• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Analisis Kreativitas Guru Matematika Kelas

Kab. Kendal

Untuk menjawab permasalahan yang peneliti ajukan di rumusan masalah, maka perlu adanya analisis data yang diperoleh dari wawancara, observasi maupun dokumentasi. Berikut analisis data yang peneliti paparkan:

1. Analisis kreativitas guru dalam merencanakan pembelajaran. a. Kreativitas G1 dalam merencanakan pembelajaran

Dari hasil wawancara dengan G1 dan observasi dapat diketahui bahwa dalam merencanakan pembelajaran G1 memperhatikan karakteristik materi yang akan diajarkan dengan kadar kemampuan peserta didik. Sehingga, akan ada kesesuaian antara materi yang dijarkan dengan kadar kemampuan peserta didik. Dengan adanya kesesuaian diharapkan hasil belajar peserta didik akan optimal.

Kemudian untuk format dan pengembangan silabus dan RPP, G1 menggunakan format dan pengembangan silabus yang disusun bersama- sama oleh guru matematika di MTs Negeri Brangsong (MGMP). Dalam

format silabus tersebut telah memuat beberapa komponen yang memang harus ada dalam silabus, yaitu identitas mata pelajaran, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, materi pokok, kegiatan belajar mengajar, dan standar penilaian. Adapun format silabus dapat dilihat di lampiran.

Sebagaimana penyusunan silabus, dalam penyusunan RPP G1 juga menyusun RPP melalui MGMP. beliau berpendapat bahwa ada keterkaitan antara materi dalam matematika sehingga perlu adanya komunikasi antara guru matematika dari kelas VII, VIII, dan IX. Dari dokumen perangkat pembelajaran peneliti menemukan adanya perbedaan format RPP yang biasa peneliti susun dengan yang disusun oleh MGMP MTs Negeri Brangsong. Perbedaan tersebut terletak di perumusan elaborasi, eksplorasi dan konfirmasi.

Dalam RPP yang disusun oleh MGMP MTs Negeri Brangsong kegiatan pembelajarannya belum dikelompokkan ke dalam elaborasi, eksplorasi, dan konfirmasi. Dalam RPP tersebut ada yang melibatkan peserta didik secara aktif dalam pembelajaran, namun ada juga yang melibatkan peserta didik secara pasif dalam pembelajaran. Adapun format RPP dapat dilihat dalam lampiran.

Selain silabus dan RPP, pemilihan strategi dan media dalam pembelajaran juga sangat penting. Dalam pemilihan strategi pembelajaran, G1 lebih menyesuaikan dengan kemampuan peserta didik. Peserta didik yang mempunyai kemampuan membaca yang baik G1 menggunakan metode driil. Sedangkan untuk peserta didik yang kemampuan membacanya rendah G1 banyak memberi penjelasan.

Untuk media pembelajaran, sejauh ini G1 menggunakan alat peraga seadanya yang ada di lingkungan sekitar. Sedangkan untuk media elektronik belum pernah digunakan karena keterbatasan tempat dan waktu. Pembelajaran bisa terlaksana dengan adanya buku paket dan LKS.

b. Kreativitas G2 dalam merencanakan pembelajaran

Kreativitas G2 dalam merencanakan pembelajaran dapat diketahui melalui wawancara dan dokumen perangkat pembelajarannya. Dari hasil wawancara G2 merencanakan pembelajaran dengan acuan BSNP yang dijabarkan dan dikembangkan sesuai dengan keadaan atau karakteristik peserta didik.

Sebagaimana G1, untuk silabus dan RPP yang digunakan G2 juga disusun bersama-sama melalui MGMP. Pengalaman-pengalaman dari luar dan permasalahan yang ada dimusyawarahkan bersama kemudian dijadikan satu konsep yang sesuai dengan karakteristik peserta didik MTs Negeri Brangsong.

