• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Nusyuzd dalam Kompilasi Hukum Islam

Dalam dokumen Jurnal Al Mizan Tahun 2015 (Halaman 91-94)

1. Formulasi Konsep relasi suami dan isteri dalam KHI

Buku kompilasi hukum Islam merupakan buku pedoman yang diperuntukkan untuk instansi dan masyarakat dalam menyelesaikan hukum perkawinan, perwakafan dan kewarisan, maka isi buku Kompilasi Hukum Islam hanya terbatas pada tiga masalah di atas. Adapun masalah Nusyuzd,disebutkan dalam hukum perkawinan pada bagian ketiga tentang kewajiban suami dan bagian keenam tentang kewajiban isteri. Istilah Nusyuzd dalam buku kompilasi hukum Islam disebut di beberapa tempat yaitu : (1), Pasal 80 ayat 7, Bagian Ketiga, Kewajiban Suami. (2), Pasal 84, ayat 1, 2,3,4,Bagian keenam, Kewajiban Isteri.

Konsep relasi suami -isteri dalam kompilasi hukum Islam, sebenarnya sangat jelas, pasal-pasalnya sangat jelas, tidak ada hal yang harus dipertentangkan. Para perumus telah memikirkan kerugian-kerugian wanita seandainya KHI masih mengandung pasal-pasal yang bisa menjadi bias munculnya ketidak adilan jender. Tetapi dalam konteks Nusyuzd . Kompilasi Hukum Islam belum memuat masalah tindakan Nusyuzd yang dilakukan oleh suami. Inilah yang menurut penulis, belum nampak semangat equality antara isteri dan suami dalam rumusan Nusyuzdyang terdapat dalam Kompilasi hukum Islam. Bukan karena ada pasal yang merugikan isteri, tetapi karena tidak ada pasal tentang Nusyuzd yang dapat mengendalikan suami dari tindakan Nusyuzd.

Di bawah ini Berikut ini dapat dilihat beberapa hal yang terdapat dalam KHI sebagai bukti bahwa perhatian terhadap relasi suami dan isteri dalam rumah tangga telah kuat dalam Kompilasi Hukum Islam.

a. Pasal 77 ayat (1) ; Terwujudnya cita-cita sakinah, mawaddah dan rahmah menjadi kewajiban tanggung jawab bersama.

b. Pasal 77 ayat (3);Penghapusan diskriminasi katagoris atas pemeliharaan dan pendidikan anak dengan asa tanggung jawab bersama.

c. Pasal 77 ayat (5) ; Menghapuskan diskriminasi normatif dalam pelaksanaan

37 Al-Kharsy ala Mukhtashar saydi al-Khalil al-Maliki, Syarah Mukhtashar

hak dan kewajiban berdasarkan asas persamaan hak.

- Suami atau isteri mempunyai hak yang sama untuk mengajukan gugat

ke PA atas tindakan “kelalaian” (negligence) “ penolakan” (refuse)

atau “ ketidakmampuan” (failure) melaksanakan kewajiban

- Sama-sama berhak secara musyawarah menentukan tempat kediaman d. Pasal 79 ayat (3)Sama-sama berhak melaksanakan perbuatan hukum e. Menyeimbangkan harkat derajat suami isteri secara “fungsional” berdasar

atas kodrat alamiah dan biologis dalam acuan. - Suami sebagai kepala Keluarga

- Isteri sebagai Ibu rumah Tangga

f. Mempunyai hak dan derajat yang sama dalam kehidupan masyarakat dalam acuan,

- Sama-sama bebas aktif dalam kehidupan bermasyarakat, - Sama berhak mengembangkan profesi dan karier

2. Tindakan -tindakan isteri yang dianggap “Nusyuzd” menurut KHI. Dalam pasal 84 ayat (1), Bagian Keenam tentang kewajiban isteri disebutkan: isteri dapat dianggap Nusyuzd jika ia tidak mau melaksanakan kewajiban-kewajiban sebagaimana dimaksud dalam pasal 83 ayat (1) kecuali dengan alasan yang sah. Sedangkan Pasal 83 ayat (1) disebutkan: kewajiban utama bagi seorang isteri ialah berbakti lahir dan batin kepada suami di dalam batas-batas yang dibenarkan oleh hukum Islam.

