BAB II : KREATIVITAS GURU MATAMATIKA DAN KURIKULUM
G. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
Kata kurikulum berasal dari bahasa latin, kata dasarnya adalah currere yang berarti lapangan perlombaan lari.42 Sedangkan menurut Grayson yang dikutip oleh Syaiful, kurikulum adalah suatu perencanaan untuk mendapatkan keluaran (out-comes) yang diharapkan dari suatu pembelajaran.43
Wiles dan Bondi mengemukakan bahwa “A curriculum is a plan for learning consisting of two major dimension, vision and structure “.44 Kurikulum adalah sebuah ketetapan perencanaan yang terdiri dari dua dimensi utama, tujuan dan struktur. UUSPN No. 20 tahun 2003 Pasal 1 ayat 19 mengatakan kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.45
Kurikulum terbaru yang dikeluarkan oleh pemerintah adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) yang selanjutnya ditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor 22, 23, dan 24 tahun 2006.
Sebelumnya ada Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang diberlakukan terlebih dulu. KBK dapat diartikan sebagai suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pangembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performansi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap
42
Syaiful Sagala, Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan, (Bandung: Alfabeta,2009), hlm. 141.
43
Syaful Sagala, Kemampuan., hlm. 141. 44
Wiles dan Bondi, Curriculum Development A Guide to Practice Third Edition, (Caledonia: Macmillan Publishing Company, 1989), hlm. 3.
45
seperangkat kompetensi tertentu.46 Jadi, KBK menekankan pada pengembangan potensi dan kompetensi peserta didik.
KTSP dikembangkan dengan dilandasi oleh undang-undang dan peraturan pemerintah sebagai berikut.
1. Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2. Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan.
3. Permendiknas nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi.
4. Permendiknas nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan. 5. Permendiknas nomor 24 tahun 2006 tentang Pelaksanaan Permendiknas
nomor 22 dan 23 tahun 2006.
Mulyasa mengemukakan bahwa tujuan diterapkannya KTSP adalah : 1. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah
dalam mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumberdaya yang tersedia.
2. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama.
3. Meningkatkan kompetisi yang sehat antar satuan pendidikan tentan kualitas pendidikan yang akan dicapai.47
Mulyasa mengemukakan bahwa KTSP perlu diterapkan pada satuan pendidikan berkaitan dengan tujuh hal berikut.
1. Sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman bagi dirinya.
2. Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya, khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan.
3. Pengambilan keputusan lebih baik dilakukan oleh sekolah karena sekolah sendiri yang paling tahu yang terbaik bagi sekolah tersebut.
46
E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep, Karakteristik, Implementasi, dan Inovasi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), hlm. 39.
47
4. Keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat.
5. Sekolah dapat bertanggung jawab tentang mutu pendidikannya masing- masing.
6. Sekolah dapat melakukan persaingan yang sehat dengan sekolah-sekolah lain dalam meningkatkan mutu pendidikan.
7. Sekolah dapat merespon aspirasi masyarakat dan lingkungan yang berubah secara cepat serta mengakomodasikannya dengan KTSP.48
Prinsip-prinsip pengembangan KTSP menurut Permendiknas nomor 22 tahun 2006 sebagaimana dikutip dari Mulyasa adalah sebagai berikut.
1. Berpusat pada potensi, perkembangan, serta kebutuhan peserta didik dan lingkungannya.
2. Beragam dan terpadu.
3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. 4. Relevan dengan kebutuhan.