Kemudian untuk strategi pembelajaran, G2 menyesuaikan dengan karakteristik materi dan peserta didik sehingga dapat dipehami dengan mudah. Sedangkan untuk media pembelajaran yang digunakan G2 hampir sama dengan yang digunakan G1 yaitu menggunakan media yang mudah digunakan dan dapat ditemukan di lingkungan sekitar. Untuk media elektronik juga belum digunakan karena keterbatasan tempat dan waktu.

c. Kreativitas G3 dalam merencanakan pembelajaran

G3 dalam menyusun perangkat pembelajaran sebelumnya melihat Standar Isi kemudian menyusun RPP yang disesuaikan dengan alokasi waktu, Standar Kompetensi dan indikator kemudian menentukan alat peraga yang akan digunakan. Akan tetapi silabus dan RPP yang digunakan oleh G3 sama dengan yang digunakan oleh G1 dan G2 yaitu silabus dan RPP yang disusun melalui MGMP.

Kemudian untuk strategi yang digunakan G3 adalah inquiry. Untuk media yang digunakan adalah LKS, buku paket dan benda-benda yang ada di sekitar. Untuk media elektronik belum bisa menggunakan karena keterbatasan waktu dan tempat.

2. Analisis kreativitas guru dalam kegiatan pembelajaran. a. Kreativitas G1 dalam kegiatan pembelajaran

Kegiatan pembelajaran terdiri dari kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Dari data hasil wawancara dan observasi menunjukkan bahwa dalam kegiatan awal G1 menyampaikan apersepsi dengan menggali kemampuan peserta didik akan materi sebelumnya atau materi prasarat dari materi yang akan dipelajari. Dengan begitu G1 akan mengetahui sejauh mana kemampuan peserta didik akan materi prasarat tersebut, sehingga G1 dapat menentukan strategi yang akan digunakan agar peserta didik menguasai materi yang akan diajarkan. Sementara dari hasil perhitungan angket diketahui bahwa 58% peserta didik menyatakan kadang-kadang, 28% manyatakan sering, dan 14% menyatakan sering sekali menyampaikan apersepsi.2

Kemudian dalam kegiatan inti G1 banyak berperan sebagai fasilitator. Selain itu juga dilihat karakteristik materi yang diajarkan, jika materi tersebut cukup dengan membaca maka peserta didik hanya disuruh membaca kemudian mengerjakan soal, jika materi tersebut butuh keterangan maka G1 akan menjelaskan. Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh PD1 yang mengatakan bahwa biasanya G1 dalam mengajar menyuruh peserta didik membaca kemudian menjelaskan dan diberi soal untuk latihan. Serta dikuatkan dengan hasil perhitungan angket yaitu 43% menyatakan sering belajar dengan metode driil, 20% menyatakan kadang-kadang, 35% menyatakan sangat sering, dan 1% tidak memberi jawaban.3

Kegiatan akhir adalah kegiatan penutup, dalam kegiatan penutup ini G1 menyampaikan kesimpulan dan kadang-kadang memberi soal latihan. Selain soal latihan yang bentuknya tertulis, G1 juga menggunakan pertanyaan acak yang bentuknya pertanyaan lisan untuk mengetahui sejauh mana peserta didik memahami materi yang telah

2

Berdasarkan angket yang dibagikan kepada peserta didik. 3

dipelajari. Sedangkan dari keterangan PD1, dalam mengakhiri pembelajaran G1 bertanya apakah peserta didik sudah faham atau belum, jika peserta didik sudah faham maka G1 memberikan soal latihan kemudian dicocokkan. Sedangkan dalam hasil perhitungan angket diketahui bahwa 47% menyatakan sering diberi PR di akhir pelajaran, 39% menyatakan kadang-kadang, 12% menyatakan sangat sering, dan 1% tidak memeri jawaban. Untuk pemberian kesimpulan di akhir pembelajaran diketahui bahwa 34% dari jumlah peserta didik menyatakan sering, 43% menyatakan kadang-kadang, 20% menyatakan sangat sering, dan 3% tidak memberi jawaban.4