Selanjutnya dalam pasal 84 ayat (4), disebutkan: ketentuan tentang ada atau tidak adanya Nusyuzd dari isteri harus didasarkan atas bukti yang sah.

Dari pasal-pasal yang membahas mengenai Nusyuzd belum ada istilah Nusyuzd yang dipakai untuk tindakan yang dilakukan oleh suami. Maka menurut penulis, formulasi Nusyuzd dalam Buku kompilasi hukum Islam masih menganut women oriented.

Berkaitan dengan buku KIH (kompilasi Hukum Islam ). Buku ini,

bukan merupakan karya yang sudah final, tetapi masih merupakan langkah

awal. Oleh karena itu, sangat dimaklumi KHI masih banyak kekurangan dan kelemahannyayang masih membutuhkan masukan. Bahkan beberapa orang yang terlibat langsung dalam perumusan KHI., tetap menyatakannnya sebagai langkah awal, seperti Prof. Dr. Muslim Ibrahim yang menyatakan,“adanya

pasal seludupan dalam KHI”.38 Senada dengan itu juga dikemukan oleh Yahya Harahap, salah seorang peserta yang juga terlibat langsung dalam proses

38 Pernyataan ini penulis dengar ketika mengikuti kuliah bersama Prof. Muslim Ibrahim tahun 2013, di kelas Program Doktor Fiqh Modern, Pps UIN Ar-Raniry, hari Jum’at setelah ashar.. Pasal seludupan yang disebutkan oleh Prof. Muslem Ibrahim, bu-

perumusan KHI. Beliau menyatakan bahwa KHI dengan serba kekurangan dan ketidaksempurnaan merupakan langkah awal, karena pengkaji dan perumusnya adalah manusia, maka mesti dijadikan sebagai warisan generasi sekarang untuk ditingkatkan.39

E. Penutup

Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya, maka penulis menyimpulkan 2 (dua) hal: Pertama, Konsep Nusyuzd yang terdapat dalam Nash (Al-Quran dan Hadist) memiliki keseimbangan, dimana istilah Nusyuzd bukan hanya dipakai untuk tindakan isteri, tetapi juga disebutkan sebagai nama bagi tindakan dari pihak suami.Adapun konsep Nusyuzd dalam

kitab fikih masih terkesan bahwa tidak ada Nusyuzd dari pihak suami, karena sangat terbatas pembahasannya dan amat sedikit contoh-contoh tindakan suami yang dapat dinyatakan Nusyuzdbahkan jarang diberikan identifikasi. Sedangkan dalam Buku KHI (Kompilasi Hukum Islam) tidak ada pasal yang menerangkan tentang Nusyuzd dari pihak suami, Nusyuzd dalam Kompilasi Hukum Islam identik dengan tindakan isteri semata. Kedua, sekarang ini, perlu memperluas konsep Nusyuzd, agar konsep Nusyuzd tidak terkesan timpang dan tidak berimbang. Disamping itu juga mebutuhkan gagasan baru untuk formulasi konsep baru tentang pelanggaran yang dilakukan suami terhadap kewajiban-kewajibannya. Misalnya kalau suami tidak melakukan tanggung jawabnya, apa yang bisa dilakukan oleh wanita sebelum perkara disampaikan ke pengadilan. Apakah isteri boleh menghentikan khidmatnya untuk suami. Apakah isteri dapat dikatakan Nusyuzd kalau tidak memberikan hak suami karena membalas kewajiban suami yang tidak dituntaskan. Semua ini merupakan persoalan yang masih membutuhkan jawaban dan penjelasan yang lebih konkrit.

Akhirnya kepada semua pembaca, penulis mengharapkan kritikan dan masukan demi kesempurnaan tulisan ini.

Wallahu a’lam bis Shawab.

39 Yahya Harahap, Kedudukan Kewenangan Dan Acara Peradailan Agama, UU

DAFTAR RUJUKAN

Dalam dokumen Jurnal Al Mizan Tahun 2015 (Halaman 91-94)