5. Menyeluruh dan berkesinambungan. 6. Belajar sepanjang hayat.
7. Seimbang antara kepentingan global, nasional, dan lokal.49
Untuk dapat mengembangkan KTSP dengan baik, diperlukan strategi- strategi khusus dalam penerapanya di sekolah. Menurut Mulyasa, ”Strategi- strategi dalam mengembangkan KTSP antara lain: sosialisasi KTSP di sekolah, menciptakan suasana yang kondusif, menyiapkan sumber belajar, membina disiplin, mengembangkan kemandirian kepala sekolah, membangun karakter guru, dan memberdayakan staf”.50
Menurut Mulyasa, ”KTSP memiliki enam komponen penting yang meliputi; visi dan misi satuan pendidikan, tujuan pendidikan tingkat satuan
48
E.Mulyasa, Kurikulum Tingkat., hlm.23 49
Aulia, Himpunan., hlm.212-213. 50
pendidikan, struktur dan muatan kurikulum, kalender pendidikan, silabus, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)”.51
1. Penyusunan Silabus Berbasis KTSP
Menurut Mulyasa, Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran dengan tema tertentu, yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar yang dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan.52
Sedangkan menurut Abdul Majid, Silabus adalah rancangan pembelajaran yang berisi rencana bahan ajar mata pelajaran tertentu pada jenjang dan kelas tertentu, sebagai hasil dari seleksi, pengelompokan, pengurutan, dan penyajian materi kurikulum, yang dipertimbangkan berdasarkan ciri dan kebutuhan daerah setempat.53
Dari definisi-definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa silabus merupakan pengembangan dari kurikulum yang berupa rencana pembelajaran suatu kelompok mata pelajaran dengan tema tertentu, yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar yang digunakan untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan masing-masing satuan pendidikan.
Pengembangan silabus berbasis KTSP sepenuhnya diserahkan kepada guru, sehingga akan berbeda antara guru satu dengan guru lain. Namun suatu silabus minimal memuat enam komponen utama, yaitu : standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, materi standar, standar proses (kegiatan belajar mengajar), dan standar penilaian.
51
E.Mulyasa, Kurikulum Tingkat., hlm.176-184. 52
E.Mulyasa, Kurikulum Tingkat., hlm. 190. 53
Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi Guru cet.5,(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), hlm.38-39.
Prinsip pengembangan silabus sesuai BSNP adalah ilmiah, relevan, fleksibel, kontinuitas, konsisten, memadai, aktual dan kontekstual, efektif, dan efisien.
a. Ilmiah
Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan silabus harus benar, logis, dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.
b. Relevan
Pengembangan silabus harus disesuaikan dengan karakteristik peserta didik serta sesuai dengan tuntutan kerja di lapangan.
c. Fleksibel
Pelaksana program, peserta didik, dan lulusan memiliki ruang gerak dan kebebasan dalam bertindak. Guru tidak harus menyajikan program dengan konfigurasi seperti dalam silabus tertulis, tetapi dapat mengakomodasikan berbagai ide baru atau memperbaiki ide-ide sebelumnya. Sedangkan peserta didik diberi berbagai pengalaman belajar yang dapat dipilih sesuai dengan karakteristik dan kemampuan masing- masing.
d. Kontinuitas
Setiap program pembelajaran yang dikemas dalam silabus memiliki keterkaitan satu sama lain dalam membentuk kompetensi dan pribadi peserta didik.
e. Konsisten
Standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memiliki hubungan yang konsisten dalam membentuk kompetensi peserta didik. f. Memadai
Ruang lingkup indikator, materi, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian yang dilaksanakan dapat mencapai kompetensi dasar. Serta sarana dan prasarana yang dibutuhkan harus memadai.
g. Aktual dan kontekstual
Ruang lingkup komponen-komponen silabus memperhatikan perkembangan IPTEK dan seni.
h. Efektif
Silabus yang efektif adalah silabus yang dapat diwujudkan dalam kegiatan pembelajaran nyata di kelas atau di lapangan.
i. Efisien
Efisien dalam pengembangan silabus berkaitan dengan upaya untuk memperkecil atau menghemat penggunaan dana, daya, dan waktu tanpa mengurangi hasil atau kompetensi standar yang ditetapkan.54
Adapun prosedur pengembangan silabus berbasis KTSP meliputi langkah-langkah sebagai berikut.
a. Menuliskan identitas mata pelajaran. b. Menentukan standar kompetensi. c. Menentukankompetensi dasar. d. Menentukan materi pokok.
e. Menentukan pengalaman belajar peserta didik. f. Menjabarkan Kompetensi Dasar menjadi Indikator. g. Menjabarkan Indikator ke dalam Instrumen penelitian. h. Menentukan alokasi waktu
i. Menentukan sumber belajar/bahan ajar.55
2. Penyusunan RPP berbasis KTSP
Perencanaan adalah menyusun langkah-langkah yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Berkenaan dengan perencanaan, William H. Newman dalam bukunya Administrative Action Techniques of Organization and Management sebagaimana diungkapkan oleh Abdul Majid, perencanaan adalah menentukan apa yang akan dilakukan. Perencanaan mengandung rangkaian-rangkaian putusan
54
Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi Guru cet.5, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), hlm. 38-39.