Dari observasi yang peneliti lakukan, ditemukan adanya ketidak sesuaian antara RPP dengan kegiatan pembelajaran yang berlangsung. Ketidaksesuaian ini terletak pada metode pembelajarannya. Dalam RPP metode yang digunakan adalah penugasan, demonstrasi dan diskusi kelompok. Akan tetapi pada pelaksanaannya tidak demikian, peserta didik disuruh membaca, dijelaskan kemudian diberi soal latihan. Hal ini terjadi karena padatnya aktivitas G1 yang juga sebagai Waka Humas dan saat peneliti melaksanakan penelitian bertepatan dengan persiapan Ujian Nasional dan pelaksanaan ujian praktek, sehingga G1 banyak bertugas di luar kelas.

b. Kreativitas G2 dalam kegiatan pembelajaran

Kegiatan awal dilaksanakan G2 dengan mengkondisikan peserta didik dengan mengabsen, memberi motivasi, dan apersepsi. Motivasi disampaikan G2 dengan cara mengaitkan materi dengan apa yang ada di lingkungan sekitar, sedangkan apersepsi disampaikan dengan mengajak peserta didik mengingat kembali pelajaran yang telah lalu.5 Dari angket yang dibagikan kepada peserta didik diketahui bahwa pemberian apersepsi dan motivasi diberikan secara kadang-kadang. Hal ini terlihat

4

Berdasarkan angket yang dibagikan kepada peserta didik. 5

Berdasarkan dari data observasi tanggal 2&5 April 2011 dan disesuaikan dengan hasil wawancara peserta didik tanggal 26 Maret 2011.

dari sebanyak 59% dari jumlah peserta didik menyatakan apersepsi disampaikan secara kadang-kadang dan 56% menyatakan motivasi juga disampaikan secara kadang-kadang.6

Sedangkan untuk kegiatan inti, G2 secara garis besar banyak menggunakan metode biasa yaitu ceramah dan tanya jawab. Hanya materi-materi tertentu yang menggunakan metode diskusi. Tanya jawab digunakan tidak hanya untuk mengetahui kemampuan peserta didik tetapi juga digunakan untuk mengaktifkan peserta didik dalam pembelajaran. Namun cara ini tidak selalu berhasil, karena masih ada peserta didik yang malas dan tidak semangat belajar. Hal ini terjadi karena cara G2 menyampaikan materi yang monoton tanpa ada selingan humor membuat peserta didik bosan.7 Pernyataan ini dikuatkan dengan hasil perhitungan angket yang menyatakan bahwa 69% peserta didik kadang-kadang merasakan suasana yang menyenangkan saat pembelajaran dan 58% menyatakan kadang-kadang bosan.8 Selain itu pengguanaan alat peraga yang kurang menarik dan hanya digunakan oleh G2 membuat peserta didik pasif dalam kegiatan pembelajaran.

Selanjutnya dalam kegiatan akhir atau kegiatan penutup G2 sering memberikan umpan balik, memberikan tugas dan Pekerjaan Rumah (PR). G2 beranggapan bahwa PR itu wajib diberikan agar peserta didik belajar di rumah, sehingga pelajaran yang telah disampaikan tidak berlalu begitu saja.9 Hal ini sesuai dengan hasil perhitungan angket yang menyatakan bahwa 26% peserta didik menyatakan bahwa sering di beri PR di akhir pelajaran, 23% menyatakan kadang-kadang, 50% menyatakan sering sekali, dan 1% tidak memberi jawaban.10

