktur dalam bentuk tabel juga bisa dilihat di bawah ini:

Nama Jabatan

Drs.H.Zulkarnain Lubis, M.H Ketua

Drs.Ahmad Sobardi, S.H., M.M Wakil Ketua

Drs.H.Ilyas Amin Hakim

Dra.Hj.Nur Ismi Hakim

Azwida, S.H.I Hakim

Sarifuddin, S.H.I Hakim

Salamat Nasution, S.H.I., M.A Hakim

H.Abu Jahid Darso Atmojo.,

LC.LL.M.,Ph.D Hakim

Muhammad Azhar Hasibuan, S.H.I.,

M.A Hakim

Nawawi, S.H., M.H Panitera/Sekretaris

Khalidah, S.Ag Wakil Panitra

Drs. Anwar Fuadi Wakil Sekretaris

(35)

A. Rahman Panitra Muda Permohonan

Rasyadi, SH Panitra Muda Hukum

Yarvis Luthfi.SH Kaur.Umum

Ilyas, S.Ag, MH Kaur.Keuangan

Laely Nur Hidayah, SHI Kaur. Kepegawaian

Sumber data: Profil Mahkamah Syar`iyah Langsa tahun 2014.

C. Tuntutan dan Putusan

Mahkamah Syar`iyah Langsa yang memeriksa dan mengadili perkara Jinayat pada tingkat pertama dengan acara pemeriksaan biasa dalam persidangan, Majelis Hakim menjatuhkan putusan terhadap terdakwa perkara pidana tentang khalwat (mesum).

Adapun para pihak dalam kasus khalwat (mesum) perkara yang ditangani oleh Mahkamah Syar`iyah Langsa, nomor perkara 20/JN/2012/ MS-Lgs adalah Buyung Sudrajad bin Lukman, Tempat lahir Padang, Umur/ tanggal lahir 21 Tahun / 19 Januari 1991, Jenis kelamin laki-laki, Agama Islam, Pendidikan SD tidak tamat, Kebangsaan Indonesia, Pekerjaan Pengamen Jalanan, Tempat tinggal Dusun Lubuk Damar Gampong Sawah Desa Seruuway Kabupatan Aceh Tamiang, sebagai terdakwa I.

Selanjutnya pihak ke dua nama lengkap Nadira binti Muslem M Nur, Tempat lahir Kuala Simpang, Umur/ tanggal lahir 20 Tahun /31 Januari 1992, Jenis kelamin Perempuan, Agama Islam, Pendidikan SMA, Kebangsaan Indonesia, Pekerjaan Pengamen Jalanan, Tempat tinggal : Gampong Blang Kecamatan Langsa Kota-Kota Langsa, sebagai terdakwa II.

(36)

1. Menyatakan mereka terdakwa I Buyung Sudrajat bin Lukman dan terdakwa II Nadira binti Muslem M Nur terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan perbuatan khalwat/mesum yang hukumnya haram sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 4 Jo Pasal 22 ayat (1) Qanun Np. 14 Tahun 2003 tentang Khalwat (Mesum).

2. Menjatuhkan pidana terhadap mereka terdakwa I Buyung Suderajat bin Lukman dan terdakwa II Nadira binti Muslem M Nur dengan Uqubat Cambuk masing-masingsebanyak 6 (enam) kali di muka umum.

3. Menyatakan barang bukti berupa 1 (satu) buah celana dalam warna hitam dan 1 (satu) buah celana dalam warna merah jambu dikembalikan kepada mereka terdakwa.

4. Menetapkan mereka terdakwa I Buyung Suderajat bin Lukman dan terdakwa II Nadira binti Muslem M Nur membayar biaya masing-masing sebesar Rp. 2.000,- (dua ribu rupiah).

Berdasarkan dakwaan Jaksa Penuntut Umum, terdakwa I dan terdakwa IImelakukan perbuatan khalwat/mesum dengan cara sebagai berikut:

1. Bahwa antara mereka terdakwa telah terjalin hubungan asmara selama lebih kurang I (satu) tahun dan mereka terdakwa mempunyai pekerjaan sebagai pengamen jalanan (anak punk) yang hidup di jalanan Kota Langsa.

2. Bahwa bermula pada hari Senin tanggal 02 April 2012 sekira pukul 22.00 Wib bertempat di pinggir jalan di depan Pendopo Bupati Aceh Timur di jalan Darussalam Kota Langsa, mereka terdakwa duduk-duduk dengan anak-anak punk lainnya selesai mengamen di seputaran kota Langsa dan kemudian sambil melepas lelah mereka terdakwa bersama-sama dengan anak-anak punk lainnya meminum minuman keras jenis Stepmension dan kemudian sekira pukul 00.00 Wib, dikarenakan hari telah larut malam kemudian satu persatu anak-anak punk membubarkan diri.

3. Bahwa kemudian dikarenakan masih terpengaruh minuman keras dan diantara mereka terdakwa memang terjalin hubungan asmara dan telah sering melakukan hubungan layaknya suami istri kemudian terdakwa I Buyung Suderajat bin Lukman mengajak terdakwa II Nadira binti Muslem M Nur untuk melakukan hubungan layaknya suami istri dan atas ajakan tersebut, terdakwa II Nadira binti Muslem M Nur langsung menyetujuinya.

Referensi

Dokumen terkait

UU Telekomunikasi tidak mengatur secara jelas tentang subjek hukum pidana sehingga dari pasal terebut dapat dijabarkan unsur- unsurnya “barang siapa” yang mengadung arti

Salah satu ciri siswa yang bangga berbangsa dan bertanah air Indonesia dalam kehidupan sehari-hari adalah .... bergaul dengan siapa saja

Semakin banyaknya pihak yang terlibat dalam konflik yang terjadi Suriah menyulitkan untuk mengetahui siapa teman dan siapa musuh. Ada banyak kelompok pemberontak, jihadis dan

Yang menanam jagung itu bisa siapa saja yang mau tidak hanya petani tanam jagung saja bahkan anak – anak di rumah juga bisa menananm jagung.. Teosinte dipercaya sebagai nenek

Jenis usaha yang akan dikembangkan adalah usaha produksi abon pepaya tanpa bahan pengawet, sehingga aman untuk dikonsumsi siapa saja, dengan bahan dasar yaitu pepaya yang

Sedangkan Pajak Bumi dan Bangunan, objeknya tidak hanya ditujukan terhadap permukaan bumi yang meliputi tanah dan perairan pedalaman saja, tetapi mencakup juga

Yang dimaksud barangsiapa disini adalah siapa saja baik orang maupun Badan Hukum sebagai subjek hukum penyandang hak dan kewajiban yang kepadanya dapat dipertanggungjawabkan

Tidak bisa dinafikan bahwa ayat di atas melegalkan budaya perbedaan dan menuntut untuk terwujudnya kerukunan umat beragama ayang berbeda dalam setiap waktunya. Maka siapa saja yang