• Tidak ada hasil yang ditemukan

Landasan dan Tujuan Berumah Tangga Dalam Islam

Dalam dokumen Jurnal Al Mizan Tahun 2015 (Halaman 50-54)

Muhammad Haikal, M H

A. Landasan dan Tujuan Berumah Tangga Dalam Islam

Islam sebagai Agama yang terakhir telah membawa dunia menuju revolusi besar dalam berbagai aspek kehidupan. Di antara revolusi terbesarnya adalah tentang landasan dan aturan-aturan dalam hubungan antara manusia dengan manusia. Landasan dan aturan ini diramu sedemikian rupa sehingga orang yang patuh pada aturan yang di buat itu akan menemukan suatu kebahagiaan dan kedamaian.

Allah menetapkan pernikahan sebagai hukum yang paling pokok di antara sunnah para Rasul adalah nikmat untuk hamba-Nya sejak Nabi Adam As. Allah juga telah mewariskan bumi ini kepada umat manusia untuk tinggal

dan berkembang biak di dalamnya. Allah berfirman dalam Surat ar-Ra’d ayat

38 yaitu:

) ۳۸ :دع رلا ( ... ًةَّيِّرُذَو اًجاَوْزَأ ْمَُله اَنْلَعَجَو َكِلْبَـق ْنِم ًلاُسُر اَنْلَسْرَأ ْدَقَلَو

Artinya: Dan Sesungguhnya Kami Telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. (QS.

al-Ra’d/13: 38).

Islam telah menata hidup pernikahan di dalam Alquran dan Hadis dengan sempurna, dan hal ini menjadi sebuah landasan dalam berumahtangga, karena melalui pernikahan manusia dapat saling mengisi, menjalin hubungan kekeluargaan dan meneruskan keturunan. Untuk itu, Allah menganjurkan kepada hamba-Nya untuk menyukai pernikahan, dan pernikahan merupakan sebuah nikmat agung yang dianugerahkan Allah kepada hamba-Nya. Hal ini

berdasarkan firman Allah dalam surat an-Nur ayat 32.

ْنِم ُهَّللا ُمِهِنْغُـي َءاَرَقُـف اوُنوُكَي ْنِإ ْمُكِئاَمِإَو ْمُكِداَبِع ْنِم َينِِلحاَّصلاَو ْمُكْنِم ىَماَيَْلأا اوُحِكْنَأَو

) ۳۲ :رونلا ( ٌميِلَع ٌعِساَو ُهَّللاَو ِهِلْضَف

Artinya: Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin

Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Nur/24: 32).

Tahap pembentukan keluarga dalam Islam itu dimulai ketika seorang lelaki merasa membutuhkan istri yang menyertai dalam hidupnya dan turut memikul beban serta bekerjasama dengannya untuk mewujudkan misi yang menjadi latar belakang diciptakannya. Ini berdasarkan Sabda Rasulullah Saw:

نمو ، جرفلل نصحاو رصبلل ضغا هنإف ، جوزتيلف ةءابلا مكنم عاطتسا نم بابشلا رشعم اي

.

1

)هيلع قفتم ( ءاجو هل موصلا نإف موصلاب هيلعف عطتسي لم

Artinya: Wahai para pemuda, barang siapa diantara kalian yang telah mampu serta berkeinginan untuk menikah, maka hendaklah ia menikah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan mata dan menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang tiada mampu, maka dia harus berpuasa, sebab puasa itu merupakan obat yang menghalangi nafsu (HR. Muttafaqun `Alih).

Tahap ini dipandang sebagai salah satu tahapan terpenting. Oleh karena itu, Islam tidak membiarkan manusia seorang diri, namun dibekali pula dengan petunjuk dan nasihat-nasihat, serta menuntun untuk mengikuti parameter dalam memilih istri. Sebagai imbangan ia juga meletakkan cara- cara dan patokan yang dijadikan pertimbangan bagi seorang wanita dalam mengukur kelayakan suaminya.