6

Berdasarkan angket yang dibagikan kepada peserta didik. 7

Berdasarkan data observasi tanggal 2&5 April 2011. 8

Berdasarkan angket yang dibagikan kepada peserta didik. 9

Berdasarkan hasil wawancara tanggal 23 Maret 2011. 10

c. Kreativitas G3 dalam kegiatan pembelajaran

Dalam mengawali pembelajaran G3 mengadakan pre-test yang berbentuk pertanyaan lisan. Tetapi sebelumnya diawali dengan salam, mengabsen, dan mengulas pelajaran yang telah lalu kemudian menyampaikan pelajaran yang akan dipelajari pada hari tersebut. Hal ini sesuai dengan hasil perhitungan angket, yaitu ada 47% peserta didik menyatakan sering diberi apersepsi di awal pembelajaran, 41% menyatakan kadang-kadang, 6% menyatakan sangat sering. Serta ada 56% peserta didik menyatakan sering diberi motivasi di awal pembelajaran, 22% menyatakan kadang-kadang, dan 19% menyatakan sangat sering.11

Untuk kegiatan inti G3 banyak memberi penjelasan, tanya jawab kemudian memberi soal untuk didiskusikan bersama. Akan tetapi dalam kenyataannya G3 mengalami kesulitan dalam mengkondisikan peserta didik. Kesulitan ini dikarenakan kondisi dari peserta didik yang sangat susah diatur dan sama sekali tidak menghormati G3 yang mengajar. Peserta didik cenderung bermain sendiri dan membuat kelompok tetapi tidak untuk diskusi melainkan untuk membuat kegaduhan. Kondisi inilah yang menyebabkan adanya ketidaksesuaian antara RPP dengan pelaksanaan pembelajaran.

Banyak cara yang dilakukan G3 untuk mengatasi kondisi yang menyulitkan tersebut. Mulai dari meminta tolong kepada teman sesama guru untuk menunggui G3 saat mengajar hingga membawa penggaris panjang yang terbuat dari kayu untuk menghukum peserta didik yang memulai kegaduhan.

Kemudian dalam menutup pelajaran G3 memberi kesimpulan dari materi yang telah dipelajari. Kesimpulan ini disampaikan melalui tanya jawab untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta didik, kemudian memberi kesimpulan dan penegasan materi yang telah diajarkan serta

11

memberi tugas untuk dikerjakan di rumah. Hal ini sesuai dengan hasil perhitungan angket yaitu 50% peserta didik menyatakan G3 sering memberi kesimpulan di akhir pembelajaran, 38% kadang-kadang, dan 6% menyatakan sangat sering.12

3. Analisis kreativitas guru dalam penilaian pembelajaran. a. Kreativitas G1 dalam penilaian pembelajaran

Penilaian proses saat kegiatan belajar mengajar berlangsung selalu dilaksanakan oleh G1. Penilaian ini dilaksanakan dengan cara mengamati kegiatan peserta didik selama pembelajaran berlangsung. Akan tetapi untuk menunjang penilaian proses ini G1 belum mempunyai alat khusus, G1 hanya menggunakan buku absen untuk memberi tanda yang berbeda bagi peserta didik yang telah menguasai materi, yang belum menguasai, dan yang masih perlu mendapat perhatian khusus. Sementara dalam hal ini, ada 28% dari jumlah peserta didik menyatakan bahwa G1 sering memberikan nilai tambahan kepada peserta didik yang aktif, 62% menyatakan kadang-kadang, dan 8% menyatakan sering sekali.13

Bentuk test yang digunakan G1 adalah test tulis. Belum ada lembar observasi atau alat penilaian yang lain untuk mengukur tingkat kemampuan peserta didik. G1 berpendapat bahwa, idealnya memang harus ada alat penilaian khusus tetapi kadang yang ideal itu malah membuat repot sendiri. Selain itu G1 juga menyampaikan bahwa dalam mengajar G1 menggunakan metode-metode yang mudah dijalankan guru dan mudah untuk diterima oleh peserta didik. Kemudian hasil test tulis tersebut diketahui melalui pengumuman baik pengumuman di depan kelas ataupun pengumuman yang ditempel di papan pengumuman.14

b. Kreativitas G2 dalam penilaian pembelajaran

G2 menggunakan penilaian gabungan dari test tulis juga dari keaktifan peserta didik yang diamati setiap kegiatan belajar mengajar