55
yang luas dan penjelasan-penjelasan dari tujuan, penentuan kebijakan, penentuan program, penentuan metode-metode dan prosedur tertentu dan penentuan kegiatan berdasarkan jadwal sehari-hari.56
Sedangkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan manajemen pembelajaran untuk mencapai satu atau lebih kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus. RPP merupakan komponen penting dalam KTSP, dimana pengembangannya dilakukan oleh guru.57
Kemudian dalam Peraturan Menteri pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007 mengungkapkan bahwa RPP merupakan penjabaran dari silabus yang bertujuan untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai KD. Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.58
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa RPP memegang peranan penting dalam proses pembelajaran yaitu sebagai perencanaan atas apa yang akan dilakukan di kelas serta baik guru ataupun peserta didik dapat mengetahui tujuan apa yang akan dicapai dalam proses pembelajaran tersebut.
Adapun langkah-langkah pengembangan RPP secara garis besar dijabarkan sebagai berikut.
a. Mengisi kolom identitas
b. Menentukan alokasi waktu yang dibutuhkan untuk pertemuan yang telah ditetapkan
56
Abdul Majid, Perencanaan., hlm.15-16. 57
E.Mulyasa, Kurikulum Tingkat., hlm.212. 58
c. Menentukan standar kompetensi, kompetensi dasar, serta indikator hasil belajar seperti yang termuat dalam silabus
d. Merumuskan tujuan pembelajaran
e. Mengidentifikasi materi standar berdasarkan materi pokok pada silabus f. Menentukan metode pembelajaran
g. Merumuskan langkah-langkah pembelajaran h. Menentukan sumber belajar yang digunakan
i. Menyusun kriteria penilaian, lembar pengamatan, contoh soal, dan teknik penskoran.59
Sebagai kurikulum penyempurna dari kurikulum sebelumnya, KTSP bukanlah kurikulum yang benar-benar baru. Dari 12 aspek yang dibandingkan antara KBK dan KTSP, ada dua aspek yang sama yaitu landasan ideologi dan pendekatan. Sementara yang lain memang berbeda meskipun banyak kemiripannya.60
Selain itu, sebagai produk ciptaan manusia KTSP memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Kelebihan KTSP di tinjau dari tujuannya adalah adanya kebebasan bagi satuan pendidikan dan masyarakat sekitarnya untuk mengembangkan atau meningkatkan mutu pendidikannya. Oleh karena itu, wajar jika satuan pendidikan dan masyarakat dituntut untuk memiliki kreativitas dan tidak lagi bergantung pada pemerintah.
Akan tetapi, ada yang berpendapat bahwa KTSP membawa masalah tersendiri, desain kurikulumnya tidakmudah untuk diimplementasikan. Ada begitu banyak kendala yang harus dihadapi untuk implementasinya. Pada tataran sosialisasi, pelaksanaannya tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Banyak kalangan yang belum memiliki kesiapan memadai untuk mengimplementasikannya. Kurikulum yang dibuat sesungguhnya berusaha
59
E.Mulyasa ,Kurikulum Tingkat., hlm.222-223. 60
Rijono, “Kurikulum 2004 (KBK) & Kurikulum 2006 (KTSP) Memang Berbeda Secara Signifikan”, http:rijono.wordpress.com/2008/02/28/kurikulum-2004-kbk-kurikulum-
untuk mengikuti tuntutan dan tantangan baru, tetapi substansi, metode, strategi dan capaian yang dilakukan masih mengikuti standar kurikulum lama, sehingga secara umum, belum banyak perubahan yang terjadi.61
Menurut Suwignyo, ada beragam komentar terhadap KTSP. Diantaranya menilai bahwa KTSP itu teorinya mudah tetapi prakteknya sulit. Ada juga yang menilai bahwa KTSP justru semakin menambah beban guru. Penilaian yang lain menyebutkan yang dirasakan membingungkan adalah penekanannya pada proses belajar mengajar kreatif, tetapi evaluasinya melalui ujian nasional yang tetap menitikberatkan pada hasil.62
H.Kreativitas Guru dalam Menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan