PERUMUSAN HARTA BERSAMA
C. Perumusan Harta Bersama Menurut Undang-undang
Undang-Undang Perkawinan No.1 Tahun 1974 mendefinisikan harta
bersama adalah harta yang diperoleh selama perkawinan. Ini berarti bahwa terbentuknya harta bersama dalam perkawinan ialah sejak tanggal terjadinya perkawinan sampai perkawinan tersebut putus karena perceraian atau karena mati. Berbeda dengan harta bawaan masing-masing suami atau isteri dan harta yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan yang disebut dengan harta pribadi yang sepenuhnya berada di bawah penguasaan masing- masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain. 28
Di dalam pasal 35 Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 maupun dalam pasal 86 ayat 1 Undang-Undang No. 7 Tahun 1985 maupun pasal 85 KHI, terhadap harta suami istri yang berada dalam masa ikatan
perkawinan telah diberi nama “Harta bersama”. Dalam masyarakat Aceh dikenal dengan “Harta seharkat”. Dalam masyarakat Melayu dikenal dengan nama ”Harta serikat”. Dan dalam masyarakat Jawa-Madura dikenal dengan “Harta gono-gini”.
Sampai sekarang penggunaan nama-nama tersebut masih mewarnai praktek peradilan.29
Sejak perkawinan dimulai, dengan sendirinya terjadi suatu percampuran antara kekayaan suami dan kekayaan istri. Hal ini merupakan ketentuan umum apabila tidak diadakan perjanjian apa-apa. Keadaan demikian berlangsung seterusnya dan tidak dapat diubah lagi selama perkawinan berlangsung. Jika seseorang ingin menyimpang dari ketentuan tersebut maka ia harus melakukan perjanjian perkawinan.Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan Vollmar bahwa akibat-akibat perkawinan terhadap kekayaan dan penghasilan suami-istri tergantung dari ada atau tidak adanya perjanjian perkawinan.30
Tentang harta bersama ini, suami atau istri dapat bertindak untuk berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu atas harta bersama tersebut melalui persetujuan kedua belah pihak. Semua harta yang diperoleh suami istri selama
27 Ismuha, Pencaharian Bersama Suami Isteri Ditinjau dari Sudut Undang-un-
dang..., h. 280
28 Bahder Johan Nasution dan Sri Warjayati, Hukum Perdata Islam:Kompetensi
Peradilan Agama Tentang Perkawinan, Waris, Wasiat, Hibah, Waqaf, dan Shadaqah,
(Bandung: Mandar Maju, 1997), h. 33
29 M. Yahya Harahap, Kedudukan Kewenangan dan Acara Peradilan Agama, h. 272
dalam ikatan perkawinan menjadi harta bersama baik harta tersebut diperoleh secara tersendiri maupun diperoleh secara bersama-sama. Demikian juga harta yang dibeli selama ikatan perkawinan berlangsung adalah menjadi harta bersama. Tidak menjadi suatu permasalahan apakah istri atau suami yang membeli, tidak menjadi masalah juga apakah istri atau suami mengetahui pada saat pembelian itu atau atas nama siapa harta itu harus didaftarkan.31
Dalam hukum perkawinan Islam istri mempunyai hak nafkah yang wajib dipenuhi oleh suami. Harta yang menjadi hak istri dalam perkawinan tersebut adalah nafkah yang diperoleh dari suami untuk keperluan hidupnya. Namun apabila keperluan rumah tangga diperoleh karena usaha bersama antara suami istri, maka dengan sendirinya harta tersebut menjadi harta bersama. Besar atau kecilnya harta yang menjadi bagian masing-masing tergantung pada banyak atau sedikitnya usaha yang mereka lakukan dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga. Apabila usahanya sama-sama besar maka harta yang dimiliki dari perolehan tersebut seimbang. Akan tetapi apabila suami lebih besar usahanya daripada istri maka hak suami harus lebih besar daripada istri, begitu juga sebaliknya. Disamping berlakunya ketentuan umum di atas dapat pula dimungkinkan adanya percampuran harta kekayaan yang diperoleh suami istri dalam bentuk suatu perjanjian atas usaha suami istri dengan cara suami dan dengan cara bersama.32
Dasar hukum tentang harta bersama dapat ditelusuri melalui Undang- Undang dan peraturan berikut:
a. Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 pasal 35 ayat (1), disebutkan bahwa yang dimaksud dengan harta bersama adalah “Harta
benda yang diperoleh selama masa perkawinan”. Artinya, harta kekayaan yang diperoleh sebelum terjadinya perkawinan tidak disebut sebagai harta bersama.
b. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata pasal 119, disebutkan bahwa “Sejak saat dilangsungkannya perkawinan, maka menurut hukum terjadi harta bersama antara suami istri, sejauh tentang hal itu tidak diadakan ketentuan-ketentuan lain dalam perjanjian perkawinan. Harta bersama itu, selama perkawinan berjalan, tidak boleh
ditiadakan atau diubah dengan suatu persetujuan antara suami istri”.
c. Kompilasi Hukum Islam pasal 85, disebutkan bahwa “Adanya harta bersama di dalam perkawinan itu tidak menutup kemungkinan
adanya harta milik masing-masing suami istri”. Di dalam pasal ini disebutkan adanya harta bersama dalam perkawinan, akan tetapi tidak
31 Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2006),h. 109
32 Umar Said, Hukum Islam di Indonesia Tentang Perkawinan,(Surabaya: Ce- mpaka, 2000),h. 163
menutup kemungkinan adanya harta milik masing-masing suami-istri. Jadi, dalam Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974, masalah harta bersama hanya diatur secara singkat dan umum dalam Bab VII terdiri dari pasal 35 sampai pasal 37. Kemudian diperjelas oleh Kompilasi Hukum Islam dalam Bab XIII mulai dari pasal 85 sampai pasal 97.
D. Penutup
Perumusan harta bersama dalam fiqh dapat diketahui lewat
penganalogian ke dalamsyirkah amlāk. Hal ini didasari atas beberapa alasan, pertama adalah bentuk perserikatannya yang tidak dengan melalui akad. Kedua ketika ada keinginan untuk membagi harta perserikatan, maka dibagi rata antara orang yang berserikat. Selain itu, tidak adanya modal dalam penggabungan harta yang akan dibagi.
Menurut hukum perkawinan Indonesia, bahwa harta yang dihasilkan selama perkawinan menjadi harta bersama suami istri. Undang-undang perkawinan juga tidak memberikan penjelasan konkrit mengenai pembagian harta bersama jika perkawinan putus, baik karena cerai talak, cerai gugat atau salah satu meninggal. Dalam hal perkawinan putus karena perceraian hanya ditentukan bahwa harta bersama diatur menurut hukumnya masing- masing. Sedangkan yang dimaksud dengan hukumnya masing-masing itu dalam penjelasannya adalah hukum agama, hukum adat, dan hukum-hukum lainnya. Artinya hukum mana saja yang berlaku adalah sesuai dengan kesepakatan pihak-pihak yang bersangkutan. Hal ini mengingat bahwa di Indonesia terdapat berbagai sistem kekeluargaan yang sangat berpengaruh terhadap kepemilikan harta bersama.
DAFTAR PUSTAKA
A. Hamid Sarong, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, Cet. 3, Banda Aceh: yayasan Pena, 2010.
Abd ar-Rahman al-Jazari, Fiqh Madzahibul Arba’ah, Jld.III, Bairut: Darul Fikr, 1999.
Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia, Ja- karta: Kencana, 2006.
Ahmad Ichsan, Hukum perkawinan bagi yang beragama Islam, suatu tinjauan dan ulasan secara Sosiologi Hukum, cet. 1, Jakarta: Pra- mida Paramita, 1986.
F.A. Vollmar, Pengantar Studi Hukum Perdata, Jakarta: Rajawali, 1992. Happy Susanto, Pembagian Harta Gono-Gini Setelah Terjadinya Per-
ceraian, Jakarta: Visimedia, 2008.
Rusdy, Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muktashad, Terj. Imam Ghaza- li Said, Ahmad Zaidun, Jld.II, Cet. 3, Jakarta: Pustaka Amani, 2007.
Ismuha, Pencaharian Bersama Suami Isteri Ditinjau dari Sudut Un-
dang-undang Perkawinan Tahun 1974 dan Hukum Islam, Jakar- ta: Bulan Bintang, 1986
K. Watjik Saleh, Hukum Perkawinan Indonesia, Cet. VII, Jakarta: Ghalia Indonesia, 2000
Muhammad Abu Zahrah. Usul Fiqh. Terj. Saefullah, Cet 10, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2007
Muhammad Khatib Syarbaini, Iqna’ fi Hilli Alfa̅dhi Abi̅ Syuja̅’, Juz. II, Indonesia: Maktabah Toha Putra, t.t
Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, Jld.III, Bairut: Al-Asriyah, 2011
Subekti, Pokok-pokok Hukum Perdata, cet. ke-26, Jakarta: Intermasa, 1994
Umar Said, Hukum Islam di Indonesia Tentang Perkawinan,Surabaya: Cempaka, 2000.
Wahbah al-Zuhailiy, al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu, Jld. III, Dimsyiq: Dark al-Fikr, 1989.
Yahya Harahap, Kedudukan Kewenangan Dan Acara Peradilan Ag-
ama UU. No. 7 Tahun 1989, Cet. V, Jakarta: Sinar Grafika
AKIBAT HUKUM PEMBATALAN PERKAWINAN DI INDONESIA