12

Berdasarkan angket yang dibagikan kepada peserta didik. 13

Berdasarkan angket yang dibagikan kepada peserta didik. 14

berlangsung. Keaktifan peserta didik ini digunakan sebagai pertimbangan untuk menentukan nilai akhir selain test tulis seperti Ulangan Harian, MID semester, dan semester. Hal ini dikuatkan dengan hasil perhitungan angket yaitu ada 34% dari jumlah peserta didik menyatakan G2 sering memberikan nilai kepada peserta didik yang aktif, 41% menyatakan kadang-kadang, dan 23% menyatakan sangat sering.15 Tetapi belum ada alat khusus yang dimiliki G2 untuk menilai keaktifan peserta didik, selama ini penilaian dilakukan menggunakan buku absensi.

Sebagaimana G1 dalam menyampaikan hasil test, G2 juga mengumumkan hasil test dari peserta didik dengan cara menempelkan hasil test peserta didik di papan pengumuman. Akan tetapi yang di umumkan adalah peserta didik yang remidi, jadi peserta didik yang tidak remidi tidak mengetahui hasil testnya sebelum raport dibagikan.16

c. Kreativitas G3 dalam penilaian pembelajaran.

Untuk mendapatkan nilai dari peserta didik G3 melaksanakan ulangan per-KD, dari tugas, dan keaktifan peserta didik saat pembelajaran berlangsung yang menggunakan buku absen sebagai alat penilaiannya. Namun, G3 mengakui bahwa nilai dari peserta didik kelas VII yang diajarnya bukanlah nilai murni melainkan nilai interval. Hal ini terjadi karena peserta didik dari kelas tersebut memang agak kurang kemampuannya dibandingkan dengan kelas yang lainnya.

Kemudian peserta didik mengetahui hasil dari testnya melalui raport. G3 tidak pernah mengumumkan hasil test di depan kelas ataupun ditempel di papan pengumuman. Akan tetapi melalui angket dapat diketahui bahwa 47% dari jumlah peserta didik menyatakan bahwa G3 sering mengumumkan nilai peserta didik di papan pengumuman, 41% meyatakan kadang-kadang, dan 12% menyatakan sering sekali.17

15

Berdasarkan angket yang dibagikan kepada peserta didik. 16

Berdasarkan wawancara dengan PD2 tanggal 26 Maret 2011. 17

BAB V PENUTUP A. Simpulan

Berdasarkan landasan teori yang didukung oleh hasil penelitian serta mengacu pada tujuan penelitian, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Kreativitas guru dalam merencanakan pembelajaran dapat dilihat dari dua

hal pokok, yaitu perencanaan perangkat pembelajaran dan perencanaan pemilihan strategi pembelajaran.

a. Kreativitas guru dalam perencanaan perangkat pembelajaran dapat dilihat dari kegiatan yang dilakukan oleh guru matematika MTs Negeri Brangsong. Yaitu dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) untuk menyusun perangkat pembelajaran seperti PROTA, PROSEM, Silabus, dan RPP sehingga terdapat keseragaman antara guru yang satu dengan yang lain. Selain itu, dengan adanya MGMP bisa terjadi tukar pengalaman antar guru sehingga guru yang kurang kreatif akan meningkatkan kreativitasnya. Sementara guru yang lebih berpengalaman dan lebih kreatif dari guru yang lain bisa menjadi contoh dan bisa membagikan pengalamannya.

b. Kreativitas guru dalam perencanaan strategi dan media pembelajaran dapat dilihat dari usaha guru untuk memahami karakteristik peserta didik sebelum memilih strategi yang akan digunakan. Selain itu usaha guru untuk menggunakan benda sekitar sebagai media pembelajaran untuk membantu peserta didik lebih mudah memahami materi yang disampaikan.

2. Kreativitas guru dalam pelaksanaan pembelajaran dapat dilihat dari tiga hal pokok yaitu, kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan akhir pembelajaran.

a. Kreativitas guru dalam melaksanakan kegiatan pendahuluan antara lain menyampaikan apersepsi dengan menanyakan pelajaran yang telah lalu untuk mengetahui pemehaman peserta didik. Penyampaian motivasi

dengan mengaitkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari yang bertujuan memberikan semangat kepada peserta didik. Kemudian penyampaian tujuan pembelajaran, sehingga peserta didik mengerti apa yang akan dipelajari. Sebelum menyampaikan apersepsi, motivasi dan tujuan guru mengkondisikan peserta didik dengan mengabsen.

b. Kreativitas guru dalam melaksanakan kegiatan inti antara lain dengan memposisikan diri sebagai fasilitator proses pembelaaran sepenuhnya terpusat pada peserta didik. Penggunaan metode tanya jawab yang bertujuan untuk mengetahui pemahaman peserta didik dan untuk mengaktifkan peran peserta didik dalam pembelajaran. Serta penggunaan metode diskusi pada materi tertentu dan untuk menyelesaikan soal-soal latihan membuat peserta didik menjadi lebih aktif dan mampu bekerja sama satu sama lain.

c. Kreativitas guru dalam melaksanakan kegiatan akhir pembelajaran antara lain dengan menyampaikan kesimpulan dari materi yang dipelajari, memberikan umpan balik, memberikan pertanyaan guna untuk mengevaluasi pembelajaran dan untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta didik. Serta memberikan soal-aoal latihan untuk dikerjakan secara kelompok ataupun sebagai Pekerjaan Rumah.

3. Kreativitas guru dalam penilaian pembelajaran dapat dilihat dari dua hal yaitu sistem penilaian dan pengembangan alat penilaian yang digunakan. a. Kreativitas guru dalam sistem penilaian antara lain dengan menilai

keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran melalui pengamatan. Jadi nilai akhir tidak hanya diperoleh dari test tertulis saja.secara umum bentuk penilaian yang digunakan oleh guru di MTs Negeri Brangsong adalah ulangan harian, tugas, mid semester, semester, dan ujian.

b. Kreativitas guru dalam mengembangkan alat penilaian dapat dilihat dari alat penilaian yang digunakan. Untuk mengamati keaktifan peserta didik guru hanya menggunakan buku absen dan belum ada lembar observasi yang khusus menilai kektifan peserta didik. Padahal para

guru menyadari bahwa untuk menilai proses maupun keaktifan peserta didik idealnya memang harus ada alat khusus seperti lembar observasi.

Secara garis besar kreativitas guru matematika kelas VII dalam menerapkan KTSP sudah cukup kreatif. Karena secara teori tidak ada guru yang tidak memahami KTSP, akan tetapi dalam pelaksanaan dan pengembangannya masih butuh peningkatan.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan serta hasil penelitian tersebut, disarankan kepada pihak-pihak terkait sebagai berikut:

1. Dalam perencanaan pembelajaran, sebaiknya guru diberi kesempatan untuk mengembangkan kreativitas dalam menyusun perangkat pembelajarannya sesuai dengan kondisi/karakter peserta didik masing- masing. Terlebih dalam penyusunan RPP, karena dari RPP itulah akan diketahui seperti apa proses pembelajaran berlangsung.