Oleh karena itu, penting untuk berhati-hati dalam memilih pasangan hidup. Sebab membangun rumahtangga bukanlah untuk kepentingan beberapa hari, beberapa bulan atau beberapa tahun saja, akan tetapi yang diharapkan agar kehidupan rumahtangga berlangsung hingga ajal datang menjemput. Dan diharapkan agar jangan tergesa-gesa dalam menetapkan seseorang sebagai calon istri atau suami, tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan dengan matang berdasarkan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan dalam syari’at Islam, karena “tergesa-gesa dalam menentukan pasangan hidup tanpa meneliti

terlebih dahulu, merupakan problem yang akan berakibat kepada bencana”.2 Islam menekankan perhatian di dalam masalah pasangan ini. Oleh karenanya, Islam menganjurkan bagi umat untuk meneliti calon pasangan terlebih dahulu dari berbagai segi, baik akhlak, agama, maupun perilaku kesehariannya.

Pertimbangan-pertimbangan lahiriah dan material yang mendasari penilaian terhadap seseorang yang hendak dipilih dan dijadikan istri atau suami adalah hal yang wajar dan lumrah saja. Oleh sebab itu agama tidak melarang sama sekali untuk hal tersebut. Dengan kata lain, agama pun memberikan kebolehan kepada kita untuk menikahi seorang karena kecantikan, harta dan Kebangsawanan, tetapi yang paling utama menurut agama adalah Aqidah, agama dan akhlak sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Saw:

الهالم :عبرلأ ةأرلما حكنت :لاق .ملس و هيلع للها ىلص ّبيّنلا نع هنع للها يضر ةريره بيأ نع

3

كادي تبرت نيّدلا تاذب رفظف اهنيدلو الهاملجو اهبسلحو

Artinya : Wanita dinikahi karena empat alasan karena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, karena agamanya. Maka pandanglah

2 Rusli Amin, Kunci Sukses Membangun Keluarga Idaman (Jakarta: Al- Mawardi Prima, 2003), h. 19

dari segi agamanya niscaya engkau akan beruntung. (HR. Bukhari).

Karena itulah, Allah dan Rasul telah memberi tuntunan kepada kita agar dalam memilih calon istri atau suami itu hendaklah memperhatikan atau mengutamakan agama dan akhlak, karena agama dan akhlak itu akan menjadi pengendali dan penuntun bagi seseorang. Rusli Amin dalam bukunya mengemukakan sebagai berikut:

Sesungguhnya agama merupakan hal yang sangat penting di dalam membina kehidupan berumah tangga. Sebab suami yang senantiasa taat kepada perintah agama dan menjauhi larangan agama, akan menjadi suami yang baik bagi istri dan dapat dipercaya. Begitu juga dengan seorang istri yang shalihah, dimana ia akan selalu menjaga kehormatannya, sangat besar perhatiannya terhadap rumah tangga, pendidikan anaknya serta menjaga hak suaminya. Karena agama merupakan penegah diantara dua kekuatan, yaitu amarah dan syahwat. Dengan agama, segala kejahatan serta kerusakan moral akan dapat terobati... Sesungguhnya agama merupakan sesuatu yang sangat berharga dalam kehidupan. Sebab suami atau istri yang baik agamanya, dapat membantu melaksanakan pendidikan terhadap anak-anaknya. Jika tidak, maka keduanya bisa mencelakakan kehidupan rumah tangga mereka sendiri...4

Dalam Islam pernikahan merupakan suatu `Aqad (perjanjian) yaitu serah terima antara orangtua calon mempelai wanita dengan calon mempelai pria. Penyerahan dan penerimaan tanggungjawab dalam arti yang luas, telah terjadi pada saat `Aqad nikah itu, disamping penghalalan bercampur keduanya

sebagai suami istri. Ini berdasarkan firman Allah dalam surat al-Nisa’ ayat 25.

)۲۵:ءاسنلا (… َّنِهِلْهَأ ِنْذِإِب َّنُهوُحِكْناَف ....

Artinya: “Karena itu nikahilah mereka dengan seizin tuan mereka” (QS. Al-

Nisa’/4: 25).

Adapun yang menjadi tujuan dari pernikahan sedikitnya ada 4 (empat) yaitu:5

1. Menenteramkan jiwa

Pernikahan merupakan hubungan jiwa dengan jiwa yang sangat erat, dimana keduanya akan mendapatkan ketenangan, ketenteraman dan kebahagiaan dalam rumah tangga yang penuh keharmonisan dan kasih sayang yang tulus.

2. Mewujudkan (melestarikan) turunan

Setiap pasangan pasti mendambakan anak keturunan untuk meneruskan kelangsungan hidup. Anak ini diharapkan dapat mengambil alih

4 Amin, Kunci Sukses. .., h. 25.

tugas, perjuangan dan ide-ide yang pernah tertanam di dalam jiwa suami istri. Fitrah yang sudah ada dalam diri manusia ini diungkapkan oleh Allah dalam

firman-Nya:

... َنِم ْمُكَقَزَرَو ًةَدَفَحَو َينِنَب ْمُكِجاَوْزَأ ْنِم ْمُكَل َلَعَجَو اًجاَوْزَأ ْمُكِسُفْـنَأ ْنِم ْمُكَل َلَعَج ُهَّللاَو

)72(

Artinya : Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu dan

memberimu rezeki dari yang baik-baik. (QS. al-Nahl/16:72). 3. Memenuhi kebutuhan biologis

Pemenuhan kebutuhan biologis harus diatur melalui lembaga perkawinan, supaya tidak terjadi penyimpangan, tidak lepas begitu saja sehingga norma-norma adat-istiadat dan agama dilanggar.

Dalam hal ini jumhur ulama mengatakan hukum perkawinan itu ditetapkan dengan melihat kondisi orang-orang tertentu sebagai berikut:

a. Wajib bagi orang-orang yang telah pantas untuk kawin, berkeinginan untuk kawin dan memiliki perlengkapan untuk kawin, ia khawatir akan terjerumus ke tempat maksiat kalau ia tidak kawin.

b. Sunat bagi orang-orang yang telah berkeinginan untuk kawin, telah pantas untuk kawin dan dia tidak mempunyai perlengkapan untuk melangsungkan pernikahan.

c. Haram bagi orang-orang yang tidak akan dapat memenuhi ketentuan syara’ untuk melakukan perkawinan, atau ia yakin perkawinan itu tidak akan mencapai tujuan syara’, sedangkan ia meyakini perkawinan itu akan merusak kehidupan pasangannya.

d. Makruh bagi orang-orang yang belum pantas untuk kawin, belum berkeinginan untuk kawin, sedangkan perbekalan untuk perkawinan juga belum ada.

e. Mubah bagi orang-orang yang pada dasarnya belum ada dorongan untuk kawin, dan perkawinan itu tidak akan mendatangkan kemudharatan apa-apa kepada siapa pun.6

4. Latihan memikul tanggung jawab

Sesuai dengan maksud penciptaan manusia dengan segala keistimewaannya berkarya, maka manusia itu tidak pantas bebas dari tanggungjawab. Manusia bertanggungjawab dalam keluarga, masyarakat dan negara. Latihan itu dimulai dari ruang lingkup yang terkecil lebih dahulu (keluarga), kemudian baru meningkat kepada yang lebih luas lagi.

Keempat faktor di atas merupakan tujuan perkawinan perlu mendapat 6Amir Syarifuddin, Garis-Garis Besar Fikih (Bogor: Prenada Media, 2003), h. 79.

perhatian dan direnungkan matang-matang, agar kelangsungan hidup berumah tangga dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan.

B. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Keharmonisan Rumah Tangga

Dalam dokumen Jurnal Al Mizan Tahun 2015 (Halaman 50-54)