2. Untuk pelaksanaan pembelajaran sebaiknya guru benar-benar mengoptimalkan peran peserta didik dalam pembelajaran. Meningkatkan kemampuan guru dalam proses pembelajaran perlu mendapat prioritas utama karena proses pembelajaran merupakan inti dari pembelajaran. 3. Untuk meningkatkan keterampilan guru dalam penyusunan perangkat

penilaian pembelajaran matematika kelas VII, baik itu sistem penilaian maupun alat penilaian yang digunakan, maka diperlukan peningkatkan pengetahuan dan pembekalan keterampilan dalam mengembangkan tujuan dari penilaian maupun keterampilan dalam mengembangkan alat penilaian. 4. Kepada guru ssebaiknya lebih berani untuk mengembangkan kreativitasnya baik dalam merencanakan, melaksanakan, serta menilai pembelajaran matematika. Kemudian lebih meningkatkan kualitas dirinya. 5. Kepada madrasah sebaiknya selalu meningkatkan potensi guru melalui mengikutsertakan guru dalam workshop, penataran atau kegiatan lain yang dapat meningkatkan kreativitas guru. Kemudian untuk mendukung proses belajar mengajar diharapkan madrasah dapat melengkapi sarana dan

prasarana yang dibutuhkan untuk kelangsungan pembelajaran, seperti penambahan alat peraga, penambahan media pembelajaran serta sarana dan prasarana lain yang dianggap kurang.

6. Peserta didik sebagai pusat kegiatan pembelajaran sebaiknya menyadari tugas dan tanggung jawabnya sebagai pelajar sehingga mampu belajar secara mandiri dan mampu meningkatkan potensi dirinya.

7. Mengingat bahwa penelitian ini belum sepenuhnya tuntas maka perlu dilakukan penelitian lanjutan oleh peneliti lain. Untuk peneliti lain sebaiknya lebih tekun lagi dalam melaksanakan penelitian agar mendapatkan hasil yang lebih baik dan maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi) Cet.3, Jakarta: Bumi Aksara, 2002.

---, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Edisi Revisi VI cet.XIII), Jakarta: Rineka Cipta, 2006.

Asfandiyar, Andi Yudha, Kenapa Guru Harus Kreatif, Bandung: Mizan Pustaka, 2009.

Departemen Agama RI, Al quraan dan Terjemahnya, Jakarta: 1984.

Depdiknas Kurikulum 2004, Mata Pelajaran Matematika Sekolah Dasar, Jakarta:Dirjen Dikti Depdiknas, 2003.

Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2005. Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2005. Ghozali, Imam, Ihya’ Ulumuddin, Dar Ahya’ Alkutub Al ‘Arabiyah Indonesia. Haryati, Mimin , Model dan Teknik Penilaian pada Tingkat Satuan Pendidikan,

Jakarta: Gaung Persada Press, 2007.

J. Moleong, Lexy, Metode Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi), Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007.

Kementerian Agama RI, Alqur’an dan Tafsirnya (Edisi yang Disempurnakan), jil. X, Jakarta: Lentera Abadi, 2010.

Majid, Abdul, Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi Guru cet.5,Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008.

Mulyasa, E., Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep, Karakteristik, Implementasi, dan Inovasi, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008.

Mulyasa, E., Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006.

Munandar, Utami , Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, Jakarta: Rineka Cipta, 2009.

Naim, Ngainun, Rekonstruksi Pendidikan Nasional Membangun Paradigma yang Mencerahkan, Yogyakarta: Teras, 2009.

Sagala, Syaiful, Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan, Bandung: Alfabeta, 2009.

Siregar, Eveline dan Hartini Nara, Teori Belajar dan Pembelajaran, Bogor: Ghalia Indonesia, 2010.

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, Bandung: Alfabeta, 2008.

Suhada, Anwar, Kreativitas Guru Matematika dalam Menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sebagai Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa, Skripsi, Surakarta: UNS, 2010.

Sukadi, Guru Powerful Guru Masa Depan, Bandung: Kolbu, 2009.

Suwandi, Sarwiji, Model Assesmen dalam Pembelajaran, Surakarta: Yuma Pustaka, 2010.

Tim Redaksi Nuansa Aulia, Himpunan Perundang-undangan RI tentang Sistem